Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 108 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ria Watiningsih
"Bencana alam merupakan fenomena alam yang dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran terhadap lingkungan, baik berupa kerugian harta benda maupun kerusakan berbagai infrastruktur. Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerusakan dan kerugian yang paling besar akibat bencana alam berupa banjir. Penelitian ini bertujuan untuk: 1 Mengidentifikasi sebaran dan karakteristik daerah banjir yang terjadi pada kurun waktu 2013 - 2015 di Kabupaten Bojonegoro, 2 Mengestimasi biaya beban kerugian banjir meliputi kerusakan permukiman, infrastruktur di daerah terdampak banjir, 3 Mengevaluasi upaya penanganan dan pengendalian pascabencana banjir, berdasarkan rambu prosedur yang ditetapkan oleh BNPB. Metode yang digunakan dalam menghitung biaya kerusakan akibat bencana banjir pada masing-masing unit analisis, dilakukan melalui pendekatam ECLAC Economic Comission for Latin American and Carribean. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan faktor fisik berupa ketinggian, penggunaan lahan, curah hujan, dan berdasarkan faktor sosial berupa kerusakan dan kerugian akibat banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian banjir di Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2013-2015 tersebar hampir merata di seluruh kecamatan dengan genangan banjir terluas terdapat di Kecamatan Dander 3.428,47 Ha, wilayah dengan kerusakan dan kerugian terbesar adalah Kecamatan Balen. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pengendalian banjir, yang meliputi upaya struktural dan non struktural. Upaya penanganan banjir di Kabupaten Bojonegoro meliputi upaya penanganan saat darurat bencana dan upaya penanganan pasca bencana.

Natural disaster is a natural phenomenon that can cause damage and destruction to the environment, either in the form of property loss or damage to various infrastructure. Bojonegoro is one of the areas that have the highest level of damage and losses due to natural disaster in the form of floods. The purpose of this research are 1 Identify the distribution and characteristics of flood areas that occur over time 2013 - 2015 in Bojonegoro, 2 Estimate the cost of flood losses include damage to settlements, infrastructure in flood affected areas, 3 Evaluate the effort of handling and controlling after flood, based on signs procedure by BNPB National Board for Disaster Management. Methods used to calculate damage cause by flood in each unit analysis, through the approach of ECLAC Economic Comission for Latin American and Carribean. Variable used in this research based on physical factors, such as elevation, land use, rainfall, and based on social factors such as damage and losses due to flood. The result showed that flood incidence in Bojonegoro in 2013 - 2015 spread almost in all sub districts with the widest flooding inundation in Dander District 3,428.47 Ha, Balen District is the area with the biggest damage and losses. Therefore, there needs to be a flood control effort, which includes structural and non structural efforts. Efforts to handle flood in Bojonegoro include disaster mitigation and post disaster handling efforts.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
T50869
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Imelda
"Rumah sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan tindakan penyembuhan orang sakit dan pemulihan dari luka fisik dan mental, yang dilakukan dengan tindakan peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) secara terpadu. Oleh karena itu, keberadaannya sangat penting untuk penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan akuntabilitas masyarakat, terutama di wilayah yang dicakupnya. Pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan jumlah rumah sakit secara intensif meningkatkan kualitas kesehatan individu. Oleh karena itu, diharapkan ketersediaan rumah sakit di wilayah Kabupaten Sumbawa semakin meningkat di masa mendatang dan semakin berperan penting dalam peningkatan kesehatan masyarakat Kabupaten Sumbawa di masa mendatang. Mengingat banyaknya masyarakat di daerah tersebut yang tidak dapat menemukan rumah sakit, saat ini hanya ada tiga rumah sakit yang tersedia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi rumah sakit di Kabupaten Sumbawa dengan menggunakan metode Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). SMCE adalah metode dimana keputusan lokasi dapat dianalisis (Sistem Pendukung Keputusan). Proses SMCE untuk menentukan lokasi rumah sakit didasarkan pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2021 Tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk Pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan. Peraturan tersebut memuat beberapa aspek persyaratan teknis lokasi rumah sakit, antara lain aspek geografis, lokasi, aksesibilitas dan pelayanan publik. Hasil dari penelitian ini adalah penilaian letak hasil kriteria dengan parameter yang ada di peraturan tersebut. Analisis dilakukan dengan menggunakan SMCE sehingga dibuat analisis untuk perencanaan rumah sakit di Kabupaten Sumbawa. Analisis ini menghasilkan peta yang skornya dikelompokkan menjadi lima tingkat kesesuaian yaitu kesesuaian sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas kawasan yang sesuai untuk lokasi Rumah Sakit di Kabupaten Sumbawa mencapai 33.884,30 ha yang terletak di beberapa kecamatan yakni di Kecamatan Plampang, Kecamatan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, Kecamatan Utan, Kecamatan Alas, Kecamatan Alas Barat dan Kecamatan Empang.

