Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Abieser Yogi
"Tujuan penelitian adalah sebuah studi untuk mengetahui dan mengidentifikasi bentuk upaya-upaya yang telah dilaksanakan dengan faktor-faktor pendukung dan penghambat aktualisasi peran BPKM Yasanto dalam penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Kabupaten Merauke. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan tipe penelitian deskriptif-evaluatif. Data diperoleh dengan wawancara langsung kepada informan/narasumber terkait dilokasi penelitian ditambah dengan studi data-data sekunder dan studi lapangan. Teknik analisa data dengan mereduksi data penelitian kemudian pengkajian data hingga penyusunan kesimpulan dari berbagai data tentang peranan BPKM Yasanto dengan faktor-faktor pendukung dan penghambat penanggulangan HIV/AIDS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran BPKM Yasanto bersama Pemerintah Daerah, dunia swasta, LSM lainnya dan seluruh elemen masyarakat diaktualisasikan melalui berbagai kegiatan yang bersifat rutin maupun nonrutin dari ketiga program utamanya yaitu program pencegahan HIV/AIDS, program pendampingan ODHA dan program pendidikan/pelayanan masyarakat Program kegiatannya mencakup aspek kesehatan, pendampingan ODHA, ekonomi masyarakat maupun kegiatan pencegahan/penanggulangan epidemi HIV/AIDS kecuali dimensi Hak Asasi Manusia (HAM) dan aspek Hukum serta Kebijakan. Tentunya diperlukan pengembangan program yang holistik, multidimensional dan universal mengglobal bagi penanggulangan HIV/AIDS secara utuh dan total.
Dalam upaya optimalisasi peran BPKM Yasanto menanggulangi epidemi HIV/AIDS di Kabupaten Merauke ditemui pula ada faktor-faktor pendukung dan penghambatnya yang bersumber dari internal (individu/lembaga) BPKM Yasanto dalam hal kemampuan memanajemen alat-alat sumber manajemen lembaganya serta lingkungan eksternalnya baik kondisi sosial masyarakat, pemerintah maupun kondisi geografis dan lingkungan alam di Kabupaten Merauke yang saling mempengaruhi bagi peran BPKM Yasanto bersama seluruh elemen masyarakat dalam mencegah, mengatasi dan menanggulangi epidemi HIV/AIDS. Diperlukan kemampuan Lembaga BPKM Yasanto bagi terwujudnya optimalisasi peran bersama seluruh elemen dengan memanajemen faktor-faktor pendukungnya dan penghambatnya bagi aktualisasi penanggulangan HIV/AIDS secara utuh, holistik, komprehensif dan universal lokal mengglobal."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12485
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Krisis ekonomi berdampak pacla meningkatnya jumlah anak jalanan. Auak
jalanan merupakan salah satu kelompok beresiko tinggi HIV/AIDS karena perilaku
beresiko mereka. Motivasi adalah keadaan dari dalam yang memberi energi untuk
mengorganisir dan mengarahkan pola-pola spesifik perilaku. Penelitian deskripsi
korelatif ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
anak jalanan dalam melakukan pencegahan HIV/AIDS di Depok. Instrumen yang
digunakan adalah lembar kuesioner, dengan 95 responden anak jalanan usia remaja
yang diperoleh secara purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat
dan bivariat. Hasil penelitian secara univariat menunjukkan bahwa tingkat
pengetahuan sebagian besar anak jalanan cukup tinggi ( pengetahuan tinggi 64,2 %,
pengetahuan rendah 35,8 %), tingkat motivasi mereka dalam mencegah HIV/AIDS
tidak jauh berbeda (motivasi tinggi 52,63 dan motivasi rendah 47,4 %). Hasil
penelitian secara bivariat menunjukkan bahwa faktor internal yang mempunyai
hubungan signifikan dengan motivasi anak jalanan dalam mencegah HIV/AIDS
adalah faktor pengetahuan (p: 006) dan faktor pengalaman (p: 002). Sedangkan faktor
internal yang Iain tidak mempunyai hubungan signifikan dengan motivasi anak
jalanan dalam mencegah HIV/AIDS (faktor pendidikan p: 0,62, faktor keyakinan p:
0,095)."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2007
TA5560
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fairuz Murti
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
S26459
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Feby Febrina Inpresiana
"ABSTRAK
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan stigma
tenaga kesehatan Indonesia, khususnya Jakarta mengenai Ibu HIV yang melaksanakan
pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya (PMTCT)
Metode : Seratus tiga tenaga kesehatan yang bekerja di bidang obstetri dan ginekologi pada
RSCM, RS. Fatmawati, RSU Tangerang dan RS Persahabatan terutama yang bekerja di
kamar bersalin, ruang rawat, poliklinik dan ruang operasi yang diambil dari data rumah sakit
dengan cara consecutive sampling yang memenuhi kriteria inklusi , dilakukan wawancara
terpimpin . Kuesioner tersebut telah dilakukan validasi pada tiga puluh orang tenaga
kesehatan . Dari jawaban kuesioner tersebut akan menggambarkan data pengetahuan
tentang HIV dan PMTCT, stigma , ketakutan dan diskriminasi tenaga kesehatan , yang
kemudian akan dilakukan analisa bivariat serta multivariat yang terkait dengan stigma tenaga
kesehatan tersebut.
