Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Hastuti Nawaningsih
"Pengembangan industri kecil menengah keramik sangat strategis, komoditi ini mempunyai nilai tambah, prospek pasar yang cerah, penghasil devisa, penyerapan tenaga kerja besar dan berdampak luas pada kesejahteraan masyarakat banyak serta tangguh menghadapi badai krisis.
Pengembangan ini menghadapi tantangan dan peluang dalam pasar terbuka, memprioritaskan masalah dalam memutuskan alternatif strategi peningkatan daya saing industrikecil menengah keramik.
Urutan prioritas dari faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing ini adalah, kondisi faktor (sumber daya alam, kemampuan sumber daya manusia, modal, pemasaran, ilmu pengetahuan teknologi dan sarana prasarana), kondisi permintaan (permintaan dan pangsa pasar dalam negert, permintaan ekspor dan pangsa pasar dunia), struktur persaingan (informasi pasar, desain, mutu produk, ketepatan waktu, industri pesaing, harga produk, dan barang pengganti), industri terkait (pemasok bahan baku, perusahaan
perdagangan/lrading company, pemasok bahan pengemas), Kebijakan pemerintah (iklim usaha kondusif, komitmen nasional, kebijakan negara tujuan ekspor) dan terakhir kesempatan/peluang ( perdagangan bebas, kurs mala uang, blok perdagangan).
Pelaku yang berperan adalah industri kecil menengah keramik,
pemerintah, asosiasi, perbankan, pelanggan dan perguruan tinggin Lembaga penelitian pengembangan. Prioritas tujuan adalah peningkatan daya saing, peningkatan omset penjualan dan perluasan pasar.
Alternatif strategi yang dilaksanakan dengan program pebinaan baik dari pemerintah maupun swasta, diferensiasi dengan membangun keunggulan mutu, teknologi, karakteristik dan pelayanan pelanggan dan peningkatan sarana prasaran yang dapat menunjang pengembangan industry kecil menengah keramik. Untuk itu perlunya kesadaran penerapan standardisasi mutu produk dan manajemen, serta kebijakan system ekonomi bisnis yang berkeadilan, transparan berpihak pada industry kecil menengah.
"
2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Basu Swasta
Yogyakarta: Liberty, 1982
338.74 BAS p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Rietveldt, J.C.
Djakarta: Ichtiar, 1960
338.7 RIE p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Nalar Al Khair
"Sejak tahun 2015 Pemerintah Indonesia berusaha mengembangkan Badan Usaha Milik Desa/BUMDesa (township and village enterprises/TVEs), sebagai bagian dari kebijakan Dana Desa untuk mempercepat pembangunan desa-desa di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana keberadaan BUMDesa memengaruhi perkembangan usaha kecil di 245 desa di 3 kabupaten di  Indonesia yaitu Bekasi, Wonogiri dan Bantul dalam jangka pendek berdasarkan laporan Kementerian Desa. Dengan pendekatan mix method, penelitian ini berusaha menganalisis efek dari keberadaan BUMDesa terhadap perkembangan usaha kecil di desa melalui pendekatan Difference-in-differences (DID) dan faktor-faktor yang memengaruhi pengaruh tersebut melalui in-depth interview dengan stakeholder terkait. Efek dari keberadaan BUMDesa terhadap usaha kecil diukur dengan membandingkan kelompok treatment, yaitu 75 desa yang memiliki BUMDesa yang berhasil  terhadap kelompok kontrolnya, yaitu desa-desa yang tidak memiliki BUMDesa, sebelum dan setelah adanya kebijakan BUMDesa. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan BUMDesa tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan jumlah usaha kecil pada kelompok treatment. Hasil dari in-depth interview menunjukkan beberapa faktor yang menyebabkan BUMDesa sulit berkembang, yaitu BUMDesa tidak memiliki status badan hukum usaha (corporate legal entity) sehingga sulit melakukan kerja sama dengan pihak lain, pengelola BUMDesa yang umumnya adalah masyarakat atau tokoh desa kurang memiliki entrepreneurship, dan insentif yang tidak memadai bagi pengelola BUMDesa.

Since 2015 the Government of Indonesia has been trying to develop township and village enterprises, the so-calledBUMDesa, as a part of the Village Fund policy (Dana Desa) to accelerate the development of villages in Indonesia. This study aims to evaluate the existence of BUMDesa to influence the development of small businesses in 245 villages in 3 district in Indonesia namely Bekasi, Wonogiri and Bantul in the short term, which have successful BUMDesa cases based on the Village Ministry report. Using mix method approach, this study seeks to analyze the effect of the existence of BUMDesa on the development of small businesses in the village through the difference-in-differences (DID) approach and the factors that influence these effects through in-depth interviews with relevant stakeholders. The effect of BUMDesa on small businesses is measured by comparing the treatment group, which is 75 villages that have BUMDesa  to their control group, namely villages that do not have BUMDesa, before and after BUMDesa policy. The findings of this study indicate that the existence of BUMDesa does not significantly influence the development of the number of small business in the treatment group. The results of in-depth interview show several factors hamper the development of BUMDesa , the lack of business legal entity that limit BUMDesa to do business with, lack of entrepreneurships that limit the managers to develop the business , and inadequate incentives for the managers. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gaspersz, Vincent
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
650 GAS e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Silalahi, Gopas Teofilus
"Penelitian ini berfokus pada hubungan antara platform Peer-to-Peer (P2P) lending yang diukur berdasarkan nilai pinjaman outstanding dengan jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di 33 provinsi di Indonesia selama periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Penelitian ini menggunakan berbagai dataset dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS). Model yang digunakan adalah Fixed Effect dengan prosedur hierarchical regression yang secara kumulatif mengontrol pengaruh nilai outstanding pinjaman dari P2P lending terhadap kredit UMKM, termasuk faktor-faktor yang dipengaruhi oleh perbankan, proksi faktor makroekonomi, faktor sosial-demografis, serta kejutan waktu ekonomi sehingga memastikan estimasi yang robust.
Hasil regresi menunjukkan bahwa dalam seluruh spesifikasi model, terdapat korelasi positif dan signifikan antara jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum kepada UMKM dengan nilai outstanding dari pinjaman P2P lending. Dengan demikian, kedua mekanisme pembiayaan tersebut memiliki hubungan yang complementary dalam skema financing UMKM, di mana peningkatan P2P lending terjadi seiring dengan meningkatnya kredit UMKM dan sebaliknya. Hasil ini mendukung temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa pengguna P2P lending terbantu dalam memperoleh kredit dari bank konvensional, kemungkinan karena rekam jejak mereka dalam pinjaman sebelumnya berkontribusi terhadap persetujuan kredit—sebuah bentuk reputation signaling, di antara alasan lainnya.

