Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 65 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Siagian, Esta Pinta
"ABSTRAK
Penerjemahan teks dari buku How to Deal with Parents who Are Angry, Troubled, Afraid, or Just Plain Crazy bertujuan untuk mencari padanan bidang psikologi pendidikan. Terjemahan beranotasi dilakukan dengan dua cara, yakni menerjemahkan dan memberi anotasi?menjelaskan padanan yang dipilih penerjemah sebagai jalan keluar dari masalah penerjemahan dan pertangungjawaban atas pilihan kata tersebut. Berdasarkan masalah yang timbul dalam penerjemahan, masalah dikelompokkan ke dalam lima bagian, yakni istilah, metafora, nama diri, idiom, dan peribahasa. Penerapan metode dan prosedur penerjemahan bermanfaat untuk memecahkan masalah dan mendapatkan pemadanan yang berlaku. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa dengan mengikuti langkah-langkah yang tepat dalam penerjemahan, memilih metode yang sesuai, dan menerapkan prosedur tersebut, penerjemah ini dapat memecahkan masalah penerjemahan, termasuk penerjemahan teknis. Metode komunikatif dan semantis diterapkan agar menghasilkan terjemahan yang baik, wajar, dan tepat.

ABSTRAK
The translation of How to Deal with Parents who Are Crazy, Troubled, Afraid, or Just Plain Crazy is aimed at finding the equivalent for the terminology of Educational Psychology. This annotated translation is carried out in two ways, namely by doing translation and giving annotation?explaining the equivalent words chosen as the solution of translation and taking responsibility for the choice. The problems are classified into five categories: terms, metaphors, proper names, idioms, and proverbs. The implementation of the translation methods and procedures are used to solve those problems and find the equivalent words in the target language. It is concluded that following the proper steps, choosing the right method and procedure, and using applicable rules, this translator can solve problems related to translation, including technical translation. Communicative and semantic methods are applied in order to produce a good translation.
"
2007
T22914
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marti Fauziah Ariastuti
"Tesis ini membahas penggunaan ancangan pemelajaran berbasis data (Data-Driven Learning) di kelas penulisan akademik bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta, Indonesia. Penelitian ini merupakan studi kasus yang melibatkan tiga belas pemelajar semester V, program studi bahasa dan kebudayaan Inggris. Penelitian berlangsung selama satu semester. Tujuan utama penelitian adalah melihat pengaruh penggunaan ancangan pemelajaran berbasis data bagi pemelajaran menulis dan pengaruh penggunaan korpus terhadap ketepatan dan keakurasian penggunaan kosakata pemelajar. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber, termasuk catatan pencarian pemelajar, refleksi pemelajar, dan vocabulary review, untuk mendukung validitas penelitian. Penelitian mendalam terhadap data menunjukkan sejumlah pengaruh positif penggunaan ancangan ini. Penggunaan korpus dapat menstimulasi daya analitis pemelajar akan pemelajaran pola dan kaidah bahasa target, sekaligus meningkatkan pemahaman mereka akan aspek leksiko-grammatikal. Hasil penelitian juga menunjukkan retensi pengetahuan kosakata pemelajar yang cukup baik. Penelitian lanjutan yang melibatkan lebih banyak pemelajar dan penggunaan korpus yang lebih besar menjadi tantangan di masa depan untuk memperkaya penelitian yang telah dilakukan.

