Ditemukan 37 dokumen yang sesuai dengan query
Mariska Prijanka
"Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pemaknaan perempuan novelis mengenai kecantikan dalam karyanya. Sumber data yang digunakan yaitu empat essai dalam novel Si Parasit Lajang terdiri atas esai berjudul Klinik THT (Telinga, Hidung dan Tetek); Barbie, Barbie Barbie; dan Keputihan sedangkan dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang yaitu esai berjudul Nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe analisis semiotika. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara denotatif, konstruksi kecantikan dalam novel tidak berbeda dengan yang direpresentasikan dalam media massa (iklan, film, dll) yakni disimbolisasikan dengan Barbie, tubuh tinggi, putih, langsing meskipun teks tersebut ditulis perempuan novelis yang tergolong sastra wangi (feminis). Makna konotasi menunjukan bahwa kecantikan dinilai dari segi fisik seperti tinggi, putih, langsing yang merujuk pada kemampuan finansial karena mampu mereparasi tubuh. Makna konotasi juga menunjukkan bahwa perempuan novelis mengkonstruksikan kecantikan sejalan dengan nilai dominan, walaupun masih menawarkan nilai kecantikan alternatif (non-fisik). Mitos menunjukan makna bahwa kecantikan perempuan melalui berbagai macam bentuk reparasi tubuh dianggap berdosa dan konsumtif karena masyarakat masih mempercayai penilaian kecantikan sebagai kodrat. Kecantikan fisik diungkapkan novelis lebih banyak dimaknai sebagai cara utama dalam menilai kecantikan dibandingkan penilaian kecantikan non-fisik. Konstruksi novelis mengenai kecantikan dalam novel sejalan dengan pemaknaan novelis tentang kecantikan. Novelis menilai bahwa perempuan memiliki hak untuk dapat membentuk kecantikan sesuai dengan keinginannya melalui reparasi tubuh, baik operasi plastik atau pun bersolek.
This study aimed to find out the meaning of beauty according to female novelist in her work. The primary data are four essays in Si Parasit Lajang: Klinik THT (Telinga, Hidung dan Tetek); Barbie, Barbie Barbie; and Keputihan, meanwhile in novel Pengakuan Eks Parasit Lajang the essay titled Nilai. This study is using a qualitative approach with semiotic analysis. The results showed that the denotation meaning of beauty in the text as drafted in the mass media that show the symbol on the Barbie beauty, skin whitening products, body repair to beauty contests like Miss Universe and model. Connotations shows that in terms of physical beauty assessed as high, white, slim which refers to financial ability. Myth indicates meaning that the beauty of women through various forms of reparation and consumptive body is considered sinful because people still trust the judgment of beauty as God’s will, nature, even gift. Novelist considered that physical beauty is more considered to represent the beauty than nonphysical. Construction novelist of beauty in the novel is the same as her meanings. Novelist sees that a woman have the right to be able to develop beauty according to their desires; through body repair and good plastic surgery."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Arif Nur Setiawan
"Skripsi ini membahas konsep kecantikan wanita dalam panyandra berbahasa Jawa. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Sementara itu, sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 7 buku teks berbahasa Jawa yang terbit pada tahun 1958 hingga 2011. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna metaforis panyandra yang membangun konsep kecantikan wanita Jawa. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori metafora Lakoff dan Johnson (1980) dan teori komponensial Nida (1975). Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui analisis makna metaforis ditemukan 70 makna metaforis panyandra berbahasa Jawa yang terdiri atas 3 kategori dan 34 subkategori pembangun konsep kecantikan wanita Jawa.
This research discusses women’s beauty concepts of Javanese panyandra (proposition). Data that is used consisted of primary and secondary data which are taken from 7 Javanese language textbooks since 1958 until 2011, and analyzed based on descriptive qualitative research method by using theory of metaphor by Lakoff and Johnson (1980) and theory of componential meaning by Nida (1975). The aim is to discover the metaphorical meaning of the women’s beauty concepts of Javanese panyandra. As a result, there are 70 panyandra which can be found that form the concepts of women’s beauty, and those panyandra have 3 categories and 34 subcategories of metaphorical meaning that form the concept of women’s beauty of Javanese panyandra."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S55615
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Ranita Dewi
"[Artikel ini membahas tentang perubahan perilaku wanita Rusia pada masa Federasi Rusia menjadi lebih konsumtif. Hal ini disebabkan oleh globalisasi juga media iklan yang mendukung perubahan pola prilaku masyarakat secara umum. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, artikel ini menggunakan tiga teori yaitu, globalisasi, construction dan konsumerisme. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan perilaku akibat pengaruh media iklan dan globalisasi. Pengaruh ini menyebabkan peningkatan kuantitas konsumsi masyarakat terhadap produk kecantikan untuk menunjukkan berubahnya status sosial serta keadaan ekonomi mereka.
