Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hanika Zahra Minerva Pertiwi
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas variasi negasi bahasa Jepang. Sumber data yang digunakan adalah komik berjudul Kobayashi ga Kawaii Sugite Tsurai! vol. 2. Alasan pemilihan komik itu adalah komik Kobayashi ga Kawaii Sugite Tsurai! vol. 2 mengandung varian negasi yang cukup beragam. Data yang dijaring dalam studi ini ialah ujaran-ujaran dalam komik yang mengandung negasi. Berdasarkan hasil analisis ditemukan enam tipe negasi, yaitu, (i) masenn, (ii) naii, (iii) nee, (iv) janee, (v) janeee dan (vi) jan. Penelitian ini mengidentifikasi variasi negasi dan karakteristiknya dengan menggunakan ancangan kualitatif dengan metode analisis data berdasarkan teori negasi Givon Tamly (1979) dan Dahl (1979). Konteks, dalam hal ini, latar belakang percakapan merupakan hal yang dipertimbangkan dalam menentukan makna dari variasi negasi. Hasil penelitian ini memperlihatkan variasi negasi bahasa Jepang secara fonologis dan negasi penggunaan berdasarkan faktor sosial.

ABSTRACT
This research analysis variation of negation in Japanese language. The source of this research is Japanese comic Kobayashi ga Kawaii Sugite Tsuraii! Vol.2. Reasons for selecting comic Kobayashi ga Kawaii Sugite Tsuraii! Vol.2 because it contains a considerable variety of negations. The collected data is spoken language which contains negations. Based on analysis results found six negations, (i) masenn), (ii) naii, (iii) nee, (iv) janee, (v) janeee and (vi) jan. This research identifies variation of negation and the characteristic by using qualitative design with analysis methods based on negation theory by Givon Tamly (1979) and Dahl (1979). Context in this problem, conversation background are two main points to understand the meaning of negations. The results of this research showing Japanese variation of negations phonogically and usage based on factor social."
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Munifah Sukma Zahara
"ABSTRAK
Tulisan ini membahas tentang film Kaze Tachinu dengan fokus kepada teknologi alat perang yang digunakan Jepang pada masa Perang Dunia II. Tujuan dari penelitian ini untuk menunjukkan bahwa film Kaze Tachinu sebagai media untuk mengkritik teknologi yang Jepang gunakan pada masa perang dunia II. Data yang digunakan untuk penelitian ini diambil dari salah satu film animasi Studio Ghibli berjudul Kaze Tachinu (2013). Agar analisis data terlihat dengan jelas, dilakukan pendeskripsian berdasarkan dialog dan beberapa adegan, lalu dianalisis dengan mengategorikan bagian realita dan fantasi di dalam film. Analisis yang dilakukan dalam penelitian menggunakan konsep fantasi dalam kesusastraan Jepang modern milik Susan J. Napier. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa teknologi pesawat yang digunakan Jepang pada masa perang justru membawa Jepang pada kehancuran.
Sedangkan penggunaan fantasi di dalam karya ini adalah sebagai bentuk subversif terhadap teknologi pesawat yang menghancurkan. Dengan demikian, keberadaan film ini dapat dimaknai sebagai kritik teknologi pada masa Perang Dunia II di Jepang.

ABSTRACT
This paper discusses film Kaze Tachinu by focusing on technology used by Japan during World War II. The objectives of this paper was to show that Kaze Tachinu was used as a medium to criticize the technology that Japan used during World War II. The data for this paper was collected from one of the animated films made by Studio Ghibli entitled Kaze Tachinu which was released in 2013. In order
to obtain the objectives of this research, the data was analyzed by describing dialogues and scenes, then analyzed bycategorizing which parts is reality and fantasy in the film. The analysis of this research used Fantasy Theory in modern Japanese literatures from Susan J. Napier. The results of this analysis show that aircraft technology used by Japan during the war were actually brought Japan to destruction. While the fantasy part in this film used as a form of subversity towards its destructive technology. Thus, the existence of this film functioned as a criticism of technology during World War II in Japan."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Glen Valentino
"ABSTRAK
Penelitian yang menggunakan metode pustaka ini membahas tentang pengaruh aspek martir Katolik dalam Pemberontakan Shimabara (1637-1638) di Semenanjung Shimabara. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidaksukaan bakufu era Tokugawa terhadap masuknya agama Katolik yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi Jepang saat itu. Agama Katolik dianggap dapat menggangu kesetiaan warga Jepang terhadap pemerintahan bakufu. Bakufu dan pengikutnya kemudian melakukan persekusi terhadap penganut ajaran Katolik hingga sampai ke Semenanjung Shimabara. Pemberontakan yang terjadi di Shimabara tersebut dipicu oleh mark-up harga tanah yang ditetapkan oleh daimyo Shimabara guna membangun kastel Shimabara sesuai dengan keinginan Bakufu Tokugawa. Seperti diketahui Bakufu Tokugawa meinginkan untuk membangun satu provinsi, satu kastel. Sebelum pemberontakan terjadi, warga Amakusa dan Shimabara menunjuk seorang anak remaja Katolik bernama Amakusa Shiro yang kisah hidupnya bagai legenda sebagai pemimpin pemberontakan. Pemberontakan Shimabara memakan hingga puluhan ribu korban, dari pihak bakufu maupun pemberontak hingga akhirnya baku hantam tersebut dimenangkan oleh bakufu. Amakusa Shiro bersama para pemberontak penganut ajaran Katolik berjuang untuk mempertahankan kepercayaan Katolik mereka hingga titik darah penghabisan. akhirnya Amakusa Shiro dan pengikutnya gugur di Kastel Hara sebagai seorang martir.

