Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Putri Fiqriyarizqi
"Kebahagiaan di tempat kerja merupakan perasaan bahagia terhadap pekerjaan yang dilakukan yang nantinya dapat menumbuhkan kepuasan kerja, keterlibatan kerja, dan komitmen organisasi afektif. Kebahagiaan di tempat kerja dapat terbentuk apabila pekerja memperoleh dukungan sosial, salah satunya yaitu dari keluarga. Keluarga diyakini sebagai sumber motivasi terbesar bagi sebagian besar orang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kebahagiaan di tempat kerja pada pekerja PT.X di Jakarta Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah pekerja PT.X yang berjumlah 208 pekerja dengan teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah skala dukungan keluarga dan skala kebahagiaan di tempat kerja. Analisis data menggunakan uji chi-square dan diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kebahagiaan di tempat kerja pada pekerja PT.X di Jakarta Selatan (p=0,002) dengan OR = 2,454 (95% CI: 1,405 - 4,288) yang memiliki arti bahwa pekerja dengan dukungan keluarga yang tinggi 2,454 kali lebih berpotensi memiliki tingkat kebahagiaan di tempat kerja yang tinggi dibandingkan dengan pekerja dengan dukungan keluarga rendah. Penelitian ini merekomendasikan kepada keluarga untuk memberikan dukungan dalam bentuk nyata (instrumental) dan emosional kepada anggota keluarga yang bekerja. Selain itu, pihak perusahaan dapat meningkatkan kebahagiaan di tempat kerja melalui pembentukan lingkungan kerja yang sehat, pembentukan program-program konsultasi terkait kesehatan fisik dan mental pekerja, dan menyediakan fasilitas yang dapat membantu pekerja menyalurkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Happiness at work is a happy feeling towards the work that have been done which can increase job satisfaction, engagement, and affective organizational commitment. Happiness at work can be formed if the workers get social support, one of which is family. Family is believed as the biggest motivation source for most people. This research is conducted to determine the relationship between family support and happiness at work for PT.X employees in South Jakarta. This research is using quantitative method with cross-sectional design. The sample of this research is the employees of PT. X which amounts 208 employees with a sampling technique using quota sampling. Data collection tools in this research are family support scale and happiness at work scale. Data analysis is using the chi-square test and the results showed that there is a significant positive relationship between family support and happiness at work for the employees of PT.X in South Jakarta (p = 0.002) with OR = 2,454 (95% CI: 1,405 - 4,288) which means that employees with high family supports are 2,454 times more likely to have a high level of happiness at work compared to employees with low family support. This research recommends families to provide real (instrumental) and emotional support to working family members. In addition, the company can increase happiness at work through the establishment of a healthy work environment, the establishment of consultation programs related to the physical and mental health of workers, and providing facilities that can help workers to channel their abilities and potential."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Millenny
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari social support dalam organisasi yakni supervisor’s support dan coworker’s support terhadap employee advocacy behavior melalui mediasi dari personal resources investment yakni commitment, self efficacy, dan effort. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk memeriksa kecocokan keseluruhan model dan menguji kausalitas antar konstruk. Sejumlah 268 pekerja kerah putih di Indonesia berpartisipasi menjadi sampel penelitian. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa supervisor’s support dan coworker’s suppport memiliki pengaruh tidak langsung terhadap employee advocacy behavior melalui commitment dan self efficacy. Namun, effort tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap employee advocacy behavior, sehingga effort tidak memediasi pengaruh supervisor’s support dan coworker’s support terhadap employee advocacy behavior. Studi ini menunjukkan bahwa social support saja tidak cukup untuk mendorong pekerja kerah putih untuk berpartisipasi dalam employee advocacy behavior. Pekerja perlu memiliki commitment dan self efficacy sebagai bekal dari dalam diri sendiri untuk termotivasi dalam melakukan employee advocacy behavior. Maka dari itu, organisasi perlu menciptakan lingkungan yang mendorong dukungan sosial serta memperlengkapi anggotanya agar memiliki efikasi diri dan komitmen yang tinggi untuk mendorong perilaku advokasi pekerja.

The aim of this study is to examine the effect of social support in organization, that is supervisor’s support and coworker’s support, on employee advocacy behavior via mediation role of personal resources which are commitment, self efficacy, and effort. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) to test the overall fitness of model and causality between each construct. A total of 268 white collar workers in Indonesia participated this research as sample. The result of this study revealed that supervisor’s support and coworker’s suppport have indirect effects on employee advocacy behavior via the mediation of commitment and self efficacy. It is also shown that effort doesn’t have an impact on employee advocacy behavior, hence its’ role as mediator between social support and employee advocacy behavior is not proven. This study indicated that social support is not enough to push white collar workers to participate in advocacy behaviors. Employees also need to have commitment and self efficacy as their resource to motivate them to advocate for organization. As a result, organization needs to create a working environment that encourages social support and equips its members to have self efficacy & high commitment to further boost employee advocacy behavior."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library