Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 36 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bambang Sarjono Trenggono
"Latar Belakang Permasalahan
Karies gigi (gigi kerowok) adalah penyakit infeksi yang merupakan serangkaian reaksi-reaksi kimia dan mikro biologis yang dapat mengakibatkan kerusakan gigi secara progresf dan bersifat menetap. Keyes (dalam 7) mengemukakan bahwa ada 3 komponen yang saling bekerja sama dalam proses terjadinya karies gigi. Pertama adalah gigi dan ludah sebagai tuan rumah, kedua adalah mikraflara mulut dan yang ketiga makanan terutama karbonhidrat. Kerja sama ketiga komponen tersebut akan menghasilkan plak gigi (dental plaque), me rupakan substansi yang melekat erat pada permukaan gigi dan menyebabkan terbentuknya asam. Asam tersebut mengakibatkan terjadinya demineralisasi permukaan email gigi dan dengan demikian terbentuklah karies gigi. Oleh karena itu ketiga komponen tersebut harus dipertimbangkan dan diperhatikan dalam setiap langkah usaha pencegahan karies gigi.
"
1986
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Djamilah Tohirah
"Salah satu cara untuk mengevaluasi keberhasilan suatu perawatan gigi tiruan cekat adalah kesesuaian preparasi gigi dengan restorasinya. Untuk mendapatkan kesesuaian atau fitness tersebut perlu diperhatikan beberapa faktor, di antaranya prosedur-prosedur klinik dan laboratorium. Prosedur pencetakan di klinik seperti teknik, manipulasi dan jenis bahan cetak perlu diperhatikan. Prosedur laboratorium, seperti penggunaan dan teknik pengecoran bahan, pemasangan die dan model kerja di artikulator, harus teliti. Bila hal-hal tersebut diabaikan, dapat mengakibatkan kegagalan restorasi.
Bahan cetak alginat sering digunakan untuk membuat model pada perawatan prostodontik, model untuk gigi antagonis, model diagnostik dan model pada perawatan ortodonti. Keuntungan dari bahan cetak ini ialah manipulasinya mudah dan harganya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan bahan cetak yang lain. Tetapi bahan cetak tersabut mempunyai kelemahan, yaitu tidak dapat mereproduksi detail secara akurat. Pada beberapa keadaan yang memerlukan ketepatan dan kemampuan untuk mereproduksi semua detail yang kecil-kecil, misalnya pada die untuk pembuatan suatu casting, diperlukan suatu bahan cetak yang baik. Bahan cetak jenis elastomerik seperti silikon merupakan bahan yang mempunyai kestabilan dan keakuratan yang tinggi.
Berhubung harga bahan cetak elastomerik cukup mahal, maka dicari terobosan untuk mendapatkan cara mencetak dengan harga efisien tetapi dapat menghasilkan model kerja dan die yang cukup akurat, yaitu dengan menggunakan kombinasi bahan silikon dan alginat yang dilakukan secara pencetakan ganda.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kecermatan hasil cetakan yang diperoleh dari teknik pencetakan ganda dengan silikon dan alginat berdasarkan akurasi model kerja melalui fitness marginal dan titik kontak mahkota tiruan penuh."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
L.L. Winata
"ABSTRAK
Pada penelitian ini yang ingin diketahui kadar slg A whole saliva pada keadaan Debas karies dan karies aktif. Dengan mengetahui kadar slg A kita dapat memperkirakan kepekaan seseorang terhadap karies.
Subyek penelitian untuk bebas karies dan karies aktif masing 20 orang murid SD yang berumur 12 tahun, tanpa adanya penyakit - penyakit mulut lain. Sampel untuk sIg A diambil dari whole saliva tanpa rangsangan. Kemudian saliva disentrifuge 3000-4000 rpm selama Z0
menit. Saliva akan terpisah menjadi 2 bagian dan supernatan yang letaknya di atas digunakan pada penelitian ini. Penentuan kadar sIg A dilakukan dengan metoda imunodiffusi radial mepurut Mancini.
Dari hasil penelitian didapatkan kadar sIg A saliva pada kelompok karies aktif lebih tinggi dari pada kelompok bebas karies. Dengan uji t ( p = 0,05 ) didapatkan perbedaan kadar slg A tidak bermakna pada kedua kelompok tersebut.
"
1989
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vidya Carolyn Tjokrosetio
"Latar belakang: Karies pada gigi sulung antara usia 0-72 bulan dikenal sebagai Early Childhood Caries (ECC) dan merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi tinggi yang disebabkan oleh biofilm. Pada dekade terakhir, jamur Candida albicans banyak ditemukan bersama-sama dengan Streptococcus mutans dalam biofilm yang diambil dari plak gigi anak dengan ECC. Jamur C. albicans dapat meningkatkan derajat keparahan ECC. Pemahaman mengenai hubungan C. albicans dan S. mutans, memberikan perspektif baru untuk terapi yang efektif dalam mengkontrol ECC. Salah satu usaha untuk mencegah dan mengurangi tingkat ECC pada anak adalah dengan menggunakan bahan antimikroba. Bawang putih (Allium sativum) merupakan bahan herbal yang memiliki kemampuan antibakteri dan antijamur. Tujuan: Menganalisis efektivitas ekstrak bawang putih terhadap viabilitas biofilm Candida albicans anak ECC. Metode Penelitian: Penelitian dilakukan secara in vitro dengan isolat klinis dari plak gigi anak ECC. Ekstrak bawang putih dalam konsentrasi 10%, 25%, 50%, dan 100% dengan kontrol positif berupa CHX 0,2%. Uji viabilitas biofilm dilakukan dengan MTT assay. Hasil: Data statistik dianalisis dengan uji One Way ANOVA. Terdapat  perbedaan yang signifikan secara statistik dari viabilitas biofilm ekstrak bawang putih dibandingkan dengan kontrol negatif. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih efektif terhadap viabilitas biofilm Candida albicans.

