Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sarah Nabila
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh karakteristik perusahaan dan krisis finansial terhadap likuiditas saham bank di Asia-Pasifik yang akan dibagi menjadi 3 kategori bank, yaitu safe, crisis-contangious, dan vulnerable. Penelitian ini menggunakan proksi illiquidity sebagai variabel dependen dan variabel independen yaitu karakteristik perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode unbalaced panel dengan data tahunan selama 11 tahun yaitu pada periode sebelum dan sesudah krisis finansial global 2008 2006-2016 . Dari hasil penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas saham bank adalah ROE, debt rasio, cash rasio, size, non-performing loan, dan faktor makroekonomi suatu negara. Selain itu ditemukan bahwa karakteristik perusahaan memiliki pengaruh terhadap likuiditas saham bank pada bank kategori safe, crisis contangious, dan vulnerable. Selanjutnya, krisis finansial merupakan salah satu kejadian yang berpengaruh terhadap likuiditas saham perbankan di Asia-Pasifik.

ABSTRACT
This research aims to identify the effect of firm characteristics and financial crisis to the stock liquidity of Asia Pasific banks which will be divided into three categories, safe, crisis contangious, and vulnerable. This research uses illiquidity proxy as the dependent variable and firm characteristics as independent variable. Unbalaced panel data method is used in this research with annual data from 11 year period, before and after 2008 global financial crisis 2006 2016 . The findings reveal that bank stock liquidity is affected by several factors, whic are ROE, debt rasio, cash rasio, size, non performing loan, and the macroeconomic factors of a nation. Futhermore, the firm characteristics give influence to the bank stock liquidity for the safe, crisis contangious, and vulnerable categories. Moreover, the finansial crisis is one of the events that gives significant effect for the bank stock liquidity in Asia Pasific."
2017
S67337
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Umar Fathin Rizaldi
"Penelitian ini mengkaji perilaku herding di pasar saham negara-negara GCC (Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain) selama Desember 2019 hingga Desember 2024. Tujuan utama penelitian adalah mengidentifikasi keberadaan herding, menilai apakah perilaku tersebut meningkat selama krisis besar (pandemi COVID-19 dan konflik Rusia–Ukraina), serta mengevaluasi perbedaannya dalam kondisi pasar naik (bull market) dan turun (bear market).
Model yang digunakan adalah Cross-Sectional Absolute Deviation (CSAD), dengan estimasi regresi dilakukan secara terpisah per negara dan periode menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) dengan robust standard errors. Model asimetris dan uji Wald digunakan untuk menguji perbedaan perilaku investor berdasarkan arah pasar.
Hasil menunjukkan adanya herding di Bahrain dan UEA secara keseluruhan, serta di Arab Saudi dan Bahrain selama pandemi COVID-19. Tidak ditemukan herding signifikan selama konflik Rusia–Ukraina. Herding asimetris ditemukan di Arab Saudi (saat pasar turun) dan Kuwait (saat pasar naik).
Temuan ini menekankan sifat kontekstual herding di pasar GCC dan memberikan implikasi kebijakan bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia.

This study investigates herding behavior in the stock markets of GCC countries (Saudi Arabia, UAE, Qatar, Kuwait, Oman, and Bahrain) from December 2019 to December 2024. It examines whether herding occurs overall, intensifies during major crises (COVID-19 and the Russia–Ukraine conflict), and differs between bull and bear markets.
Using the Cross-Sectional Absolute Deviation (CSAD) model, regressions are run separately by country and period, employing OLS with robust standard errors. Asymmetric models and Wald tests are used to assess differences in investor behavior across market conditions.
Results show that herding is present in Bahrain and the UAE overall, and in Saudi Arabia and Bahrain during the COVID-19 period. No herding is found during the Russia–Ukraine conflict. Asymmetric herding appears in Saudi Arabia (during downturns) and Kuwait (during upswings).
These findings highlight the contextual nature of herding in GCC markets and offer insights for emerging markets like Indonesia in managing investor behavior during crises.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nariswari Khairanisa
"ABSTRAK
Globalisasi pendidikan telah membuka ruang interaksi yang semakin intensif antara pemerintah suatu negara dengan institusi internasional seperti Bank Dunia. Di Indonesia, Bank Dunia berperan dalam mengarahkan haluan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia melalui serangkaian preskripsi kebijakan. Skripsi ini mempertanyakan dorongan Pemerintah Indonesia untuk menerima preskripsi reformasi pendidikan tinggi meskipun Pendidikan Tinggi kerapkali diposisikan sebagai infant industry bagi negara berkembang. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, skripsi ini menggunakan kerangka teori discursive institutionalism dan policy borrowing. Oleh sebab itu, skripsi ini menelaah beragam preskripsi Bank Dunia yang diturunkan ke dalam diskursus-diskursus Pemerintah Indonesia pada proses identifikasi kepentingan, konstruksi kebijakan, dan legitimasi kebijakan. Skripsi ini menunjukkan bahwa gagasan new paradigm dan knowledge economy yang berorientasi pada peningkaan daya saing berperan penting dalam mendorong Pemerintah Indonesia untuk melakukan reformasi pendidikan tinggi pasca krisis finansial 1997. Implikasi dari reformasi ini adalah perubahan cara melihat pendidikan dari pendidikan sebagai barang publik menjadi pendidikan sebagai barang privat. Kajian ini berguna untuk mengkaji bagaimana struktur memengaruhi agen di mana Bank Dunia memengaruhi Pemerintah Indonesia.