ABSTRACT
This research uses library study method to discuss the influence of Catholic s martyrdom in the Shimabara Rebellion (1637-1638) at the Shimabara Peninsula. This rebellion was triggered by the dislike of the Tokugawa era against the entry of Catholicism which was deemed incompatible with Japan s conditions at that time. Catholicism is considered to be able to disrupt the loyalty of Japanese citizens towards the Bakufu government. Bakufu and his followers persecuted Catholics as far as Shimabara Peninsula. The rebellion that took place in Shimabara was triggered by a mark-up of land taxes set by the Shimabara daimyo to build Shimabara castle in accordance with the wishes of the Tokugawa Bakufu. As is known, the Tokugawa Bakufu wanted to build one province, one castle. Before the rebellion occurred, residents of Amakusa and Shimabara appointed a Catholic teenage boy named Amakusa Shiro whose life story was like a legend as the leader of the rebellion. The Shimabara rebellion took up thousands of victims, from the Bakufu and the rebels, until finally the fight was won by Bakufu. Amakusa Shiro along with Catholic adherents struggled to maintain their Catholic beliefs until the last drop of blood. finally Amakusa Shiro and his followers died at Hara Castle as martyrs."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Faza Nadila
"ABSTRAK
Jurnal ini menjelaskan penggambaran salah satu budaya Jepang yaitu hubungan Senpai-Kouhai dalam manga Hataraku Saibou. Hataraku Saibou bercerita mengenai bagaimana sel antropomorfisme bekerja untuk menghidupi tubuh yang mereka diami. Hubungan senpai-kouhai yang ada di dalam manga tersebut ditampilkan oleh beberapa karakter di dalam manga. Chie Nakane dalam bukunya Japanese Society, dan Davies & Ikeno dalam teori senpai-kouhai menjelaskan bahwa hubungan tersebut dapat terlihat dalam bentuk gramatikal tertentu dalam bahasa Jepang. Teori tokoh dan penokohan milik Nurgiyantoro digunakan untuk mendukung data. Hubungan Senpai dan Kouhai dalam manga Hataraku Saibou terbentuk oleh rentang waktu pekerjaan sel dalam divisinya masing-masing. Dalam hubungannya dengan senpai, bila kouhai ingin mengutarakan opininya, mereka harus menggunakan bahasa sopan kepada senpai. Hubungan tersebut membuat mereka menjadi sosok yang lebih baik dalam
karakter dan pekerjaannya.

