Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 167 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nourmayansa Vidya Anggraini
"ABSTRAK
Prevalensi kelebihan berat badan pada remaja semakin meningkat yang berpotensi terhadap penyakit tidak menular (PTM) di masa yang akan datang. Tujuan KIAS ini adalah untuk mengatasi kelebihan berat badan pada remaja. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian pendidikan kesehatan pada remaja mengenai kelebihan berat badan dengan menggunakan pendekatan monitoring mandiri SIFORTASIMA dan buku diari. Ketercapaian berat badan ideal pada remaja adalah 4.2%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa di awal dan akhir dengan p value <0.05. Penelitian ini dapat merekomendasikan terhadap pihak suku dinas pendidikan dan sekolah untuk mengaktifkan kembali peran UKS di SMP sesuai dengan trias UKS, suku dinas kesehatan untuk lebih mengoptimalkan program perkesmas supaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya remaja dapat lebih bermutu dan berkualitas, serta perawat dapat menggunakan aplikasi android sebagai media promosi kesehatan dalam pencapaian berat badan ideal.

ABSTRACT
The increasing prevalence of overweight in adolescents may increase the potential for non-communicable diseases (NCDs) in the future. The purpose of this research is to overcome overweight in adolescents. The intervention is done through the provision of health education to adolescents regarding overweight using a "self-monitoring" SIFORTASIMA and the diary. The achievement of ideal body weight in adolescents is 4.2 %. The results showed that an increase in knowledge, attitudes, and skills of the students at the beginning and end with a p value of <0.05. It is recommended to education departments and schools to reactivate the role of junior UKS in accordance with UKS triad. In addition, the health department to further optimize PHN program so that health care services to the public can be more qualified and qualified, it is also expected to nurses to use android application as media promotion of health in achieving the ideal body weight.;"
2016
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Athika Rani
"Remaja dituntut untuk dapat melakukan penyesuaian psikologis dengan baik agar dapat beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi. Namun demikian, banyak remaja mengalami perasaan kesepian yang dapat berdampak negatif pada penyesuaian psikologisnya. Salah satu faktor protektif yang dapat melindungi remaja dari masalah penyesuaian psikologis adalah resiliensi yang terdiri dari resource dan vulnerability index. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran resiliensi sebagai moderator dalam hubungan antara loneliness dan penyesuaian psikologis remaja. Metode penelitin ini adalah kuantitatif dan cross-sectional. Terdapat 377 partisipan remaja berusia 12-18 tahun dalam penelitian ini. Loneliness diukur menggunakan instrumen de Jong Gierveld Loneliness Scale, resiliensi diukur dengan instrumen Resilience Scale for Children and Adolescent, dan penyesuaian psikologis diukur menggunakan instrumen Brief Adjustment Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resource index dari resiliensi secara signifikan berperan sebagai moderator yang melemahkan hubungan antara loneliness dan penyesuaian psikologis remaja. Hasil ini juga berimplikasi pada pentingnya intervensi yang dapat meningkatkan resiliensi yaitu resource index guna meningkatkan kesehatan mental remaja secara umum.