Hasil : Kami mendapatkan tingkat pengetahuan yaitu 89 orang (80,9%) memiliki
pengetahuan yang baik mengenai HIV/AIDS. Akan tetapi pengetahuan khusus mengenai
PMTCT responden memiliki pengetahuan yang buruk, hanya 8 orang (7,7%) yang
menjawab benar. Dalam penelitian ini juga didapatkan faktor-faktor yang berhubungan
dengan tingkat pengetahuan yaitu tipe tenaga kesehatan, umur, lama berkerja, serta tingkat
pendidikan. Penelitian kami juga mendapatkan stigma (skor stigma tinggi) pada 65
responden (63,1%). Dilakukan analisis untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi
timbulnya stigma dan didapatkan umur, lama menjadi tenaga kesehatan, lama bekerja di RS
saat ini, tingkat pendidikan serta keikutsertaan pelatihan HIV/AIDS. Kami mendapatkan
skor ketakutan dibagi menjadi ketakutan rendah pada 47 responden (42,7%) dan ketakutan
tinggi pada 63 responden (57,3%). Pada penelitian ini tidak didapatkan responden yang
menyatakan tidak pernah pada 9 buah pertanyaan tentang diskriminasi, sehingga semua
responden dikategorikan sadar melakukan diskriminasi.
Kesimpulan : Pada penelitian ini kami mendapatkan hampir semua responden memiliki stigma
terhadap HIV/AIDS. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya stigma maka
diperlukan pelatihan HIV/AIDS untuk semua tenaga kesehatan yang modulnya disesuaikan
dengan umur, tingkat pendidikan serta jenis tenaga kesehatan yang terlibat.

ABSTRACT
Objective : To capture descriptive of knowledge level and stigma among health care
provider in Indonesia that focused in Jakarta concerning HIV positive mother
who received PMTCT program.
Methode : one hundred and three health care provider who worked at Obstetric and
gynecologic divivion at Fatmawati hospital, Tangerang hospital and
Persahabatan hospital and served in delivery room, ward, outpatient clinic, and
operating theatre consisting doctors, nurses and midwives were interviewed
with quesioner that measure knowledge, fear, stigma and discrimination among
them. Data were analyzed to get factors that related to stigma.
Result : Good level of knowledge was found in 89 providers (80,9%), only 8
providers (7,7%) have good knowledge in PMTCT. High level of stigma was
measured in 65 providers (63,1%). Factors that related to level of knowledge
are type of service provider, age, length of time as provider and level of
education. We found factors that related to stigma are age, length of time as
provider, length of time in current job, level education and trained in
HIV/AIDS.
We get a scared scores were divided into low fear in 47
respondents (42.7%) and fear of height in 63 respondents (57.3%). In this study
found no respondents who claimed never to 9 questions about discrimination,
so that all respondents are categorized conscious discrimination.
