Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 112 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Novia Widjaja
"Tesis ini merupakan penelitian pertama di Indonesia yang membahas pemanfaatan ultrasonografi tiroid dalam deteksi dini kelainan tiroid  pada kehamilan. Abnormalitas penanda tiroid pada kehamilan dapat mempengaruhi perkembangan janin. Rekomendasi dari American Thyroid Association tahun 2017 menganjurkan deteksi kelainan tiroid pada kehamilan berisiko. Biaya pemeriksaan penanda tiroid relatif mahal. Tujuan penelitian ini untuk melakukan analisis apakah pemanfaatan ultrasonografi dapat digunakan sebagai alternatif dalam rancangan alur prosedur deteksi dini kelainan tiroid pada kehamilan. Metoda penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Uji yang dilakukan adalah uji validitas dengan analisis sensitivitas dan spesifisitas, kesesuaian dengan pendapat pakar, dan analisis biaya. Hasil dari penelitian ini didapatkan 20 responden ibu hamil berusia 30-39 tahun, 12 orang trimester dua dan 8 orang trimester tiga, dengan faktor risiko terbanyak riwayat keluarga kelainan tiroid, didapatkan hasil USG abnormal 12 (60%) dan penanda tiroid abnormal 11 (55%). Analisis validitas menunjukkan sensitivitas sebesar 100 % dan spesifisitas sebesar 88,89 %, dengan prediktif negatif 100%. Pada analisis biaya ditemukan selisih pembiayaan sebesar Rp. 150.500,00 dibanding alur deteksi yang lama. Hal-hal yang dapat menimbulkan bias dalam penelitian ini adalah jumlah sampel yang kurang, terdapat sejumlah sampel (3 reponden; 15%) yang diambil pada waktu yang tidak seragam, ada sebagian sampel (5 sampel; 25 %) yang dikerjakan oleh laboratorium lain, dan faktor intrinsik peneliti sendiri pada saat pengerjaan ultrasonografi. Sensitivitas yang baik dan nilai prediktif negatif dari penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan ultrasonografi tiroid mungkin dapat menjadi pilihan bagi rancangan alur prosedur alternatif deteksi dini kelainan tiroid pada kehamilan. Direkomendasikan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan jumlah sampel lebih besar, keseragaman pengerjaan sampel, dan melakukan pengujian keragaman interpretasi ultrasonografi oleh dua pakar sebelum penelitian untuk menyingkirkan bias, untuk selanjutnya dapat diajukan kepada pemangku kebijakan sehingga pemanfaatan ultrasonografi tiroid dapat menjadi alur prosedur alternatif deteksi dini kelainan tiroid pada kehamilan dalam panduan praktek klinis di rumah sakit.

This thesis the first in Indonesia, discusses the utilization of thyroid ultrasound in early detection of thyroid disorders in pregnancy. Abnormalities of thyroid function in pregnancy can affect fetal development. Recommendations from the American Thyroid Association in 2017 recommend periodic thyroid screenings for pregnant woman whom at risk of thyroid disorders. The cost of thyroid examinations is relatively expensive. The purpose of this study was to analyze whether the utilization of ultrasound can be used as an alternative pathway in the design of early detection procedures for thyroid disorders in pregnancy. The method of this research is qualitative descriptive.The analysis is using validity tests with sensitivity and specificity analysis, conformity with expert opinion, and cost analysis. The results of this study were obtained by 20 respondents of pregnant women aged 30-39 years, 12 people in the 2nd trimester and 8 people in the 3rd trimester, with the most risk factors for a family history of thyroid disorders, with abnormal ultrasound results of 12 (60%) and abnormal thyroid markers 11 (55%). Validity analysis showed sensitivity and specificity 100% and 88.89% respectively, with 100% negative predictive value. There is a financing difference of Rp. 150,500.00 compared to the current pathway. The bias in this study could be because of the lack of the number of samples, there are 3 blood sampling (15%) taken at the different schedule time, there are 5 samples (25 %) sent to other laboratories, and intrinsic factors during capturing ultrasound figures. The good sensitivity and negative predictive value of the study concluded that the utilization of thyroid ultrasound may be an option for the design of alternative procedures for early detection of thyroid disorders in pregnancy. It is recommended in further researchers to conduct studies with a larger number of samples, to design the samples as homogeneous as possible, and conduct diversity testing of ultrasound interpretation by two experts before the study begin, to keep out the biases, and further be submitted to stakeholders so that the utilization of thyroid ultrasound could be a pathway of alternative procedures for clinical practice guidelines of early detection of thyroid disorders in pregnancy in hospitals."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas ndonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Haryanto
