Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Enrika Rahayu Setyani
"Skripsi ini bertujuan untuk membandingkan tinggi badan, aktivitas fisik, dan asupan gizi antara remaja putri perenang dan remaja putri bukan perenang. Penelitian ini menggunakan desain studi ecological study. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret – April 2013 di SMPI Al-Azhar 4 Kemandoran, Kolam Renang GOR Senayan, Kolam Renang Simprug Pertamina, dan Kolam Renang Cikini dengan sampel sebanyak 26 orang remaja perenang dan 26 orang remaja bukan perenang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara tinggi badan (p=0,041) pada kelompok perenang dan kelompok bukan perenang. Aktivitas fisik pada kedua kelompok tersebut juga terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,001). Nilai rata-rata asupan kelompok perenang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompok bukan perenang untuk asupan protein (p=0,018), vitamin A (p=0,006), kalsium (p=0,001), zat besi (p=0,001), dan zink (p=0,000). SMPI Al-Azhar 4 Kemandoran disarankan untuk memasukan olahraga renang sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Untuk klub renang disarankan untuk menjalin kerja sama kepada pihak sekolah dalam memfasilitasi siswa untuk dapat melakukan olahraga renang.

The purpose of this research was to compare height, physical activity, and nutritional intakes (energy, protein, carbohydrate, fat, vitamin A, vitamin D, vitamin C, calcium, iron, and zinc) between adolescent female swimmers and non-swimmers. This research was an ecological study. Data were collected from March to April 2013 in SMPI Al-Azhar 4 Kemandoran, GOR Senayan Swimming Pool, Simprug Pertamina Swimming Pool, and Cikini Swimming Pool with samples 26 adolescent swimmers and 26 adolescent non-swimmers. This study showed that height in adolescent female swimmers and non-swimmers were significantly different (p=0,041). Physical Activity was significantly different (p=0, 001) from adolescent swimmers and non swimmers. Mean of nutritional intakes in swimmers were significantly higher than non-swimmers for protein (p=0, 018), vitamin A (p=0, 006), calcium (p=0, 001), iron (p=0, 001), and zinc (p=0, 000). It is recommended for SMPI Al-Azhar 4 Kemandoran to include swimming as a part of the school’s curriculumm. Swim clubs and schools are suggested to cooperate to facilitate students with swimming lessons."
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
S47363
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Nabila Adzhani
"Literasi gizi merupakan kapasitas individu untuk memperoleh, mengolah, dan memahami informasi gizi dasar yang diperlukan untuk membuat keputusan gizi yang tepat. Literasi gizi mencakup pengetahuan dan keterampilan penting terkait gizi yang digunakan dalam membuat pilihan makanan. Remaja merupakan usia terbentuknya perilaku makan yang dapat berlanjut hingga dewasa dan berdampak pada kesehatan di kemudian hari. Namun, remaja rentan untuk mengembangkan perilaku makan yang buruk, sehingga memerlukan literasi gizi yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat literasi gizi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi gizi pada remaja, dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Penelitian dilakukan pada bulan April hingga Mei 2024 dengan melibatkan 108 siswa/i kelas X dan XI di SMA Negeri 21 Jakarta, yang dipilih menggunakan metode quota sampling. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan pengisian kuesioner secara mandiri oleh responden (self-administered). Hasil penelitian menunjukkan sekitar separuh dari responden memiliki tingkat literasi gizi total yang baik, serta tingkat literasi gizi fungsional, interaktif, dan kritikal yang tergolong baik. Terdapat perbedaan proporsi yang bermakna pada tingkat literasi gizi total berdasarkan tingkat pendapatan rumah tangga dan peran teman sebaya. Terdapat perbedaan proporsi yang bermakna pada tingkat literasi gizi fungsional berdasarkan tingkat pendidikan ibu. Terdapat perbedaan proporsi yang bermakna pada tingkat literasi gizi interaktif berdasarkan tingkat pendidikan ayah, peran teman sebaya, peran guru, dan keterpaparan informasi gizi. Terdapat perbedaan proporsi yang bermakna pada tingkat literasi gizi kritikal berdasarkan peran teman sebaya. Tingkat pendapatan rumah tangga merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat literasi gizi total pada remaja di SMA Negeri 21 Jakarta (OR = 3,5).