Adolescent are required to have a positive psychological adjustments in order to adapt to the various changes that occur in their life. However, many adolescents experience feelings of loneliness which can have a negative impact on their psychological adjustment. One of the protective factors that can protect adolescents from psychological adjustment problems is resilience which consists of resource and vulnerability indexes. This study aims to determine the role of resiliency as a moderator in the relationship between loneliness and adolescent psychological adjustment. This research method is quantitative and cross-sectional. There were 377 youth participants aged 12-18 years in this study. Loneliness was measured using the de Jong Gierveld Loneliness Scale instrument, resilience was measured with the Resilience Scale for Children and Adolescents instrument, and psychological adjustment was measured using the Brief Adjustment Scale instrument. The results showed that the resource index of resilience significantly acts as a moderator that weakens the relationship between loneliness and adolescent psychological adjustment. These results also have implications for the interventions that can increase resiliency, importanly, the resource index to improve adolescent mental health in general."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Millati Syamila
"Tingginya durasi penggunaan internet dan kesulitan dalam mengontrol penggunaan internet di kalangan remaja saat ini dapat berpotensi mengakibatkan penggunaan internet yang problematik. Adanya keyakinan metakognisi yang maladaptif bahwa dengan menggunakan internet dapat meregulasi emosi negatif secara efektif diduga dapat memediasi hubungan antara kesulitan regulasi emosi dan penggunaan internet yang berpotensi problematik pada 261 sampel remaja usia 11 hingga 20 tahun (perempuan 66.28%, M = 15). Analisis dilakukan dengan metode kuantitatif non-eksperimental menggunakan Hayes PROCESS Mediation Analysis. Penggunaan internet yang problematik diukur dengan skala GPIUS2, regulasi emosi diukur dengan DERS-SF, serta keyakinan metakognisi maladaptif diukur dengan skala MCQ-30. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keyakinan metakognisi maladaptif berperan dalam memediasi hubungan antara penggunaan internet yang berpotensi problematik dan kesulitan regulasi emosi pada remaja secara parsial. Kesulitan regulasi emosi ditemukan dapat memengaruhi penggunaan internet yang berpotensi problematik baik secara langsung maupun tidak langsung. Penemuan ini mengimplikasikan bahwa intervensi penggunaan internet problematik pada remaja dapat mempertimbangkan regulasi emosi dan input informasi yang tepat dalam mengembangkan keyakinan metakognisi yang adaptif.

Adolescents' exessive use of the internet and lack of control in using internet might potentially result in problematic internet use (PIU). In a sample of 261 typical adolescents aged 11 to 20 years (female 66.28%, M = 15), the association between emotion regulation difficulties and Internet users problematik is assumed to be mediated by the maladaptive metacognitive beliefs that utilizing the internet may effectively decrease negative emotions. Hayes PROCESS Mediation Analysis, non-experimental quantitative methods were used for the analyses. The GPIUS2 scale was used to test potentially PIU, the DERS-SF was used to measure emotion regulation difficulties, and the MCQ-30 scale was used to measure maladaptive metacognitive beliefs. The findings demonstrated that the association between penggunaan internet problematik and emotion regulation difficulties was partially mediated by maladaptive metacognitive beliefs. It has been discovered that potentially problematic internet use is both directly and indirectly by emotion regulation difficulties. This research suggests that problematic internet use interventions for adolescents ought to take emotion regulation, appropriate information input in developing adaptive metacognitive beliefs into account."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tama Benita
"Penyimpangan perilaku pada remaja dapat disebabkan oleh adaptasi terhadap tugas tumbuh kembang remaja sehingga penting untuk mengetahui salah satu faktor yang dapat mendukung pemenuhan tugas tumbuh kembang remaja, yakni hubungan saudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hubungan saudara pada remaja di DKI Jakarta. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 422 remaja di DKI Jakarta. Data diambil secara daring menggunakan instrumen yang Sibling Relationship Questionnaire (SRQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja memiliki hubungan yang didominasi oleh aspek power/status dengan, diikuti dengan aspek warmth dengan persentase sebesar 31%, sebanyak 21,3% remaja didominasi aspek conflict, dan tidak ada remaja yang hubungan dengan saudaranya didominasi aspek rivalry. Penelitian ini merekomendasikan anggota keluarga untuk berupaya meminimalisasi aspek negatif (konflik dan persaingan), serta mempertahankan dan meningkatkan aspek positif (kehangatan dan pengasuhan) dalam hubungan saudara.