ABSTRAK
The globalization of education has opened an increasingly intensive interaction space between the governments of a country with international institutions such as the World Bank. In Indonesia, the World Bank plays a role in guiding the policy direction of higher education in Indonesia through a series of policy prescriptions. This thesis questioned the Indonesian Government s decision to receive a prescription for higher education reform although higher education is often positioned as an infant industry for developing countries. To answer the question, this thesis uses discursive institutionalism and policy borrowing theory. Therefore, this thesis examines the various World Bank prescriptions that are derived into Indonesian Government discourses on the process of identifying interests, policy constructs, and policy legitimacy. This thesis shows that the idea of new paradigm and knowledge economy oriented towards the enhancement of competitiveness play an important role in encouraging the Indonesian Government to undertake higher education reforms after the 1997 financial crisis. The implications of this reform are the change in how education is seen from education as public goods into education as private goods . This review is useful for assessing how structures affect agents in which the World Bank influences the Indonesian Government."
2017
S69504
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Fathur Rahman
"Penelitian ini mengkaji keterbatasan model Financial Stress Index (FSI) tradisional dalam menangkap dinamika instabilitas keuangan modern di Indonesia dan mengajukan sebuah pendekatan inovatif melalui konstruksi Integrated Financial Stress Index (IFSI). Berbeda dari FSI konvensional, IFSI dibangun secara komprehensif di atas tiga dimensi risiko fundamental: liquidity risk yang diukur dengan Closing Percent Quoted Spread (CPQS), asset bubble price yang diidentifikasi melalui Backward Supremum Augmented Dickey-Fuller (BSADF), dan contagion risk yang dianalisis menggunakan model Time-Varying Parameter Vector Autoregression (TVP-VAR) Extended Joint Connectedness. Analisis ini mencakup empat sektor krusial—perbankan, pasar modal, valuta asing, dan properti—dengan agregasi menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk membentuk indeks komposit tunggal. Hasilnya menunjukkan bahwa IFSI lebih sensitif dibanding FSI tradisional dalam mengukur gejala ekonomi yang episodik. Selain itu, IFSI juga menangkap krisis ekonomi saat Taper Tantrum, Covid 19, dan krisis perbankan saat Sillicon Valley Bank mengalami default.
Penelitian ini juga menganalisis dampak dari risiko geopolitik terhadap IFSI yang dibangun. Dengan menggunakan model Autoregressive Distributed Lag (ARDL), penelitian ini menemukan adanya hubungan kointegrasi jangka panjang yang signifikan secara statistik antara risiko geopolitik dan tingkat stres keuangan di Indonesia. Temuan empiris utama mengungkap bahwa sistem keuangan Indonesia menunjukkan kerentanan yang terdiferensiasi, di mana stabilitasnya secara signifikan paling terpengaruh oleh risiko perang di Timur Tengah dan proteksionisme perdagangan global. Transmisi guncangan dari kedua risiko ini terjadi melalui kanal yang jelas, yaitu volatilitas harga komoditas energi akibat ketergantungan impor dan disrupsi pada arus perdagangan serta sentimen investor global. Temuan ini berimplikasi kuat pada kebijakan, menggarisbawahi urgensi bagi otoritas seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk merumuskan kerangka kerja makroprudensial yang lebih dinamis dan mampu menginternalisasi sinyal-sinyal risiko geopolitik spesifik guna menjaga stabilitas sistem keuangan secara proaktif.

This study examines the shortcomings of the traditional Financial Stress Index (FSI) in capturing the dynamics of modern financial instability in Indonesia and proposes an innovative approach through the construction of an Integrated Financial Stress Index (IFSI). Unlike the conventional FSI, the IFSI is built comprehensively on three fundamental risk dimensions: liquidity risk, measured by the Closing Percent Quoted Spread (CPQS); asset‐price bubbles, identified via the Backward Supremum Augmented Dickey‐Fuller (BSADF) test; and contagion risk, analyzed using an Extended Joint Connectedness model within a Time‐Varying Parameter Vector Autoregression (TVP‐VAR) framework. This analysis covers four critical sectors—banking, capital markets, foreign exchange, and real estate—and aggregates them with Principal Component Analysis (PCA) to form a single composite index. The results show that the IFSI is more sensitive than the traditional FSI in detecting episodic economic disturbances. Moreover, the IFSI successfully captures major crises such as the Taper Tantrum, the COVID‑19 shock, and the banking crisis triggered by the Silicon Valley Bank default.
The study also investigates the impact of geopolitical risk on the newly constructed IFSI. Employing an Autoregressive Distributed Lag (ARDL) model, it finds a statistically significant long‑run cointegration relationship between geopolitical risk and financial stress levels in Indonesia. The main empirical finding reveals that Indonesia’s financial system exhibits differentiated vulnerabilities, with its stability most significantly affected by the risk of war in the Middle East and by global trade protectionism. Shock transmission from these risks operates through clear channels—specifically, energy‐commodity price volatility due to import dependence and disruptions to trade flows as well as global investor sentiment. These findings carry strong policy implications, highlighting the urgency for authorities such as Bank Indonesia (BI) and the Financial Services Authority (OJK) to develop a more dynamic macroprudential framework capable of internalizing specific geopolitical‐risk signals in order to proactively safeguard financial system stability.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library