ABSTRACT
The journal explains the depiction of one of the Japanese cultures, namely the relationship between Senpai-Kouhai in the Hataraku Saibou manga. Hataraku Saibou tells about how anthropomorphic cells work to support the body they live in. The relationship between senpai-kouhai in the manga is displayed by several characters in the manga. Chie Nakane in her book Japanese Society, and Davies & Ikeno in senpai-kouhai s theory explain that the relationship can be seen in certain grammatical forms in Japanese. The theory of characters and characterizations belonging to Nurgiyantoro is used to support data. The relationship between Senpai and Kouhai in the Hataraku Saibou manga was formed by the time span of cell has worked in their respective divisions. In the relationship with Senpai, if kouhai wants to state their opinion, they must use polite language to Senpai. This relationship make them better
in their character and their work."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Siuli Hemas Saraswati
"ABSTRAK
Komunitas Kakure Kirishitan ditemukan pada masa Meiji ketika seorang pastor Perancis membangun Gereja di daerah Nagasaki setelah kaikoku (buka negara). Ketika hukum kebebasan beragama dikeluarkan pada tahun 1890, tidak semua orang dari komunitas ini mau kembali ke Gereja Katolik, dan memilih untuk hidup dengan agama yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Agama Kakure Kirishitan merupakan hasil sinkretisme antara agama Katolik pertengahan, Budhisme Jepang, Shinto, dan kepercayaan rakyat yang terjadi secara represi karena persekusi pada masa pemerintahan Tokugawa. Dengan menggunakan metode dekriptif analitis, kepustakaan, dan melihat agama sebagai hasil kebudayaan, penelitian ini bertujuan membahas konsep santo-santa Gereja Katolik yang dianut oleh umat Kakure Kirishitan, dan kekhasan yang timbul dari penganutan konsep tersebut dalam pemujaan leluhur yang membedakannya dengan pemujaan leluhur secara umum di Jepang. Kakure Kirishitan mengambil konsep orang kudus dari santo-santa yang digunakan untuk menguduskan leluhur mereka supaya dapat menjadi kami Kristen, dan berbeda dengan pemujaan leluhur yang bertempatan di kuil, tempat suci yang digunakan Kakure Kirishitan merupakan kuburan martir.

ABSTRACT
The Kakure Kirishitan community was discovered during the Meiji period when a French priest was building a Church in Nagasaki after Kaikoku (open country). When the law on religious freedom was issued in 1890, not all the people from this community wanted to return to the Catholic Church, and chose to live by the religion inherited from their ancestors. Kakure Kirishitan religion was the result of syncretism between medieval Catholicism, Japanese Buddhism, Shintoism, and popular belief which occurred in repression because of persecution during the Tokugawa administration. By using descriptive analytical method, literature review method, and seeing religion as a cultural outcome, this study aims to discuss the concept of Catholic Church s saints adhered to by the Kakure Kirishitan people, and the peculiarities that arise from the submission of these concepts in ancestral worship that distinguish them from ancestral worship generally found in Japan. Kakure Kirishitan took the concept of holiness from the saints which is used to sanctify their ancestors in order to become Christians Kami, and in contrast to the worship of ancestors who took place in temples, the sanctuary used by Kakure Kirishitan was a tomb of martyrs."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Maudina Aisya
"Pada tanggal 4 Juni 1942, Angkatan Laut Jepang mengalami kekalahan atas Amerika Serikat dalam pertempuran di Pulau Midway, Hawaii, Samudra Pasifik. Pertempuran Midway merupakan titik balik Perang Pasifik. Dalam pertempuran Midway, Angkatan Laut Jepang kehilangan empat kapal tempur mereka yaitu Akagi, Kaga, Hiryu, dan Soryu. Kekalahan Jepang diakibatkan oleh berhasilnya intelijen Amerika dalam memecahkan informasi rahasia Angkatan Laut Jepang, sehingga pihak Amerika dapat mengantisipasi serangan dan menyerang kembali pihak Jepang. Keberhasilan intelijen Amerika memecahkan informasi rahasia adalah kegagalan besar bagi pihak intelijen Angkatan Laut Jepang. Kegagalan tersebut disebabkan oleh; (1) pihak Angkatan Laut Jepang yang mengesampingkan faktor intelijen dalam setiap operasi pertempuran, (2) terdapat kendala bahasa karena pihak intelijen Angkatan Laut Jepang tidak memiliki staf yang fasih berbahasa Inggris, (3) arogansi Angkatan laut Jepang yang didasarkan oleh kemenangan sebelumnya dalam Penyerangan Pearl Harbour, sehingga Angkatan Laut Jepang kurang waspada dalam persiapan operasi penyerangan Midway.

On June 4th, 1942 Japanese Navy was defeated by the United States in Midway Atoll, Hawaii, Pacific. The Battle of Midway was a Pacific War turning point. In the Battle of Midway, Japan lost her four battleship Akagi, Kaga, Hiryu, and Soryu. The loss was caused by United States Intelligence s success in breaking the Japanese Navy secret code. Hence, the United States Navy managed to surmount strike and did counterattacks against the Japanese Navy. The United States Intelligence s success in breaking the code is a big loss for Japanese Intelligence. The cause of the failures are; (1) the Japanese Navy underestimated their own intelligence in every battle operation, (2) there were language barriers because Japanese Navy intelligence did not have any staff who is fluent in English, (3) Japanese Navy was arrogant after their previous victories in Pearl Harbor attack, so the Japanese Navy was not vigilant in preparing for the Midway attack operation."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library