"Skripsi ini memaparkan pengaruh durasi ekstraksi dengan metode ultrasonikasi terhadap kadar Total Flavonoid Content (TFC) ekstrak kulit durian (Durio zibethinus). Penggunaan insektisida kimia dapat menimbulkan dampak buruk pada lingkungan karena meninggalkan residu dalam tanah serta dalam bagian tanaman. Penggunaan bioinsektisida dapat menjadi alternatif pengganti insektisida kimia karena bersifat biodegradable yang memiliki residu yang lebih aman bagi pertanian. Salah satu senyawa yang memiliki fungsi sebagai insektisida alami adalah flavonoid. Flavonoid adalah kelas metabolit sekunder dari polifenol yang memiliki berbagai efek bioaktif. Flavonoid ditemukan secara luas di bagian tanaman salah satu diantaranya terkandung dalam kulit buah durian (Durio zibethinus). Untuk memperoleh senyawa bioaktif dalam kulit durian maka perlu dilakukan ekstraksi. Studi terkini pada ekstraksi kulit buah durian dengan ultrasonikasi atau disebut juga Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) atau biasa disebut ultrasonikasi. Sayangnya, belum ada penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh durasi ekstraksi ultrasonikasi terhadap kadar flavonoid pada kulit durian. Berangkat dari kondisi tersebut maka penelitian ini dilakukan. Durasi ekstraksi yang digunakan sebagai variabel bebas pada penelitian ini adalah 20, 30, 45, 60, 75, dan 90 menit. Pemilihan waktu ultrasonikasi yang optimum didasari pada signifikansi nilai TFC. Durasi ekstraksi 60 menit merupakan hasil optimum pada penelitian ini dengan nilai TFC sebesar 0,365 0,0062 mgQE/g. walaupun terdapat peningkatan nilai TFC setelah 60 menit, namun secara statistik tidak signifikan. Selain itu, dilakukan uji kandungan ekstrak durian menggunakan LC-MS untuk mengetahui kandungan bioaktif yang memiliki potensi sebagai bioinsektisida. Hasil uji LCMS menunjukan beberapa senyawa seperti tannin, alkaloid, flavonoid, dan terpenoid yang terkandung dalam kulit buah durian yang memiliki peran sebagai bioinsektisida.

This undergraduate thesis reports the effect of the extraction duration using the ultrasonication method on the Total Flavonoid Content (TFC) of durian skin extract (Durio zibethinus). The use of chemical insecticides can have a negative impact on the environment because it leaves residues in the soil as well as in plant parts. The use of bioinsecticides can be an alternative to chemical insecticides because they are biodegradable and have residues that are safer for agriculture. One of the compounds that have a function as a natural insecticide is flavonoids. Flavonoids are a class of secondary metabolites of polyphenols that have various bioactive effects. Flavonoids are found widely in plant parts, one of which is contained in the skin of the durian fruit (Durio zibethinus). To obtain bioactive compounds in durian skin, extraction is necessary. Recent studies on the extraction of durian skin by ultrasonication or also called Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) or commonly called ultrasonication. Unfortunately, there has been no further research on the effect of the duration of ultrasonication extraction on flavonoid levels in durian skin. Based on these conditions, this research was carried out. The extraction duration used as the independent variable in this study was 20, 30, 45, 60, 75, and 90 minutes. The selection of the optimum ultrasonication time is based on the significance of the TFC value. The extraction duration of 60 minutes was the optimum result in this study with a TFC value of 0.365±0.0062 mgQE/g dry biomass. although there was an increase in the TFC value after 60 minutes, it was not statistically significant. In addition, the content of durian extract was tested using LC-MS to determine the bioactive content that has potential as a bioinsecticide. The results of the LCMS test show that several compounds such as tannins, alkaloids, flavonoids, and terpenoids contained in the durian fruit peel have a role as a bioinsecticide.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Resita Sehati
"Latar Belakang: Gangguan pernapasan memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada neonatus. Saat ini rontgen toraks merupakan modalitas yang dianggap sebagai standar emas untuk mendiagnosis penyakit paru pada gangguan pernapasan. Namun pemeriksaan ini mengandung radiasi yang dapat meningkatkan kejadian kanker pada neonatus di kemudian hari. Lung ultrasound (LUS) merupakan modalitas non-invasif yang terus berkembang dalam mengevaluasi kelainan paru, khusunya pada neonatus. Pemeriksaan ini tidak mengandung radiasi, mudah dioperasikan, dan hasil yang real-time. Meskipun LUS menunjukkan banyak manfaat, penggunaannya masih belum dikenal secara luas, terutama di Indonesia.
