"Latar Belakang: Diare merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Meskipun prevalensinya menurun menjadi 2% pada tahun 2023, jumlah kunjungan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) akibat diare tetap tinggi. Faktor kesehatan lingkungan diyakini berperan dalam peningkatan kasus diare. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor kesehatan lingkungan dan sosial demografi terhadap kunjungan peserta rawat jalan di fasilitas kesehatan tingkat pertama program jaminan kesehatan nasional akibat diare di Indonesia.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan analisis regresi logistik multilevel. Data yang digunakan mencakup 2.425.370 peserta JKN dan 392 kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2023. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi faktor sosial demografi (usia, jenis kelamin, segmentasi peserta, kelas rawat dan tempat tinggal) dan kesehatan lingkungan (timbulan sampah, sumber air minum, dan tempat pembuangan akhir tinja), variabel dependen adalah frekuensi kunjungan peserta JKN akibat diare ke FKTP.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial demografi seperti jenis kelamin (laki-laki), usia (balita), kelas rawat (Kelas 3) dan segmentasi peserta (Penerima Bantuan Iuran) berpengaruh signifikan terhadap frekuensi kunjungan. Faktor kesehatan lingkungan, Timbulan sampah dan jenis sumber air minum juga mempengaruhi risiko kunjungan berulang. Namun, jenis tempat pembuangan akhir tinja tidak berpengaruh signifikan dalam analisis hubungan.
Kesimpulan: Faktor individu lebih berperan dibandingkan faktor lingkungan dalam memengaruhi kunjungan peserta JKN akibat diare. Meskipun demikian, faktor lingkungan yang tidak memadai tetap memberikan dampak penting terhadap kejadian diare. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk memperkuat kebijakan sanitasi dan pelayanan kesehatan primer di Indonesia.
Background: Diarrhea remains a public health problem in Indonesia. Although its prevalence decreased to 2% in 2023, the number of visits by National Health Insurance (JKN) participants to Primary Healthcare Facilities (FKTP) due to diarrhea remains high. Environmental health factors are believed to contribute to the increase in diarrhea cases. This study aims to analyze the relationship between environmental health and sociodemographic factors with outpatient visits to primary healthcare facilities under the national health insurance scheme due to diarrhea in Indonesia.Methods: This study used a cross-sectional design with a quantitative approach and multilevel logistic regression analysis. The data covered 2,425,370 JKN participants and 392 districts/cities in Indonesia in 2023. The independent variables included sociodemographic factors (age, sex, participant segmentation, treatment class, and residence) and environmental health factors (waste generation, drinking water source, and final disposal site for feces). The dependent variable was the frequency of JKN participants’ visits to FKTP due to diarrhea.Results: The results showed that sociodemographic factors such as sex (male), age (under-five children), treatment class (Class 3), and participant segmentation (Subsidized Beneficiaries) had a significant effect on visit frequency. Environmental health factors, specifically waste generation and type of drinking water source also influenced the risk of repeat visits. However, the type of final disposal site for feces did not show a significant relationship.Conclusion: Individual factors play a greater role than environmental factors in influencing JKN participants’ visits due to diarrhea. Nevertheless, inadequate environmental factors still have an important impact on diarrhea incidence. These findings can serve as a basis for strengthening sanitation policies and primary healthcare services in Indonesia."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2025