Hospital is a health facility that provides health services by prioritizing the healing of sick people and recovery from physical and mental injuries, which is carried out through integrated promotive and preventive actions. Therefore, its existence is very important for the provision of quality health services and public accountability, especially in the areas it covers. Development in the health sector is an integral part of health development to improve public health status. Efforts to increase the number of hospitals intensively improve the quality of individual health. Therefore, it is hoped that the availability of hospitals in the Sumbawa Regency area will increase in the future and play an increasingly important role in improving the public health of the Sumbawa Regency community in the future. Considering that many people in the area cannot find a hospital, currently there are only three hospitals available. Therefore this study aims to determine the location of hospitals in Sumbawa Regency using the Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE) method. SMCE is a method by which location decisions can be analyzed (Decision Support System). The SMCE process for determining hospital locations is based on the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 14 of 2021. The regulation contains several aspects of the technical requirements for hospital locations, including geographical aspects, location, accessibility and public services. The results of this study are the assessment of the location of the results of the criteria with the parameters contained in the regulation. The analysis was carried out using SMCE so that an analysis was made for hospital planning in Sumbawa Regency. This analysis produces maps whose scores are grouped into five levels of suitability, namely very low, low, medium, high and very high suitability. The results showed that the area suitable for the location of the Hospital in Sumbawa Regency reached 33,884.30 ha which was located in several sub-districts, namely in Plampang District, Sumbawa District, Labuhan Badas District, Utan District, Alas District, Alas Barat District and Empang District.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Prabowo Wiguna
"Pengembangan infrastruktur jaringan pipa gas dengan model spasial bertujuan untuk mengetahui pola pelayanan gas dan menemukan lokasi optimal potensi pengguna bahan bakar gas di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini adalah penelitian kombinasi menggunakan metode kuantitatif seperti nearest neighbor analysis, matrik jarak, model Huff serta aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) sebagai alat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pengembangan pelayanan pengguna bahan bakar gas memiliki kecenderungan pola yang serupa dengan pelayanan jaringan pipa gas yang telah ada, karena posisi pengguna gas terletak di lingkungan Kawasan Industri sehingga polanya mengikuti tarikan pasar ke wilayah-wilayah pertumbuhan industri. Peluang pengembangan terkonsentrasi di kecamatan yang memiliki karakteristik (a) topografi wilayah datar, (b) jaringan jalan rapat, (c) jumlah potensi sektor pengguna tinggi, (d) memiliki demand volume gas yang tinggi, dan (e) hambatan relatif yang kecil. Secara spasial, pengembangan jaringan pipa gas diprediksi akan meluas ke wilayah pinggirannya, terutama ke arah selatan. Wilayah-wilayah tersebut antara lain kecamatan; Cikarang Selatan, Setu, Serang Baru dan Cibarusah. Hal ini disebabkan oleh, kondisi arah selatan Kabupaten Bekasi memiliki akses yang lebih potensial daripada wilayah lainnya dan merupakan wilayah pusat pertumbuhan permukiman yang secara geografis dekat dengan Kabupaten Bogor.