Tujuan: Mengetahui gambaran LUS pada neonatus dengan gangguan pernapasan berdasarkan hasil rontgen toraks.
Metode: Penelitian potong lintang deskriptif yang dilakukan di Unit Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sebanyak 69 neonatus dengan gangguan pernapasan yang didiagnosis berdasarkan klinis dan rontgen toraks dimasukkan dalam penelitian ini. Pemeriksaan LUS dilakukan secara bedside menggunakan transduser linear frekuensi tinggi (5-18 MHz). Toraks dibagi menjadi 6 regio yang terdiri dari anterior atas, anterior bawah, dan lateral kanan dan kiri.
Hasil: Terdapat 69 subjek yang ikut serta pada penelitian ini, terdiri dari 53 neonatus prematur dan 16 neonatus cukup bulan dengan rentang usia 2 jam hingga 38 hari. Hasil pemeriksaan rontgen toraks terdiri dari 26 subjek dengan respiratory distress syndrome (RDS), 20 subjek dengan infiltrat, 11 subjek dengan pneumonia, 6 subjek dengan transient tachypnea of the newborn (TTN), 3 subjek dengan efusi pleura, dan 2 subjek masing-masing dengan meconium aspiration syndrome (MAS), atelektasis, dan pneumotoraks. Terdapat 2 subjek dengan hasil rontgen toraks normal, namun pada LUS memperlihatkan gambaran abnormal yaitu ditemukan pleura abnormal, B-lines, double lung point, dan konsolidasi. Abnormalitas pleura dan konsolidasi ditemukan pada RDS, pneumonia, infiltrat, dan MAS. B-lines ditemukan pada RDS, TTN, pneumonia, infiltrat, dan MAS. Double lung point hanya ditemukan pada TTN. Quad sign sebagai penanda efusi pleura ditemukan pada TTN dan pneumonia. Konsolidasi yang berbatas jelas disertai air bronchogram statis dan lung pulse hanya ditemukan pada atelektasis. Absent lung sliding, lung point dan stratosphere sign hanya ditemukan pada pneumotoraks. Kesimpulan: LUS merupakan modalitas pencitraan non-invasif yang dapat digunakan dalam membantu menegakkan diagnosis gangguan pernapasan pada neonatus.
.....Background: Respiratory distress has high morbidity and mortality rates in neonates. Chest X-ray is a modality considered the gold standard for diagnosing lung diseases in respiratory distress. However, this examination uses ionizing radiation that can increase the incidence of cancer in the future. Lung ultrasound (LUS) is a non-invasive modality that has rapidly developed in recent years in evaluating lung abnormalities, especially in neonates. This examination contains no radiation, easy to operate, and results are real- time. Although LUS shows many benefits, its use is still not widely known, especially in Indonesia.
Objective: To determine the LUS sign in neonates with respiratory distress based on chest X-ray.
Method: Descriptive cross-sectional research conducted at the Perinatology Unit of the Department of Pediatrics, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. A total of 69 neonates with respiratory distress diagnosed on a clinical and chest X-ray were included in the study. LUS were performed at bedside using a high-frequency linear transducer (5-18 MHz). The thorax is divided into 6 regions consisting of the upper anterior, lower anterior, and right and left lateral. Results: There were 69 subjects who participated in this study, consisting of 53 premature neonates and 16 full-term neonates with an age range of 2 hours to 38 days. The results of the chest X-ray consisted of 26 subjects with respiratory distress syndrome (RDS), 20 subjects with infiltrates, 11 subjects with pneumonia, 6 subjects with transient tachypnea of the newborn (TTN), 3 subjects with pleural effusion, and 2 subjects with meconium aspiration syndrome (MAS), atelectasis, and pneumothorax. There were 2 subjects with normal chest X-ray, but showed abnormal LUS sign, consisting of abnormal pleura line, B-lines, double lung point, and consolidation. Abnormal pleura line and consolidation are found in RDS, pneumonia, infiltrates, and MAS. B-lines are found in RDS, TTN, pneumonia, infiltrates, and MAS. Double lung point is only found in TTN. Quad sign as a marker of pleural effusion is found in TTN and pneumonia. Clearly bounded consolidation accompanied by static air bronchogram and lung pulse is found only in atelectasis. Absent lung sliding, lung point and stratosphere sign are found only in pneumothorax.
