Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hetreda Terry
"Alexander Jacob Patty (A.J.Patty) lahir lahir tangal 30 September 1890 di pulau Banda dan meninggal tahun 1952 di Bandung. Perjuangannya dalam organisasi Sarekat Ambon (SA) dimulai sejak berdirinya organisasi tersebut pada tanggal 9 Mei 1920 di kota Semarang Jawa Tengah. Ideologi yang dimilikinya bersumber pada ideologi Indicshe Partij dari E.F.E.Douwes Dekker, yaitu perjuangan untuk kemerdekaan penduduk Hindia dari cengkeraman penjajahan. Organisasi SA bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di residensi Ambon. Untuk merealisasi tujuan itu, maka pada rapat pengurus pusat SA bulan Maret 1923 di Batavia (Jakarta), diputuskan A.J.Patty harus berangkat ke Ambon mempropagandakan ide-ide SA kepada masyarakat di sana.
Sebagai seorang ahli propaganda yang handal, Ia memiliki pemikiran-pemikiran yang cerdas, dan mampu menarik hati banyak orang yang kemudian menjadi pengikutnya. Kelebihannya, yakni dalam setiap pertemuan dengan masyarakat, Ia menggunakan bahasa yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi masyarakat di alam penjajahan. Kondisi yang tidak bebas dan serba diatur. Oleh karena itu kepada masyarakat selalu ditekankan perlunya persatuan dan kesatuan di antara seluruh masyarakat Ambon. Untuk itu ia mengajak masyarakat di kepulauan Ambon-Lease untuk bergabung dalam organisasi SA, bergandengantangan melangkah memperjuangkan kesejahteraan hidup bersama.
Upaya nyata di kepulauan Ambon-Lease, dilakukan dalam bentuk proles terhadap kenaikan uang sekolah dan penggabungan beberapa sekolah dasar ke dalam HIS, terlibat langsung dalam pendirian sekolah SA di Saparua yang dipimpin oleh J.D.Putiray serta mendirikan toko koperasi: Dengan adanya propaganda dari tokoh-tokoh SA dan semakin bertambahnya anggota, mulai nampak perubahan sikap penduduk dalam melakukan kewajibannya, seperti penundaan pembayaran pajak, bahkan di beberapa negeri ada sikap menentang kepala negeri dan pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan tidak melakukan kerja wajib di negeri. Pemerintah kemudian menyimpulkan bahwa kesetiaan masyarakat menurun akibat propaganda yang dilancarkan oleh A.J_ Patty dengan SA-nya.
Dengan melihat kenyataan itu, para kepala negeri melalul organisasi Regentenbond mengajukan pengaduan kepada Residen, bahwa A.J.Patty harus diusir karena melanggar adat setempat dengan sexing melakukan rapat di negeri-negeri. Namun Residen tidak memiliki otoritas, karena tidak ada UU yang melarang hal itu. Setiap tindakan A.J. Patty terus diawasi. Kehadirannya bersama beberapa teman di rumah keluarga H. Rumarusun di Benteng (sebuah desa di pinggiran kota Ambon) yang menurut polisi sebagai tempat penyimpanan, penjualan minuman beralkohol, dijadikan alasan untuk menangkap A.J.Patty yang kemudian disingkirkan dari Ambon. Dengan terusirnya A.J.Patty dari Ambon, maka secara tidak Iangsung telah gagal memperjuangkan tujuan organisasi SA yaitu meningkatkan kesejahteraan penduduka di residensi Ambon. Sekalipun secara fisik perjuangan A.J.Patty tahun 1923-1924 di kepulauan Ambon-Lease gaga!, tetapi telah berhasi[ menanamkan ide-ide SA. Hal itu dapat dibuktikan dengan terus berkembangnya SA sampai tahun 1942.
