Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 72 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rini Hildayani
"Pada masa dewasa muda, keintiman (intimacy) merupakan sesuatu yang menjadi perhatian. Keintiman tidak saja dapat dicapai melalui hubungan perkawinan, tetapi juga melalui sejumlah bentuk hubungan yang Iain, misalnya, persahabatan. Persahabatan dapat dibentuk, baik dengan orang-orang dari jenis kelamin yang sama maupun dengan lawan jenis. Untuk orang-orang yang telah menikah, persahabatan terkadang dipandang sebagai sesuatu yang dapat mengacaukan fungsi perkawinan, apalagi jika persahabatan yang dibentuk adalah persahabatan lawan jenis.
Umumnya, masyarakat memandang bahwa seseorang yang telah menikah seharusnya memperoleh semua kebutuhan dari pasangannya dan tidak mengembangkan hubungan dengan orang di Iuar pasangan, apalagi jika hubungan dibina dengan lawan jenis. Hal ini tampaknya diperkuat oleh norma budaya yang kurang mendukung persahabatan lawan jenis. Dikatakan bahwa persahabatan jenis ini hampir selalu dikaitkan dengan adanya keterlibatan unsur seks. Selain itu, mungkin akan timbul masalah dengan pasangan sehubungan dengan kehadiran sahabat. Padahal sebagai suatu bentuk hubungan, persahabatan jenis ini mungkin dapat memberikan manfaat yang suIit didapat dalam hubungan lain pada orang-orang yang menjalaninya.
Adanya nilai positif yang mungkin diperoleh dari persahabatan dengan lawan jenis pada orang-orang yang telah menikah, rnasalah yang mungkin timbul dengan pasangan akibat hubungan yang dijalani, serta ancaman terhadap penyimpangan dari hubungan yang mungkin terjadi mendorong peneliti uniuk mengetahui gambaran persahabatan pada pria dan wanita yang telah menikah. Usia dewasa muda dipilih untuk menjadi subyek dalam penelitian ini karena pada tahap ini seseorang dihadapkan pada sejumlah tugas, di antaranya membentuk keluarga dan memperkuat persahabatan.
Teori dan hasil penelitian dari sejumlah peneliti digunakan dalam penelitian ini sebagai sumber rujukan; umumnya meliputi hal-hal yang berkaitan dengan persahabatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan wawancara mendalam sebagai alat pengumpul data utama. Dipilihnya bentuk metode ini adalah karena persahabatan merupakan sesuatu yang dihayati secara pribadi oleh individu dan dapat menimbulkan pemikiran, perasaan, dan tingkahlaku yang berbeda satu sama Iain. Subyek yang dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah sepuluh orang; terdiri dari lima subyek pria dan lima subyek wanita yang memenuhi kriteria tertentu.
Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa keseluruhan subyek dalam penelitian ini mendapatkan nilai positif dari persahabatan yang mereka jalani. Sejumlah manfaat diperoleh dari persahabatan. Manfaat ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, tampaknya ditujukan untuk meningkatkan kebahagiaan perkawinan. Di lain sisi, pasangan subyek penelitian tampaknya cukup dapat menerima kehadiran sahabat.
Saat ini, keluarga tetap ditempatkan pada prioritas utama. Belum ditemukan adanya pelanggaran pada subyek terhadap komitmen perkawinan, seperti keteriibatan unsur seks. Untuk masa yang akan datang mereka belum mengetahuinya. Walaupun demikian, beberapa langkah positif dilakukan oleh mereka agar hubungan dengan sahabat tidak menyimpang dan kehidupan rumah tangga tetap dapat berjalan Ianggeng.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan dalam konseling perkawinan, setidak-tidaknya dapat memberi insight pada orang-orang yang cenderung menilai negatif persahabatan lawan jenis. Di lain pihak, melibatkan subyek dengan karakteristik yang Iebih spesifik mungkin dapat menjadi penelitian lanjutan."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1997
S2544
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Rahayu K.
