Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 70 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nugroho Notosusanto
"

Pada hari ini, Alma Mater kita, Universitas Indonesia, untuk kesekian kalinya melepas putra-putrinya yang telah menyelesaikan studinya dan telah memperoleh gelar sarjana. Bagi kita yang mengabdi kepada Alma Mater sebagai pendidik jaranglah timbul rasa kepuasan yang tak terhingga seperti pada saat ini, tatkala mereka yang hingga beberapa bulan yang lalu masih menjadi anak didik kita, kini telah duduk berjajar di depan kita sebagai sesama sarjana. Kita dapat merasakan kebanggaan para orangtua, istri, kerabat atau tunangan, yang pada pagi hari ini menyaksikan wisuda daripada buah-hati mereka. Kita dapat merasakan hal itu karena kita sendiripun sebagai bekas gurunya tergetar oleh keharuan menatap wajah-wajah muda yang cerdas yang kini berada di depan kita.

Kiranya wajar bagi orangtua yang melepas anak yang akan pergi meninggalkannya, untuk menyampaikan kata-kata perpisahan yang berisi bekal bagi perjalanan yang akan ditempuhnya. Karena itulah pada kesempatan ini, atas nama Sivitas Akademika, khususnya para dosen, saya ingin menyampaikan pesan kepada para sarjana baru yang sebentar lagi akan diwisuda.

Kita menyadari betapa besar makna daripada kualitas yang diemban oleh para sarjana baru ini di tengah-tengah masyarakat kita. Namun, kita juga menyadari, bahwa kualitas itu sedikit banyak bersifat kondisional, bahwa ia baru efektif jika didukung oleh motivasi. Padahal motivasi sedikit-banyak tergantung kepada persepsi, yakni persepsi mengenai medan pengabdian di tengah-tengah masyarakat luas.

Sehubungan dengan itu, yang ingin saya sampaikan adalah suatu wawasan mengenai kondisi medan pengabdian yang akan dimasuki oleh para. sarjana bar' kita. Dengan demikian, kita harapkan, pengabdian mereka akan dapat diberikan secara optimal.

MODERNISASI

Kiranya perlu disadari sedalam-dalamnya oleh para sarjana baru, bahwa kita hidup dalam suatu masyarakat yang sedang berkembang atau suatu masyarakat yang masih kurang berkembang. Masyarakat seperti masyarakat kita ini sering kali juga disebut masyarakat yang sedang ada dalam proses modernisasi.

Apakah gerangan yang disebut "modernisasi" itu? Salahsatu defnisi yang relevant bagi kedudukan kita sebagai orang akademik, adalah bahwa "modernisasi" merupakan proses yang mengadaptasi institusi-institusi yang berkembang dalam sejarah kepada fungsi-fungsi yang berubah dengan cepat, yang mencerminkan pertambahan pengetahuan manusia, suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sedangkan gejala itu menyertai terjadinya revolusi ilmiah, khususnya di bidang ilmu-ilmu alam. Pertambahan pengetahuannya itu memberikan kepada manusia kemampuan untuk menguasi lingkungannya.

Namun, jangan sampai timbul kesan, bahwa modernisasi itu serta-merta membawa kebahagiaan bagi umat manusia. Karena ada pula gejala yang pernah disebut "the agony of modernization", azab-sengsara yang disebabkan oleh modernisasi. Yakni karena modernisasi adalah suatu proses yang berlangsung selama beberapa puluh tahun yang bagi umat manusia menimbulkan masalah-masalah yang sama jumlahnya dengan peluangpeluang.

Dengan menggunakan pendekatan komparatif, kita dapat mengenali pelbagai masalah yang ditimbulkan oleh modernisasi di pelbagai bagian dunia. Masalah utama adalah timbulnya desintegrasi daripada masyarakat-masyarakat tradisional karena unsur-unsurnya mengalami perubahan dengan kecepatan yang berbeda. Kebenaran-kebenaran abadi sebagaimana yang terkandung di dalam ajaran agama, disisihkan karena dianggap kuno, sehingga pelbagai individu hanya berpegangan kepada kebutuhan-kebutuhan serta tujuan-tujuan dekat belaka.

