Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 218485 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Risqa Amanda
"Mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah kerap menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan kampus, meskipun telah mendapatkan dukungan melalui kebijakan afirmatif seperti program beasiswa. Kondisi ini mencerminkan adanya kerentanan psikososial yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka, terutama pada fase perkembangan krusial sebagai mahasiswa yang sedang berada pada tahap emerging adulthood. Pada fase ini, individu sedang berada dalam proses pencarian jati diri, membangun relasi sosial yang bermakna, serta menetapkan arah hidup ke depan. Dalam konteks tersebut, penting bagi mahasiswa untuk memiliki kesejahteraan subjektif, yaitu sejauh mana individu merasa puas terhadap hidupnya dan sering merasakan emosi positif dibandingkan emosi negatif. Persepsi terhadap dukungan sosial menjadi penting karena dapat menumbuhkan rasa aman, diterima, dan terhubung dengan lingkungan. Sementara itu, efikasi diri menggambarkan keyakinan seseorang atas kemampuannya dalam menghadapi tantangan dan mencapai tujuan. Minimnya kedua faktor tersebut dapat membuat mahasiswa dari keluarga kurang mampu cenderung memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan mahasiswa lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif mahasiswa penerima Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) di Universitas Indonesia (UI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2025. Instrumen yang digunakan meliputi Skala Kesejahteraan Subjektif, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), dan General Self-Efficacy Scale (GSES). Penelitian ini melibatkan 181 mahasiswa penerima KJMU di Universitas Indonesia sebagai sampel. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan bantuan Microsoft Excel dan SPSS untuk memperoleh gambaran serta hubungan antar variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat kesejahteraan subjektif dan dukungan sosial dalam kategori tinggi, sementara efikasi diri dalam kategori sedang. Analisis dengan uji Somers’ D menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif (D = .299, p < .001), begitu pula dengan efikasi diri (D = .255, p < .001). Meskipun kekuatan hubungan berada pada kategori lemah, hasil ini tetap menunjukkan bahwa baik dukungan sosial maupun efikasi diri memainkan peran penting dalam mendukung kesejahteraan subjektif mahasiswa. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi akan adanya dukungan sosial yang memadai serta keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi penyelenggara beasiswa untuk tidak hanya memberi bantuan finansial, tetapi juga intervensi psikososial, serta mendorong riset lanjutan untuk kesejahteraan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Students from low-income families often face challenges in adapting to campus life dynamics, even with the support of affirmative policies such as scholarship programs. This condition reflects a psychosocial vulnerability that may affect their quality of life, especially during a critical developmental stage, emerging adulthood. At this stage, individuals are in the process of identity exploration, building meaningful social relationships, and setting the direction of their future lives. In this context, subjective well-being becomes crucial. It refers to the extent to which individuals feel satisfied with their lives and frequently experience positive rather than negative emotions. Social support plays an important role by fostering a sense of security, acceptance, and connection to the surrounding environment. Meanwhile, self-efficacy reflects a person’s belief in their ability to face challenges and achieve goals. The lack of these two factors may lead students from low-income families to experience lower levels of subjective well-being compared to their peers. This study aims to identify the relationship between social support and self-efficacy with the subjective well-being of Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) scholarship recipients at Universitas Indonesia (UI). The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design, conducted from February to May 2025. The instruments used included the Subjective Well-Being Scale, the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), and the General Self-Efficacy Scale (GSES). A total of 181 KJMU recipient students at Universitas Indonesia participated in the study. The collected data were analyzed using Microsoft Excel and SPSS to obtain an overview and to examine the relationships between the variables. The results showed that most students had high levels of subjective well-being and social support, while self-efficacy was at a moderate level. Analysis using Somers’ D test indicated a positive relationship between social support and subjective well-being (D = .299, p < .001), as well as between self-efficacy and subjective well-being (D = .255, p < .001). Although the strength of these relationships was categorized as weak, the findings demonstrate that both social support and self-efficacy play an important role in supporting students’ subjective well-being. These findings emphasize that having a strong sense of self-efficacy and perceiving adequate social support are essential in enhancing the quality of life among university students, particularly those from underprivileged backgrounds. The results are expected to serve as a basis for designing more inclusive and responsive psychosocial support policies and practices for scholarship recipients."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatin Rohmah Nur Wahidah
"ABSTRAK

