Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 127 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sylvana Evawani
"Gangguan fungsi kognitif pada gangguan afektif bipolar timbul bersamaan dengan gejala episode mood dan diharapkan dapat pulih seiring remisi gejala episode mood. Penelitian-penelitian menemukan fungsi kognitif yang menetap pada fase remisi gejala dan diduga dapat memengaruhi fungsi psikososial. Salah satu fungsi kognitif yang terganggu selama fase remisi adalah memori verbal. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan hubungan antara fungsi memori verbal dengan fungsi psikososial pada pasien dengan gangguan afektif bipolar fase remisi dan nonremisi. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di Poli Psikiatri Dewasa RSCM. Subyek yag digunakan sebanyak 64 orang, terdiri atas 32 pasien fase remisi dan 32 pasien fase nonremisi. Memori verbal diukur dengan Rey Auditory Verbal Learning Test (RAVLT), fungsi psikososial diukur dengan The World Health Organization Disability Assessment Schedule 2.0 (WHODAS 2.0). Kedua kelompok tidak memerlihatkan perbedaan performa fungsi memori verbal, kecuali pada performa fungsi pemanggilan kembali segera (p 0,046). Tidak didapatkan hubungan yang signifikan secara statistik antara memori verbal dengan fungsi psikososial pada pasien dengan gangguan afektif bipolar fase remisi dan nonremisi. Performa memori verbal yang sama antara kelompok pasien remisi dan nonremisi menunjukkan bahwa memori verbal pada gangguan afektif bipolar dapat terganggu meskipun gejala mood sudah remisi. Fungsi psikososial dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor selain fungsi memori verbal yang perlu diteliti lebih lanjut.

Cognitive impairment in bipolar affective disorders happens during mood epsisode symptoms and are expected to recover within remission of mood episode symptoms. Studies have found cognitive functions that settled during remission phase of symptoms and are thought to affect psychosocial function. One of the impaired cognitive functions during the remission phase is verbal memory. The purpose of this study was to prove the relationship between verbal memory and psychosocial function is patients with bipolar disorder currently in remission and nonremission ones. This study was a cross-sectional study conducted at Adult Psychiatry Policlinics at Ciptomangunkusumo Hospital. The subjects were 64 patients, consisting of 32 remitted patients, and 32 nonremitted patients. Verbal memory is measured using Rey Auditory Verbal Learning Test (RAVLT). Psychosocial functions were measured by the World Health Organization Disability Assessment Schedule 2.0 (WHODAS 2.0). The two groups showed no differences in the performance of verbal memory, eccet for immediate recall function (p 0,046). There was no statistically significant relationship between verbal memory and psychosocial function in both groups. Verbal memory performnace may still impaired bipolar disorder during remission. Psychosocial functions can be influenced by various factors other than verbal memory fucntion and need to be investigated further."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58672
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khartika Mahardini
"Pendahuluan: Halusinasi auditorik verbal (HAV) merupakan merupakan kondisi dimana pasien mendengar suara-suara tanpa adanya stimulus atau sumber suara yang ditemukan pada 70% pasien skizofrenia. Hipotesis menyatakan kondisi tesebut dapat disebabkan gangguan proses pendengaran khususnya pada pusat bahasa dan bicara di hemisfer kiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara HAV dengan ganggguan pada proses pendengaran melalui tes dichotic listening. Metode: Penelitian ini menggunakan instrumen iDichotic, untuk menilai lateralisasi otak kelompok skizofrenia HAV, dan kelompok skizofrenia nonHAV. Kriteria inklusi mencakup pasien skizofrenia berusia 19-59 tahun dengan atau tanpa HAV yang mejalani terapi di RSCM. Penelitian ini juga menilai kelompok sehat sebagai kontrol. Tes dilakukan dalam tiga kondisi; kondisi spontan (non-forced attention condition), serta dua kondisi fokus dimana partisipan diminta untuk konsentrasi pada stimulus yang diperdengarkan di telinga kanan kemudian dilanjutkan pada telinga kiri. Hasil: Tidak ditemukan perbedaan proporsi lateralisasi otak yang signifikan antara kelompok sizkofrenia HAV dibandingkan dengan kelompok skizofrenia nonHAV. Hasil serupa juga ditemukan pada analisis antara kelompok sehat dengan kelompok skizofrenia HAV. Studi ini juga menunjukan tidak ada perbedaan proporsi yang signifikan fokus pendengaran dan perbedaan rerata skor antara pasien skizofrenia HAV dengan pasien skizofrenia nonHAV. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan antrara HAV dengan gangguan proses pendengaran yang diukur menggunakan tes dichotic listening. Diperlukan studi lebih lanjut menggunakan alat berbahasa Indonesia.