The development of gas pipelines infrastructure with spatial models aims to determine the distribution of pipeline pattern and find the optimal location of potential users of gas fuel in Districs Bekasi. This study is applies combination of quantitative methods such as nearest neighbor analysis, distance matrix, Huff models as well as the application of Geographical Information Systems (GIS) as an analytical tool. The results showed that the potential development of gas fuel service users have a tendency pattern in line with network services existing gas pipeline, because the position of the gas users located in the Industrial Area so that the pattern follows the pull of the market (market driven) into the areas of industrial growth. Development opportunities are concentrated in districts that have characteristics (a) the topography is flat, (b) road network meetings, (c) the number of potential high user sector, (d) have a high volume of gas demand, and (e) barriers are relatively small. Spatially, the development of gas pipeline is expected to extend into the rim area, particularly to the south. These regions include districts; South Cikarang, Setu, New Serang and Cibarusah. It is caused by conditions southward Bekasi District has access to more potential than other regions and the central region of the growth of the settlements that are geographically close to the Bogor Regency.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
T44333
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamilah Amaliah
"Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi akibat kondisi topografi yang curam, curah hujan tinggi, serta struktur geologi yang kompleks. Penelitian ini bertujuan membandingkan dua metode pemetaan kerawanan longsor, yaitu SMORPH yang berbasis geomorfologi dan WoE yang berbasis statistik. SMORPH menggunakan parameter kemiringan dan bentuk lereng, sedangkan WoE menggunakan sembilan variabel serta memanfaatkan data historis kejadian longsor dari tahun 2015 hingga 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode SMORPH mengidentifikasi sebagian besar wilayah Cipongkor dalam zona kerawanan rendah hingga sedang, dengan zona tinggi terbatas di lereng curam. Zona tersebut banyak ditemukan pada satuan geomorfologi seperti FL1 (Dataran Aluvial Danau) dan S6 (Perbukitan Antiklin) yang memiliki bentuk lahan lebih stabil. Sebaliknya, metode WoE menunjukkan zona kerawanan tinggi lebih luas, terutama di bagian tengah hingga barat daya yaitu Desa Cijambu, Cibenda, Cintaasih, Karangsari yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, elevasi menengah, jarak dekat dengan sungai, kondisi geologi dan penggunaan lahan. Zona-zona tersebut sebagian besar berada pada satuan geomorfologi yang lebih kompleks dan aktif secara morfogenetik seperti S3 (Perbukitan Blok Sesar) dan DV5 (Perbukitan Jejak Dinding Kawah Purba). Hasil perbandingan menunjukkan bahwa metode WoE dan SMORPH menghasilkan tingkat akurasi yang berbeda dalam pemetaan kerawanan longsor. Nilai AUC WoE sebesar 0,712 (success rate) dan 0,632 (predictive rate), sedangkan SMORPH sebesar 0,589 (success rate) dan 0,568 (predictive rate). Perbedaan nilai ini mencerminkan variasi pendekatan dan sensitivitas spasial dari masing-masing metode.

