Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Latar belakang: Aktivitas fisik mengakibatkan peningkatan kebutuhan oksigen. Oksigen diperlukan untuk fosforilasi oksidatif dalam rangka menghasilkan ATP. Tingginya kebutuhan oksigen selama aktivitas fisik yang tidak diikuti dengan kemampuan suplai oksigen yang cukup, mengakibatkan terjadi hipoksia di jaringan otot. Dalam kondisi hipoksia gen utama yang mengalami upregulasi adalah Hypoxia Inducible Factor-1α (HIF-1α). Melalui aktivitas HIF-1α, ekspresi sejumlah gen akan mengalami peningkatan guna mengurangi ketergantungan sel terhadap oksigen sekaligus meningkatkan pasokan oksigen ke jaringan, termasuk gen VEGF. Pada otot jantung belum diketahui apakah aktivitas fisik juga mengakibatkan hipoksia serta apakah HIF-1α dan VEGF berperan dalam mekanisme adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara HIF-1α dan VEGF dalam jaringan otot jantung tikus yang diberi aktivitas fisik aerobik dan anaerobik.
Metode: Jaringan otot jantung berasal dari tikus yang diberi aktivitas fisik aerobik dan anaerobik menggunakan treadmill selama 1, 3, 7 dan 10 hari. Kemudian dilakukan pengukuran konsentrasi HIF-1α dan konsentrasi VEGF jaringan.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan protein HIF-1α dan VEGF (p < 0,05) pada kelompok yang diberi perlakuan aktivitas fisik aerobik dan anaerobik. Peningkatan konsentrasi HIF-1α tertinggi terjadi pada hari pertama perlakuan dan konsentrasi HIF-1α kelompok anaerobik lebih tinggi dibandingkan kelompok aerobik (156,8 ± 33,1 vs 116,03 ± 5,66). Begitu pula dengan konsentrasi VEGF pada kelompok anaerobik konsentrasi tertinggi terjadi pada hari pertama (36,37 ± 2,35), sedangkan pada kelompok aerobik konsentrasi VEGF tertinggi terjadi pada hari ke-3 (40,66 ± 1,73). Terdapat korelasi antara konsentrasi HIF-1α dan konsentrasi VEGF jaringan dengan tingkat korelasi sedang (r = 0,59) pada kelompok aerobik dan korelasi yang kuat pada kelompok anaerobik (r = 0,69).
Kesimpulan: Aktivitas fisik aerobik dan anaerobik mengakibatkan peningkatan konsentrasi HIF-1α dan VEGF pada otot jantung tikus dalam pola yang spesifik. Kondisi anaerobik memicu peningkatan kebutuhan vaskularisasi lebih kuat dan lebih dini dibandingkan kelompok aerobik.

Abstract
Background: Exercise increases the need for oxygen to generate ATP through oxidative phosphorylation. If the high energy demand during exercise is not balanced by sufficient oxygen supply, hypoxia occurs in skeletal muscle tissue leading to upregulation of hypoxia inducible factor-1α (HIF-1α). The activity of HIF-1α increases the expression of various genes in order to reduce the metabolic dependence on oxygen and to increase oxygen supply to the tissue, e.g., VEGF which plays a role in angiogenesis. In myocardium, it is unlcear whether exercise leads to hypoxia and whether HIF-1α and VEGF play a role in the mechanism of hypoxic adaptation. This study aimed to investigate the correlation of HIF-1α and VEGF in heart muscle tissue of rats during aerobic and anaerobic exercise.
Methods: A rat treadmill was used with a specific exercise program for 1, 3, 7 and 10 days. The concentrations of HIF-1α and VEGF were measured the myocardium.