Introduction: Auditory verbal hallucination (AVH) is one of the serious symptoms found in 70% of patients with schizophrenia disorder. It is characterized by the experience of hearing voices in the absence of stimuli. The prominent hypothesis suggests that AVH may results from atypical hearing process particularly in the speech and language regions of the left hemisphere. The purpose of this study is to examine the association between AVH and the atypical hearing process by conducting a dichotic listening test. Method: In this study, iDichotic a mobile device application that based on the consonant vowel version of Dichotic Listening Test was used to assess the integration of brain lateralization in hallucinating, non-hallucinating schizophrenic patients. Inclusion criteria were schizophrenic patients aged 19-59 with or without AVH at Psychiatry Clinic RSUPN. This research also recruit healthy participants as a control group. The test was performed under three conditions: non-forced attention condition and two-forced condition which the participants were asked to attend stimulus on the right ear and then the left ear and analyzed with chi-square test. Results: There was no significant difference between schizophrenia and normal subject brain lateralization (p=0,099) and auditory focus (0,196), but significant difference of average correct respond was showed (p=0,001). It also showed no difference between hallucinating and non-hallucinating patients brain lateralization (p=1,0) during the non-forced condition. There was no difference between hallucinating and non-hallucinating patients auditory focus (p=0,59) and difference average correct response (p=0,78). Conclusion: Results suggest there was no association between AVH and atypical hearing process which measured by dichotic listening. Further study needed with Indonesian language device."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Nisrina Ayu Sugiharto
"ABSTRAK
Skripsi ini merupakan penelitian mengenai penggunaan pelanggaran maksim
percakapan sebagai strategi dalam menghasilkan humor verbal dalam sketsa komedi
Little Britain. Dengan menampilkan parodi dari orang-orang dari berbagai lapisan
masyarakat di Britania, serta mengambil latar belakang sejumlah wilayah di Britania,
sketsa komedi ini menghadirkan serangkaian kelucuan lewat komunikasi verbal
maupun non verbal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitaif
dengan menggunakan gabungan dua teori yakni antara teori linguistik, yakni teori
pragmatik maksim percakapan dan implikatur percakapan, serta teori psikologi
humor berupa teori keganjilan-resolusi (the incongruity-resolution theory). Tujuan
penulisan skripsi ini untuk menunjukkan bahwa dalam humor, khususnya humor
verbal, pelanggaran kaidah berbahasa, yakni berupa pelanggaran maksim percakapan,
berakibat pada keganjilan yang pada akhirnya dapat menghasilkan efek humor dalam
humor verbal. Namun, tidak berarti bahwa keganjilan yang dihasilkan oleh
pelanggaran maksim percakapan tersebut membuat humor tersebut tidak memiliki
makna, sebaliknya, kita dapat menangkap makna dari keganjilan dalam humor verbal
tersebut seraya menikmatinya dengan suka cita. Hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan kontribusi dalam kajian humor dengan melihat bagaimana maksim
percakapan menjadi strategi dalam menghasilkan humor verbal.