Conclusion: LUS is a non-invasive imaging modality that can be used to help diagnose respiratory disorders in neonates."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Gede Manu Mahendra
"Latar belakang: Persalinan merupakan peristiwa penting dan unik dalam kehidupan wanita yang memiliki risiko negatif seperti trauma perineum selama persalinan pervaginam. Angka robekan perineum dilaporkan 35,1-78,3% pada primipara dan 34,8-39,6% pada multipara. Faktor risiko terjadinya ruptur perineum cukup beragam dimana masalah ruptur perineum belum dianalisis secara luas sehingga penelitian ini dilakukan untuk memprediksikan kejadian ruptur perineum selama anternatal pada wanita hamil cukup bulan pada persalinan pervaginam.
Metode penelitian: Tahap pertama menggunakan desain deskriptif, tahap kedua dilaksanakan dengan desain case cohort study. Penelitian dilakukan pada Penelitian Multisenter HUGI (Penelitian Multisenter HUGI (RSCM, RS YPK Mandiri), dan RSUD di DKI Jakarta pada bulan Agustus 2023-April 2024. Pengambilan sample menggunakan consecutive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistical Pogram for Social Science) dan akan dianalisis menggunakan Analisa regresi logistik dengan p value <0,25.
Hasil: Sebanyak 146 subjek direkrut dengan 118 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah robekan perineum mencapai 77 (65,3%) dan sebagian besar (80%) mengalani robekan derajat 2. Dari analisis diperoleh model prediksi yang terdiri dari paritas (OR=4,64 IK 95%: 1,74-12,33), indeks massa tubuh (OR=2,45 IK 95%: 1,04-5,73), dan AP hiatal (OR=2,26 IK 95%: 0,94-5,42).
Kesimpulan: Variabel yang dapat memprediksikan kejadian robekan perineum pada wanita hamil cukup bulan yang menjalani partus pervaginam adalah paritas, indeks massa tubuh, dan AP hiatal.

Background: Childbirth is an important and unique event in women’s life which have negative risk such as perineal trauma during vaginal birth. It’s said that perineal rupture happened 35,1-78,3% in primipara and 34,9-39,6% in multipara. The risk factors of perineal rupture haven’t widely analyzed. This research was done to analyze the factors of perineal rupture during antenatal care in term pregnancy that going to perform vaginal delivery.
Methods: This research was done in two steps. First step using descriptive design and second step using case cohort study. Research was done in Multicenter HUGI (Dr. Cipto Mangunkusuomo Hospital, YPK Mandiri Hospital) and General Publich Hospital in Jakarta during Agustus 2023-April 2024. Sample was collected using consecutive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data processing using SPSS (Statistical Pogram for Social Science) and analyzed by logistic regression with p value <0,25.
Results: There were 146 recruited subjects of which 118 subjects were met the criteria for inclusion and exclusion. Number of perineal laceration reached 77 (65,3%) mostly perineal rupture grade 2 (80%). Prediction models were obtained consist of parity OR=4,64 IK 95%: 1,74-12,33), body mass index (OR=2,45 IK 95%: 1,04-5,73), and APD (OR=2,26 IK 95%: 0,94-5,42).
Conclussion: Parity, body mass index, and APD were variables of prediction in full term pregnant women undergoing vaginal delivery.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Pongtuluran, Olivia Bunga
"Teknologi ekstraksi tanaman obat yang telah umum digunakan pada industri obat herbal memiliki kekurangan dari segi efisiensi waktu ekstraksi, beban pemeliharaan alat yang tinggi, konsumsi pelarut yang banyak dan tidak hemat energi. Metode ektraksi dengan ultrasonik menawarkan suatu proses yang berdasarkan hasil dari beberapa penelitian dianggap lebih sederhana dan efisien. Proses ultrasonik dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: suhu, power dan frekuensi, intensitas, waktu, preparasi, jenis pelarut, dan jumlah pelarut yang digunakan.
