Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1122 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Alfrina Irene
"Narkotika dan psikotropika merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi dapat disalahgunakan. Kemungkinan adanya penyalahgunaan ini membuat pengadaan narkotika dan psikotropika perlu diawasi. Salah satu upaya dalam pengontrolan distribusi narkotika dan psikotropika adalah dengan melakukan pelaporan berkala secara elektronik melalui Sistem Informasi Pelaporan Penggunaan Sediaan Jadi Narkotika & Psikotropika Nasional atau disingkat SIPNAP. Laporan ini dibuat agar calon apoteker dapat menggunakan aplikasi SIPNAP dan membuat laporan narkotika dan psikotropika dengan tepat dan mengerti peraturan yang mengaturnya. Metode yang digunakan dalam laporan ini adalah dengan studi literatur melalui data narkotika dan psikotropika yang ada pada Apotek Atrika periode Maret dan pada aplikasi SIPNAP, serta peraturan perundang-undangan. Kesimpulan laporan ini adalah bahwa data sediaan narkotika dan psikotropika yang dibutuhkan pada pelaporan SIPNAP adalah nama, bentuk, kekuatan sediaan, jumlah persediaan awal dan akhir bulan, jumlah yang diterima, dan jumlah yang diserahkan. Alur pelaporan narkotika dan psikotropika melalui SIPNAP adalah registrasi unit layanan, login sesuai registrasi, memasukkan data narkotika dan psikotropika yang ada pada apotek, memasukkan laporan narkotika dan psikotropika, dan mengirim laporan. Pelaporan narkotika dan psikotropika harus dilakukan setiap bulan dan paling lambat dilaporkan setiap tanggal 10 bulan berikutnya. Jika terdapat kelalaian dalam pelaporan, sanksi yang dapat diberikan berupa teguran, peringatan, denda administratif, penghentian sementara kegiatan, atau pencabutan izin.

Narcotics and psychotropics are drugs or substances that are useful in the field of medicine and scientific development, but can be misused. This possibility of abuse means that the distribution of narcotics and psychotropic substances needs to be monitored. An effort to control the distribution of narcotics and psychotropic substances is to carry out periodic reporting electronically through Sistem Informasi Pelaporan Penggunaan Sediaan Jadi Narkotika & Psikotropika Nasional or abbreviated as SIPNAP. This report was created so that prospective pharmacists can use SIPNAP application and make reports on narcotics and psychotropic substances correctly and understand the regulations that govern them. The method used in this report is a literature study through data on narcotics and psychotropic substances available at Atrika Pharmacy for the March period and on the SIPNAP application, as well as statutory regulations. The conclusion of this report is that the data on narcotic and psychotropic preparations required for SIPNAP is Universitas Indonesia the name, form, strength of the preparation, quantity at the beginning and end of the month, quantity received, and quantity delivered. The flow for reporting narcotics and psychotropic substances through SIPNAP is registering with the service unit, logging in according to registration, entering data on narcotics and psychotropic substances at the pharmacy, entering narcotics and psychotropic reports, and sending the report. Reporting on narcotics and psychotropic substances must be done every month and must be reported no later than the 10th of the following month. If there is negligence in reporting, sanctions that can be given are in the form of reprimands, warnings, administrative fines, temporary suspension of activities, or revocation of permits."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Harena Anggun Lakshita
"Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek Roxy Jatikramat bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap peran apoteker dalam bidang kefarmasian khususnya bidang klinis. Secara manajerial, mahasiswa juga diajarkan agar memahami alur pengadaan barang, penerimaan, penyimpanan stok serta metode penjualan yang dilaksanakan. Apotek Roxy memberikan gambaran nyata dari tanggung jawab yang diemban seorang apoteker sebagai praktisi maupun sebagai apoteker penanggung jawab outlet. PT Pharos Indonesia periode Oktober-November 2021 bertujuan untuk memahami pernerapan dan penggunaan ilmu kefarmasian di bidang industri, serta memahami peran apoteker sebagai tenaga yang bertanggung jawab dalam menjaga kualitas dan kualitas produk yang dihasilkan khususnya di PT Pharos Indonesia. Adapun penyusunan tugas khusus pada pemahaman alur perilisan sediaan suspensi 150 mL yang dilakukan oleh Departemen Quality Control PT Pharos Indonesia. Sedangkan pada PBF SamMarie Tramedifa, mahasiswa memahami alur pendistribusian barang, pendistribusian barang kepada konsumen secara langsung maupun tidak langsung, teknik pemesanan serta pola komunikasi apoteker terhadap konsumen dalam hal pemasaran. Hal penting yang diajarkan dalam ketiga tempat Praktik Kerja Profesi Apoteker diharapkan menjadi bekal yang mumpuni sebelum benar-benar memiliki gelar apoteker dan siap bekerja di lapangan.