This thesis discusses the use of Data-Driven Learning with small scale corpora in an English for Academic Writing course in a university in Jakarta, Indonesia. The research was based on a case study of thirteen fifth-semester undergraduate students majoring in English. The main purpose of the study was to examine the effects of the use of corpora on academic writing and the accuracy and appropriateness of vocabulary use of the writers. Various data sources were used, including students? search logs, recall protocols, and vocabulary reviews, to ensure the validity of the study. The close analysis of the data revealed several positive effects of the approach. The use of corpus technology stimulated the students to think critically when using patterns and rules of the target language and impoved their command of lexico-grammar. The result also showed that the retention of students? vocabulary knowledge when using DDL was satisfactory. Future challenges will be to conduct experimental research involving a larger number of students and using larger scale copora."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2011
T28312
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lila Fitri Aly
"Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat oleh ruang (masyarakat tertentu), waktu (zaman tertentu), serta status sosial tertentu dalam masyarakatnya. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium untuk menampilkan gambaran kehidupan suatu masyarakat. Dengan demikian tampak jelas adanya hubungan timbal batik antara sastrawan, sastra dan masyarakat. Suatu masyarakat tertentu yang menghidupi seorang pengarang akan melahirkan suatu jenis sastra dan jenis karya tertentu pula. Dengan sendirinya, masyarakat merupakan faktor yang menentukan apa yang harus ditulis, dan apa tujuan dan maksudnya. Selain itu sastra juga dapat untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu atau bahkan mengandung gagasan yang mungkin dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap sosial tertentu. Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mampu memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca atau penontonnya, melalui dengan unsur-unsur gerak, dialog, penampilan para tokoh dan setting di atas pentas. Dengan keserbalengkapannya ini, drama dapat saja menjadi suatu alat yang efektif, tidak saja untuk menggambarkan keadaan sosial suatu masyarakat pada zaman tertentu, tetapi dapat pula menyampaikan ide atau gagasan penulisnya untuk mempengaruhi para pembaca atau penontonnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa drama merupakan bentuk karya sastra yang mempunyai hubungan yang paling erat dengan situasi sosial."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S14112
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Dharmayuningsih
"Penulis tertarik untuk menganalisis wacana, dalam hal ini puisi melalui kohesi karena dua hal, pertama karena belum ada mahasiswa Fakultas Sastra Inggris yang menganalisis puisi dari sudut keutuhan wacana (kohesi), kedua karena tertarik untuk melihat apakah kohesi mempunyai nilai tambah lain selain berfungsi untuk mempertautkan wacana. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk (1) melihat keutuhan wacana puisi melalui alat-alat kohesi yang diajukan oleh Halliday dan Hasan, dan (2) melihat seberapa jauh kohesi dapat membantu pemahaman wacana yang bersangkutan dan (3) memperkaya bidang analisis wacana dengan menerapkan teori linguistik pada wacana sastra. Data yang diambil adalah tiga puisi penyair Amerika, Robert Frost yang cukup terkenal sehingga dirasa cukup representatif, yaitu The Road Not Taken, Stopping By Woods On A Snowy Evening, Mending Wall. Korpus data penulis analisis dengan menggunakan seperangkat alat kohesi yang diajukan Halliday dan Hasan dalam buku Cohesion In English, yaitu (1) kohesi gramatikal, yang secara garis besar terdiri atas referensi, substitusi, elipsis dan konjungsi, (2) kohesi leksikal yang terdiri atas reiterasi dan kolokasi. Kesimpulan analisis skripsi ini adalah bahwa keutuhan ketiga puisi Robert Frost cukup terjaga walaupun tidak semua alat kohesi baik gramatikal ataupun leksikal ditemukan. Disamping itu, alat-alat kohesi ternyata juga berfungsi sebagai sarana untuk sampai kepada taraf pemahaman wacana, dan hal ini berlaku untuk dua puisi, yaitu The Road Not Taken dan Stopping By Woods On A Snowy Evening. Untuk Mending Wall hal ini tidak sepenuhnya berlaku karena terdapat bentuk leksikal tertentu yang tidak tercakup di dalam kohesi sehingga bentuk leksikal tersebut harus dipahami secara tersendiri dengan menghubungkannya dengan dunia luar bahasa yang tentu saja sesuai dengan konteks wacana yang bersangkutan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1988
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ananta Iswari
"Berangkat dari asumsi bahwa tokoh-tokoh Banjo ini dianggap sebagai orang-orang Australia tulen yang pertama kali benar-benar muncul dalam sajak dan yang kemudian menjadi figur bush heroes (Ollif, 1971: 35), skripsi ini mencoba mendeskripsi apa dan bagaimana bush heroes itu sebenarnya: bagaimana karakter dan kehidupan mereka, bagaimana hubungan antar mereka, dan bagaimana hubungan antara mereka dengan latarnya. Deskripsi ini jelas merupakan konsep hero menurut Banjo. Masalah yang kemudian timbul adalah bagaimana sampai hero ciptaan Banjo ini diterima pula sebagai hero khas Australia. Untuk menjawab hal ini, penelitian akan dihubungkan dengan sejarah kehidupan komunitas bush. Untuk meneliti masalah yang diajukan dalam skripsi ini, penulis memaparkan sejarah terbentuknya komunitas bush serta memilih enam balada karya Banjo, yaitu: Clancy of the Overflow, The Man from Snowy River, The Man from Ironbark, A Bushman Song, Saltbush Bill, dan Waltzing Matilda. Keenam balada ini dipilih karena alasan sebagai berikut: tokoh yang diciptakan semua berasal dari kalangan pekerja bush dan mereka itu digambarkan menghadapi tantangan untuk membuktikan sesuatu. Selain itu, balada-balada ini (kecuali Waltzing Matilda) termasuk dalam kumpulan The Man from Snowy River yang merupakan koleksi karya Banjo yang terbaik yang pernah ditulisnya (Semmler, 1974: 69). Inilah yang membuat penulis memilih keenam balada ini, disamping karena mereka merupakan balada-balada yang paling terkenal dan paling banyak diminati orang."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S13921
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Santi Jayani
"ABSTRAK
Penulis tertarik untuk menganalisa puisi Philip Larkin yang mempunyai tema masa tua dan kematian karena penyair kontemporer ini mempunyai pandangan tersendiri tentang hal tersebut.
Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk menyelidiki pandangan Philip Larkin mengenai masa usia lanjut dan kematian dengan menganalisa puisi-puisinya yang terdapat dalam album High Windows. Tujuh puisi terpilih untuk dianalisa. lebih lanjut, yang adalah: The Trees, High Windows., The Old Fools, The Explosion, The Building, Cut Grass, dan Dublinesque.
Puisi-puisi tersebut dianalis secara intrinsik berdasarkan teori Rene Wellek, yaitu menginterpretasi puisi dengan menganalisa unsur-unsur yang ada di dalamnya.
Kesimpulan analisis skripsi ini adalah bahwa Philip Larkin mempunyai pandangan yang berbeda dari kalangan umum yang beragama terhadap masa tua dan kematian. Menurut Larkin, masa tua yang merupakan bagian akhir dari kehidupan manusia di dunia tetap merupakan hal yang sangat berarti. Di masa tua, manusia masih mempunyai eksistensi, masih mempunyai kemampuan untuk melakukan hal-hal yang berarti buat diri sendiri. Di kematian, manusia tidak berarti apa-apa, manusia 'hilang' dan hal ini bersifat abadi.

"
1989
S14166
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Listiawati
"ABSTRAK
Saul Bellow (1915- ) memang seorang novelis Amerika yang sangat terkenal. Dia pernah memenangkan Hadiah nobel atas karyanya Humbolt Gift pada tahun 1975, dan juga memenangkan _The National Book Award' tiga kali, serta 'The Prix International de Litterature_ dan beberapa hadiah lainnya.
Novel-novel Bellow mencerminkan perhatian penga_rangnya pada kehidupan manusia sebagai seorang indi_vidu yang dengan segala kekurangannya berusaha ber_adaptasi dengan kehidupan yang dikatakan 'beradab'. Keseriusan Bellow menyoroti kehidupan pribadi tokoh-_tokoh utamanya, terutama keadaan jiwa dan perilaku mereka mengakibatkan tampilnya tokoh-tokoh yang se_akan-akan nyata ada.
Semua tokoh utama novel-novel Saul Bellow merasa diri mereka tidak berpotensi dalam kehidupan sosial_nya. Sebagian dari mereka khawatir akan keadaan ini dan sebagian lain tidak memperdulikan hal itu.
Ciri-ciri yang menonjol dari tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Saul Bellow adalah kebutuhannya untuk dicintai, baik oleh saudaranya, orangtuanya, atau oleh wanita yang dia cintai. Tetapi tragisnya orang-orang yang diharapkan mencintainya, justru tidak mempedulikan dia. Misalnya hubungan Herzog (tokoh utama Herzog,) dengan bekas istrinya Madeleine, hubungan Wilhelm (tokoh utama Seize the Day) dengan ayahnya, Augie (tokoh utama The Adventures of Augie March) dengan saudaranya, Simon, dan Charlie (tokoh utama Humbolt's Gift) dengan saudaranya, Julius.
