Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Slaga, Thomas J.
Jakarta : Bhuana Ilmu Populer , 2005
614.44 SLA dt
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Philadelphia: W.B. Saunders, 1974
616.39 DUN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
N. Sri Widada
"Jumlah perokok di Indonesia terus menunjukkan peningkatan bukan saja pada pria melainkan juga pada wanita dan remaja usia sekolah. Satu batang rokok bila dibakar akan menghasilkan banyak sekali bahan kimia beracun yang diantaranya adalah nikotin dan tar. Bahan kimia dalam asap rokok telah diketahui menyebabkan berbagai penyakit pada paru, saluran pernapasan, jantung, pembuluh darah, dan gangguan pada janin. Beberapa penelitian menemukan efek buruk rokok terhadap metabolisme lemak yang bisa menjadi awal mulainya gangguan fungsi kardiovaskuler.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko terjadinva dislipidemia/perubahan kadar profil lipid darah pada perokok. Populasi pada studi potong lintang ini adalah pria dewasa yang berkunjung ke laboratorium klinik/rumah sakit dalam rangka medical check up. Kriteria inklusi sample adalah pria dewasa, telah puasa 12-16 jam sebelumnya. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah hypertensi, diabetes mellitus, pernah mengalami gejala penyakit jantung koroner, sedang dalam pengobatan atau perawatan dokter, mengkonsumsi alkohol. Variabel yang diamati adalah perilaku merokok, umur, indeks masa tubuh, aktifitas fisik, konsumsi makanan, lamanya merokok, jenis rokok, dan jumlah rokok rata-rata yang diisap dalam satu hari. Responden yang diamati berjumlah 435 orang pria dewasa terdiri dari 215 orang perokok dan 220 orang bukan perokok.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar kolesterol total, LDL dan trigliserida pada perokok lebih tinggi daripada pria yang bukan perokok, sedangkan rata-rata kadar HDL pada perokok lebih rendah dibandingkan yang bukan perokok. Setelah dilakukan analisis Regresi Logistik Ganda pada α 0.05 ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian dislipidemia dengan perilaku merokok (p < 0.05). Estimasi risiko terjadinya dislipidemia pada perokok ringan sebesar 2.7 kali dibandingkan pada pria yang bukan perokok (CI 95% OR : 1.631 - 7,080, p = 0.001) setelah faktor-faktor lain yang berhubungan dikendalikan. Perokok berat mempunyai risiko mengalami dislipidemia sebesar 6.1 kali lebih besar dibandingkan yang bukan perokok (CI 95% OR : 3.300 - 18.525, p = 0.000) setelah faktor-faktor lainnya dikontrol.
Faktor yang ditemukan sebagai variabel pengganggu yang signifikan dalam mempelajari hubungan perilaku merokok dan dislipidemia adalah konsumsi makanan, aktifitas fisik dan indeks masa tubuh.

Analysis of Smoking Habit in Connection with Dislipidemia on Men which has Medical Check up in Jakarta year of 2002The amount of smokers in Indonesia keeps showing an ascending rate, not only for men, either on women and school age teenagers. If a cigarette gets light, it will produce a lot of poison chemical materials among other things nicotine and tar. Chemical materials in cigarette smoke known has a capability causing disease to lung, breathing canal, heart, blood vessels, and fetus. Some studies found cigarette had a bad effect on fat metabolism that can cause cardiovascular defective function.
This study purpose is to discover the risk for dislipidemia/blood lipid profile level changes on smoker. Populations on this cross-sectional study are men who visit clinical laboratory / hospital laboratory to have a medical check up. Sample inclusion characteristics are adult men and fasting (12 - 16 hours before). Whereas exclusion characteristics are hypertension, diabetes mellitus, heart disease symptom history, on a medical care period, or consume alcohols. Observed variables are smoking habit, duration smoke, kind of cigarette, average number of cigarettes smoked per day, age, body mass index, physical activity, food intake and genetic. The total number of observed respondent is 435 adult men consist of 215 smokers and 220 non smokers.
