Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 191184 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Marlina Tjendra
"Gunung Papandayan, terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan salah satu gunung berapi aktif yang memiliki potensi bencana, terutama di area Kawah Tapal Kuda. Kawasan ini dipengaruhi oleh aktivitas hidrotermal dan keberadaan batuan teralterasi yang dapat mempengaruhi kestabilan lereng. Penelitian dilakukan di 14 titik untuk data RMR serta 6 lereng (3 segar dan 3 teralterasi) yang menjadi jalur utama pendakian dan jalur motor, dengan tujuan untuk memetakan kualitas masa batuan dan menganalisis kestabilan lereng serta mengidentifikasi potensi keruntuhan di area tersebut guna memberikan rekomendasi untuk lereng yang berpotensi mengalami keruntuhan. Metode Rock Mass Rating (RMR) digunakan untuk mengklasifikasikan massa batuan, sedangkan analisis kinematik diterapkan untuk memahami interaksi antara bidang diskontinuitas dan lereng. Untuk menilai tingkat keamanan lereng, digunakan metode kesetimbangan batas yang menghitung Faktor Keamanan (FK). Selain itu, pemodelan geoteknik dilakukan untuk memvisualisasikan rekomendasi untuk lereng yang memiliki nilai FK < 1.25. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa area penelitian terbagi menjadi tiga kelas RMR yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Setelah dilakukan analisis kinematik didapatkan bahwa keenam lereng berpotensi mengalami tipe longsoran guling (toppling failure), dengan kemungkinan mengalami tipe longsoran guling mulai dari 10-75%. Hasil dari analisis kestabilan lereng yang dilakukan dengan metode kesetimbangan batas didapatkan bahwa lereng-lereng yang menjadi objek penelitian termasuk ke dalam kategori stabil dengan nilai FK yg bervariasi mulai dari 1.587 hingga 3.5, kecuali lereng alterasi 1 yang memiliki nilai FK 0.979 dengan kategori tidak stabil. Nilai FK yang kecil ini disebabkan oleh karakteristik geologi seperti karakteristik petrografi yang mana pada sayatan tipis sampel ini terlihat mineral-mineral dengan ukuran butir afanitik dan bentuk mineral anheral yang mendominasi dengan kandungan mineral lempung yang cukup tinggi yaitu 38% serta dari sisi properti massa batuan batuan di lereng ini memiliki nilai kohesi terendah yaitu 0.127 yang mengurangi gaya penahan dari lereng alterasi 1. Kemudian setelah dilakukan pemodelan kembali dengan memasang blok batuan berupa bolt pada bagian atas lereng dengan jarak antar bolt adalah 2 meter menghasilkan nilai FK sebesar 1.909 dengan kategori stabil.

Mount Papandayan, located in Garut Regency, West Java, is one of Indonesia’s active volcanoes and poses significant hazard potential, particularly in the Kawah Tapal Kuda area. This region is influenced by intense hydrothermal activity and the presence of altered rocks, which can greatly affect slope stability. The study was conducted at 14 locations for Rock Mass Rating (RMR) data collection and on 6 slope sections (3 composed of fresh rock and 3 of altered rock) situated along the main hiking and motorbike access routes. The objective was to map the rock mass quality, analyze slope stability, and identify potential failure zones in order to provide engineering recommendations for potentially unstable slopes. The RMR classification system was employed to evaluate the quality of the rock mass. Meanwhile, kinematic analysis was used to understand the interaction between discontinuity planes and slope geometry. To assess slope safety, the Limit Equilibrium Method (LEM) was applied to calculate the Factor of Safety (FoS). Additionally, geotechnical modeling was carried out to simulate the implementation of stabilization measures for slopes with FoS values lower than 1.25. The results revealed that the rock masses within the study area fall into three RMR classes: very good, good, and fair. Kinematic analysis showed that all six slope sections are potentially susceptible to toppling failure, with probabilities ranging from 10% to 75%. The LEM-based slope stability analysis further indicated that most slopes are categorized as stable, with FoS values ranging from 1.587 to 3.5, except for one altered slope (Altered Slope 1) which had a FoS of 0.979, classifying it as unstable. The low FoS value on Altered Slope 1 is attributed to both geological characteristics and rock mass properties. Petrographic analysis of the thin section sample revealed the dominance of aphanitic grain-sized, anhedral minerals, and a high clay mineral content of approximately 38%. Furthermore, this slope section had the lowest cohesion value among all slopes, at only 0.127 MPa, which significantly reduced its shear resistance. Following this, remedial modeling was carried out by installing rock bolts at the top portion of the slope, spaced 2 meters apart. This stabilization effort successfully increased the FoS to 1.909, reclassifying the slope as stable."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Setyawan