This article covers changing of Russian women?s act in Russian Federation becoming more consumptive. This matter is caused by globalization and advertisement spread that supporting generally changing of society?s behaviour patterns. Using descriptive-analitic method, this article uses three theories, globalization, construction and consumerism. The result of research shows changing of behaviour because of influences of advertisement and globalization. This influences cause rising of quantity of society?s consumtion to beauty products to show the changing social status as their economic circumstances.;This article covers changing of Russian women’s act in Russian Federation becoming more consumptive. This matter is caused by globalization and advertisement spread that supporting generally changing of society’s behaviour patterns. Using descriptive-analitic method, this article uses three theories, globalization, construction and consumerism. The result of research shows changing of behaviour because of influences of advertisement and globalization. This influences cause rising of quantity of society’s consumtion to beauty products to show the changing social status as their economic circumstances., This article covers changing of Russian women’s act in Russian Federation becoming more consumptive. This matter is caused by globalization and advertisement spread that supporting generally changing of society’s behaviour patterns. Using descriptive-analitic method, this article uses three theories, globalization, construction and consumerism. The result of research shows changing of behaviour because of influences of advertisement and globalization. This influences cause rising of quantity of society’s consumtion to beauty products to show the changing social status as their economic circumstances.]"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Ripika Alvernia Yacob
"Louis Vuitton adalah produk fesyen kelas dunia yang lahir di Prancis sejak tahun 1854. Prancis sebagai salah satu negara multikultural juga merupakan negara yang banyak melahirkan desainer-desainer fesyen terkenal di dunia. Dalam memasarkan produk-produknya, berbagai macam cara dilakukan untuk menarik perhatian pembeli. Salah satu caranya adalah memakai model-model cantik dari berbagai etnik di dunia untuk dimuat dalam iklan media cetak. Artikel ini akan memaparkan konsep kecantikan iklan media cetak menurut Louis Vuitton dari tahun 2010 sampai dengan 2012.
Louis Vuitton is a one of world-class products in the world were born in 1854. As one of multicultural country, France is also gave birth many famous designers. To market their products, there are several of methods to attract the attention of buyers. One of the methods is use the beautiful models from some ethnic in the world to be published in their print media advertising. This article will explain the concept of beauty in Louis Vuitton print media advertising in 2010-2012 in France."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Alya Khansa Nabila
"Media tanpa kita sadari ikut berperan dalam konstruksi mitos kecantikan. Mereka menggunakan sosok perempuan yang memiliki elemen-elemen yang dipercaya sebagai kecantikan. Analisis iklan dalam penelitian ini, yaitu blend-a-med 3D: White Luxe dan blend-a-med 3D: Whitestripes, menunjukkan bagaimana lembaga dan perusahaan melalui media mengkonstruksi standar kecantikan dan mengontrol masyarakat untuk mencapai mitos kecantikan. Makalah ini bertujuan untuk memaparkankan konstruksi gigi putih di Jerman.
Media unnoticeably participates in the construction of beauty myth. They use female figures with elements which are considered as beauty. Analysis of advertisments in this study, the blend-a-med 3D: White Luxe and blend-a-med 3D: Whitestripes, shows how institutions and companies through the media construct beauty standard and control the society in order to achieve the beauty myth. This study aims to describe the construction of white teeth in Germany."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Rumiris, Evani Tama
"Mempertahankan kondisi tubuh dan wajah menjadi sebuah tuntutan sosial di masyarakat sehingga wanita bisa merasa lebih percaya diri. Kulit yang tetap kencang, elastis, dan tanpa kerutan merupakan dambaan setiap wanita yang sudah melewati usia tertentu. Citra ideal yang terus menerus dikonstruksi secara perlahan dapat menjadi standar budaya tentang kecantikan yang secara tidak sadar mempengaruhi pikiran wanita, yaitu keinginan untuk tetap awet muda. Berbagai fenomena tersebut semakin gencar dimanfaatkan oleh industri kosmetik untuk meningkatkan penjualan produknya, salah satunya melalui media iklan. Beberapa produsen yang menawarkan produk anti-penuaan melalui iklan adalah Nivea, Garnier, dan Reviderm. Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana representasi wanita cantik dalam iklan produk anti-penuaan dan juga menelaah bentuk representasi awet muda yang menjadi identitas tertentu di masyarakat.
