Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 180214 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Badhar Gibran
"Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kondisi geomorfologi, geokimia batuan, dan distribusi endapan nikel laterit di Daerah X, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Wilayah ini secara geologi berada dalam Mandala Halmahera Timur yang tersusun atas kompleks ofiolit dan batuan ultrabasa seperti harzburgit, lherzolit, dan dunite yang berperan sebagai batuan induk pembentuk laterit. Metode yang digunakan meliputi analisis geomorfologi berbasis data topografi dan klasifikasi bentuk lahan geomorphon, analisis geokimia batuan dasar menggunakan data X-Ray Fluorescence (XRF), serta pemetaan distribusi kadar dan ketebalan endapan laterit melalui interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk lahan seperti ridge, spur, dan shoulder pada kemiringan 2°–15° serta elevasi antara 700–900 meter cenderung memiliki ketebalan laterit yang lebih besar dan kadar nikel yang lebih tinggi, menjadikannya zona prospektif utama. Zona saprolit memiliki kadar Ni tertinggi, mencapai lebih dari 2,5%, dengan komposisi geokimia yang mengindikasikan tipe laterit Hydrous Magnesium Silicate (HMS). Hubungan negatif antara kemiringan lereng dan ketebalan limonit mengindikasikan peran penting topografi terhadap intensitas pelapukan dan pelindian unsur. Selain itu, analisis geokimia batuan menunjukkan bahwa harzburgit merupakan litologi dominan dengan sebaran kadar Ni yang luas, sedangkan kadar tertinggi tercatat pada litologi dunite dan lherzolit meskipun dengan jumlah data yang terbatas. Temuan ini memperkuat peran faktor geomorfologi dan komposisi kimia batuan dalam pengendalian pembentukan serta sebaran endapan nikel laterit, dan dapat dijadikan acuan dalam eksplorasi tahap awal di wilayah studi.

This study aims to examine the relationship between geomorphological conditions, bedrock geochemistry, and the distribution of lateritic nickel deposits in Area X, Central Halmahera Regency, North Maluku Province. Geologically, the study area lies within the Eastern Halmahera Belt, characterized by ophiolitic complexes and ultramafic rocks such as harzburgite, lherzolite, and dunite, which serve as the primary protoliths for lateritization. The research methodology includes geomorphological analysis based on topographic data and geomorphon-based landform classification, geochemical analysis of bedrock using X-Ray Fluorescence (XRF), and spatial distribution modeling of nickel grade and laterite thickness using the Inverse Distance Weighting (IDW) interpolation method. The results indicate that landforms such as ridges, spurs, and shoulders with slope gradients between 2°–15° and elevations ranging from 700 to 900 meters above sea level tend to exhibit thicker lateritic profiles and higher nickel concentrations, marking them as highly prospective zones. The saprolite zone shows the highest nickel content, exceeding 2.5%, with geochemical characteristics indicative of the Hydrous Magnesium Silicate (HMS) laterite type. A negative correlation between slope angle and limonite thickness suggests that topography significantly influences leaching intensity and elemental accumulation. Furthermore, bedrock geochemical analysis reveals harzburgite as the dominant lithology with a wide range of Ni content, while the highest Ni grades are found in samples identified as dunite and lherzolite, although data for these rock types are limited. These findings highlight the crucial roles of geomorphology and geochemical composition in controlling the formation and spatial distribution of lateritic nickel deposits, offering valuable insights for early-stage mineral exploration in the study area."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Roro Pradnya Palupi
"Permintaan global terhadap nikel yang terus meningkat menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen utama nikel dunia. Pulau Halmahera, Maluku Utara, memiliki potensi endapan nikel laterit yang tinggi karena tersusun oleh kompleks ofiolit. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona profil laterit dan membangun model geologi endapan nikel sebagai dasar estimasi kadar sumberdaya daerah penelitian. Data yang digunakan berupa data sekunder seperti collar, survey, assay, foto core, serta data logging sebagai penunjang validasi. Metode yang diterapkan yaitu analisis statistik univarian dan estimasi dengan metode ordinary kriging menggunakan unsur Ni sebagai fokus utama. Hasil analisis menunjukkan pengaruh signifikan topografi terhadap ketebalan endapan. Daerah dengan kemiringan lereng landai (0–8°), terutama di bagian tengah, selatan, dan tenggara, menunjukkan ketebalan zona limonit dan saprolit yang tinggi karena pelapukan dan akumulasi material yang lebih stabil. Sebaliknya, lereng curam (>16°) di barat laut dan timur laut memiliki endapan tipis akibat erosi. Domain geologi terbagi menjadi tiga, yaitu domain limonit, saprolit, dan bedrock. Zona mineralisasi mencakup domain limonit (densitas 1,6 gr/cm³) dan saprolit (1,5 gr/cm³). Klasifikasi sumberdaya menghasilkan tiga kategori kelas yaitu terukur, tertunjuk, dan tereka. Hasil klasifikasi dengan menggunakan cut off grade 1% yang menghasilkan kadar rata-rata Ni 1,21% dan jumlah volume 1,472,188 m3 dan tonase 2,355,500 ton pada domain limonit. Sementara, pada domain saprolit menghasilkan kadar rata-rata Ni 1,39% dan jumlah volume 7,736,094 m3 dan tonase 11,604,141 ton. Kategori terukur menandakan daerah penelitian memiliki tingkat keyakinan geologi yang tinggi untuk membuktikan kandungan mineral dan kemenerusan kadar, sehingga daerah penelitian memiliki potensi sumberdaya sebagai pertimbangan kegiatan penambangan.

The increasing global demand for nickel has made Indonesia one of the world's major nickel producers. Halmahera Island, North Maluku, has a high potential for laterite nickel deposits because it is composed of an ophiolite complex. This study aims to map the laterite profile zone and develop a geological model of nickel deposits, providing a basis for estimating the resource content of the study area. The data used are secondary data such as collars, surveys, assays, core photos, and logging data as validation support. The methods applied are univariate statistical analysis and estimation using the Ordinary Kriging method, with the Ni element as the primary focus. The results of the analysis show a significant effect of topography on the thickness of the deposits. Areas with gentle slopes (0–8°), especially in the central, southern, and southeastern parts, show a high thickness of limonite and saprolite zones due to weathering and accumulation of more stable materials. In contrast, steep slopes (>16°) in the northwest and northeast have thin deposits due to erosion. The geological domain is divided into three, namely the limonite, saprolite, and bedrock domains. The mineralization zone includes limonite domains (density 1.6 gr/cm³) and saprolite (1.5 gr/cm³). Resource classification produces three class categories, namely measured, indicated, and inferred. The classification results using a cut-off grade of 1% produced an average Ni content of 1.21% a volume of 1,472,188 m3 and a tonnage of 2,355,500 tons in the limonite domain. Meanwhile, the saprolite domain produced an average Ni content of 1.39% a volume of 7,736,094 m3, and a tonnage of 11,604,141 tons. The measured category indicates that the research area has a high level of geological confidence to prove mineral content and continuity of content so that the research area has resource potential as a consideration for mining activities."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rafazio Alanza Muhammad
"Daerah Ganda-Ganda, Morowali Utara merupakan salah satu daerah penghasil bijih nikel di Indonesia dari endapan laterit. Endapan laterit tersebut dihasilkan dari pelapukan batuan ultramafik (batuan asal). Pada area penelitian terdapat pada Komplek Ultramafik dari Jalur Ofiolit Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi endapan laterit, karakteristik batuan ultramafik, dan asosiasinya terhadap tektonik dari sampel batuan asal daerah penelitian. Metode yang digunakan yakni analisis petrografi, X-Ray diffraction (XRD), dan energy dispersive X-Ray fluorescence (EDXRF). Profil terdiri atas limonit dan saprolit hingga rocky saprolite. Komposisi mineral profil limonit didominasi goetit dan gibbsit. Saprolit didominasi antigorit, talk, lizardit, dan nakrit. Batuan asal didominasi mineral silikat. Jenis batuan ultramafiknya meliputi lherzolit terserpentinisasi, harzburgit terserpentinisasi, olivin websterit terserpentinisasi, dan serpentinit. Secara geokimia semua batuan ultramafik berkomposisi lherzolit. Semua batuan hadir mikrotekstur mesh. Banyak mineral olivin dan piroksen di batuan asal telah terubah menjadi mineral serpentin. Mikrotekstur serpentinit mencangkup tekstur mesh pada lizardit, tekstur relict pada olivin, tekstur veinlet mineral krisotil, dan tekstur decussate mineral antigorit. Komposisi batuan asal dominan tersusun atas mineral olivin, lizardit, dan piroksen. Batuan ultramafik daerah penelitian berasosiasi dengan tektonik supra-subduction zone (SSZ) yang dominan hingga mid-oceanic ridge basalt (MORB) dengan seri magma tholeiite.