This research focuses on the association of Peer-to-Peer (P2P) lending platforms measured by their outstanding value of loans with the amount of credit distributed by commercial banks to Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) across 33 provinces in Indonesia from January 2020 to December 2024 using various  datasets from Indonesia’s Financial Services Authority (Otoritas Jasa Keuangan) and Statistics Indonesia (Badan Pusat Statistik). This research uses a Fixed Effect model with a hierarchical regression procedure that cumulatively controls the effect of the outstanding value of loans from P2P lending to MSME credit that includes banking-influenced factors, macroeconomic-proxy factors, socio-demographic factors, and economic time shocks to ensure robust estimations. The regression results show that across all model specifications, the amount of credit distributed by commercial banks to MSMEs and the outstanding value of loans from P2P lending show a significant, positive correlation. Therefore both financing mechanisms have a complementary relationship in the grand scheme of MSME financing, where the rate of P2P lending increases as MSME credit increases and vice versa. This result supports previous findings where P2P lending users are helped with obtaining credit from traditional banks, possibly as their track records help in their loan approval– a type of reputation signaling, among other reasons.  "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sidharta Utama
Depok: Universitas Indonesia, 2007
PGB 0026
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Nangoi, Ronald
Jakarta: Centre for Strategic and International Studies, 1992
650 RON b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Depok : FEUI, 2007
330 UI-SEAM
Majalah, Jurnal, Buletin  Universitas Indonesia Library
cover
Yolanda Joshua
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengungkapan Environmental, Social, dan Governance (ESG)terhadap nilai perusahaan di ASEAN-5 (ASEAN), dengan mempertimbangkan peran keunggulan kompetitif sebagai variabel moderasi. Studi ini menggunakan data panel dari 90 perusahaan publik di kawasan ASEAN selama periode 2018–2023. Metode estimasi yang diterapkan adalah Fixed Effects untuk mengontrol heterogenitas individu perusahaan serta memastikan validitas hasil penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa skor ESG memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini mengindikasikan bahwa implementasi ESG belum tentu meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka pendek, terutama di pasar negara berkembang, khususnya ASEAN. Namun, keunggulan kompetitif terbukti memoderasi hubungan tersebut dengan cara memperlemah dampak negatif ESG terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian, perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif yang relatif lebih baik mampu mengelola risiko dan biaya implementasi ESG, sehingga dapat mempertahankan nilai pasarnya. Implikasi dari penelitian ini menyoroti pentingnya strategi yang seimbang dalam penerapan ESG, dengan tetap memperhatikan keunggulan kompetitif agar tidak mengurangi nilai perusahaan. Bagi investor, hasil ini memberikan perspektif bahwa perusahaan dengan keunggulan kompetitif yang kuat lebih mampu beradaptasi terhadap kebijakan ESG dan mempertahankan nilai investasinya. Selain itu, pembuat kebijakan perlu merancang regulasi ESG yang dapat mendukung pertumbuhan perusahaan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap nilai pasar. Studi ini juga berkontribusi terhadap literatur ESG di pasar negara berkembang dengan memberikan bukti empiris mengenai hubungan ESG, nilai perusahaan, dan keunggulan kompetitif. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi faktor lain yang dapat memoderasi hubungan tersebut, seperti kondisi makroekonomi, regulasi pemerintah, serta ketidakpastian politik.

This study aims to analyze the effect of Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure on firm value across various sectors in ASEAN-5 countries, while considering the role of competitive advantage as a moderating variable. The study employs panel data from 90 publicly listed companies in the ASEAN region over the period 2018–2023. The estimation method used is Fixed Effects, which controls for firm-specific heterogeneity and ensures the validity of the results. The analysis reveals that ESG scores have a significantly negative impact on firm value. This finding indicates that ESG implementation does not necessarily enhance firm value in the short term, particularly in emerging markets such as ASEAN. However, competitive advantage is found to moderate this relationship, by weakening the negative effect of ESG on firm value. This suggests that firms with relatively stronger competitive advantage are better able to manage the risks and costs associated with ESG implementation, thus maintaining their market value. The managerial implication of this study highlights the importance of a balanced ESG strategy that also considers internal competitive advantage in order to preserve firm value. For investors, these findings suggest that firms with strong competitive advantage are better positioned to adapt to ESG policies and maintain the value of their investments. In addition, policymakers are encouraged to design ESG regulations that support corporate growth without adversely affecting market value. This study contributes to the ESG literature in emerging markets by providing empirical evidence on the relationship between ESG, firm value, and competitive advantage. Future research is recommended to explore other potential moderating factors, such as macroeconomic conditions, government regulations, and political uncertainty."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>