The internship at the Roxy Jatikramat Pharmacy aims to increase students understanding of the role of pharmacists in the pharmaceutical field, especially in the clinical field. Managerially, students also learn to understand the flow of goods procurement, receipt, stock storage, and sales methods implemented. Roxy Pharmacy provides a real picture of the responsibilities of a pharmacist as a practitioner or as a pharmacist in charge of the outlet. PT Pharos Indonesia for the period October-November 2021 aims to understand the application and use of pharmaceutical science in the industrial sector and understand the role of pharmacists as staff who are responsible for maintaining the quality and quality of the products produced, especially at PT Pharos Indonesia. The preparation of a special task on understanding the release flow of the 150 mL suspension preparation was carried out by the Quality Control Department of PT Pharos Indonesia. While at PBF SamMarie Tramedifa, students understand the flow of distribution of goods, distribution of goods to consumers directly or indirectly, ordering techniques, and communication patterns of pharmacists to consumers in terms of marketing. The important things that are taught in the three Pharmacist Professional Practices are expected to be qualified before they have a pharmacist degree and are ready to work in the field.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Fitriana Lupitaningrum
"Apotek merupakan tempat yang menyediakan, menyimpan, dan mendistribusikan obat-obatan serta produk kesehatan lainnya. Apotek juga berperan sebagai pusat informasi, pelayaan kesehatan, dan sebagai mitra manajemen penyakit kronis. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Apotek harus dapat menjamin ketersediaan obat yang aman, bermutu, dan juga berkhasiat. Pengkajian resep pasien merupakan hal yang penting dalam menjaga kualitas pelayanan kefarmasian dan mencegah terjadinya medication error. Data didapatkan dengan mengklasifikasikan resep yang diterima di Apotek Kimia Farma 389 berdasarkan tanggal diterima resep dan asal rumah sakit pasien. Data yang diambil adalah sebanyak lima resep pasien penyakit kronis RS Bhakti Yudha Depok selama bulan Oktober 2023 di Apotek Kimia Farma 389 yang diambil secara acak. Pada resep pasien ditemukan beberapa masalah terkait obat pada aspek administratif seperti paraf/tanda tangan dokter, berat badan pasien, dan alamat pasien. Masalah terkait obat pada pertimbangan klinis seperti dosis obat yang kurang dan interaksi antara obat yang perlu diperhatikan. Masalah tersebut dapat diatasi dengan mengatur jadwal konsumsi obat pasien dan mengkonsultasikan kembali kepada dokter terkait pemberian obat yang kurang dosis. Perlu dilakukan pengkajian resep secara rutin untuk menjamin rasionalitas dan kesesuaian dosis obat yang akan diterima pasien dan meminimalisir terjadinya kesalahan medikasi (medication error) dan masalah terkait obat.

A pharmacy is a place that provides, stores and distributes medicines and other health products. Pharmacies also act as information centers, health services, and as chronic disease management partners. The provision of pharmaceutical services in pharmacies must be able to guarantee the availability of safe, quality and efficacious medicines. Reviewing patient prescriptions is important in maintaining the quality of pharmaceutical services and preventing medication errors. Data was obtained by classifying prescriptions received at Kimia Farma 389 Pharmacy based on the date the prescription was received and the patient's hospital origin. The data taken were five prescriptions from patients with chronic diseases at Bhakti Yudha Hospital, Depok during October 2023 at Kimia Farma 389 Pharmacy which were taken randomly. In the patient prescriptions, several drug-related problems were found in administrative aspects such as the doctor's initials/signature, the patient's weight, and patient address. Drug-related problems in clinical considerations such as insufficient drug dosage and interactions between drugs that need to be considered. This problem can be overcome by arranging the patient's medication consumption schedule and consulting the doctor again regarding administering insufficient doses of medication. It is necessary to review prescriptions regularly to ensure the rationality and suitability of the dosage of medication that the patient will receive and minimize the occurrence of medication errors and problems drug related.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wurjati Rida
"Puskesmas pada hakekatnya mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu, terjangkau oleh masyarakat dan sebagai motor pembangunan kesehatan di daerah kerjanya, sedangkan pelayanan yang dilakukan secara garis besar terdiri dari pelayanan medik dan pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian merupakan pelayanan penunjang untuk membantu mencapai penyediaan obat yang bermutu, tersedia dalam jumlah yang cukup, mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Obat merupakan komponen esensial dari suatu pelayanan kesehatan, sehingga persepsi masyarakat tentang hasil dari pelayanan kesehatan adalah diterimanya obat setelah berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan.