Cipongkor Sub-district, located in West Bandung Regency, is an area with a high susceptibility to landslides due to its steep topography, high rainfall, and complex geological structure. This study aims to compare two landslide susceptibility mapping methods: SMORPH, which is based on geomorphological characteristics, and WoE (Weight of Evidence), which is statistically based. The SMORPH method uses slope and slope shape parameters, while WoE incorporates nine spatial variables and historical landslide data from 2015 to 2024. The analysis shows that SMORPH identifies most areas in Cipongkor as having low to moderate susceptibility, with high susceptibility zones limited to steep slopes. These zones are commonly found in geomorphological units such as FL1 (Alluvial Lake Plains) and S6 (Anticline Hills), which are considered more stable landforms. In contrast, the WoE method identifies wider areas of high susceptibility, particularly in the central to southwestern parts of Cipongkor, including Cijambu, Cibenda, Cintaasih, and Karangsari Villages. These areas are influenced by high rainfall, moderate elevation, proximity to rivers, geological conditions, and land use. The high susceptibility zones are mostly located in more complex and morphogenetically active units such as S3 (Fault Block Hills) and DV5 (Ancient Crater Rim Hills). The comparison results indicate that WoE and SMORPH produce different levels of accuracy in landslide susceptibility mapping. WoE achieved AUC values of 0.712 (success rate) and 0.632 (predictive rate), while SMORPH achieved AUC values of 0.589 (success rate) and 0.568 (predictive rate) respectively. These differences reflect the variation in spatial sensitivity and modeling approaches of each method."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Widi Astuti
"Sebagian wilayah karst memiliki wilayah yang kering dan tidak produktif serta sering mengalami fenomena kekeringan dan kritis air seperti di Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang ada di Wonogiri dan Gunung Kidul. Namun ada sebagian wilayah karst lain yang justru berlebihan air seperti Karst yang ada di Pangkep Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi tingkat kekritisan air bulanan di Kawasan Karst Gombong Selatan dan Sekitarnya secara spasial dan temporal.Variabel penelitian yang digunakan adalah curah hujan dan faktor geologi untuk menghitung ketersediaan air, serta jumlah penduduk, jumlah murid sekolah, jumlah industri, jumlah fasilitas kesehatan, jumlah fasilitas ibadah, dan luas area pasar untuk kebutuhan air. Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan bulanan yang digunakan selama tahun 1988-2017 dari 2 stasiun penakar curah hujan. Metode yang digunakan adalah menghitung serta membandingkan jumlah kebutuhan air dan ketersediaan air bulanan secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara temporal kekritisan air baru terjadi pada bulan-bulan seperti Bulan Juni, Juli Agustus dan September. Secara spasial, wilayah dengan tingkat kekritisan mendekati kritis-sangat kritis terjadi pada Bulan Juni-September dan sebagian besar mengelompok di sebelah Timur Laut serta Utara menuju ke Tengah wilayah penelitian.

Some karst areas have dry and unproductive areas and often experience of drought phenomena and critical water such as in the Karst Area of Pegunungan Sewu in Wonogiri and Gunung Kidul. But there are some other karst areas that just excessive water like Karst in Pangkep Maros, South Sulawesi. This study aims to analyze the variation of monthly water criticality level in Karst Gombong Selatan and surrounding areas spatially and temporally. The research variables used rainfall and geological factors to calculate water availability, and the number of residents, the number of school students, the number of industries, the number of facilities health, number of worship facilities, and wide market area to calculate water needs. Rainfall data used is the monthly rainfall data used during the years 1988 2017 from 2 rainfall precipitation stations. The method used to calculate and compare the quantity of water needs and monthly water availability quantitatively. The results show that temporal water criticality occurs only in months such as June, July August and September. Spatially, the region with criticality is close to critical very critical in June September and mostly clustered to the Northeast and North to the Middle of the study area.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riski Sastri Utami
