Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Ada anggapan bahwa penyimpangan kebahasaan yang dilakukan oleh seseorang merupakan suatu kesalahan. anggapan seperti itu kurang beralasan karena mungkin saja orang itu melakukan kekeliruan terhadap bahasa yang di gunakannya....."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Dumaria
"Tesis ini mengkaji kohesi dalam wacana naratif bahasa Indonesia. Dengan berpedoman pada teori Halliday dan Hasan kajian ini menjawab (1) perwujudan pemarkah kohesi yang terdapat dalam wacana naratif, (2) pemarkah referensi yang dominan digunakan agar wacana menjadi koheren, (3) perwujudan referensi pronomina persona ketiga yang direalisasikan di dalam wacana.
Hasil analisis data memperlihatkan semua pemarkah kohesi gramatikal, yakni referensi, substitusi, elipsis, relasi konjungtif, dan kohesi leksikal yang berwujud repetisi, sinonimi, hiponimi/hiperonim, meronimi, antonimi, dan kolokasi terdapat dalam wacana naratif bahasa Indonesia. Keseluruhan pemarkah tersebut terbukti dimanfaatkan agar wacana koheren. Dari analisis data, pemarkah referensi atau pengacuan merupakan pemarkah kohesi gramatikal yang dominan digunakan. Pemarkah kohesi leksikal yang dominan digunakan adalah pemarkah repetisi. Di antara pemarkah kohesi gramatikal yang berwujud referensi pronomina persona ketiga seperti, ia, dia, -nya, beliau , dan mereka yang sering digunakan adalah pronomina persona ketiganya.
Hasil analisis data memperlihatkan penggunaan referensi pronomina persona ketiga seperti ia dan dia selalu bersifat anaforis dan tidak pernah bersifat kataforis. Begitu pula penggunaan referensi pronomina persona ketiga ?nya yang anaforis tidak hanya bersifat intrakalimat, tetapi juga antarkalimat. Hal itu memperkuat hasil penelitian sebelumnya tentang analisis keutuhan wacana.

This thesis discusses the cohesion in narrative texts in Indonesian Language. With the reference to Halliday and Hasan theory, this analysis answers (1) the form of cohesion markers that are found in narrative texts, (2) reference markers which are dominantly used in order to make texts coherent, (3) The form of references of the third personal pronoun which are used in a discourse.
The result of data analysis shows all grammatical cohesion markers such as, references, substitutions, ellipses, relative conjunctions, and lexical cohesion in form of repetition, synonym, hyponym/heteronym, metonymy, antonym, and collocation are found in narrative texts of Indonesian language. All those markers are proved to used in order to make a text coherent. From data analysis, reference markers are grammatical cohesion markers which are dominantly used. Lexical cohesion markers which are dominantly used are repetition markers. Grammatical cohesion markers which are in from of personal pronoun references like he, she, her, his and them that are often used are his or her.
The result of data analysis shows that the use of third personal pronouns such as "she" and "he" are always as anaphors and never as cataphors. The use of reference of third personal pronouns ? his or her which are anaphors and is not only intrasentence, but also intersentence. Those aspects strengthen the result of the previous research about analysis of text complexity.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2008
T22713
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Amanda
"Gender merupakan salah satu topik atau kajian yang menarik untuk dibahas dan diteliti. Hal ini terbukti dengan banyaknya penelitian terdahulu yang mengkaji topik mengenai gender, mulai dari gender yang dikaitkan dengan karya sastra sampai pada pembahasan gender yang dikaitkan dengan bahasa. Dalam penelitian ini, gender akan diteliti hubungannya dengan penggunaan bahasa tulis (narasi). Bahasa tulis atau narasi yang akan di kaji lebih dikhususkan pada penggunaan kohesi gramatikal antara remaja laki-laki dan perempuan dalam bernarasi. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk melihat bagaimana penggunaan bahasa khususnya penggunaan kohesi gramatikal antara remaja lakilaki dan perempuan, serta melihat apakah ada perbedaan dalam penggunaan kohesi gramatikal antara kedua kategori responden.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan. Responden dalam penelitian ini adalah remaja berusia 15-17 tahun yang duduk di bangku sekolah menegah atas. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulisan atau narasi yang dibuat oleh responden. Ada sekitar 43 narasi yang menjadi data dalam penelitian ini. Hasil atau kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan penggunaan kohesi gramatikal (khususnya perbedaan dalam jumlah rerata) dalam narasi milik responden laki-laki dan perempuan. Kohesi gramatikal dalam narasi milik responden perempuan cenderung lebih banyak ditemukan dibandingkan kohesi gramatikal dalam narasi milik responden laki-laki. Namun, perbedaan jumlah rerata yang terjadi ini tidak menunjukkan angka perbedaan yang besar. Jadi dapat dinyatakan bahwa perbedaan penggunaan kohesi antara responden laki-laki dan responden perempuan dalam penelitian ini tidak signifikan.