Result of the study shows average cholesterol total level, LDL, and triglyceride on smokers higher than non smokers, whereas HDL average level on smokers lower than non smokers. After having Multiple Logistic Regression analysis on α 0.05 there was significant interconnections between dislipidemia and smoking habit (p < 0.05). The light smokers, who smoked less than 12 cigarettes per day had estimation risk (odds ratio) for dislipidemia 2.7 times compared with non smokers (CI 95 % Odds Ratio : 1,631 - 7.080, p = 0.001) after related factors controlled. Heavy smokers, who smoke more than 12 cigarette per day had risk for dislipidemia 6.1 times higher than in the non smokers (CI 95 % Odds ratio: 3.300 - 18.525, p = 0.000) after related factors controlled. The significant confounding variable found in studying interconnection between dislipidemia and smoking habit are food consumption, physical activity and body mass index."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T 10815
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tjutju Tjuhaesih
"Penelitian ini mencoba meneliti hubungan masing-masing status besi yang terdiri dari hematokrit, hemoglobin, local iron binding capacity, serum iron, feritin dan saturasi transfer in dan faktor-faklor lain yaitu ketekunan, percaya diri, privat les dan menonton televisi dengan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar diukur dari nilai rata-rata raport cawu I dan cawu II siswa-siswa kelas I angkatan tahun 1997/1998 SMUK II BPK Pcnabur Jakarta Pusat yang prestasinya bermasalah dan banyak yang kurang dibandingkan dengan Si\IUK lain di Jakarta.
Tujuan penelitian adalah mendapat informasi apakah ada hubungan antara status besi dan faktor-faklor lain yang telah disebutkan di atas dengan prestasi belajar siswa. Hal ini akan bermanfaat dalam memberikan bantuann bagi siswa-siswi yang bermasalah dalam prestasi belajarnya dengan mempeibaiki status besi.
Desain penelitian adalah cross sectional. Pengambilan sampel sccara acak dari siswa-siswa yang bersedia diamibil darah dan mendapat izin orang lta. Jumlah sanipel 99 orang terdiri dari 38 siswi dan 61 siswa yang berusia antara 15-18 tahun. Analisis menggunakan regresi linear ganda.
Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara kadar Hb dcngan prestasi belajar walaupun tidak bermakna.
Kesimpulan:
Model terakhir yang didapat dari analisis multivariat adalah :
Y - 5,8 + 0.03 Hb - 0,48 sex
Memperhatikan model tersebut hemoglobin dapat dipertimbangkan sebagai diagnosa prestasi belajar rendah, dimana setiap kenaikan kadar Hb 1 unit, prestasi belajar hanya bisa ditingkatkan 0 ,03.

This study tries to examine correlation among iron status respectively a.o. hematocrit, haemoglobin. total iron binding capacity, serum iron, feritin, transferin saturation and the other factors a.o. tenacity. self confidence, lesson privat and television watching with student educational achievement. Educational achievement are measured from mean value report of caw u 1 and cawu II of the first class SMUK II BPK Penabur Jakarta which have the lowest achievement compare with other SMUK BPK Penabur in Jakarta.
The aim of the study to get information about the correlation among iron status and other factors which was described above. The result will help the student who have problem of achievement by reparing iron status.
Study design is cross-sectional , total sample are 99 people : 38 girls and 61 boys. Range of age between 15 - 18 years old. The sample used simple random sampling from the student who were willing to donate blood for iron status lest. Statistic analysis used multiple linear regression.