Conclusion : we revelead that almost all provider have stigma in HIV.AIDS. Training in
HIV/AIDS is important to reduce stigma and the programs should be adjusted
with age, level of education, and type of service providers."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rd. Sri Rahmi Suartini
"Perkembangan AIDS di Indonesia terjadi dengan sangat pesat Secara kumulatif. jumlah penderita AIDS di Indonesia sejak kasus pertama ditemukan pada 1 Juli 1987 sampai dengan 31 Desember 2007 adalah 11.141 kasus denganjumlah kematian 2369 kasus (21,26%), Menurut laporan tahunan terbaru dari Badan Dunia untuk penanggulangan HlV/AlDS atau UNAIDS, Indonesia berada pada urutan nomor satu di Asia terkait dengan tingkat kecepatan laju epidemi HlV, Kasus baru di Indonesia ini, paling banyak dirularkan melalui pemakaian napza suntik.
Dari hasil penelitian ini diperoleh informasi bahwa ketahanan hidup pasien AIDS dipengaruhi oleh jumlah CD4 dan tempi ARV. Sedangkan variable umur, jenis kelamin, status TBC dan status Hepatitis belum bennakna dalam mempeogaruhi ketahanan hidup pasien AIDS. Probabilitas ketahanan hidup I tahun pasien AIDS adalah 54,46% sedangkan probabilitas ketabanan hidup 3 tahun pasien AIDS adalah 40,60% dengan median ketahanan hidup 22 bulan. Pasien AIDS dengan jumlah CD4<=50 sel/mm3 memiliki risiko kematian 2.885 kali lebih besar dari pasien AIDS dengan jum1ah CD4 >50 sellmm' [Cl95% 1.481-5.619]. Pasien AIDS yang lidak mendapatkan tempi ARV memiliki risiko kematian 2.006 kati lebih besar dad pasien AIDS yang mendapatkan terapi ARV [C!95% 1.168-3.448].
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankon kepada RSKO Jakarta. agar metengkapi Iaboratorlumnya dengan sarana untuk pemcriksaan jumlah CD4 dan pada saat melaksanokan VCT agar ditegaskan tentang pentingnya deteksi dan penanganan dini dengan menggunakan media yang icpnt untuk meningkatkan ketahanan hidup pasien AIDS. Kepada PPM&PL Depkes dan Komisi Penanggulangan AiDS, dlsarankan agar menjamin ketersedian dan kelancanm distribusi ARV ke s:eluruh wilayah Indonesia serta lebih serius dalam upaya pengadaan tempi lain selain ARV yang dapat meningkatkan ketahanan hidup pasien AIDS. Sosialisasikan strategi nasionai penanggulangan HIV/ AIDS 2007-2010 dengan media dan metoda yang tepat."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
T11532
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Mega Achmad Agus
"Sifat remaja yang suka mencoba-coba dan berani mengambil risiko dengan berperilaku menyimpang, menjadikan remaja rentan terhadap risiko penularan HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku berisiko dan faktor yang berhubungan terkait HIV/AIDS pada remaja, mempergunakan metode potong lintang dengan kuesioner sebagai instrumen penelitian yang diberikan pada siswa kelas X dan XI di SMA/SMK di wilayah kerja Puskesmas Pengasinan di Kota Bekasi yang berjumlah 216 orang.
Hasil Penelitian menunjukkan sebagian besar remaja mempunyai pengetahuan rendah (57,4%) dan sikap yang tidak baik terkait HIV/AIDS (51,9%), 82,9 persen telah berpacaran dengan gaya berpacaran dari hanya mengobrol (80,1%) sampai berhubungan sex (3,2%). Perilaku remaja menyimpang lainnya terkait HIV/AIDS yaitu merokok (33,3%), minum minuman keras (12,5%), membuat tato (8,3%), menggunakan narkoba selain suntik (1,9%), memakai narkoba suntik (3,7%), oral sex (6,9%) dan menonton film porno (37,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara distribusi perilaku berisiko dengan tingkat pengetahuan (PR:7,419; CI 95% 2,336-23,567, sikap (PR: 62,257 CI 95%), persepsi peran orang tua (PR: 2,500; CI 95% 1,181- 5,290) dan persepsi peran teman sebaya (PR: 3,214; CI 95% 1,385-7,462) dengan nilai p value < 0,005. Disarankan untuk meningkakan program promosi kesehatan pada tatanan sekolah, meningkatkan pengetahuan siswa secara komprehensif melalui pemberian informasi terkait HIV/AIDS dari guru, orang tua dan tenaga kesehatan dan menggali motivasi remaja untuk mengetahui HIV/AIDS melalui pemberian tugas-tugas atau lomba-lomba seperti pembuatan makalah berkaitan dengan kesehatan remaja terkait HIV/AIDS.

