Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 130 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Slamet Riyadi Ali
"Dari analisis sajak-sajak pamplet Rendra yang berhubungan dengan ketimpangan sosial, dapatlah kita catat bahwa Rendra melalui pampletnya selalu menuangkan gembaran berupa kesaksian terhadap alam den menusia. Manusia bagi Rendra merupakan titik tolak kelahiran karya-karyanya, karena dari tokoh-tokoh yang ditampilkan, Rendra menyodorken konflik manusia yang asing yang selalu bertanya kepada alam dan dirinya sendiri. Pemberontakan Rendra juga bukan saja pemberontakan anak manusia kepada keterasingan dirinya, melainkan juga pemberontakan terhadap karya yang dihasilkan oleh penyair salon. Tema dari sajak pamplet ini sebagian merupakan tema kesaksian yang berkaitan dengan alam dan kesaksian terhadap ketidakadilan manusia. Sebagian lain merupakan ..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1983
S11174
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zinat Hayati
"
ABSTRAK
Penelitian mengenai struktur semantis lirik lagu Kla Project ini dilakukan dengan tujuan mengetahui hubungan antarsatuan semantis dan kohesi yang terdapat di dalam lirik lagu-lagu tersebut, sehingga kemudian dapat dinyatakan bahwa link lagu KIa Project merupakan wacana.
Dengan menggunakan landasan teori Mildred Larson (1989) untuk analisis hubungan antarsatuan semantis dan teori M. A. K. Halliday dan Ruqaiya Hassan (1976) untuk analisis kohesi, serta penggunaan metode deskriptif, penelitian atas sumber data sepuluh ]arik lagu KIa Project menghasilkan beberapa kesimpulan yang pada pokoknya merupakan pembuktian atas tujuan penelitian."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1997
S11408
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Mardanus
"ABSTRAK
Skripsi ini bertujuan mengungkap unsur-unsur man_tra dalam kumpulan sajak 0 Sutardji Calzoum Bachri serta menunjukkan fungsi unsur tersebut di dalam sajak. Dengan menggunakan metode deskriptif dan analisis, pada tahap pertama puisi Sutardji dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, tahap berikut menemukan pertalian un_sur mantra yang terdapat di dalam teks mantra dan sajak, dan tahap terakhir membandingkan antara mantra dan puisi sebagai sesama bentuk kesenian dalam keseluruhan segi eks-presinya. Metode ini dilaksanakan dengan pendekatan in_trinsik untuk mendapatkan aksioma ciri pengenal mantra, dan pendekatan ekstrinsik untuk menjelaskan fungsi unsur mantra di dalam puisi Sutardji. Pelaksanaan bingkai kerja di atas mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa puisi Sutardji sangat intens meman_faatkan dan mencernakan secara impresif unsur-unsur man_tra, baik bagi kepentingan kualitas puitik maupun untuk kegunaan pembacaan puisi yang menandai tingkat keparipur_naan ekspresi sajak-sajaknya sebagai sarana komunikasi estetis antara sesama manusia.

"
1986
S11118
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Helena Rebecca W.T.
"Cerita dan ajaran Kristen sering menjadi inspirasi penulisan karya sastra, salah satunya sajak. Hal itu juga menjadi inspirasi Fridolin Ukur dalam setiap penulisan sajaknya. Itulah sebabnya karya-karya Fridolin Ukur kental dengan warna Kristen. Kedua unsur Kristen yang dapat terlihat dan dirasakan langsung adalah diksi dan rujukan Alkitab. Diksi yang digunakan Fridolin Ukur dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok, yaitu ketuhanan, Natal, Paskah, ajaran Kristen, diksi dari Alkitab, dan istilah gereja. Dari segi rujukan Alkitab, unsur Kristen dapat dilihat dari nama kitab dan ayatnya, kalimat Alkitab, dan peristiwa besar yang tertulis dalam Alkitab. Unsur-unsur tersebut merupakan warna khas agama Kristen dan memberikan warna bagi dunia kesusastraan. Dalam penggunaannya, Fridolin Ukur tidak menempatkan kedua unsur tersebut untuk mempersoalkan keyakinannya atas ajaran. Kristen. Melalui kedua unsur itu, ia hanya menyampaikan ajaran atau pesan moral agamanya."
