Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jakarta: Jakarta Lembaga Pengembangan Informasi Indonesia , 1999
614.599 3 AID
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Wisni Bantarti
"Remaja merupakan kelompok yang cukup berpotensi menunjang bagi perkembangan epidemi HIV/AIDS. Di Indonesia jumlah data yang ada menunjukkan adanya peningkatan prevalensi HIV pada kelompok usia 15-49 tahun dan 20-29 tahun. Bila hal ini tidak segera ditanggulangi akan mengancam pengembangan sumber daya manusia bangsa Indonesia. Oleh karena obat maupun vaksin untuk pencegahan HIV/AIDS belum ditemukan dan karena 68% proses penularannya di Indonesia melalui hubungan seksual maka upaya pencegahannya adalah perubahan perilaku melalui pendidikan kesehatan. Dan beberapa hasil penelitian mengenai seksualitas remaja menunjukkan adanya kecenderungan yang tinggi pada remaja dalam melakukan aktivitas seksualnya, maka strategi pencegahan yang dilakukan melalui Pendidikan Kelompok Sebaya (PKS) yang dilakukan oleh Penggerak Pendidik Kelompok Sebaya (PPKS) merupakan strategi pendidikan kesehatan yang dipandang cukup efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap tentang HIV/AIDS daripada siswa yang diberikan Pendidikan Kelompok Sebaya dan siswa yang tidak diberikan Pendidikan Kelompok Sebaya sebelum (pre-tes) dan sesudah (pos-tes) perlakuan. Disamping itu juga ingin diketahui proses pelaksanaan kegiatan PKS yang dilakukan oleh PPKS serta tanggapan sasaran PKS terhadap PPKS.
Studi ini menggunakan jenis penelitian Experimen , dengan rancangan Pre-test, Post-test, Control Group Design. Dalam jenis rancangan ini digunakan dua kelompok yaitu kelompok intervensi yang mendapat perlakuan PKS dan kelompok pembanding yaitu kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan PKS namun terpapar informasi melalui penyuluhan massal, dengan jumlah sampel untuk masing-masing kelompok 134 yang dipilih secara acak (random). Kedua kelompok tersebut diamati selama tiga bulan. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan uji t,X,2 (Chi Square) dan analisis regresi linier. Adapun perbandingan perbedaan antara kedua kelompok dilakukan sebelum dan sesudah tiga bulan intervensi.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan dan sikap siswa pada kelompok intervensi berbeda bermakna dengan nilai p < 0,05, dengan rentang peningkatan untuk seluruh butir pengetahuan berkisar antara 4,5% sampai dengan 71,6% dan peningkatan sikap yang berkisar antara 2,9% sampai dengan 40,3%. Pada kelompok kontrol nilai p > 0,05 untuk hampir seluruh butir pengetahuan , dimana rentang peningkatannnya berkisar 0% sampai dengan 30,2% . Sedangkan untuk sikap berkisar antara 2,2% sampai dengan 17,8%. Sebelum dilakukan perlakuan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan nilai p = 0,733 (CI 95% = -0,85 : 0,60). Sesudah perlakkuan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok tersebut dengan nilai p = 0,000 (CI 95% = -7,30 : -5,81). Adanya perbedaan tersebut adalah karena adanya perlakuan atau intervensi Pendidikan Kelompok Sebaya. Hasil uji bivariat (beda mean) memperlihatkan bahwa variabel tingkat pendidikan ayah dan tingkat pendidikan ibu berbeda bermakna dengan nilai p < 0,05. Namun setelah dimasukkan dalam analisis regresi menunjukkan tidak berbeda bermakna. Variabel jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan orangtua dan sumber informasi HIV/AIDS yang pernah diperoleh siswa tidak menjadi faktor pengganggu bagi terjadinya peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap sesudah perlakuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa Pendidikan Kelompok Sebaya ternyata berpengaruh pada pengetahuan dan sikap tentang HIV/AIDS.

Adolescents are a group of particular concern in the growing HIV/AIDS epidemic. In Indonesia, national data indicates an increase in HIV prevalence among the 15-19 and the 20-29 year age group. If this condition is not solved immediately, it will have a great impact on the human resources development. Since the cure or vaccine for HIV has not been found yet and 68% of the HIV transmission models in Indonesia were found in sexual intercourse, prevention then should emphasize on behavior change through the health education programmed. Based on several researches on adolescents sexuality, this young people seems to have high frequencies in their sexual activity , that in order to prevent the spreading of HIV among adolescents Peer Education is considered the most effective strategy for young people.