Background: Dental caries on primary teeth in a child 72 of months age or younger is defined as Early Childhood Caries (ECC). ECC has a high prevalences and caused by biofilms. In the past decade, Candida albicans has been frequently detected together with S. mutans in oral biofilms collected from children with ECC. Candida albicans might enhance degree of ECC. Understanding of C. albicans and S. mutans relationship give a new perspective for effective therapy to control ECC. Antimicrobial agent can be used to prevent or as a therapy for ECC. Garlic (Allium sativum) is one of the traditional medicine that has antibacterial and antifungal effect. Purpose: To analyzed the effectivity of garlic extract against the viability of C.albicans biofilms in children with ECC. Method: Laboratorium research (in vitro), with plaque sample from children with ECC. Garlic extract in 10%, 25%, 50%, 100%, and CHX 0,2% as positive control. MTT assay were used to assess biofilms viability. Statistical data were analyzed with the One Way ANOVA test. Result: There was a statistically significant difference in the viability of C.albicans biofilms after garlic extract application. Conclusion: This study showed that garlic extract has a positive effect on the viability of C.albicans."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Handoko Tirta
"Xanthorrhizol yang di isolasi dari Temulawak dapat mempertahankan pH model biofilm in vitro selama 4 jam. Diketahui KBM ekstrak Temulawak terhadap S. mutans 25%.
Tujuan : Menganalisis efek ekstrak Temulawak 25% terhadap demineralisasi email yang terpapar biofilm S.mutans.
Metode : Model biofilm diperoleh dengan mengkultur S.mutans yang sudah ditanam dalam TYS broth selama 24 jam pada 6 well ?plate yang telah dilapisi pelikel. Ekstrak Temulawak dipaparkan pada model biofilm pada berbagai durasi antara 1-48 jam. Pengukuran pH menggunakan pH universal indicator. Model biofilm juga ditumbuhkan pada permukaan sample gigi. Pemaparan Ekstrak Temulawak dilakukan pada jam ke 16-20. Uji kekerasan mikro menggunakan indenter Knoop sebelum dan sesudah perlakuan.
Hasil : Sampai dengan jam ke 4, pH model biofilm yang terpapar Ekstrak Temulawak 25% tidak mengalami penurunan pH. Tidak terlihat efek Ekstrak Temulawak terhadap kekerasan permukaan email.
Kesimpulan : Ekstrak Temulawak 25% mampu menghambat penurunan pH biofilm, tetapi tidak berpengaruh terhadap demineralisasi email.

Xanthorrhizol isolated from Java turmeric is able to maintain the pH of biofilm model in vitro for 4 hours. It was known that MBC of Java turmeric extract was 25%.
Purpose: To analyse the effect of 25% Java turmeric extract on email demineralization exposed to S. mutans biofilm.
Methods: Biofilm model was obtained by culturizing S. mutans which was cultured on TYS Broth during 24 hours on 6 well- plates which was layered by pellicle. Java turmeric Extract was added to biofilm model at various duration between 1-48 hours. pH measurement using pH universal indicator. Biofilm model was also cultured at tooth sample surface. Java turmeric extract was added at 16-20 hours. Micro hardness test was conducted using Knoop indenter before and after the intervention.
Result : After 4 hours, the pH of biofilm model which was exposed to Java turmeric 25% was not decreasing. No difference was found on the enamel micro hardness between experiment and control groups.
Conclusion : Java turmeric 25% is able to prevent reduction of biofilm pH, but does not have effect on enamel demineralization.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T31042
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ferry Jaya
"Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh besar tekanan dan lama scrubbing terhadap kuat rekat geser self adhering flowable composite pada dentin. Self adhering flowable composite diaplikasikan dengan tekanan scrubbing 1, 2, dan 3 gram masing-masing selama 15, 20, dan 25 detik. Resin komposit diaplikasikan secara inkremental. Polimerisasi dengan sinar selama 20 detik. Kuat rekat geser diuji menggunakan Testing Machine dan dianalisa dengan ANOVA diikuti Post Hoc Test Bonferroni. Daerah patahan diobservasi menggunakan SEM. Kuat rekat geser tertinggi pada tekanan scrubbing 3 gram selama 25 detik. Perbedaan besar tekanan dan waktu saat scrubbing mempengaruhi kuat rekat geser self adhering flowable composite pada dentin.

