Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Turner, J.D.
London: Macmillan, 1988
620.004 4 TUR i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Khandpur, Raghbir Singh, 1942-
New York: McGraw-Hill, 2005
610.284 KHA b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Kulhenek, O.
Amsterdam: Elsevier, 1976
551 KUL i
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
New York: John Wiley & Sons, 1998
616.980 3 MED
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Srivastava, A.C.
Jakarta: UI-Press, 1987
530.7 SRI t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Andika Dwiputra Djaja
"Pendahuluan: Fraktur adalah salah satu penyakit yang menjadi permasalahan yang cukup besar dalam bidang kesehatan di dunia, terutama di negara berkembang. Secara umum fraktur dapat sembuh dengan normal. Pada beberapa kondisi, penyembuhan fraktur mengalami komplikasi seperti delayed union atau non union. Penyembuhan fraktur yang sukses merupakan suatu interaksi yang kompleks antara proses angiogenesis dan osteogenesis. Stimulus fisika berupa pajanan PEMF (pulsed electromagnetic fields) menunjukkan pengaruh proses osteogenesis baik dalam tahap perkembangan penulangan embrio dan tahap penyembuhan fraktur.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyembuhan fraktur tulang delayed union pada hewan coba pada pemberian ELF-PEMF dengan melihat skor radiologi RUST dan Failure Load dari Pemberian Gaya Aksial.
Metode: Dilakukan uji eksperimental pada 56 hewan coba di Laboratorium Hewan Departemen Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dengan membandingkan nilai RUST Score dan Load Score pada kedua kelompok hewan coba.
Hasil: Penelitian dilakukan selama Agustus-September 2018. Tidak ada perbedaan karakteristik hewan coba pada penelitian. Didapati bahwa terdapat perbedaan bermakna Rust Score pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada setiap minggu pemeriksaan dan terdapat perbedaan bermakna Load Score pada minggu keempat dan kelima.
Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan terdapat perbaikan penyembuhan fraktur delayed union pasca pemberian ELF-PEMF dilihat dari perbedaan nilai Rust score dan load score.

Background: Fracture is a major health problem in the world, especially in developing countries. Usually, fractures can heal normally. In some conditions, the healing process becomes delayed union or non union. Successful healing of fractures is a complex interaction between angiogenesis and osteogenesis. Physical stimuli such as exposure of PEMF (pulsed electromagnetic fields) influences the osteogenesis process both in the development stage of embryo reinforcement and the fracture healing stage.
Objective: The aim is to determine the healing of delayed union fractures in experimental animals after exposure to ELF-PEMF.
Methods: The experimental study was conducted at Department of Nutrition Animal Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia with 56 experimental rats. The study was conducted by comparing the RUST Score and Load Score values ​​in the two experimental animal groups
Result: The study was conducted during August-September 2018 There was no difference in animal characteristics in the study. There was significant difference in Rust Score in both groups in each examination week and there were significant differences in Load Score in the fourth and fifth weeks.
Conclusion: There was improvement in delayed union fracture healing after the administration of ELF-PEMF as seen from the difference in Rust score and load score."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hadari Nawawi
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992
001.42 HAD i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
I Komang Adhi Parama Harta
"Latar belakang: Berdasarkan pilot study di divisi Bedah Jantung Dewasa Rumah Sakit Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, SIRS lebih sering terjadi pada OPCAB dibandingkan dengan on-pump CABG, 67% vs 33% (30 sampel, 2017). Berangkat dari hal tersebut, peneliti melakukan uji klinis memberikan deksametason pada pasien yang menjalani operasi OPCAB. Metode: Pengumpulan sampel dilakukan secara konsekutif di divisi Bedah Jantung Dewasa Rumah Sakit Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita antara Agustus 2018 - Januari 2019. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dirandomisasi menjadi grup deksametason (n=30) dan grup plasebo (n=30). Intervensi deksametason intravena dosis 1 mg/KgBB (maksimal 100 mg) atau plasebo menggunakan normal salin (NaCl 0,9%). Analisis statistik digunakan independent t-test, Mann-Whitney test, fisher exact test dan AUC. Hasil: Insiden MACE pada grup deksametason dibandingkan grup plasebo (RR 0,385, CI 95%: 0,157-0,945, p = 0,024). Keluaran klinis lebih baik ditemukan pada grup deksametason dibandingkan grup plasebo untuk durasi ventilasi mekanik (6 (5-16) jam vs 8 (5-72) jam, p = 0,029), lama rawat ICU (17,5 (12-32) jam vs 19 (13-168) jam, p = 0,028), lama rawat rumah sakit (5 (5-8) hari vs 6,5 (5-30) hari, p = 0,04) dan VIS (0 (0-15) vs 5 (0-100), p = 0,045). Hasil penanda inflamasi, terdapat perbedaan rata-rata yang bermakna antara grup deksametason dibandingkan grup plasebo pada IL-6 (217,4 pg/mL, CI 95%: 107,9-326,8, p = 0,0001), PCT (3,41 µg/L, CI 95%: 2,1-4,71, p = 0,0001) dan CRP (52,3 mg/L, CI 95%: 28.8-75,8, p = 0,0001). Pada analisis AUC terdapat hubungan signifikan antara penanda inflamasi dengan insiden MACE pada IL-6 (AUC 0,728, CI 95%: 0,585-0,871, p = 0,005) dan PCT (AUC 0,723, CI 95%: 0,578-0,868, p = 0,007). Kesimpulan: Pemberian deksametason praoperasi OPCAB, efektif memperbaiki keluaran klinis dan mengendalikan reaksi inflamasi pascaoperasi dibandingkan plasebo.

