Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 199616 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rista Ardiyanti
"This study examines the role of influencer credibility, media credibility, and message credibility in shaping consumer trust in branded posts, and how that trust influences the urge to buy impulsively. It also explores persuasion knowledge as a moderating variable to determine whether consumers’ awareness of persuasive tactics affects this relationship. Using a quantitative approach and SEM-PLS analysis through SmartPLS, data were collected from 212 active Instagram followers of beauty influencer Tasya Farasya in the Jabodetabek area. The results indicate that all three forms of credibility positively influence trust in branded posts, which in turn has a positive effect on the urge to buy impulsively. However, persuasion knowledge does not significantly moderate this relationship. These findings contribute to the existing literature on digital marketing and consumer behavior, while also offering practical insights for marketers, brand managers, and social media influencers in crafting more effective promotional strategies.

Penelitian ini meneliti peran kredibilitas influencer, media, dan pesan dalam membentuk kepercayaan konsumen terhadap unggahan bermerek di media sosial, serta dampaknya terhadap dorongan membeli secara impulsif. Persuasion knowledge turut dianalisis sebagai variabel moderasi untuk melihat apakah pemahaman konsumen tentang teknik persuasif memengaruhi hubungan tersebut. Melalui pendekatan kuantitatif dan analisis SEM-PLS dengan SmartPLS, data dikumpulkan dari 212 pengikut aktif Tasya Farasya di Instagram yang berdomisili di Jabodetabek. Hasil menunjukkan bahwa ketiga bentuk kredibilitas secara positif memengaruhi trust in branded post, dimana kemudian kepercayaan tersebut juga berdampak positif pada urge to buy impulsively. Namun, persuasion knowledge tidak memoderasi hubungan tersebut secara signifikan. Temuan ini memperkaya literatur dalam bidang pemasaran digital dan perilaku konsumen, serta memberikan wawasan praktis bagi pemasar dan influencer dalam menyusun strategi promosi yang lebih efektif."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rista Ardiyanti
"This study examines the role of influencer credibility, media credibility, and message credibility in shaping consumer trust in branded posts, and how that trust influences the urge to buy impulsively. It also explores persuasion knowledge as a moderating variable to determine whether consumers’ awareness of persuasive tactics affects this relationship. Using a quantitative approach and SEM-PLS analysis through SmartPLS, data were collected from 212 active Instagram followers of beauty influencer Tasya Farasya in the Jabodetabek area. The results indicate that all three forms of credibility positively influence trust in branded posts, which in turn has a positive effect on the urge to buy impulsively. However, persuasion knowledge does not significantly moderate this relationship. These findings contribute to the existing literature on digital marketing and consumer behavior, while also offering practical insights for marketers, brand managers, and social media influencers in crafting more effective promotional strategies.

Penelitian ini meneliti peran kredibilitas influencer, media, dan pesan dalam membentuk kepercayaan konsumen terhadap unggahan bermerek di media sosial, serta dampaknya terhadap dorongan membeli secara impulsif. Persuasion knowledge turut dianalisis sebagai variabel moderasi untuk melihat apakah pemahaman konsumen tentang teknik persuasif memengaruhi hubungan tersebut. Melalui pendekatan kuantitatif dan analisis SEM-PLS dengan SmartPLS, data dikumpulkan dari 212 pengikut aktif Tasya Farasya di Instagram yang berdomisili di Jabodetabek. Hasil menunjukkan bahwa ketiga bentuk kredibilitas secara positif memengaruhi trust in branded post, dimana kemudian kepercayaan tersebut juga berdampak positif pada urge to buy impulsively. Namun, persuasion knowledge tidak memoderasi hubungan tersebut secara signifikan. Temuan ini memperkaya literatur dalam bidang pemasaran digital dan perilaku konsumen, serta memberikan wawasan praktis bagi pemasar dan influencer dalam menyusun strategi promosi yang lebih efektif."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nafis Hafiyyan Ahmad
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor influencer attributes (attitude homophily, physical attractiveness, social attractiveness) memiliki pengaruh terhadap faktorfaktor perceived characterizations (trustworthiness, perceived expertise, parasocial relationship) dan juga faktor-faktor perceived characterizations (trustworthiness, perceived expertise, parasocial relationship) memiliki pengaruh terhadap intensi konsumen untuk membeli produk perawatan kulit (skincare). Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan menggunakan Google Form sebagai metode pengumpulan data kepada 250 responden di Indonesia yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan seperti mengikuti salah satu influencer di media sosial, aktif. Metode sampling pada penelitian ini menggunakan non-probability sampling. Kemudian data tersebut diolah dan dianalisis dengan menggunakan aplikasi perangkat lunak SmartPLS 3.0. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa faktor influencer attributes (physical attractiveness) memiliki pengaruh terhadap faktor-faktor perceived characterizations )trustworthiness, perceived expertise, parasocial relationship). Namun, untuk faktor influencer attributes/attitude homophily dan social attractiveness) tidak berpengaruh terhadap perceived expertise.