Abstract
This study is conducted to highlight the use of violating conversational maxims as
a strategy in generating verbal humor in Little Britain, a British character-based
comedy sketch.Through featuring a parody of British people and taking the
background of some areas in Britain, this comedy sketch presents humour through
both verbal and non-verbal forms of communication. This study used qualitative
and quantitative methods using pragmatics theory, namely conversational maxim
and implicature, as the main theory and incongruity-resolution theory as the
supporting theory. The purpose of this study is to show that the violation of
conversational maxims in a verbal interaction could cause an incongruity and thus
result in humor effect through verbal interaction. However, it does
not mean that the humor itself does not convey any message. The message can be
received as well as we enjoy this comedy sketch. This study is expected to be a
contribution in seeing how violating the conversational maxim can be a strategy to
generate verbal humor."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S43609
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Eriza
"ABSTRAK
Pelajar sekolah menengah dengan rentang usia 6-19 tahun diperkirakan telah mengalami gangguan pendengaran akibat penggunaan PLDs. Penggunaan PLDs sendiri apabila didengarkan pada volume yang tinggi dan digunakan dalam waktu yang lama akan menyebabkan gangguan pendengaran dan komunikasi verbal. Untuk menilai sensibiltas saraf pendengaran dapat dilakukan dengan pemeriksaan distorssion product otoacouatic emission (DPOAE) dan audiogram. Komunikasi verbal dinilai dengan pemeriksaan audiometri tutur. Gangguan sensibilitas saraf pendengaran dilihat dari hasil signal to noise ratio (DPOAE) dan audiometri nada murni ≥25 dB. Gangguan fungsi komunikasi verbal apabila speech recognition treshold (SRT) ≥30 dB. Penelitian potong lintang ini dilakukan di SMU Negeri di Jakarta pada bulan Oktober 2013, melibatkan 96 percontoh pengguna PLDs. Kemudian dilakukan pemeriksaan DPOAE, audiometri nada murni dan audiometri tutur. Sebanyak 27,2% mengalami gangguan sensibilitas saraf pendengaran. Didapatkan 6,3 % mengalami gangguan komunikasi verbal. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, jenis earphone, besarnya intensitas dan lama pemakaian terhadap terjadinya gangguan sensibilitas saraf pendengaran. Namun dengan melihat nilai Odds Ratio pada pemakaian earphone jenis earbud memiliki resiko 3,69 kali mengalami gangguan pendengaran dan apabila mendengarkan pada 8-14 jam setiap minggu nya memiliki resiko 3,08 kali mengalami gangguan sensibilitas saraf pendengaran. Kelemahan penelitian ini pada desain penelitian , validasi output dan kurang dieskplornya faktor-faktor lain yang turut berperan dalam memengaruhi terjadinya gangguan pendengaran. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mencari faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya gangguan sensibilitas saraf pendengaran dan hubungannya terhadap terjadinya gangguan pendengaran.

ABSTRACT
High school students with the age range of 6-19 years old are assumed to suffer from hearing impairment from using PLDs. The usage of PLDs with high volume in long term will cause hearing and verbal communication impairments. Distorssion product otoacoustic emission (DPOAE) examination and pure tone audiometry can be used to evaluate the hearing organ function. Verbal communication function can be evaluated with speech audiometry examination. Hearing impairment is seen from the result of DPOAE signal to noise ratio and hearing threshold ≥25 dB. Communication impairment is seen from speech recognition test (SRT) ≥30 dB. This cross sectional study was conducted in the 70 General High School in October 2013, involving 96 samples using PLDs All samples had DPOAE, pure tone and speech audiometry examinations. (27,2%) had hearing impairments, in which (6,3%) had verbal communication impairments. There were no significant correlation between sex, earphone types, intensity and usage duration with the decrease of sensibility hearing impairment. Although by assessing Odds Ratio value, the usage of earbud type earphone increases the risk of hearing impairment by 3,69 times and duration of 8-14 hours every week has 3,08 higher risk of hearing impairment. The weaknesses of this study are the study design, validation output of PLDs and other factors contributing in causing hearing impairment were not explored. Further study is required to seek the factors contributing in causing hearing impairment from noise and its correlation with the occurrence of hearing impairment."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nazhira Idzni
"Keterbatasan fungsi indera pendengaran penyandang tunarungu menyebabkan munculnya budaya-budaya yang hanya dapat dirasakan oleh mereka. Dalam melangsungkan budayanya yang unik ini mereka membutuhkan ruang yang accessible layaknya penyandang difabel yang lain. Oleh karena itu, prinsip deaf space dihadirkan agar kebutuhan penyandang tunarungu dapat dipertimbangkan dalam perancangan ruang bangunan/urban.
Prinsip deaf space dirumuskan oleh komunitas tunarungu di Gallaudet University, Amerika Serikat. Prinsip deaf space ini dibuat berdasarkan pengalaman dan kondisi yang berlaku pada komunitas tunarungu yang merancangnya, padahal komunitas tunarungu dapat mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Salah satu bentuk perkembangan yang dialami komunitas ini adalah penggunaan alat bantu dengar dan perkembangan komunikasi verbal oleh pemanfaatan alat bantu dengar.
Perkembangan yang dialami oleh komunitas ini dapat mempengaruhi kebutuhan ruangnya, sehingga prinsip deaf space ini juga harus disesuaikan dengan perkembangan tersebut. Pengetahuan tentang penyesuaian prinsip deaf space ini membuktikan bahwa pendekatan desain yang dibutuhkan oleh kedua tipe komunitas tunarungu tersebut sangat berbeda. Apabila pendekatan desain yang dibutuhkan oleh komunitas tunarungu yang berkomunikasi visual lebih berfokus pada pengoptimalan kualitas visual oleh bukaan, komunitas tunarungu yang berkomunikasi verbal lebih berfokus pada pengoptimalan kualitas akustik ruang.