Behavior deviation is mostly experienced by adolescents due to adaptations to the task of adolescent growth and development for it is essential to know one of the factors that can support the fulfillment of adolescent growth and development tasks, namely the quality of individual relationships with siblings. This study aims to determine how is sibling relationships among adolescents in DKI Jakarta. This quantitative study with a cross-sectional design involving 422 adolescents in DKI Jakarta. Data was collected online using an instrument namely Sibling Relationship Questionnaire (SRQ). The results showed that the majority of adolescents had a relationship that was dominated by the power/status aspect, followed by the warmth aspect with a percentage of 31%, then 21.3% of adolescents were dominated by the conflict aspect, and there is no adolescence found that had rivalry aspect that dominate their relationship with their sibling. This study recommends the family members to be able to minimize the negative aspects (conflict and rivalry), as well as maintain and improve the positive aspects (warmth and nurturance) in sibling relationships."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lilly Harmawan
"Perilaku sebagian profesional muda di Jakarta diwarnai oleh gaya hidup aktual yang berfokus pada citra-diri dan penampilan lahiriah. Gayahidup seperti ini merupakan sebuah refleksi dari sebuah fenomena yang tidak terlihat secara eksplisit.
Penelitian ditujukan untuk melihat apakah ada fenomena tertentu yang mendorong dan membentuk gaya hidup seperti itu. Lasch (1979) berpendapat gaya hidup ini merupakan kebudayaan narsisisme dan dampak dari kebudayaan modern, sedangkan Lowen (1985) menyatakan bahwa fenomena narsisisme tidak sehat merupakan sebuah fenomena penyangkalan diri yang dilakukan untuk menutupi kerentanan jatidiri yang sesungguhnya. Individu dengan narsisisme tidak sehat menampilkan citra yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya untuk menutupi rasa inferioritas yang dimilikinya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan eksploratif. Melibatkan keseluruhan 16 orang subjek yang terbagi ke dalam 4 subjek utama dan 12 subjek pendukung. Alat yang digunaken dalam penelitian adalah kuestioner O'Brien Multiphasic Narcissism Inventory dan Pedoman Umum wawancara yang merupakan gambaran manisfestasi narsisisme patologis dan hasil adaptasi dari teori-teori mengenai narsisisme.
Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa:
1. Ada ciri narsisisme tidak sehat pada sebagian profesional muda di Jakarta.
2. Narsisisme ini dilakukan untuk menutupi rasa inferioritas dan kerentanan jatidiri mereka.
3. Narsisisme terjadi ketika seseorang membesarkan aspek parsial yang dimilikinya dan menyebabkan berbagai distorsi. Distorsi-distorsi yang dimiliki menciptakan ilusi tentang diri-semu yang rentan terhadap kritik.
4. Narsisisme tidak sehat disebabkan karena: (a) tidak adanya proses pencerminan sehat (healthy mirroring) pada seseorang, (b) pola asuh yang tidak seimbang, (c) kesibukan orangtua dengan pekerjaan dan kegiatan sosialnya (d) kontribusi lingkungan (misalnya pariwara) yang mempengaruhi proses sosialisasi anak."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ramamurti Makarao
"Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi serta faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Rancangan yang digunakan untuk penelitian ini adalah cross sectional. Sampling dilakukan pada populasi remaja yang duduk di bangku kelas 3 SLTP Negeri di Cianjur Kota, sebanyak 4 buah SLTP Negeri. Sampel yang diambil sebanyak 399 responden dengan cara simpel random sampling.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan terbuka (data primer), sedangkan untuk data, pendidikan dan pekerjaan orangtua responden didapat data di sekolah (data sekunder). Waktu pengambilan data diadakan serentak pada hari-hari yang telah ditetapkan yaitu tanggal 13 Januari 1997 sampai tanggal 18 Januari 1997. Entry data dan pengolahan data dilakukan dengan program komputer EPI INFO Versi 6.0 dan SPSS For Windows.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini didapat ada yang mendukung hipotesis dan ada yang menolak hipotesis. Dengan analisis bivariat didapatkan hasil penelitian yang mendukung hipotesis yaitu ada hubungan antara; jenis kelamin, jumlah anggota dalam keluarga, pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu kelompok sebaya organisasi dan komunikasi dengan pengetahuan remaja tentang reproduksi dan antara jenis kelamin, jumlah anggota dalam keluarga, kelompok sebaya dan organisasi dengan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi. Hasil yang menolak hipotesis yaitu yang menyatakan tidak adanya hubungan antara jenjang urutan anak dan organisasi dengan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan antara jenjang urutan anak, pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu, komunikasi dengan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi.
