Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 173 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982
915.981 PEN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Putera, Rufiansyah
"Untuk keperiuan perencanaan dan analisis yang berhubungan dengan kependudukan salah satunya dapat dipenuhi melalui proyeksi penduduk yang merupakan suatu perhitungan ilmiah dengan asumsi-asumsi tertentu mengenai kecenderungan dari tingkat kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk dimasa yang akan datang. Proyeksi penduduk yang dibuat saat ini adalah proyeksi dengan pendekatan demografi uniregional. Demografi uniregional adalah demografi yang membahas perubahan komposisi penduduk di suatu daerah tanpa mengkaitkan perubahan komposisi yang terjadi di daerah lain. Dengan pendekatan ini, maka proyeksi wilayah setingkat dibawah nasional dilakukan secara sendiri-sendiri. Akibatnya jika dilakukan perhitungan proyeksi penduduk pada tingkat nasional, maka jumlah penduduk yang dihasilkan tidak konsisten dengan jumlah penduduk dari proyeksi seluruh wilayah tersebut. Untuk menyajikan proyeksi penduduk nasional menurut wilayah setingkat di bawahnya, maka perlu dilakukan iterasi. Upaya seperti ini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Selain melalui iterasi, terdapat pendekatan lain dimana proyeksi penduduk nasional akan konsisten dengan jumlah proyeksi penduduk pada wilayah setingkat dibawahnya. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan demografi multiregional. Salah satu perbedaan yang mendasar antara demografi uniregional dan demografi multiregional adalah pada penduduk yang diamati serta definisi dari tingkat flow. Pada pendekatan uniregional, pengamatan setiap baglan penduduk regional dilakukan pada suatu waktu. Sedang melalui pendekatan multiregional, penduduk tingkat nasional dipandang sebagai suatu sistem yang merupakan interaksi pada tingkat regional.
Pendekatan ini sebenarnya telah lama berkembang di beberapa negara Eropa. Metode multiregional untuk proyeksi penduduk telah dikembangkan oleh Willekens dan Rogers (1978) dan oleh Rogers (1985). Dl negara-negara berkembang metode ini belum digunakan mengingat tidak tersedianya data migrasi yang memadai serta rumitnya perhitungan. Metode ini memerlukan estimasi angka migrasi khusus menurut umur di setiap wilayah dengan wilayah lainnya.
Prinsip proyeksi penduduk dengan pendekatan multiregional adalah penduduk pada periode berikutnya adalah jumlah penduduk pada periode sebelumnya yang mampu bertahan hidup sampai mencapai awal dari periode tersebut ditambah dengan penduduk yang masuk ke wilayah tersebut pada periode sebelumnya yang bertahan hidup pada periode tersebut serta ditambah dengan jumlah bayi yang lahir dan bertahan hidup yang dilahirkan oleh perempuan dari wilayah tersebut atau oleh perempuan dari wilayah lain yang masuk ke wilayah tersebut dan mampu bertahan hidup sampai periode tersebut.
Sedang proyeksi penduduk dengan pendekatan uniregional pada prinsipnya adalah jumlah penduduk pada periode berikutnya berasal dari penduduk pada periode sebelumnya yang mampu bertahan hidup dan mencapai periode berikutnya ditambah dengan jumlah bayi yang lahir dan bertahan hidup pada periode tersebut sampal mencapai akhir periode itu.
Dalam peneiitian ini, penduduk nasional diasumsikan hanya terbagi dalam dua wilayah saja, yaitu Sumatera Utara dan Luar Sumatera Utara. Hal Ini dilakukan karena data migrasi yang tersedia merupakan data sampel sehingga Jika dilakukan estimasi angka migrasi khusus menurut umur di setiap wilayah dengan wilayah lain maka banyak ditemukan sel kosong yang menunjukkan tidak adanya migran yang keluar pada kelompok umur yang diamati dari wilayah satu ke wilayah lain.