Their sense of hearing limitation causes the forming of cultures that can only be felt by their own community. In carrying out this unique culture they need an accessible space like the other difable. Therefore, deaf space is presented so deaf rsquo s needs can be considered in the building urban design.
Deaf space principle was formulated by Deaf community at Gallaudet University, USA. This principle is made based on experiences and conditions that apply to their own community, meanwhile Deaf community can evolve over time. One of the change that happened in Deaf community is the use of hearing aids and the development of verbal communication by it.
The development experienced by this community can affect their needs of space, so the deaf space principles is also need to be adapted with these developments. Knowledge on the adaptation of deaf space principle proves that design approach required by the two types of Deaf communities is very different. If the design approach required by the visual communicating community is more focused on optimizing the visual quality by the openings, the verbal communicating community is more focused on optimizing the acoustic quality of space.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67436
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shabrina Syahama Bachri
"Kekerasan verbal merupakan salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di lingkungan sekolah di Korea Selatan. Isu ini telah diangkat ke dalam berbagai karya. Namun penelitian yang fokus membahas tentang kekerasan verbal dalam web drama masih terbilang minim. Penelitian ini membahas tentang bentuk kekerasan verbal, khususnya yang digunakan untuk menghina bentuk tubuh di lingkungan sekolah menengah atas dalam web drama Tungtunghan Yeonae. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis kekerasan verbal yang terjadi pada tokoh-tokoh di dalam web drama ini. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Penelitian ini menganalisis kalimat dalam tuturan yang menunjukkan penghinaan bentuk tubuh di dalam web drama ini. Korpus yang digunakan dalam penelitian ini adalah web drama Tungtunghan Yeonae 1 dan 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan verbal yang terjadi di dalam web drama tersebut adalah name calling (pemberian julukan), judging and criticizing (kritik dan tuturan yang merendahkan seseorang), undermining (tuturan yang merusak percaya diri), discounting (tuturan yang mengabaikan pencapaian), dan verbal abuse disguised as jokes (tuturan yang menghina seseorang dengan candaan). Kekerasan verbal sebagai media penghinaan bentuk tubuh di sekolah dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan.

Verbal abuse is a form of bullying that often occurs in the school environment in South Korea. Research regarding the issue of verbal abuse have been made, but there is not much research that focuses on verbal abuse in web drama. The focus of this study is the types of verbal abuse that is normally used, especially at high school as a media for body shaming in the web drama Tungtunghan Yeonae. The purpose of this study is to discuss and classify types of verbal abuse that occur in the web drama and used towards characters in this web drama. The research method the writer used is analysis descriptive. This study analyzes sentences in speech that shows body shaming in the web drama. The corpus used in this research is the web drama Tungtunghan Yeonae 1 and 2. The results of the research show that the verbal that occurs in the web drama is name calling, judging and criticizing, undermining, discounting, and verbal abuse disguised as a joke. Verbal abuse as a media for body shaming can happen to boys and girls."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Hadyan Fadhlika
"Dalam game perang multipemain, terdapat situasi yang dapat terjadi secara spontan. Hal tersebut dapat memicu respons reaktif, seperti penggunaan kata-kata vulgar. Contohnya dapat ditemukan pada video yang diunggah oleh Milyhya di YouTube. Penggunaan kata-kata vulgar dapat dianalisis berdasarkan makna dan emosi dengan menggunakan pendekatan semantik dan psikolinguistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis pola-pola dari data yang ditemukan. Penelitian ini menemukan 16 data kosakata vulgar, sembilan di antaranya dianalisis lebih lanjut. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) medan set terbagi atas makian dan sapaan; (2) kosakata vulgar dapat mengacu ke binatang, aktivitas, keadaan/sifat, profesi, atau anggota tubuh; (3) seluruh kosakata vulgar memiliki konotasi negatif; (4) terdapat lima emosi yang dapat diekspresikan (marah, sedih, jengkel, terkejut, nikmat), masing-masing dengan pola dan latar belakangnya; (5) kata 'anjing' dapat mengekspresikan empat emosi, dan; (6) emosi jengkel dapatdiekspresikan dengan enam kosakata vulgar.