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi perilaku yaitu faktor individu, psikologis dan organisasi antara lain meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan persepsi , umur, jenis kelamin, ketrampilan, ketersediaan sumber daya. pedoman sarana dan prasarana, serta pengalaman kerja.. Oleh karena itu dalam penelitian ini ingin melihat gambaran kinerja petugas pengelola obat puskesmas di Kota Bekasi Tahun 2004 dan hubungan antara variabel bebas (independent) meliputi jenis kelamin, umur, masa kerja, pendidikan, pengetahuan, pelatihan, motivasi, supervisi, imbalan, fasilitas dan beban kerja dengan variabel terikat (dependen) yaitu kinerja petugas pengelola obat puskesmas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan didukung pendekatan kualitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua petugas pengelola obat puskesmas di Kota Bekasi. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh petugas pengelola obat puskesmas di Kota Bekasi yang merupakan total sample sebesar 31 orang. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan cara memperoleh data primer yaitu pengamatan menggunakan kuesioner. Data kualitatif dilakukan menggunakan wawancara. Pengolahan data dengan menggunakan perangkat lunak pengolah data dan rekapitulasi hasil wawancara.
Semua responden mempunyai kinerja yang berada pada kelompok sedang dan baik. Lebih dari dua pertiga responden mempunyai skor yang berada pada kelompok sedang, dengan nilai mean 28,52 dan median 29,00 dari skala 0 sampai dengan 38, maka dapat disimpulkan bahwa pengelola obat puskesmas di Kota Bekasi mempunyai kinerja yang cuk-up baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara faktor internal (pendidikan) dengan kinerja pengelola obat puskesmas di Kota Bekasi. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faktor eksternal (supervisi, imbalan, fasilitas dan beban kerja) dengan kinerja pengelola obat puskesmas di Kota Bekasi.
Untuk meningkatkan kinerja petugas pengelola obat puskesmas disarankan agar pemerintah kota Bekasi mengalokasikan tenaga farmasis sebagai tenaga pengelola obat nimal 1(satu) orang asisten apoteker untuk satu puskesmas.

Truthfully, the health center has main task to provide a quality primary health care and to be a health development motor in its working area. The main service of health center consists of medical and pharmacy services. Pharmacy service is a supporting service to attempt a quality and adequate quantity of drugs supply, as well as affordable.
Drugs are the essential component in health care. So, the perception of community about the output of health care is drugs received soon after visiting the health care facilities.
There are three major factors affected the behavior: individual, psychological, and organizational factors that consist of knowledge, attitude, value, perception, age, sex, skill, resources availability, guidelines, facilities, and working experience. For that reason, the study was conducted to assess the working performance of pharmacy officers at health centers in the City of Bekasi in 2004. It was also conducted to assess the relation between independent variables consisted of age, sex, period of working span, education, skill, training, motivation, supervision, compensation, facilities, and working load, and dependent variable that consisted of the working performance of pharmacy officers.
This study used quantitative and qualitative approach with cross sectional design. The population of this study was all pharmacy officers at health centers in the City of Bekasi. The sample of this study was total sampling that comprised of all pharmacy officers at health centers in the City of Bekasi as many as 31 respondents. Quantitative collecting was conducted by obtaining primary data that is interviewing respondents using questionnaire. While qualitative data was obtained by conducting in-depth interview. In this study, data processing used a software and recapitulation of interview result.