The Ganda-Ganda area, North Morowali is one of the nickel ore producing areas in Indonesia from laterite deposits. Laterite deposits are produced from the weathering of ultramafic rocks (source rocks). The research area is in the Ultramafic Complex of the Sulawesi Ophiolite Belt. This research aims to determine the composition of laterite deposits, the characteristics of ultramafic rocks, and their association with tectonics from the source rock samples from the research area. The methods used are petrographic analysis, X-ray diffraction (XRD), and energy-dispersive X-ray fluorescence (EDXRF). The profile consists of limonite and saprolite to rocky saprolite. The mineral composition of the limonite profile is dominated by goethite and gibbsite. Saprolite is dominated by antigorite, talc, lizardite, and nacrite. The source rocks are dominated by silicate minerals. Ultramafic rock types include serpentinized lherzolite, serpentinized harzburgite, serpentinized olivine websterite, and serpentinite. Geochemically, all ultramafic rocks fall in the lherzolite composition. All rocks have mesh microtexture. Many of the olivine and pyroxene minerals of the source rock have been altered into serpentine minerals. Serpentinite microtextures include the mesh texture of lizardite, the relict texture of olivine, the veinlet texture of chrysotile, and the decussate texture antigorite. The dominant composition of the source rocks consists of olivine, lizardite and pyroxene minerals. Ultramafic rocks in the study area are dominantly associated with supra-subduction zone (SSZ) tectonics to mid-oceanic ridge basalt (MORB) with a tholeiite magma series."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rifqy Irfanto
"Cadangan nikel laterit di nusantara tersebar pada wilayah Indonesia bagian tengah karena berasosiasi dengan jalur ultramafik. Pulau Pakal yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara menjadi salah satu daerah dengan prospek nikel laterit yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi batas antar zona laterit Pulau Pakal menggunakan korelasi metode resistivitas dengan konfigurasi Wenner dan data bor. Metode resistivitas digunakan untuk mengukur nilai tahanan jenis batuan laterit yang kemudian akan dikorelasikan dengan data bor untuk meningkatkan akurasi analisis yang akan dilakukan. Pengolahan data resistivitas dilakukan menggunakan perhitungan matematika inversi 2-D untuk menghasilkan penampang true resistivity 2-D. Selain itu dilakukan pengolahan data bor yang kemudian akan menghasilkan model penampang bor pada lintasan pengukuran. Hasil penelitian ini adalah integrasi penampang dari batasan antar zona laterit yang ditentukan berdasarkan respon resistivitas lintasan dan informasi litologi yang dihasilkan dari analisis unsur kimia pada data bor. Penampang integrasi lintasan 19 menunjukkan adanya perbedaan dalam menentukan batasan zona limonit dan saprolit berdasarkan nilai resistivitas dan data bor. Terdapat asosiasi air yang cukup signifikan pada zona limonit lintasan 19 yang membuat respon resistivitasnya menjadi lebih rendah daripada zona saprolit. Sebaliknya, penentuan batasan zona saprolit dan bedrock pada lintasan tersebut justru menunjukkan korelasi yang cukup baik. Penampang integrasi lintasan 20 menunjukkan korelasi yang baik antar respon resistivitas dan data bor di mana penentuan batasan zona laterit keduanya berada di kedalaman yang relatif sama.