Teenagers have high propensity to experiment and take risks by inappropriate behavior as their nature, which resulting the susceptibility to the risk of HIV / AIDS transmissions.This study aims to describe risk behaviors and associated factors related with HIV / AIDS in the scope of teenagers, using the cross-sectional questionnaire method as a research instrument that was given for 10th and 11th grade of High School and Vocational High School in the region of Puskesmas Pengasinan (Pengasinan Health Center) Bekasi, involving 216 students as research respondent.The Research shows that most teenagers have a low level of knowledge (57.4%) and have bad habits related to HIV / AIDS (51.9%), 82.9 percent had been dating from just as proper relationship such a chatting (80.1%) to sex habits (3.2%). Other deviant adolescent behavior related to HIV / AIDS which were smoking (33.3%), drinking alcohol (12.5%), making tattoos (8.3%), using not injecting drugs (1.9%), using injecting drugs (3.7%), oral sex (6.9%), and watching porn (37.0%).
The results of the analysis showed that there was a significant relationship between the distribution of risky behavior with the level of knowledge (PR: 7.419; 95% CI 2.336 to 23.567, attitude (PR: 62.257 CI 95%), the perception of the parental role (PR: 2,500; 95% CI 1.181 - 5.290) and the perception of the role of peers (PR: 3.214; 95% CI 1.385 to 7.462) with a p value <0.005. It is recommended to improve health promotion programs within the scope of schools, increase student's knowledge in a comprehensive manner through the provision of information related to HIV / AIDS guided by teachers, parents and health workers and develop the teenagers motivation to learn more about the HIV / AIDS through assignments or competitions such as paper-making competitions relating to adolescent health related to HIV / AIDS.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S55750
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Hardy
"Skripsi ini bertujuan untuk melihat gambaran manajemen program penanggulagan penyakit HIV/AIDS di Kota Bogor tahun 2013. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan penjangkauan populasi kunci belum mencapai target. Target penggunaan jarum suntik sudah mencapai target dan target penggunaan kondom belum bisa dihitung. Pada penggunaan sumber daya sebagai input dapat disimpulkan bahwa jumlah belum sesuai untuk petugas penjangkauan, petugas puskesmas dan Dinas Kesehatan. Kebutuhan sarana sangat seperti logistik laboatorium belum mencukupi dalam segi jumlah. Kesedian Dana dari pemerintah belum mencapai 70% target kesedian. Proses perencanaan dibagi menjadi perencanaan APBD dan perencanaan GF namun belum terintegrasi di musrembang. Proses pengawasan yang menjadi tugas KPAD belum berfungsi dengan maksimal. Rekomendasi penyelesaian permasalahan adalah peningkatan fungsi KPAD, peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya, dan peningkatan program.

This scriture aims to look at the describe of HIV/AIDS Prevention Program Management in Bogor City 2013. This research are descriptive qualitative research. The results showed that the scope of outreach has not reached the target key populations. Targeted use of sterile needles has reached the target, but the target of condom use can not be calculated. Inputs that used as program resources can be concluded that the amount is not appropriate for outreacher, puskesmas's staff and the Department of Health?s staff. The need for facilities such as logistics laboatorium very inadequate in terms of quantity. Willingness of government funds have not reached the 70% target of willingness. The planning process is divided into the APBD budget planning and GF budget planning, but did not integrated yet in musrembang. Monitoring and evaluation as KPAD control not functioning optimally. Recommendations for solving the problems is an increasing function KPAD, increasing the quantity and quality of resources, and program improvement.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
S55747
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meiwita Paulina Budiharsana
Jakarta: Pusat Penelitian Kesehatan - LPUI, 1996
305.2 MEI a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Dwi Setiawan
"Angka prevalens HIV&AIDS terus meningkat hampir di seluruh negara di dunia. Peningkatan kasus HIV&AIDS terkonsentrasi pada kelompok-kelompok berisiko, salah satunya adalah pengguna narkoba suntik (penasun). Bahkan peningkatan kasus HIV pada penasun terlihat di beberapa negara, seperti Cina, Malaysia, Vietnam, dan Uzbekistan. Tidak terkecuali, di Indonesia peningkatan kasus HIV pada penasun pada beberapa tahun terakhir terlihat semakin meningkat. Selain rentan tertular HIV akibat pemakaian jarum suntik bekas dan penilaku seks berisiko, penasun juga rentan menjadi kelompok jembatan bagi penularan HIV ke populasi umum melalui hubungan seks yang tidak aman ataupun penlaku seks berisiko.