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998
S2716
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Sari
"Masa lanjut usia, hampir selalu identik dengan berbagai macam perubahan yang mengarah pada kemunduran. Perubahan-perubahan yang dialami lansia pada aspek fisik, kognitif, sosial dan emosional sering berpengaruh terhadap kehidupan pribadi mereka. Keadaan kesehatan yang buruk, ingatan yang makin berkurang, kehilangan peran dalam pekerjaan; kehilangan pasangan hidup atau teman sejawat, merupakan contoh-contoh perubahan yang membuat mereka sering merasa tidak berharga, tidak berguna dan kurang menghargai diri sendiri. Lebih jauh lagi hal ini mempengaruhi keterlibatan dan pola interaksi mereka dengan lingkungan sekitarnya.
Selain itu masalah kesenjangan pengalaman antar generasi muda dan tua sekarang ini, tampaknya membuat kedudukan lansia yang pada masyarakat tradisional dulu merupakan sumber berkat dan restu, menjadi memudar. Menurut penelitian Berg dkk,1981 (dalam Schultz & Moore, 1982) keadaan ini sering menyebabkan lansia mengalami kehilangan 'kepercayaan diri serta lebih jauh lagi mengalami keterasingan dari teman-teman dan keluarga. Keadaan-keadaan tersebut diatas, menurut Schultz & Moore (1984) menimbulkan keterasingan sosial (social isolation) diantara para lansia sehingga mereka mengalami kesepian.
Dari poll pendapat yang dilakukan Haris dkk (dalam Schlutz & Moore, 1984) diperoleh hasil bahwa kesepian merupakan "masalah yang serius" menurut para lansia 65 tahun keatas. Demikian pula penelitian Schultz & Moore (1984) menunjukkan bahwa hampir seluruh subyek penelitian berusia 55-75 tahun mengalami kesepian (taraf sedang) dan hanya 10% yang mengatakan tidak pernah mengalami kesepian. Dengan berasumsi bahwa penelitian-penelitian tersebut dilakukan di Barat dengan kondisi budaya yang berbeda dengan di Indonesia, timbul keinginan penulis untuk meneliti keadaan tersebut di Indonesia, khususnya Jakarta. Adanya pergeseran pola keluarga (dari keluarga luas ke keluarga batih) yang banyak melanda kota-kota besar termasuk Jakarta, menimbulkan berbagai pilihan tempat tinggal bagi para lansia yang tinggal di kota-kota besar. Walaupun sebagian besar lansia di Indonesia tinggal bersama keluarga mereka dirumah, namun penyediaan sarana panti werdha yang memenuhi berbagai fasilitas memungkinkan lansia memilih tempat tinggal bagi mereka sendiri.
Dalam usaha mengetahui gambaran kesepian pada lansia di Jakarta, penulis akan membandingkan variabel tersebut pada kondisi lingkungan tempat tinggal lansia, yaitu lansia yang tinggal di rumah (dengan keluarga) dan lansia yang tinggal di panti werdha. Adapun subyek penelitian yang diambil berusia 60-80 tahun dan masih sehat, dalam arti belum mengalami senilitas, mengingat pengambilan data dilakukan dengan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua kelompok tidak terdapat ?lansia yang mengalami kesepian tingkat tinggi (chronic loneliness). Sedangkan gambaran kesepian pada lansia yang tinggal di panti werdha menunjukkan sebagian besar mengalami kesepian tingkat sedang (situational loneliness) dan hanya sebagian kecil tergolong tingkat rendah (transient loneliness). Sementara lansia yang tinggal di rumah lebih banyak yang tergolong tingkat rendah (transient loneliness) dibandingkan tingkat sedang (situational loneliness).
Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi masyarakat Indonesia, hubungan dan interaksi yang terjalin dalam keluarga masih belum dapat digantikan dengan hubungan sesama teman sebaya sehingga mereka yang tinggal di panti lebih merasa kesepian walaupun mereka berkumpul dengan teman seusia yang cenderung memiliki minat dan ide yang sama. Demikian juga tidak adanya lansia yang tergolong chronic loneliness menunjukkan bahwa rasa penghargaan dan penghormatan terhadap lansia yang dianggap "sesepuh" tampaknya masih berpengaruh sehinqqa dimanapun mereka berada kebutuhan akan hal-hal tersebut cukup terpenuhi."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1993
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indri Savitri
"The focus of this study is application DIR Model from Greenspan and Wieder for autistic child to develop his functional emotional developmental capacities. When we want to intervention with autistic child, we consider 3 aspects are Developmental (focus on functional developmental level), Individual (sensory proiile and individual differences), and Relationship (means interact between children and parents). The rationale of this study is autism which pervasive developmental disorder so he has dysfunction in two main areas are sensory processing and social engagement. DIR Model can help autistic child to overcome sensory processing ditiiculties and communication and relating in social context. The purpose of this study is autistic child be able to share attention, engage with, and interact purpeselirl way which are basic skills from functional emotional developmental capacities.
This research is descriptive study case. Subject is 6,5 years old boy who has low functioning autistic disorder. Research duration for 3 months started from September tmtil December on 2006. Intervention was divided with 3 program were Sensory Integration Therapy, Diet Therapy and Floortime Tlierapy. Subject followed 8 sessions sensory integration therapy and joined with diet program to control his behavior. Sensory integration therapy was conducted by therapist and dict program was controlled by pediatrician. Third intervention started from December 14th until 20th. Researcher had two roles, first as a therapist playing with tloortime methods with subject and the second as an observer when subject and his mother were playing together. Recording data by audiovisual data taking and interviewing method as the process was taken place.
The main result from this research is l) sensory integration therapy help subject to start shared attention and regulate any kind of sensory information; 2) dict therapy also has positive effect to his digestive system and help the mother to manage feeding habit; 3). Floortime therapy can develop functional emotional capacities in 3 areas: shared attention, engagement, and purposeful emotional interaction; 4) Sensory integration therapy can improve subject?s sensory reactivity so he more is alert with environment and help him manage his behavior calmly; 5) to develop functional communication capacities, jlooriime session is useful strategy. The reason is Ileortime can enrich the subject behavior when relating with therapist. The sensitivity to the subject sensory preferences made the engagement come easily. Play activities still focused on sensory-motor play. This findings means sensory integration therapy and dict therapy both are important to make basic skill for subject. Floortime is a basic tool to make the subject want to relate intentionaly with others in fun context."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
TA34071
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Prilya Shanty Andrianie
"Tugas akhir ini membahas mengenai pemberian program modifnkasi perilaku pada anak usia sekolah yang memiliki rentang perhatian yang pendek dan kecerdasan yang berada pada mmf slow learner. Target perilaku dalam modifikasi pcrilaku ini adalah duduk tenang mmbil melakukan aktivitas belajar. Program moditikasi perilaku yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan rentang perhatian anak dalam melakukan aktivilas beiajar. Adapun metode modiiikasi perilaku yang digunakan adalah positive reinjnmemenr dengan teknik token economy. Hasil modiiikasi perilaku memmjukkan bahwa program ini efektif untuk meningkatkan rentang pcrhatian anak dalam melakukan aktivitas bclajar.

This final project discussed about behavior modification program to middle childhood child, who have short attention span and slow learner intelligence. The behavioral target in this modification program is to sit appropriately while doing learning activities. The objective of this modification program is to improve child attention span while doing learning activities. The method of this program is positive reinforcement by token economy technique. The result shows that the behavior modification program is effective to improve child attention span while doing learning activities. The behavioral modification method that was used"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2009
T34090
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zahrotun Nihayah
"Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jawaban tentang hubungan
antara religiusitas dengan kebermaknaan hidup pada pensiunan lanjut usia anggota PWRJL Kotarnadya Malang.