The lateritic nickel reserves in the archipelago are distributed in the central part of Indonesia due to their association with ultramafic belts. Pulau Pakal, located in North Halmahera Regency, North Maluku Province, is one of the areas with good lateritic nickel prospects. This study aims to identify the boundaries between lateritic zones in Pulau Pakal using the correlation of resistivity methods with the Wenner configuration and borehole data. The resistivity method is used to measure the resistivity values of laterite rocks, which are then correlated with the borehole data to improve the accuracy of the analysis. The processing of resistivity data is done using 2-D inversion mathematical calculations to generate 2-D true resistivity sections. Additionally, the borehole data is processed to create a borehole cross-sectional model along the measurement path. The result of this study is the integration of cross-sections indicating the boundaries between lateritic zones, which are determined based on the resistivity response along the profile and lithological information obtained from the chemical analysis of the borehole data. The integration cross-section of profile 19 shows differences in determining the boundaries between the limonite and saprolite zones based on resistivity values and borehole data. There is a significant water association in the limonite zone of profile 19, which causes its resistivity response to be lower than that of the saprolite zone. Conversely, the determination of the saprolite and bedrock boundaries in that profile shows a fairly good correlation. The integration cross-section of profile 20 shows a relatively good correlation between resistivity response and borehole data, where the boundaries of both lateritic zones are at a similar depth."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Charleeta Tesalonika Unu
"Penelitian ini berisikan pemodelan dan estimasi sumber daya nikel laterit di wilayah Langgikima, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Sumberdaya nikel laterit, tercipta melalui proses pelapukan batuan ultramafik, dianalisis menggunakan metode Ordinary Kriging (OK). Metode OK digunakan dengan tujuan menangani distribusi data dengan korelasi spasial yang kuat. Analisis geostatistik melibatkan data collar, survey, assay, logging dari 169 titik bor dengan spasi bor 50 meter, 100 meter dan 150 meter. Data tersebut dimanfaatkan untuk membuat model geologi wireframe dan blok model tiga dimensi, mencakup zona mineralisasi yaitu zona limonit dan saprolit. Densitas untuk zona limonit adalah 1,58 gr/ cm3. Densitas untuk zona saprolit adalah 1,56 gr/ cm3. Klasifikasi sumberdaya dibagi berdasarkan jarak spasi bor dengan menggunakan cut off grade 1% untuk zona kelas terukur. Estimasi untuk zona limonit menunjukkan kelas terukur dengan tonase basah 4,2 juta ton dan kadar Ni 1,34%, kelas tertunjuk dengan tonase basah 2 juta ton dan kadar Ni 1,22%, kelas tereka dengan tonase basah 4,1 juta ton dan kadar Ni 1,23% dengan nilai CoG 1% Ni. Sementara itu, zona saprolit menunjukkan kelas terukur dengan tonase basah 1,6 juta ton dan kadar Ni 1,7%, kelas tertunjuk dengan tonase basah 1,2 juta ton dan kadar Ni 1,49%, kelas tereka dengan tonase basah 3,1 juta ton dan kadar Ni 1,33% dengan nilai CoG 1% Ni. Kelas terukur menandakan pada daerah penelitian memiliki tingkat keyakinan geologi paling tinggi untuk membuktikan sebaran kadar dan kandungan mineral dan telah memenuhi syarat kelayakan ekonomi untuk ditambang.