The aims of this study are to investigate the difference in knowledge and attitude in relation to HIV among High School students in Depok who receive Peer Education activity and students who do not receive Peer Education. The results presents not only the output of this Peer Education activity but also the process by which this activity takes place and the performance of the peer educator in giving information about HIV/AIDS correctly and their effort to change attitude among their peer friends.
This study has been conducted using an Experiment group, with a Pre-test, Post-test, Control Group Design. An intervention group (students, who receive Peer Education,) and a comparison group or control group (students who do not receive Peer Education) were followed for three months, with a total of 134 students in the intervention group and 134 students in the control group, which were randomly selected.
For statistical analysis the t-test and X2 (Chi Square) and linier regression analysis were used and P < 0.05 was defined statistically significant. Comparisons were made only between results obtained before and after three months study.
The results indicates a significant increase ( P < 0,05 ) in knowledge about HIVIAIDS in the intervention group, and also changes in attitudes towards HIV infected individuals, where the knowledge test results increase between 4,5% to 71,6% for all of the item knowledge and 2,9% to 40,3% for the changes of attitude. In the control group however, the corresponding increase between 0% to 30,2% was non-significant for almost all of the item knowledge and -2,2% to 17,8% for the changes of attitude. No significant difference in knowledge and attitude was seen before the study in the intervention and the control group (P= 0,733) (CI 95% = -0,85 : 0,60), but after the study significant difference was seen in both of this group (P= 0,000) (CI 95% = -7,30:-5,81). The experiment which this study is conducted seems to have caused this difference in knowledge and attitude among students who receive peer education and students who do not receive peer education. Father's and mother's education variables were significant when entered into a bivariate analysis, however, was non significant when entered into a multiple regression analysis (tinier regression), Sex, age, parent's educational status and exposure to HIV/AIDS information through the mass media are variables that are not confounding with the increase knowledge and changes in attitude of students after the study. This study shows that Peer Education is indeed possible to increase students' knowledge and to influence students' attitude in relation to HIV/AIDS.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T1074
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hadi Pratomo
"ABSTRAK
Permasalahan penelitian: HIV/AIDS dan Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting karena belum ditemukan obatnya sampai saat ini. Wanita usia subur, khususnya yang berpenghasilan rendah pengunjung Puskesmas semakin rentan terhadap risiko penularan kedua penyakit tersebut. Sampai saat ini belum ada model upaya promotif dan preventif di Puskesmas yang mengintegrasikan pelayanan penyakit menular seksual (PMS) ke dalam pelayanan BP/KIA/KB di Puskesmas.
Tujuan penelitian: Mengembangkan model intervensi guna menurunkan risiko infeksi PMS termasuk HIV/AIDS dan Hepatitis B bagi wanita usia reproduksi, wanita hamil dan peserta KB berpenghasilan rendah melalui keterpaduan program PMS dengan program kesehatan reproduksi di klinik KIA/KB dan BP di Puskesmas daerah perkotaan dan pedesaan.
Kegiatan dan hasil intervensi yang telah dilakukan: Desain penelitian adalah Kuasi eksperimen, yaitu one group pre dan post test tanpa kelompok kontrol. Dalam intervensi ini dilakukan observasi awal, intervensi dan observasi akhir tanpa menggunakan kelompok kontrol. Hasil penelitian tahun I dapat diperoleh informasi bahwa infeksi saluran reproduksi pada wanita usia subur pengunjung BP/KIA/KB di Puskesmas perkotaan maupun pedesaan di daerah penelitian cukup tinggi. Dari pemeriksaan oleh staf lab Puskesmas sendiri diperoleh angka infeksi sebesar 2-29%., sesudah di periksa ulang oleh Lab. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUIIRSCM diperoleh angka lebih tinggi yaitu 30-40%. Di lain pihak pengetahuan mengenai PMS termasuk HIV/AIDS dan Hepatitis B di kalangan mereka masih sangat terbatas. Bahkan pengetahuan dan kemampuan petugas kesehatan sendiri yang berkaitan dengan PMS termasuk HIV/AIDS dan Hepatitis B juga masih kurang.