Background: Based on a pilot study in the Adult Heart Surgery division of Harapan Kita Heart and Vascular Center Hospital, SIRS is more common in OPCAB compared to on-pump CABG, 67% vs 33% (30 samples, 2017). Based from this result, this research conducted a clinical trial to provide dexamethasone in patients undergoing OPCAB surgery. Methods: Samples were collected consecutively in the Adult Heart Surgery division of Harapan Kita Heart and Vascular Center Hospital between August 2018 - January 2019. Samples that fulfill inclusion and exclusion criteria were randomized to dexamethasone group (n=30) and placebo group (n=30). Intervention using intravenous dexamethasone dose of 1 mg/KgBB (maximum 100 mg) or placebo using normal saline (0.9% NaCl). Statistical analysis were used independent t-test, Mann-Whitney test, fisher exact test and AUC. Results: MACE incidence in dexamethasone group compared to placebo group (RR 0.385, 95% CI: 0.157-0.945, p = 0.024). Clinical output of dexamethasone group was better than placebo group in duration of mechanical ventilation (6 (5-16) hours vs 8 (5-72 ) hours, p = 0.029), ICU length of stay (17.5 (12-32) hours vs 19 (13-168) hours, p = 0.028), hospital length of stay (5 (5-8) days vs 6.5 (5-30) days, p = 0.04) and VIS (0 (0-15) vs 5 (0-100), p = 0.045). As a result of the inflammatory markers, there was a significant average difference between dexamethasone group compared to the placebo group in IL-6 (217.4 pg/mL, 95% CI: 107.9-326.8, p = 0,0001), PCT ( 3.41 µg/L, 95% CI: 2.1-4.71, p = 0.0001) and CRP (52.3 mg/L, 95% CI: 28.8-75.8, p = 0.0001 ) In the AUC analysis there was a significant association between inflammatory markers with the incidence of MACE in IL-6 (AUC 0.728, 95% CI: 0.585-0.871, p = 0.005) and PCT (AUC 0.723, 95% CI: 0.578-0.868, p = 0.007). Conclusion: Preoperative dexamethasone OPCAB is effective to improving clinical output and controlling postoperative inflammatory reactions compared to placebo."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wiwid Wicaksono
"Simulasi Pengukuran Treatment Planning System (TPS) menggunakan software ISIS berbasis Operting system LINUX, dan Pengukuran Dosis menggunakan Pesawat Cobalt-60 dengan Detektor bilik Ionisasi farmer 2571 menggunakan Phantom Air berukuran 32 x 32 x 32 cm3 dosis Referensi sebesar 1 Gy pada kedalaman 5 cm dari permukaan. Teknik Source Axis Distance (SAD) pada jarak 80 cm dengan variasi Luas Lapangan 5 x 5 cm2, 10 x 10 cm2,15 x 15 cm2 (untuk lapangan terbuka), 15 x 10 cm2 (menggunakan wedge) dan Variasi kedalaman 2,5 cm, 5 cm, 10 cm, menghasilkan pengukuran distribusi dosis tidaklah beraturan, khususnya untuk posisi off axis, sehingga mutlak diperlukan simulasi pada TPS untuk perhitungan setiap dosis.

Treatment Planning System (TPS) measurement simulation uses LINUX based Operating System ISIS software, and Dosage Measurement of Cobalt-60 instrument with Farmer 2571 Ionization Chamber Detector uses the Phantom Air measuring 32 x 32 x 32 cm3 with 1 Gy reference dosage at 5 cm depth from surface. Source Axis Distance (SAD) technique at a distance of 80 cm with Field Size variations of 5 x 5 cm2, 10 x 10 cm2, and 15 x 15 cm2 (all for open field), and 15 x 10 cm2 (using wedge) and depth variations of 2.5 cm, 5 cm and 10 cm provides unconsider measurement then TPS Simulation very important every dosis calculation."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2002
S28577
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>