This study presents the modeling and estimation of laterite nickel resources in the Langgikima area, North Konawe, Southeast Sulawesi. Laterite nickel resources, formed through the weathering of ultramafic rocks, were analyzed using Ordinary Kriging (OK). Ordinary kriging method was applied to handle datasets with strong spatial correlation. The geostatistical analysis utilized collar, survey, assay, and logging data from 169 drill holes spaced at intervals of 50 meters, 100 meters, and 150 meters. These data were used to develop a geological wireframe model and a three-dimensional block model covering the mineralized zones, specifically the limonite and saprolite zones. The bulk density for the limonite zone is 1.58 gr/cm³, while the saprolite zone has a density of 1.56 gr/cm³. Resource classification was determined based on drill spacing, using a cut-off grade of 1% for the measured category. The estimation results for the limonite zone show a measured class with 4.2 million wet tons and 1.34% Ni grade; an indicated class with 2 million wet tons and 1.22% Ni; and an inferred class with 4.1 million wet tons and 1.23% Ni, all using a 1% Ni CoG. Meanwhile, the saprolite zone shows a measured class with 1.6 million wet tons and 1.7% Ni; an indicated class with 1.2 million wet tons and 1.49% Ni; and an inferred class with 3.1 million wet tons and 1.33% Ni, also using a 1% Ni CoG. The measured category indicates that the study area has the highest level of geological confidence in demonstrating the distribution of grade and mineral content and has met the economic feasibility requirements for mining."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nameera Putri Ramaditha
"Daerah penelitian secara administratif berada di daerah Ganda-Ganda, Kecamatan
Petasia, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah. Pelapukan batuan
ultramafik menghasilkan endapan laterit dengan karakteristik yang berbeda disetiap
daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mineralogi dan geokimia
endapan nikel laterit dan batuan dasar, serta derajat laterisasi dan distribusinya pada
daerah penelitian. Data yang digunakan merupakan data lapangan dari 6 profil laterit
berupa 39 sampel batuan dan tanah, serta data assay dari analisis XRF (X-Ray
Fluorescence) dan XRD (X-Ray Diffraction). Profil laterit pada daerah penelitian terdiri
dari limonit dengan kadar Ni 0,2 – 0,47%, serta saprolit 0,23 – 0,89% (termasuk sampel
bedrock). Sampel bedrock yang merupakan bongkah batuan disekitar lapisan saprolit
secara mineralogi dianggap mewakili batuan dasar di bawah permukaan, memiliki kadar
Ni 0,56 – 0,89% dan diinterpretasikan merupakan rocky saprolite. Nikel pada limonit
secara dominan berasosiasi dengan mineral goetit dan gibsit, sementara pada saprolit
berasosiasi dengan mineral serpentin (lizardit dan antigorit), talk, olivin (forsterit dan
fayalit), dan piroksen (enstatit). Derajat laterisasi pada daerah penelitian menunjukkan
limonit mengalami moderate – strongly lateritized, saprolit kaolinitized – strongly
laterized dan Index of laterization (IOL) berkorelasi positif dengan hubungan korelasi
kuat terhadap Fe pada limonit, saprolit, dan bedrock, sementara berkorelasi negatif
terhadap Ni dengan hubungan lemah pada sampel bedrock.

The research area is administratively located in Ganda-Ganda, Petasia District,
North Morowali Regency, Central Sulawesi Province. Weathering of ultramafic rocks
produces laterite deposits with different characteristics in each area. This study aims to
determine the mineralogical and geochemical characteristics of nickel laterite deposits
and bedrock, as well as the degree of laterization and its distribution in the research area.
