Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
I Nyoman Suarjana
"Pengelasan dissimilar banyak dilakukan untuk mengoptimalkan kebutuhan aplikasi dan rekayasa dengan pertimbangan ekonomi. Sifat-sifat mekanis dan ketahanan terhadap korosi sambungan las sangat dipengaruhi oleh jenis, ukuran, orientasi dan distribusi struktur mikro sambungan las tersebut. Pengaruh dan perubahan struktur mikro akan dipelajari pada pengelasan dissimilar antara baja karbon A36 dan SS 304 untuk posisi pengelasan 1G, 2G, 3G dengan variasi ketebalan 6 mm, 8mm, 10 mm, 12 mm.
Hasil pengelasan menunjukan bahwa posisi pengelasan dan ketebalan sambungan las mempengaruhi struktur mikro baik pada HAZ maupun inti las-lasan (weld metal). Ukuran, distribusi dan orientasi struktur mikro menjadi lebih halus dan merata dengan naiknya ketebalan sambungan las-lasan. Pada HAZ baja karbon memperlihatkan struktur GB ferrite dominan untuk posisi pengelasan 1G sedangkan untuk posisi 2G dan 3G memperlihatkan adanya struktur widmanstaten ferrite, martensite dan bainit. Pada daerah dekat fusion line dan inti las terjadi perubahan komposisi kimia akibat proses agitasi, konveksi, difusi dan terjadinya makrosegregasi karena penetrasi cairan logam induk baja karbon kedalam inti las (weld metal) dan pembekuan cepat.
Hasil pengujian sifat-sifat mekanik memperlihatkan tegangan tarik putus terjadi pada sisi logam induk baja karbon, hasil test bending menunjukan tegangan yang sangat tinggi pada sambungan las hingga mencapai 887 Mpa dan pengujian kekerasan Vickers menunjukan distribusi kekerasan meningkat pada inti las dan HAZ hingga mencapai nilai HVN 296.9 yakni pada fusion line baja SS 304. Ketahanan korosi khususnya korosi micro-pitting sangat masif terjadi pada bagian inti las khususnya untuk posisi pengelasan 1G dan ketebalan 6 mm dan kurang masif pada HAZ yang secara visual dari foto mikro mengindikasikan pembentukan dan sebaran karbida yang lebih sedikit. Korosi seragam (uniform corrosion) secara galvanik terjadi sangat agresif pada bagian baja karbon.

Dissimilar metal welding was mostly done to optimize the application and engineering requirements with economic considerations. Mechanical properties and corrosion resistance of welded joints were greatly influenced by weld microstructures. Influences and changes in the microstructure will be studied in the welding of dissimilar metals between carbon steel A36 and stainless steel SS304 with variation of welding position 1G, 2G, 3G and weld thickness of 6 mm, 8 mm, 10 mm, 12 mm.
Welding results shown that welding position and thickness of the welded joints influenced the microstructure both in HAZ and weld metal. Size, distribution and orientation of microstructure were finer and more uniform with increasing of welding joint thickness. In HAZ carbon steel, GB ferrite was dominant especially for 1G welding position while for position of 2G and 3G shown other structures such as widmanstaten ferrite, martensite and bainite. In the region near the fusion line and weld metal, the chemical composition changes due to the agitation, convection, diffusion and makrosegregasi caused by penetration of liquid metal carbon steel into the weld pool and quick freezing.