Subyek penelitian di ambil dengan menggunnkan teknik ?fincidental
sampling? yang berjumlah 150 omng responden dengan pria dan wanita yang berusia 65 tahun keatas, berstatus ssbagai anggota PWRI Cabang Kodya Malang dan beragama Islam.
?Religiusitas diukur dengan instmmen berdasarkan teori Glock dan Stark yang telah diadaptasi oleh Juwarini dengan validitas p < 0,05 dan reliabilitas O,S27, ada penambahan item yang telah dikonsultasikan, sedangkan ?Kebermaknaan Hidup? diukur dengan skala makna hidup yang diadaptasikan dari PIL (Purpose in Life) yang disusun oleh Crumbaugh dan Maholick ; 'kedua
alat ukur tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
` Skala ?religiusitas? mclipuli dimensi keyakinan, dimensi pengalaman,
dimensi pengetahuan, dimensi konsekuensi dan dimensi peribadatan. Skala ?kebermaknaan hidup" meliputi dimensi memiliki tujuan yang jelas, memiliki perasaan bahagia, memiliki tanggung jawab, mampu melihat alasan kebcradaan, memiliki kontrol diri dan tidak merasa cemas akan kematian.
Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara ?religiusitas? dengan ?makna hidup". Kombinasi kelima dimensi religiusitas mernberitkan
kontribusi terhadap makna hidup sebanyak 20,7 %. Ada korelasi yang signifikan antara dimensi religiusitas dengan karakteristik ?memiliki tujuan yang jelas? dari
makna hidup, yaitu, dimensi keyakinan. Ada korelasi yang signifikan antara dimensi religiusitas dengan karakteristik ?memiliki perasaan bahagia" dari makna hidup, dari kelima dimensi religiusitas hanya dimensi pengetahuanlah yang memberikan kontribusi terhadap ?memiliki perasaan bahagia?dari makna hidup.
Ada korelasi yang signifikan antara dimensi religiusitas dengan karakteristik ?memiliki tanggung jawab? dari makna hidup. Dari kelima dimensi religiusitas hanya dimensi keyakinan, pengalaman dan konsekuensi yang memberikan kontribusi terhadap ?memiliki tanggungjawab? dari makna hidup sedangkan yang
memberikan kontribusi terbesar adalah dimensi pengalaman. Ada korelasi yang signifikan antara dimensi religiusitas dengan karnkteristik ?alasan keberadaan"
dari makna hidup akan tetapi keseluruhan dimensi tidak memberikan kontribusi secara signifikan terhadap karakteristik ?alasan keberadaan" dari makna hidup.
Ada korclasi yang signifikan antara dimensi religiusitas dengan karakteristik ?mcmiliki kontrol diri" dari makna hidup, Dari kelima dimensi religiusitas hanya tiga dimensi yang memberikan kontribusi terhadap karakteristik ?memiliki kontrol
diri? dari makna hidup, yaitu dimensi keynkinan, dimensi pengalnman dan dimensi konsekuensi. Dimensi pengalaman membcrikan kontribusi terbesar. Ada korelasi yang signifikan antara dimensi religiusitas dengan karakteristik ?tidak cemas akan kematian" dari makna hidup. Dari kelima dimensi religiusitas hanya
dimensi peribadatan yang memberikan kontribusi secara signifikan terhadap karakteristik ?tidak cemas akan kematian" dari makna hidup.