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pertumbuhan penduduk dan ketersediaan lahan di Kota Sukabumi, serta memprediksi ketersediaan lahan hingga tahun 2042. Metode yang digunakan meliputi pemodelan sistem dinamis menggunakan Powersim untuk memproyeksikan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan lahan, serta simulasi spasial dengan metode CA-Markov untuk memetakan perubahan tutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan terbalik antara pertumbuhan penduduk dan ketersediaan lahan, dengan validitas model sebesar AME 4,15%. Kota Sukabumi diprediksi mencapai ambang batas daya dukung lingkungan sebesar 70% pada tahun 2033 dan melampauinya hingga 80% pada tahun 2042. Perubahan wilayah terbangun cenderung terjadi di wilayah tengah dan utara, sedangkan wilayah selatan dan timur masih didominasi lahan pertanian. Penelitian ini menekankan pentingnya pengendalian konversi lahan dalam perencanaan tata ruang yang berkelanjutan

This study aims to analyze the relationship between population growth and land availability in Sukabumi City and to project land availability until 2042. The methods employed include dynamic system modeling using Powersim to forecast population growth and land demand, and spatial simulation using the CA-Markov method to map land cover changes. The results show an inverse relationship between population growth and land availability, with a model validity of 4.15% AME. Sukabumi City is projected to reach its environmental carrying capacity threshold (70%) by 2033 and exceed 80% by 2042. Land development is predicted to be concentrated in the central and northern parts of the city, while agricultural land in the southern and eastern areas is expected to persist. This study highlights the urgency of controlling land conversion in support of sustainable spatial planning. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kayla Maritza Danindra
"Studi ini melihat hubungan antara aset mata pencaharian berkelanjutan dan penerapan strategi konservasi lahan hortikultura di berbagai ketinggian di Kabupaten Sukabumi, Indonesia. Penelitian ini didasarkan pada konteks degradasi lahan dan kerentanan sosial-ekonomi yang dialami oleh petani hortikultura. Tujuannya untuk mengidentifikasi bagaimana perbedaan ketinggian memengaruhi distribusi lima modal mata pencaharian—manusia, alam, fisik, finansial, dan sosial—dan bagaimana hal ini memengaruhi strategi petani untuk mempertahankan mata pencaharian mereka dan keberlanjutan lahan mereka. Desain metode campuran konvergen digunakan, yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei terstruktur menggunakan skala Likert untuk tingkat setiap aset mata pencaharian. Kemudian dianalisis spasial untuk menghasilkan peta distribusi di berbagai kelas ketinggian. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan FGD. Uji statistik tabulasi silang digunakan untuk mengeksplorasi korelasi antar variabel. Temuan ini mengungkapkan bahwa petani di dataran rendah umumnya memiliki modal finansial dan sosial yang lebih kuat, yang memungkinkan mereka untuk mengadopsi praktik konservasi yang lebih terstruktur. Sebaliknya, petani dataran tinggi sering menunjukkan aset finansial yang lebih lemah dan menghadapi lebih banyak kendala ekologis, yang meningkatkan kerentanan mereka. Modal alam modal cenderung lebih tinggi di dataran menengah hingga tinggi. Selain itu, kepemilikan aset dan kerentanan spasial bervariasi secara signifikan berdasarkan ketinggian. Studi ini menyimpulkan bahwa strategi konservasi mempertimbangkan kepemilikan modal mata pencaharian. Kebijakan diperlukan untuk mengintegrasikan analisis kerentanan geospasial dengan pemberdayaan aset berbasis petani, untuk mencapai hasil konservasi yang lebih adil dan ramah lingkungan di lanskap hortikultura.

This study explores the relationship between sustainable livelihood assets and horticultural land conservation strategies across different altitudes in Sukabumi Regency, Indonesia. Grounded in the context of land degradation, climate change, and socio-economic vulnerability, the research examines how elevation influences the distribution of livelihood capitals—human, natural, physical, financial, and social—and how these affect farmers’ strategies for sustaining both livelihoods and land. Using the Sustainable Livelihood Framework (SLF) and spatial analysis, the study adopts a convergent mixed-methods approach, combining quantitative surveys and GIS-based mapping with qualitative interviews and focus group discussions. Findings indicate that farmers in lower elevations typically have stronger financial and social capital, enabling more structured conservation practices. In contrast, highland farmers face ecological constraints and possess weaker financial assets, increasing their vulnerability. While natural capital is higher at mid-to-high altitudes, it is not always matched by other supporting assets necessary for effective conservation. The study concludes that spatial disparities in asset ownership must be considered in designing conservation strategies. Strengthening financial access and social support in highland areas is crucial. It recommends integrating geospatial vulnerability assessments with policies that empower farmers through differentiated, location-sensitive planning to promote equitable and sustainable land management."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harits Fathurrahman