Disarankan agar diadakan gerakan dari tingkat daerah sampai dengan tingkat pusat tentang penyebarluasan kesehatan reproduksi. Disamping itu, perlu diadakannya kajian dan penelitian lebih lanjut secara ilmiah supaya didapat konsep yang tepat untuk implementasi di masyarakat luas.

The Knowledge And Attitude Analysis Of Reproduction Health Of Teenagers Of The Third Grade Of Junior High School Students In Cianjur In 1996.The aim of this research is to find out the teenagers knowledge and attitude of reproduction health and some other factors that dealt with it. The method that is used in this research in cross sectional method. Sample is taken on the youth population of the third grade students of Junior High School in the center of Cianjur, 4 government school around Cianjur. The total samples are 399 respondents using simple random sampling.
Data collecting used a questionnaire with opened questions and closed questions (primary data), mean while educations background and parents jobs, are gained from the school (secondary data). All data are gained at the same time from January 13, 1997 to January 18, 1997. Data entry and the data processing are done by EPI INFO 6.0 Version and SPSS for windows.
The conclusion of this research in that there are some conclusion that support the hypothesis, and some are reject it. Using bivariat analysis; some of the results support the hypothesis and analysis the tell us that there are some relationship between set, the number of the family, father and mother educational background, father and mother's jobs and teenagers' knowledge about reproduction, and sex, the number of the family, peer group and organization and teenagers attitude about reproduction health.
The results that reject hypothesis states that there are no relationship between numbers in the family and organization and teenagers knowledge about reproduction health, and the numbers in the family, father and mother's educational background, communication teenagers attitude about reproduction healthy.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Retna Mahriani
"Media massa merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia terutama pada masyarakat industri. Menurut Mc Quail salah satu fungsi media massa adalah memperluas visi orang dengan pengalaman- pengalaman. Dampak media massa dapat berpengaruh bagi kehidupan manusia bahkan dapat merubah budaya suatu masyarakat.
Televisi salah satu media massa yang bersifat audio visual sangat mudah mempengaruhi persepsi seseorang. Di Indonesia televisi sudah merupakan media yang dominan dalam menyebarkan gagasan dan informasi. Hal ini membuat kekhawatiran para ilmuan dan orang tua terhadap acara-acara yang disajikan terutama dalam tayangan adegan kekerasan. Penonton yang sering menonton adegan kekerasan lebih mudah terpengaruh oleh adegan yang ditontonnya terutama bila penontonnya adalah anak-anak, karena mereka mempunyai daya imitasi yang kuat.
Gerbner (1978) meneliti pengaruh adegan kekerasan dalam televisi terhadap persepsi tentang sikap dan perilaku kekerasan. Dengan konsep " mainstreaming" Gerbner menjelaskan pengaruh frekuensi menonton adegan kekerasan pada heavy viewer dan light viewer. Konsep utama yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah teori Kultivasi dari Gerbner.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek frekuensi menonton adegan kekerasan pada anak SD terhadap persepsi tentang sikap dan perilaku kekerasan. Yang menjadi populasi adalah murid SD di kotamadya Palembang dan sampelnya adalah murid SD Kelas VI. Pengambilan sampel dilakukan secara quota dan tehnik analisis menggunakan statistik.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) tidak ada pengaruh dari frekuensi menonton adegan kekerasan terhadap persepsi tentang sikap dan perilaku kekerasan pada anak SD. (2) Tidak ada pengaruh dari lokasi pada hubungan antara frekuensi menonton adegan kekerasan dengan persepsi tentang sikap dan perilaku kekerasan anak SD. (3) Tidak ada pengaruh dari nilai rata-rata terhadap hubungan antara frekuensi menonton adegan kekerasan dengan persepsi tentang sikap dan perilaku kekerasan anak SD (4) Tidak ada pengaruh dari pendidikan orang tua terhadap hubungan antara frekuensi menonton adegan kekerasan dengan persepsi tentang sikap dan perilaku kekerasan anak SD.