All respondents had the working performance that lain between a fair group and a good group. More than two third of respondents had score in a fair group with mean 28.52 and median 29 out of scale between 0 and 38. The result above showed that pharmacy officers at health centers in the City of Bekasi had good working performance. Statistically, the result of this study showed that there was significant relation between internal factor (education) and working performance of pharmacy officers at health centers in the City of Bekasi. Meanwhile, there was no relation between external factors (supervision, compensation, facilities, and working load) and the working performance of pharmacy officers at health centers in the City of Bekasi.
In order to increase the working performance of pharmacy officers at health centers, it was recommended that the local government should allocate the pharmacist as pharmacy officer at least one pharmacy assistant in each health center.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2005
T20062
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abood, Richard R.
"Contents :
The law and the legal system -- Federal regulation of medications : development, production, and marketing -- Federal regulation of medications : dispensing -- The closed system of controlled substance distribution -- Dispensing controlled substances -- Federal regulation of pharmacy practice -- State regulation of pharmacy practice -- Pharmacist malpractice liability and risk management strategies."
Burlington, MA: Jones and Bartlett Learning, 2014
344.7 ABO p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Moch. Subari Djunaedi
"Sehubungan dengan kebijakan Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam rangka menyongsong Era Globalisasi, membutuhkan profesionalisme yang tinggi bagi sumber daya manusiannya (SDM). Program Diploma III Farmasi salah satu Jenjang Pendidikan Tinggi (JPT) Kesehatan harus dapat menyiapkan tenaga yang disesuaikan dengan situasi yang ada dan professional yang dibutuhkan oleh pelayanan kesehatan di bidang kefarmasian dan yang mampu mengembangkan pengetahuan dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam melaksanakan suatu proses belajar mengajar (PBM) yang baik, diperlukan kemampuan mendidik dari para dosennya, materi pelajaran yang sesuai dengan tuntutan, penggunaan media pengajaran yang efisien dan efektif, alat-alat yang sesuai dan prosedur evaluasi yang sesuai. Penelitian ini bertujuan melihat tentang pelaksanaan pengalaman belajar praktek (PBP) di laboratorium Farmasetika.
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara mendalam terhadap para dosen pengawas praktek dan dosen responser, FGD terhadap mahasiswa serta hasil. observasi pelaksanaaan PBP di laboratorium Farmasetika AKFAR DEPKES RI Jakarta tahun ajaran 2001-2002.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik dosen pengawas PBP maupun dosen responser dalam melaksanakan semua pentahapan praktek resep mulai dari penerimaan resep sampai menyerahkan obat, secara umum belum baik karena 7 (tujuh) kompetensi yang diharapkan oleh para pengelola apotek hanya 1 (satu) kompetensi yang diprioritaskan dalam PBP yaitu keterampilan meracik obat. Keterampilan yang lainnya hanya sepintas lalu, sehingga kompetensi lulusan tidak dapat memenuhi kompetensi yang diharapkan oleh para pengelola apotek.
Untuk meningkatkan kompetensi lulusan perlu diadakan penerapan metode simulasi apotek dalam melaksanakan tahap-tahap sirkulasi resep seperti penerimaan resep, memberikan harga, menulis etiket, menulis kopi resep, meracik obat, mengemas obat dan menyerahkan obat.
Based on the policy of Ministry of Health Republic of Indonesia in the occasion of towards Globalization Era, it needs high professionalism for their human resources. The program of D3 Pharmacy is one of the Colleges in health that should prepare the qualified and professional of their human resources that needed by the health service in pharmacy who is capable develop the knowledge and doing their task.
In doing the process of good teaching, it is need the ability to educate from those lecturers. The objective of this study is to determine on the implementation of job training at the pharmacy laboratory.
This study used qualitative method; the data is collected by in-depth interview to those lecturers whose control the job training and respond the question. The Focus Group Discussion is conducted to the students, and the result of observation to the implementation of Job Training at the Pharmacy Laboratory of AKFAR DEPKES RI, Jakarta in 2001-2002.
The results of study showed that both the lecturer who control the job training and the lecturer who was responding the question in doing their practice, it is starting from receive the prescription up to submit the medicine. In general, it has not showed in good yet, because there are 7 competencies that it is hoped by the management of Drug Store, but only one competence that is becoming priority in job training i.e. the ability to prepare medicine. The other skills as a glance, so the competence of their graduation could not answer the competence that is hoped by the management of Drug Store.
