Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Benny Oktora
"Dewasa ini, penggunaan material komposit serat geias/poliester semakin banyak diminati pada aplikasi lingkungan air karena sifatnya yang mama, yaitu tingginya rasio kekuatan terhadap berat dan pembuatan bentuk yang tak terbatas serta kemurahan bahan-bahan bakunya. Dengan adanya kombinasi antara beban selama pemakaian (tekanan hidrostatis) dan lingkungan pemakaian seperti perendaman dan temperatur tinggi, komposit sefat gelas/poliester mempunyai keterbatasan. Dengan perendaman dan temperatur tinggi akan sama-sama mengurangi kekuatan matriks, sehingga akan mengurangi kekuatan tekan arah longitudinal komposit serat gelas/poliester, yang dikenal sebagai matnir dominated strength. Sampel komposit pada penelitian ini adalah kombinasi resin poliwter jenis General Purpose (GP) dan serat gelas jenis E-glass dengan bentuk Chopped Strand Mat (CSM) dan Woven Roving (WR). Dimana serat gelas tersusun dengan urutan: 3CSM, IWIL BCSM, IWR, ZCSM. Sampe! ini direndam pada media air selama 552 jam dengan variasi temperatun 26°C, 6o°C, dan 90°C Adapun dimensi dan pengujian tekan mengguuakan standar ASTM D695-80. Dan pengamatan foto makro dilakukan terhadap perpatahan yang terbentuk pada setiap kondisi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa perendaman hingga di bawah temperatur gelas (Ts=73°C [12]) akan menyebabkan pertambahan berat, sementara di atas temperatur gelas, tidal: menyebabkan pertambahan berat komposit serat gelas/poliester. Peningkatan temperatur perendaman akan menyebabkan penurunan kekuatan tekan arah longitudinal komposit serat gelas/poliester. Pada perendaman di bawah temperatur gelaa, penunman kekuatan telcan arah longitudinal dipengaruhi oleh penyerapan air pada matriks, sedangkan di atas temperatur gelas, dipengaruhi oleh temperatur tinggi. Pada perendaman di bawah temperatur gelas, peningkatan temperatur akan menyebabkan semakin terbukanya perrnukaan retak. Sedangkan pada perendaman di 8183 tempemturgelas, perpatahan menjadi sangat getas yang pelepuhan metriks (matrix blistering). Mode perpatahan akibat beban tekan arah longitudinal adalah shear mode. Dan perambatan retak terjadi pada serat gelas WR."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S41951
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hutabarat, Imelda Eva R.
"Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kekuatan mekanik kompasit adalah dengan mengkombinasikan beberapa serat penguat dalam susunan yang berbeda untuk mencegah terjadinya ketUsakan awal. Pada penelilian ini kombinasi lapisan serat pada laminat akan dievaluasi untuk melihat ketahanan material komposit terhadap beban tekan dan impak. Penelitian ini menggunakan resin polyester sebagai matrik dan serat gelas tipe E berbentuk Olopped Strand Mat (CSM) dan Woven Ravings (WR) sebagai penguat Pembuatan material tnt dilakukan dengan teknik laminasi basah secara manual dangan mengkombinasikan susunan lapisan semt pada laminat sebanyak 10 (sepuluh) lapisan dengan kombinasi susunan sebagai berikut: O%CSM-100%WR : 10 lapisan serat WR 21J%CSM-80%WR: CSM-8WR-(;SM 40%CSM-150%WR: CSM-WR·CSM-4WR-C5M-WR-csM 60%CSM-40%WR: CSM-WR-csM·WR-2CSM-WR-csM-WR-csM 80%CSM-20%WR: CSM-WR-OCSM-WR-(;SM 100%CSM-0%WR : 10 lapisan semt CSM Kemudlan dilakukan pengujian tekan berdasarkan standar ujf tekan AS7M 0695-90 dan pengujian fmpak ben:fasarkan standar uji tmpak AS7M 0256-93.4. Dan dilanjutkan dengan pengamalan kerosakan makro komposit aldbat pembebanan yang diberikan. Data yang diperofeh menunjukkan bahwa kekuatan tekan sangat tergantung pada tahanan komposit dalam mencegah lentur serat (fibre buckling) dan perpatahan semt Serat CSM memiliki kemampuan dalam mencegah lentur serat pada daerah tengah sedangkan serat WR memiliki kemampuan mencegah perpatahan semt pada bagian pinggit; sehingga kekuatan tekan terlinggi dimiliki komposit 60%CSM-40%WR dengan susunan CSM-WR-(;SM-WR-2CSM-WR-csMWR ·CSM. Sedangkan kekuatan impak sangat tergantung pada ketahanan serat dalam mendistribusikan beban impak dan dalam menahan beban impak"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S41994
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mukhlis
"Peningkatan penggunaan material komposit dalam aplikasi bidang teknik menuntut tersedianya material ini dengan sifat mekanik yang tinggi. Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kekuatan mekanik material komposit adalah dengan mengkombinasikan beberapa jenis penguat (serat) yang dibuat dalam bentuk laminat.