The result showed that correlation between hemoglobin and educational achievement was positif but not significant
Conclusion :
Multiple regression model is as followed
Y - 5,8 + 0.03 Hb - 0,48 sex
which means that haemoglobin could he considered lo be used tool for diagnose educational achievement only 1 unit increased of haemoglobin for an increase of 0,03 unit of achievement."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Enny
"Kelainan metabolisme besi dapat terjadi akibat gangguan sintesis heme dan globin. Gangguan sintesis heme dijumpai pada defisiensi besi, anemia penyakit menahun dan anemia sideroblastik. Gangguan sintesis rantai globin dikenal sebagai hemoglobinopati terdiri dari thalassemia dan hemoglobin varian. Defisiensi besi dibedakan menjadi defisiensi besi tahap I, ii, Ilia dan l1ib. Pada defisiensi besi tahap I dan 11 belum dijumpai anemia, sedangkan tahap III a dan b telah dijumpai anemia. Diagnosis kelainan metabolisme besi dilakukan dengan perneriksaan hematologi, status besi tubuh, analisis hemoglobin dan menemukan ringed sideroblast di sum-sum tulang. Pada kasus campuran thalassemia E3 heterozigot dengan anemia defisiensi besi, anaiisis hemoglobin dilakukan setelah perbaikan status besi tubuh untuk mencegah rendah palsu kadar Hb A2 dan F. Besi berperan panting di Susunan Saraf Pusat (SSP) diantaranya untuk mileinisasi saraf, neurotransmiter dan metabolisme katekolamin. Pada penelitian ini dari 150 subyek diperoleh proporsi kelainan metabolisme besi sebesar 94'%. Kelainan metabolisme besi yang diperoleh terdiri dari defisiensi besi tahap I, II, Isla dan IIIb, anemia penyakit menahun, thalassemia 8 heterozigot, kemungkinan thalassemia a 1 atau 2 gen delesi, penyakit Hb H, HPF thalassemia heterozigot ganda serta campuran kelainan tersebut. Kelainan metabolisme besi dibedakan menjadi kelainan metabolisme besi disertai anemia (80.14%) dan tanpa anemia (19.85%). Proporsi hemoglobinopati (39.71%) dan campuran hemoglobinopati dengan defisiensi besi (39%) merupakan kelainan metabolisme besi terbanyak dibandingkan defisiensi besi (19.85%). Pada penelitian ini diperoleh prestasi belajar buruk secara bermakna pada kasus defisiensi besi (p<0.05) dibandingkan dengan kasus bukan defisiensi besi, tErutama pada mata pelajaran matematika dan bahasa Indonesia. Oleh karena proporsi hemoglobinopati yang lebih tinggi dibandingkan defisiensi besi, disarankan untuk diadakan tindak lanjut oleh dinas kesehatan setempat untuk mencegah peningkatan kasus hemoglobinopati homozigot atau heterozigot ganda. Untuk kasus defisiensi besi dilakukan pemeriksaan lanjutan guna mencari penyebab.