2001
S10930
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asep S. Sambodja, 1967-
"Penelitian ini ditujukan untuk menginterpretasikan sajak-sajak Goenawan Mohamad. Para kritikus dan pengamat sastra yang telah menganalisis, menginterpretasi, yang berarti pula melakukan konkretisasi sajak-sajak Goenawan Mohamad, memperkaya penulis dalam melakukan penelitian Asumsi yang mendominasi wacana sajak-sajak Goenawan Mohamad adalah adanya keterpengaruhan warna budaya Jawa dan filsafat eksistensialisme dalam karya-karyanya. Untuk memfokuskan persoalan tersebut, penulis mengklasifikasikan kedua pengaruh tersebut ke dalam bab-bab tersendiri. Dengan demikian, niat penulis untuk membuktikan keterpengaruhan - sekaligus memperdalam pengkajian tersebut - dapat dideskripsikan dengan gamblang. Dalam sajak-sajak Goenawan Mohamad yang mengandung warna budaya Jawa, jelas terilhami oleh cerita-cerita dan mitologi Jawa Kuno.
Ada dua cara Goenawan Mohamad mengaktualisasikan unsur budaya Jawa itu. Pertama, cerita dan mitologi Jawa itu dijadikan pautan (cantelan) saja, sementara isi sajak sepenuhnya merupakan pikiran dan perasaan Goenawan Mohamad sendiri. Kedua, Goenawan Mohamad hanya mentransformasikan cerita dan mitologi Jawa yang berbentuk prosa (babad) dan tembang ke dalam bentuk sajak. Dalam sajak-sajak Goenawan Mohamad yang mengandung pemikiran atau filsafat eksistensialisme, terlihat bahwa sebagai penyair, Goenawan Mohamad pun berusaha menjawab permasalahan kehidupan, mulai soal hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, alam, hingga hubungannya dengan diri sendiri (mempersoalkan nasib). Dapat dikatakan, konsep sajak-sajak Goenawan Mohamad yang mengandung pemikiran eksistensialisme memiliki persamaan persepsi dengan konsep eksistensialisme yang diperkenalkan oleh sebagian eksistensialis, seperti Soren Kierkegaard, Martin Heidegger, dan A. Berdyaev."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1993
S10806
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Ekoningsih
"Citra adalah bayangan atau gambaran angan yang ada dalam pikiran dan mental pembaca, sedangkan citraan adalah sarana pembentuk citra itu sendiri yang diungkapkan melalui bahasa. Sarana pembentuk citra itu berawal dari sistem pengindraan, gerak, dan pikiran manusia. Dengan demikian citraan-citraan itu adalah citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, perabaan, gerak, dan pikiran. Citraan yang berfungsi untuk menimbulkan suasana khusus itu telah dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin oleh Abdul Hadi Widji Muthari. Penyair ini banyak menggunakan citraan-citraan itu untuk memberikan suasana dan efek khusus dalam setiap sajaknya. Ke-31 buah. sajaknya yang diambil dari kumpulan Anak Laut Anak Angin menjadi bahan analisis dalam skripsi ini. Dari hasil analisis itu telah didapat kesimpulan bahwa Abdul Hadi cenderung lebih banyak menggunakan citraan pikiran. Penggunaan citraan itu menimbulkan efek yang sangat berarti bagi pembaca. Efek penggunaan citraan pikiran membuat pembaca dituntut untuk memikirkan beberapa kali agar dapat rnenangkap apa yang ingin diungkapkan oleh penyair dengan sajak itu. Ke-31 sajak yang dijadikan media analisis ini, diharapkan telah dapat mewakili sajak-sajak Abdul Hadi yang telah terkumpul dalam sepuluh kumpulan. Kumpulan yang terpilih ini merupakan gabungan dari kumpulan-kumpulan terdahulu, seliingga pemilihan atas ke-31 sajak itu dianggap dapat mewakili sajak-sajak yang telah diciptakan oleh Abdul Hadi WM."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1994
S11210
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, J.U.