The data used include field data from 6 laterite profiles consisting of 39 rock and soil
samples, as well as assay data from XRF (X-Ray Fluorescence) and XRD (X-Ray
Diffraction) analyses. The laterite profiles in the study area consist of limonite with Ni
content of 0.2 – 0.47%, and saprolite with Ni content of 0.23 – 0.89% (including bedrock
samples). The bedrock samples, which are rock fragments around the saprolite layer, are
mineralogically considered to represent the bedrock beneath the surface, with Ni content
of 0.56 – 0.89% and are interpreted as rocky saprolite. Nickel in limonite is predominantly
associated with the minerals goethite and gibbsite, while in saprolite it is associated with
serpentine minerals (lizardite and antigorite), talc, olivine (forsterite and fayalite), and
pyroxene (enstatite). The degree of laterization in the study area shows that limonite is
moderately to strongly lateritized, saprolite is kaolinitized to strongly laterized, and the
Index of Laterization (IOL) positively correlates with Fe in limonite, saprolite, and
bedrock, while it negatively correlates with Ni with a weak correlation in bedrock
samples.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwipuji Rahayu
"Bijih nikel laterit merupakan salah satu sumber mineral terbesar yang terdapat di Indonesia. Bijih ini memiliki potensial yang sangat besar untuk dilakukan proses pengolahan dan pemurnian, namun membutuhkan energi yang tinggi dalam pemisahan mineral ataupun mineral ikutan, sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi tinggi pula. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan tahap pra-reduksi yaitu proses reduksi karbotermik. Proses reduksi karbotermik banyak digunakan untuk bijih nikel tipe saprolit, dimana proses tersebut membutuhkan reduktor untuk mereduksi bijih nikel laterit menjadi logam nikel murni.
Reduktor yang umum digunakan adalah batu bara dan kokas. Namun, pada penelitian ini dilakukan pengembangan proses reduksi karbotermik bijih nikel laterit tipe saprolit menggunakan reduktor biomassa, yaitu cangkang kelapa sawit. Dalam penelitian, digunakan bijih nikel laterit dari Halmahera Timur dan cangkang kelapa sawit dari limbah perkebunan kelapa sawit di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Bijih nikel laterit direduksi ukurannya hingga menjadi partikel serbuk 270.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu reduksi terhadap hasil reduksi karbotermik bijih nikel laterit, dengan temperatur dan rasio massa dibuat konstan. Variasi waktu reduksi yang diuji dalam penelitian ini adalah 1 jam, 2 jam, 3 jam dan 4 jam. Seluruh sampel diuji pada temperatur 800oC dan rasio massa 1:4 bijih nikel laterit:cangkang kelapa sawit yang dimasukkan ke suatu krusibel dan reduksi karbotermik dilakukan di dalam melting furnace.
Hasil XRD menyatakan bahwa peak yang terbentuk sudah dapat mereduksi hematite atau magnetite menjadi wustite pada waktu reduksi 1 jam. Hasil XRF menunjukkan bahwa pada waktu reduksi selama 1 jam merupakan waktu optimum karena kandungan unsur Nikel dan Nikel Oksida NiO didapatkan paling tinggi diantara variasi waktu lainnya.

Lateritic nickel ore is one of the biggest mineral source in Indonesia. There is large potential to acquire high concentration of nickel by processing and refining the ore, but because there is high energy use for mineral separation or gangue minerals processing, the cost will be high. Therefore, to resolve that problems, the pre reduction stage called carbothermic reduction process is carried out. Carbothermic reduction process usually used for saprolite which needs a reductor for the reduction reaction of lateritic nickel ore to produce pure nickel.
Common reductor used are coal and cokes. In this study, development on carbothermic reduction of saprolite type of lateritic nickel ore using biomass reductor palm kernel shell is conducted. The lateritic nickel ore used are obtained from Halmahera Timur and the palm kernel shells are obtained from the waste of palm oil plantation at Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Size of the ore are reduced to powder particle with 270 size.
The purpose of this study is to find out the effect of reduction time variation on carbothermic reduction result of lateritic nickel ore with constant temperature and mass ratio value. Reduction time variation used in this study are 1, 2, 3, and 4 hours. All samples are tested at 800oC with mass ratio of 1 4 lateritic nickel ore palm kernel shell which are put into a crucible and then the carbothermic reduction process done in an melting furnace.