Teori Gerbner menyatakan bahwa, komunikasi massa berhubungan dengan kajian pembentukan persepsi realitas sosial. Bila televisi sering menyajikan adegan kekerasan, maka heavy viewer akan melihat dunia ini dipenuhi kekerasan. Sementara light viewer akan melihat dunia tidak sesuram seperti heavy viewer. Implikasi penelitian ini secara teoritis adalah temuan yang berbeda dengan teori kultivasi Gerbner. Perbedaan tersebut jelas terlihat dari segi budaya, nilai dan kepercayaan yang dimiliki responden di kotamadya Palembang. Perbedaan tersebut sesungguhnya memperkaya konsep teori Cultivasi. Secara metodologis, ukuran-ukuran yang digunakan harus lebih disempurnakan lagi untuk mencapai hasil yang maksimal. Secara praktis bahwa hash penelitian ini dapat digunakan untuk membuat kebijakan oleh para orang tua, pengelola media massa dan pemerintah terutama dalam mengantisipasi efek negatif yang ditimbulkan."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Buku yang berjudul "Handbook of adolescent health risk behavior" ini membahas tentang perilaku remaja yang dapat mengganggu kesehatan mereka, seperti mengkonsumsi alkohol, pola makan, dan penggunaan obat-obat terlarang. "
New York: Plenum Press, 1996
R 613.043 HAN
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
"Buku yang berjudul "Handbook of child and adolescent psychiatry" ini membahas tentang psikologi anak-anak dan remaja. Buku ini terdiri dari 4 volume, yang tiap volumenya membahas topik yang berbeda, namun masih dalam cakupan yang sama. "
New York: John Wiley & Sons, 1997
R 616.89 HAN
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Tiurmauly, Virna
"Kematian merupakan satu-satunya hal yang pasti dialami oleh individu. AIDS adalah penyakit dimana tingkat kematian penderitanya tinggi. Selain itu, sampai saat ini masih kuat terdapat stigma kematian yang diberikan pada ODHA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kecemasan terhadap kematian pada remaja dengan HIV/AIDS. Gambaran tersebut dilihat melalui pandangan mereka terhadap kematian serta hadirnya masing-masing dimensi kecemasan terhadap kematian.
Dalam penelitian ini, digunakan empat dimensi kecemasan terhadap kematian yang didasarkan pada Choron (dalam Kastenbaum & Aisenberg, 1976) serta Florian & Kravetz (Dalam Florian & Mikulincer, 1997). Dimensi-dimensi tersebut adalah kecemasan akan proses menuju kematian, kecemasan akan kehidupan setelah kematian, kecemasan akan kemusnahan diri, serta kecemasan akan dampak kematian bagi orang-orang terdekat.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Pandangan yang dimiliki subjek mengenai kematian antara lain kematian sebagai transisi atau hukuman. Tiap subjek memiliki satu atau lebih dimensi kecemasan terhadap kematian yang berbeda. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut antara lain agama, budaya, serta pengalaman berhubungan dengan kematian.

Death is the only certainty in individual`s life. AIDS is one of disease that has high death rate to its patients. The aim of this research is to give the picture of death anxiety in adolescence with HIV/AIDS. Today, there still strong stigma relating HIV/AIDS patients with death.
The dimensions of death anxiety is based on Choron`s dimensions of death anxiety (Kastenbaum & Aisenberg, 1976) and supplemented with one dimension from Florian & Kravetz (Florian & Mikulincer, 1997). Those dimensions are fear of dying, fear of afterlife, fear of extinction, and fear of individual death`s effect to family and friends.
The research is conducted with qualitative method which interview and observation is done to four subjects. All subjects view death as a transition or punishment. Every subject has one or more difference dimension of death anxiety. Some factors that have relation with their death anxiety are religion, culture, or experience with death."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>