Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Inara Arcelia Haryanto
"Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antara religiositas dan motivasi untuk mengonsumsi film horor Islami. Di Indonesia, horor religius telah menjadi subgenre yang berkembang secara signifikan selama beberapa tahun terakhir, meskipun representasi simbol-simbol agama dalam film horor dapat ditelusuri kembali ke era Orde Baru. Studi terdahulu telah meneliti hubungan antara agama dan horor—bagaimana industri film menumbangkan simbol-simbol agama, memanfaatkan ketakutan yang dimotivasi oleh agama, dan bagaimana film horor berfungsi sebagai media yang tidak konvensional untuk propaganda agama. Yang luput dari penelitian-penelitian ini adalah masyarakat yang jarang diperlakukan sebagai aktor kontributor dalam tren ini, karena penawaran juga mengikuti permintaan. Menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sekuensial eksplanatori, total 276 responden dan tiga wawancara mendalam terkumpul. Analisis bivariat dan multivariat mengungkapkan hubungan positif yang signifikan antara religiositas dan motivasi untuk mengonsumsi film horor Islami, dan bahwa religiositas paling memengaruhi motivasi Gen Z dibandingkan dengan Gen X dan Milenial. Temuan ini mencerminkan munculnya desekularisasi yang termanifestasi melalui  komodifikasi agama di media, termasuk genre horor. Selain itu, perbedaan hasil berdasarkan kelompok generasi berkorelasi dengan perbedaan persepsi tentang agama di media sosial dan pendidikan agama pada masa remaja.

This study aims to uncover the relationship between religiosity and motivation to consume Islamic horror films. In Indonesia, religious horror has become a significantly growing subgenre over the past few years, although the representation of religious symbols in horror films can be traced back to the New Order era. Previous studies have examined the relationship between religion and horror–how the film industry subverts religious symbols, capitalizes on religiously motivated fears, and how horror films serve as an unconventional medium for religious propaganda. What went unnoticed from these studies is that society is rarely treated as a contributing actor in this trend, as supply also follows demand. Using a specific mixed methods approach with an explanatory sequential design, a total of 276 respondents and three in-depth interviews were conducted. Bivariate and multivariate analyses revealed a significant positive relationship between religiosity and motivation to consume Islamic horror movies, and that religiosity most influences motivation among Gen Z compared to Gen X and Millennials. These findings reflect the rise of desecularization manifested by the commodification of religion in the media, including the horror genre. Moreover, the differences in results by generational cohorts are related with differences in perceptions of religion in social media and religious education in adolescence. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muh. Bahruddin
"Masifnya individu atau kelompok yang membawa pemahaman Islam di Indonesia dalam dua dekade terakhir, menarik perhatian masyarakat, termasuk sineas. Mereka ingin mengekspresikan gagasannya untuk merespon masalah kerakayatan, sosial, politik, dan agama. Ada dua permasalahan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini: pertama, kehadiran individu atau kelompok yang membawa ideologi Islamisme yaitu membawa misi penegakan syariat Islam dalam menyelesaikan persoalan dan pembentukan tatanan sosial. Ideologi agama-politik ini kerap memicu benturan, konflik, dan tindakan yang mengarah pada radikalisme. Kedua, keyakinan agama yang dijadikan sumber tindakan politik oleh individu atau kelompok Islamis (yang membawa ideologi Islamisme) dijadikan sebagai dasar untuk melakukan tindakan sosial. Dua permasalahan inilah yang diinterpretasikan oleh sineas, kemudian direpresentasikan melalui teks film. Untuk menjawab dua permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi proses dialektik antara individu atau kelompok di masyarakat yang direpresentasikan melalui teks film. Identifikasi ini untuk mengetahui jejak memori yang dijadikan dasar tindakan sosial agen di masyarakat. Dalam teori strukturasi, Giddens berpendapat bahwa struktur (praktik sosial berulang) hanya ‘ada’ dan tertanam dalam jejak memori agen sebagai dasar tindakan sosial. Sementara penelitian ini berpendapat bahwa ada unsur lain yaitu keyakinan agama-politik yang tertanam dalam jejak memori agen sebagai dasar