Peak formed on XRD results show that the process can reduce hematite or magnetit to wustite within one hour. XRF results show that reduction time of one hour is the optimum time because nickel and nickel oxide NiO content are highest compared to other time variation.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67537
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sinuraya, Yohanes Tampe Malem
"Kompleksitas tektonisme bagian timur Pulau Sulawesi menyebabkan terangkatnya kerak Samudra Pacific ke atas kerak benua Pulau Sulawesi. Peristiwa ini menciptakan tersingkapnya batuan dasar berupa batuan ultramafik yang kaya akan nikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek daerah penelitian terhadap endapan nikel laterit ditinjau dari aspek geologi berupa tipe batuan dasar dan geomorfologi. Penelitian diawali dengan mengklasifikasikan satuan geomorfologi yang kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel batuan dasar. Analisis yang dilakukan berupa analisis petrologi dan petrografi, analisis statistik deskriptif, dan analisis geostatistika. Hasil penelitian didapati bahwa Sebagian besar daerah penelitian tersusun batu harzburgit dan lerzolit. Dari analisis geomorfologi ditemukan bahwa dominan daerah penelitian merupakan perbukitan rendah bergelombang dengan kemiring lereng 10% hingga 25%. Perbedaan kadar Ni pada batuan harzburgit dan lerzolit pada daerah penelitian tidak memberikan nilai signifikan. Ketebalan saprolit paling tinggi ditemukan pada satuan perbukitan rendah dengan kemiringan landai, sementara limonit pada dataran rendah pedalaman dengan kemiringan leren landai, dengan zona distribusi Ni dan ketebalan zona saprolit paling tinggi berada di sisi barat daerah penelitian.

The tectonic complexity of estern parts of Sulawesi Island causes the lifting of the Pacific oceanic crust above the continental crust of Sulawesi Island. This event creates the exposure of bedrock in the form of ultramafic rocks which are rich in nickel. This study aims to determine the prospects of the research area for nickel deposits viewed from the geological aspects, especially from bedrock type and geomorphology. The research begins with classifying geomorphological units which is then followed by taking bedrock samples. The analysis comprise of petrological and petrography analysis, descriptive statistical analysis, and geostatistic analysis. The results showed that the study area mainly composed of harzburgite and lherzolite rocks. From the geomorphological analysis, it was found that the dominant study area was low undulating hills with a sloping slope of 10° to 25°. The difference in Ni content in harzburgite and lherzolite rocks in the study area did not provide a significant value. The highest thickness of saprolite is found in low hill units with a gentle slope, while limonite is found in inland lowlands with a gentle slope. Ni distribution zone and the thickness of the saprolite zone is highest on the west side of the study area."
2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Nibras Azza Adhikara Purusa
"This study was an investigation of iron removal process part of mixed hydroxide precipitate of nickel and cobalt downstream by using pregnant leach solution of nickel laterite atmospheric leaching. By the usage of calcium carbonate (CaCO3) as the reagent, the effect of pH (1, 2, 3) and reagent concentration (20% and 25%) was observed and investigated in this research. Characterization processes of XRD and SEM EDS were done for semi-quantitative and qualitative data of precipitates with addition of ICP-OES as quantitative data for the filtrate. Elements, such as Ni, Fe, Al, Cr and Co were observed as the main scope of the research. Additional acid neutralization elements, such as Ca and S are observed as well. Analysis based on precipitates demonstrate that the acid neutralization process took place with sufficient amount of iron in the precipitates with the least amount of nickel. In addition, all pH and concentration of precipitates qualitatively illustrate the same neutralization process involving calcium and sulfur. From the results of filtrate through ICP testing, pH 1 for both 20% and 25% concentration provide the smallest recovery rate alongside the smallest ppm compare to pH 2 and 3; thus, the iron precipitates in the formation of iron sulfide and/or iron sulfate. Overall, the optimum parameter in this study is 25% of calcium carbonate, pH 1, 90oC for 2 hours of agitation.