Pada tahun ke II telah dan sedang dilakukan intervensi di Puskesmas terpilih. Telah dilakukan persiapan intervensi berupa telaah hasil temuan, penyusunan silabus pelatihan petugas Puskesmas, penyusunan draft materi & media penyuluhan, lokakarya penyusunan jadwal dan model intervensi bersama Puskesmas daerah penelitian, uji coba dan penyempurnaan materi penyuluhan serta perbaikan dan penggandaan materi penyuluhan. Selanjutnya pelaksanaan intervensi dilakukan berupa: pelatihan petugas Puskesmas (dokter, bidan, perawat, tenaga laboratorium) mengenai manajemen dan pencegahan PMS, HIV/AIDS dan Hepatitis B, cara sterilisasi alat kesehatan termasuk jarum suntik, penyuluhan (pendidikan dan motivasi) ibu pengunjung BP/KIA/KB (beserta suaminya) oleh petugas Puskesmas yang telah dilatih; serta pemantauan kegiatan penyuluhan oleh tim peneliti.
Kesimpulan dan Saran: Telah dikembangkan model intervensi berupa pelatihan petugas Puskesmas mengenai manajemen dan pencegahan PMS termasuk HIV/AIDS dan Hepatitis B serta materi baku yang terdiri dari silabus dan bahan serta penunjang pelatihan. Selain itu juga dikembangkan model serupa bagi ibu pengunjung BP/KIA/KB di Puskesmas (beserta suaminya) termasuk materi dan penunjang penyuluhan. Kegiatan intervensi penyuluhan langsung bagi pengunjung BP/KIA/KB di Puskesmas sedang dilaksanakan oleh petugas Puskesmas terlatih.
Disarankan untuk dilakukan evaluasi akhir mengenai dampak dan hasil akhir model intervensi ini di Puskesmas sehingga diperoleh hasil yang dapat merupakan masukan bagi pembuat kebijakan pelayanan khususnya dalam upaya penanganan dan pencegahan PMS termasuk HIV/AIDS dan Hepatitis B melalui jajaran pelayanan primer di tingkat Puskesmas di Indonesia.

ABSTRACT
In Indonesia, HIV/AIDS and Hepatitis B have become major and critical public health problems. At present there is no cure for these two diseases. The low income married women of reproductive age (MWRA) are becoming more and more susceptible to the risk of infection of sexually transmitted diseases (STDs) including HIV/ AIDS. Currently a model of integrating STD services into the existing ambulatory/ mother & child health (MCH)/ family planning (FP) services in the Puskesmas is nonexistent.
The research objectives:
To develop an intervention model in reducing the risk of STDs including HIV/AIDS and Hepatitis B infection for low income MWRA through integrating STD services into MCH/FP services in the Puskesmas both for urban as well as rural areas.
Methodology and results of the study:
The design of the study is one group pre and post test without a control group (a Quasi-experimental design). A measurement was conducted at the beginning of the study then followed by intervention and evaluation/ measurement after the intervention.
Three different measurements were conducted prior to the intervention period namely both qualitative and quantitative study (survey) and STD screening.
Results of the first year study are as follows: there is a significantly high proportion of STD among the MWRA visiting the ambulatory, MCH and FP clinic both in the urban and rural public health centers (Puskesmas). Screening test by lab technician of the Puskesmas indicated infection proportion of 2-29%. The results of the screening were rechecked by the Dept. of Dermatovenereology of the Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta and showed higher infection proportion i.e. 30-40%. On the other hand, knowledge on STD including HIV/AIDS and Hepatitis B among the women visiting the Puskesmas was very limited. Besides that, the knowledge and skills of the health personnel of the Puskesmas concerning the same subject was also relatively low.
During the second year of the study (1995/1996) an intervention was conducted and still taking place in the four Puskesmas under the study. Preparation of the intervention was completed such as review of the study results, development of syllabus of training for the Puskesmas staff, development of draft of materials and media for health education, workshop on the scheduling and model of intervention with the participating Puskesmas, pre test and revision and reproduction of information, education & communication (IEC) materials. Furthermore, the following intervention was conducted in each Puskesmas namely training for Puskesmas staff (doctor, midwives, nurses and lab technicians) concerning management and prevention of STD including HIV/AIDS and Hepatitis B, methods of sterilization of medical instruments, education and motivation (health education) for women attending ambulatory, MCH and FP clinic of the Puskesmas by trained health personnel and monitoring of the activity at the Puskesmas by selected trained personnel as well as research team members.
