Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 38 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Keeble, Richard
London: Routledge, 2001
174.9097 KEE e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sarah Sayekti
"Berita merupakan suatu program televisi yang harus independen dari program lain. Sementara program lain berupaya melaksanakan fungsi entertainment-nya, berita lebih memiliki fungsi yang lain, yaitu fungsi informatif. Ini berarti bahwa berita bukanlah program yang disajikan sesuai dengan keinginan atau minat pemirsanya untuk menarik pemirsa sebanyak mungkin. Sebaliknya, berita harus memberikan informasi dan laporan yang sebaik-baiknya. Kredibilitas berita dapat diperoleh dengan mengacu pada Kode Etik Juralistik sebagai landasan moral. Berita haruslah berada di depan pemirsanya. Karenanya berita haruslah benar, akurat, obyektif, independen dan fair. Dengan banyaknya stasiun televisi yang bermunculan dengan programnya yang beragam, maka menarik untuk diteliti bagaimana program berita televisi kita. Apakah berita televisi kita sudah kredibel dengan mengacu pada Mode Etik Jumalistik. Ini dapat diketahui dengan melihat bagaimana orang-orang yang ada dibelakang berita televisi memahami dan menerapkan Kode Etik Jumalistik dan bagaimana proses produksi berita mempengaruhinya.
Kode Etik Juralistik berlaku universal di banyak negara walaupun interpretasi dan penerapannya memiliki keragamaan. Ini tergantung dari budaya dan kepercayaan masyarakat setempat Penelitian ini mengacu pada lima poin kode etik universal yang diambil dari aturan kode etik jumalistik di beberapa negara secara acak. Poin kode etik jumalistik itu adalah akurat, jujur, adil, obyektif dan independen. TPI dipilih dalam penelitan ini dengan perlimbangan kemudahan akses untuk mendapatkan data. Juga bahwa televisi ini adalah salah satu pionir televisi swasta di Indonesia dengan jangkauan pemirsa lebih dari 140 juta pemirsa di seluruh Indonesia. Dengan target audiens kalangan menengah kebawah, yang merupakan sebagian besar dari masyarakat Indonesia. TPI menjadi suatu sumber berita yang sangat penting bagi kalangan masyarakat tersebut juga karena tingkat menonton televisi lebih tinggi daripada tingkat membaca masyarakat tersebut.
Pengumpulan. data dilakukan dengan metode interview mendalam terhadap beberapa kru berita Lintas Lima, seperti: reporter, produser dan pemimpin redaksi. dan observasi terhadap kebijakan redaksi dan rapat redaksi. Penelitian dilakukan dengan metode analisa kualitatif. Analisa wacana kritis akan dilakukan terhadap hasil wawancara dan observasi dengan menggunakan acuan lima poin kode etik jurnalistik dengan penjelasannya. Pada tingkatan teks akan dilakukan analisa isi terhadap output berita berupa tayangan berita Lintas Lima itu sendiri. Ini dilakukan baik terhadap isi naskah maupun visualisasi berita Lintas Lima.
Penelitian ini menunjukkan suatu hal yang cukup menarik. Menilik dari teori donut Shoemaker dan Reese, ternyata penerapan kode etik jumalistik di TPI masih beragam pada berbagai level. Mulai dari level individual hingga level ideology, penerapan kode etik jurnalistik diterapkan dengan berbagai kendala dan keterbatasannya. Walaupun penelitian ini terbatas pada ruang redaksi atau newsroom, sehingga hanya mencakup level individual, rutinitas media dan level organisasi.