Kebahagiaan menjadi kebutuhan penting yang tidak dapat dihindarkan bagi setiap orang, termasuk buruh. Purbalingga sebagai sentra industri rambut dan bulu mata palsu terbesar kedua di dunia, telah mempekerjakan puluhan ribu buruh perempuan di industri ini. Bagaimana gambaran kebahagiaan buruh perempuan industri rambut? Konsep kebahagiaan sering disebut sebagai subjective well-being atau SWB. SWB merujuk pada evaluasi individu dari hidupnya, dalam pikiran dan perasaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan SWB pada buruh perempuan industri rambut di Purbalingga. Responden yang terlibat sebanyak 210 responden adalah buruh perempuan, usia 18-60 tahun, dan masih aktif bekerja di bagian produksi industri rambut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner. SWB diukur menggunakan alat ukur terpisah, yaitu Satisfaction With Life Scale (SWLS) yang mengukur kepuasan hidup dan Positive And Negative Affect Schedule (PANAS) yang mengukur frekuensi afek. Hasil penelitian ini menunjukkan para buruh memiliki kepuasan hidup cukup atau rata-rata dan lebih sering mengalami afek positif daripada afek negatif. Adapun ranah kehidupan buruh setelah diukur menggunakan alat ukur Domain Satisfaction, paling memuaskan adalah keluarga namun, paling tidak memuaskan adalah penghasilan.


ABSTRACT

Happiness is an unavoidable important need for everyone, including workers. Purbalingga as the second largest wig and false eyelashes industrial center in the world, has hired thousands of women workers in this industry. How was the image of women workers‟ happiness in this industry? The concept of happiness is often referred to as subjective well-being or SWB. SWB refers to an individual evaluation of his life, in the form of thought and feeling. This research aimed to describe subjective well-being of women labor of hair industries in Purbalingga. Respondents who were involved are 210 women workers respondents, aged 18-60 years old, and still actively working as labors in hair industries. The research method used was quantitative methods with data collection through questionnaire. SWB measured by a separate measurement instrument; Satisfaction With Life Scale (SWLS) that measured life satisfaction and Positive And Negative Affect Schedule (PANAS) that measured frequency of affect. The results of this study indicated that the workers have an average life satisfaction and more frequent positive affect than negative affect. From Domain Satisfaction scale, the most satisfied domain of life for labor was family and the least was income.

"
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S56391
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Hariyanto
Jakarta: BNI, 2004
R 371.22025 BAM d I
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Hariyanto
Jakarta: BNI, 2004
R 371.22025 BAM d II
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Dimas Muhammad Anwar
"ABSTRAK
Bantuan Siswa Miskin BSM merupakan program pemerintah Indonesia dalam rangka mengalihkan subsidi bahan bakar minyak ke sektor yang lebih produktif. BSM bertujuan untuk mengurangi beban rumah tangga miskin akibat kenaikan bahan bakar bersubsidi dan juga untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selama ini besarnya dampak BSM terhadap kualitas pendidikan belum pernah diteliti secara kuantitatif. Untuk mengisi gap penelitian tersebut, studi ini dilakukan dengan dua tujuan: 1 mengetahui dampak BSM terhadap tingkat partisipasi sekolah siswa miskin dan 2 mengetahui dampak BSM terhadap kualitas belajar siswa miskin yang diukur melalui kemampuan berhitung numeracy skill . Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah panel Fixed Effect with Propensity Score Matching. Data yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari Indonesia Familiy Life Survey IFLS periode 4 dan 5. Setelah mengontrol pendidikan orang tua, usia, pengeluaran keluarga dan domisili penduduk, peneliti menemukan bahwa BSM signifikan dalam meningkatkan probabilitas siswa miskin untuk bersekolah sebesar 30 dan memiliki numeracy test score yang lebih tinggi 3,1 poin dibandingkan siswa yang tidak menerima BSM.