This study aims to analyze the influencer attributes (attitude homophily, physical attractiveness, social attractiveness) that have an influence on the factors perceived characterizations (trustworthiness, perceived expertise, parasocial relationship) as well as the factors perceived characterizations (trustworthiness, perceived expertise, parasocial relationship) has an influence on consumer intentions to buy skin care products (skincare). This study uses descriptive analysis using Google Form as a data collection method to 250 respondents in Indonesia who meet predetermined criteria such as following one of the influencers on social media, being active. The sampling method in this study uses non-probability sampling. Then the data was processed and analyzed using the SmartPLS 3.0 software application. This study resulted in the findings that the influencer attributes (physical attractiveness) have an influence on the factors perceived characterizations (trustworthiness, perceived expertise, parasocial relationship). However, the influencer attributes (attitude homophily and social attractiveness) have no effect on perceived expertise."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riyan Emeraldi Rahman
"Menurut penelitian yang dilakukan oleh We Are Social bersama dengan HootSuite, YouTube adalah platform media sosial yang paling aktif digunakan oleh masyarakat Indonesia. Selain menjadi media untuk mempublikasikan hasil karya, YouTube juga dapat digunakan sebagai media dalam melakukan pemasaran berbagai macam produk. Orang yang melakukan pemasaran pada media digital seperti YouTube umumnya disebut influencer. Penelitian ini melihat peran perceived trust dalam memediasi pengaruh model social media influencer value (SMIV) yang terdapat pada influencer marketing terhadap sebuah produk, yang dalam konteks penelitan ini dikategorikan sebagai high involvement product. Pengaruh antara model SMIV yang terdiri dari advertising value dan source credibility terhadap brand awareness dan purchase intention dengan perceived trust sebagai variabel mediasi juga akan dibahas pada penelitian ini. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan melakukan proses survei dan data yang didapat akan dianalisis dengan metode Structural Equation Model (SEM).

According to a research conducted by We Are Social and HootSuite, YouTube is recently the most active social media platform used by Indonesian people. Apart from being a medium for publishing contents, YouTube can also be used as a medium in marketing for various kinds of products. People who do marketing on digital media usually called as an influencer. This research looks at the mediating role of perceived trust on mediating the impact of social media influencer value (SMIV) model in influencer marketing towards a product, which in the context of this research is categorized as high involvement product. The impact of the SMIV model which consists of advertising value and source credibility to brand awareness and intention to purchase, with perceived trust as a mediator will also be discussed in this research. The method used in this research is quantitative research by conducting survey process and the data obtained will be analyzed with Structural Equation Model (SEM) method."
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2019
T54647
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasibuan, Rayhana Maimanah
"Penelitian ini fokus untuk menemukan apakah atribut influencer dapat menyebabkan niat pengikut mereka untuk membeli dengan karakterisasi sebagai mediator. Penelitian ini mengembangkan model penelitian berdasarkan teori persuasi yang diciptakan untuk meneliti kepentingan relatif hubungan para-sosial (PSR). Penelitian tersebut memperhitungkan tiga karakterisasi (kepercayaan, keahlian yang dirasakan, dan PSR) serta tiga karakteristik pribadi (sikap homofili, kecantikan fisik, dan daya tarik sosial) sebagai anteseden niat beli. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner kepada responden Gen Z yang tinggal di wilayah Jabodetabek serta mereka yang sudah membeli setidaknya satu barang atau jasa setelah menonton video di TikTok dari influencer kecantikan favoritnya. Ada 200 responden yang dikumpulkan, dan data dianalisis dengan alat Smart PLS. Studi ini menemukan bahwa PSR memiliki dampak positif paling signifikan terhadap niat beli relatif terhadap karakterisasi lainnya dan hubungan para-sosial secara signifikan terkait dengan tiga atribut pribadi. Survei menunjukkan bahwa strategi pemasaran influencer media sosial perlu disesuaikan berdasarkan atribut dan karakteristik pribadi.