Dalam penelitian ini digunakan kombinasi serat gelas tipe E jenis Chopped Strand Mal (CSA/U dan Woven Roving (WR) dan matriks resin polyester dengan merk dagang DECIJDE PH-164M Serat gelas jenis CSM mempunyai ikalan yang baik dengan resin sehingga dapat mencegah delaminasi, sedangkan sera! gelas jenis WR memiliki kekuatan tarik yang tinggi dalam arah longitudinal. Proses pembuatan sampel dilakukan dengan metode laminasi basah manual. Kemudian dilakukan pengujian tarik dengan menggunakan standar ASTM D 638M untuk diketahui kekuatan tarik. Mekanisme perpatahan yang terjadi akibat beban tarik diamati dengan menggunakan mikroskop optik.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan tarik komposit meningkat dengan bertambahnya jumlah Iapisan serat WR. Kekuatan tarik terendah didapat pada komposisi 100% CSM dan kekuatan tarik tertinggi adalah pada komposisi 100% WR. Juga dengan bertambahnya jumiah lapisan serat WR, fraksi volume serat meningkat. Mekanisme perpatahan yang terjadi pada komposir akibat pembebanan tarik merupakan gabungan perpatahan pada serat, perparahan pada matrike, retak matrik dan delaminasi. Lapisan serat CSM cenderung mengulami pemisahan serat setelah menerima beban tarik, sedangkan pada lapisan serat WR proses delaminasi merupakan mekanisme perpatahan yang dominan terjadi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S41997
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fredrik Andrianto
"Serat tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah tanaman kelapa sawit yang berlimpah di Indonesia. Serat ini merupakan serat alam yang dapat digunakan sebagai penguat di dalam komposit polimer, namun masalah utama dari serat alam adalah hidrofilik sedangkan polimer propilena sebagai matriks adalah hidrofobik. Perlakuan kimia alkalinisasi merupakan perlakuan kimia yang dapat meningkatkan kompatibilitas serat dan sifat mekanis yang dihasilkan pada pembentukan komposit. Metode pengujian yang dilakukan untuk mengetahui bentuk serat di dalam struktur komposit menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan kemudian diolah menggunakan perangkat lunak ImageJ. Alkalinisasi dapat meningkatkan distribusi serat di dalam komposit dinyatakan dalam bentuk rasio distribusi hingga 0,42 pada serat 50 mesh dan 0,40 pada serat 100 mesh. Selain itu, kompatibilitas serat juga meningkat ditunjukkan oleh selisih tegangan permukaan yang menurun hingga 1.60 mN/m. Hasil pengujian dibentuk dalam purwa-rupa aplikasi sebagai contoh manfaat mengetahui pengaruh secara kuantitatif yaitu dapat memprediksi sifat-sifat yang dihasilkan.

