Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 63 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hanna Hardiyanti
"Sistem penerangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dimiliki semua orang. Dengan kebutuhan penerangan yang berbeda-beda untuk tiap aktivitas dan ruangan, serta semakin berkembangnya teknologi penerangan dan sumber penerangan buatan. Maka, dibutuhkan pengetahuan untuk memilih sistem penerangan dengan jenis sumber penerangan manakah yang memiliki efisiensi paling baik untuk memenuhi standar penerangan dari tiap ruangan. Pengukuran ini dilakukan untuk melakukan penggantian sumber penerangan dalam ruangan rumah tinggal yang disesuaikan dengan standar baku. Pengukuran intensitas penerangan dilakukan dengan menggunakan alat ukur penerangan (luxmeter) pada titik-titik yang telah ditentukan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa intensitas penerangan dari sistem penerangan eksisting tidak memenuhi standar contohnya pada ruang kamar tidur-1 dengan intensitas penerangan 59,334 lux dari standarnya yaitu 120 lux. Setelah dilakukan penggantian jenis sumber penerangan dengan LED pada ruang kamar tidur-1 didapatkan kenaikan intensitas penerangan menjadi 139,493 lux. Hasil analisis ekonomi menunjukkan hasil perhitungan biaya per bulan dari sistem penerangan yang baru adalah Rp52.822,08 dan sistem penerangan eksisting yaitu Rp42.257,664 serta biaya investasi pengadaan lampu LED sebesar Rp706.080.

The lighting system is a basic requirement that everyone must have. With different lighting requirements for each activity and room and with development of lighting technology and artificial lighting sources. Knowledge is needed to choose a lighting system with which type of lighting source has the best efficiency to meet the lighting standards of each room. This research was conducted to replace the source of lighting in households in each room to meet existing standards. Measurement of lighting levels is done by using a luxmeter at points that have been determined. From the results of the study it was found that the lighting level of the existing lighting system did not meet the standards for example in the bedroom-1 with a lighting level of 59.334 lux from its standard of 120 lux. After changing the type of lighting source with LED in the bedroom-1, lighting level of the room increased to 139,493 lux. The results of the economic analysis show that the monthly cost calculation of the new lighting system is IDR52,822.08 and the existing lighting system is IDR42,257,664 and the investment cost for providing LED lights is IDR706,080."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Puspitasari
"California Marriage Readiness Evaluation (CMRE)merupakan tes psikologi untuk mengukur kesiapan perkawinan yang disusun oleh Morse P. Manson Ph.D, dan dipublikasikan oleh Western Psychological Services (WPS) di Amerika Serikat. Tes ini rnengukur kesiapan perkawinan dalam 8 subkategori yang tercakup kedalam 3 kategori yang paling relevan dengan kesiapan perkawinan. Kategori Kepribadian terdiri dari 3 subkategori yaitu struktur karakter, kematangan emosi, dan kesiapan menikah. Kategori Persiapan terdiri dari 3 subkabegori yaitu pengalaman keluarga, keuangan dan rencana masa depan. Kategori yang terakhir adalah kategori interpersonal yang terdiri dari 2 subkategori yaitumotivasi menikah dan kesesuaian.
Tujuan penelitian ini adalah mengadaptasi CMRE sehingga akhirnya dihasilkan alat ukur kesiapan perkawinan yang dapat digunakan di Indonesia. Dan agar CMRE dapat dianggap sebagai tes psikologi yang balk dan memenuhi syarat, perlu dilakukan uji reliabilitas, validitas, serta norma.
Penelitian ini melibatkan 64 orang sarnpel yang terdiri 32 wanita dan 32 pria dengan rentang usia antara 20-30 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pemberian tes secara individual. Pengolahan reliabilitas, menggunakan metode tes u1ang (test-retest method) yaitu CMRE diberikan 2 kali kepada subyek yang sama dengan selang waktu antara pengambilan tes pertama dan tes kedua 1 bulan. Kedua distribusi skor tes ini dikorelasikan dengan rumus Pearson Product Moment. Pengolahan validitas menggunakan pendekatan construct validity dengan rnelihat konsistensi internal CMRE. Perhitungan validitas ini mengkorelasikan item dengan skor total tes itu sendiri.
