Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mara Imbang. S, Hasiolan
"Dukungan emosional keluarga berupa perhatian, kepercayaan, empati dan kepedulian pada remaja, bisa membuat remaja merasa diperhatikan, dicintai, nyaman, dan dihargai. Dampaknya terhadap pembentukan harga diri remaja yaitu pendirian yang kuat, sikap optimis, dan percaya diri. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi efek dukungan emosional keluarga pada harga diri remaja. Desain penelitian korelasi dengan potong lintang. Sampel penelitian 31 responden, dengan analisis uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat efek dukungan emosional keluarga pada harga diri remaja (p= 0,002). Rekomendasi penelitian ini diharapkan remaja tetap mempertahankan hubungan dengan keluarga dan kualitas harga diri.

Family emotional support in the form of attention, trust, empathy, and concern in adolescents, can make teenagers feel cared for, loved, comfortable and appreciated. The impact on the formation of adolescent self-esteem that is the establishment of a strong, optimistic attitude, and confidence. The aim of research to identify the effects of emotional support for the family on adolescent self-esteem. Design correlation with cross sectional study. The research sample 31 respondents, with analysis of Spearman Rank test. The results showed there were effects on the family emotional support adolescent self-esteem (p= 0,002). Recommendations of this study are expected to adolescents retaining relationships with family and the quality of self-esteem."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
610 UI-JKI 18:2 (2015)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dawani Sipahutar
"Menjadi pemimpin yang sukses bukanlah sebuah hasil yang tiba-tiba melainkan sebuah proses panjang penuh dinamika, persiapan fisik, psikologis dan spritual yang matang serta beragam ujian dengan segala rintangan dan tantangan berat yang harus di hadapi. Sekolah sebagai sebuah lembaga pasti juga memiliki pemimpin yang disebut Kepala Sekolah. Kepala Sekolah akan membawahi majelis guru dan staf tata usaha serta pearangkat sekolah lainnya yang notabene memiliki karakter dan kepribadian yang beragam, karena manusia dikenal sebagai makhluk dengan emosi yang beragam, dan emosi tersebut sangat rawan untuk menimbulkan konflik. Pengendalian emosi sangat penting dalam kehidupan manusia, khususnya untuk mereduksi ketegangan yang timbul akibat emosi yang memuncak. Emosi menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormonal di dalam tubuh dan memunculkan ketegangan psikis terutama pada emosi negatif. Untuk itu, perlu pengendalian emosi. Menurut M. Darwis Hude ( 2006 : 257) pengendalian emosi terbagi atas beberapa model yakni model displacement, model cognitive adjusment, model coping, dan model lain yakni regresi, reptesi, dan redaksasi. Jurnal ini menggunakan teknik pengumpulan data secara studi pustaka dan observasi pada kepala SMA Negeri 2 tanah putih, dimana Hj. Rusnarwati, S.Pd. M.M. yang telah menjabat menjadi kepala sekolah selama 19 tahun. Punulis menyimpulkan bahwa jika memimpin dengan kognitif adjusment atau penyesuaian kognitif yang meliputi atribusi positif (selalu menempatkan sesuatu dengan positif), empati (merasakan perasaan orang lain), dan altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain), maka seorang pemimpin akan semakin dicintai, dan disayangi. Keakraban antara pemimpin dan bawahan semakin terjaga, sehingga semua merasa nyaman melaksanakan tugas dan kewajibannya."
Jakarta: Ary Suta Center, 2023
330 ASCSM 61 (2023)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hafia Wafda
"Media sosial saat ini tercatat sebagai media yang paling banyak digunakan oleh Masyarakat Indonesia. Mahasiswa, yang diketahui termasuk sebagai kelompok yang paling banyak menghabiskan waktu di media sosial, menjadi kelompok yang rentan mengembangkan penggunaan media sosial bermasalah atau dikenal dengan istilah problematic social media use (PSMU). Disregulasi emosi, yakni kesulitan dalam meregulasi emosi secara efektif diketahui berkorelasi positif dengan PSMU. Pada mahasiswa, self-esteem juga ditemukan berhubungan negatif dengan disregulasi emosi dan PSMU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self-esteem sebagai mediator antara disregulasi emosi dan PSMU. Partisipan sejumlah 357 mahasiswa aktif (86% perempuan, M usia = 20.9, SD = 1.72). Disregulasi emosi diukur menggunakan Brief Version of Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS-16), self-esteem diukur menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), dan PSMU diukur dengan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). Berdasarkan hasil analisis mediasi menggunakan PROCESS Hayes, disregulasi emosi secara signifikan memprediksi PSMU secara langsung (β = 0,146, p < 0,001) dan memprediksi self-esteem secara negatif (β = -0,282, p < 0,001). Namun, self-esteem tidak memprediksi PSMU secara signifikan (β = -0,040, p = 0,324) dan efek mediasi ditemukan tidak signifikan (β = 0,011, p > 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara disregulasi emosi dan PSMU bersifat langsung, tanpa dimediasi oleh self-esteem.

Social media is currently recorded as the most widely used medium by the Indonesian population. University students, who are known to be among the groups that spend the most time on social media, are particularly vulnerable to developing problematic social media use (PSMU). Emotion dysregulation—defined as difficulty in regulating emotions effectively—has been found to be positively correlated with PSMU. Among university students, self-esteem is also negatively associated with both emotion dysregulation and PSMU. This study aimed to examine the role of self-esteem as a mediator between emotion dysregulation and PSMU. Participants were 357 active university students (86% female, M age = 20.9, SD = 1.72). Emotion dysregulation was measured using the Brief Version of the Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS-16), self-esteem was measured using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), and PSMU was measured using the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). Mediation analysis using Hayes' PROCESS showed that emotion dysregulation significantly predicted PSMU directly (β = 0.146, p < .001) and negatively predicted self-esteem (β = -0.282, p < .001). However, self-esteem did not significantly predict PSMU (β = -0.040, p = .324), resulting in a non-significant mediation effect (β = 0.011, p > .05). These findings suggest that the relationship between emotion dysregulation and PSMU is direct and not mediated by self-esteem."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library