Conclusions and recommendations:
A model of intervention to prevent risk of STD including HIVIAIDS and Hepatitis B infection has been developed. It consists of syllabus and training materials including visual aids for STD including HIVIAIDS and Hepatitis B management and prevention for the health personnel of the Puskesmas, and training materials of the same subject for women (including their spouses) attending ambulatory, MCH and FP clinics at the Puskesmas.
It is strongly recommended to evaluate both the impact and outcome of the above intervention. Hopefully, the results will be useful for advocating policy concerning prevention and management of STD including HIVIAIDS and Hepatitis B at the primary care level namely at the Puskesmas in Indonesia."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1995
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Rosarina P.
"Secara nasional prevalensi kasus HIV di Indonesia sebesar 0,45 per seratus ribu penduduk. Angka sebenarnya orang yang terinfeksi HIV tidak diketahui, namun diperkirakan tahun 2010 akan ada sekitar seratus ribu orang meninggal karena AIDS dan satu juta orang yang mengidap virus HIV. Kontribusi terbesar penularan HIV sampai saat ini adalah lewat hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang pengalaman seksual dan praktek wisatawan mancanegara terhadap pencegahan risiko tinggi HIV/AIDS tahun 2003.
Penelitian dilakukan di Kota Batam yang merupakan daerah industri, perdagangan, pariwisata dan alih kapal, dengan menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Subjek penelitian adalah wisatawan manca negara yang berkunjung ke tempat-tempat hiburan dan mempunyai pengalaman berhubungan seks dengan pekerja seksual.
Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa tempat tempat hiburan memudahkan akses untuk melakukan seks dengan pekerja seksual, antara lain di karaoke, diskotik, dan panti pijat. Dalam melakukan hubungan seks dengan pekerja seksual, informan melakukan perilaku berisiko tinggi karena tidak menggunakan kondom dan berganti-ganti pasangan seks.
Hal yang paling mendorong informan sehingga mempunyai motivasi melakukan seks adalah pengaruh lingkungan yaitu memudahkan informan untuk melakukan seks, lemahnya kontrol sosial dan lemahnya penegakan peraturan yang berkaitan dengan penatalaksanaan di tempat hiburan. Aspek penting lainnya yang berhubungan dekat dengan perilaku berisiko adalah aspek ketidaktaatan beribadah dan ketidaksetiaan terhadap pasangan.
Disarankan untuk melakukan promosi kesehatan secara terus menerus dan evaluasi kepada kelompok pekerja seksual serta meningkatkan.kemampuan bernegosiasi kepada pelanggan agar selalu menggunakan kondom. Perlu juga melakukan promosi kesehatan di tempat-tempat hiburan melalui pemasangan poster, atau gambar-gambar tentang HlVyang mudah gampang dilihat oleh pelanggan
Daftar Pustaka (1992 - 2003)

Experience of Having Sexual Intercourse Experience and International Tourist Practices for the Prevention of High Risk HIV/AIDS in Batam City in 2003Nationally, the prevalence of HIV/AIDS in Indonesia is 0.45 per 100.000 population. The real number of HIV infected sufferer has not been determined yet until the present, but it is predicted about 100.000 people would die due to AIDS cause and about one million people would be infected in 2010. The main cause of HIV/AIDS transmission is sexual contact without using condom.
This study aimed to get thorough information about having sexual experience and international tourist practice for the prevention of high risk HIV/AIDS in Batam City in 2003.
The study was conducted in Batam City, which is known as an industrial zone, business and tourism area, and ship transit. The study used qualitative design. Subject of the study are international tourists who visited entertainment places and had sexual intercourse experience with Commercial Sex Worker (CSW).
According to the result of the study, it showed that entertainment places that provided access to the informant for having sex with CSW are such as in karaokes, night clubs, and massage houses. In having sexual contact with the CSW, the informants did highly risk behavior because of not using of condom and sexual partner interchanging.
Thing motivated informants to have sexual intercourse are environmental causes that consisted easy access for sex, weaknesses in social control in society, and lack of law enforcement. Other crucial aspects concerning to risky behavior of HIV/AIDS are religion disobedience and unloyalty to one's own partner (wife/husband).