Dari hasil analisis secara umum, koefisien korelasi reliabilitas CMRE pada setiap subkategori mencapai alpha Iebih dari 0,60. Koefisien reliabilitas terendah adalah subkategori pengalaman keluarga ( 0, 6542) dan koefisien reliabilitas tertinggi adalah total CMRE ( 0,9035). Hal ini berarti tes ini memiliki stabilitas dan konsistensi yang cukup baik. Pengujian validitas CMRE menunjukkan koefisien validitas antara 0, 2125 sampai O, 6743, Dalam pengujian validitas ini, peneliti melakukan pembuangan terhadap item-item CMRE yang tidak valid pada setiap subkategori. Pembuatan norma untuk kelompok sampel ini menggunakan perhitungan persentil, dan profil norma terbagi dalam 4 kelompok yaitu minimum readiness, fair readiness, good readiness, dan maximum readiness.
Berdasarkan apa yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini, baik yang berkenaan dengan pelaksanaan penelitian maupun hasilnya peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian ulang untuk mengembangkan CMRE sehingga lebih sesuai dengan kondisi sosial dan budaya di indonesia, dengan jumlah dan latar belakang subyek yang lebih bervariasi. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan terbuka kesadaran akan adanya kebutuhan pada suatu tes yang dapat mengukur dan mengevaluasi kesiapan perkawinan bagi pasangan-pasangan yang akan rnemasuki kehidupan perkawinan. Peneliti berharap dengan adanya alat ukur kesiapan perkawinan nantinya dapat membantu konseling-konseling perkawinan yang ada di Indonesia."
1997
S2490
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Randhy Nugroho
"Persaingan dalam industri bank, baik milik Negara ataupun swasta, dalam menyalurkan kreditnya semakin tajam seiring dengan meningkatnya kebutuhan modal kerja dan investasi dalam dunia usaha. Pemberian kredit yang tidak menggunakan informasi laporan keuangan dan prospek masa depan secara tepat dari calon debitur dapat bersifat fatal apabila kredit yang disalurkan kelak menjadi macet. Laporan ini medeskripsikan proses dan sistem dari penggunaan laporan keuangan calon debitur untuk proses pengambilan keputusan kredit oleh Bank selama penulis melakukan program magang.

The competition in banking industries, both state-owned and private, in order to channel their loans is getting tighter as the need for working capital and investement rises. A credit lending process which doesn?t use information on financial reports and future prospect of the debtors properly may result in a fatal situation if the credit loan doesn?t perform. This report will describe the system and process of financial reports usage for credit decision making by the Bank in which the writer performed internship."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2013
S54693
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Amaryllia Puspasari
"Konsep diri, merupakan salah konstruk psikologi yang sulit untuk diuji secara
empiris. Kesulitan yang muncul disebabkan adalah adanya hambatan dalam pengembangan alat ukur yang akan digunakan dalam pengukuran konsep diri. Alat ukur yang telah berkembang sebelumnya, menunjukkan adanya pennasalahan dalam melakukan pengukuran, karena eenderung bersifat self report dan tingginya social desirable. Akhirnya pada tahun 1976, Shavelson mengembangkan teori mengenai konsep diri, dimana konsep diri dibagi dalam beberapa kelompok (kelompok konsep diri akademis dan konsep diri non akademis) dan bersifat hierarkis. Teori lni, kemudian dikembangkan oleh Marsh (1985) untuk membuat Self Description Questionnaire (SDQ). yang dalam praktek pemakaiannya memiliki klasifikasi berdasarkan usia responden. Melihat usia sampel yang digunakan dalam penelitian ini, alat ukur yang digunakan adaiah SDQ ll.