Pada penelitian ini digunakan frekuensi 20 kHZ, amplitudo 32% dan intensitas sebesar 0,5. Desain percobaan pada penelitian ini menggunakan metode Taguchi yang mengaplikasikan model Orthogonal Array dan RSM dengan model Central Composite Design(CCD). Ada tiga variable independen dalam penelitian ini yaitu waktu, rasio pelarut terhadap sampel dan kadar etanol, dimana masing- masing memiliki 3 level dan respon dari penelitian ini diukur dari persentase yield yang dihasilkan, banyaknya kandungan total fenol dan total flavonoid yang terdapat dalam ekstrak. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar etanol, semakin besar kadar total fenol dan flavonoid yang dihasilkan namun yield semakin rendah. Namun, rasio solvet yang semakin besar menghasilkan kadar yield yang tinggi, namun variabel ini tidak berpengaruh pada respon yang lain. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa faktor waktu tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap  ketiga respon. 

The conventional medicinal plant extraction technologies that have been applied widely in herbal medicine industries neglect some matters i.e the time efficiencies, low cost maintenance, less  solvent and low energy consumption. An ultrasound- assisted extraction process which offered the modest and more effective outcome based on  several research influenced by some variables  such as temperature, power and frequency, intensity, extraction time, preparation process, type and quantity of solvent.
This research used an ultrasound equipment which was set at frequency 20 kHz, amplitude 32% and the 0,5 of intensity. Moringa leaves have many chemical contents such as protein, vitamins A, B and C, beta carotene, phenolic acid, lignin, carbohydrates, fibre, and flavonoids whose pharmacological activities are as wound healing, anti-anemia, anti-inflammatory, antipyretic, analgesic, and antimicrobial. The experimental design of this research employed Taguchi method with 9 runs based on Orthogonal Array (OA) model and 40 runs of RSM experiments constructed by Central Composite Design (CCD) with 2 replications. There were 3 independent variables introduced namely extraction time, solvent-to-solid ratio, and ethanol concentration for each has 3 levels and the experiment responses are yield percentage, total phenolic content, and total flavonoid content of the extract. 
The output showed that the more ethanol concentration used the more phenolic and flavonoid content generated, however the yield production decreases. On the other hand the higher the ratio creates the high yield yet this variables showing no impact towards two other responses. The result of this study also revealed that extraction time has no effect on all the responses.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Angelina
"Proses ekstraksi hijau adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan berbagai ekstrak tumbuhan dengan dampak minimal terhadap lingkungan. Ekstraksi hijau akan mengurangi konsumsi energi, memungkinkan penggunaan pelarut alternatif dan produk alami yang dapat diperbaharui, serta memastikan bahwa ekstrak yang dihasilkan aman dan berkualitas. Ultrasound-assisted enzymatic extraction UAEE adalah salah satu metode ekstraksi hijau. UAEE adalah metode ekstraksi yang mudah, efisien dan ramah lingkungan dan telah banyak digunakan untuk mengekstraksi berbagai jenis senyawa. Penggunaan enzim dalam metode ekstraksi ini akan mengkatalisis hidrolisis sitoderm dan glikoprotein, sehingga meningkatkan pelepasan zat bioaktif dengan mengganggu sel-sel tumbuhan. Kondisi operasi optimum yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu konsentrasi enzim 70 mg/g, waktu hidrolisis enzimatik 2 jam dan konsentrasi etanol 50, akan menghasilkan yield ekstraksi maksimum sebesar 48,627. Crude extract daun keji beling diuji dengan menggunakan Gas Chromatography dan Mass Spectrometry GC-MS dan teridentifikasi senyawa yang memiliki aktivitas anti-hiperkolesterolemia, yaitu asam heksadekanoat, asam oktadekanoat dan skualen.