Effect of different scrubbing pressure and duration on shear bond strength of self adhering flowable composite to dentin was evaluated. Self adhering flowable composite was applied on dentin with 1, 2, and 3 grams pressure for 15, 20, and 25 seconds. Composite was constructed incrementally. Polymerization for 20 seconds. Shear bond strength was tested with a Testing Machine and analyzed by ANOVA and Bonferroni. Fractured area was observed with a SEM. The highest shear bond strength was obtained in 3 grams scrubbing pressure for 25 seconds. The different scrubbing pressure and duration influenced shear bond strength of self adhering flowable composite to dentin.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T31132
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Benindra Nehemia Makes
"Latar belakang : Proses identifikasi selain merupakan hak asasi bagi korban bencana, juga penting untuk identifikasi individu yang masih hidup seperti kasus pemalsuan usia atlet, perebutan hak ahli waris, peradilan, dan perwalian anak, dimana kasus-kasus tersebut sering terjadi pada usia 9 sampai dengan 21 tahun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah prakiraan usia 9 sampai dengan 21 tahun dapat ditentukan dari analisis radiografis ruang pulpa dengan metode TCI dan dapat dikaitkan dengan studi analisis histologis jumlah sel odontoblas dan sel fibroblas pada ruang pulpa daerah koronal.
Metode : Radiograf diambil dari 148 orang laki-laki dan perempuan dengan gigi premolar satu rahang bawah normal pada usia 9 sampai dengan 21 tahun yang datang ke Klinik Radiologi, Klinik Ortodonsia, dan Paviliun Khusus RSGMP FKG-UI. Tinggi mahkota (CH) dan tinggi ruang pulpa pada mahkota (CPCH) dihitung menggunakan analisis Tooth Coronal Indeks (TCI). Kemudian, dilakukan pencabutan gigi untuk selanjutnya dibuat sediaan histologi untuk menghitung jumlah sel odontoblas dan sel fibroblast.
Hasil : Terdapat perbedaan bermakna antara usia dengan hasil analisis TCI (p<0.05) dengan persamaan prediksi: Usia prediksi = 29,16 + (-0,4)TCI (r2 = 0,6407).
Kesimpulan : Metode TCI dapat diterapkan untuk prakiraan usia 9 - 21 tahun. Sedangkan analisis histologis jumlah sel odontoblas dan sel fibroblas di daerah koronal ruang pulpa dapat dikaitkan dengan usia.

Background : Age estimation for identification is not only limited for the deceased at some cases it can also be used to identify living individuals like a case of falsification age of the athlete, the struggle for the rights of heirs, justice, and child custody, where these cases are common in the age of 9 to 21 years. The study was conducted to determine whether the age estimation of 9 to 21 years can be determined from the analysis of pulp chambers radiographically by the method of TCI and can be associated with the study of histological analysis of odontoblas cell and fibroblasts cell number in the coronal pulp chamber.
Methodology : Dental radiograph sample of normal lower-first premolar was taken from 148 patients which age are 9 to 21 years old who had attended the Radiology clinic, Orthodontia clinic, and Paviliun Khusus of Faculty of Dentistry Universitas Indonesia. Coronal Height (CH) and Coronal Pulp Cavity Height (CPCH) measured by Tooth Coronal Indeks (TCI) analysis. Then, the extraction of teeth for subsequent histological preparations made to count the number of odontoblas cells and fibroblast cells.
Result : There was a significant difference between the age with the TCI analysis result (p<0.05) and obtain the prediction equation: Predicted age = 29,16 + (- 0,4)TCI (r2 = 0,6407).
Conclusion : TCI method can be applied to estimate the age of 9 to 21 years. While the histological analysis of odontoblas cell and fibroblasts cell numbers in the coronal pulp chamber can be associated with age."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2012
T30480
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Octarina
"ABSTRAK
Sandblasting dilakukan pada permukaan restorasi veneer indirek resin komposit
sebelum direkatkan pada email menggunakan resin semen Multi-step dan
SADRC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh durasi sandblasting
terhadap kuat rekat geser veneer indirek resin komposit yang direkatkan pada
email. Pengujian kuat rekat geser menggunakan Universal Testing Machine,
kemudian analisa patahan dengan Stereomicroscope dan Scanning Electron
Microscope. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grup resin semen Multi-step
menghasilkan kuat rekat geser yang lebih tinggi dan berbeda bermakna
dibandingkan grup SADRC. Durasi sandblasting yang berbeda, tidak memberikan
perbedaan nilai kuat rekat yang bermakna baik pada grup resin semen Multi-step
maupun SADRC.