Beberapa dari tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Saul Bellow masih bersifat kekanak-kanakan atau tidak dewasa. Ketidakdewasaan ini mengakibatkan mereka berkonflik dengan .diri mereka sendiri, dan akhirnya dengan orang lain di sekitarnya. Mereka tidak bisa memahami siapa diri mereka sebenarnya, dan bagaimana lingkungannya. Hal ini menempatkan mereka pada posisi yang sulit. Mereka ingin sekali diakui sebagai se_buah pribadi dalam lingkungannya, tetapi karena dari diri mereka sendiri belum didapatkan identitas yang pasti, lingkungan pun sulit untuk menerima mereka sebagai pribadi-pribadi yang unik dan selaras dengan lingkungannya. Pribadi-pribadi yang unik dan selaras dengan lingkungannya adalah pribadi-pribadi yang berbeda dari orang lain dan yang dapat menempat_kan diri mereka pada posisi yang tepat dalam ling_kungan mereka. Karena merasa diri mereka tidak men_dapatkan tempat dalam masyarakatnya, timbullah rasa teralienasi. Sesungguhnya apa yang dialami tokoh-_tokoh tersebut sehingga mereka tidak mendapatkan tempat dalam masyarakatnya dan merasa teralienasi adalah karena mereka tidak sanggup menyesuaikan diri dengan lingkungannya, seperti yang dialami tokoh_-tokoh utama dalam Dangling Man, Seize the Dav, dan Henderson the Rain Kind. lnilah kesalahan yang mereka perbuat dan mereka anggap ini sebagai masa lalu. Tokoh-tokoh yang teralienasi ini berusaha untuk membayar kesalahan-kesalahan mereka dengan cara me_mandang masa lalu mereka sebagai suatu beban. Ini dikatakan John Jacob Clayton dalam bukunya Bellow: In Defense of Man :
This act of seeming alienation, is in fact performed for the community. As in so much of Bellow's fiction -- Dangling Man, Seize the Day, Henderson the_Rain King -- there is an alienated hero struggling to redeem his own life -- and, by extension, the common life -- by ridding himself of a past seen in the Metaphor of a burden.
Akhirnya tokoh-tokoh tersebut, jika mereka tidak berhasil mendapatkan identitas mereka, memandang masyarakat jahat terhadap mereka. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Seperti apa yang dikatakan Keith Michael Opdahl bahwa tokoh utama Saul Bellow adalah seorang hero Amerika yang berusaha mendapatkan kedewasaannya. Dia terombang-ambing antara kebutuhan_nya untuk dicintai dan keterlepasannya dari dunia yang tidak mencintainya, tidak seperti yang diharap_kannya. Dia tidak dewasa dan dia adalah korban dari dirinya sendiri:
Bellow's protagonist is an American hero groping toward manhood. Vacillating between a need to be loved and withdrawal from a world which doesn't love him as he wishes, he is immature and a victim of himself.
Tokoh-tokoh dalam novel-novel Saul Bellow tidak hanya terputus hubungannya dengan masyarakat (dunia) tetapi juga dengan teman-teman dan istri-istri mereka, seperti pendapat John Jacob Clayton : Bellow's characters are lonely, despairing, cut off not only from society but from. friends and wives.
Walaupun demikian, tokoh-tokoh utama Saul Bellow mempunyai kecenderungan untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Mereka berusaha untuk mendapatkan identitas yang pasti tentang diri mereka. Seperti pendapat Carl Gustav Jung bahwa dalam diri manusia ada satu tendens yang paling dasar yaitu kecenderung_an batin untuk mewujudkan diri, untuk menjadi diri sendiri.

"
1990
S14149
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Rachmi
"ABSTRAK
Soneta-soneta William Shakespeare membahas berbagai tema. Tetapi ada satu hal yang mendasari sebagian besar soneta-sonetanya. Dalam hampir semua soneta-sonetanya, Shakespeare tidak pernah melepaskan tema dasarnya, yakni waktu dan pengaruhnya pada manusia serta ketidakberdayaan manusia dalam menghadapinya. Tujuan skripsi ini adalah untuk meneliti bagaimana Shakespeare menggunakan citraan melalui majas-majas untuk mengungkapkan keresahan, ketakutan dan kegelisahannya dalam menghadapi perjalanan waktu, dengan maksud agar diketahui konsep Shakespeare tentang waktu. Penelitian ini mengambil pendekatan intrinsik, yakni membahas soneta-soneta Shakespeare berdasarkan unsur-unsur dalam soneta itu sendiri, dengan menggunakan analisa deskriptif.
Dari 154 soneta Shakespeare, penelitian ini hanya membahas lima buah soneta saja, sebab dalam kelima soneta ini Shakespeare mengangkat tema waktu sebagai pembicaraan utama. Kelima soneta itu adalah soneta 5, 19, 60, 115, dan 123.
Dalam puisi, kata-kata memiliki peran sangat penting. la berperan sebagai penghubung antara pembaca dengan dunia intuisi penyair, dan yang utama adalah sebagai objek yang mendukung imaji. Dan dalam puisi, imaji merupakan salah satu alat yang penting, disamping simbol, majas atau kiasan, dan paradoks, yang digunakan seorang penyair untuk.mengemukakan gagasannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Shakespeare, dalam kelima sonetanya, menggunakan keempat alat pembentuk puisi di atas. la tidak menerapkannya secara terpisah, melainkan menjalin keempat unsur di atas sedemikian rupa sehingga keempatnya saling menunjang dalam menampilkan citra Waktu. Shakespeare banyak menggunakan majas metafora dan personifikasi yang saling terpaut. Selain itu, pilihan kata (diksi) Shakespeare menghasilkan pula paradoks dan ironi. Tapi majas utama yang mendasari soneta-sonetanya adalah majas simbol.