Green extraction process is a method which is used to obtain various plant extracts with minimum impact on the environment. Green extraction will reduce energy consumption, allow use of alternative solvents and renewable natural products, and ensure a safe and high quality extract. Ultrasound assisted enzymatic extraction UAEE is one of green extraction method. UAEE is a mild, efficient and environmental friendly extraction method and it has been adopted for extracting various kinds of compounds. The use of enzyme will catalyze hydrolysis of the cytoderm and glycoproteins, therefore enhancing the release of bioactive substances by disrupting plant cells. The optimum extraction conditions with a maximum yield extract of 48.627 are as follows the concentration of ethanol is 50 and the amount of added enzyme is 70 mg g. Crude extract from keji beling leaves is tested using Gas Chromatography and Mass Spectrometry GC MS to identify components that have anti hypercholesterolemic activity, which are hexadecanoic acid, octadecanoic acid and demethyl squalene.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Baginda Syauqy Putra Faoly
"Limbah magnet NdFeB merupakan salah satu sumber potensial untuk pemulihan logam tanah jarang, seperti neodymium, yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berbagai aplikasi industri. Proses leaching dengan bantuan ultrasound telah dikembangkan sebagai metode yang ramah lingkungan untuk meningkatkan efisiensi recovery neodymium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter optimal pada proses leaching, meliputi variasi waktu, konsterhadap efisiensi recovery. Metodologi penelitian mencakup penggunaan dua jenis larutan leaching, yaitu asam sitrat dan asam oksalat, dengan konsentrasi bervariasi (0,1–0,5 M). Proses leaching dilakukan menggunakan dua perlakuan, yaitu ultrasound dan stirrer, pada waktu leaching yang berbeda (30 menit dan 60 menit). Efisiensi recovery neodymium dianalisis berdasarkan persentase neodymium yang terlepas ke dalam larutan menggunakan metode analisis kimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ultrasound mempercepat laju reaksi melalui pembentukan gelembung kavitasi, meskipun efektivitasnya bergantung pada durasi leaching dan kekuatan ultrasound yang digunakan. Pada waktu leaching 30 menit, penggunaan stirrer menghasilkan %recovery yang lebih tinggi dibandingkan ultrasound, namun pada waktu 60 menit, ultrasound memberikan hasil yang lebih optimal. Konsentrasi larutan leaching yang paling efektif adalah 0,4 M, karena konsentrasi yang terlalu tinggi cenderung menurunkan efisiensi akibat pembentukan kompleks yang tidak larut. Asam sitrat terbukti lebih efektif dibandingkan asam oksalat, dengan nilai %recovery sebesar 13,09%, karena kemampuannya membentuk endapan dengan ion besi (Fe) secara lebih efisien. Kesimpulannya, waktu leaching, konsentrasi larutan, dan jenis solvent merupakan parameter penting dalam optimalisasi recovery neodymium dari limbah magnet NdFeB.

Waste NdFeB magnets are one of the potential sources for recovery of rare earth metals, such as neodymium, which has high economic value and various industrial applications. Ultrasound-assisted leaching process has been developed as an environmentally friendly method to improve neodymium recovery efficiency. This study aims to determine the optimal parameters of the leaching process, including time variation, solution concentration, solvent type, and the effect of ultrasound on recovery efficiency. The research methodology included the use of two types of leaching solutions, namely citric acid and oxalic acid, with varying concentrations (0.1-0.5 M). The leaching process was carried out using two treatments, namely ultrasound and stirrer, at different leaching times (30 min and 60 min). Neodymium recovery efficiency was analyzed based on the percentage of neodymium released into the solution using chemical analysis method. The results showed that the use of ultrasound accelerates the reaction rate through the formation of cavitation bubbles, although its effectiveness depends on the leaching duration and the power of ultrasound used. At a leaching time of 30 min, the use of a stirrer resulted in higher %recovery than ultrasound, but at 60 min, ultrasound gave more optimal results. The most effective leaching solution concentration was 0.4 M, as too high a concentration tends to decrease efficiency due to the formation of insoluble complexes. Citric acid proved to be more effective than oxalic acid, with a %recovery value of 13.09%, due to its ability to form precipitates with iron (Fe) ions more efficiently. In conclusion, leaching time, solution concentration, and solvent type are important parameters in optimizing neodymium recovery from NdFeB magnetic waste."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nainggolan, Leonard