It is suggested to carry out continual health promotion to CSWs and to improve their negotiation ability with their costumer to use condom. Health promotion also can be done in entertainment places by putting posters or other means for the HIVIAIDS prevention campaign on the places in strategic angle, which are easily seen by visitors.
References: 28 (1992 - 2003)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12781
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oktavery Kamil
"Permasalahan HIV/AIDS di Indonesia pada kelompok pengguna narkoba suntik semakin membesar. Pada akhir tahun 2002 diperkirakan terdapat 110-130 ribu orang yang suduah terinfeksi HIV/AIDS. Diperkirakan pula bahwa sumbangan kasus dari faktor penularan melalui penggunaan jarum suntik mencapai 36% dari jumlah tersebut.
Upaya pencegahan HIVIAIDS pada kelompok pengguna narkoba suntik masih dapat dikatakan baru di Indonesia. Salah satu model intervensi yang sudah diterapkan saat ini adalah Indigenous Leader Outreach Model (ILOM). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pengalaman 2 lembaga yang melakukan intervensi pada pengguna narkoba suntik dengan menggunakan ILOM sebagai kerangka intervensinya. Tujuan lain adalah untuk mengidentifikasi faktor panting yang berpengaruh dalam intervensi dari faktor internal dan ekstemal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dari 2 lembaga yang melakukan intervensi. Data sekunder dan primer berupa laporan, dokumentasi program, serta catatan basil observasi lapangan, wawancara dan diskusi digunakan sebagai bahan penelitian. Data yang dikumpulkan dianlisa secara deskriptif untuk memberikan gambaran mendalam tentang pelaksanaan intervensi.
Dalam intervensi yang menggunakan ILOM, titik berat intervensi adalah pada proses penjangkauan dan pendampingan di lapangan. Proses ini meliputi kegiatan dalam membuka akses pads kelompok sasaran; pemberian informasi untuk meningkatkan kepedulian pada pengguna narkoba suntik; melibatkan kelompok sasaran dalam proses penilaian risiko pribadi; mendukung dan mempertahankan perubahan perilaku yang terjadi; dan melibatkan kelompok sasaran dalam upaya advokasi pencegahan HlV/AIDS.
Penelitian menunjukkan bahwa model ILOM dapat diterapkan dalam proses intervensi sesuai dengan tujuan-tujuan yang menjadi strategi program intervensi. Proses penjangkauan lapangan yang dilakukan oleh pare petugas lapangan yang berlatar belakang pengguna narkoba suntik terlihat dapat berjalan sesuai dengan arah program. Beberapa faktor panting yang mempengaruhi optimalnya intervensi antara lain: kepemimpinan dalam pelaksanaan intervensi, peran koordinator lapangan dalam proses penjangkauan, dukungan terhadap petugas lapangan, serta sistem dokumentasi proses penjangkauan.
Pengalaman kedua program menunjukkan kebutuhan yang tinggi terhadap dukungan pemerintah untuk menunjang suksesnya pelaksanaan intervensi. Dukungan berupa pengakuan terhadap kerja penjangkauan lapangan dan sistem rujukan Iayanan kesehatan dirasa akan sangat membantu proses kerja penjangkauan di lapangan."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14320
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Leni Syafitri
"Provider initiated testing and counseling (PITC) merupakan program
penanggulangan HIV/AIDS yang tepat dilaksanakan di Rutan Klas I Cipinang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan
dengan pemanfaatan pelayanan PITC. Penelitian ini menggunakan pendekatan
cross sectional survey dengan data primer melalui kuesioner pada 130 responden
tahanan dan Napi yang berisiko HIV/AIDS.
Hasil penelitian menunjukan pemanfaatan pelayanan PITC sebanyak 52
responden atau 40% belum memanfaatkan pelayanan PITC . Hubungan antara
pemanfaatan pelayanan PITC dengan penerimaan stigma dan diskriminasi terkait
HIV/AIDS merupakan hubungan yang paling signifikan (p value = 0,000 ,OR
20,781). Sedangkan keyakinan manfaat PITC (p value = 0,000, OR = 12,372),
Dukungan keluarga dan institusi (p value = 0,000, OR = 9,993), kebutuhan
Pelayanan PITC (P value = 0,001, OR = 6,587), pengetahuan PITC (p value =
0,002, OR = 6,130), mempunyai hubungan yang signifikan. Maka dari itu,
diperlukan kerjasama lintas program petugas kesehatan dan petugas keamanan,
dalam bentuk penyuluhan rutin bagi pihak keluarga tahanan dan WBP yang
berisiko HIV/AIDS untuk mengurangi stigma dan diskriminasi yang timbul dari
pihak terdekat.