Sedangkan hasil wawancara kcpada tiga orang subyek, yaitu satu orang
perempuan dan dua orang laki-laki menunjukkan bahwa semua subyck
menjalankan pola hidup yang sehat. dan meningkatkan intensitas kegiatan-kegiatan kerohanian. Semua subyck juga memiliki cita-cita dan tujuan yang jelas dan dengan tercapainya tujuan tersebut menimbulkan perasaan tenang dan bahagia
yang disertai dengan rasa tanggung jawab dan kontrol diri yang baik. Selain itu
semua subyek adalah orang-omng yang pasrah dan ikhlas dalam menerima
kehendak Allah tidak terkecuali kematian sehingga tidak ada perasaan cemas sedikitpun. Keyakinan mereka kepada Allah sangat tinggi, hal ini mempengaruhi mereka dalam menjalani dan menerima kehidupan, mereka merasa puas dan memiliki makna hidup. '
Disarankan kepada lembaga-lembaga baik biro-biro/LSM maupun
departemen-departemen yang memperhatikan lanjut usia hendaknya. mengadakan suatu program untuk memperdalam pemahaman dan pengalaman keagamaan sehingga dapat membantu para lanjut usia dalam menjalani sisa hidupnya dengan tenang dan pasrah. Selain itu hendaknya para lanjut usia meningkatkan keyakinan,
pengamalan, pengetahuan, konsekuensi, dan peribadatan agar dapat mencapai makna hidup yang hakiki.
Temuan lain pada penelitian ini yaitu adanya perbedaan taraf pendidikan responden SLTP dengan PT pada kebermaknaan hidup. Tingkat golongan usia
pensiun terakhir pada lanjut usia berkorelasi secara signifikan terhadap variabel kebermaknaan hidup. Perbedaan jenis kelamin, bekerja kembali atau tidak setelah pensiun, dan status tempat tinggal tidak berkorelasi secara signifikan baik
terhadap variabel religiusitas maupun variabel kebermaknaan hidup.
Dalam penelitian berikutnya hendaknya peneliti lebih memfokuskan pada
penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta menyertakan
variabel-variabel psikologis seperti kepribadian, tingkat status sosial, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan' sebagainya. Selain itu peneliti dapat memperbanyak sampel, memperbanyak item dalam instrumen penelitian yang akan digunakan.
"
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2001
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Veronika Vimala Dewi
"ABSTRAK
Stuttering atau gagap merupakan salah satu gangguan kelancaran bicara
(Cohen, 2001). Banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal, yang
dapat menjadi pemicu munculnya gagap pada diri seseorang, misalnya karena
adanya kesamaan genetik dengan orangtuanya yang juga gagap, adanya hubungan
dalam dalam keluarga yang kurang harmonis, dan lain sebagainya.
Gejala gagap mulai muncul ketika anak berusia 2 - 6 tahun. Namun pada
usia tersebut, gagap masih dikatakan normal mengingat seorang anak masih
mempelajari keterampilan bahasa yang akan digunakannya untuk mengemukakan
ide-ide yang ada dalam pikirannya (Prins & Ingham, 1983). Setelah anak
memasuki usia sekolah, gagap atau ketidaklancaran bicara mulai dianggap sebagai
suatu gangguan yang dapat menyebabkan munculnya masalah akademis di
sekolah serta masalah dalam berhubungan dengan teman-teman sebaya. Masalahmasalah
tersebut dapat mempengaruhi terbentuknya konsep diri dan kepribadian
anak gagap. Beberapa anak yang mengalami gagap dapat terus mengalami gagap
sampai mereka memasuki masa remaja dan dewasa.
Salah satu treatment yang dapat dilakukan untuk mengatasi gagap ini
adalah dengan menjalani terapi wicara dimana anak diberikan latihan bicara
secara khusus untuk memperbaiki gangguan bicaranya (Speech Therapy, 2004).
Bila gagap tersebut sudah berdampak pula pada munculnya hambatan atau
gangguan psikologis, seperti anak menjadi kurang percaya diri dan menarik diri
dari lingkungan, maka selain terapi wicara diperlukan juga treatment yang bersifat
psikologis. Treatment psikologis diberikan untuk membantu orang gagap agar ia
bisa lebih nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain. (Dodge, 2003). Salah
satu treatment psikologis yang dapat diberikan adalah berupa pemberian terapi
modifikasi perilaku.