Dari hasil yang diperoleh, proyeksi penduduk dengan pendekatan uniregional dibandingkan dengan proyeksi penduduk pendekatan multiregional, maka jumlah penduduk hasil proyeksi dengan pendekatan multiregional relatif lebih rendah Jika dibandingkan dengan Jumlah penduduk hasil proyeksi dengan pendekatan uniregional. Tetapi selisih jumlah penduduk antara hasil proyeksi dengan pendekatan uniregional dengan pendekatan multiregional semakin kecil dengan semakin tinggi periode proyeksi. Dari sisi hasil, selisih yang relatif kecil ini tentu tidak terlalu banyak pengaruhnya dalam perencanaan. Namun pada sisi lain yang merupakan kelebihan dan pendekatan multi regional adalah dihasilkannya terlebih dahulu proyeksi penduduk untuk tingkat wilayah di bawah nasional (propinsi). Sedang proyeksi penduduk nasional merupakan rekapitulasi dari proyeksi penduduk propinsi. Kelebihan ini memberikan dampak positif bagi pengembangan sumber daya manusia dibidang kependudukan di daerah. Untuk mendapatkan proyeksi nasional, maka pembahasan mengenai skenario proyeksi harus dimulai dari bawah (propinsi). Untuk ini dituntut sumber daya manusia dibidang kependudukan yang ahli mengenai wilayahnya.
Disamping itu melalui pendekatan demografi multiregional dimungkinkan untuk melakukan dekomposisi tiga indikator sintetis, yaitu angka harapan hidup sejak lahir (eo), angka reproduksi neto (Net Reproduction Rate/NRR) dan angka migra-produksi neto (Net Migra-production Rate/NMR). Hal ini didapat dilakukan karena penduduk stasioner pada tabel kehidupan multiregional dapat didekomposisi menurut ternpat tinggal sekarang. Ketiga indikator ini dapat memberikan gambaran mengenai kontribusi penduduk dari satu wilayah pada wilayah dimana penduduk tersebut bertempat tinggal. Gambaran ini akan sangat membantu para pembuat kebijakan di daerah (pembangunan regional).
Mengingat sangat pentingnya peran data migrasi dalam pendekatan demografi multiregional, maka disarankan agar data tersebut dikumpulkan didalam sensus penduduk pada pertanyaan kor (inti), sehingga kesalahan sampling dapat diatasi dan proyeksi penduduk dapat dilakukan secara utuh sesuai dengan banyaknya wilayah."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Faktor kesulitan ekonomi, kemisskinan dan kondisi geografis yang relatif terpencil dari sentral -sentral ekonomi di propinsi Jawa Timur, merupakan salah satu faktor determinan migrasi kerja yang dilakukan oleh sebagian penduduk Pulau Kangean ke Negara Malaysia...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Moh. Najmuddin
"ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji tentang proses migrasi Yahudi Ethiopia ke Israel yang dilakukan melalui tiga operasi inteljen Israel berupa Operation Moses (1984), Operation Joshua (1985), dan Operation Solomon (1991). Komunitas Yahudi Ethiopia adalah kelompok Yahudi kuno yang telah mendiami Ethiopia selama ribuan tahun. Mereka disebut juga dengan kelompok Beita Israel (Rumah Israel) atau Falasha (orang asing). Perang sipil, kekeringan dan diskriminasi yang dialami oleh kaum Yahudi Ethiopia pada tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an telah memaksa sebagian dari mereka untuk mengungsi dan mencari cara agar sampai ke Israel. Penelitian ini berfokus untuk menjawab pertanyaan tentang Mengapa pemerintah  Israel mau menerima keberadaan kaum Yahudi Ethiopia dan bagaimana cara Israel melakukan operasi inteljennya di tengah lingkungan yang tidak bersahabat dari negara-negara Afrika Timur. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang berfokus pada analisa sumber primer dan sumber sekunder melalui empat tahapan yaitu Heuristik, Verifikasi, Interpretasi dan Historiografi. Israel bersedia menerima para imigran Yahudi dari Ethiopia karena memiliki kesamaan identitas sebagai orang Yahudi. Israel melakukan operasi intelejennya dengan bantuan Amerika Serikat melalui negosiasi rahasia dengan pemerintah Ethiopia dan Sudan sebagai negara penampung pengungsi Yahudi Ethiopia. Bantuan ekonomi dan militer diberikan Israel kepada negara-negara tersebut agar bersedia untuk mengizinkan Israel membawa Yahudi Ethiopia dari negara mereka. Proses evakuasi dijalankan secara rahasia melalui jalur udara.