melakukan tindakan sosial. Metode penelitian ini bersifat kualitatif interpretatif dengan menggunakan analisis wacana kritis model van Dijk untuk mengkaji teks, kognisi, dan konteks sosial yang melingkupi sineas. Untuk memperoleh pemaknaan teks, penelitian ini menggunakan logika semiotika Saussure yang digabungkan dengan perangkat shot dan teknik kamera Arthur Asa Berger. Teori substantif yang digunakan adalah mensitesiskan teori strukturasi dengan konsep Islamisme. Paradigma yang digunakan adalah kritis konstruktivis untuk ‘memperjuangkan’ nilai-nilai universal berdasarkan realitas yang direpresentasikan dalam film. Unit analisisnya adalah film-film Indonesia bertema Islam dan antiradikalisme yaitu 3 Doa 3 Cinta (2008), Khalifah (2011), Mata Tertutup (2011), dan Bid’ah Cinta (2017). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama: keempat film Indonesia yang dikaji memperlihatkan, tokoh agen (agensi) yang melakukan tindakan radikal merujuk pada pemahaman Islamisme. Persoalan di masyarakat seperti ketidakadilan, ketimpangan sosial, tidak adanya persamaan hak, serta sulitnya mengakses pendidikan dan kesehatan, menjadi pemicu individu atau kelompok Islamis untuk melakukan tindakan radikal. Kedua, tindakan agen (yang direpresentasikan melalui tokoh Islamis) dalam masyarakat Muslim Indonesia didasarkan pada keyakinan agama-politik yang tertanam dalam jejak memori. Hasil ini sekaligus membantah teori strukturasi Giddens yang hanya melihat struktur sebagai bagian dari jejak memori, yang mengarahkan tindakan agen.

The massive numbers of individuals and groups bringing a particular understanding of Islam in Indonesia in the last two decades has garnered attention from the public, including filmmakers. They desire to express their ideas to respond to societal, social, political and religious issues. Two issues are at the center of this study: first, the presence of individuals or groups bringing an Islamist ideology with a mission of upholding Islamic sharia in attempting to resolve issues and engineer social structure. This religio-political ideology often gives rise of tensions, conflicts, and acts leading towards radicalism. Second, religious beliefs used as a source for political actions by individuals or Islamist groups (those professing Islamism ideology) that are used as basis for social action. These two issues are interpreted by filmmakers, and then represented through film texts. In order to respond to those two issues, this study intends to identify the dialectic processes between individuals or groups in society that are represented through film texts. This is to identify the memory traces used as the basis for action by agents in society. In structuration theory, Giddens opines that structure (patterns of social practices) only exist and are lodged within memory traces of agents as basis for social action. However, this study holds that there is another element, namely religio-political beliefs lodged in the memory traces of agents as basis for social action. This study is an interpretive qualitative study, using van Dijk’s critical discourse analysis model to study text, cognition and social context of filmmakers. In order to obtain the meaning of text, this study uses Saussure’s semiotical logic, combined with Arthur Asa Berger’s ideas on camera shot and camera techniques. The substantive theory used synthesizes structuration theory with the concept of Islamism. The paradigm used is critical constructivist, to ‘fight for’ universal values based on realities represented in films. The unit of analysis is Islamic and antiradicalism Indonesian films, namely 3 Doa 3 Cinta [Three Prayers, Three Loves] (2008), Khalifah [Caliph] (2011), Mata Tertutup [Eyes Shut] (2011), and Bid’ah Cinta [Love Heretic] (2017). Results of this study show that first, the four Indonesian film studied show that the agent character (agency) who carried out radical actions referred to Islamist understanding. Societal issues such as injustice, social inequality, lack of equal rights, and the difficulty of accessing education and health, triggered individuals or Islamist groups to take radical actions. Second, the actions of agents (represented through Islamist figures) in Indonesian Muslim society are based on religio-political beliefs embedded in memory traces. This result also refutes Giddens’ structuration theory, which only sees structure as part of a memory trace that directs the actions of agents."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library