Many women nowadays always try to maintain the condition of her body and face that fit into social standard. Many of them believe that it makes them more confident. Tight, elastic and flawless skin is a dream of every women in certain age. This continuously constructed image slowly becoming cultural standard of beauty and affect women’s mind. The phenomena is intensively used by the cosmetics industry to increase sale of its products and one of them is with advertising media. Some manufacturers that offer anti-aging products are Nivea, Garnier, and Reviderm. This research discusses how the representation of beautiful women in anti-aging products advertising and also examines the anti-aging criteria that become certain identity in society."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Haryn Scania
"Kesan pertama sangat penting dalam hubungan sosial masyarakat Korea Selatan. Bagi wanita Korea Selatan, kecantikan adalah sebuah keharusan agar dapat terlihat unggul di antara yang lain. Kecantikan adalah sebuah keharusan yang harus dimiliki seorang wanita agar dapat memperoleh pekerjaan dan penghargaan di tengah masyarakat. Wanita Korea Selatan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan paras yang cantik, termasuk melakukan operasi plastik. Namun, kesadaran akan keharusan untuk menjadi cantik sudah ada sejak zaman Kerajaan Joseon. Jurnal ini memaparkan keutamaan kecantikan bagi masyarakat Korea pada zaman Joseon (1392-1897). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja keutamaan kecantikan bagi masyarakat Korea zaman Joseon (1392-1897). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan deskriptif analisis. Penelitian ini menemukan bahwa penampilan, table manner, dan skill merupakan standar utama yang harus dipenuhi wanita zaman Joseon jika ingin diakui kecantikannya.
First impression is the most important thing in the societal relations of South Korean society. For South Korean women, beauty is a must to look better than the others. Beauty is a necessity that a woman must have in order to find jobs and recognition in the society. South Korean woman are willing to do anything to get a beautiful face including plastic surgery. However, this consciousness of beauty turns out has been existed since the era of Joseon Dynasty. Therefore, the purpose of this journal was to describe the principles of Korean Beauty from the Joseon Era (1392-1897). This research applied qualitative research method and analytical descriptive method. The study found that there were sets of standards of beauty to be met, such as outer appearance, table manner and skill that a Joseon woman should have to be recognized its beauty."
2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Shabrina Kandi Budiyanto
"
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pada konsumen yang berkonsentrasipada kecantikan dan make-up di Indonesia, apakah local presence pada situs toko onlinemake-up merek lokal yang diukur terdiri dari interactivity dan vividness memilikipengaruh signifikan terhadap pembelian online secara impulsif, dan juga menemukandimensi apa dari local presence tersebut yang memiliki signifikan paling besar terhadapkecenderungan pembelian online secara impulsif. Dalam penelitian ini, model desain penelitian yang digunakan yaitu penelitianeksperimen yang berusaha mencari pengaruh variabel local presence terhadap variabelpembelian impulsif secara online kondisi yang terkontrol secara ketat. Model penelitian yang digunakan adalah adanya pengaruh Interactivity dan Vividnessterhadap Local Presence. Dari Local Presence akan hadir Product Risk dan ProductAffect karena adanya risiko dan pengaruh yang dibawa situs web untuk berbelanjaonline yang akhirnya akan membentuk Urge to buy Impulsively, yaitu dorongan untukmembeli online secara impulsif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menyebar kuesioner secaraonline google forms kepada 200 responden wanita berumur 19-40 tahun yang senangberbelanja make-up secara online.