Nutrition literacy is an individual's capacity to obtain, process, and understand basic nutrition information needed to make appropriate nutrition decisions. Nutrition literacy includes important nutrition-related knowledge and skills used in making food choices. Adolescence is the age when eating behavior is formed which can continue into adulthood and can impact health in the future. However, this age group is vulnerable to developing poor eating behavior, so they need good nutrition literacy. This research was conducted to determine the level of nutrition literacy and factors related to the level of nutrition literacy in adolescents, using a cross-sectional study design. The research was conducted from April to May 2024 involving 108 students in grades 10 and 11 at SMA Negeri 21 Jakarta, in which the samples were selected using the quota sampling method. A self-administered questionnaires were used to collect data for this study. The results showed that around half of the respondents had a good level of total nutrition literacy, as well as a good level of functional, interactive and critical nutrition literacy. There are significant differences in the proportion of total nutrition literacy levels based on household income level and the role of peers. There are significant differences in the proportion of functional nutrition literacy levels based on the mother's education level. There are significant differences in the proportion of interactive nutrition literacy levels based on the father's education level, the role of peers, the role of teachers, and exposure to nutrition information. There are also significant differences in the proportion of critical nutrition literacy levels based on the role of peers. Household income level is the dominant factor associated with the level of total nutrition literacy of adolescents at SMA Negeri 21 Jakarta (OR = 3.5)."
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novita Restiani
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi dan hubungan antara jenis
kelamin, citra tubuh, kebiasaan sarapan, asupan energi dan zat gizi makro serta
aktivitas fisik dengan dengan status gizi lebih pada siswa SMP Muhammadiyah
31 Jakarta Timur tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional
dengan metode systematic random sampling. Berdasarkan hasil penelitian pada
117 responden, diketahui 56,4% responden berstatus gizi lebih. Uji statistik
menunjukkan adanya hubungan bermakna antara citra tubuh (OR=7,2), kebiasaan
sarapan (OR 3,5), asupan energi total (OR 101,3), asupan karbohidrat (OR 10,4),
asupan lemak (OR 15,5), dan asupan protein (OR 6,0) terhadap status gizi. Oleh
karena itu, diperlukan upaya kerjasama antara sekolah dan Dinas Kesehatan untuk
mengadakan sosialisasi PUGS dalam bentuk penyuluhan dan publikasi poster di
sekolah secara rutin.

ABSTRACT
This study aimed to determine the associations of gender, body image, breakfast
habits, energy and macro nutrient intake and physical activity to overnutrition and
knowing the proportion of all research variable at Muhammadiyah 31 Junior High
School?s student, East Jakarta. This study is using cross sectional design and
systematic random sampling. From the research of 117 samples, 56,4% samples
had overnutrition. There were significant association between body image
(OR=7,2), breakfast habits (OR 3,5), energy intake (OR 101,3), carbohydrate
intake (OR 10,4), fat intake (OR 15,5) and protein intake (OR 6,0) to nutritional
status. Therefore, the school need to build teamwork with ministry of health to
socialize about nutrition education through counseling and publish some posters
about PUGS in school areas routinely."
Lengkap +
2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Indra Sari
"Skripsi ini membahas faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi remaja usia 12-15 tahun di Indonesia tahun 2007. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara karakteristik remaja, asupan zat gizi kebiasaan konsumsi sayur dan buah, aktifitas fisik olahraga, perilaku merokok, dan status gizi orang tua dengan status gizi remaja usia 12-15 tahun. Status gizi remaja di ukur berdasarkan berdasrkan indeks antropometri yang disesuaikan dengan umur menurut baku standar CDC-NCHS (2000) dalam bentuk persentil.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riskesdas 2007 yang analisisnya dilakukan selama Oktober 2011Januari 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang mewakili 33 provinsi di Indonesia, sedangkan sampelnya adalah anggota rumah tangga yang berumur 12-15 tahun yang berjumlah 53.837.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 9,2% remaja mengalami gizi lebih dan 90,8% gizi tidak lebih. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara jenis kelamin, pendidikan, asupan protein, perilaku merokok, aktivitas olahraga, status gizi orang tua (ayah dan ibu) dengan status gizi remaja usia 12-15 tahun. Namun tidak mendapatkan hubungan yang bermakna antara asupan energi, kebiasaan konsumsi buah dan sayur dengan status gizi remaja usia 12-15 tahun.
Penulis menyarankan bagi pihak instansi kesehatan untuk bekerjasama dengan instansi pendidikan dalam memberikan informasi tentang gizi seimbang dan perilaku beresiko pada remaja, bagi instansi pendidikan menambahkan kurikulum khusus tentang pola hidup dengan gizi seimbang dan pemantauan berat badan dan tinggi badan disekolah, bagi orang tua meningkatkan pengetahuan, mengupayakan anak mendapatkan pendidikan, mempraktekkan pola hidup dengan gizi seimbang, memantau berat badan anak, dan bagi remaja lebih terbuka terhadap informasi, mempraktekkan pola hidup dengan gizi seimbang antara lain dengan makan dengan variasi makanan, tidak merokok, melakukan aktivitas fisik dan memantau berta badannya.