Provider initiated testing and counseling (PITC) is the response to HIV / AIDS is the right place in Class I Cipinang Rutan. This study aimed to identify factors associated with utilization of PITC services. This study uses cross-sectional survey approach with the primary data through questionnaires to 130 respondents detainees and inmates at risk of HIV / AIDS. The results showed a picture of service utilization PITC as much as 52 respondents or 40% did not use PITC services. The relationship between service utilization PITC with the acceptance of stigma and discrimination associated with HIV / AIDS is the most significant relationship (p value = 0.000, OR 20.781). While the benefits of PITC confidence (p value = 0.000, OR = 12.372), family and institutional
support (p value = 0.000, OR = 9.993), Service needs of PITC (P value = 0.001, OR = 6.587), knowledge of PITC (p value = 0.002, OR = 6.130), had a significant relationship. With the results of this study is expected to be important information for policy makers to make this study as a reference in applying the PITC so that service standards more quickly accessed and used by WBP-risk prisoners and HIV / AIDS.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
T31234
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Immi Rizky Budiyani
"Maraknya penyalahgunaan NAPZA suntik, membuat pemerintah mendirikan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) untuk mengurangi dampak buruk akibat pemakaian NAPZA suntik, sehingga diharapkan meningkatnya derajat kesehatan penasun. Namun salah satu permasalahan dalam penerapan PTRM adalah kepatuhan pasien. Berdasarkan hal itu, dilakukan penelitian cross sectional terhadap 51 sampel agar diketahui faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan mengikuti terapi metadon di RSKO Cibubur.
Hasil penelitian menunjukkan ketidakpatuhan sebesar 37,3%. Diketahui penasun dengan umur <30 tahun (66,7%), berjenis kelamin laki-laki (40%), pendidikan tinggi (37,5%), tidak bekerja (44,4%), pengetahuan kurang (54,5%), sikap kurang (60%), jauh dari tempat pelayanan (38,7%), dukungan keluarga kurang (46,7%), dukungan petugas kesehatan kurang (50%), dukungan teman kurang (37,5%) dan keterpaparan informasi baik (41,7%) memiliki proporsi ketidakpatuhan lebih tinggi. Hasil uji Chi Square menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan ketidakpatuhan mengikuti PTRM (p-Value 0,026; PR 2,261).

The rise of injecting drug use make government build Methadone Maintenance Treatment program (MMT) , in order to harmful reduction so that IDU’s health increased. But one of problems in applying MMT is adherence injection drug users. Based on that, cross sectional study carried out to 51 samples in order to know the factors related to disobedience in IDU who following MMT program in RSKO Cibubur.
The result shows disobedience is 37,3%. IDU with age less than thirty (66,7%), male (40%), high education (37,5%), didn’t have a job (44,4%), less knowledge (54,5%), less attitude (60%), far from health care (38,7%), less of family support (46,7%), less of health worker’s support (50%), less of friend support (37,5%) and have good exposure information (41,7%). Chi Square test results stated that there is a significant relationship between knowledge of the noncompliance following the MMT (p-Value 0.026; PR 2,261).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
S46003
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farial Nurhayati
"ODHA yang masih aktif menggunakan NAPZA membutuhkan perawatan khusus oleh tenaga kesehatan profesional yang berkompeten dalam bidang HIV/AIDS dan NAPZA. Perawat sebagai bagian pelayanan kesehatan berperan penting dalam upaya promotif dan preventif. Penelitian ini bertujuan mengungkap pengalaman ODHA yang aktif menggunakan NAPZA. Desain penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan penelitian berjumlah 6 orang pasien yang sedang dirawat di RSKO Jakarta. Teknik pengambilan data dengan wawancara mendalam. Tema yang dihasilkan penelitian ini adalah : (1) Ketidakefektian pola penyelesaian masalah, (2) Kenyamanan psikologis dan biologis menggunakan NAPZA (3) Depresi sampai percobaan bunuh diri, (4) Ketidakefektifan peran sosial, (5) Perilaku asosial untuk memenuhi kebutuhan NAPZA, (6) Ketidakpuasan terhadap akomodasi perawatan, (7) Harapan pelayanan bebas biaya, (8) Perbaikan prosedur birokrasi dalam pemberian ARV, (9) Dukungan bersyarat dari keluarga, (10) Gangguan interaksi dalam keluarga dan (11) Upaya menjaga kepatuhan terhadap terapi ARV. Manfaat penelitian ini untuk meningkatkan peran perawat sebagai edukator dan advokator bagi pasien HIV/AIDS yang menggunakan NAPZA dan keluarga.

