Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ratna Mutu Manikam
"Bisnis telekomunikasi berbasis teknologi ADSL rnerupakan teknologi komunikasi data dan suara yang dapat dipakai bersamaan. Dalam kenyataannya ADSL belum banyakdirnanfaatkan oleh masyarakat luas terutama pelanggan perumahan.Hal ini dikarenakan ADSL belum banyak dlketahui oleh masyarakat luas, terbukti dari hasil survey terhadap masyarakat Jakarta bahwa sekitar 30% responden menyatakan telah mengetahui dan mengenal ADSL dan hanya 10% responden yang telah memanfaatkan dan menggunakan ADSL. Dengan menganalisa data yang ada ( IFAS, EFAS, SWOT, Grand Strategy) berada pada kuadran I dengan nilai intemal +1,778 dan ekstemal +1,82l sehingga diperoleh kesimpulan bahwa PT Telkom Jakarta Barat harus menerapkan Strategy Agresif . Dari analisa matrik profil kompetitif didiperoleh selisih sebesar 0,74 yang masing-rnasing PT Telkom diperoleh skor 3,60 lebih unggul dibandingkan dengan skor pesaingnya sebesar 2,86. Namun dari 7 faktor strategis yang dinilai terhadap pesaing terdapat 3 faktor strategi yang dianggap lemah diantaranya masalah layanan service center, bandwidth dan inovasi penjualan produk. Prioritas strategi pemasaran yang lebih dulu dilaksanakan adalah penyesuaian kebijakan tarif, diikuti dengan peningkatan jangkauan jaringan dan kualitas layanan serta melaKukan promosi yang agresif dan inovatif.

Teleeomunication business based on ADSL technology is an application of both data communication and voice. In the same telecommunication line. Currently ADSL has not been commonly used in the family household. ADSL is not commonly known by the customer. Based on the market survey in Jakarta, about 30% of the respondents have known and be are of ADSL and only 10% of respondents have used ADSL. By analyzing currently available data (IFAS, EFAS, SWOT, Grand Strategy). That is inside quadrant I with intemal value of + 1,778 and extemal value of +l,82 1, It can be concluded that PT Telkom Jakarta Barat must apply agresive strategy. From the analysis of matrix of competition profile the score of PT Telkom is 3,60 wich is better than its competitor. But from 7 strategy factors that are compared to the competitor there 3 strategic factors that are problematic weak service center, bandwith and inovation of product sales. Priority of marketing strategy that must be implemented first is the tariff policy, then followed by improvement of network coverage and quality of service, also agresive and innovation promotion."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
T16116
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Mutu Manikam
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
TA3231
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Mutu Manikam
"ABSTRAK
NamaProgram StudiJudulPembimbing::::Ratna Mutu ManikamIlmu Kesehatan MasyarakatKonsumsi Makanan Siap Saji dan Faktor Lain PenyebabKejadian Kegemukan dan Obesitas pada Siswa di SMP Islam AlAzhar 2 Jakarta Tahun 2018Prof. Dr. dr. Kusharisupeni Djokosujono, M.ScKegemukan dan obesitas pada remaja memiliki dampak yaitu meningkatan risiko terhadap berbagaipenyakit kardiovaskular dan hipertensi. Salah satu penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas adalahgaya hidup modern dengan pola makan yang tidak sehat seperti sering mengkonsumsi makanan siap saji.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsumsi makanan siap saji dan faktor lain penyebab kejadiankegemukan dan obesitas pada siswa. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan metodepengambilan data total sampling dengan jumlah sampel 172 siswa. Pengumpulan data dilakukan denganmelakukan pengukuran antropometri, pengisian kuesioner dan recall 2x24 jam . Pengolahan dan analisisdata menggunakan uji chi square bivariat dan regresi logistik ganda model faktor risiko multivariat .Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kegemukan dan obesitas pada siswa sebesar 40.7 . Hasiluji chi square menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian kegemukan dan obesitas pada siswaberdasarkan konsumsi makanan siap saji p=0.01 , jenis kelamin p=0.008 , aktivitas fisik p=0.001 ,kebiasaan sarapan p=0.01 , asupan protein p=0.006 , durasi tidur p=0.001 , dan besar uang jajan p=0.001 . Hasil uji regresi logistik ganda model faktor risiko menunjukkan bahwa konsumsi makanan siapsaji merupakan faktor risiko penyebab kejadian kegemukan dan obesitas pada siswa setelah dikontrol olehvariabel kebiasaan sarapan dan besar uang jajan. Mengubah pola makan menjadi gizi seimbang sangatpenting sebagai upaya pencegahan kegemukan dan obesitas pada remaja.Kata kunci:Kegemukan, Obesitas, Makanan Siap Saji, Remaja