This research focus on finding whether influencer attributes could lead to intention of their followers to purchase with characterizations as a mediator. This research developed the research model based on the theory of persuasion, which was created to research the relative importance of para-social relationship (PSR). The research took into account three characterizations (trustworthiness, perceived expertise, and PSR) as well as three personal characteristics (attitude homophily, physical beauty, and social attractiveness) as antecedents of purchase intention. Data were collected through a questionnaire of respondents for Gen Z who live in Jabodetabek area as well as those who already buy at least one good or service after watching a video in TikTok from their favorite beauty influencer. There were 200 respondents collected, and the data was analyzed using Smart PLS tools. The study found that PSR has the most significant positive impact on purchase intention relative to other characterizations and para-social relationship was significantly related to the three personal attributes. The surveys show that social media influencer marketing strategies need to be adjusted based on personal attributes and characteristics. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Nurresky Azzahra
"Media sosial kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Era digital tidak hanya membawa banyak peluang, tetapi juga tantangan dan pertanyaan tentang apa dan bagaimana cara terbaik untuk mempromosikan baik merek maupun produk di media sosial. Beberapa bisnis saat ini telah berinvestasi pada influencer marketing. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak influencer media sosial dalam minat terhadap program vaksinasi Covid-19 dan lebih memahami karakteristik mana yang memiliki pengaruh lebih tinggi terhadap program vaksinasi Covid-19. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability judgemental sampling. Survei online dilakukan pada masyarakat Indonesia pengguna Instagram dengan rentang usia 17 hingga 45 tahun yang mengikuti influencer yang pernah membuat konten atau postingan program vaksinasi Covid- 19 di Instagram. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa interactivity memiliki dampak yang lebih tinggi pada minat vaksinasi Covid-19 audiens daripada expertise, homophily, dan popularitas influencer. Selain itu, terbukti juga bahwa trustworthiness, likability, dan argument quality influencer media sosial tidak memiliki pengaruh terhadap minat vaksinasi Covid-19.

Social media has now become a part of people's daily lives. The digital era brings not only many opportunities, but also challenges and questions about what and how best to promote both brands and products on social media. Several businesses today have invested on influencer marketing. This study aims to evaluate the impact of social media influencers in the vaccine intention and better understand which characteristics have a higher influence on the vaccine intention. The sampling method used is non-probability judgmental sampling. The online survey was conducted on Indonesian Instagram users with an age range of 17 to 45 years who follow influencers who have created content or posted Covid-19 vaccination program content on Instagram. Data processing is done by using multiple linear regression analysis techniques. The results of the study revealed that interactivity had a higher impact on the audience's interest on vaccine intention than the expertise, homophily, and popularity of influencers. In addition, it is also proven that trustworthiness, likability, and argument quality of social media influencers have no influence on vaccine intention."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Fajrina Ramadhanty
"Penelitian membahas tentang bagaimana kerja modal digital berupa akses dan kemampuan digital dapat memfasilitasi individu untuk mendapat keuntungan dari internet dengan menjadi influencer afiliasi. Pada gilirannya, perusahaan mengeksploitasi modal digital influencer sebagai kualifikasi utama dalam pemasaran digital berbasis afiliasi. Studi-studi terdahulu telah membahas peran modal digital dalam persaingan ekonomi masyarakat informasi. Namun modal digital sebelumnya hanya berfokus pada akses dan kemampuan saja, tidak pada kompetensi untuk memanfaatkan internet sebagai ‘ruang kerja’ virtual. Melalui studi ini, peneliti mengeksplorasi interaksi antara modal digital dengan modal lainnya yang dapat memaksimalkan peluang individu untuk mendapat keuntungan di media sosial, jaringan dibangun dengan audiens atau followers, serta bentuk relasi antara perusahaan dan influencer afiliasi. Hasil temuan menyatakan bahwa individu dengan modal digital tinggi yang ditunjang dengan modal lain memiliki peluang besar untuk menjadi influencer afiliasi dan mempertahankan statusnya, meskipun individu dengan modal digital rendah tetap berkesempatan menjadi influencer namun mereka rentan kehilangan status karena tidak memiliki modal untuk menunjang karirnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, studi literatur dan wawancara mendalam dengan influencer terafiliasi, audiens, serta pihak pelaksana pemasaran afiliasi.