Iron metabolism disorder may caused by defects of heme or globin synthesis. Defect of heme synthesis includes iron deficiency, anemia of chronic disease and siderobistic anemia. Defect of giobin synthesis are called hemoglobinopathies. Hemoglobinopathies may include either thalassemias or hemoglobin variants. Iron deficiency is classified into stage I, stage II, stage ill a and Ilib. Anemia is found in iron deficiency stage llla and 111b_ Diagnosis of iron metabolism disorder were done by hematology examination, iron status, hemoglobin analysis and bone marrow ringed sideroblast. In thalassemia R heterozygote patients with Iron deficiency anemia before hemoglobin analysis, iron status must be corrected to prevent falsey low Hb A2 and F levels. In the central nervous system iron are utilized in myelinisation, neurotransmitter and catecolamine metabolism. In this study on 150 subjects, proportion of iron metabolism disorder was 94%. Iron metabolism disorder were classified into iron deficiency stage I, II, Illa and illb, anemia of chronic disease, thalassemia 13 heterozygote, suspected of thalassemia a 1 or 2 gene deletion and mixed case between iron metabolism disorder. iron metabolism disorder was divided into anemia (80.14%) and non anemia (19.85%). Hemoglobinopathies (39.71%), mixed case between hemoglobinopathies and iron deficiency (39%) comprises biggest proportion compared with iron deficiency (19.85%).This study also found that iron deficiency subjects had significantly worse academic achievement (p<0.05) compared with non iron deficiency subjects especially in math and. bahasa Indonesia. As the proportion of hemoglobinopathies was higher than iron deficiency, we suggest that the district heatlh department to take action to prevent the increase in the prevalence of homozygous or compound heterozygous hemoglobinopathies. For iron deficiency cases, further investigation is needed to find causes of iron deficiency."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T21392
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rika Harini
"Pijat merupakan terapi sentuh tertua dalam metode pengobatan sejak lama. Tesis ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi pijat terhadap bilirubin pada bayi hiperbilirubinemia yang menjalani fototerapi. Desain penelitian adalah quasi experiment nonequivalent control group, before-after design. Jumlah sampel 30 orang diambil secara non probability jenis consecutive samplin. Hasil penelitian menunjukan perberdaan bermaksan rata-rata penurunan level total serum bilirubin (TSB) pada kelompok kontrol dan intervensi sebesar 1,5mg/dL (p<0,05). Terapi pijat berpengaruh pada bayi yang mendapat fototerapi single. Dari hasil multivariat didapatkan bahwa jenis fototerapi paling berpengaruh terhadap penurunan level bilirubin. Hasil penelitian merekomendasikan penelitian lanjut tentang pengaruh terapi pijat terhadap perilaku bayi hiperbilirubinemia yang di fototerapi.

Massage is the oldest touch therapy that used on the treatment since long ago. This thesis aims to determine the influence of massage therapy with bilirubin level on hyperbilirubinemia infant who undergoing phototherapy. The research design is quasi-experimental nonequivalent control group, before-after design. The samples were 30 infants that taken by non-probability method of consecutive sampling. Results showed that there were significant differences an average decrease of Total Serum Bilirubin (TSB) on control and intervention group 1,5mg/dL (p=0,05). Massage therapy were influence to infant who undergoing single phototherapy. The multivariate analyze showed that kind of phototherapy is the most influences to total serum bilirubin decrease. The results recommend further studies about the influence of massage therapy to infant behaviour as long as phototherapy."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2010
T28418
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Latar belakang: Peningkatan jumlah sindrom metabolik (MetS) pada dewasa muda sebagian besar disebabkan karena obesitas. MetS meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK) yang dapat diperkirakan dengan menggunakan Framingham risk score (FRS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi MetS dan FRS pada dewasa muda dengan obesitas dan hubungan keduanya dengan komponen MetS.
Metode: Tujuh puluh mahasiswa dan mahasiswi yang berumur 18-25 tahun dengan IMT ≥ 25 kg/m2 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dipilih secara konsekutif. Spesimen darah yang digunakan untuk memeriksa glukosa darah puasa, kolesterol total, high-density lipoprotein dan trigliserida dianalisis di Departemen Patologi Klinik RSUPN Cipto Mangunkusumo setelah puasa selama 14-16 jam. MetS didiagnosis dengan definisi International Diabetes Federation
(IDF). Analisi univariat dan bivariat dilakukan pada penelitian.
Hasil: Prevalensi MetS berdasarkan definisi IDF adalah 18,5% pada dewasa muda dengan obesitas. Komponen MetS yang paling berhubungan dengan MetS adalah hipertrigliseridemia (OR 12,13; 95% CI 2,92-50,46; p = 0,001), tekanan darah tinggi (OR 9,33; 95% CI 2,26-38,56; p = 0,001), HDL rendah (OR 8,33; 95% CI 2,17-32,05; p = 0,003), and glukosa puasa terganggu (p = 0,03). Empat subjek mempunyai FRS ≥ 1% dan 66 subjek berisiko < 1%. Peningkatan FRS tidak berhubungan dengan MetS (p = 0,154). Tidak ada komponen MetS berhubungan dengan peningkatan FRS.