ABSTRACT
NameStudy ProgramTitleCounsellor Ratna Mutu ManikamPublic Health of ScienceFast Food Consumption and Other Factors Causes Overweightand Obesity in Students at SMP Islam Al Azhar 2 JakartaProf. Dr. dr. Kusharisupeni Djokosujono, M.ScOverweight and obesity in adolescents has affects increase of cardiovascular disease and hypertension. Amodern lifestyle with an unhealthy intake is one of causes overweight and obesity. The purpose of thisstudy is to identify fast food consumption and other factors causes overweight and obesity. This study wasa cross sectional design with total sampling technique 172 sample . Data collection consist ofanthropometric measurements, filling out the questionnaire, and recall 2x24 hour . Data analysis using chisquare test bivariat and multiple logistic regression risk factor model multivariat . The prevalence ofoverweight and obesity in adolescents was 40.7 . Fast food consumption p 0.01 , gender p 0.008 ,physical activity p 0,001 , breakfast habit p 0,01 , protein intake p 0.006 , sleep duration p 0.001 ,and pocket money p 0,001 had a significant relationship with overweight and obesity. Fast foodconsumption is associated with overweight and obesity after being controlled with breakfast habit andpocket money. Consumption of food with balanced nutrition is important as an effort to prevent overweightand obesity in adolescents.Keywords Overweight, Obesity, Fast Food, Adolescents"
2018
T51042
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Ratna Mutu Manikam
"Glucagon-like peptide-I (GLP-I) adalah hormon yang disekresikan oleh sel usus yang berfungsi untuk menurunkan kadar glukosa setelah makan, serta peran tersebut masih dapat dipertahankan pada keadaan diabetes metitus (DM). Sekresi GLP-I di usus dapat ditingkatkan oleh hasil fermentasi dari ftuktooligosakarida (FOS). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian FOS terhadap kadar GLP-I dan glukosa darah dua jam posprandial (2 JPP) pada DM tipe 2. Penelitian ini merupakan studi pre-post test design pada pasien DM tipe 2 yang berobat jalan. Sejumlah 33 orang pasien menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini, dan di akhir penelitian terdapat 30 subyek (90,9%) yang mengikuti penelitian ini hingga selesai. Subyek diberikan 10 gram FOS satu kali per hari selama empat minggu berturut-turut disertai dengan konseling gizi. Data yang dikumpulkan meliputi wawancara, pemeriksaan antropometri, penilaian asupan energi, karbohidrat, lemak, serat dan FOS menggunakan food recall 1 x 24 jam (sebelum perlakuan) dan food record (selama perlakuan). Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar GLP-I dan glukosa darah 2 JPP dilakukan sebelum dan sete1ah perlakuan. Rerata usia subyek 60,3 ± 8,26 tahun, dengan 76,7% diantaranya adalah perempuan. Indeks massa tubuh (IMT) pada 23,3% subyek dikategorikan normal, 26,7% berat badan lebih, dan 50% obes. Data yang didapatkan dari food recall 1 x 24 jam memperlibatkan asupan energi, karbohidrat, lemak, dan serat memiliki rentang yang luas, sementara asupan FOS dari bahan makanan sumber sangat rendah. Data food record memperlihatkan persentase asupan energi terbadap kebutuban pada 50% subyek tergolong cukup, asupan karbohidrat pada 43,3% subyek termasuk kategori rendah, asupan lemak pada 63,3% subyek termasuk kategori tinggi, dan asupan serat pada 96,7% subyek termasuk kategori kurang, sedangkan asupan FOS meningkat. Kadar GLP-I (puasa, menit ke-1O dan 120 setetah makan) tidak meningkat bermakna (P>0,0S), dan kadar glukosa darah 2 JPP tidak menurun bermakna (p>0,0S). Pemberian FOS belum terbukti dapat meningkatkan kadar GLP-I dan menurunkan kadar glukosa darah 2 JPP.

