Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 38 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Praew Thiengpimol; Supansa Tappreang; Phutlada Onarun
Thammasat Printing House, 2017
500 TIJST 22:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Yoeke Yosephine
"Berdasarkan data ICCO pada tahun 2004/2005 Indonesia diperkirakan menguasai pangsa pasar dunia akan komoditi biji kakao sebanyak 13% dan merupakan produsen ketiga terbesar setclah Cate d'Ivoire dan Ghana yang masing-masing menguasai pangsa pasar sebanyak 39% dan 19%.
Peningkatan yang terbesar disumbangkan oleh perkebunan rakyat. Untuk periode 1990-1999, pertumbuhan lahan tanam kakao di Indonesia mencapai 6.5% per tahun dengan pertumbuhan lahan perkebunan rakyat lebih tinggi dari rata-rata yaitu 7.8% per tahun. Perkembangan yang cepat terjadi di pulau Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.
Penelitian ini mencoba untuk melihat sumber pertumbuhan kakao Indonesia melalui studi kasus terhadap 3 provinsi di Sulawesi dan mengambil 14 kabupaten penghasil terbesar. Model pertumbuhan produksi berdasarkan model Cobb-Douglas dengan variabel inputnya adalah luas lahan, penggunaan pupuk, tenaga kerja dan curah hujan. Pengujian dilakukan dengan Chow dan Haussman Test, teryata model yang tepat menggambarkan pertumbuhan produksi adalah model random effect.
Dengan model random effect ini berarti bahwa fungsi produksi di 14 kabupaten pada 3 provinsi Sulawesi mengalami heterogenitas yang sifatnya beragam. Hal ini sangat realistis karena karakteristik antar wilayah berbeda. Secara umum keempat variabel input tersebut berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi kakao. Luas lahan merupakan faktor utama yang paling berpengaruh terhadap peningkatan produksi kakao diikuti oleh tenaga kerja. Secara statistik pupuk dan curah hujan tidak memberikan pengaruh yang signifikan.

According to ICCO data, in the year of 2004-2005 Indonesia will dominate and possibility the third large manufacture world supplies on cacao seeds around 13% world market share subsequent to Cote d `Ivoire and Ghana which supply about 39% and 19% respectively.
The increase of production is due to rapid increase of the acreage planted cacao in each year. The biggest contribution of cacao production is household owned farm type based of production. In the period of 1990-1999, the acreage expantion cacao has reached 6.5% which higher than average which 7.8% per year.
The significant acreage expantion place in Sulawesi Island, especially South Sulawesi, South-East Sulawesi, and Center ,of Sulawesi. These three provinces are considered as major producer of cacao in Indonesia.
The objective of this research is to analyze the source growth of cacao in Indonesia with the case three provinces of Sulawesi. These three provinces was broken down into by sample 14 regions which considered as the largest areas. The production function is used to investigate the source of growth is Cobb Douglas. The independent variables (input) included to production function are: size of land, fertilizer usage, labor and the rain frequency. The data constructed in the pool regression, fixed and random effect by using the Chow and Haussman test, the result analyze shows the random effect model is the appropriate model to explain source of growth in the production function.
Using random effect means that production function for 14 regions, it was found that the source of cacao growth over Sulawesi island are labor and expantion of land. Thus, the expansion of planted land for cacao with intensive presumably household labors are playing an important role to explain the source of growth.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T17201
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Warwick, E.J.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983
636.082 WAR p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Hubbell, Sue
Boston: Houghton Miffiln, 2001
660.65 HUB s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"enurunnya populasi ikan soro di alam akibat kerusakan lingkungan habitat dan penangkapan berlebih merupakan ancaman bagi kelestarian ikan ini. Pemijahan buatan telah dapat dilakukan dengan rangsangan hormon, namun hasil yang diperoleh masih perlu disempurnakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi jenis hormon yang tepat, dosis terbaik dan masa laten tercepat terhadap keberhasilan ovulasi dan pemijahan ikan soro. Perlakuan yang diberikan adalah Ovaprim 0,5 mL/kg Induk (O1), kombinasi Ovaprim + hCG (O2), Ovaprim+AI (O3), dan AI + Oxytocin (O4), Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa perlakuan O4, (kombinasi antara AI dengan Oxytocin) memiliki waktu laten untuk merangsang ovulasi yang tercepat (17,5� 0,52 jam) dibandingkan perlakuan lainnya. Secara umum derajat pembuahan perlakuan O4 (AI + Oxytocin) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain yaitu 96,60 � 1,00 percent. Demikian halnya dengan derajat penetasan sebesar 81,05�1,77 percent dan tingkat kelangsungan hidup larva yaitu 98,88 � 1,37 percent. Hasil yang diperoleh memberikan indikasi bahwa O4 (AI + Oxytocin) merupakan kombinasi hormon terbaik yang dapat diinduksi untuk ovulasi dan pemijahan semi alami (tanpa "stripping") pada soro."
551 LIMNO 21:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Situngkir, Anna Mariana
"Tumbuhan pulutan {Urena lobata Linn.) merupakan tumbuhan yang
hidup dari daerah beriklim tropis sampai daerah yang beriklim subtropis
termasuk Asia Tenggara. Tumbuhan ini termasuk ke dalam genus Urena darl
famili Malvaceae. Tumbuhan pulutan {Urena lobata Linn.) sering digunakan
oleh masyarakat Indonesia sebagai ramuan obat tradisional.
Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menentukan struktur
senyawa kimia yang terdapat dalam daun pulutan {Urena lobata Linn.). ,
Isolasi senyawa kimia yang terdapat dalam daun pulutan dilakukan dengan
cara merendam daun tersebut dalam petroleum eter disertai pengadukan
agar senyawa yang terdapat dalam daun pulutan lebih larut. Filtrat petroleum eter yang diperoleh dipekatkan dan dilakukan uji bercak dengan '
menggunakan kromatografi lapis tipis (KIT) dengan peiarut pengembang
yaitu n-heksana dan etil asetat dengan perbandingan 8:1. Ekstrak petroleum
eter tersebut kemudlan disaring dengan karbon aktif untuk m'enarik pengotcr
yaitu klorofil. Pemisahan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam
ekstrak petroleum eter dilakukan dengan kromatografi kolom lambat dengan
menggunakan silika gel sebagai fasa diam dan fasa geraknya berupa
campuran n-heksana dan etil asetat dengan kepolaran yang meningkat.
Senyawa yang diperoleh dari hasil pemisahan dianalisis dengan
menggunakan kromatografi lapis tipis (KIT) dan kromatografi gas (C5C).
Senyawa kimia yang berhasil dilsolasi: dari fraksi petroleum eter adalah
komponen A dan komponen B. Setelah direkristalisasi, keduanya berupa
kt istal putih berbentuk jarum. Kedua komponen tersebut ditentukan
strukturnya dengan spektrofofometer infra merah (IR) dan spektrometer
massa (MS). Komponen A merupakan suatu senyawa golongan triterpen
yaitu friedelin dengan rumus molekul CsoHgpO sedangkan komponen B
merupakan senyawa golongan steroid yaitu stigmasterol dengan rumus
molekul C29H48O dan (3-sitosterol dengan rumus molekul C29H50O."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2002
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Teks primbon yang menguraikan tentang permasalahan ilmu tradisional perkudaan, yaitu primbon katuranggan atau kitab aswatali. Isinya persis sama dengan FSUI/PR.20, h.1-224, yaitu tembang dhandanggula sebanyak 22 bait yang disusul dengan teks gancaran tentang pengobatan kuda serta mantra-mantra yang perlu diketahui oleh seseorang yang memelihara atau sering menaiki kuda. Teks bagian tembang dimulai dengan turangga musna retuning bumi, sangkala anurat katurangga. Perbedaan yang ada antara kedua teks tersebut hanya terletak pada keterangan waktu pada bait terakhir bagian macapat (PR.19, h.8; PR.20, h.3). Pada PR.19 disebutkan saat penyalinan naskah itu, ialah tahun 1825, sedangkan di PR.20 ini dimuat keterangan saat penulisan teks asli selesai, ialah kamis 9 Rejeb, Dal 1607, sapta langit obah janma, yang bertepatan dengan 23 Juni 1684. Perintah menulis teks ini diberikan oleh Sri Prabu Hamangku Jagat, yaitu Amangkurat II, yang pada waktu itu bertahta di Kraton Kartasura. Ketika Pigeaud memperoleh naskah ini pada awal tahun 1926 di surakarta (h.i), judulnya dicatat sebagai katoeranggan P.B. X walau tidak dijelaskan sebabnya. Kemungkinan babonnya adalah milik PB X itu. Penyalinannya diduga tahun 1920an, di Surakarta."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
PR.21-A 2.01
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Teks berisi uraian tentang asal-usul burung perkutut bernama Kyai Jaka Mangu, dan petunjuk tentang cara memilih burung perkutut yang baik agar dapat mendatangkan keberuntungan. Cara tersebut berdasarkan ciri-ciri (candra) dan suaranya. Menurut legenda, Kyai Jaka Mangu adalah keturunan burung perkutut Martengsari (jelmaan Prabu Ciyungwanara, Raja Pajajaran) dengan putri Majapahit (anak Raja Brawijaya), bernama Dewi Sekar Kemuning. Adapun burung perkutut yang baik dan dapat mendatangkan keberuntungan adalah yang mempunyai ciri: paruh panjang, lubang hidung dari luar terlihat kecil tetapi besar di dalam, kepala berbentuk teropong, mata besar dan jernih, leher panjang, dada bulat, punggung bungkuk, warna kaki seperti bawang merah, kuku putih, jalan penuh gaya, bulu halus dan lebat serta berwarna hitam kehijauan dan mengkilap, ekor panjang dan lebat, bulu bawah dari tengkuk sampai ke pantat berwarna putik kekuningan. Keterangan mengenai besar kecil dan laras suara tidak dijelaskan, hanya disebutkan sebagai masalah untung-untungan saja. Naskah merupakan salinan ketik dari naskah karya Jayengwiharja, tidak diketahui secara pasti tarikh penulisan teks asli, maupun keberadaannnya kini. Pigeaud memperoleh naskah asli tersebut pada tahun 1931. penyalinan sebanyak empat eksemplar, dikerjakan oleh staf Pigeaud pada Februari 1933, di Yogyakarta. Kini FSUI menyimpan tiga di antaranya, yaitu A 31.01a (ketikan asli), dan A 31.01b-c (tembusan karbon). Hanya ketikan asli yang dimikrofilmkan. Penjelasan lengkap mengenai suara burung perkutut yang baik, dapat dibaca pada naskah catatan tradisi Banyuwangi, R. Sudira (lihat FSUI/BA.283)."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
PW.30-A 31.01a-c
Naskah  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>