ABSTRACT
Bantuan Siswa Miskin BSM is one of Indonesian rsquo s government program that shifted energy subsidy to more productive sector. The purpose of BSM is to alleviate households burden in education to cope with increasing of subsidized fuel and to increase the quality of education. The impact of BSM had not been researched by quantitative approach. To fill the research gap in quantitative impact evaluation on BSM, this study aims to know 1 Impact of BSM in school participation 2 Impact of BSM for quality of education, that represented by numeracy skill. This research use Fixed Effect with Propensity Score Matching method. This research use data from fourth and fifth wave Indonesia Familiy Life Survey IFLS . With the control of parent rsquo s education, age, household expenditure and domicile, this research found significant effect of BSM to increase school participation by 30 and numeracy test score by 3,1 points higher between treated and control group. "
2017
S68443
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Farhan
"

Penelitian mengenai pengaruh bantuan pendidikan terhadap luaran tertentu masih jarang dibahas di Indonesia. Penelitian terkait bantuan pendidikan di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Cameron(2009) untuk melihat pengaruh Jaringan Pengaman Sosial(JPS) dalam menahan laju drop out(DO). Studi yang pernah dilakukan terkait bantuan pendidikan menemukan hubungan positif jumlah bantuan terhadap partisipasi perguruan tinggi. Penelitian lain menemukan hubungan negatif bantuan terhadap pengurangan probabilitas drop out. Penelitian ini melihat pengaruh adanya bantuan pendidikan terhadap luaran pasar kerja dalam bentuk upah dengan menggunakan data Indonesia Family Life Survey(IFLS). Akibat efek dari bantuan ke upah terhubung secara tidak langsung dengan upah maka perlu adanya variabel antara yaitu lama tahun bersekolah(LTS). Penelitian ini menggunakan data cross-section dinamis dengan menggabungkan data pada dua gelombang IFLS 4 dan IFLS5. Metode regresi yang digunakan adalah Two Stage Least Square(TSLS) untuk menjabarkan efek Indirect dari bantuan terhadap upah terhadap LTS dan LTS terhadap upah. Hasil estimasi menunjukkan setiap anak yang menerima bantuan memiliki lama tahun bersekolah lebih tinggi sebesar 0.90-0.99 tahun dibanding non-penerima. Setiap kenaikan 1 tahun LTS berasosiasi dengan peningkatan upah sekitar 6.3-7.8%. Sehingga bantuan pendidikan mempengaruhi upah sebesar 5,67%-7,23%. Bagaimanapun masalah utama dari penelitian ini adalah ukuran sampel yang kecil, inclusion error pada penerima bantuan, dan bias pada penduduk yang berdomisili di Kota dan Pulau Jawa.

 



Research concerning effect of student aid to certain outcomes rarely come to academic discourse in Indonesia. One of the first research on said topic was carried by Cameron(2009) who investigate the effect of Jaringan Pengaman Sosial(JPS) in decreasing drop out rate after Asian Crisis in 1998. Other study that investigated effect of student aid found positive correlation between aid grant and college participation; and negative association between aid and probability to drop out from college. This research investigated effect of student aid on labor market outcome in term of wage. Due to indirect effect of aid to wage, thus we need intermediary variable represented by year of schooling. I utilized IFLS 4 and IFLS 5 data with dynamic-cross section approach. I employed two stage least square to break down the effect of aid on year of schooling and effect of year of schooling on wage. I found for each person who received aid on 2007 have higher year of schooling compare to their non-recipient counterpart around 0.90-0.99 year. For each 1 year increase in year of schooling correlated with increase of wage around 6.3-7.3%. Thus student aid has affected wage around 5,67%-7,23%. However, the main issue of this research were limited and small sample, inclusion error in it aid receipient, and domicile bias of Java and Urban.

"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lackson Muchimba
"This thesis, “Improving Student Loans in Zimbabwean Higher Education: A Case Study of Midlands State University,” addresses critical issues in the accessibility and effectiveness of student loans at MSU. The study explores barriers to accessing student loans, such as bureaucratic inefficiencies, stringent requirements, procedural delays, high interest rates, inflexible repayment schedules, and lack of transparency, all of which are exacerbated by Zimbabwe’s economic instability. The study uses qualitative research methods. To improve loan accessibility, the study recommends reformulating eligibility criteria to focus on students’ financial need and academic performance, introducing alternative repayment options such as work-study programs, improving communication through workshops, and offering fixed-rate loans and emergency funds. Collaboration with government and the private sector for loan guarantees or subsidies is also proposed. Drawing on Credit Rationing Theory, the study provides a framework for policymakers and administrators to create a more inclusive and supportive financial environment, encouraging higher educational attainment and economic mobility.