"Kenaikan suhu dan fenomena Urban Heat Island (UHI) yang terjadi pada beberapa kota besar di Indonesia. Salah satunya adalah Kota Jakarta Timur yang menjadi kota dengan jumlah penduduk tertinggi di wilayah DKI Jakarta. Ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memitigasi UHI. RTH dapat memberikan efek pendinginan pada lokasi dan sekitarnya dengan cara memberi peneduh (shade) dan evapotranspirasi. Efek pendinginan yang dihasilkan disebut sebagai Greenspace Cool Island Intensity (GCII). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik RTH publik dan sebaran dari GCII yang dihasilkan, serta menganalisis hubungan antara karakteristik RTH publik dengan GCII. Karakteristik RTH publik yang digunakan adalah luas, landscape shape index (LSI), dan leaf area index (LAI). Metode pengukuran yang digunakan untuk mendapatkan nilai GCII adalah metode equal radius. Citra yang digunakan sebagai bahan dasar pengolahan adalah citra Landsat 9 tahun 2023. Hasil penelitian menunjukan jika RTH publik di Jakarta Timur memiliki 6 jenis karakteristik, dengan tipe luas kecil, tidak beraturan, pepohonan atau tanaman berdaun lebar sebagai karakteristik yang mendominasi. Nilai GCII yang diperoleh memiliki rentang 0,04oC – 1,56 oC dengan GCII relatif tinggi mayoritas berada di Kecamatan Cipayung. Karakteristik luas RTH publik memiliki hubungan dengan nilai GCII, sementara LSI dan LAI memiliki hubungan korelasi yang kurang signifikan. Selain itu, tutupan lahan vegetasi disekitar RTH publik juga berkorelasi positif terhadap nilai GCII.

Temperature rise and the UHI phenomenon occur in several major cities in Indonesia, including East Jakarta City, which is the city with the highest population in the DKI Jakarta area. Green open space (GOS) is one of the efforts that can be made to mitigate UHI. Green spaces can provide a cooling effect on the location and surroundings by providing shade and evapotranspiration. The resulting cooling effect is referred to as Greenspace Cool Island Intensity (GCII). This study aims to analyze the characteristics of public green spaces and the distribution of GCII generated, as well as analyze the relationship between the characteristics of public green spaces with GCII. The characteristics of public green spaces used are area, landscape shape index (LSI), and leaf area index (LAI). The measurement method used to obtain the GCII value is the equal radius method. The image used as the basis for processing is the Landsat 9 image in 2023. The results showed that in East Jakarta public green spaces have 6 types of characteristics, with small area types, irregular, trees or broadleaf plants as the dominating characteristics. The GCII value obtained has a range of 0.04oC - 1.56 oC with relatively high GCII, the majority of which are in Cipayung District. The characteristics of public green space area have a relationship with GCII values, while LSI and LAI have a less significant correlation relationship. In addition, vegetation land cover around public green spaces is also positively correlated with GCII values."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sayed Iskandar Muda
"ABSTRAK
Manajemen resiko telah dibentuk sebagai sebuah prosedur penanganan atau tindak lanjut terhadap bencana yang ditimbulkan oleh alam dan manusia. Dalam hal bencana banjir, manajemen resiko yang diterapkan adalah mengelola resiko pada situasi banjir dan merencanakan sebuah sistem yang akan mengurangi resiko banjir.
Jalur evakuasi untuk pengurangan dampak bencana banjir di Jakarta adalah salah satu usaha untuk mengurangi dampak kerugian negara yang ditimbulkannya dan merupakan bagian dari manajemen resiko bencana yang terdiri dari 3 komponen yakni, bencana, paparan, dan kerentanan. Ketika banjir kanal timur dan barat, dan sistem polder mengalami kegagalan dalam menangani banjir, seyogyanya pemerintah DKI sudah memiliki skenario dan cetak biru untuk mengatasi kejadian ini.
Dalam penelitian ini akan disimulasi banjir kala ulang 100 tahun untuk dapat menentukan wilayah penggenangan air agar diketahui wilayah-wilayah yang terkena bencana banjir. Selanjutnya, dengan memetakannya memakai program SIG akan ditentukan jalur evakuasi beserta skenarionya sesuai dengan karakter para calon pengungsi.