Penelitian ini mencoba untuk melihat gambaran kemajuan yang diperoleh
anak yang mengalami gagap melalui terapi wicara dan terapi modifikasi perilaku,
hal-hal apa saja yang dapat membantu dan menghambat keberhasilan terapi, bagaimana peran keluarga dalam membantu proses terapi, dan kegiatan-kegiatan
apa saja yang dapat membantu keberhasilan terapi.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan
memakai wawancara, observasi, dan analisis dokumen tertulis sebagai metode
pengumpulan data. Subyek dalam penelitian ini adalah seorang anak berusia 13
tahun yang telah didiagnosa mengalami gagap atau sniuering oleh seorang
psikolog. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kemajuan yang
diperoleh oleh subyek setelah mengikuti terapi wicara dan terapi modifikasi
perilaku. Beberapa kemajuan tersebut, antara lain: beberapa karakteristik gagap
yang dialami subyek semakin berkurang serta subyek semakin berani untuk
berbicara dengan orang lain yang salah satunya ditunjukkan melalui perilakunya
yang tidak lagi menunduk dan menghindari kontak mata ketika berbicara dengan
orang lain Terdapat beberapa faktor yang dapat membantu keberhasilan terapi,
seperti motivasi dalam diri I untuk menjalani terapi dan motivasi keluarga yang
cuku tinggi untuk membantu 1 menjalani terapi. Ada pula beberapa laktor yang
dapat menghambat keberhasilan terapi, seperti kurangnya kontrol terhadap
kegiatan-kegiatan yang dapat membantu keberhasilan terapi yang disarankan
terapis untuk dilakukan I, frekuensi kedatangan I yang tidak sesuai dengan
harapan terapis, serta kondisi fisik J yang kadang-kadang kurang sehat atau lelah.
Keluarga, khususnya orangtua berperan cukup besar dalam meningkatkan
keberhasilan terapi yang sedang dijalani I.
Dari hasil tersebut, beberapa saran praktis coba dikemukakan untuk
orangtua. Saran-saran tersebut secara umum diharapkan dapat memberikan
pengetahuan kepada orangtua mengenai bagaimana membantu anak yang
mengalami gagap untuk mengatasi gagapnya. Saran metodologis untuk penelitian
lanjutan lebih berkaitan dengan rentang waktu penelitian, keterlibatan pihak-pihak
lain, dan jumlah serta keragaman subyek yang digunakan dalam tugas akhir ini."
2005
T37859
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indri Savitri
"ABSTRAK
Penelitian ini berfokus pada penerapan program intervensi berbasis
Developmental-Individual-Relationship (DIR) yang dikembangkan oleh
Greenspan dan Wieder (1998, 2000, 2006) bagi anak penyandang autis. Aspek
Developmental memfokuskan pada tahap komunikasi fungsional yang akan
dikembangkan pada anak. Aspek Individual menekankan pada penerimaan
keunikan anak. Aspek Relationship menitikberatkan pada fokus relasi yang
interaktif antara orangtua dan anak. Dasar pemikiran menggunakan pendekatan
tersebut adalah autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif sehingga
anak mengalami kendala dalam aspek pemrosesan sensorik dan mengembangkan
kapasitas dalam komunikasi dan menjalin relasi sosial (social engagement).
Pendekatan DIR sifatnya menyeluruh yang mencakup intervensi pada aspek
pemrosesan sensorik dan social engagement. Tujuan dari penelitian ini agar anak
penyandang autis dapat mengembangkan kemampuan untuk melakukan ’shared
attention’, ’engagement’, dan ’purposeful emotional interaction’ yang merupakan
tahap awal dari perkembangan komunikasi fungsional. Penelitian ini termasuk
penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah seorang anak laki-laki berusia 6,5 tahun yang
mengalami gangguan autis dengan derajat berat. Ia tergolong low funetioning.
Penelitian berlangsung selama 3 bulan dari Akhir September - Akhir Desember
2006. Program Intervensi pertama adalah pemberian terapi sensory intégration
yang diberikan oleh ahli terapi di bidangnya dari Awal Oktober hingga Minggu
kedua Desember 2006 di sebuah rumah sakit ibu dan anak selama 8 sesi.