In multiplayer first-person shooter games, there are situations that can happen spontaneously. This can cause reactive responses, such as the use of harsh words. The examples can be found in videos uploaded by Milyhya on YouTube. The use of harsh words can be analyzed by its meaning and emotional state by using semantic and psycholinguistic approach. This research usedqualitative descriptive method to analyze patterns from the data found. This research found out that there are 16 different forms of harsh words used in the video, nine of which were analyzed further. The results were: (1) the set field can be divided to curse and greeting; (2) the harsh words can refer to animal, activity, condition/state, profession, or body parts; (3) all the harsh words have negative connotation; (4) there are five emotions that can be expressed from the use of harsh words (anger, sadness, irritated, surprised, joy), each emotions have its patterns and situational backgrounds; (5) the word 'anjing' can be used to express four emotions, and; (6) irritated can be expressed by six different harsh words."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Emilia Annuri Mumtaazah
"Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk kemampuan bahasa dan bicara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara pada balita stunting di Jakarta Utara, wilayah dengan angka stunting tertinggi di DKI Jakarta. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh melalui kuesioner demografi dan alat ukur Ages and Stages Questionnaires (ASQ-3) domain komunikasi versi Bahasa Indonesia dari 107 balita stunting di Kecamatan Cilincing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 balita (15%) tergolong dalam kategori terlambat, 16 balita (15%) berada dalam kategori waspada, dan 75 balita (70%) berada dalam kategori sesuai. Data ini mengindikasikan bahwa mayoritas balita stunting di Jakarta Utara memiliki perkembangan bahasa dan bicara yang sesuai dengan usianya. Temuan ini mengungkapkan bahwa keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara pada balita tidak hanya dipengaruhi oleh faktor gizi, tetapi juga oleh stimulasi verbal dari lingkungan sekitar yang berperan signifikan.

Stunting is a chronic nutritional issue that hinders the growth and development of children, including their language and speech abilities. This study aims to describe the delays in language and speech development among stunted toddlers in North Jakarta, the region with the highest stunting rates in DKI Jakarta. The research employs a descriptive quantitative method with a cross-sectional approach. Data were collected using demographic questionnaires and the Ages and Stages Questionnaires (ASQ-3) communication domain in the Indonesian version, involving 107 stunted toddlers in the Cilincing District. The results show that 16 toddlers (15%) fell into the delayed category, 16 toddlers (15%) were in the at-risk category, and 75 toddlers (70%) were in the appropriate category. These findings indicate that the majority of stunted toddlers in North Jakarta exhibit language and speech development appropriate for their age. The study also reveals that delays in language and speech development among toddlers are influenced not only by nutritional factors but also significantly by verbal stimulation from surroundings."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Astri Yuniarsih
"Bahasa Korea merupakan salah satu bahasa yang kaya akan referensi budaya, terutama dalam aspek humor yang sering kali sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Penerjemahan humor dan budaya Korea ke dalam bahasa Indonesia, khususnya dalam bentuk takarir, membutuhkan strategi yang tepat agar makna dan kelucuan tetap tersampaikan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik dan strategi penerjemahan humor verbal dalam takarir bahasa Indonesia pada episode Dive into TTT dari acara ragam Going Seventeen. Pertanyaan penelitian ini adalah teknik humor apa saja yang digunakan dalam episode Dive into TTT dan bagaimana strategi penerjemahan humor yang digunakan dalam takarir bahasa Indonesia pada episode tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari 23 humor verbal yang ditemukan, teknik yang paling sering digunakan adalah permainan kata dan ironi. Kemudian, untuk mempertahankan efek humor dalam bahasa target, strategi penerjemahan yang paling dominan adalah compensation in kind dan delivery, then preparation.

The Korean language is rich in cultural references, particularly in the realm of humor, which is often challenging to translate into other languages. Translating Korean humor and culture into Indonesian, especially in the form of subtitles, requires appropriate strategies to ensure that both meaning and humor are effectively conveyed. This study aims to analyze the techniques and strategies used in translating verbal humor in the Indonesian subtitles of the Dive into TTT episode from the variety show Going Seventeen. The research questions focus on identifying the types of humor techniques employed in the Dive into TTT episode and the strategies used to translate them into Indonesian subtitles. This study adopts a qualitative approach with a descriptive analysis method. The results of this study reveal that among 23 instances of verbal humor identified, the most frequently used techniques were wordplay and irony. To retain the humor effect in the target language, the most dominant translation strategies were compensation in kind and delivery, then preparation.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2025
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>