ABSTRACT

 

 


This study examines the migration process of Ethiopian Jews to Israel which was carried out by three Israeli intelligence operations in the form of Operation Moses (1984), Operation Joshua (1985), and Operation Solomon (1991). The Ethiopian Jewish community is an ancient Jewish group that had inhabited Ethiopia for thousands of years. They are also called Beita Israel (House of Israel) or Falasha (foreigners). The civil war, drought and discrimination experienced by Ethiopian Jews in 1980s and early 1990s forced some of them to flee and find ways to get to Israel. This research focuses on answering questions about why Israeli government was willing to save the Ethiopian Jews and how Israel carried out its intelligence operations in a hostile environment of East African countries. This research also uses a historical method that focuses on the analysis of both primary and secondary sources through four stages, namely Heuristics, Verification, Interpretation and Historiography. Israel was willing to accept Jewish immigrants from Ethiopia because of the identity they have in common. Israel carried out its intelligence operations with the help of the United States through secret negotiations with the government of Ethiopia and Sudan which acted as the host countries for Ethiopian Jewish refugees. Israel's economic and military assistance was given to these countries so they would be willing to allow the Israeli government to bring Ethiopian Jews from their country. The evacuation process was carried out in secret airlifts.

 

 

"
2019
T55047
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syamsu Rijal
"Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantar manusia masuk ke dalam suatu era yang global dan dikenal sebagai era globalisasi atau dalam istilah yang kurang populernya ""era kesejagatan"". Dalam era ini, dunia tempat kita berpi ak yang dulunya scrasa sangat luas dan sulit dijangkau dari suatu belahan ke belahan lain nampak telah berubah. Kejadian di suatu tempat yang jauh dari jangkauan fisik manusia dapat segera diketahui mclalui hcrbagai media telekomunikasi. Perjalanan manusia pun dari suatu kota ke kota lain atau bahkan dari suatu negara ke negara lain sudah dapat ditempuh dengan relatif cepat dan mudah. Kemudahan bergerak ini menychabkan manusia untuk bebas melangkah dan ""terbang"" ke mana pun mereka kehendaki. Manusia tidak lagi hanya bertemu dan terkonsentrasi pada lingkungan pergaulan yang homogen, melainkan sudah sampai pada taraf pergaulan multikultural."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2002
T37436
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marliah Santi HR
"Beberapa tahun terakhir malaria merupakan salah satu penyakit yang muncul kembali yang menunjukkan kecenderungan meningkatnya jumlah kasus di beberapa daerah. Beberapa kejadian luar biasa (KLB) malaria diakibatkan karena perubahan lingkungan dimana tempat perindukan potensial semakin luas atau semakin bertambah.
Kasus malaria di Kecamatan Lengkong selama tiga tahun terakhir terjadi penurunan, tetapi perlu tetap diwaspadai kenaikan kasus malaria kembali, karena terdapatnya vektor malaria, lingkungan yang mendukung untuk tempat perkembangbiakan nyamuk, kebiasaan masyarakat yang suka keluar malam, serta penduduk dengan mobilitas yaitu penduduk banyak yang mencari pekerjaan ke luar daerah (luar jawa) sebagai pekerja musiman penambang emas, dimana daerah yang dikunjunginya itu adalah daerah endemis malaria. Data kejadian malaria di Puskesmas Lengkong, adanya peningkatan kasus malaria import dari 7% pada tahun 2010 menjadi 37% sampai pada Bulan Oktober pada tahun 2011. Keadaan ini akan semakin berpotensi meningkatkan penularan kesakitan malaria.
Penelitian dilakukan pada Bulan Desember 2011, di Desa Langkapjaya dan Desa Cilangkap Kecamatan Lengkong. Tujuan dari penetian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada penduduk Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi yang pernah bermigrasi. Menggunakan desain cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah total populasi (seluruh penduduk Kec.Lengkong yang bermigrasi). Data dianalisis univariat dan bivariat.
Dari 100 responden diketahui ada 97 % penduduk bermigrasi ke daerah endemis, 96% tinggal didaerah migrasi lebih dari 1 bulan, sebanyak 55% tidak menggunakan kemoprofilaksis, 57% dari responden pernah punya riwayat sakit malaria, 31% pencarian pengobatan bukan pada tenaga kesehatan, semua responden tidak menggunakan kelambu dan kawat kasa. Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit malaria sebelumnya, penggunaan kemoprofilaksis selama di tempat migrasi dengan kejadian malaria.