PLWHA who still actively use drugs, require special care by competent health professionals in the field of. Nurses as part of health care plays an important role in the promotion and prevention .This study of qualitative research using a phenomenological approach aims to reveal the the experience of people living with HIV who are actively using drugs. Data were collected from 6 patients at RSKO Jakarta using in-depth interview. The resulting themes are (1) Ineffectiveness of problem solving pattern, (2) Comfort psychological and biological drug use (3) Depression to suicide attempts, (4) Ineffectiveness of social roles, (5) asocial behavior to meet the needs of drug,(6) dissatisfaction of care accommodation,(7) hope for free-of-charge services, (8) Improvements in the provision of ARV bureaucratic procedures, (9) the conditional support of the family, (10) Disturbance in family interaction and (11) efforts to maintain adherence to therapy ARV. Hopefully nurses learn from this study to enhance their roles as educators and advocators for HIV/AIDS patients and their families."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T36068
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oktarina Permatasari
"ABSTRAK
HIV-AIDS merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Saat ini, kasus
HIV-AIDS tak hanya didominasi oleh kelompok populasi berisiko, namun telah
menyebar hingga populasi ibu rumah tangga dan anak-anak. Pelanggan WPS diduga
berperan sebagai populasi yang menjembatani transmisi HIV melalui hubungan
seksual. Berbagai program dilakukan untuk memutus rantai transmisi tersebut, satu
diantaranya adalah program promosi penggunaan kondom pada hubungan seksual
berisiko. Namun sayangnya hingga saat ini konsistensi penggunaan kondom pada
hubungan seksual berisiko masihlah rendah, dan penolakan pelanggan masih
merupakan penyebab utama. Selama ini, intervesi program untuk populasi umum lebih
berfokus pada peningkatan pengetahuan tentang HIV-IMS dan manfaat kondom.
Peningkatan pengetahuan diharapkan akan mendorong perubahan perilaku penggunaan
kondom. Berdasarkan konsep Health Belief Model (HBM) selain pengetahuan, ada
banyak faktor yang mempengaruhi perilaku, diantaranya persepsi, dan isyarat untuk
bertindak (cues to action).
Penelitian ini menggunakan data hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku
(STBP) 2011 dengan memilih 906 responden yang pernah melakukan hubungan seks
dengan WPS dalam setahun terakhir. Analisis Structural Equation Modelling (SEM)
digunakan untuk membangun hubungan antara pengetahuan tentang HIV, persepsi
kerentanan terinfeksi HIV dan manfaat kondom, serta isyarat untuk bertindak
(ketersediaan kondom, intervensi program pencegahan HIV dan keterpaparan media
informasi tentang HIV-AIDS) dengan perilaku penggunaan kondom pada pelanggan
WPS.
Hasil penelitian menunjukkan hanya 17,4 % responden yang konsisten
menggunakan kondom pada hubungan seks dengan WPS dalam setahun terakhir.
Persepsi terkait kerentanan akan HIV dan manfaat kondom memiliki pengaruh terbesar
terhadap perilaku penggunaan kondom pada pelanggan WPS (r = 0,78), dan
pengetahuan tentang HIV cenderung mempengaruhi persepsi tersebut (r = 0,5).
Konsistensi penggunaan kondom pada pelanggan WPS yang rendah sangat
dipengaruhi oleh persepsi akan kerentanan terinfeksi HIV dan manfaat kondom. Untuk
meningkatkan penggunaan kondom pada pelanggan WPS, disarankan adanya
intervensi yang tak hanya merubah pengetahuan, namun mampu merubah persepsi
tersebut dengan pendekatan yang tepat.