Kesimpulan: Prevalensi MetS pada dewasa muda dengan obesitas hampir sama dengan pada anak-anak dan remaja dengan obesitas. Walaupun tidak didapatkan hubungan antara MetS dan FRS, keduanya merupakan
prediktor penting untuk penyakit jantung koroner yang sebaiknya tidak digunakan secara terpisah.

Abstract
Background: The increase number of the metabolic syndrome (MetS) among young adults was mostly caused by obesity. MetS increases the risk of coronary heart disease (CHD) which can be estimated by Framingham risk score (FRS). The study was aimed to know the prevalence of MetS and FRS in obese young adults and to associate them with the components of MetS.
Methods: A total of 70 male and female students aged 18 to 25 years with BMI ≥ 25 kg/m2 in Faculty of Medicine Universitas Indonesia were selected consecutively. The blood samples used to test fasting blood glucose, total cholesterol, high-density lipoprotein, and triglyceride were examined in Department of Clinical Pathology, Cipto Mangunkusumo Hospital after fasting for 14 to 16 hours. International Diabetes Federation (IDF) definition was used to diagnose MetS. Univariate and bivariate analysis were done.
Results: The prevalence of MetS based on IDF definition was 18.6% among obese young adults. The most associated MetS components was hypertriglyceridemia (OR 12.13; 95% CI 2.92-50.46; p = 0.001), followed with high blood pressure (OR 9.33; 95% CI 2.26-38.56; p = 0.001), low-HDL (OR 8.33; 95% CI 2.17-32.05; p = 0.003), and impaired
fasting glucose (p = 0.03). Four subjects had FRS ≥ 1% and 66 subjects had risk < 1%. Increased FRS was not associated
with MetS (p = 0.154). There was no component of MetS associated with increased FRS.
Conclusion: Prevalence of MetS in obese young adults was similar with obese children and adolescents. Although no association of MetS and FRS was found, they are significant predictors for CHD which should not be used separately."
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2013
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Albertus Quarino
"Saat ini banyak orang yang melakukan pekerjaan dengan duduk sehingga aktivitas fisik menjadi berkurang, padahal menurut laporan WHO tahun 2009, salah satu penyebab utama kematian global adalah perilaku tidak aktif (6%). Berkurangnya aktivitas fisik ini merupakan salah satu faktor risiko terjadinya sindroma metabolik. Peningkatan aktivitas fisik pekerja dapat dilakukan dengan menambah jumlah langkah setiap hari, yang dapat diukur dengan menggunakan alat penghitung langkah (pedometer). Jumlah langkah setiap hari yang rendah berarti aktivitas fisik berkurang sehingga akan menjadi risiko untuk mendapat sindroma metabolik.
Tujuan : mendapatkan gambaran aktivitas fisik pekerja berdasarkan jumlah langkah pada pekerja dengan sindroma metabolik di lingkungan pekerja pertambangan minyak dan gas.
Metode : penelitian potong lintang, menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan kesehatan tahunan pekerja tahun 2012, didapat 25 subyek yang memenuhi kriteria, yang terdiri dari 15 subyek tanpa sindroma metabolik dan 10 subyek dengan sindroma metabolik.
Hasil : diperoleh hasil rerata jumlah langkah per hari pada kelompok sindroma metabolik lebih rendah dibandingkan langkah kelompok tanpa sindroma metabolik yaitu masing-masing 5055±1004 langkah dan 9887± 2036 langkah yang berbeda bermakna secara statistik (p<0,001).
Kesimpulan : kelompok dengan sindroma metabolik memiliki aktivitas fisik yang rendah dibandingkan dengan kelompok tanpa sindroma metabolik.