"Tanah longsor merupakan bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan kerentanan tanah longsor secara spasial menggunakan dua pendekatan statistik, yaitu regresi logistik dan frekuensi rasio, serta mengevaluasi performa akurasi masing-masing model. Sebanyak 51 titik longsor hasil survei lapangan digunakan, dengan pembagian 80% sebagai data pelatihan dan 20% untuk validasi. Sebelas variabel fisik digunakan sebagai faktor prediktor: kemiringan lereng, elevasi, aspek lereng, bentuk lereng, jarak dari jalan, jarak dari sungai, jarak dari patahan, Topographic Wetness Index (TWI), Stream Power Index (SPI), Stream Transport Index (STI), dan NDVI. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi kerentanan tidak bersifat acak, melainkan terstruktur mengikuti kondisi morfologi dan aktivitas antropogenik. Model frekuensi rasio mengidentifikasi zona kerentanan sangat tinggi seluas 20,31% (77.389,45 ha), sedangkan regresi logistik seluas 18,34% (69.868,96 ha). Validasi menggunakan Area Under Curve (AUC) dari kurva ROC menunjukkan bahwa regresi logistik memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi (AUC = 0,9351) dibanding frekuensi rasio (AUC = 0,7970). Dengan mempertimbangkan interaksi antar variabel, regresi logistik terbukti lebih unggul dalam memodelkan kerentanan tanah longsor secara spasial di wilayah studi.

Landslides are a common hydrometeorological hazard in Kerinci Regency and Sungai Penuh City, Jambi Province, Indonesia. This study aims to spatially model landslide susceptibility using two statistical approaches: logistic regression and frequency ratio, and to evaluate the predictive performance of each method. A total of 51 landslide points obtained from field surveys were used, with 80% allocated for training and 20% for validation. Eleven physical variables were employed as predictor factors: slope, elevation, aspect, curvature, distance to roads, distance to rivers, distance to faults, Topographic Wetness Index (TWI), Stream Power Index (SPI), Stream Transport Index (STI), and Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). The results indicate that the spatial distribution of susceptibility is not random but structured, following morphological conditions and anthropogenic activities. The frequency ratio model identified very high susceptibility zones covering 20.31% (77,389.45 ha), while logistic regression identified 18.34% (69,868.96 ha). Validation using the Area Under the Curve (AUC) of the Receiver Operating Characteristic (ROC) curve showed that logistic regression yielded a higher accuracy (AUC = 0.9351) compared to the frequency ratio (AUC = 0.7970). By accounting for variable interactions, logistic regression proved to be more effective in spatially modeling landslide susceptibility within the study area. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ludi Jalaludin
"Desa Cibanteng merupakan salah satu desa rawan bencana gerakan tanah sehingga masyarakat memerlukan kesiapsiagaan bencana sebagai bentuk kapasitas dalam merespon bencana gerakan tanah. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan masyarakat wilayah rawan gerakan tanah di Desa Cibanteng dengan menggunakan lima variabel kesiapsiagaan antara lain pengetahuan bencana, kebijakan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan bencana, dan mobilisasi sumber daya. Objek penelitian ini merupakan masyarakat yang berada di wilayah rawan gerakan tanah. Penilaian kesiapsiagaan dilakukan dengan menggunakan metode deskripsi kuantitatif dengan nilai rata-rata (mean). Kesiapsiagaan yang dinilai tinggi jika melampaui nilai rata-rata kesiapsiagaannya.
Hasil penelitian menunjukan terdapat tiga dusun yang tergolong memiliki kesiapsiagaan tinggi yaitu Dusun Cibuntu sebesar 8,22 (20,50%) dengan kelas rawan tinggi gerakan tanah seluas 50,84 Ha, Dusun Cikaso sebesar 8,82 (22%) dengan wilayah kelas rawan tinggi seluas 118,71 Ha, dan Dusun Ciletuh sebesar 8,33(20,79%) dengan wilayah kelas rawan tinggi seluas 102,11 Ha. Sedangkan dua dusun yang tergolong memiliki nilai kesiapsiagaan rendah yaitu Dusun Sukamulya sebesar 7,46 (18,62%) dengan wilayah rawan tinggi seluas 92,20 Ha, dan Dusun Tipar sebesar 7,25 (18,09%) dengan wilayah rawan tinggi seluas 31,90 Ha. Perbedaan wilayah rawan gerakan tanah antar dusun di Desa Cibanteng mempengaruhi kesiapsiagaannya. Semakin rawan wilayah terhadap gerakan tanah maka semakin siapsiaga masyarakat yang menempati wilayah tersebut dalam menghadapi bencana gerakan tanah.