Sebenarnya tidak ada kesalahan yang sangat serius yang dilakukan A.J. Patty sehingga harus diusir, tetapi pada waktu itu gubernur jenderal mempunyai hak exrobitan, yaitu hak untuk menangkap atau mengasingkaan seseorang yang dianggap membahayakan keamanan dan ketertiban umum. Pada tanggal 9 Januari 1925 keluar SK untuk mengasingkan A.J.Patty ke Bengkulu (Sumatera Selatan). Dari Bengkulu la dipindahkan berturut-turut ke Palembang, Flores, Bauven Digul dan terakhir Australia. Kembali ke Indonesia tahun 1946 dan tinggal di Yogyakarta. Di Yogyakarta mendirikan Partai Politik Maluku (PARPIM) sebagai wadah untuk turut dalam perjuangan. Selain itu bersama tokoh-tokoh lainnya yang berasal dad Maluku seperti Mohammad Padang, dr. Siwabessy, dr. Small() dan J.D. Syaranamual terus memperjuangkan kepentingan Maluku dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sampai akhir hayatnya A.J.Patty tetap aktif dalam kegiatan politik."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2001
T9485
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yulius Aris Widiantoro
"Pembahasan mengenai filsafat tidak akan pernah menarik tanpa menghadirkan sosok Nietzsche di dalamnya. Kehadiran Nietzsche dalam pentas filsafat membuka kebuntuan cara berpikir manusia dalam mengartikan eksistensi hidup. Itu sebabnya filsuf pasca Nietzsche mengaku berhutang budi dan mengklaim dirinya sebagai penerus dari cita-cita mulia Nietzsche yaitu hidup tanpa diintervensi oleh gagasan transcendental. Kehadiran Nietzsche dengan konsep tentang kematian Tuhan yang melahirkan konsep nihilisme adalah terobosan baru yang dengan berani menembus jantung kekristenan. Kematian Tuhan adalah sebuah cara untuk mengatakan bahwa manusia tidak lagi mampu mempercayai tatanan kosmis apapun dan juga sebagai wujud penolakan terhadap nilai-nilai mutlak yang mengandung keyakinan akan suatu hukum moral yang obyektif dan universal, yang mengikat semua individu. Seruan Tuhan sudah mati menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tertentu Tuhan dibiarkan berkeliaran berlagak memerintah serta mengatur manusia. Manusia masa lampau belum memiliki kemampuan membunuh Tuhan. Zaman telah berubah, manusia kini mempunyai keberanian besar untuk membunuh Tuhan. Melalui gagasan provokatifnya ini, Nietzsche bertujuan menyodorkan nilai baru di mana Tuhan tidak lagi berperan sebagai standard moral yang sublim. Melepaskan kepercayaan kepada Tuhan akan membuka jalan bagi kemampuan-kemampuan kreatif manusia untuk berkembang sepenuhnya. Tuhan yang diyakini sebagai credo bagi manusia dengan segala perintah dan laranganNya yang sewenang-wenang, tidak akan lagi menghalangi perilaku manusia, sehingga manusia boleh berhenti mengalihkan mata mereka kepada wilayah adikodrati dan mulai mengakui nilai dari dunia ini. Sebenarnya gagasan tentang nihilisme tidak lain adalah keruntuhan nilai-nilai transcendental di mana Tuhan tidak lagi berperan sebagai sumber dari semua aturan moral. Tidak dapat dipungkiri memang munculnya nihilisme menjadi ancaman bagi stabilitas atau paradigma yang selama ini menjadi struktur bangunan berpikir, khususnya bagi mereka yang menyebut dirinya 'para penjaga moral'. Namun bagi para pengagum fanatik Nietzsche justru mengapresiasi kehadiran filsafat yang diusung Nietzsche sebagai babak baru yang mendorong manusia supaya mampu melepaskan cara berpikir yang selama ini terperangkap dalam perburuan serius mencari kebenaran. Tradisi filsafat Barat yang banyak terpengaruh oleh kekristenan telah mengurung manusia dalam paradigma-paradigma naif yang kerapkali meremehkan kualitas hidup. Manusia digiring untuk mengalihkan hidup hanya pada wilayah adikodrati dengan jalan memungkiri realitas inderawi. Bagi Nietzsche kondisi semacam ini merupakan bencana besar bagi kelangsungan hidup manusia, karena dunia ini hanya akan dihuni oleh manusia-manusia pengecut yang tidak mampu mengeksplorasi potensi vitalnya. Potensi fundamen ini oleh Nietzsche dikonfigurasikan dalam Übermensch yang secara hurufiah berarti manusia harus menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri. Manusia punya kebebasan mutlak yang bersifat auto determinasi (penentuan aku oleh aku). Kata "aku" di sini adalah aku sebagai subyek dan sekaligus obyek, artinya yang menentukan adalah aku dan yang ditentukan juga adalah aku. Melalui kebebasan yang auto determinasi itulah, manusia memiliki kemampuan berkehendak dan memilih. Dengan kata lain kebebasan adalah aktualisasi dari unsur keakuan yang bersemayam dalam diri manusia dan selalu terekspose melalui kesadaran dan perbuatannya. Adanya prinsip keakuan, berarti apa yang aku alami tentang diriku tidak terbuka oleh intervensi Tuhan yang bungkus dalam sistem kepecayaan dan moralitas.