This thesis, "Improving Student Loans in Zimbabwean Higher Education: A Case Study of Midlands State University," addresses critical issues in student loan accessibility and effectiveness at MSU. The study explores the obstacles to accessing student loans, such as bureaucratic inefficiencies, stringent requirements, procedural delays, high-interest rates, inflexible repayment schedules, and a lack of transparency, all exacerbated by Zimbabwe's economic instability. The study used qualitative research method. To improve loan accessibility, the study recommends reformulating eligibility criteria to focus on students' financial needs and academic performance, introducing alternative repayment options such as work-study programs, enhancing communication through workshops, and offering fixed-rate loans and emergency funds. Collaborations with the government and private sector for loan guarantees or subsidies are also proposed. Grounded in Credit Rationing Theory, this research provides a framework for policymakers and administrators to create a more inclusive and supportive financial environment, promoting higher educational attainment and economic mobility."
Jakarta: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Salsabiah Firdausiah
"Sekarang ini perusahaan membutuhkan karyawan dengan perilaku kerja inovatif, oleh karenanya sangat penting untuk mempersiapkan karyawan memiliki perilaku ini sejak mereka masih mahasiswa. Penelitian korelasional ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat hubungan antara efikasi diri kreatif dan perilaku kerja inovatif pada mahasiswa. Efikasi diri kreatif diukur dengan alat ukur yang dibuat oleh Tierney dan Farmer (2002). Perilaku kerja inovatif diukur dengan alat ukur yang dikembangkan oleh Janssen (2000) yang kemudian item-itemnya dimodifikasi agar sesuai dengan keadaan responden yaitu mahasiswa. Responden penelitian yang datanya dapat dianalisa berjumlah 539 mahasiswa jenjang sarjana S1 di Universitas Indonesia dan merupakan mahasiswa yang minimal sedang menempuh semester empat. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan menggunakan teknik statistik Pearson Correlation. Ditemukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara efikasi diri kreatif dan perilaku kerja inovatif pada mahasiswa, r(538) = 0,67, p= 0,00 (p < 0,01, one-tailed). Effect size untuk analisis ini dapat dikatakan termasuk large effect karena r> 0,5. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi efikasi diri kreatif mahasiswa, maka semakin tinggi pula perilaku kerja inovatif mereka. Hasil ini dari penelitian ini bisa memberikan manfaat yaitu, menambah literatur tentang perilaku kerja inovatif pada mahasiswa dan memberikan masukan kepada pihak kampus untuk meningkatkan efikasi diri kreatif mahasiwanya agar perilaku kerja inovatifnya bisa meningkat pula, dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan program pelatihan.

Nowadays, companies need employees with innovative work behavior. Therefore, it is very important to prepare employees to have this behavior since they are still in college. This correlational research was then conducted to look at the relationship between creative self-efficacy and innovative work behavior among college students. Creative self-efficacy is measured by a measurement by Tierney and Farmer (2002). Innovative work behavior is measured by a measurement by Janssen (2000), the items were modified to correspond with the condition of college students. The data that can be analyzed were from 539 undergraduate students at Universitas Indonesia and were at least taking their fourth semester. This research is a quantitative study, using the Pearson Correlation statistical technique the researcher found that there is a positive and significant relationship between creative self-efficacy and innovative work behavior among college students, r(538) = 0.67, p= 0.00 (p<0.01, one-tailed). The effect size for this analysis can be included as a large effect, because r> 0.5. Thus, it can be said that the higher the students' creative self-efficacy, the higher their innovative work behavior. These results can provide benefits such as adding literature on innovative work behavior among college students and providing input for the universities to improve the students' creative self-efficacy so that their innovative work behavior can also improve, by joining extracurricular activities and training programs."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brahmanditha Ardian Mahatma
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kecerdasan emosi dan self-efficacy dengan prestasi akademik. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi dan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain (Goleman, 1999). Self-efficacy merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang mengenai kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan tindakan dalam mencapai suatu tujuan tertentu (Bandura, 1997). Menurut KBBI, prestasi akademik adalah hasil pencapaian seseorang yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar di sekolah atau perguruan tinggi yang biasanya ditunjukan dengan nilai angka atau simbol. Kecerdasan emosi diukur menggunakan Emotional Intelligence Inventory (EII) dan self-efficacy diukur menggunakan College Academic Self-Efficacy Scale (CASES). Penelitian ini dilakukan pada 178 mahasiswa Universitas Indonesia angkatan 2012, 2013, 2014, dan 2015. Data penelitian diolah menggunakan teknik statistik Pearson Correlation & Multiple Correlation.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosi dan prestasi akademik, self-efficacy dengan prestasi akademik, maupun kecerdasan emosi dan self-efficacy secara bersama-sama mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan prestasi akademik. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan kepada seluruh sivitas akademik terutama psikologi pendidikan, untuk mempertimbangkan aspek kecerdasan emosi dan self-efficacy demi pencapaian prestasi akademik mahasiswa yang lebih baik.