Stratifikasi yang muncul dalam pengelompokan konsep diri membmuhkan suatu metode pengujian tersendiri terhadap alat ukur, dimana membutuhkan adanya verifikasi mengenai model konsep diri yang terbentuk. Tujuan dalam kegialan analisis model ini adalah untuk melihat kesesuaian antara model yang terbentuk pada alat ukur konsep diri dengan teori yang dijadikan sebagai dasar pembuatan alat ukur. Model konsep diri yang akan diuji adalah model konsep diri single factor, model konsep diri dua faktor dan model konsep diri secondary factor analysis. Selain Itu, dilakukan validasi dari konsep diri akademis dengan pencapaian akademis, dimana sesuai dengan leon yang dikembangkan oleh Marsh pada penelitian sebelumnya, bahwa konsep diri akademis mempengaruhi pencapaian akademis.
Analisis model konsep diri, yang menggunakan metode Conlirmafory Factor Analysis dengan program LlSREI menunjukkan bahwa ketiga model konsep diri yang tersebut menunjukkan adanya pengaruh error dari seiiap item pada dimensi konsep diri. Item dan dimensi konsep diri yang berbeda saling mempengaruhi satu dengan Lainnya dan tidak secara khusus mengukur dimensi konsep diri dimana item tersebut berada.
Hubungan antara model konsep diri akademis dan pencapaian akademis, tidak menunjukkan adanya korelasi yang signifikan. Penyebab ketidaksignifikan dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adaiah kemungkinan dari pengukuran pencapaian akademis yang tidak akurat dimana pencapaian akademis yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat ukur pencapaian akademis dalam operasional diganti dengan menggunakan nilai rapor."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
T37865
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Putri Utami
"Kurikulum 2013 K13 yang sedang berlaku saat ini mengharuskan siswa SMA kelas X yang baru masuk tahun ajaran baru untuk langsung melakukan peminatan sebelum proses pembelajaran dimulai. Salah satu cara menentukan kelompok peminatan ialah dengan menggunakan tes psikologis atau tes peminatan. Selain itu, metode belajar dalam kurikulum 2013 pun secara tidak langsung memaksa siswa SMA untuk lebih aktif membaca materi pelajaran secara mandiri karena guru mengurangi pemberian materi pelajaran dengan metode ceramah. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa kemampuan pemahaman bacaan merupakan hal yang utama bagi siswa SMA saat ini, sehingga diperlukan adanya tes psikologis, khususnya tes inteligensi yang mengukur pemahaman bacaan sebagai alat bantu penetapan kelompok peminatan.
Alat ukur ini dibuat berdasarkan teori inteligensi CHC. Sampel dari uji coba ini ialah 97 siswa SMA kelas X dari berbagai SMA di daerah Jakarta dan Depok. Alat ukur terdiri dari 15 item dan menggunakan multiple-choice dengan 4 pilihan jawaban. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa Tes RC tidak memiliki konsistensi antar item dalam mengukur pemahaman bacaan dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,61. Hasil uji validitas konstruk menunjukkan bahwa Tes RC valid dalam mengukur konstruk pemahaman bacaan dengan koefisien korelasi sebesar 0,323 p < 0,01 . Hasil uji analisis item menunjukkan bahwa item-item pada alat ukur belum dapat membedakan individu yang memiliki kemampuan pemahaman bacaan yang tinggi dengan yang rendah. Norma yang digunakan ialah scaled score dengan M=10 dan SD=3.

The current curriculum K13 requires new high school students to choose a major when entering the new academic year before the learning process begins. One way to determine the major is to use psychological testing. In addition, the learning method in the current curriculum also indirectly forced high school students to more actively read the subject matter independently. It happens because the teacher reduces the provision of subject matter by lecture method. Based on that, it can be said that reading comprehension is the main ability needed by high school students nowadays, so it takes a psychological testing that measures reading comprehension as a tool for majoring.