"Background: plasma leakage is defined as ?20% elevation of hematocrit from baseline or decrease in convalescence or evidence of plasma leakage such as pleural effusion, ascites or hypoproteinaemia/hypoalbuminaemia. These signs of plasma leakage, in the early phase, are usually difficult to ascertain by physical examination and laboratory tests where the patient is only reflecting a mild degree of plasma leakage. This study aimed to investigate whether gallbladder wall thickening (GBWT) in the early phase of the disease can be used to detect the occurrence of plasma leakage in dengue patients. Methods: a diagnostic study was conducted among dengue patients. Patients with fever less than 3 days, positive results of non-structural protein 1 antigen dengue and RT-PCR examination were included consecutively. Laboratory tests and chest and abdominal ultrasonography examination were also performed daily from day-3 to day-7 of fever to confirm the occurrence of plasma leakage using WHO 1997 criteria during treatment. Results: there were 69 patients included in this study. Male patients were found more frequently (52.2%), average age was 24.2 years, and 46 patients (66.7%) presented with secondary dengue infection. On the third day of fever, 37 patients presented with GBWT, 30 of which showed plasma leakage during treatment. Out of 46 patients found to have plasma leakage during treatment, 12 patients had presented with plasma leakage on the third day of fever. Sensitivity and specificity of GBWT on the third day of fever were 65% (95% CI: 0,51-0,79) and 70% (95% CI: 0.51-0.88); PPV and NPV were 81% (95% CI: 0.68-0.94) and 50% (95% CI: 0.33-0.67); LR (+) and LR (-) were 2.14 (95% CI: 1.12-4.12) and 0.5 (95% CI: 0.31-0.81), respectively. Conclusion: gallbladder wall thickening in the early phase of the disease can be used to detect the occurrence of plasma leakage in adult dengue infected patients.

Latar belakang: kebocoran plasma didefinisikan sebagai peningkatan hematokrit ≥20% dari baseline atau penurunan pemulihan atau bukti kebocoran plasma seperti efusi pleura, asites atau hypoproteinaemia/hypoalbuminaemia. Tanda-tanda kebocoran plasma ini, pada fase awal, biasanya sulit untuk dipastikan dengan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium di mana pasien hanya mencerminkan tingkat ringan kebocoran plasma. Penelitian ini bertujuan menentukan peran penebalan dinding kandung empedu dalam mendeteksi kebocoran plasma pada fase awal infeksi dengue. Metode: penelitian ini adalah suatu studi diagnostik yang dilakukan pada pasien dengue yang mengalami demam kurang dari tiga hari dengan hasil uji non-structural protein 1 antigen dengue dan RT-PCR positif. Pemeriksaan laboratorium dan USG toraks dan abdomen dilakukan setiap hari mulai hari ke-3 hingga hari ke-7 demam untuk melihat adanya penebalan dinding kandung empedu dan kebocoran plasma berdasarkan kriteria WHO 1997 selama perawatan. Hasil: dari 69 subyek penelitian yang didapat, 52,2% adalah laki-laki, rerata usia 24,2 tahun, dan 46 pasien (66,7%) mengalami infeksi dengue sekunder. Pada hari ketiga demam, terdapat 37 pasien dengan penebalan dinding kandung empedu dan 30 di antaranya terbukti mengalami kebocoran plasma selama perawatan. Dari 46 pasien yang mengalami kebocoran plasma, 12 di antaranya sudah menunjukkan kebocoran plasma sejak hari ketiga demam. Penebalan dinding kandung empedu pada demam hari ketiga memiliki nilai sensitivitas dan spesifisitas sebesar 65% (IK 95%: 0,51-0,79) dan 70% (IK 95%: 0,51-0,88); nilai duga positif dan nilai duga negatif sebesar 81% (IK 95%: 0,68-0,94) dan 50% (IK 95%: 0,33-0,67); rasio kemungkinan positif dan negatif sebesar 2,14 (IK 95%: 1,12-4,12) dan 0,5 (IK 95%: 0,31-0,81). Kesimpulan: penebalan dinding kandung empedu dapat dipergunakan untuk mendeteksi adanya kebocoran plasma pada fase awal infeksi dengue."
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2018
610 UI-IJIM 50:3 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Imelda Maria Loho
"Hepatocellular carcinoma (HCC) is the second most common cause of cancer-related death worldwide. This is due to the heterogeneity of the tumor biology and lack of curative treatment options. The most significant prognostic factor is detection at early stage and thus, surveillance strategies are of high importance. High-risk patients should undergo ultrasound and tumor marker tests at six-month interval in order to detect HCC at the earlier stage. However, in real-life practice, ultrasound has several limitations and the adherence to HCC surveillance is suboptimal due to various provider, patient, and health-care system factors. In this paper, we will address current methods of HCC surveillance and obstacles found in real-life practice.