"
Jakarta: UI-Press, 1982
PGB 0561
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
"ABSTRACT
Writing the contemporary history of one's own country is hazardous in two respects, firstly, in the academic field there are still plenty of people who think that the events experienced by one's own generation do not properly belong to the realm of history. They cite the oft repeated dictum that historians should have sufficient distance from the occurrences they sought to describe and not infrequently accuse the contemporary historian of engaging himself in political pamphleteering or journalism rather than performing scholarly pursuits. Secondly, it is indeed, true that too many people who were involved in the events treated are still around, and it is unfortunately so that many of them would attack a piece of contemporary historical writing if they think that their role has been described less favorably or less expansively than they would have wished. Or again, they would criticize the historical treatise because personages, whom they like or adulate, are put in a less than bright spotlight. Or, because they are disappointed for the historian's failure to adhere to their point of view about various things, or because of what they perceive as the historian's scorn for their favorite cause.
Although aware of the difficulties involved in the writing of contemporary history of Indonesia, I do belief that the study and writing of contemporary history, including Indonesian contemporary history, is not only justified but also necessary. In Indonesia, as in most new nations, the story of the processes leading towards independence is foremost in the minds of those generations who have witnessed the transition from colonial domination towards national self-determination. In Indonesia, these are the periods covering the National A wakening it the period of the Nationalist Movement from 1908 (which was the year of the founding of the Budi Utomo as the first modern Indonesian association) down till the Japanese occupation of 1942-1945, as well as the period of the Revolution or War of Independence of 1945-1949.
For the latest generations, even the periods following the end of the War of Independence are important to satisfy their thirst for an answer on the why of the present situation. To present-day Indonesians the questions asked about the latest periods in their nation's history are looming very large indeed, larger than the questions asked about long bygone periods like that of the 18 or 19 centuries and further back. Social change during those mere decades has been both sweeping and swift leaving in its wake bewilderment and confusion. The urge towards achieving understanding about the happenings speeding past is not generated solely by curiosity but also by the necessity of charting a course in the turbulent waters of the ocean of the future.
Under these circumstances the study of history has a strongly pragmatic character. There is a powerful urge to conceive what I propose to call by lack of a better term, the "visionary" use of history. With this I wish to denote the quality to give its students the meaning of the series of events it presents, giving them a vision, or outlook, or point of view, about the process, starting somewhere in the past, extending through the present and on towards the future. Without this quality, in the context of a new nation like Indonesia, history would be, I think, "meaningless" with the connotation of being "useless".
History has also, what might be called, a "technical" use. It provides for the empirical data as the product of its research to be employed both in other branches of learning -- particularly the social sciences -- and in more practical endeavors such as the instruction in tactics or arms development at military institutions. And finally, history has an "inspirational" use, needed particularly in the socialization process of succeeding generations to provide them with an image of their society, which, after all, will be theirs to develop further. ;The Peta Army During The Japanese Occupation Of Indonesia.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1977
D250
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
"Pada sore hari ini, Selasa tanggal 26 Juli 1983, kita menyaksikan suatu peristiwa yang penting di dalam kehidupan kampus. Mulai hari ini sampai dengan tanggal 9 Agustus yang akan datang, atas permintaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Pimpinan Universitas Indonesia akan menyelenggarakan Penataran P-4 dalam rangka Introduksi Mahasiswa Baru yang selanjutnya masih berlangsung terus sampai tanggal 12 Agustus 1983. Adapun Introduksi Mahasiswa Baru itu pada Universitas Indonesia disebut "Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kamus" disingkat "Opspek".
