Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11597 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hoffman, Matthew
"From America's most renowned experts, here is invaluable advice on preventing and treating heart disease, sinus problems, stress, high blood pressure, and more than 100 other conditions. Includes hundreds of prevention strategies, healing with foods, easing aches and pains, and more."
New York: Berkley Books, 1996
613.2 HOF d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Hoffman, Matthew
"From America's most renowned experts, here is invaluable advice on preventing and treating heart disease, sinus problems, stress, high blood pressure, and more than 100 other conditions. Includes hundreds of prevention strategies, healing with foods, easing aches and pains, and more."
New York: Berkley Books, 1996
613.2 HOF d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Holford, Patrick
"This is a survival guide for the 21st century. It presents a radical rethink on the cause of ill-health and the source of good health, explaining in practical ways how simple changes in diet and lifestyle can lead you to a new level of health."
London: Platkus, 1999
613 HOL o
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Silitonga, Permata Imani Ima
"Berdasarkan WHO, pada tahun 2017 TB merupakah salah satu penyebab kematian di dunia dan Indonesia menjadi negara ketiga dengan kasus TB terbesar setelah India dan China. Sebanyak 2 dari 3 penderita TB yang meninggal berdasarkan WHO diakibatkan karena tidak mendapat pengobatan, hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang rendah, sistem kesehatan, pendidikan, dan stigma yang ada di masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku pencarian pengobatan pada orang dengan gejala tuberkulosis 14 hari atau lebih batu atau batuk berdarah di Indonesia berdasarkan faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor kebutuhan. Pada penelitian ini, desain studi yang digunakan adalah studi cross sectional menggunakan data sekunder dari survei prevalensi tuberculosis 2013-2014 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi dengan analisis univariat dan bivariat. Berdasarkan penelitian ini, hasil yang ditemukan bahwa perilaku pencarian pengobatan pada orang dengan gejala TB lebih besar di non fasyankes ( 75,4%) dibandingkan dengan perilaku pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan ( 24,6%). Gambaran perilaku pencarian pengobatan ke non fasyankes pada orang dengan gejala TB lebih banyak pada usia <46 tahun ( 77,2%), jenis kelamin laki-laki (80,1%), memiliki tingkat pendidikan rendah ( 75,7%), memiliki pengetahuan rendah (76,1%), memiliki perilaku merokok ( 82,9%), tidak memiliki stigma ( 76,2%), berada di perkotaan ( 75,6%),tidak mengetahui bahwa OAT gratis ( 76,5%), tidak memiliki faktor risiko DM ( 75,6%), tidak tinggal dengan penderita TB ( 75,7%) dan tidak memiliki pengetahuan TB bisa disembuhkan ( 76,4%). Selain itu, perilaku pencarian pengobatan pada orang dengan gejala tuberkulosis memiliki hubungan yang signifikan pada faktor predisposisi yaitu umur, jenis kelamin dan perilaku merokok; pada faktor pendukung yaitu pengetahuan bahwa OAT gratis; dan pada faktor kebutuhan yaitu faktor risiko DM dan risiko tinggal dengan penderita TB. Oleh karena itu, terkait rendahnya perilaku pencarian pengobatan yang tepat pada orang dengan gejala TB, maka perlunya ditingkatkan sosialisasi, serta skrining pada masyarakat khususnya pada populasi berisiko serta penelitian lebih lanjut terkait multifaktor yang mempengaruhi dan alasan terhadap perilaku pencarian pengobatan tuberkulosis.