This intelligence testing construction is based on CHC theory. The sample of this trial involves 97 high school students of 10th grader from various high schools in Jakarta and Depok area. The intelligence testing consists of 15 items and uses multiple choice with 4 choices. The reliability statistic indicates that RC test does not have inter item consistency in measuring reading comprehension with reliability coefficient equals to 0.61. The result of construct validity shows that RC test is valid for measuring reading comprehension with correlation coefficient equals to 0,323.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2017
S68395
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Aji Winata
"Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi alat ukur Teacher Caring Scale TCS pada guru sekolah menengah. Penelitian ini dilakukan kepada guru sekolah menengah di daerah Jabodetabek n=291. Hasil pengujian psikometri cronbach alpha menunjukkan bahwa alat ukur TCS memiliki tingkat konsistensi internal yang baik ?=0,916. Pengujian validitas konstruk menunjukkan korelasi yang signifikan dengan alat ukur agreeableness r=0,371.

This study aims to construct a Teacher Caring Scale TCS measurement for secondary school teachers. This research was conducted to secondary school teachers in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi n 291. The results of psychometric test with cronbach alpha indicates that TCS measurement has a good internal consistency level 0.916. Construct validity shows significant correlation with agreeableness r 0,371.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Aulia Rahman Boer
"Perusahaan rintisan memiliki dinamika yang sangat cepat dan tidak menentu jika dibandingkan dengan perusahaan yang sudah lama berdiri. Selain itu, perusahaan startup memiliki praktik yang mengharuskan karyawannya menghadapi pembagian kerja yang lebih besar. Namun karena kondisi ekonomi yang tidak stabil dan ketidakmampuan karyawan untuk melakukan pekerjaan ganda, karyawan lebih rentan menghadapi ketidakpastian dalam pekerjaannya. Berdasarkan penelitian, ketahanan karyawan merupakan salah satu perilaku penting yang dimiliki seorang karyawan dalam menjalankan setiap pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat alat ukur yang handal, valid dalam mengukur perilaku resiliensi karyawan, memiliki item yang baik, dan memiliki norma yang dapat digunakan untuk menginterpretasikan skor. Partisipan dalam penelitian ini adalah karyawan perusahaan startup yang telah bekerja minimal 2 bulan (n = 106). Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur Startup Employee Resilience (SUER) memiliki konsistensi internal yang tinggi, valid untuk korelasi dengan work engagement yang memiliki hubungan teoritis, dan memiliki item yang dapat membedakan individu dengan baik. Norma yang digunakan dalam menafsirkan skor SUER adalah skor standar yang dinormalisasi (M = 10; SD = 3). Alat ukur ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk mendiagnosis tingkat resiliensi yang dimiliki karyawan perusahaan startup.

Start-up companies have very fast and erratic dynamics when compared to long-established companies. In addition, startup companies have practices that require their employees to face a greater division of labor. However, due to unstable economic conditions and the inability of employees to do multiple jobs, employees are more prone to face uncertainty in their jobs. Based on research, employee resilience is one of the important behaviors an employee has in carrying out every job. This study aims to make a reliable measuring tool, valid in measuring employee resilience behavior, have good items, and have norms that can be used to interpret scores. Participants in this study were employees of startup companies who had worked for at least 2 months (n = 106). The results show that the Startup Employee Resilience (SUER) measurement tool has high internal consistency, is valid for correlation with work engagement which has a theoretical relationship, and has items that can distinguish individuals well. The norm used in interpreting the SUER score is the normalized standard score (M = 10; SD = 3). This measuring tool is expected to be a reference for diagnosing the level of resilience that startup company employees have."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yoga Adipradana