Oil Palm Empty Fruit Bunch (OPEFB) Fiber is an abundant waste in Indonesia. This fiber is a natural fiber that can be used for reinforcement in polymer-based composites, but natural fiber is hydrophilic while polypropylene as a matrix are hydrophobic. Alkalinization is a type of chemical treatment that can improve fiber compatibility and mechanical properties resulting in the formation of composites. Testing methods conducted to determine the shape of the fibers in the composite structure are using Scanning Electron Microscope (SEM) and then processed using ImageJ software. Alkalinization can increase fiber distribution in composites expressed in the form of distribution ratio up to 0,42 for 50 mesh and 0,40 for 100 mesh. In addition, the compatibility of the fiber also increases, indicated by the differences in surface tension decreased to 1,60 mN/m. The test results are formed in the prototype of application that can be used for an example of the benefits of knowing the influence quantitatively so that can be able to predict the resulting properties.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kevin Abram
"Kebutuhan akan peralatan-peralatan kepolisian selalu dibutuhkan dalam jumlah anggaran yang besar. Kebutuhan tersebut meliputi berbagai macam peralatan seperti peralatan defensif yaitu helm anti peluru. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan helm anti peluru dalam negeri yang memiliki kekuatan serupa dengan produk impor tetapi tetap ringan dan baik untuk mobilitas pemakainya. Untuk itu dilakukan penelitian ini menggunakan komposit yang terdiri dari multi reinforcement. Multi reinforcement yang digunakan pada penelitian ini adalah serat kenaf sebagai serat alam dan serat karbon sebagai serat sintetis. Penggunaan serat kenaf dilakukan karena serat kenaf selain mudah ditemukan dan murah, ternyata juga memiliki sifat mekanik yang baik. Metode pembuatan dilakukan dengan metode cetakan terbuka yaitu metode hand layup. Jumlah lembaran kenaf sudah ditentukan sementara jumlah lembaran serat karbon akan divariasikan. Serat kenaf akan digunakan 4 lembar pada setiap produknya. Variasi lembaran serat karbon dibagi menjadi tiga variasi yaitu, 3 lembar serat karbon, 6 lembar serat karbon, dan 9 lembar serat karbon. Pengujian yang dilakukan adalah uji balistik tipe I sesuai standar National Institute of Justice 0101.3. Pengujian kekerasan dan flexural strength akan dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik produk komposit serta efek penambahan serat karbon. Pengujian menggunakan SEM digunakan untuk mengetahui morfologi patahan dan mekanisme yang terjadi pada produk komposit. Produk komposit yang terdiri dari 9 lembar serat karbon dan 4 lembar serat kenaf mampu menahan laju peluru. Terjadi kerusakan serat tetapi hanya berada di bagian luar produk komposit.

The needs of police gears are always needed in large scale budget. That needs cover many gears start from the offensive ones until the defensive ones like ballistic helmet. Hence Indonesia need the development of ballistic helmet that has the mechanical properties as good as the imported ones but also lightweight and comfort to use. This research uses multi reinforcement composite. Kenaf fiber used as a natural fiber based reinforcement, meanwhile carbon fiber used as a synthetic fiber based reinforcement. Those two reinforcements will be combined to create a composite. Kenaf fiber will be used because of its availability in Indonesia, and surprisingly has good mechanical properties. The method of fabrication used in this research is by using open mold and hand layup technique. The number of kenaf fiber ply will be fixed by 4 plies. The number of carbon fiber will be varied as is 3 plies, 6 plies, and 9 plies. Test used in this research is Level I ballistic testing National Institute of Justice 0101.3. Hardness and flexural strength will be conducted to find out the mechanical properties and also effect of addition of carbon fiber plies. Another test using SEM also done in this research to examine the morphology of the area of impact. In the end the product constructed by 9 plies of carbon fiber and 4 plies of kenaf fiber is capable to hold the bullet. That product is still damaged but only at the outside and the bullet does not penetrate through the product.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marsha Niken Prabandani
"Steel fiber dan Hollow-core-slab merupakan inovasi-inovasi baru yang telah banyak diterapkan dalam dunia konstruksi. Berdasar pada teori tegangan lentur di tengah penampang yang sama dengan nol, maka dibuat void pada tengah penampang untuk mengurangi volume beton adalah tujuan dari HCS. HCS yang pada umumnya diproduksi dalam bentuk precast dengan perkuatan pretegang membuatnya mahal untuk diaplikasikan. Maka dilakukan penelitian ini, yaitu HCS dengan sistem pengecoran insitu dan tanpa prategang yang memanfaatkan limbah botol air mineral sebagai pembuat lubang. Telah diketahui dari berbagai penelitian bahwa steel fiber meningkatkan secara signifikan kuat geser, kuat tarik belah, dan kuat lentur dari beton. Maka dalam penelitian ini peningkatan kekuatan lentur dari struktur digunakan bahan tambah steel fiber dengan variasi volume fraksi 0,19% dan 0,32%. Penelitian ini menggunakan benda uji pelat berukuran 15 cm x 60 cm x 175 cm yang dibebani hingga mecapai kekuatan lentur maksimum. Didapatkan bahwa dengan komposisi steel fiber 0,19% terdapat peningkatan kekuatan sebesar 19%-22%, sedangkan untuk komposisi 0,32% peningkatan kekuatan berkisar 26%-42%.