Dari penelitian penggunaan keempat alat pembentuk puisi oleh Shakespeare, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat empat citra Waktu yang utama dalam soneta-soneta Shakespeare. Pertama, Waktu sebagai suatu kekuatan yang tidak pernah berhenti bergerak. Kedua --dan ini merupakan ciri Waktu yang dominan -- Waktu sebagai seseorang yang dengan kejam merusak segala sesuatu di alam ini. Ketiga, Waktu berkuasa atas segala sesuatu yang ada di bumi tanpa ada yang dapat melawannya. Dan keempat adalah citra Waktu yang sangat dekat dengan Kematian.
Dari kesimpulan di atas tampak bahwa Shakespeare memiliki suatu konsep tentang Waktu. Namun perlu diingat bahwa konsepnya ini ia ungkapkan melalui citraan, simbol serta majas-majas perbandingan yang ia gunakan, dan konsep ini tidak dinyatakan dengan jelas dan terumus dalam satu soneta saja, melainkan saling menunjang antara satu soneta dengan soneta lainnya.

"
1989
S14153
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Parwati Setyorini Soejono
"Isi skripsi ini adalah mencari makna konsep _only concept_ dalam novel Howards End dan membuktikan konsep _only concept_ merupakan tema dasar novel Where Angels Fear to Tread dan A Passage to India. Sifat skripsi adalah analisa struktual, yaitu membahas makna novel menrurut beberapa unsur pembentuk yang paling menonjol dalam menerangkan makna seperti alur, penokohan dan pelambangan. Tujuan skripsi ini adalah memperlihatkan kaitan antara pandangan pribadi EM Forster dengan tema atau makna dasar novel-novelnya dan dengan demikian meningkatkan apresiasi terhadapnya."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1988
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wiwin Purbaningrum
"Tesis ini membahas hubungan antara penggunaan strategi komunikasi dengan tingkat pengalaman menggunakan bahasa Inggris oleh pemelajar ESL. Data penelitian diambil dengan cara merekam tugas wicara di depan umum sebanyak dua kali. Subjek penelitian yang berjumlah dua puluh mahasiswa merupakan mahasiswa program studi bahasa Inggris semester V. Penelitian ini bersifat kualitatif analitik dengan beberapa penghitungan sederhana yang menunjukkan frekuensi penggunaan strategi komunikasi. Teori yang digunakan dalam menganalisis data penelitian adalah taksonomi yang dibuat oleh Dornyei dan peneliti proyek Nijmegen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis strategi komunikasi yang digunakan oleh pemelajar, yaitu strategi pencapaian, strategi pemanfaatan waktu untuk berpikir, dan strategi penghindaran. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa terdapat kecenderungan bahwa pemelajar dengan pengalaman menggunakan bahasa Inggris lebih tinggi menggunakan strategi komunikasi lebih sedikit dan sebaliknya. Tujuan penggunaan strategi alih kode oleh pemelajar juga bervariasi. Pemelajar dengan tingkat pengalaman berbahasa Inggris lebih tinggi menggunakan strategi komunikasi ini dengan tujuan tertentu, misalnya untuk memberikan efek humor dan meningkatkan kejelasan pesan yang disampaikan. Penelitian dengan jumlah subjek lebih besar perlu dilakukan agar hasil penelitiannya dapat digeneralisasikan.

This thesis discusses the relationship between the use of communication strategies and students? English language experience as their second language. Research data (both audio and visual) were collected by recording the speeches by students during public speaking classes which were conducted twice. The twenty research subjects were English department students in the fifth semester. This research used qualitative and analytical approach combined with quantitative analysis to count the frequency of communication strategies employed by the students. The latest taxonomy of communication strategies designed by DŐrnyei and Nijmegen projects were used to analyze the data. The result showed that students used three types of communication strategies, namely achievement strategies, stalling or time-gaining strategies, and topic avoidance strategies. The analysis also uncovered that students with higher experience in using English used fewer communication strategies compared to those with lower level of experience. Surprisingly, although there was no difference in the choice of communication strategies, there was a clear difference in the purpose of using code switching strategies by these two types of students. Students with higher English language experience tended to use this strategy for particular purposes, such as to create humoristic effect and to make the message much clearer to the interlocutors. Given the limited number of subjects, this research could be the basis for further studies involving more subjects to ensure the generalizability of the results."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2011
T29223
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>