According to WHO, in 2017 TB was one of the causes of death in the world and Indonesia was the third country with the largest TB cases after India and China. Moreover, based on WHO, 2 out of 3 people with TB will die if they do not receive the treatment, this condition is influenced by low knowledge and awareness, poor health systems, inadequate education, and stigma that exists in society.The study aims to find out a description of health seeking behavior for tuberculosis symptoms in Indonesia based on predisposing characteristics, enabling resources and need of the respondent. Furthermore, this study used cross sectional study design with secondary data from the 2013-2014 tuberculosis prevalence survey that met the inclusion and exclusion criteria and analyzed by univariate and bivariate.This study found that Health seeking behavior in people with TB symptoms was greater in non-health facilities (75.4%) compared to in health care facilities (24.6%). The description of the health seeking behavior for treatment of non-health care in TB symptoms was most of the respondents were at age <46 years (77.2%), male (80.1%), having a low education level (75.7%), having low knowledge (76.1%), have smoking behavior (82.9%), do not have stigma (76.2%), were in urban areas (75.6%), do not know that anti-tuberculosis drug (OAT) is free (76.5%), no have DM risk factors (75.6%), do not live with TB patients (75.7%) and do not have knowledge of TB can be cured (76.4%).In addition, health seeking behavior for TB symptoms has a significant relationship to predisposing factors for age, gender and smoking behavior; on enabling resources for the knowledge that OAT is free; and on the need factors for risk factors for DM and the risk of staying with TB patients.In conclusion, we found that in Indonesia, most of the TB symptoms did not have appropriate health seeking behavior and how stigma were not significant related to appropriate health seeking behavior but the knowledge of free OAT and risk of TB. Therefore, the need to raise the awareness of free anti-tuberculosis drugs and screening in the society especially in at-risk population with the further qualitative and multifactor research is important to elevate the appropriate health seeking behavior for TB symptom in Indonesia."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ariani Fatmawati
"Perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan memiliki peran untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk memantau dan memonitor kondisi ibu. Salah satu peran perawat maternitas adalah memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit trofoblas dengan menerapkan teori keperawatan. Dari lima kasus kelolaan, dua kasus berumur 40 tahun. Semua kasus mengalami peradarahan. Dua kasus mengalami penyakit trofoblas ganas low risk. Dua kasus dikuretase, satu kasus histerektomi dan dua kasus kemoterapi. Semua kasus mengalami anemia baik anemia ringan sampai berat. Pasien mengalami masalah kekurangan volume cairan, kecemasan, defisit perawatan diri dan kesiapan peningkatan pengetahuan. Teori ini sesuai diterapkan pada pasien dengan penyakit trofoblas untuk memperoleh rasa nyaman selama proses tindakan dan dapat melewati proses kuretase dan kemoterapi dengan risiko minimal. Penanganan sedini mungkin akan meningkatkan peluang hidup ibu cukup besar dan peluang memiliki anak kembali cukup besar.
Nurse as a part from health worker has role for giving comprhensive nursing care to see and observe the mother condition. One of the maternity nurse role is to give a nursing care to the patient with mola hidatidosa and applied the nursing concept. Five case management, the age of two cases are under 20 years old, one case is 27 years old, and two cases over the 40 years old. All of the cases have the bleeding. Two cases is low risk trofoblast gestational disease. Curettage is done for the two cases, hysterectomy is done for one case, and chemotherapy is done for the two cases. All of the cases get anemia, start from high until low anemia. Patients experience problems of fluid volume deficit, anxiety, self care deficit, and readness to increase knowledge. Both theory are able to be applied for the patient with Mola Hidatidosa to get the comfort feeling along the surgical prosess and can pass the curettage and chemotherapy process with the minimal risk. By early managing will increase the probability of the life and have the next child again."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fadliyana Ekawaty
"ABSTRAK
Penyakit non infeksi merupakan penyakit yang tidak bisa ditularkan dari satu orang ke orang yang lain.. Penyakit ini membutuhkan perawatan lama yang berdampak pada keterbatasan aktivitas anak. Aktivitas dan istirahat adalah suatu kebutuhan yang terintegrasi, keduanya mempunyai pengaruh satu sama lain. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memberikan gambaran penerapan model self-care Orem dalam asuhan keperawatan pada anak dengan masalah aktivitas dan istirahat serta pencapaian kompetensi selama praktik residensi. Intervensi keperawatan didasarkan pada tujuan untuk meningkatkan kemandirian perawatan diri pasien. Intervensi dilakukan dengan penerapan sleep hygiene. Hasil dari penerapan teori self-care Orem menunjukkan bahwa teori self-care Orem dapat dijadikan sebagai acuan dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit kronis.