Cibanteng is a village prone to ground movements that require community disaster preparedness as a form of disaster response capacity in ground motion. Preparedness is a series of activities undertaken to anticipate disasters, through organizing and through appropriate measures. Therefore, this study aimed to analyze the level of community preparedness prone area of land in the village Cibanteng movement using five variables including knowledge of disaster preparedness, policy, emergency response planning, disaster warning system and mobilization of resources. This research subject is the people who are in areas vulnerable to soil movement. Preparedness assessment using quantitative description with the average value (Mean). Value of high preparedness for exceeding the average value of preparedness and vice versa.
The result of research showed there are three hamlets were classified as having a high preparedness namely Hamlet Cibuntu of 8.22 (20.50%) with high-class areas prone area of 50.84 hectares, Hamlet Cikaso of 8.82 (22%) with high-class areas prone covering an area of 118.71 hectares, and Hamlet Ciletuh of 8.33 (20.79%) with high-class areas prone area of 102.11 hectares. While the two hamlets were classified as having a low value that is Hamlet Sukamulya preparedness amounted to 7.46 (18.62%) with a high-prone area measuring 92.20 hectares, and Hamlet Tipar at 7.25 (18.09%) with a high-prone area measuring 31.90 Ha. Differences between the soil movement prone region hamlet in Cibanteng affect preparedness. Increasingly prone areas vulnerable to soil movement, the more community prepared.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Pusch, R.
Amsterdam: Elsevier, 1995
624.151 32 PUS r
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Faisal Rizal
"Wilayah yang menjadi daerah penelitian berada pada kavling pemetaan geologi lanjutan milik penulis yang mencakup Kecamatan Bayah dan Cibeber di Kabupaten Lebak dengan luas area 6x6 km2. Daerah penelitian ini memiliki banyak memiliki lereng yang cukup curam dengan curah hujan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan persebaran area zona kerentanan gerakan tanah dalam piksel resolusi 15, 25, 35, dan 45. Adapun data yang digunakan berupa data kejadian longsor dan 8 faktor pemicu kejadian gerakan tanah. Dari faktor tersebut diolah menjadi 8 peta faktor pemicu kejadian gerakan tanah yang kemudian dilakukan perhitungan Weight of Evidence (WoE). Dari perhitungan WoE masing-masing piksel resolusi didapati nilai kontras yang digunakan untuk perhitungan peta Landslide Susceptibility Index (LSI). Dari peta LSI didapati suatu peta zona kerentanan gerakan tanah dengan piksel resolusi berbeda dengan pembagian indikatornya menjadi zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah, rendah, menengah, dan tinggi. Terakhir menggunakan metode Area Under the Curvature (AUC) didapati nilai tertinggi success rate berada pada piksel resolusi 15 (AUC = 0.736) dan predictive rate pada piksel resolusi 15 (AUC = 0.674). kemiringan 35-55, elevasi 400-500m, aspek lereng barat laut, kurvatur concave, vegetasi sedang, kerapatan struktur 558.36-745.45 m/m2, kerapatan sungai sedang, dan curah hujan tinggi, adalah kelas faktor pemicu yang berpengaruh terhadap kejadian gerakan tanah.