Today many jobs performed in sitting position therefore reducing physical activity, whereas based on report from World Health Organization (WHO) in 2009, one of the leading cause of global mortality is physically inactive behavior (6%). Low physical activity is one of the risk factors of metabolic syndrome. Increasing worker’s physical activity can be done by adding more steps each day which can be measured by using a step counter (pedometer). Low number of steps everyday means reduced physical activity which might lead to increasing risk of metabolic syndrome.
Goal : to get an overview of worker’s physical activity represented by the number of steps of oil and gas workers with metabolic syndrome.
Methods : a cross-sectional study, using secondary data from annual medical check-up of oil and gas workers in 2012, 25 subjects who met the criteria where obtained consisted of 15 subjects without metabolic syndrome and 10 subjects with metabolic syndrome.
Results : mean number of steps per day in the metabolic syndrome group was lower than the group without metabolic syndrome, which were 5055±1004 steps and 9887±2036 steps respectively and statistically different.
Conclusion : the group with metabolic syndrome have lower physical activity compared with the group without metabolic syndrome.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"[Dislipidemia didefinisikan sebagai kelainan metabolisme lipid yang menyebabkan kelainan
konsentrasi fraksi lipid dalam darah. Profil lipid yang abnormal dapat menyebabkan
aterosklerosis sehingga meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Prevalensi
dislipidemia beberapa tahun terakhir terus meningkat dan dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti faktor demografis dan faktor gaya hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
prevalensi dislipidemia di Kelurahan Kayu Putih, Jakarta Timur dan hubungannya dengan
faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan serta faktor
gaya hidup seperti kebiasaan merokok dan aktivitas fisik. Studi ini menggunakan desain
cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret 2011 di Klinik Dokter
Keluarga Kayu Putih. Data diperoleh dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
tes profil lipid untuk warga Kelurahan Kayu Putih berusia minimal 17 tahun. Kriteria untuk
diagnosis dislipidemia didasarkan pada klasifikasi NCEP ATP III. Analisis asosiasi
dislipidemia dengan faktor terkait dilakukan dengan menggunakan Chi-square test dan
Fischer’s exact test. Dari 78 responden, didapat prevalensi dislipidemia di Kelurahan Kayu
Putih sebesar 26,9%. Dari seluruh responden, 24,4% dikategorikan sebagai
hiperkolesterolemia dan 4,1% dikategorikan sebagai hipertrigliseridemia. Uji chi-square
menunjukkan bahwa dyslipidemia memiliki hubungan yang signifikan dengan gender (p =
0,011) sedangkan hubungan dyslipidemia dengan faktor-faktor lain yang diteliti tidak
menunjukkan hubungan yang bermakna. Prevalensi dislipidemia di Kelurahan Kayu Putih
lebih tinggi bila dibandingkan dengan prevalensi dyslipidemia di Jakarta pada tahun 1993.