Bagi beberapa jurnalis, kode etik jurnalistik adalah sesuatu yang asing. Sementara bagi sebagian lagi ini hanyalah suatu aturan yang justru menghambat pekerjaan mereka. Tapi dalam tataran organisasi, dalam hal ini departemen pemberitaan TPI sedang berusaha membangun imej mereka dengan pemberitaan, khususnya Lintas Lima, usaha untuk tetap mengacu pada kode etik jurnalistik cukup kuat. Ini menjadi tekanan pada beberapa kali rapat redaksi yang sempat penulis hadiri. Tapi dalam prakteknya penerapan ini mengalami banyak hambatan. Kurangnya penyamaan persepsi dan pembelajaran mengenai kode etik jurnalistik adalah salah satunya. Selain itu bagi reporter tenggat waktu juga menjadi hambatan dalam berita yang berimbang, jujur dan akurat Berita yang disajikan menjadi berita yang seadaanya karenanya. Target pemirsa yang menjadi patokan dalam penyajian berita, yaitu kelompok pemirsa menengah kebawah, juga menjadi faktor dalam kualitas berita Lintas Lima. Kesan seadanya dan kurang berkualitas maka tampak jelas dalam laporan-laporan yang ditayangkan di Lintas Lima.
Karena kualitas berita juga ditentukan dalam mengacu atau tidaknya berita tersebut kepada kode etik jurnalistik, maka berita sebaiknya tidak diproduksi hanya untuk kalangan tertentu. Semakin baik acuan kode etik jurnalistik, semakin berhatihati dan semakin baiktah kru berita berusaha menyajikan laporannya. Maka ini sebaiknya menjadi perhatian bagi tiap individu yang berada di belakang pemberitaan. Kode etik jurnalistik tidak hanya ada di hati individu tersebut, tetapi juga di pikiran yang mengarahkan mereka dalam menjalankan pekerjaannya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T13749
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sobur, Alex
Bandung: Humaniora Utama Press, 2001
174.0907 SOB e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Iggers, Jeremy
Kolorado: Westview Press, 1998
174.909 7 IGG g
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Wilkins, Lee
Mahwah: Lawrence Erlabum Associates, 2005
174.907 WIL m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Rivers, William L.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama , 1994
174.9 RIV et
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Trias Kuncahyono
Jakarta: Kompas, 2004
910.41 TRI d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Hausman, Carl
New York: HarperCollins, 1992
174.909 7 HAU c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Teguh Meinanda
Bandung: Armico, 1981
001.5 TEG p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Toebagus Luthfi
"ABSTRAK
"King of The Java Pres", inijlah julukan yang djberikan oleh pers Jepang
kepada Parada Harahap. Lengkapnya Gelar Mangaraja Satan Gunung Muda, lahir di
Pergarutan, Sumatera Utara, tanggal 15 Desernber 1899, dan wafat di Jakarta
tanggal 11 Mei 1959. 'Itidak heran jika julukan 51:11 diberikan kepadanya, namun
agaknya kurang lengkap julukan tersebut jika kita ingin mengetahui siapa sesungguhnya sosok Parada Harahap.
Selain dia memang aktiif di dunia pers, juga tidak dapat kita pungkiri banyak
sumbangannya terhadap perkembangan pers nasional dan bahkan sempat rnendirjkan
Akademi Wartawan di Jakarta. Dia jaga dapat kita katakan sebagai. seorang kolumnis, pejuang yang othodidak. Banyak sudah karyanya yang telah diterbitkan, misalnya ; "JurnaIistik Di Amerika" ; "Dari Pantai Kc Parrtai Menuju ke Matahari
Terbit? ; "Jurnalitis Dan Pers" ; "Berhubung Perjalanan Ke Dari Nippon" ;
"Riwajat Dr. Rivai" ; 'ffndonesia Sclaarang " dan masih banyak Jagi arti:kel-artikel
yang tidal: terbilang jumlahnya.
Sebagai pejuang, Parada sejak awal Sudah menampakkan sikap poliitiknya yang
perlakuan ijdak
wajar darl tuan- besar perkebunan Beianda. Sikapnya yang kontroversi, jujur
dan teguh pada pendiriannya yang dianggap benar, mengakibatkan disingkirkannya
oleh kebanyakan pemuda yang bersikap militan. Pandangannya ini nampak demikian
berani di sidang-sidang BPUPKI, tetap sestia pada janjinya sebagai saudara tua, mengakui peranan Jepang dalam Indonesia meraih kemerdekaan.
"
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1994
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>