Penelitian ini dilakukan dengan desain studi potong Iintang (cross sectional), dengan memilih sampel pada penasun yang pernah melakukan hubungan seksual. Besar sampel untuk analisis ini berjumlah 528 responden. Analisis data yang digunakan adalah regresi logistik ganda dan data sekxmder studi Behavior Surveilance Survey, tahun 2002, yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia dan PHI-ASA Indonesia.
Hasil studi mernperlihatkan bahwa proporsi penasun yang perilaku seksnya berisiko lebih besar dibanding penasun yang perilaku seksnya tidak berisiko. Proporsi penasun yang perilaku seksnya berisiko (76,5%), lebih besar dibanding yang tidak berisiko (23,5%). hasil analisis logistik menunjukkan bahwa perilaku seks berisiko pada pcnasun berhubungan dengan beberapa faktor, yaitu usia hubungan seks pertama kali, status pekerjaan,dan status pemikahan. Dari beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku seks berisiko tersebut, status pemikahan menunjukkan hubungan yang paling erat dan signiflkan secara statistik. Pcnasun yang berstatus menikah mempunyai perilaku seks berisiko Iebih besar tehadap kerentanan penularan HIV kepada istri atau pasangan tetapnya.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka perlu dilakukan upaya terhadap pencegahan penularan HIV yang lebih intensif khususnya pada kelompok penasun. Berbagai upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pemakaian kondom sebagai cara yang paling efektif untuk mengurangi risiko penularan HIV melalui hubungan seks (khususnya pada penasun), peningkatan program penyuluhan dan penyebaran informasi tentang bahaya narkoba dan HIV&AIDS di beberapa daerah, penyebaran informasi tentang bahaya narkoba dan HIV&AIDS di tempat-tempat kerja, peningkatan program detoksiiikasi dan rehabilitasi bagi pengobatan terhadap penasun untuk menghilanglcan ketergantungan narkoba, pengembangan program VCT (Voluntary Conseling and Testing) bagi penasun untuk melakukan tes HIV sehingga mengetahui status HIV terhadap dirinya dengan harapan bisa memproteksi diri untuk tidak menularkannya kepada orang lain termasuk istri atau pasangan tetapnya, dan pendekatan keagamaan untuk meningkatkan moral dan keimanan penasun sehingga terlepas dari jeratan narkoba dan ancaman bahaya HIV&AIDS.

The prevalence of HIV/AIDS numbers has increased in many countries in the world. The dramatic increase in the number of HIV/AIDS cases has concentrated to the high risk groups especially the injecting drugs users (IDUs). Many countries have experienced the increasing cases of HIV such as China, Malaysia, Vietnam, Uzbekistan and also Indonesia. Particularly in Indonesia, the increasing cases of HIV in injecting drugs users has raised rapidly for the last few years. This rests on fact that injecting drugs users are vulnerable to get HIV infection not only by using shared needles but also their sexual behavior that put them in high risk of HIV infection. Injecting drugs users are also vulnerable as a group that bridges HIV infection to the community either through unsafe sex or sexual behavior risk.
This research employed a cross sectional study design with injecting drugs users who have done sexual intercourse as the sample. Sample comprised 528 respondents. Data analysis that was used in this research was double logistic regression secondary data from the study of Behavior Surveillance Survey (2002) which was conducted by CHR Ul and FHI-ASA Indonesia.