Intervensi kedua adalah diet yang diawasi oleh seorang dokter ahli alergi yang
banyak menangani anak berkebutuhan khusus di rumah sakit yang sama. Program
diet dilakukan dari bulan Oktober Minggu ke 2 sampai pelaksanaan keseluruhan
intervensi selesai. Intervensi ketiga yaitu kegiatan floortime di rumah yang
dilakukan oleh peneliti selama 22 sesi yang berlangsung dari tanggal 14 Desember
- 20 Desember 2006. Dari 22 sesi tersebut, ibu dari Subjek juga dilibatkan untuk
bermain dengan pendekatan floortime bersama dengan subjek. Pengumpulan data
dilakukan dengan merekam proses intervensi secara audiovisual dan wawancara
dengan ibu. Analisis data secara kualitatif merujuk pada perilaku yang
menggambarkan masing-masing aspek dari komunikasi fungsional berdasarkan
panduan Greenspan dan Wieder. Dari analisis film dan wawancara dapat disimpulkan bahwa: 1) terapi sensory
intégration membantu S dalam melakukan shared attention atau pengembangan
kapasitas komunikasi fungsional tahap pertama. Terapi sensory intégration
memperbaiki fungsi pemrosesan informasi sensorik S sehingga S mulai dapat
menerima ragam sensasi dan mulai menyimak lingkungan; 2) Intervensi dengan diet memperbaiki fungsi pencernaan sehingga S mulai memiliki regulasi dalam
hal tidur. Diet juga membantu mengelola kebiasaan makan S menjadi teratur; 3)
Terapi Jloortime mempermudah S mengembangkan kapasitas komunikasi
fimgsionalnya baik dari shared attention, engagement, dan purposeful emotional
interaction. Dengan catatan: selama Jloortime peneliti juga memperhatikan profil
sensorik S sehingga terapis dapat mengatasi masalah perilaku yang terjadi dalam
proses terapi; 4) Terapi Sensory Integration saja tidak cukup kuat untuk
membantu S mengembangkan kapasitas komunikasi fungsionalnya. Terapi
sensory integration fokus pada kemampuan S menerima dan memproses berbagai
sensasi sehingga S dapat menyelesaikan tantangan selama terapi; 5) Terapi
Fioortime tanpa diawali dengan perbaikan integrasi sensorik dan fungsi
pencernaan juga sulit dilakukan karena perilaku S masih sulit diarahkan."
2007
T37866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syifa Kifahi
2009
S3529
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yosi Molina
"Studi ini meneliti tentang efektivitas intervensi dengan menggunakan prinsip-prinsip Parent-Child Interaction Therapy (PCIT) untuk mengatasi disruptive behavior pada anak usia prasekolah yang berumur 5 tahun. Untuk mengevaluasi efektivitas hasil intervensi digunakan angket Dyadic Parent-Child Interaction Coding System III (DPICS-III) yang akan digunakan sebelum dan pada setiap sesi sepanjang intervensi untuk melihat tingkat keberhasilan pelaksanaan PCIT. Melalui intervensi dengan menerapkan prinsip-prinsip PCIT selama sebelas sesi, diperoleh kesimpulan bahwa pemberian dua sesi untuk mengajarkan keterampilan PCIT dan sembilan sesi coaching keterampilan yang diajarkan efektif meningkatkan keterampilan ibu serta kualitas hubungan ibu dan H sehingga berhasil mengatasi disruptive behavior pada H.

This study examined efficacy of Parent-Child Interaction Therapy (PCIT) approach for treating disruptive behavior of a five years old preschooler boy. Efficacy evaluation of PCIT was examined by Dyadic Parent-Child Interaction Coding System III (DPICS-III) that given before and during intervention at the start of every session as a way of measuring treatment progress. Results indicated that PCIT approach with two teaching sessions and nine coaching sessions was effective to enhance parenting skills in mother and improves the parent-child relationship, with the results that treating disruptive behavior of a preschooler boy."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T31085
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>