Gender is one of the topics or study that interest to be discussed and researched. This is evidenced by the many previous studies that already examine the topic of gender, ranging from gender are associated with literature until topics of gender that is associated with language. In this research, gender will be examined based on relation with use of written language (narrative). Written language or narrative that will be examined more specifically in the use of grammatical cohesion between boys and girls in make a narrative. This research aims to see how the use of language, especially the use of grammatical cohesion between boys and girls, and see whether there are differences in the use of grammatical cohesion between the two categories of respondents.
In this research, method that used is field research. Respondents in this study were adolescents aged 15-17 years old in level senior high schools. The resource that used in this research is the text or narration made by the respondent. There are about 43 narrative that becomes the data in this researches. Results or conclusions obtained from this research is there are differences in the use of grammatical cohesion (especially the difference in the average) in the narration of the respondents belong to men and women. Grammatical cohesion in the narration belongs female respondents tend to be more easy to found than grammatical cohesion in the narration belongs to male respondents. However, differences in the mean number that happen does not show a large difference figures. So, it can be stated that the differences in the use of cohesion among male respondents and female respondents in this research is not significant.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S61236
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Arianty Visiaty
"Arianty Visiaty. Analisis Struktur dan Makna Kalimat Shieki Bahasa Jepang, (Di bawah bimbingan Thu Lea Santiar, M.A) Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 2000. Tujuan disusunnya skripsi ini adalah untuk lebih memahami maksud kalimat shield, penggolongan jenis kalimat shield, pembagian subjek, objek penderita, serta partikel penunjuk objek penderita, maupun makna kalimat shieki itu sendiri, sehingga nantinya dapat membuat dan menggunakan kalimat shield dalam percakapan sehari-hari dan dapat lebih memahami kandungan isi dalam sebuah teks, bacaan tulisan secara lebih mendalam. Lebih jauh lagi penulisan skripsi ini, bertujuan untuk dapat membantu para pelajar bahasa Jepang agar lebih memahami kalimat shield. Penulisan skripsi ini menggunakan penelitian pustaka deskriptif dengan menggunakan teori pakar linguistik Jepang yang bernama Okutsu Keiichiro. Akan tetapi, khusus untuk teori partikel penunjuk objek penderita kalimat shield, dipakai teori dari Taramura. Hideo karena dibandingkan dengan Okutsu, Teramura menjelaskan lebih rinci mengenai pemilihan partikel penunjuk objek penderita. Berdasarkan teori-teori pakar linguistik inilah, dianalisis data-data kalimat shield yang dikumpulkan dari buku-buku teks pelajaran bahasa Jepang tingkat dasar. Dilihat dari kata kerja pembentuknya, maka kalimat shield dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu kalimat shield transitif dan kalimat shield intransitif.Subjek, maupun objek penderita dalam kalimat shield transitif semuanya merupakan mahluk hidup. Sedangkan untuk partikel penunjuk objek penderitanya, hanya dapat menggunakan partikel ... Makna kalimat shieki transitif ,sebagaimana yang dikatakan oleh Okutsu Keiichiro dapat digolongkan ke dalam kyosei shield (shield paksaan) ataupun kyoyo shield (shield ijin), tergantung dari konteks kalimat itu sendiri. Untuk kalimat shield intransitif selain memakai mahluk hidup sebagai subjek maupun objek penderitanya, ada beberapa kalimat shield intransitif yang memakai benda mati sebagai subjek ataupun objek penderitanya. Sedangkan partikel penunjuk objek penderitanya, dapat berupa partikel ... ataupun ... Kecuali, menurut Teramura Hideo, untuk kata kerja shieki yang berasal dari kata kerja emosi dan kata kerja gejala alamiah, hanya menggunakan partikel ... sebagai penunjuk objek penderitanya. Dilihat dari segi maknanya kalimat shield intransitif dapat dimasukkan ke dalam kyosei shield (shield paksaan), apabila partikel penunjuk objek yang digunakan dalam kalimat tersebut adalah partikel ..., sedangkan apabila partikel penunjuk objek penderita yang dipakai adalah partikel ..., maka termasuk ke dalam kyoyo shield (shield ijin). Dari basil analisis kalimat-kalimat shieki yang dikumpulkan dari buku-buku teks pelajaran bahasa Jepang tingkat dasar, menunjukkan adanya kesesuaian antara teori Okutsu Keiichiro (subjek, objek penderita, makna) dan teori Teramura. Hideo (partikel penunjuk objek penderita) dengan basil analisis data data kalimat shield tersebut."