The test results showed the mechanical properties of tensile breaking point occurs in the parent metal of carbon steel, bending test results showed a very high stress on the welding joint up to 887 MPa and Vickers hardness testing showed hardness distribution trend increase in the weld metal and HAZ to achieve value for HVN 296.9 at the fusion line of steel SS 304. Corrosion resistance, especially micro-pitting corrosion occurs denser in the weld metal, especially for welding positions 1G and thickness 6 mm and less dense in the HAZ which visually indicates in micro-photographs, the formation and distribution of carbides is much less. Uniform corrosion by galvanic process happens very aggressive on the carbon steel side.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T31482
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Suarjana
"ABSTRAK
MiR-21 diketahui berperan dalam proliferasi dan diferensiasi osteoklas, namun peran ekspresi miR-21 serum pada osteoporosis masih belum jelas. Penelitian sebelumnya mendapatkan bahwa ekspresi miR-21 serum berkorelasi positif dengan densitas mineral tulang pada penderita osteoporosis pascamenopause, tetapi penelitian tersebut tidak menganalisis faktor-faktor lainnya yang terlibat dalam osteoporosis pascamenopause.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ekspresi miR-21 serum, konsentrasi RANKL, OPG, TGF- ? 1, sklerostin, rasio RANKL/OPG, kalsium serum dan aktivitas fisis terhadap densitas mineral tulang belakang pada perempuan pascamenopause hipoestrogenik dengan osteoporosis dibandingkan dengan tanpa osteoporosis, dengan point of interest pada ekspresi miR-21 serum.Penelitian ini dilakukan dengan disain uji potong lintang komparatif, di RSUD Ulin Banjarmasin, pada bulan Agustus 2015 sampai Juli 2016. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok yaitu perempuan pascamenopause hipoestrogenik dengan osteoporosis dan tanpa osteoporosis. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive. Pemeriksaan ekspresi miR-21 serum menggunakan metode absolute quantification real-time PCR. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman, Mann-Whitney U test dan regresi linear berganda.Subjek dibagi menjadi 2 kelompok yaitu perempuan pascamenopause hipoestrogenik dengan osteoporosis PMOP dan tanpa osteoporosis PMNOP masing-masing sebanyak 60 subjek. Median ekspresi miR-21 serum pada PMOP lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dan PMNOP p = 0,001 . Ekspresi miR-21 serum, RANKL, rasio RANKL/OPG dan aktivitas fisis berkorelasi bermakna dengan nilai BMD pada PMOP. Aktivitas fisis sedang berkorelasi negatif bermakna dengan ekspresi miR-21 serum pada PMOP dan PMNOP. Analisis regresi linear berganda menggunakan metode backward stepwise mendapatkan persamaan regresi linear: BMD = 1,373 - 0,085 Ln.miR-21 - 0,176 Log 10.RANKL R2 = 52,5 .Simpulan. Ekspresi miR-21 serum pada perempuan pascamenopsuse hipoestrogenik dengan osteoporosis terbukti lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa osteoporosis. Ekspresi miR-21 serum terbukti memberikan pengaruh negatif terhadap nilai BMD tulang belakang pada perempuan pascamenopause hipoestrogenik dengan osteoporosis sebesar 8,5 , dengan persamaan regresi linear BMD = 1,373 - 0,085 Ln.miR-21 - 0,176 Log10.RANKL. Persamaan ini dapat menjelaskan nilai BMD tulang belakang sebesar 52,5 . Kata kunci: BMD, miR-21 serum, Osteoporosis, Pascamenopause
ABSTRACT
MiR-21 is known to play a role in osteoclast proliferation and differentiation, but the role of serum miR-21 expression in osteoporosis remains unclear. Previous research found that serum miR-21 expression was positively correlated with bone mineral density in postmenopausal osteoporosis patients, but the study did not analyze other factors involved in postmenopausal osteoporosis.This study aimed to determine the role of serum miR-21 expression, concentration of RANKL, OPG, TGF- ? 1, sclerostin and serum calcium, RANKL/OPG ratio, and physical activity on bone mineral density of spine in hypoestrogenic postmenopausal women with osteoporosis compared to no osteoporosis, with point of interest on the expression of serum miR-21.This study was conducted by comparative cross sectional design, conducted at Ulin General Hospital Banjarmasin, from August 2015 until July 2016. The subjects were divided into 2 groups of hypoestrogenic postmenopausal women with osteoporosis and without osteoporosis. Sampling was done by consecutive method. Examination of serum miR-21 expression using absolute quantification real-time PCR method. Statistical analysis using Spearman correlation test, Mann-Whitney U test and multiple linear regression.The subjects were divided into 2 groups of hypoestrogenic postmenopausal women with osteoporosis PMOP and without osteoporosis PMNOP each as many as 60 people. Median of serum miR-21 expression at PMOP group was significantly higher compared to PMNOP group p = 0.001 . Serum miR-21 expression, RANKL, RANKL/OPG ratio and physical activity were significantly correlated with BMD values ? ? ? ?in PMOP group. Moderate physical activity was significantly negative correlated with serum miR-21 expression. Multiple linear regression multivariate analysis using backward stepwise method obtained linear regression equation BMD = 1,373 - 0,085 Ln.miR-21 - 0,176 Log10.RANKL R2 = 52,5 .Conclusion. Serum miR-21 expression in hypoestrogenic postmenopausal women with osteoporosis has been shown to be higher compared with no osteoporosis. Serum miR-21 expression proved to have a negative effect on spinal BMD values in hypoestrogenic postmenopausal women with osteoporosis of 8.5 , with linear regression equation BMD = 1.373 - 0.085 Ln.miR-21 - 0.176 Log10.RANKL. This equation can explain the value of spinal BMD by 52.5 . Keywords: BMD, Osteoporosis, postmenopausal, serum miR-21 "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Suarjana
"Penggunaan bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai keperluan sudah sangat umum dan beragam khususnya untuk bahan penyimpanan makanan dan minuman kemasan. Salah satu bahan plastik yang sering digunakan adalah PET (Poly-Ethylene- Terephthalate) yang bahan dasarnya adalah TA (Terephthalic Acid) resin. Bahan baku untuk memproduksi TA adalah pX (Para-Xylene) melalui proses oksidasi dengan Oksigen dan bahan-bahan lain seperti Asam Asetat, Kobal, Mangan, Bromin dan Hidrogen. Selama proses reaksi kimia, tidak semua reaksi akan berlangsung secara sempurna. Hasil reaki yang tidak sempurna berupa para-Toluic Acid (p-Tol) dan 4-Carboxybenzaldehyde (4-CBA) akan menjadi pengotor dalam produk TA sehingga memerlukan proses pemurnian untuk mendapatkan Purified Terephthalic Acid (PTA). Proses pemurnian dilakukan melalui proses reaksi hidrogenasi untuk konversi 4-CBA menjadi p-Tol dan selanjutnya p-Tol dipisahkan dari TA solid melalui beberapa tahap proses separasi yang salah satunya dengan menggunakan unit sistem yang baru yakni Mother Liquor Solid Settler (MLSS). Peralatan utama dari MLSS adalah tangki silinder vertical dengan kubah penutup dan dasar kerucut, dilengkapi dengan lengan-lengan penyapu padatan di bagian dasar tanki yang digerakan dengan sistem motor listrik dan gearbox, sistem perpompaan, sistem perpipaan, sistem kontrol dan instrumentasi. MLSS dibangun diatas struktur beton bertulang dengan system Table-Top dan struktur baja untuk akses dan penempatan peralatan-peralatan penunjang khususnya motor, gearbox, dan sistem penyapu solid. Perhitungan-perhitungan teknis untuk desain dan pembuatan MLSS mengacu pada API Standard 650, 620 dan dibantu dengan software STAAD PRO.

The use of plastic materials in everyday life for various purposes is very common and diverse, especially for food and beverage packaging. One of the plastic materials that is often used is PET (Poly-Ethylene-Terephthalate) whose basic material is TA (Terephthalic Acid) resin. The raw material for producing TA is pX (Para-Xylene) through an oxidation process with Oxygen and other materials such as Acetic Acid, Cobalt, Manganese, Bromine and Hydrogen. During the chemical reaction process, not all reactions will take place perfectly. The results of imperfect reactions in the form of Para-Toluic Acid (p-Tol) and 4-Carboxybenzaldehyde (4-CBA) will become impurities in TA products so that they require a purification process to obtain Purified Terephthalic Acid (PTA). The purification process is carried out through a hydrogenation reaction process for the conversion of 4-CBA to p-Tol then p-Tol is separated from solid TA through several stages of the separation process, one of which is by using a new system unit, namely Mother Liquor Solid Settler (MLSS). The main equipment of MLSS is a vertical cylindrical tank with a dome roof and a conical bottom equipped with a solid sweep arm rack at the bottom of the tank driven by an electric motor and gearbox system, pumping system, piping system, control system and instrumentation. MLSS is built on a reinforced concrete structure with a Table-Top system and steel structure for access and placement of supporting equipment, especially motors, gearboxes, and solid sweep systems. Technical calculations for the design and manufacture of MLSS refer to API Standards 650, 620 and are assisted by STAAD PRO software."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Suarjana
"Background: MiR-21 is known to play a role in osteoclast proliferation and differentiation, but the role of serum miR-21 expression in osteoporosis remains unclear. Previous research found that serum miR-21 expression was positively correlated with bone mineral density in postmenopausal osteoporosis patients, but other factors involved in postmenopausal osteoporosis still unknown. This study aimed to determine the role of serum miR-21 expression, concentration of RANKL, OPG, TGF-β1, sclerostin and serum calcium, RANKL/OPG ratio, and physical activity on bone mineral density of spine in hypoestrogenic postmenopausal women with osteoporosis (PMOP) compared with no osteoporosis (PMNOP), with point of interest on the expression of serum miR-21.