Results: Both, HIF-1α protein and VEGF were increased (p < 0.05) in the groups with aerobic and anaerobic exercise. Concentrations of HIF-1α were highest on the first day of activity, being higher in the anaerobic than in the aerobic group (156.8 ± 33.1 vs. 116.03 ± 5.66). Likewise, the highest concentration of VEGF in the group with anaerobic exercise occurred on the first day (36.37 ± 2:35), while in the aerobic group, VEGF concentration was highest on day 3 (40.66 ± 1.73). The correlation between the myocardial tissue consentrations of HIF-1α and VEGF is moderate (r = 0.59) in the aerobic group and strong in the anaerobic group (r = 0.69).
Conclusion: Aerobic and anaerobic exercise increase HIF-1α and VEGF concentrations in rat myocardium in specific patterns. The anaerobic condition triggers vascularization stronger and obviously earlier than aerobic exercise."
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Universitas Sriwijaya. Fakultas Kedokteran], 2012
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hendra Wahyuni MS
"Latar Belakang: Kejadian pandemi penyakit Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menyebar ke berbagai belahan dunia dengan peningkatan angka pasien terkonfirmasi dan meninggal. Cedera miokard akut merupakan salah satu manifestasi klinis yang sering timbul pada pasien terkonfirmasi COVID-19 yang mengakibatkan meningkatnya risiko morbiditas dan mortalitas. Meskipun demikian, kejadian cedera miokard akut pada pasien COVID-19 belum banyak didokumentasikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kejadian cedera miokard akut pada pasien COVID-19 serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan menggunakan data rekam medis pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Persahabatan, Jakarta, selama periode Juni-Desember 2020. Prevalens cedera miokard akut dinilai dengan menggunakan kadar pemeriksaan high sensitivity Troponin I (hsTrop-I). Penelitian ini juga menentukan hubungan antara faktor demografi, riwayat penyakit komorbid kardiovaskular, derajat penyakit, penanda respon inflamasi serta faktor koagulasi dengan kejadian cedera miokard akut pada pasien terkonfirmasi COVID-19.
Hasil: Dari total 340 sampel yang diikutkan dalam penelitian ini didapatkan sebanyak 62 (18,2%) sampel mengalami cedera miokard akut, mayoritas berusia diatas 40 tahun (93,5%). Cedera miokard akut lebih dominan terjadi pada sampel dengan riwayat komorbid (90,3%) dan derajat penyakit berat-kritis (87,1%). Prokalsitonin dan d-Dimer secara konsisten menunjukkan hubungan yang bermakna pada uji bivariat dan multivariat dengan kejadian cedera miokard akut.
Kesimpulan: Prevalens cedera miokard akut pada pasien COVID-19 di RS Persahabatan sebesar 18,2%. Cedera miokard akut berhubungan dengan kadar prokalsitonin, d-Dimer dan komorbid kardiovaskular.

Background: The pandemic of Coronavirus disease 2019 (COVID-19) has spread worldwide with the growing number of confirmed patients and deaths. Acute myocardial injury is one of the most common clinical manifestations in COVID-19 patients, results in higher risk of morbidity and mortality. However, the prevalence of acute myocardial injury in COVID-19 patients is not well documented. This study aimed to assess the prevalence of acute myocardial injury in COVID-19 patients.
Methods: This is a cross-sectional study utilizing medical record on COVID-19 patients admitted to Persahabatan hospital, Jakarta, within the period of June to December 2020. The prevalence of acute myocardial injury was assessed through high sensitivity Troponin I (hsTrop-I) levels examination. The association of demographic factors, cardiovascular disease comorbidities, disease severity, levels of inflammatory biomarkers and coagulation factor with acute myocardial injury were also determined.
Results: From a total of 340 patients enrolled in the study, 62 (18.2%) samples experienced acute myocardial injury, in which majority (93.5%) aged >40 years. The prevalence of acute myocardial injury was more dominant in patients with the history of comorbidities (90.3%) and severe-critically ill COVID-19 patients (37.1%). Procalcitonin and d-Dimer levels consistently showed significant association with acute myocardial injury from bivariate and multivariate analysis.