The discussion on philosophy will never be attractive without the presence of Nietzsche in it. The presence of Nietzsche in philosophy has opened the broadness of how mankind thinks in defining the existence of life. For this reason, philosophers' pasca Nietzsche admitted he owed his life and claimed himself as the generation of Nietzsche's ambition to live without the intervention of the transcendental ideas. The presence of Nietzsche with his concept on God's death has given birth the nihilism concept that is a new gateway by bravely penetrating the Christian heart. God's death is a method to express that humans no longer are capable to believe on the cosmic system in any way and refusing the absolute values containing the belief where there is an objective and universal moral law which abides all individuals. God's appeal has perished thus showing that at a certain time, God is left roaming around as if ordering or controlling the humans. Humans in the past have not possessed the capability to kill God. The era has changed; humans now have the big courage to kill God. Through this provocative idea, Nietzsche aims to present a new value where God is no longer playing the role as the sublime moral standard. Releasing the belief to God will open the paths for the human creativities to fully develop themselves. God believed as the credo for humans with all His authorities on orders and prohibition will not prevent the humans' characteristics so that humans may stop to move their eyes to the omnipotence and start admitting the values of this world. Actually, the idea of nihilism is only the collapse of the transcendental values where God is no longer plays the role as the source of all moral rules. It could not denied that there is nihilism as a threat to the stability or paradigm which is always as become the structure of thoughts, particularly for those who states themselves as "the protector of morals". But for the fanatics of Nietzsche, this in turn has appreciated the philosophy spearheaded by Nietzsche as the new era to push humans as to relieve the ways of thinking as the trap in seriously searching the truth. The Western philosophical traditions much influence by the Christianity has brought humans in the naïf paradigms which often belittles the quality of life. Humans are brought to changes their lives only for the omnipotence by avoiding the sense of reality. For Nietzsche, this type of condition has become a big disaster for the continuity of humans' lives, because this world is only occupied by the coward people who are not capable to explore its vital potentials. This fundamental potential by Nietzsche is configured in Ubermensch which literally means humans must become their own Gods. Humans have the absolute liberty characterizing the auto determination (determination of myself by myself). The word "myself" here as a subject and at the same time as an object, meaning that who determines is myself and what is determined is myself. Through this auto determination liberty, humans possess the will and choice. In other words, liberty is the actuality of the myself element within the humans and is always exposed through the consciousness and actions. With the myself principles, this will mean what I have experienced on myself is not opened by God's intervention through the belief and moral systems."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
T26261
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library