ABSTRACTThe purpose of this study is to analyze the consumers who concentrate on beauty andmake up in Indonesia, whether local presence on the local store make up online storesite measured consisting of interactivity and vividness have a significant influence onimpulsive online purchase, and also find what dimensions of local presence are themost significant to the impulsive tendency of online purchases. In this study, the research design model used is experimental research that seeks to findthe effect of local presence variables on online impulse purchase variables in strictlycontrolled conditions. The research model used is the influence of Interactivity and Vividness to LocalPresence. From Local Presence will present Product Risk and Product Affect becauseof the risks and effects that brought web sites to shop online that will eventually formUrge to buy Impulsively, the impulse to buy impulsive online. Data collection method used is to spread the questionnaire online google forms to 200female respondents aged 19 40 years who enjoy shopping make up online. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Zeina Syifana Barani
"Artikel ini membahas mengenai ragam representasi kecantikan sebagai bentuk estetika rekognisi. Hal ini menunjukkan adanya pengakuan terhadap inklusivitas dan keberagaman, khususnya di industri kecantikan. Umumnya, rekognisi dekat dengan pembahasan tindakan etis. Namun, pada pembahasan, artikel ini justru mengangkat pendekatan estetis sebagai penerimaan ragam persepsi kecantikan dalam relasi intersubjektif. Data riset dan literatur yang terkumpul dianalisis secara kritis dan filosofis menggunakan pendekatan estetika. Teori rekognisi Friedrich Hegel kemudian digunakan dan didukung oleh teori rekognisi Honneth dan teori redistribusi Nancy Fraser untuk menguatkan landasan analisis. Temuan dalam artikel ini adalah bentuk estetika rekognisi dalam pengakuan ragam representasi kecantikan menguatkan penghargaan atas inklusivitas dan keberagaman ekspresi kecantikan tiap individu.
This article discusses the various representations of beauty as a form of aesthetic recognition. This shows the recognition of inclusivity and diversity, specifically in the beauty industry. Commonly, recognition is close to discussing ethical action. However, in the discussion, this article raises an aesthetic approach as an acceptance of various perceptions of beauty in intersubjective relations. Research data and collected literature are analyzed critically and philosophically using an aesthetic approach. Friedrich Hegel's theory of recognition is used and supported by Honneth's theory of recognition and Nancy Fraser's theory of redistribution to strengthen the basis of analysis. This article founds a form of aesthetic of recognition in recognition of various representations of beauty strengthens respect for inclusivity and the diversity of expressions of beauty for every individual."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Atsilah Azzahra Hidayat
"Penelitian ini bertujuan menganalisis sampai sejauh mana Emina Girl Gang Ambassador (EGGA) dapat memengaruhi tahapan digital consumer journey. Dalam melihat penerapan tersebut, analisis ini menggunakan 5 (lima) tahapan digital consumer journey yaitu awareness, consideration, purchase, retention, dan advocacy dari Zaheer (2023). Metode yang digunakan dalam riset ini adalah observasi komentar dan engagement yang diberikan oleh audiens yang terpapar konten EGGA periode Januari 2023 - November 2023 dari media sosial TikTok. Berdasarkan hasil temuan dalam riset ini, dapat disimpulkan bahwa EGGA mampu memengaruhi audiensnya sampai pada tahapan terakhir yaitu advocacy. Pada tahapan ini, audiens yang terpapar juga ikut memberikan pengalaman mereka menggunakan produk hingga akhirnya merekomendasikan produk yang dipasarkan kepada orang lainnya. EGGA merupakan salah satu contoh keefektifan atas pemanfaatan beauty brand ambassadors di era digital dengan memaksimalkan penggunaan media sosial sebagai platform untuk menyebarluaskan informasi yang akurat dan dapat dipercaya.
This research aims to analyze the extent to which Emina Girl Gang Ambassador (EGGA) can influence the stages of the digital consumer journey. In examining this implementation, the analysis employs the 5 (five) stages of the digital consumer journey: awareness, consideration, purchase, retention, and advocacy from Zaheer (2023). The research methodology involves the observation of comments and engagements provided by the audience who were exposed to EGGA content during the period from January 2023 to November 2023 on the social media platforms TikTok. Based on the findings of this research, it can be concluded that EGGA is capable of influencing its audience up to the final stage of advocacy. In this stage, the audience not only engages with the content but also shares their experiences using the products, ultimately recommending the marketed products to others. EGGA serves as a notable example of effectively utilizing beauty ambassadors in the digital era by maximizing social media as the primary platform for disseminating accurate and trustworthy information."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library