This study discusses how digital capital works in the form of digital access and competences can facilitate individuals to gain benefit from the internet by becoming an affiliate influencer. In turn, companies are exploiting influencer's digital capital as a key qualification in affiliate-based digital marketing. Previous studies have discussed the role of digital capital in digital economy of information society. However, the concept of digital capital previously discussed was only focused on access and competences, not on capabilities to use the internet as a virtual 'workspace', gaining profits. Through this study, i explored the interaction between digital capital and other capitals that can maximize individual opportunities to gain profits on social media, build networks with audiences or followers, forming relationships between companies and affiliate influencers. The findings found that individuals with high digital capital, supported by other capital have a great opportunity to become affiliate influencers and maintain their status, although individuals with low digital capital still have the opportunity to become influencers, they are vulnerable losing their status because they do not have other capitals to support their career. This study uses qualitative methods with data collection techniques of observation, literature study and in-depth interviews with affiliated influencers, audiences, and affiliate marketing implementers."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Valerian
"ABSTRAK
Fenomena influencer di Instagram dimanfaatkan oleh brand sebagai salah satu strategi pemasaran mereka. Influencers memperkenalkan barang atau jasa kepada konsumer potensial dengan cara soft-selling. Makalah ini ingin menganalisis bagaimana Public Relations pada pemasaran produk Vivo seri V memanfaatkan Instagram influencer marketing dalam membentuk brand personality. Tujuan dari makalah ini adalah untuk melihat apakah brand personality yang dirumuskan Vivo seri V sudah terefleksi dalam usaha Instagram influencer marketing dalam memasarkan produk Vivo seri V. Penelitian dilakukan dengan menganalisis konten yang diunggah oleh para Instagram influencer yang dipilih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, konten Instagram dari influencer, baik dari sisi foto maupun deskripsi foto, telah berhasil menunjukkan brand personality dari produk Vivo seri V, yaitu fun, energetic, young, dan fashionable. Makalah ini juga menyatakan beberapa brand personality tambahan yang terlihat dalam unggahan para influencer, seperti urban, modern, upper class.

ABSTRACT
The phenomenon of influencers on Instagram utilized by the brand as one of their marketing strategy. Influencers introduce goods or services to a potential consumer by means of soft selling. This paper would like to analyze how Public Relations on marketing Vivo series V products, utilizing Instagram influencer marketing in shaping the brand personality. The purpose of this paper is to see if the brand personality formulated by Vivo series V already reflected on in Instagram influencers marketing. Research carried out by analyzing the content uploaded by the selected Instagram influencers. Based on the research conducted, content uploaded by Instagram influencers, from the photo or description of the photo, has managed to show the brand personality of Vivo series V, that is fun, energetic, young and fashionable. This study also found other brand personality that reflected on in the content uploaded by influencers, such as urban, modern, upper class."
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Winda Clarissa Hanyouri
"Dalam konteks pemasaran media sosial, istilah pemasaran influencer menjadi semakin populer. Influencer yang lahir dari media sosial, memiliki kredibilitas dan kemampuan untuk mempengaruhi keputusan pembelian orang lain dengan mengunggah beberapa bentuk konten bersponsor di media sosial mereka. Teori keseimbangan sebagai landasan kemudian diintegrasikan dengan teori disonansi kognitif dan teori kesesuaian untuk merinci prediksi, dalam konteks kampanye pemasaran influencer, tentang bagaimana mekanisme psikologis kesesuaian dapat berkontribusi pada keberhasilan bentuk komunikasi persuasif yang baru. Penelitian ini membahas kesesuaian dalam tiga kontributor yang terkait dengan kampanye pemasaran influencer yaitu influencer, konsumen (pengikut), dan merek bersponsor. Penelitian melibatkan 207 pengikut influencer bernama Rachel Vennya di Instagram. Untuk memastikan keakraban dengan influencer, partisipan diharuskan menjawab beberapa pertanyaan terkait influencer. Untuk manipulasi acak, penelitian juga menghadirkan foto influencer dengan dua pakaian yang berbeda dimana partisipan diharuskan memilih pakaian yang sangat kongruen dengan influencer tersebut. Dengan menggunakan uji Mann-Whitney dan model persamaan struktural berbasis kovarians (CB-SEM), hasil menunjukkan bahwa ketika konsumen dan influencer memiliki kongruensi yang kuat, kongruensi antara produk dengan influencer yang tinggi (rendah) mendorong kongruensi yang tinggi (rendah) pula antara produk dengan konsumen. Dengan demikian, keselarasan antara produk dengan konsumen menghasilkan sikap produk yang mengarah pada intensi untuk membeli dan merekomendasikan produk kepada orang lain.

