Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aulia Jauhari Rakhman
Abstrak :
Hazard mikrobiologi yang dapat menimbulkan penyakit dan efek kesehatan yang merugikan pada personel laboratorium dapat dikelompokan berdasarkan Risk Group dengan perlindungan dan tindakan pencegahan berupa penerapan Biosafety Level. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi kesiapan laboratorium mikrobiologi PT SCI dalam menangani hazard mikrobiologi berdasarkan biosafety level 2. Pengambilan data menggunakan data sekunder dengan review dokumen dan rekaman data, serta pengambilan data primer melalui observasi, pengamatan langsung dan wawancara yang mendalam terhadap para informan. Hasil penelitian menunjukan pengelompokan Hazard Mikrobiologi termasuk dalam Risk Group 2 dengan Biosafety Level yang diterapkan adalah level 2. Evaluasi kesiapan di Laboratorium menunjukan presentase sebesar 80% dengan perlunya perhatian dan peningkatan komitmen baik manajemen maupun seluruh personel terkait fasilitas laboratorium, praktik analisa, perlindungan personal (APD), akses laboratorium, proteksi kebakaran, kebersihan dan kerapihan, praktik dan prosedur umum laboratorium, kontrol teknik umum, program kesehatan dan keselamatan kerja serta pelatihan dan program terkait biosafety, pengelolaan limbah, penyimpanan di lemari es/freezer, penyimpanan bahan kimia, peralatan tabung gas, desain laboratorium dan tanda peringatan laboratorium. Penuhan persyaratan dapat diterapkannya Sistem Manajemen Bio-risiko yang komprehensif dengan mengidentifikasi, menilai, mengendalikan, dan mengevaluasi serta perbaikan berkelanjutan melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, peninjauan, dan peningkatan proses serta tindakan yang dilakukan laboratorium untuk mencapai tujuan. ......Microbiological hazards that can cause disease and adverse health effects on laboratory personnel can be grouped based on the Risk Group with protection and preventive measures in the form of applying the Biosafety Level. This study aims to determine the evaluation of the readiness PT SCI's microbiology laboratory in handling microbiological hazards based on biosafety level 2. Collecting data using secondary data by reviewing documents and recording data, as well as collecting primary data through observation, direct observation and in-depth interviews with informants with direct interviews. The results showed that the grouping of Microbiological Hazards included in Risk Group 2 with the level of biosafety or Biosafety Level applied was level 2. Evaluation of readiness in the laboratory showed a percentage of 80% with the need for attention and increased commitment from both management and all personnel related to laboratory facilities,, analytical practices, Personal Protection Equipment (PPE), laboratory access, fire protection, cleanliness and tidiness, general laboratory practices and procedures, general engineering controls, occupational health and safety programs and training and programs related to biosafety, waste management, refrigerator/freezer storage, chemical storage, equipment gas cylinders, laboratory designs and laboratory warning signs. The fulfillment of the requirements can be applied to a comprehensive Bio-risk Management System by identifying, assessing, controlling, and evaluating as well as continuous improvement through the cycle of planning, implementing, reviewing, and improving the processes and actions taken by the laboratory to achieve the objectives.
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Jauhari Rakhman
Abstrak :
Telah dilakukan penelitian untuk mendeteksi Shiga Toxin-producing Escherichia coli (STEC) pada daging Perna viridis (kerang hijau) dan Anadara granosa (kerang darah) yang berasal dari pasar tradisional, swalayan, dan tempat budidaya kerang di Cilincing serta Muara Kamal. Rangkaian uji yang digunakan adalah Multiple Tube Fermentation (MTF), hemolisis dan teknik molekular untuk mendeteksi gen spesifik shiga toxin (stx1, stx2), intimin (eaeA) dan hemolisin (hlyA). Hasil uji MTF menunjukkan bahwa kandungan bakteri E. coli dalam daging kerang melebihi ambang batas keamanan pangan SNI No. 01-2729-3-2006 (> 200 MPN/100 g). Hasil uji hemolisis menunjukan bahwa 59,4 % bakteri E. coli yang diisolasi dari daging kerang mampu melisiskan sel darah merah. Gen penyandi STEC tidak ditemukan pada sampel daging kerang. ...... A study was carried out to detect Shiga Toxin-producing Escherichia coli (STEC) in Perna viridis (green mussel) and Anadara granosa (blood cockle) fleshs. Shellfish fleshs were obtained from traditional markets, supermarkets, and shellfish aquacultures in Cilincing and Muara Kamal. Multiple Tube Fermentation (MTF) test, hemolysis test and molecular test for shiga toxin-specific (stx1, stx2), intimin (eaeA) and hemolysin (hlyA) genes have been done. The MTF test results showed that all samples exceed the threshold of food safety SNI No. 01-2729-3-2006 (>200 MPN/100 g). Hemolysis test results showed that 59,4 % of E. coli isolated from shellfish flesh lysed the red blood cells. The genes responsible for STEC expression were not found in shellfish flesh.
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S56897
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library