The result showed that there is high proportion of IDUs whose sexual behavior are at risk compared with IDUs whose sexual behavior are not at risk. It was found that the proportion of IDUs whose sexual behavior are at risk is 76.5% while the proportion of IDUs whose sexual behavior are not at risk is 23.5%. Result from logistic analysis showed that the injecting drugs users’ sexual behavior risk related to several factors such as age when doing sexual intercourse for the first time, employment and maniage status. It can be mentioned that from those factors, marriage status has a strong connection and significant statistically. Married injecting drugs users are more likely to have the opportunity to infect HIV to their spouses or partners.
In this research, the findings are important in making intensive efforts to prevent from HIV infection especially in injecting drugs users group. Some efforts that can be done are by using condom as an effective way to reduce the risk of HIV infection through sex (especially in IDUs), increasing mass education program and providing infomation about the risk of using drugs and HIV/AIDS in certain locations, providing information about the risk of using drugs and HIV/AIDS in workplaces, increasing the detoxification and rehabilitation programs for IDUs to reduce drugs dependencies, developing VCT program for IDUs to do the HIV test so that they can know their HIV status in order to protect themselves and their spouses or partners from the HIV infection, and religious approach to increase moral and religious belief of IDUs so that they can release from drugs using and HIV/AIDS threaten.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2007
T32075
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Esy Maryanti
"Mikrosporidia merupakan emerging parasite pada manusia yang dapat menyebabkan kelainan intestinal, muskular, okular dan sistemik. lnfeksi mikrosporidia terutama terjadi pada penderita HIV/AIDS, dan yang sering dilaporkan yaitu mikrosporidiosis intestinal dengan gejala diare kronis dan wasting syndrome yang akan memperberat keadaan penderita AIDS. Di Indonesia sampai saat ini belum ada data-data mikrosporidia dan infeksi yang ditimbulkannya, sedangkan kasus HIV/AIDS makin bertambah secara cepat dan merupakan suatu ancaman global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi mikrosporidia pada penderita AIDS dengan diare kronis di Jakarta dan korelasi jumlah CD4 dengan densitas mikrosporidia. Sebanyak 126 sampel tinja penderita AIDS dengan diare kronis yang dirujuk ke Laboratorium Parasitologi FKUI dari berbagai Rumah Sakit di Jakarta dipcriksa dengan teknik pewamaan kromotrop standar dan quick-hot gram kromotrop dan dihitung dcnsitas spora mikrosporidia. Pada penelitian ini diperoleh prevalensi mikrosporidiosis intestinal sebesar 7,l% dengan pewarnaan kromotrop standar dan 6,3% dengan quick-hot gram kromotrop serta tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua teknik tersebut (p=l,00). Tcrdapat korelasi yang negatif antara densitas mikrosporidia dengan jumlah CD4 (p=0,00;r=-0,979). Dari penelitian ini dapat disimpulkan prevalensi mikrosporidia pada pendedta AIDS dengan diare kronis cukup rendah. Teknik pewamaan kromotrop standar dan quick-hot gram kromotrop dapat digunakan untuk mendeteksi mikrosporidia pada tinja. Pada penderita AIDS denganjumlah CD4 yang rendah didapatkan densitas miknosporidia yang tinggi.

Microsporidia is an emerging parasite in human which infect gastrointestinal tract, muscular, ocular and systemic. Microsporidia infection is primarily a disease of HIV/AIDS patients. Intestinal microsporidia is most common infection and associated with chronic diarrhea and wasting syndrome which worsened patient condition. Until now, there is no available data on this parasite in Indonesia. The objective of this study was to determine the prevalence of intestinal microsporidia among the AIDS patient with chronic diarrhoea in Jakarta and to determine the correlation between microsporidia?s density and CD4 count. A number of 126 stools from AIDS patients with chronic diarrhea referred to Parasitology Laboratory FKUI were examined by standard chromotnope staining and quick-hot gram chromotrope. The result showed the prevalence of intestinal microsporidia is 7.1% by standard chromotrope staining and 6.3% by quick-hot gram chromotrope. There is no significant difference between positive cases microsporidia (p=l.00). A negative correlation between the density of microsporidia and CD4 cell counts (p=0.00; r=-0.979) was observed. In conclusion prevalence of rnicrosporidia among AIDS patients with chronic diarrhoea is low. Standard chromotrope staining and quick-hot gram chromotrope can be used to detect microsporidia. The density of microsporidia was higher in patient with low CD4 cell counts."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T32315
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>