"Tindakan anarki sering terjadi pada suporter sepakbola, termasuk di sepakbola Indonesia. Tindakan Anarki dianggap tidak baik dan merugikan berbagai pihak dan bahkan memakan korban. Tindakan anarki sering terjadi pada berbagai kelompok suporter di Indonesia. Melalui ini penelitian, akan terlihat bagaimana perbedaan tingkat suporter anarkis di Klub sepak bola Arema, Persib, Persija dan Persebaya. Pendidikan harus bisa dicapai seseorang berperilaku baik dan tidak bertindak anarki. Dalam penelitian ini, juga akan terlihat apakah pendidikan dapat mempengaruhi level suporter sepakbola anarkis di Indonesia. Untuk mengukur tingkat anarkis, alat pengukur yang telah dimodifikasi ke model Rasch instrumen kuesioner dengan format Likert digunakan. Dengan nonparametrik Kruskal-Wallis Metode, ditemukan bahwa ada perbedaan di tingkat anarki antara suporter klub sepakbola Arema, Persib, Persija, dan Persebaya. Bisa juga dilihat itu tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat anarki suporter. Jadi, solusi terbaik untuk mengurangi atau mungkin menghilangkan tindakan anarki di Indonesia adalah untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia

Acts of anarchy often occur in football supporters, including in Indonesian football. Anarchy's actions are considered bad and detrimental to various parties and even take casualties. Acts of anarchy often occur in various groups of supporters in Indonesia. Through this research, it will be seen how the different levels of anarchist supporters in Arema, Persib, Persija and Persebaya soccer clubs. Education must be attainable for someone to behave well and not act anarchy. In this study, it will also be seen whether education can influence the level of anarchist football supporters in Indonesia. To measure anarchist levels, gauges that have been modified to the Rasch model of a questionnaire instrument with a Likert format are used. With the nonparametric Kruskal-Wallis Method, it was found that there are differences at the level of anarchy between football club supporters Arema, Persib, Persija and Persebaya. It can also be seen that the level of education influences the level of anarchy of supporters. So, the best solution to reduce or possibly eliminate anarchy in Indonesia is to improve education in Indonesia.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ira Ruswati Aprilia
"Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak Dan Gas Bumi, Kegiatan usaha Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa yang menyangkut kepentingan umum, pengusahaannya diatur agar pemanfaatannya terbuka bagi semua pemakai, dalam hal inilah dibutuhkan suatu pengaturan akses. Kewajiban penyediaan meter sebagai alat ukur volume gas bumi di Titik Terima maupun Titik Serah pipa gas bumi selalu menjadi isu antara Transporter dan Shipper. Alat ukur yang digunakan pada pipa SSWJ adalah Turbin dan USM, bergantung pada volume aliran. Untuk kewajiban penyediaan alat ukur pada pipa SSWJ, pada Titik Terima Shipper wajib menyediakan, mengembangkan, mengoperasikan dan memelihara alat ukur secara rutin, aman dan handal. Sedangkan pada Titik Serah Transporterwajib menyediakan, mengembangkan, mengoperasikan dan memelihara alat ukur secara rutin, aman dan handal. Dampak dari kewajiban penyediaan alat ukur tersebut maka semua biaya dan pengeluaran dari setiap Metering Station termasuk asuransi terhadap Pipeline System maupun pihak ketiga yang terkait, ditanggung oleh Transporter pada Titik Serah dan Shipper pada Titik Terima. Penetapan kewajiban penyediaan alat ukur juga berpengaruh pada biaya yang timbul akibat adanya Shipper baru.