In the context of social media marketing, term influencer marketing has become increasingly popular. Influencers that are somehow born on social media, have credibility and power to affect purchase decision of others by uploading some form of sponsored content in their social media platforms. Balance Theory as foundation then integrated with Cognitive Dissonance and Congruity Theory to detail the predictions, in the context of influencer marketing campaigns, about how congruence psychological mechanism can contribute to the success of novel form of persuasive communication. This research addresses congruence within three contributors related to influencer marketing campaign namely influencer, consumer (follower), and sponsored product. The research involves 207 followers of an influencer named Rachel Vennya on Instagram. To confirm familiarity with influencer, participants are required to answer several questions related to the influencer. For randomized manipulation, this research presents pictures of an influencer with two different outfits where participants are required to choose a highly congruent outfit with influencer. By utilizing Mann-Whitney test and covariance-based structural equation model (CB-SEM), results show that when consumer and influencer have a strong congruence, high (low) influencer–product congruence encourages high (low) consumer–product congruence. Thus, consumer–product congruence produces favorable product attitudes which lead intention to purchase and recommend product to others. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Viony Putri Nursalim
"Saat ini media sosial menjadi alat penting yang digunakan untuk mengembangkan banyak bisnis. Salah satu dari bentuk penggunaan Instagram untuk bisnis adalah aktivitas endorsement. Jika sebelumnya promosi hanya dapat dilakukan melalui media konvensional, sekarang pemilik bisnis dapat melakukan promosi melalui endorsement influencer Instagram. Endorsement merupakan suatu bentuk iklan yang menggunakan  figur terkenal atau influencer untuk mendapatkan pengakuan dan kepercayaan di antara audiens. Studi-studi terdahulu menunjukkan endorsement meningkatan perilaku konsumtif di era digital karena adanya public trust terhadap review influencer tersebut. Peneliti setuju bahwa terdapat korelasi positif antara endorsement influencer dengan perilaku belanja online. Tetapi belum terdapat penelitian yang benar-benar menjelaskan alasan endorsement dapat meningkatkan perilaku belanja online. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menjelaskan lebih dalam bagaimana trust audiens pada endorsement berperan dalam menentukan keputusan belanja online. Selain itu, penelitian ini juga menjelaskan modal kultural yang dimiliki seorang influencer dari sudut pandang audiens. Teori yang digunakan adalah modal sosial menurut Bourdieu dan Nahapiet & Ghoshal. Penelitian mengaplikasikan metode wawancara mendalam dengan Generasi Z sebagai generasi digital natives pertama yang memfollow dan pernah membeli produk endorsement influencer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capital dari influencer menjadi alasan mengapa audiens memutuskan untuk memfollow dan lebih mempercayai review endorsement influencer.

Today social media has become an important tool in promoting businesses. One of many Instagram business activities is endorsement. Previously, promotions could only be executed through conventional media, now business owners can promote their business through endorsing influencers. Endorsement is a form of advertising that uses famous personalities to gain recognition, trust, and awareness amongst the audience. Previous studies show an increase in consumptive behavior during the digital era due to public trust in influencers’ review. This study agrees that there is a positive correlation between influencers endorsement and online shopping behavior. Nevertheless, there is no research that really explains the reasons why endorsements can affect online shopping behavior. Therefore, this study aims to explain how audience trust in endorsements can play a role in determining online purchase. In addition, this study also explains the cultural capital of an influencer from the audience's perspective. This study uses social capital theories by Bourdieu and Nahapiet & Ghoshal. Conducted in a qualitative approach by using in depth interview method with Generation Z who follow and have purchased endorsement products. The results show that the influencer’s capital is the reason why the audience decide to follow and trust the influencer endorsement review.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>