Penelitian ini merupakan investigasi proses pembuangan besi yang merupkana bagian dari hilir proses endapan hidroksida campuran (MHP) nikel dan kobalt dengan menggunakan larutan pelindian atmosferik nikel lateritik. Dengan penggunaan kalsium karbonat sebagai reagen, pengaruh pH (1, 2, 3) dan konsentrasi reagen (20% dan 25%) diamati dan diteliti dalam penelitian ini. Proses karakterisasi XRD dan SEM EDS dilakukan untuk data semi kuantitatif dan kualitatif endapan dengan penambahan ICP-OES sebagai data kuantitatif teruntuk filtratnya. Unsur-unsur seperti Ni, Fe, Al, Cr dan Co diamati sebagai ruang lingkup utama penelitian. Unsur penetral asam tambahan, seperti Ca dan S juga menjadi elemen penting untuk diamati. Analisis berdasarkan endapan menunjukkan bahwa proses netralisasi asam berlangsung dengan jumlah besi yang cukup pada endapan dengan jumlah nikel paling sedikit. Selain itu, semua pH dan konsentrasi endapan secara kualitatif menggambarkan proses netralisasi yang sama yang melibatkan kalsium dan sulfur. Menelisik hasil filtrat yang dianalisa menggunakan ICP, pH 1 untuk konsentrasi 20% and 25% kalsium karbonat memeliki jumlah besi yang sedikit di filtrat sehingga besi mengendap di bawah filtrat. Dengan demikian, parameter yang paling efisien dalam studi ini adalah 25% kalsium karbonat menggunakan pH 1 dengan temperatur 90oC dan dalam waktu 2 jam."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tasha Nagasie
"Nikel merupakan salah satu unsur dengan kegunaan yang sangat bervariasi dan juga tuntutan produksi yang sangat tinggi. Nikel dengan kadar tinggi seperti nikel sulfida sudah mulai berkurang sumbernya sehingga perlu ditemukan alternatif yaitu, mulai dilaksanakan eksplorasi endapan nikel laterit meskipun cenderung memiliki kadar yang rendah, dan Indonesia merupakan salah satu penyuplai utama nikel dengan sumberdaya nikel laterit yang melimpah. Secara stratigrafi lokasi penelitian terdiri atas Formasi Tokala, Kompleks Ultramafik, dan Formasi Matano.
Tujuan dari penelitian ini mengestimasi besarnya sumberdaya berdasarkan pendekatan pemodelan geologi. Metode pemodelan ini menggunakan data bor  untuk menentukan zona dan ketebalan dari zona limonit dan saprolit. Metode yang digunakan merupakan Ordinary Kriging (OK) dan Inverse Distance Weight (IDW). Berdasarkan pemodelan dan estimasi yang telah dilakukan dari endapan nikel laterit di Lapangan X volume yang didapatkan sebesar 4,652,184 m3 dan tonase sebesar 7,443,494 ton dengan kadar Ni sebesar 1.01%wt untuk metode Ordinary Kriging, serta volume sebesar 4,896,312 m3 dan tonase sebesar 7,834,099 ton dan kadar Ni sebesar 1.02%wt untuk metode Inverse Distance Weight. Selisih dari nilai estimasi yang didapatkan adalah 4.9%.

Nickel is an element with a variety of uses and is in high demand for production. High grade nickel ore such as nickel sulfides has depleting resources and thus an alternative is needed which comes in the form of lateritic nickel exploration despite the lower grade the deposits offer, and Indonesia is one of the main nickel suppliers in the world with abundant lateritic resources. Stratigraphically the area of study consists of the Tokala Formation, Ultramafic Complex, and Matano Formation. The main purpose of this study is estimating the resources based on geological modelling. The method of this study is by using borehole data to determine the zone and thickness of limonite and saprolite zone. Methods used include Ordinary Kriging (OK) and Inverse Distance Weight (IDW). Based on the modelling and resource estimation of nickel laterite, the volume is 4,652,184 m3 with tonnage of 7,443,494 ton and Ni grades of 1.01%wt for the Ordinary Kriging method, as well as a volume of 4,896,312 m3 and tonnage of 7,834,099 ton with Ni grade of 1.02%wt for Inverse Distance Weight method. The difference of estimated values is 4,9%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>