Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
Tara Prathita
Abstrak :
Latar Belakang: Enterococcus faecalis merupakan faktor etiologi utama pada lesi periapeks yang persisten dan mampu bertahan dari preparasi kemomekanis pada saluran akar. Oleh karena itu, untuk menghilangkan mikroba yang terisa dalam saluran akar, harus dilakukan pengisian saluran akar secara tiga dimensi dengan siler yang bersifat antimikroba. Siler kalsium hidroksida dan mineral trioxide aggregate bersifat biokompatibel dan keduanya melepaskan ion hidroksil yang dapat menciptakan suasana basa sehingga memberikan daya antimikroba. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan daya antimikroba siler mineral trioxide aggregate dan kalsium hidroksida terhadap E.faecalis pada waktu segera, 1 hari dan 7 hari setelah pengadukan siler.
Metode: Daya antimikroba siler MTA dan Ca(OH)2 terhadap E.faecalis (ATCC 29212) diperiksa dengan direct contact test (DCT). Masing-masing siler saluran akar disiapkan dan dikontakkan langsung dengan E.faecalis pada waktu segera, 1 hari dan 7 hari setelah pengadukan siler, kemudian diberi medium BHI broth. Suspensi mikroba dituang pada plat agar dan diinkubasi selama 24 jam, setelah itu dihitung jumlah koloni mikroba yang tumbuh (CFU/ml). Analisis data dengan uji one way Anova dan Post Hoc.
Hasil: Siler MTA pada waktu 1 hari dan 7 hari setelah pengadukan siler dapat mengurangi jumlah koloni mikroba paling baik, tidak berbeda bermakna dengan siler Ca(OH)2 pada waktu 1 hari setelah pengadukan siler.
Kesimpulan: Siler MTA memiliki daya antimikroba terhadap E.faecalis yang lebih konstan dibandingkan siler Ca(OH)2. Sedangkan, siler Ca(OH)2 memiliki daya antimikroba yang menurun setelah 1 hari pengadukan siler. Daya antimikroba paling tinggi terhadap E.faecalis dihasilkan oleh siler MTA pada waktu 1 hari dan 7 hari setelah pengadukan siler serta siler Ca(OH)2 pada waktu 1 hari setelah pengadukan siler.
......Background: Enterococcus faecalis plays a significant role in the etiology of persistent periapical lesion and can survive from chemomechanical preparation of the root canal. Therefore, three-dimensional obturation of the root canal with sealers that have antimicrobial activity must be performed to completely eliminate microorganisms from the root canal. Calcium hydroxide and mineral trioxide aggregate sealers are biocompatible and able to release hydroxyl ion thus creating alkaline environment that is responsible for their antimicrobial properties. The aim of this present study was to evaluate the antimicrobial activity of mineral trioxide aggregate and calcium hydroxide sealer on E.faecalis after different periods of contact time (fresh, 1 day, 7 day after sealer preparation).
Methods: Antimicrobial activity of MTA and Ca(OH)2 sealer on E.faecalis (ATCC 29212) was assessed by direct contact test (DCT). Each sealer was prepared and directly exposed to E.faecalis immediately, 1 day and 7 day after sealer preparation, and BHI broth medium was added. The microbial suspension was poured in the blood agar plates and incubated for 24 hours. The colonies grown on the plates were counted (CFU/ml). The data were analyzed with one way Anova and Post Hoc test.
Results: MTA sealer on 1 and 7 day after sealer preparation was greatest at diminishing microbial colonies with no significant difference with Ca(OH)2 sealer on 1 day after sealer preparation.
Conclusion: MTA sealer had constant antimicrobial activity on E.faecalis compared to Ca(OH)2 sealer. On the other hand, Ca(OH)2 sealer possessed decreasing antimicrobial activity overtime. Greatest antimicrobial activity on E.faecalis was provided by MTA sealer on 1 and 7 day after sealer preparation and Ca(OH)2 sealer on 1 day after sealer preparation.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2013
T566248
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Tara Prathita
Abstrak :
Aloe vera memiliki sifat antibakteri karena kandungan senyawa fenolnya. Porphyromonas gingivalis merupakan agen penyebab dominan pada penyakit periodontal. Tujuan penelitian ini untuk menguji efek antibakteri infusum daging Aloe vera terhadap Porphyromonas gingivalis (in vitro). Dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi dan infundasi untuk menarik senyawa aktif antibakteri dalam Aloe vera. Uji antibakteri dilakukan melalui metode dilusi (KHM dan KBM) dan difusi (zona hambat). Infusum daging Aloe vera terbukti mengandung senyawa fenol dan tanin. Hasil metode dilusi menunjukkan nilai KHM sebesar 80% dan nilai KBM tidak dapat ditentukan. Hasil metode difusi menunjukkan zona hambat tertinggi sebesar 1,75 mm pada konsentrasi 50% dan 90%. Kesimpulan, infusum daging lidah buaya hanya memiliki sifat bakteriostatik terhadap Porphyromonas gingivalis strain standar ATCC 33277, in vitro.
Aloe vera has been known to possess antibacterial properties because of its phenolic compound. Porphyromonas gingivalis is a dominant etiological agent of periodontal disease. The aim of this study was to examine the antibacterial effect of Aloe vera leaf pulp on rphyromonas gingivalis (in vitro). Extraction of Aloe vera was performed using maceration and infusion method to attract antibacterial active compounds in Aloe vera. The antibacterial test was carried out by applying dilution technique (MIC and MBC values) and diffusion technique (inhibitory zones). Aloe vera leaf pulp infuse revealed the presence of phenol and tannin. The result of dilution method showed that MIC value was at 80% concentration and MBC value could not be determined. The largest inhibitory zone resulting from diffusion method was 1,75 mm at 50% and 90% concentrations. Conclusion, Aloe vera leaf pulp infuse has only bacteriostatic effect on Porphyromonas gingivalis standard strain ATCC 33277, invitro.
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open Universitas Indonesia Library