Methods: this study was conducted by comparative cross-sectional design. The subjects were divided into 2 groups of PMOP and PMNOP. We used an absolute quantification real-time PCR method to determine serum miR-21 expressions level.
Results: Median of serum miR-21 expression at the PMOP group was significantly higher compared to PMNOP group (p = 0,001). Serum miR-21 expression, RANKL, RANKL/OPG ratio, and physical activity were significantly correlated with BMD values in the PMOP group. Moderate physical activity was significantly negatively correlated with serum miR-21 expression. We also obtained a linear regression equation BMD = 1,373-0,085*Ln.miR-21-0,176*Log10.RANKL (R2 = 52,5%).
Conclusion: serum miR-21 expression in PMOP was higher compared with PMNOP. Serum miR-21 expression proved to have a negative effect on spinal BMD values in hypoestrogenic postmenopausal women with osteoporosis of 8,5%. Obtained equation of BMD = 1,373-0,085*Ln.miR-21-0,176*Log10.RANKL can explain the value of spinal BMD by 52,5%.

Latar belakang: MiR-21 telah diketahui memainkan peranan dalam proliferasi dan diferensiasi osteoklas, tetapi peran ekspresi miR-21 dalam serum terhadap osteoporosis masih belum jelas. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa ekspresi miR-21 dalam serum berkorelasi positif dengan kepadatan mineral tulang pasien osteoporosis pascamenopasue, tetapi faktor-faktor lain yang terlibat dalam osteoporosis pascamenopause masih belum diketahui. Penelitian ini bertujuan menentukan peran ekspresi miR-21 dalam serum, kadar RANKL, OPG, TGF-β1, sklerostin dan kalsium dalam serum, rasio RANKL/OPG dan aktivitas fisik terhadap kepadatan mineral tulang di tulang belakang pada wanita pascamenopause hipoestrogenik dengan osteoporosis / postmenopausal women with osteoporosis (PMOP) dibandingkan tanpa osteoporosis (PMNOP) dengan titik berat pada ekspresi miR-21 dalam serum.
Metode: penelitian ini dilaksanakan dengan desain potong lintang komparatif. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu PMOP dan PMNOP. Metode kuantifikasi absolut dengan real-time PCR digunakan untuk menentukan kadar ekspresi miR-21 dalam serum.
Hasil: nilai median ekspresi miR-21 dalam serum pada kelompok PMOP lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompok PMNOP (p=0,001). Ekspresi miR-21 dalam serum, RANKL, rasio RANKL/OPG dan aktivitas fisik secara bermakna berkorelasi dengan nilai kepadatan mineral tulang/bone mineral density (BMD) pada kelompok PMOP. Aktivitas fisik sedang berkorelasi negatif secara bermakna dengan ekspresi miR-21 dalam serum. Kami juga mendapatkan persamaan regresi linear BMD=1,373-0,085*Ln.miR-21-0,176*Log10.RANKL (R2=52,5%).
Kesimpulan: Ekspresi miR-21 dalam serum pada PMOP lebih tinggi dibandingkan dengan PMNOP. Ekspresi miR-21 dalam serum terbukti mempunyai efek negatif terhadap nilai kepadatan mineral tulang di tulang belakang (spinal BMD) pada wanita pascamenopause hipoestrogenik dengan tingkat osteoporosis sebesar 8,5%. Persamaan yang didapatkan, yaitu
"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2019
610 UI-IJIM 51:3 (2019)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library