Karsinoma sel hati (KSH) adalah penyebab kematian akibat kanker yang kedua tertinggi di dunia. Hal ini disebabkan oleh heterogenitas biologis tumor dan terbatasnya pilihan pengobatan kuratif. Faktor prognostik yang paling signifikan adalah deteksi kanker pada stadium awal. Oleh karena itu, strategi surveilans sangat penting. Pasien yang berisiko tinggi terkena kanker hati harus menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan pemeriksaan penanda tumor setiap enam bulan sekali untuk mendeteksi KSH pada stadium awal. Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari, USG memiliki beberapa keterbatasan. Di samping itu, kepatuhan terhadap surveilans KSH juga tidak optimal karena berbagai alasan, baik dari sisi penyedia layanan kesehatan, pasien, maupun sistem pelayanan kesehatan. Pada artikel ini, kami akan membahas mengenai metode surveilans KSH terkini dan hambatan yang didapatkan dalam praktik sehari-hari"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2018
610 UI-IJIM 50:4 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Adnan Hasyim Malahela
"Backgrounds : Percutaneous nephrolithotomy (PCNL) is a standard procedure for treating renal stones. However, the optimal guidance method between ultrasound (US) and fluoroscopy remains debatable. The principle to reduce radiation exposure through ALARA principle is also heavily considered. This study aims to compare the efficacy and safety of US-guided versus fluoroscopy-guided PCNL in a single center over a 5-year period.
Methods: A retrospective cohort analysis of patients who underwent PCNL between 2018 and 2023 were conducted. Patients were categorized into two groups: US-guided and fluoroscopy-guided PCNL. Outcomes evaluated were stone-free rates (SFRs), fluoroscopy usage duration and intraoperative radiation.
Results: A total of 658 patients (US-guided, n=563; fluoroscopy-guided, n=95) were included. The SFRs were comparable between the two groups (p > 0.05). Meanwhile, significantly lower amounts of fluoroscopy usage duration, effective dose, and radiation exposure was found for the US-guided group (p < 0.05). Additionally, operative time was significantly faster in the US-guided procedure, despite requiring more punctures (p < 0.05). Complication rates were similar between both groups.
Conclusion: US-guided PCNL presents as an effective and safe alternative to fluoroscopy-guided PCNL with the added advantage of avoiding radiation exposure.

Latar Belakang: Nefrolitotomi perkutan (PCNL) adalah prosedur standar untuk tatalaksana batu ginjal. Namun, metode panduan yang optimal antara ultrasound (USG) dan fluoroskopi masih menjadi perdebatan. Prinsip untuk mengurangi paparan radiasi melalui prinsip ALARA juga sangat dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efikasi dan keamanan PCNL yang dipandu USG versus PCNL yang dipandu fluoroskopi dalam satu pusat selama periode 5 tahun.
Metode: Analisis kohort retrospektif terhadap pasien yang menjalani PCNL antara tahun 2018 dan 2023 dilakukan. Pasien dikategorikan ke dalam dua kelompok: PCNL dengan panduan USG dan PCNL yang dengan panduan fluoroskopi. Hasil yang dievaluasi adalah angka bebas batu/stone free rate (SFR), durasi penggunaan fluoroskopi dan radiasi intraoperatif.
Hasil: Sebanyak 658 pasien (dipandu oleh USG, n = 563; dipandu oleh fluoroskopi, n = 95) diikutsertakan. SFR sebanding antara kedua kelompok (p > 0,05). Sementara itu, jumlah durasi penggunaan fluoroskopi, dosis efektif, dan paparan radiasi yang jauh lebih rendah ditemukan pada kelompok yang dipandu oleh AS (p <0,05). Selain itu, waktu operasi secara signifikan lebih cepat pada prosedur yang dipandu oleh US, meskipun membutuhkan lebih banyak tusukan (p <0,05). Tingkat komplikasi serupa antara kedua kelompok.
Kesimpulan: PCNL dengan panduan USG hadir sebagai alternatif yang efektif dan aman untuk PCNL dengan panduan fluoroskopi dengan keuntungan tambahan untuk menghindari paparan radiasi.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>