This thesis discusses about factors related to adolescent nutritional status age 1215 years in Indonesia 2007. Objective of this study is to find out correlation between adolescent characteristic, nutritional intake of fruit and vegetable consumption, exercise activity, smoking behavior, parent nutritional status and adolescent one age 12-15 years. Measurement of it based on anthropometry index adjusted to standard of CDC-NCHS (2000) in percentile.
Study design using cross-sectional by secondary data of Riskesdas 2007 analyzed during October 2011 to January 2012. Population are all of household representing 33 provinces in Indonesia, and samples are household members age 12-15 years amounts 53.837. Study result shows that 9.2% of adolescent experiences more nutritional and 90.8% for poor one.
The result of statistical test shows that there are correlation between gender, education, protein intake, smoking behavior, exercise activity, parent nutritional status (father and mother) and adolescent nutritional status age 12-15.
The author recommends for the health agencies to cooperate with educational institutions in providing information on balanced nutrition and risk behavior in adolescents, for educational institutions to add a special curriculum on lifestyle with balanced nutrition and monitoring of weight and height at school, for parents enhance the knowledge, seeking children get an education, practice lifestyle with balanced nutrition, monitoring the child's weight, and for adolescents are more open to information, practice lifestyle with balanced nutrition, among others, by eating a varied diet, not smoking, physical activity and asked to monitor his body.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Allisa Putri Maryam
"Menurut hasil PISA 2018, prestasi akademik siswa Indonesia cukup rendah yang ditandai dengan peringkat Indonesia ke-74, 73, dan 71 dari 79 negara dalam bidang membaca, matematika, dan sains. Dampak dari prestasi akademik yang rendah mencakup tingkat kepuasan hidup yang rendah dan meningkatnya risiko perilaku menyimpang. Secara bersamaan, remaja sedang mengalami perkembangan pesat yang berdampak pada kerentanan terhadap pola makan tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi prestasi akademik siswa berdasarkan status gizi, frekuensi makan, kebiasaan sarapan, kebiasaan konsumsi buah dan sayur, motivasi belajar, kebiasaan belajar, absensi, dan dukungan sosial. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 199 siswa kelas 7 dan 8 di SMPN 119 Jakarta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh pada bulan Mei 2024 melalui pengukuran antropometri (tinggi badan dan berat badan), pengisian kuesioner, serta permintaan data rapor dan absensi dari pihak sekolah. Sebesar 49,7% siswa memiliki prestasi akademik yang lebih rendah dari median. Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan proporsi prestasi akademik berdasarkan frekuensi makan (p = 0,037; OR = 0,516; 95% CI 0,287-0,925) dan kebiasaan sarapan (p = 0,016; OR = 2,084; 95% CI 1,181-3,676). Siswa dengan frekuensi makan cukup (≥ 3 kali sehari) dan jarang sarapan (≤ 3 hari seminggu) berisiko lebih besar memperoleh prestasi akademik yang lebih rendah dari median.

According to the 2018 PISA results, the academic achievement of Indonesian students is quite low, as indicated by Indonesia ranked 74th, 73rd, and 71st out of 79 countries in the fields of reading, mathematics, and science. The impacts of low academic achievement include low levels of life satisfaction and increased risk of deviant behavior. At the same time, teenagers are experiencing rapid development which has an impact on their vulnerability to unhealthy eating patterns. This research aims to determine differences in the proportion of students' academic achievement based on nutritional status, meal frequency, breakfast habits, fruit and vegetable consumption habits, studying motivation, study habits, absenteeism, and social support. This quantitative research used a cross-sectional design with a sample size of 199 students in grades 7 and 8 at SMPN 119 Jakarta who were selected using a purposive sampling technique. Data was obtained in May 2024 through anthropometric measurements, filling out questionnaires, as well as requesting report card and attendance data from the school. 49.7% of students had academic achievement lower than the median. The results of the analysis showed that there were differences in the proportion of academic achievement based on meal frequency (p = 0.037; OR = 0.516; 95% CI 0.287-0.925) and breakfast habits (p = 0.016; OR = 2.084; 95% CI 1.181-3.676). Students with sufficient meal frequency (≥ 3 times a day) and rarely eats breakfast (≤ 3 days a week) are at greater risk of achieving academic achievement that is lower than the median."
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library