The research area is located within the geological mapping block owned by the author, covering the Bayah and Cibeber sub-districts in Lebak Regency, with a total area of 6x6 km². This area features many steep slopes and experiences high rainfall. The objective of this study is to map the distribution of landslide susceptibility zones using pixel resolutions of 15, 25, 35, and 45 meters. The data used includes landslide occurrence data and eight triggering factors for landslides. These factors are processed into eight landslide-triggering factor maps, which are then analyzed using the Weight of Evidence (WoE) method. From the WoE calculations for each pixel resolution, contrast values are obtained and used to calculate the Landslide Susceptibility Index (LSI) map. The resulting LSI maps depict landslide susceptibility zones at different pixel resolutions, classified into very low, low, medium, and high susceptibility zones. Finally, using the Area Under the Curve (AUC) method, the highest success rate was found at the 15-meter pixel resolution (AUC = 0.736), and the predictive rate was also highest at 15 meters (AUC = 0.674). Slope of 35–55°, elevation of 400–500 m, northwest slope aspect, concave curvature, moderate vegetation, structural density of 558.36–745.45 m/m², moderate drainage density, and high rainfall are the triggering factor classes that significantly influence landslide occurrences."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Roterdam: A.A. Balkema, 1980
624.15 STR
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Naufal Fakhri Syawalrizqy
"Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Endut memiliki luas 25.870,0 Ha dengan potensi spekulatif mencapai 100 Mwe dan cadangan terduga 80 MWe (Kementerian ESDM,2017). Namun, hingga saat ini belum tedapat investor yang tertarik untuk memproduksi WKP Gunung Endut karena risikonya yang masih tinggi. Risiko tersebut adalah belum adanya kepastian perihal sumber panas bumi pada lokasi tersebut. Pemerintah berupaya dengan melakukan pengeboran sumur eksplorasi menggunakan dana dari pemerintah. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi secara lengkap. Meskipun demikian, dalam menentukan area untuk dibangun wellpad, diperlukan beberapa data pendukung. Salah data pendukung untuk membangun wellpad adalah informasi geologi teknik untuk mengetahui area sekitar wellpad. Untuk itu dilakukan pemetaan geologi teknik pada area tersebut. Metode yang dilakukan adalah pemetaan geologi teknik dan uji mekanika tanah. Pemetaan geologi teknik meliputi tingkat pelapukan, kemiringan lereng, litologi, dan kekuatan batuan. Sedangkan uji mekanika tanah terdiri dari uji batas cair,batas plastis, indeks aktivitas, schimdt hammer, uji kuat geser, dan klasifikasi tanah. Daerah penelitian terdiri dari 4 satuan geologi teknik yaitu satuan andesit lapuk sempurna, satuan tuf sangat lapuk-lapuk sempurna, satuan tanah pasir bergradasi buruk (SP), dan satuan tanah pasir bergradasi baik (SW). Berdasarkan uji mekanika tanah yang dilakukan pada daerah penelitian memiliki nilai kadar air 25%-41%, memiliki nilai batas cair (LL) 49.53% - 58.49%, memiliki nilai batas plastis (PL) 38.64% - 47.412%, memiliki nilai indeks plastisitas (PI) 6.38% - 11.61%. Berdasarkan analisis indeks aktivitas didapatkan nilai aktivitas sebesar 0.77 – 5.28. Memiliki nilai kohesi (c) 8.38 - 12.278, dan nilai sudut gesek dalam (ɸ) sebesar 3.7027 – 4.8261. Spesifikasi wellpad yang akan dibangun tidak diketahui, sehingga digunakan faktor keamanan sebesar 2.5, sehingga didapatkan daya dukung tanah yang dizinkan untuk dibangun wellpad pada daerah penelitian adalah sebesar 3.4-5.5 ton/m2 dengan rata-rata 4.55 ton/m2.

The Gunung Endut Geothermal Working Area (WKP) itself has an area of 25,870.0 Ha with a speculative potential of up to 100 Mwe and an estimated reserve of 80 MWe (Ministry of Energy and Mineral Resources, 2017). However, until now there has been no investor who is interested in producing the Gunung Endut WKP because the risk is still high. The risk is that there is no geothermal source in that location. The government is trying to drill exploration wells using government funds. It aims to obtain complete data and information. However, in determining the area to build a wellpad, some supporting data is needed. One of the supporting data for building a wellpad is engineering geological information to find out the area around the wellpad. For this reason, a geological engineering mapping of the area was carried out. The method used is engineering geology and soil mechanics test. Mapping of engineering geology includes the level of weathering, slope, lithology, and rock strength. While the soil mechanics test consists of a liquid limit test, plastic limit, activity index, Schimdt hammer, shear strength test, and soil classification. The research area consists of 4 engineering geology units, namely the Perfectly Weathered Andesite Unit, Highly Weathered-Perfectly Weathered Tuff Unit, Poor Graded Sand Soil Unit (SP), and Well Graded Sand Soil Unit (SW). Based on soil mechanics tests conducted in the research area, it has a moisture content value of 25%-41%, has a liquid limit value (LL) of 49.53% - 58.49%, has a plastic limit value (PL) of 38.64% - 47.412% , has a plasticity index (PI) of 6.38% - 11.61%. Based on the activity index analysis, the activity value is 0.77 – 5.28. It has a cohesion value (c) of 8.38 - 12,278, and an internal friction angle (ɸ) of 3.7027 – 4.8261. The specifications for the wellpad to be built are unknown, so a safety factor of 2.5 is used, so that the soil bearing capacity allowed for the construction of the wellpad in the research area is 3.4-5.5 tons/m2 with an average of 4.55 tons/m2."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gulhati, Shashi K.
New Delhi: Tata McGraw-Hill, 2005
624.15 GUL g
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Lancellotta, Renato
Rotterdam: A.A. Balkema, c1995
624.151 LAN g
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>