"Dalam menarik kesimpulan ini saja akan kembali mengulangi beberapa uraian saja dibelakang, djuga hal-hal jang belum saja simpulkan maka disini akan saja lakukan. Tentulah harus diperhatikan bahwa kesimpulan ini adalah pembahasan terhadap seorang pengarang jang belum selesai seperti saja sebut dalam kata pendahuluan. Sudah saja djelaskan bahwa penjair dalam tahun dua puluhan banjak memakai soneta, suatu bentuk jang berlainan dengan pantun. Tapi apabila dibatja sandjak-sandjak penjair tahun dua puluhan maka nafas pantun itu djelas benar. Dapatlah saja katakan bentuk soneta dengan djiwa pantun. Kalau kita teruskan kepada Pudjangga Baru dalam tahun tiga puluhan dimana penjair tahun-tahun dua puluhan tampil lagi seperti Sonoesi Pane bentuk soneta ini masih memperlihatkan dirinja walaupun nafas pantun itu sudah semakin menghilang. Didalam barisan Pudjangga Baru, penjair Amir Hamzah membawa tjorak jang tersendiri..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1961
S10882
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tino Jooshe
Yogyakarta: Indie Book Corner, 2012
899.221 3 TIN l
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Zeffry Alkatiri
"May day… May day….
Lantangkan lewat megafon. Atur dan rapatkan barisan. Kenakan seragam hitam-hitam Boikot dan mogok bukan hanya jalan Untuk beraksi, pikirkanlah lagi… Untuk memukul balik seperti Tsunami.
Hei, kaum pekerja, Sudah cukup lama beban yang kalian bawa Sudah saatnya tanggalkan segeral (Boys, you’re gonna carry that weight, Carry that weight a long time).
Buat apa sekolah
Kalau hanya untuk menjadi Sekrup kaum pengusaha. Putuskan rantai besi di leher kalian Agar dapat bernapas bebas Dari kooptasi, represi, dan eksploitasi. Berserikatlah seperti kaum pekerja Di Rojava, Chiapas, dan Cheran.
Suarakan:
Di sana bisa
Di sini juga bisa
Di mana-mana pasti bisa."
Yogyakarta: CV. Gorga Pituluik, 2020
899.221 ZEF a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Theresia Yuni K.
"Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur budaya Jawa yang terkandung dalam Pengakuan Pariyem -- melihat sosok wanita Jawa dari kalangan priyayi darn wong cilik -- serta memfokuskan pada keter_bukaan Pariyem terhadap seks. Dari sekian aspek budaya Jawa dalam buku Pengakuan Pariyem ini, penults melihat ada empat aspek budaya yang menonjol. Pertama, tradisi (kebiasaan hidup sehari-hari) manusia Jawa dalam Pengakuan Pariyem. Kedua, falsafah (sikap hidup) manusia Jawa dalam Pengakuan Pariyem. Ketiga, perilaku keagamaan manusia Jawa dalam Pengakuan Pariyem. Keempat, pola majikan-pembantu dalam Pengakuan Pariyem. Tradisi manusia Jawa digambarkan dengan jelas dalam Pengakuan Pariyem, di antaranya keakraban manusia Jawa dengan wayang. Sementara sikap hidup manusia Jawa yang ditonjolkan dalam Pengakuan Pariyem adalah nrimo ing pandum. Dan, sikap keagamaan yang dipeluk Pariyem, tokoh utama dalam prosa lirik ini, adalah sinkretis antara mistik Jawa dan agama katolik. Hubungan antara majikan dan pembantu dalam Pengakuan Pariyem memperlihatkan bahwa secara lahiriah, hubungan antara Pariyem (wong cilik) dengan majikannya (priyayi) sangatlah akrab. Akan tetapi, secara batiniah, hubungan antara wong. cilik dengan priyayi sangatlah jauh jaraknya. Hal ini terbukti dengan tetapnya Pariyem menjadi babu Raden Bagus Aria Atmojo, yang notabene adalah suaminya sendiri. Dengan kata lain, Pariyem hanya dijadikan selir. Pengakuan Pariyem memang penuh dengan adegan seks atau pembicaraan mengenai adegnn seks (ada 24 halaman). Meskipun demikian, penilaian bagus atau tidaknya sebuah karya sastra tidak hanya tergantung pada ada atau tidaknya seks dalam karya tersebut, melainkan wajar atau tidaknya pembicaraan seks dalam karya tersebut. menurut hemat penulis, penggambar_an seks dalam Pengakuan Pariyem sangat wajar dan tidak dipaksakan. Sikap Pariyem yang sangat terbuka dan pasrah dalam hidup merupakan salah satu ciri nanusia Jawa pada umumnya. Ini tidak berarti bahwa semua wanita Jawa bersikap seperti Pariyem, melainkan hanya beberapa saja yang ber_sikap demikian, atau bisa jadi hanya Pariyem (tokoh imajiner Suryadi) saja yang bersikap demikian."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1996
S11256
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library