This study aimed to examine the relationship between emotional intelligence and self-efficacy with academic achievement. Emotional intelligence is the ability to recognize our own feelings and the feelings of others, motivating and managing emotions well in ourselves and in relationships with others (Goleman, 1999). Self-efficacy is the belief that one has the ability to organize and carry out actions in achieving a particular goal (Bandura, 1997). According KBBI, academic achievement is the achievement of an individual derived from teaching and learning activities in schools or colleges that usually indicated by the value of numbers or symbols. Emotional intelligence was measured using the Emotional Intelligence Inventory (EII) and self-efficacy was measured using the College Academic Self-Efficacy Scale (CASES). This study was conducted on 178 students of the University of Indonesia class of 2012, 2013, 2014, and 2015. Data were analyzed using statistical techniques Pearson Correlation and Multiple Correlation.
The results showed that there is a positive and significant relationship between emotional intelligence and academic achievement, self-efficacy with academic achievement, as well as emotional intelligence and self-efficacy together have a positive and significant relationship with achievement. The results of this study can be input to all academic faculty primarily educational psychology, to consider aspects of emotional intelligence and self-efficacy for the sake of academic achievement of students better.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
S63256
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moses Anjas
"Penelitian ini membahas hubungan secure attachment dengan orang tua dan pengaruhnya terhadap penyesuaian diri mahasiswa rantau. Dalam konteks sosial, kemampuan mahasiswa perantau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru merupakan keharusan, terutama dalam masa transisi dari jenjang SMA/SMK ke perguruan tinggi yang sering kali melibatkan perbedaan budaya yang signifikan. Penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri mahasiswa perantau, dengan fokus khusus pada secure attachment dengan orang tua. Responden penelitian ini adalah 53 mahasiswa tahun pertama dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia yang berasal dari luar Jabodetabek. Pengumpulan data dilakukan pada Maret hingga Mei 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik stratified random sampling dan non-probability sampling, di mana pemilihan sampel ditentukan oleh peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara secure attachment dengan orang tua dan kemampuan penyesuaian diri mahasiswa perantau. Dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,248, ditemukan bahwa semakin tinggi secure attachment yang dimiliki mahasiswa perantau dengan orang tuanya, semakin baik pula kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri. Dalam konteks sosial, hal ini menunjukkan bahwa dukungan emosional yang kuat dari orang tua dapat menjadi faktor penting yang membantu mahasiswa perantau mengatasi tantangan budaya dan sosial di lingkungan baru. Dengan demikian, secure attachment dengan orang tua tidak hanya berperan dalam aspek emosional, tetapi juga dalam kemampuan mahasiswa untuk menavigasi dan beradaptasi dengan perubahan sosial yang signifikan selama masa transisi pendidikan tinggi.

This study discusses the relationship between secure attachment with parents and its influence on the adjustment of students who migrate. In a social context, the ability of migrating students to adapt to a new environment is essential, especially during the transition from high school to university, which often involves significant cultural differences. This study explores the factors influencing the adjustment of migrating students, with a particular focus on secure attachment with parents. The respondents of this study were 53 first-year students from the Faculty of Social and Political Sciences at the University of Indonesia who came from outside Jabodetabek. Data collection was conducted from March to May 2024. The research method used is quantitative with stratified random sampling and non-probability sampling techniques, where the sample selection is determined by the researcher. The results of this study indicate a significant positive relationship between secure attachment with parents and the adjustment ability of migrating students. With a correlation coefficient (r) of 0.248, it was found that the higher the secure attachment that migrating students have with their parents, the better their ability to adjust. In a social context, this indicates that strong emotional support from parents can be an important factor that helps migrating students overcome cultural and social challenges in a new environment. Thus, secure attachment with parents not only plays a role in the emotional aspect but also in the students' ability to navigate and adapt to significant social changes during the transition to higher education. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>