ABSTRACT
HIV-AIDS is one of health problems in Indonesia. Nowdays, HIV-AIDS cases is
not only dominated by population at risk but also spread to housewife and children
population. Female Sexs Worker‟s client (FSW‟s Client) are suspected as a bridge
population of HIV transmission through sexual intercourse. Many programs have been
done to prevent the transmission, one of the program is condom promotion on risky
sexual behaviour. Unfortunately, there is still low consistency in condom use and
client rejection remains a major cause. Up to now, intervention program for general
population is more focused on increasing the knowledge about HIV and STI, and also
benefits of condom use. Increased knowledge will hopefully encourage condom use.
Based on Health Belief Model, instead of knowledge there are many factors influence
the behaviour, such as perception and cues to action.
This study use data from Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS)
2011, by select 906 respondent who ever had sexual intercourse with FSW in the last
year. Structural Equation Modelling (SEM) is used to create the correlation between
knowldge of HIV, perception of susceptibility, seriousness and condom benefit, and
also cues to action (condom availability, intervention, and media) with condom use
among FSW‟s Client.
The result shows that only 17,4 % respondents who consistently used condoms
during sexual intercourse with FSW in the last year. Perception related to HIV
susceptibility, and benefit of condom use have the biggest influence toward condom
use among FSW‟s Client (r = 0,78) and the knowledge about HIV influence tends to
affect the perception (r = 0,50).
Inconsistency of condom use among FSW‟s Client influence by perception of
susceptibility and condom benefit. To increase consistency of condom use among
FSW‟s Client, we suggest that the intervention not only to increase the knowledge, but
need to be able to change perception The best approach is very needed to change
FSW‟s client perception"
Universitas Indonesia, 2013
T35552
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marlya Niken Pradipta
"Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor (faktor predisposisi yaitu umur, pendidikan, pengetahuan tentang HIV/AIDS, sikap terhadap penggunaan kondom, faktor pemungkin yaitu aksesibilitas, dan faktor penguat yaitu keterpaparan informasi mengenai HIV/AIDS) yang berhubungan dengan konsistensi pemakaian kondom pada Waria binaan Puskesmas Bogor Timur tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel berjumlah 40 Waria yang diambil dengan total sampel dan kuesioner sebagai alat ukur penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 40% responden konsisten menggunakan kondom, 60% berumur kurang dari sama dengan 30 tahun, 47,5% berpendidikan tinggi, 65% berpengetahuan baik, 47,5% bersikap positif terhadap penggunaan kondom, 47,5% mempunyai akses yang mudah. 80% terpapar informasi. Berdasarkan uji chi square terdapat 2 variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan konsistensi pemakaian kondom pada Waria binaan puskesmas Bogor Timur yaitu pengetahuan dan aksesibilitas. Diharapkan Dinas Kesehatan Kota Bogor membuat kebijakan mengenai standar kualitas kondom yang diberikan secara gratis kepada Waria. Untuk Puskesmas Bogor Timur, diharapkan untuk mengubah waktu pembinaan Waria dengan menyesuaikan dengan Waria yaitu pada sore hari dan mengontrol kinerja project officer (PO) secara berkala serta melibatkan pemimpin Waria dan masyarakat dalam penyuluhan HIV/AIDS.

The purpose of this study was to determine the factors (ie predisposing factors of age, education, knowledge about HIV/AIDS, attitudes toward condom use, reinforcing factor is exposure to information about HIV/ IDS) and enabling factors, namely accessibility, associated with consistency of condom use transvestism built health center in East Bogor in 2012. This study used cross-sectional design with a sample taken are 40 transvestism with a total sample and the questionnaire as a measure of research. The results of this study showed that 40% of respondents consistently used condoms, 60% aged less than or equal to 30 years, 47.5% of highly educated, knowledgeable 65% good, 47.5% positive attitudes toward condom use, 47.5% have access easy. 80% of exposed information. Based on the chi square test, there are 2 variables that have a significant relationship with the consistency of condom use on Transvestism built clinic East Bogor ie knowledge and accessibility. Bogor City Health Department is expected to make a policy regarding quality standards and provided free condoms to transvestism. For Bogor Health Center East, is expected to change the time to adjust to coaching Transvestism is in the afternoon and control the performance of project officer (PO) periodically and involve community leaders in transvestism and education about HIV / AIDS."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
S45498
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>