2000
S13481
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Japanese language is a language that has different sentence structure with bahasa Indonesia. In addition, particles are also characteristic in Japanese. There are so many of them, using the basic Japanese language learners confused. Therefore, as a new study program, studies based on goyou or dai ni gengou shuutoku are conducted as a mean to look at the problems occurred in Japanese language learning at UNHAS. This study used qualitative research method. Population was taken from Japanese Literature, Faculy of Literature, Universitas Hasanuddin. Tweny two from second year students were the sample and randomly selected. Based on the results, the research concludes that the explanation of the use of particle 'de' and 'ni' in Minna No Nihongo I was not all covered, especially on particle 'ni'. The explanation of the use of particle 'ni', especially verb 住んでいます入ります乗りま, is very prone to errors. This is due to the verb is unfamiliar or infrequently used by respondents in the sentence. Therefore, teachers can fill insufficient explanation in the book, so that the error can be minimized. Whereas, errors/goyou occurred on particle 'de' are more on the functions of the particle for the scope, places of activities, and abstract tools."
LINCUL 7:1 (2013)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Setsuzokujoshi merupakan partikel yang menunjukkan hubungan kalimat dengan kalimat, serta mempunyai peran yang pening di dalam kalimat. Yang menjadi ciri khas setsuzokujoshi adalah posisinya yang selalu terletak di antara dua kalimat. Setsuzokujoshi yang merupakan bagian dari partikel, dalam bahasa jepang, memiliki banyak jenis. Pada penelitian ini, peneliti akan membatasi penelitian pada penggunaan 'sorekara' ; 'soshite' ; 'soreni' yang terdapat di artikel-artikel website surat kabar asahi com. Adapun metode penelian yang digunakan adalah metode kepustakaan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui fungsi dari setsuzokujoshi 'sorekara' ; 'soshite' ; 'soreni' dan apakah dapat saling menggantikan dalam sebuah kalimat dan bertujuan agar para pembelajar bahasa Jepang dapat mengetahui persamaan dan perbedaan yang jelas antara sorekara, soshite, dan soreni, sehingga pembelajar bahasa Jepang dapat menggunakannya dengan baik dan benar. Setelah menganalisis data, penulis menemukan beberapa simpulan yaitu 'soshite' dalah penguatan masalah dari sebuah topik pembicaraan karena ada kesadaran pembicara. Sering digunakan ketika menggabungkan sebuah topik pembicaraan. Sedangkan 'sorekara' adalah tindakan menguatkan jenis secara berurutan. Artinya, akan ada kegiatan kedua yang akan dilakukan atau terjadi setelah kegiatan pertama selesai dilakukan. 'soreni' memiliki fungsi menambahkan hal lain kepada sebuah hal. Karena 'sorekara' memiliki fungi yang hampir sama dengan 'soshite', ada kemungkinan 'soshite' dapat digantikan oleh 'sorekara' atau sebaliknya "
LINCUL 7:1 (2013)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Pinyin is a valuable tool for students who learn Chinese as a second language. Through years of teaching practice and observation, some errors in Indonesian students' understanding and using in Pinyin were summed up, including the phonetic alphabet equated to the actual voice entirely caused the mispronunciation; lack of understanding in some special provisions in Pinyin caused the confusion of vowels"u" and"uu": improperly placement of tone marks did not understand the pinyin word segmentation resulting in memory and understanding of Chinese based on Chinese characters instead of the word as a unit. These errors disturbed the accuracy of Chinese students pronunciation, caused problems in Chinese vocabulary understanding. It is very important for Indonesian Chinese language learners to lay a solid foundation of Pinyin and develop good habits in the use of Pinyin."
LINCUL 7:1 (2013)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"In studying the Japanese language, correctness and resilient is needed, especially in sentences usage.  That because the sentence type in Japanese language is variety based on the intention, topic, predicate, and forming of sentence.  For the sentences usage, it’s better to understand the sentence meaning,  especially sentence that contain sentence factor and consist of clause on ‘fukubun'  compound sentence.  ‘Fukubun'  in Japanese language are consists of 7 type,  which are ‘fukubun’ with type of Juubun, Yuzokubun and combination between Juubun and Gobun,  Juubun and Yuzokubun,  Gobune and Yuzokubun,  Juubun combination,  Gobun and Yuzokubun with every type of fukubun is having more than one characteristic."
NIGAKU 1:1 (2005)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>