For the recent years, Malaria has been a re-emerging disease breeding showing the trend of increasing cases in some areas. Several malaria outbreaks is caused changes in the environment in which the potential breeding places of vectors mereases.
In Lengkong subdistric, the number of malaria cases decreased for the last three years but still need to remain continous number of malaria cases because of the existence of malaria area, the sustable environment for breeding place, the habit of people to go out in the night, and the mobility of the people who works as seasonal, gold miners in an endemic area malaria. Data in Lengkong's health center (mentioned as Puskesmas Lengkong) shows the increasing number of imported malaria case from 7% in 2010 to 37% until October 2011. This condition is very potential to increase the number of malaria's transmission.
The study was conducted in December 2011 in Langkapjaya village and Cilangkap village, Lengkong subdistric. The purpose of this study is to determine factors associated with malaria in the population of Lengkong subdistric, Sukabumi regency, who are seasional migrant. The study used cross sectional design and the study population is all individual of Lengkong subdistric who migrated seasonally. Data were analyzed by univariate and bivariate.
From 100 respondents, 97% migrated to endemic area, 96% lived in migration area for more than a months, 55% didn't use chemopropylaxis, 57% ever had malaria, 31% seek treatment to the health services, all respondent also didn't use mosquito nets and their quarters were not mosquito protek. There is a significant relationship between malaria history, the use of chemopropylaxis, and the search mode for treatment with the incidence of malaria.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Siahaan, Junicke
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1985
S6580
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moechtar Naim
Jakarta: Rajawali, 2013
304.8 MOC m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Novis Zeni Putri
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kejadian dan waktu migrasi dengan perkawinan pada perempuan umur 15 tahun keatas di Indonesia. Studi ini menganalisis data Sakerti 2007 dan 2014 menggunakan Model Hazard Waktu Diskrit. Hasil penelitian menunjukkan kejadian perkawinan berhubungan signifikan dengan migrasi. Perempuan yang mengalami kejadian perkawinan cenderung lebih cepat bermigrasi (hazard migrasi lebih tinggi) dibandingkan perempuan yang melajang sepanjang periode pengamatan. Perbedaan hazard migrasi antara perempuan kawin dan melajang mengecil seiring dengan meningkatnya otonomi perempuan, sehingga perempuan bisa memutuskan untuk pindah jika hal itu dapat meningkatkan kesejahteraannya. Hubungan antara migrasi dan perkawinan tetap signifikan setelah dikontrol dengan dengan karakteristik individu, rumah tangga dan wilayah.