Edukasi kesehatan dan program olahraga rutin sebaiknya dicanangkan untuk meningkatkan
pengetahuan dan kondisi kesehatan warga Kelurahan Kayu Putih., Dyslipidemia is defined as an abnormality of lipid metabolism that resulted in an abnormal
lipid fraction concentration in the blood. An abnormal lipid profile poses a high risk to the
development of atherosclerosis therefore increases the individual for having cardiovascular
diseases. The prevalence of dyslipidemia itself elevates over the years and suggested to be
contributed by multiple factors including demographic factors and lifestyle factors. This
study aims to investigate the prevalence of dyslipidemia in Kelurahan Kayu Putih, East
Jakarta and relating it to demographic factors such as age, gender, level of education, and
occupation also lifestyle factor such as cigarette smoking habit and physical activity. This
cross-sectional study design was conducted in March 2011 in Klinik Dokter Keluarga Kayu
Putih. Data were obtained by history taking, physical examination, and lipid profile tests to
citizens of Kelurahan Kayu Putih aged 17 and above. The criteria for the diagnosis of
dyslipidemia itself are based on NCEP ATP III classification. Analysis of the association of
dyslipidemia to its related factors is calculated using Chi-square test and Fischer’s exact
test. Among 78 respondents, the prevalence of dyslipidemia in Kelurahan Kayu Putih was
26.9%. Out of all respondents, 24.4% were categorized as hypercholesterolemia and 4.1%
were categorized as hypertriglyceridemia. Chi-square test revealed that dyslipidemia is
associated with gender (p=0.011) while the associations to other factors studied were
insignificant. In conclusion, the prevalence of dyslipidemia in Kelurahan Kayu Putih was
higher compared to the prevalence of dyslipidemia in Jakarta in 1993. Health educations and
a routine physical activity program should be encouraged to improve knowledge and health
status of the population of Kelurahan Kayu Putih.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maharani Sukma Pratiwi
"ABSTRAK
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak dalam plasma, yang menjadi faktor risiko dari berbagai jenis penyakit. Prevalensi dislipidemia di Jakarta, cenderung meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan antara dislipidemia, faktor demografi usia, dan jenis kelamin , faktor predisposisi IMT, RLPP, lingkar perut, hipertensi, DM, tingkat stres , serta faktor perilaku kebiasaan merokok para pekerja perusahaan migas x di Jakarta Pusat. Desain penelitian adalah cross sectional, menggunakan data pemeriksaan kesehatan 2016 dan wawancara terstruktur dengan kuesioner kepada 88 responden. Pengambilan data dilakukan bulan Oktober hingga Desember 2016. Analisis yang dilakukan adalah univariat, dan bivariat uji chi square, dan regresi logistik . Hasil analisis menunjukkan, persentase dislipidemia di perusahaan migas x sebesar 83 , kelompok usia 24-33 tahun sebesar 46,6 , kategori gemuk berdasarkan IMT sebesar 68,2 , kategori berisiko berdasarkan RLPP sebesar 77 pada laki-laki dan sebesar 63 pada perempuan, kategori berisiko berdasarkan lingkar perut pada laki-laki sebesar 70,5 dan pada perempuan sebesar 37 , menderita hipertensi sebesar 10,2 , pra-hipertensi sebesar 54,5 , menderita DM sebesar 20,5 , mengalami stres sebesar 53,4 , dan responden tidak merokok sebesar 50 . Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna secara statistik antara RLPP OR=4,071 95 CI: 1,281-12,936 , lingkar perut OR=8,696 95 CI: 2,236-33,816 , dan tingkat stres OR=3,942 95 CI: 0,520-34,710 dengan dislipidemia.

ABSTRACT
Dyslipidemia is an abnormalities of fat metabolism in plasma, which became risk factors for various diseases. The prevalence of dyslipidemia in Jakarta, tends to increase. The aim of this study is to understand the relation of dyslipidemia and its various factor, demographic factors age, and sex , predisposing factors BMI, WHR, abdominal circumference, hypertension, DM, stress level , and behavioral factors smoking habit of oil and gas company workers in Central Jakarta.The study design used cross sectional, using 2016 medical check up data and structured interview with questionnaire to 88 respondents. Data were collected from October to December 2016. The analyzes were univariate and bivariate chi square test and logistic regression .The results showed that percentage of dyslipidemia in company x was 83 , age group 24 33 years 46,6 , fat category based on BMI 68,2 , risk category based on WHR of 77 in males and 63 in females, the risk category based on abdominal circumference in males was 70.5 and in females 37 , hypertension was 10,2 , pre hypertension was 54,5 , DM was 20, 5 , experiencing stress was 53,4 , and non smoker was 50 . The results showed that there was a statistically significant relationship between WHR OR 4,071 95 CI 1,281 12,936 , abdominal circumference OR 8,696 95 CI 2,236 33,816 and stress level OR 3,942 95 CI 0,520 34,710 with dyslipidemia."
2017
S68268
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>