Steel fiber and Hollow-core-slab are some new innovations that has been widely applied in the construction world. Based on the theory of bending stress section in mid-area which is equal to zero, then the void could be created in the middle section to reduce the volume of concrete. HCS are generally produced in precast with prestressed then made it expensive to apply. Then carried out this research, to try HCS with cast-in-site system and using waste of mineral water bottle for made the hole. It is known from various studies that steel fiber significantly increasing the shear strength, split tensile strength, and flexural strength of concrete. So in this research, to increasing flexural strength of structure, steel fiber added with 0,19% and 0,32% fraction volume. The dimension of slab that used in this research ais 15cm x 60 cm x 75 cm which weighed up to maximum flexural strength. It was found that the composition of 0,19 % steel fibers increase strength by 19%-22%, while for the 0,32% steel fiber composition increase strength ranged by 26%-42%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S598
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mutiara Medikasari
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketebalan komposit resin dan jarak penyinaran terhadap kekuatan tarik diametral komposit resin serat pendek KRSP . Empat puluh spesimen KRSP EverX PosteriorTM berbentuk lempengan dengan ketebalan 3 dan 4 mm, diameter 6 mm n=20 dibagi menjadi dua kelompok dengan jarak penyinaran 2 dan 4 mm n=10 . Spesimen dipolimerisasi menggunakan LED curing unit, iradiansi 800 mW/cm2 selama 20 detik. Spesimen diuji menggunakan Universal Testing Machine 250 kgf, 0,5 mm/menit untuk mendapatkan nilai kekuatan tarik diametral. Hasil uji statistik One-Way ANOVA dan post-hoc LSD, kekuatan tarik diametral menurun signifikan pada kelompok dengan ketebalan KRSP 4 mm dan jarak penyinaran 4 mm. Disimpulkan bahwa ketebalan KRSP dan jarak penyinaran dapat mempengaruhi nilai kekuatan tarik diametral.

The aim of this study is to analyze the effect of short fiber reinforced resin composite SFRC thickness and light curing distance on diametral tensile strength. Forty disc shaped specimens of SFRC EverX PosteriorTM with 3 and 4 mm of resin composite thickness, 6 mm of diameter n 20 were divided into two different light curing distance groups 2 and 4 mm n 10 . All Specimens were polymerized using LED curing unit, irradiance 800 mW cm2 for 20 s. Specimens were tested using Universal Testing Machine 250 kgf, 0,5 mm menit to determine its diametral tensile strength. The result from One Way ANOVA and post hoc LSD statistical test, diametral tensile strength of 4 mm SFRC thickness with 4 mm light curing distance group has significantly decrease. It was concluded that both SFRC thickness and light curing distance has significant effect on the diametral tensile strength."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"The traditional fiber reinforced composite (FRC) contains bishpenol A glycidyl methacrylate (bis-GMA) in the resin matrix, which is thought to have some disadvantages. This research aimed at replacing bis-GMA with another monomer-urethane dimethacrylate (UED-MA), with the desired properties for dental use still retained. Four groups were prepared with light-curing (n = 30), one Control group with a bis-GMA-based resin matrix and three experimental groups with UEDMA-based matrices (Exper 1, Exper 2 and Exper 3 with a varying UEDMA weight percentage). Specimens were stored in dry conditions for 24 h or in deionized water for 1, 3, 6 or 12 months prior to the tests. Water sorption (n = 6), Vicker's hardness (n = 6) and flexural properties (n = 6) after each storage time were investigated.Scanning electron microscopy (SEM) images were taken at the fracture sites after 3-point bending. All the results were statistically analyzed (α = 0.05). The Exper 1 group exhibited the lowest weight increase after water storage among the experimental groups. As for dry conditions, 1- and 6-month storage, different resin matrix compositions made no significant difference to hardness, while for 3- and 12- month storage, "Control" possessed the highest hardness. The Control group's strength and modulus, Exper 1 and Exper 2's modulus were stable during water storage. Compared to other experimental groups, Exper 1 had the highest strength and modulus values with most of the storage times. SEM images showed relatively good adhesion between the fiber and the matrix. With all the tested properties considered, the Exper 1 group had superior performance among all the three experimental groups."
ODO 102:2 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library