This study aimed to examine the relationship between the timing of marriage and event of migration among females aged 15 year and over in Indonesia. This study analyzed IFLS 2007 and 2014 using Discrete Time Hazard Model. The result shows that marriage timing is a significant predictor of migration among female in Indonesia. Married women are more likely to migrate (hazard migration is higher) than single women during the observation period. The difference of migration hazard decreases between married and unmarried women in line with the increasing of women autonomy. Women can decide to move if it can improve their welfare. The relationship between migration and marriage remained significant after controlling for the characteristics of individuals, households as well as regions."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Insania Khoiriah
"ABSTRAK
Disaat sebagian besar negara di dunia telah memulai proses migrasi penyiaran televisi analog ke digital, langkah migrasi menuju penyiaran digital di Indonesia harus tertunda karena adanya resistensi dari industri penyiaran terkait regulasi yang mendasari implementasi tersebut. Revisi Undang-undang Penyiaran yang saat ini masih menjadi pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat DPR menjadikan pemerintah belum merumuskan kembali regulasi untuk menggantikan regulasi sebelumnya.Migrasi dari penyiaran televisi analog ke digital memberikan benefit berupa efisiensi penggunaan spektrum, kualitas penerimaan siaran yang lebih baik, serta memberikan peluang bagi industri penyiaran baru. Hal ini juga erat kaitannya dengan rencana strategis pemerintah terkait pembangunan mobile broadband. Pemanfaatan frekuensi digital dividend untuk mobile broadband baru dapat terwujud setelah proses migrasi televisi analog ke digital selesai dilakukan. Saat ini digitalisasi penyiaran televisi menjadi salah satu rencana strategis pemerintah dalam kurun waktu 2015-2019. Sisa waktu yang semakin singkat untuk bermigrasi ke digital sesuai target yang ditetapkan pemerintah membutuhkan strategi tersendiri agar tidak menimbulkan resistansi dari industri televisi eksisting. Oleh karenanya, dibutuhkan suatu skema penyelenggaraan yang tepat agar resistansi industri tersebut tidak terjadi.Melalui indepth interview dan gap analysis diketahui bahwa peraturan yang mendasari penyelenggaraan televisi digital di Indonesia pada implementasinya masih memiliki beberapa kelemahan antara lain terkait alokasi frekuensi, mekanisme dan persyaratan seleksi penyelenggara infrastruktur, perubahan model bisnis, target analog switch off serta unsur-unsur penyiaran digital yang belum dimasukkan dalam Undang-undang Penyiaran.Tesis ini telah merumuskan skema baru penyelenggaraan televisi digital sebagai langkah perbaikan, meliputi perencanaan spektrum dengan kombinasi konsep Single Frequency Network SFN dan Multi Frekuensi Network MFN , penentuan parameter seleksi, roadmap penyiaran digital dengan target analog switch off baru, perhitungan tarif sewa infrastruktur, skema insentif, service level agreement serta unsur-unsur penyiaran digital yang harus dimasukkan dalam revisi Undang-undang Penyiaran.

ABSTRACT
While most countries in the world have started the migration process from analog to digital television, the migration process in Indonesia unfortunately on hold due to resistance of the broadcasting industry related to the regulation underlying its implementation. Revision of the Broadcasting Act, which is currently still under discussion in the Parliament, has caused the government unable to define new regulation to replace the previous one.Migration of analog television to digital television provides benefits such as efficient use of spectrum, better quality of broadcast reception, and gives opportunities for new broadcasting industry. It is also closely related to the government 39 s strategic plan for development of mobile broadband. The utilization of digital dividend spectrum for mobile broadband can be realized after the migration process of analog television to digital television is complete. Nowadays digitization of television broadcasting becomes one of the government 39 s strategic plan in the period 2015 2019. The short remaining time of migration process according to the targets set by the government requires good strategy to avoid resistance from the existing broadcasting industry. Therefore, a proper implementation scheme is needed so that the resistance from industry can be avoided.Through indepth interview and gap analysis, it is known that the regulation underlying the implementation of digital television in Indonesia on its implementation still has some weaknesses related to the frequency allocation, mechanism and requirement for infrastructure operator selection, the shift of business model, analog switch off target and elements of digital broadcasting that have not been included in the Broadcasting Act.This thesis has proposed new implementation scheme as corrective action, including spectrum planning with combinations of Single Frequency Network SFN and Multi Frequency Network MFN concept, selection parameters for infrastructure operator, digital television roadmap with new target of analog switch off, tariff calculation, incentive schemes, service level agreement and elements of digital broadcasting that should be included in the revision of the Broadcasting Act. "
2016
T46834
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>