To increase the competence of their graduation it needed to conduct application of the simulation method at the Drug Store in doing the steps of circulation of prescription, such as receive prescription, giving price, write etiquette, write prescription copy, prepare medicine, packed the medicine and submit it.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T11478
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zia Naziha
"Praktik Kerja Profesi (PKP) di Apotek Kimia Farma No. 494 (KF 494) bertujuan agar mahasiswa profesi Apoteker dapat memahami tugas dan tanggung jawab Apoteker di apotek, memiliki pengalaman praktis dalam melakukan praktik pelayanan kefarmasian di apotek, dan mengetahui gambaran nyata terkait permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaan praktik kefarmasian di apotek. PKP di KF 494 dilaksanakan selama 1 bulan. Tugas khusus yang diberikan pada saat PKP di KF 494 adalah berupa kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care) pada pasien yang menderita penyakit Diabetes mellitus (DM). Penulisan laporan PKP ini didasarkan atas penelusuran pustaka dan juga pengamatan serta praktik langsung di KF 494. Kegiatan PKP yang telah dilaksanakan menjadikan mahasiswa memahami tugas dan tanggung jawab Apoteker di apotek serta memiliki pengalaman praktis dalam melakukan praktik pelayanan kefarmasian di apotek khususnya pelaksanaan home pharmacy care pada pasien DM.

Internship at Kimia Farma No. 494 Pharmacy (KF 494) aims to make Pharmacist students can understand the duties and responsibilities of Pharmacists in the management of pharmacies, have practical experience in practicing pharmacy at pharmacies, and know the real picture related to problems in the implementation of pharmaceutical practices at pharmacies. Internship at KF 494 is held for a month. Home pharmacy care for patients with Diabetes mellitus (DM) is the special assignment that given by Pharmacist at KF 494. The writing of this report is based on literature review and also observations and direct practices at KF 494. Internship at KF 494 make Pharmacist students understand the duties and responsibilities of Pharmacists in pharmacies and have practical experience in practicing pharmacy in pharmacies especially the implementation of home pharmacy care for patients with DM."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Tri Vita Pratiwi
"Apoteker merupakan salah satu dari tenaga kesehatan yang berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien di Rumah Sakit Untuk mengetahui dan memahami peran apoteker di Rumah Sakit serta kendala dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit maka Program Profesi Apoteker Universitas Indonesia bekerja sama dengan Rumah Sakit Angkatan Laut Marinir Cilandak menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker periode 2 September 31 Oktober 2013 Berdasarkan pengamatan selama praktek kerja di Rumah Sakit peran apoteker diantaranya adalah memberikan pelayanan kefarmasian secara klinik dan non klinik Kendala yang dihadapi dalam menjalankan pelayanan kefarmasian yaitu belum berjalannya farmasi klinik karena keterbatasan Sumber Daya Manusia belum diterapkan sistem distribusi obat rawat inap secara dosis unit dan belum optimalnya peran Panitia Farmasi dan Terapi dalam menetapkan dan mengawasi kebijakan penggunaan obat di lingkungan Rumah Sakit Analisis biaya pemakaian material kesehatan pada pasien Askes dan KJS di kamar operasi Rumah Sakit Marinir Cilandak periode Maret April 2013 merupakan tugas khusus yang diberikan pada Praktek Kerja Profesi Apoteker ini.

Pharmacist is one of health professional who give health service for patient in hospital Therefore The Professional of Apothecary Program University of Indonesia in collaboration with Cilandak Naval Hospital held a Professional Field Work of Apothecary period of September2nd October31st 2013 Based on an observation Pharmacists give their services not only for clinical but also nonclinical Limiting of human resources is being their problem now It makes that not only clinical pharmaceutical care but also drug distribution system is not doing yet Determination and Controlling of drugs use policy held by Committee of Pharmaceutical and Medical are not doing optimal yet Cost of Health material usages analysis in ASKES rsquo s patient and KJS rsquo s patient at Cilandak Naval Hospital period of March April 2013 is special assignment report which given in this Professional Field Work of Apothecary.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2014
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library