Based on Law Number 22 of 2001 concerning Oil and Natural Gas, the business activity of transporting natural gas through pipes which concerns the public interest, the business is regulated so that its use is open to all users, in this case an access regulation is needed. The obligation to provide meters as a means of measuring the volume of natural gas at the Receiving Point and Delivery Point for natural gas pipelines is always an issue between Transporters and Shippers. The measuring instruments used on SSWJ pipes are Turbine and USM, depending on the flow volume. For the obligation to provide measuring instruments on SSWJ pipes, the Shipper Receiving Point is obliged to provide, develop, operate and maintain measuring instruments routinely, safely and reliably. Meanwhile, at the Delivery Point, Transporters are required to provide, develop, operate and maintain measuring equipment on a routine, safe and reliable basis. The impact of the obligation to provide measuring instruments is that all costs and expenses of each Metering Station, including insurance for the Pipeline System and related third parties, are borne by the Transporter at the Delivery Point and the Shipper at the Receiving Point. Determining the obligation to provide measuring equipment also affects the costs incurred due to the presence of a new shipper."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Krisnawati
"Suatu pelayanan kesehatan belum dapat dikatakan berkualitas, jika pasien tidak merasa puas. Studi terkait kepuasan pasien telah banyak dilakukan dimanca negara antara lain Amsterdam, Swedia, Norwegia, Brazil, United Kingdom. Kepuasan pasien terhadap hasil perawatan Ortodonti berkisar antara 34% - 75 %. Rentang yang lebar ini kemungkinan disebabkan cukup sulit mencari Alat Ukur yang standar dan relevan untuk menilai kepuasan pasien. Tujuan : memperoleh Alat Ukur Kepuasan pasien Ortodonti yang valid dan reliabel. Menilai korelasi antara kepuasan pasien dengan keberhasilan perawatan yang diukur menggunakan Index Complexity Outcome and Need (ICON) Metode : Telah dilakukan studi potong lintang pada pasien Ortodonti di klinik Ortodonsia Rumah Sakit Khusus Gigi Mulut FKG-UI. Penelitian berlangsung 2 tahap, yaitu melakukan adaptasi lintas budaya kuesioner Academic Centre of Dentistry Amsterdam (ACTA).Mencari faktor risiko Usia, jenis kelamin, pendidikan, Etnis, sosio- ekonomi yang berperan terhadap Kepuasan pasien dan mencari korelasi antara Kepuasan Pasien (subjektif) dengan Keberhasilan perawatan (objektif) yang diukur menggunakan Index Complexity Outcome and Need. (ICON) Hasil: Setelah dilakukan Translasi dan Adaptasi Lintas Budaya kuesioner ACTA dan Principle Component Analysis diperoleh 5 domain dan 34 pertanyaan yang valid dan reliabel. Analisis multivariat menemukan faktor pendidikan dan sosio ekonomi yang berperan terhadap Kepuasan pasien. Korelasi antara Kepuasan pasien dengan keberhasilan perawatan ortodonti adalah sebesar r=0.364. Kesimpulan: Telah diperoleh Alat Ukur Kepuasan Pasien Adaptasi Lintas Budaya dari Kuesioner ACTA yang valid dan reliabel. Sebanyak 87,59 % responden puas dengan perawatan Ortodonti di RSKGM FKG-UI. Terdapat korelasi sedang antara Kepuasan pasien (subjektif) dengan keberhasilan perawatan ortodonti (objektif).

Health care can not be high quality unless the patient is satisfied. Studies about patient satisfaction have been done in Amsterdam, Swedia, Norwegia, Brazil, United Kingdom, and many more. Patient satisfaction with orthodontic results range from 34% - 75 %. Previous studies showed different factors have been explored and different instrument have been used. It makes comparisons between studies difficult. Objective : to obtain measurment tools for patients satisfaction which is valid and reliable through cross cultural adaptation; find out correlation between satisfaction with risk factors such age, gender, education, ethnic, socio-economic. Then correlation between satisfaction and treatment outcome using Index Complexity Outcome and Need. Method : a cross sectional studies was done on 137 patients from orthodontic clinic at Dental Hospital, Faculty of Dentistry Universitas Indonesia. Result : After Principle component analysis was done, we obtained the cross cultural adaptation questionnaire from ACTA which consist of 5 domain with 34 items that is valid and reliable. Multivariat analysed found that education and socioeconomic give an influenced on patient satisfaction. Conclusion: this study obtained questionnaire that is cross cultural adaptation from ACTA which valid and reliable. Mostly patient 87,59 % who have been treated at RSKGM FKG Universitas Indonesia were satisfied with the result. And there is moderate correlation between patient satisfaction and treatment outcome which assed by Index of Complexity Outcome and Need (ICON) "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>