ABSTRACT
Risk management has been established as well as a procedure to handling situation of natural, environment and man made hazards. In case of flood hazard, risk management applied as managing risk in flooding situation and planning in a system to reduce flood risk.
Evacuation route for Jakarta flood disaster mitigation is one of effort to mitigate impact of loss of government and become part of risk managemenet where consist of 3 component which are hazard, exposure, and vulnerabilit . When Eastern/ Western Flood Canal and Polder system fail to prevent the flood, the government of DKI should have evacuation scenarios and blue print to counter this problem.
This research will simulate 100 year-return flood to determine innundation area in order to figure out the exposed area by flood hazard. For further step, it will be mapped using GIS program to establish the evacuation route and its scenario, as well as character of evacuate citizen."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T32133
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ismail Husen
"DKI Jakarta merupakan bagian dari megapolitan Jakarta yang tumbuh sangat dinamis, namun kurang terkendali sehingga memunculkan permasalahan lingkungan diantaranya pencemaran udara. Pola distribusi spasial polutan udara (NO2, O3, PM10) di DKI Jakarta dan kaitannya dengan curah hujan, tutupan tajuk vegetasi, dan wilayah terbangun tahun 2013-2014. Dikaji dalam penelitian ini menggunakan metode komparasi spasial berbasis wilayah cakupan 0,5 km, 1 km dan 1,5 km dari lokasi stasiun pengukur kualitas udara. Informasi keruangan tutupan tajuk vegetasi dan wilayah terbangun diolah dari citra landsat 8 yang didapatkan dari United State Geological Survey dengan pendekatan NDVI dan NDBI. Citra landsat yang digunakan ialah citra tahun 2013-2014.
Hasil menunjukkan nilai konsentrasi polutan udara cenderung rendah pada awal tahun dan semakin tinggi di pertengahan tahun dan semakin rendah menuju akhir tahun. Selain itu polutan tertinggi terjadi di stasiun dengan karakteristik wilayah sekitar yang memiliki tutupan tajuk vegetasi yang sedikit dan wilayah terbangun yang luas. Sedangkan distribusi polutan terendah terjadi di stasiun dengan karakteristik wilayah sekitar yang memiliki tutupan tajuk vegetasi yang luas dan wilayah terbangun yang sedikit. Kemudian tutupan tajuk vegetasi berhubungan berbanding terbalik dengan polutan udara (NO2, O3, PM10), wilayah terbangun berhubungan berbanding lurus dengan polutan udara (NO2, O3, PM10) dan curah hujan berhubungan terbalik dengan polutan udara (NO2, O3, PM10). Model distribusi menunjukkan nilai polutan yang tinggi tersebar di bagian pusat, utara, timur, timur laut, dan barat, barat laut.

DKI Jakarta is part of a growing megapolitan Jakarta is very dynamic, but lack of control that raises environmental problems including air pollution. Patterns of spatial distribution of air pollutants (NO2, O3, PM10) in Jakarta and its relation to precipitation, vegetation canopy cover, and built area in 2013-2014. Examined in this study using a comparative method based spatial coverage area of ​​0.5 km, 1km and 1.5 km from the location of air quality measuring stations. Vegetation canopy cover spatial information and processed built area of Landsat 8 obtained from United State Geological Survey with NDVI and NDBI approach.
Results showed the concentration of air pollutants tend to be low in the early years and higher in mid-year and the lower towards the end of the year. In addition pollutants occurred in the area around the station with the characteristics that have little vegetation canopy cover and wide area awakened. While pollutant distribution was lowest in the area surrounding the station with the characteristics that have extensive vegetation canopy cover and the built area up a little. Then vegetation canopy cover associated inversely with air pollutants (NO2, O3, PM10), where built area directly proportional to air pollutants (NO2, O3, PM10) and precipitation is inversely related to air pollutants (NO2, O3, PM10). Distribution model shows a high value of pollutants dispersed in the central, north, east, northeast, and west, northwest.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S59361
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   5 6 7 8 9 10 11   >>