Penyelenggaraan Penataran P-4 dalam rangka Introduksi Mahasiswa Baru bukanlah sesuatu yang baru. Sudah ada beberapa Universitas yang melakukannya. Yang baru dalam acara Universitas Indonesia adalah polanya. Pola yang telah pernah dilakukan oleh Universitas Indonesia lain adalah pola 25 dan 45 jam; sedangkan yang di-tryout oleh Universitas Indonesia adalah Penataran P- dengan pola 100 jam.
Dengan pola 100 jam ini, Para mahasiswa dapat dibebaskan dari kuliah Pancasila dalam rangka Matakuliah Dasar Umum (M K D U), karena dianggap telah mengikuti perkuliahan yang setara dengan 2 (dua) satuan kredit semester (SKS). Dengan demikian mereka tidak perlu "dua kali kerja".
Tryout ini dimaksudkan untuk mengetahui secara jelas, sarana apa saja yang harus disediakan untuk menyelenggarakan Penataran P-4 dengan ruang-lingkup yang demikian luasnya. Sekarang baru saja diketahui, bahwa untuk menatar ± 2000 mahasiswa diperlukan ± 700 penatar, suatu jumlah yang tidak kecil. Untuk mengerahkan penatar yang sekian banyak, Universitas Indonesia memerlukan bantuan dari BP-7 Pusat maupun BP-7 DKI."
1982
Makalah-1
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
"Bapak Ibu orangtua mahasiswa yang terhormat,
Pertama-tama saya mengucapkan selamat atas prestasi putra/putri anda yang telah lulus ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Proyek Perintis I, Departemen Pendidikan .& Kebudayaan. Apa yang telah dicapai putra/putri Bapak-Ibu, benar-benar merupakan suatu prestasi, karena ujian seleksi telah ditempuh secara sungguh-sungguh tanpa, katrol-katrolan. Dan dari 44.113 lulusan SMA yang mengikuti ujian di Stadion Senayan hanya.1853 yang diterima di Universitas Indonesia.
Selanjutnya putra/putri. Bapak-Ibu telah mendaftarkan diri ke Universitas Indonesia dan telah pula kami terima sebagai mahasiswa. Kini ia-berdiri pada awal suatu-perjalanan yang cukup. lama dan berat untuk mencapai gelar sarjana, suatu hal yang Bapak-Ibu idam-idamkan dan memang menjadi pula cita-cita putra/putri-anda.
Tidaklah- berlebih-lebihan kiranya anggapan bahwa seorang mahasiswa. (baru) ; harus menempuh perjalanan yang cukup. lama dan ; cukup berat untuk, sampai kepada tujuan, yakni status. kesarjanaan. Untuk sampai kepada tujuan, selama-4-5.tahun ia harus dapat.melakukan konsentrasi penuh, bekerja secara teratur (tidak angin-anginan), dan-mampu membagi waktu. Sebabnya adalah karena scope daripada pendidikan universitas tidak hanya meliputi aspek kecakapan dan ketrampilan belaka, melainkan juga meliputi kegiatan-kegiatan kokurikuler dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan."
1982
Makalah-2
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
"Pada awal masa tugas saya, pada bulan Februari 1982, Pimpinan Universitas Indonesia telah mencanangkan suatu gerakan yang saya beri nama "Menegakkan Kewibawaan Almamater". Isi gerakan itu ialah usaha untuk sejauh mungkin bertumpu kepada sumberdaya (manusia) Universitas Indonesia sendiri dalam segala kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler (terutama untuk kuliah, ceramah, seminar, simposium serta diskusi-diskusi lainnya).
Hanya jika jelas-jelas Universitas Indonesia tidak mempunyai tenaga pada suatu bidang tertentu, maka akan didatangkan tenaga dari luar demi kemajuan Universitas Indonesia untuk memberikan exposure kepada tenaga-tenaga Universitas Indonesia. Hal ini terutama menyangkut tenaga-tenaga profesional. Dan memang mengenai usaha mendatangkan tenaga-tenaga profesional yang sungguh-sungguh, jarang sekali timbul masalah di dalam usaha "Menegakkan Kewibawaan Almamater" ini.
Masalah yang sering timbul adalah di bidang kokurikuler apalagi di bidang ekstrakurikuler. Terutama di bidang ekstrakurikuler pernah ada gejala yang luas di kalangan mahasiswa yang dipengaruhi oleh kaum anarkis, bahwa oknum-oknum di dalam kampus Universitas Indonesia bertindak sebagai agen bagi kekuatan di luar Universitas Indonesia untuk meniup-niup sesuatu issue dari luar di dalam kampus Universitas Indonesia dengan jalan secara sistematis mengundang masuk eksponen luar itu.
Dengan demikian, jelas bahwa Universitas Indonesia sematamata dijadikan pasar /oak yang menjual issue-issue dari luar yang sudah loyo dan kurang laku. Dengan prestise Universitas Indonesia diharapkan, bahwa issue-issue itu akan memperoleh perhatian kembali dari masyarakat luas. Hal semacam itu semasa dominasi anarkisme, sangat lazim di lingkungan kampus kita dan patut disesalkan bahwa ada oknum-oknum Universitas Indonesia yang tidak punya rasa malu untuk "menjual" Almamaternya kepada kepentingan-kepentingan eksternal itu."
Depok: Universitas Indonesia, 1983
Makalah-3
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
Djakarta: Balai Pustaka, 1970
808.83 NUG t
Koleksi Publik  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
Jakarta: Pembanguan Jakarta, 1961
899.232 NUG r
Koleksi Publik  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
Jakarta: Balai Pustaka , 1979
320.5 NUG n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985
302.224 2 NUG m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho Notosusanto
Jakarta: UI-Press, 1983
378 NUG m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>