ABSTRACT
Non Communicable disease is defined as a type of disease which is not transmitted by a person to another individual. These require long term nursing treatments which potentially affect to limitation of children?s activities. Both activity and rest are highly integrated, and these have mutual influences. In a case of the children?s activity is predisposed, the rest requirement will be also affected. This scientific writing aims to describe the implementation of Dorothea Orem?s Self-Care Theory in nursing care plan, particularly amongst children with problems of activity and sleep deprivation. This paper is also required to obtain competencies of paediatric nursing. The nursing intervention is referred to the main objective in order to develop the independence of self-care patient. The intervention is also implemented by using sleep hygiene theory. Results could be a reference to provide nursing care for children with chronic diseases.;"
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aris Purnomo
"ABSTRAK
Penyakit jantung koroner(PJK) merupakan penyumbatan aliran darah yang terjadi pada arteri koroner yang berakibat munculnya gejala seperti nyeri dada dan sesak napas. Dampak yang akibatkan oleh penyakit ini yaitu gangguan psikologis dan aktivitas fisik. Untuk mencegah dan mengontrol gejala PJK diperlukan perilaku kesehatan seperti perawatan diri yang bertujuan untuk menjaga kesehatan, meningkatkan kualitas hidup dan menekan angka hospital readmission. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh program pengembangan self care agency terhadap kemampuan perawatan diri pada klien dengan PJK. Desain penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan kuasi ekperimen pretest-postest tanpa kelompok kontrol dengan jumlah sampel 27 pasien PJK. Analisis data menggunakan uji Paired t Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada rerata nilai self care sebelum dan sesudah intervensi (p<0,0001; α<0,05)), Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan (p=0,001), penghasilan (p=0,002), pengetahuan(p=0,029) dan dukungan sosial (p=0,006) terhadap self care. Berdasarkan penelitian ini, program pengembangan self care agency terbukti dapat meningkatkan kemampuan perawatan diri pada klien dengan PJK.

ABSTRACT
Coronary heart disease (CHD) is a blockage of the blood flow that occurs in the coronary arteries, resulting in chest pain and short of breathness, as well as causing psychological and physical activity disturbances. It is necessary to improve health behavior in preventing and controlling CHD symptoms such as self-care, to maintain health, improve the quality of life and reduce hospital readmission rates. This study aimed to determine the effect of the self-care agency development program on the ability of self-care for clients with CHD. The research design was a quantitative study using a quasi-pretest-posttest experiment without a control group with a sample of 27 CHD patients. Data analysis using paired t-test. The results showed a significant difference in the average self-care value, before and after the intervention (p <0.0001; α <0.05)). The bivariate analysis showed a significant relationship between education (p = 0.001), income (p = 0.002), knowledge (p = 0.029) and social support (p = 0.006) on self care. Based on this research, The self-care agency development program is effective in improving self-care abilities in CHD patients."
2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Nengah Adiana
"ABSTRAK
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan penyakit kronis yang progresif yang membutuhkan kemampuan pasien melakukan perawatan diri serta dukungan keluarga dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis dukungan keluarga yang berhubungan dengan perilaku perawatan diri pasien PPOK. Desain penelitian adalah analitik cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 72 pasien PPOK, menggunakan tehnik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara skor total dukungan keluarga (p=0.001), dukungan emosional (p=0.001), dukungan instrumental (p=0.002), dukungan informasi (p=0.001) dan dukungan penghargaan (p=0.002) dengan perilaku perawatan diri pasien PPOK. Variabel konfonding yang berhubungan secara signifikan dengan perilaku perawatan diri pasien PPOK adalah status ekonomi (p=0.002), tingkat pendidikan (p=0.001) dan pengetahuan PPOK (p=0.001) dengan α=0.05. Penelitian ini merekomendasikan perawat untuk melibatkan keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan untuk meningkatkan perilaku perawatan diri pasien PPOK.

ABSTRACT
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a progressive disease which requires the ability of patients to perform self-care and family support in carrying out the self-care. This research aimed to analyze the types of family support related with self-care behavior in COPD patients. This cross sectional study applied corelation analysis design and purposive sampling technique and involved 72 COPD patients. The result show that there is significant correlation among total score of family support (p=0.001), emotional support (p=0.001), instrumental support (p=0.002), informational support (p=0.001) and appraisal support (p=0.002) with patient self-care behavior. While, confounding variables that has significant correlation with self-care behavior were economic status (p=0.002), education degree (p=0.001), and COPD knowledge (p=0.001) with α=0,05. This research recommended to involve families in nursing care to improve self-care behavior in COPD patients.
"
2019
T52278
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shintani, Terry T.
Nashville : Thomas Nelson & Sons, 1993
616.123 SHI f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>