BSTRACT
Sandblasting was performed on the surface of indirect composite resin veneer
(VIRK) restorations before bonding to enamel using Multi-step resin cement and
SADRC. The purpose of this study was to determine the effect of sandblasting
duration on Shear Bond Strength (SBS) of VIRK bonded to enamel. Shear Bond
Strength test was done using Universal Testing Machine, failure analysis was
evaluated using Stereomicroscope and Scanning Electron Microscope. The results
showed that VIRK cemented with Multi-step produces higher SBS and
significantly different than VIRK cemented with SADRC. Sandblasting duration
did not influence SBS value of VIRK cemented with Multi-step and SADRC."
2012
T 30340
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Syahrial
"Latar belakang: Tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut dan status gigi tiruan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia. Namun, belum ada alat ukur tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut di Indonesia.
Tujuan: Mendapatkan alat ukur tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut, menganalisis hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut dan status gigi tiruan terhadap kualitas hidup lansia.
Metode: Cross-sectional pada 101 lansia. Pencatatan data dan pemeriksaan intraoral. Wawancara pengisian kuesioner tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut dan kualitas hidup lansia.
Hasil: Uji validitas dan reliabilitas menunjukkan hasil yang baik. Jenis kelamin (p=0.000), tingkat ekonomi (p=0.004), letak geografis (p=0.000), dan OHI-S (p=0.013) memiliki hubungan bermakna terhadap tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut. Tingkat ekonomi (p=0.006) dan OHI-S (p=0.001) memiliki hubungan bermakna terhadap kualitas hidup. Hanya 24 subyek yang menggunakan gigi tiruan.
Kesimpulan: Diperoleh alat ukur tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut yang valid dan reliabel. Di pedesaan tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut dan permintaan gigi tiruan yang rendah dibandingkan dengan di perkotaan. Faktor yang paling mempengaruhi kualitas hidup lansia adalah OHI-S dan tingkat ekonomi.

Background: The level of knowledge of oral health and dental denture status is a factor that affects the quality of life of the elderly. However, there is no measuring instrument level of knowledge of oral health that have been estabelished in Indonesia.
Objective: Obtaining measuring instruments of oral health knowledge, analyzing the correlation between oral health knowledge, denture status on quality of life of the elderly.
Methods: Cross-sectional study in 101 elderly. Data recording and intraoral examination. Interview questionnaire for oral health knowledge and quality of life of the elderly.
Results: Validity and reliability showed good results. Gender (p=0.000), economic level (p=0.004), geographic factor (p= 0.000), and OHI-S (p=0.013) statistically siqnificant to the level of knowledge of oral health. Economic level (p=0.006) and OHI-S (p=0.001) statistically significant to quality of life. Only 24 subjects wear denture.
Conclusion: Obtained level measuring instruments dental oral health knowledge valid and reliable. In rural areas have a level of knowledge of oral and dental health of denture demand lower than in urban areas. The factors that most affect the quality of life of the elderly is OHI-S and economic levels.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moch. Atmaji W.
"Latar Belakang: Sidik bibir bervariasi pada setiap individu. Populasi Indonesia bervariasi dan penelitian mengenai sidik bibir pada populasi Indonesia belum pernah dilakukan.
Tujuan: Untuk mengetahui pola dan dimorfisme seksual sidik bibir populasi Indonesia.
Metode: Dilakukan pemeriksaan oleh 5 peneliti dengan menggunakan lup 3,5 dioptri pada 583 responden. Dilakukan analisis perbedaan pola sidik bibir pada populasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur, serta dimorfisme seksual sidik bibir pada kedua populasi tersebut.
Hasil dan Kesimpulan: Pola sidik bibir populasi Indonesia Barat dan Timur khas tidak mirip dengan pola sidik bibir pada populasi lain serta tidak terdapat dimorfisme seksual sidik bibir pada populasi Indonesia.

Background: Lip Print has a variation on each Individual. Indonesian population is diverse and research about lip print in Indonesian population has not been done.
Aim: Identifying type of lip print in Indonesian population and differences between gender.
Methods: Material methods 583 subject examined by five researcher using 3,5 dioptri magnifying glass and analyzed difference type and sexual dimorphism of lip print in East and West Indonesian population.
Result and summary: West and East Indonesian population lip print has a characteristic and do not like type of lip print in another population in the world and there is no sexual dimorphism in Indonesian population.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>