Conclusion: The prevalence of acute myocardial injury in COVID-19 patients in Persahabatan Hospital was 18,2%. Acute myocardial injury was significantly associated with procalcitonin levels, d-Dimer levels and cardiovascular comorbidities.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Nindita
"Latar belakang. Gagal ginjal terminal (GGT) atau penyakit ginjal kronik (PGK) stadium 5 merupakan masalah serius pada populasi anak dan dewasa, dengan insidens dan prevalensnya yang terus meningkat setiap tahun dan dapat menyebabkan komplikasi penyakit kardiovaskular. Kardiomiopati dilatasi (KMD) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang dapat menyebabkan kematian pada anak dengan GGT. Prevalens KMD pada anak GGT cukup bervariasi, antara 2- 41%. Namun, saat ini studi tentang kejadian KMD pada anak GGT di Indonesia masih terbatas, terutama pada anak dengan GGT yang menjalani dialisis. 
Tujuan. Mengetahui prevalens KMD dan faktor risiko yang berasosiasi dengan kejadian KMD, yaitu etiologi GGT, status nutrisi, anemia, hipertensi dan jenis dialisis pada anak dengan GGT yang menjalani dialisis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 
Metode. Desain studi potong lintang dilakukan di RSCM pada anak dengan GGT yang menjalani dialisis selama periode 2017-2022 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data dilakukan melalui penelusuran rekam medik. 
Hasil. Terdapat 126 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jenis kelamin lelaki lebih banyak (59,5%), mayoritas usia di atas 5 tahun (98,4%), dengan median 12 tahun (10-15). Sebanyak 95,2% subjek adalah rujukan dari rumah sakit luar datang pertama kali ke RSCM dengan kegawatdaruratan dan membutuhkan dialisis segera. Prevalens KMD pada studi ini adalah 53,2%. Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan anemia dan status nutrisi berasosiasi positif dengan kejadian KMD (OR 4,8, IK 95% 1,480-15,736, p=0,009) ; (OR 9,383, IK 95% 3,644-24,161, p=0,000). Tidak terbukti adanya hubungan etiologi PGK, hipertensi dan jenis dialisis dengan kejadian KMD. 
Kesimpulan. Prevalens KMD pada anak dengan GGT yang menjalani dialisis di RSCM adalah 53,2%. Terdapat asosiasi positif antara anemia dan status nutrisi dengan kejadian KMD. Etiologi GGT, hipertensi, dan jenis dialisis tidak berasosiasi dengan kejadian KMD pada anak dengan GGT yang menjalani dialisis.  

Background.  Kidney failure is a serious problem in children with the incidence and prevalence increasing every year, can cause cardiovascular disease. Dilated cardiomyopathy (DCM) is one of the cardiovascular disease can cause mortality in children with kidney failure. The prevalence varies between 2-44% and limited studies in Indonesia especially in children with kidney failure on dialysis. 
Objective. To determine the prevalence of DCM and risk factors in children with kidney failure on dialysis in Cipto Mangunkusumo hospital. The association of etiology of kidney failure, nutritional status, anemia, hypertention, and type of dialysis with DCM in children with kidney failure. 
Methods. A cross-sectional study among children with kidney failure according to the inclusion and exclusion criteria during 2017-2022 periode, in Cipto Mangunkusumo hospital. Collecting data using medical record. 
Result. There were 126 study subjects, with 59,5% male and 98,4% over 5 years old, the median is 12 years (10-15). The prevalence of DCM was 53.2%. The results of the multivariate analysis showed anemia and nutritional status were associated with the incidence of DCM, (OR 4.8, 95% CI 1.480-15.736, p=0.009); (OR 9.383, 95% CI 3.644-24.161, p= 0.000). There is no association between the etiology of kidney failure, hypertension and type of dialysis with DCM. 
Conclussion. The prevalence of DCM in children with kidney failure on dialysis was 53.2%. Anemia and nutritional status was associated with DCM in children with kidney failure on dialysis. The etiology of kidney failure, hypertension, and type of dialysis were not associated with DCM.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library