Glucagon-like peptide-I (GLP-I) is a gut hormone that functions in lowering of prandial glucose level and its response still preserved in type 2 diabetes mellitus (DM). Secretion of GLP-I could increase through fermentation product of fructooligosaccharide (FOS). This study aimed to assess the influence of FOS supplementation on GLP-Ilevel and two-hours postprandial (2h PP). This onearmed clinical trial involved type 2 DM patients in an outpatient setting. Out of 33 patients who obtained informed consent, 30 subjects (90,9%) had completed the study. Subjects received 1O gram of FOS per day during four weeks as well as nutritional counselling. Data collected consisted of interviews, anthropometry measurements, dietary assessment using 24 hour food recall (before intervention) and food record (during the intervention). Whereas. examination for GLP-I and 2h PP were carried out before and after the intervention. Mean of age was 60,3 ± 8,26 years, while 76,7% were females. Body mass index in 23,3% subjects were normal, 26,7% obverweight, and 50% obese. Data collection using 24 haur food recall showed intake of energy, carbohydrate, fat, and fiber had a wide range, while FOS intake was very low. Food record represented infake percentage to energy requirement were sufficient in 50% subjects, carbohydrate were low in 43,3% subjects, fat were high in 63,3% subjects, and fiber intake were low in 96,7% subjects. The level of GLP-I (fasting, 10 minutes, and 120 minutes postprandial) did not significantly (p>0,05) increase, and there was also no significantly (p>0,05) decreased in 2h PG as well. Thus, FOS supplementation not been proven yet in increasing the level of GLP-I and decreasing 2h PP."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
T21181
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Ratna Mutu Manikam
"Ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan komplikasi akut dari diabetes melitus (DM) tak terkontrol, ditandai dengan hiperglikemia, ketosis, dan asidosis metabolik. Pemberian nutrisi sering menjadi masalah, namun menunda pemberian nutrisi dini menyebabkan peningkatan kadar keton darah dan morbiditas pasien. Tujuan penulisan serial kasus ini adalah memulihkan ketosidosis dan memenuhi kebutuhan makro- dan mikronutrien. Pasien berusia antara 18?65 tahun, mengalami KAD dengan DM, dirawat 5?12 hari di Rumah Sakit Umum Tangerang. Pencetus KAD adalah infeksi, ketidakpatuhan pengobatan, dan diet yang tidak tepat. Keempat orang pasien menderita DM dengan penyakit penyerta yang berbeda. Terapi nutrisi diberikan berdasarkan kondisi klinis pasien. Energi diberikan mulai dari kebutuhan basal yang dihitung dengan persamaan Harris-Benedict, atau dimulai dari 20?25 kkal/ kg BB pada kondisi sakit kritis. Makronutrien diberikan sesuai rekomendasi American Diabetes Association dan mikronutrien sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Pemantauan yang dilakukan meliputi toleransi asupan, imbang cairan, antropometri, dan laboratorium (kadar glukosa darah, keton darah, dan elektrolit). Edukasi dan konsultasi nutrisi diberikan setiap hari. Selama pemantauan semua pasien menunjukkan perbaikan klinis dan penurunan kadar keton darah. Semua pasien dapat mencapai kebutuhan energi total dan kadar glukosa darah mendekati normal. Sebelum pulang pasien diberikan edukasi tentang cara mengetahui faktor yang dapat mencetuskan KAD dan mengatasinya, serta edukasi nutrisi untuk mencapai kontrol glikemik optimal dan mencegah KAD.

Diabetic ketoacidosis (DKA) is an acute complication of uncontrolled diabetes, characterized by hyperglycemia, ketosis, and metabolic acidosis. Nutrition intervention may often cause some problems, unfortunately, withholding early nutrition may increase blood ketones concentration and patient morbidity. Aims of this case series are resolve ketoacidosis dan meet macro and micronutrient requirement. Patients aged between 18 to 65 years old, presented DKA with diabetes mellitus, and hospitalized from 5 to 12 days at Tangerang General Hospital. Precipitating factors of DKA include infection, noncompliance to medication, and inproper diet. All patients suffered from DM with different comorbidities. Nutritional therapy was given according to patients clinical condition. The energy was given begin with basal requirement, which calculated using Harris-Benedict equation, or begin with 20?25 kcal/kg body weight (BW) in critically ill condition. Macronutrients were given according to American Diabetes Association recommendation and micronutrients based on patients? condition and requirement. Monitoring includes food intake tolerance, fluid balance, anthropometric, and laboratory results (blood glucose levels, blood ketone, and electrolytes). Education and nutrition consultation were given everyday. During monitoring all patients showed clinical improvements in general condition and blood ketone concentration?s reduction. All patients can meet total energy requirement with blood glucose levels close to normal. Before discharge, patients received education to identify and manage risk factors that may precipitate DKA. Nutrition education was also given to achieve optimal glycemic control and prevent DKA."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library