Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 161489 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fathimah Azzahro
"Lapangan ‘ZARA’ merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi batubara di bagian selatan Sub-Cekungan Palembang Tengah, Cekungan Sumatera Selatan. Lapangan ‘ZARA’ memiliki luas sebesar 768.60 km². Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan potensi kapasitas simpan pada Coal Seam FA yang merupakan bagian dari Formasi Muara Enim. Analisa Proksimat menunjukkan bahwa coal rank pada Seam FA tergolong peringkat rendah dengan jenis subbituminous-c. Hasil studi geologi dan pemodelan reservoir statik yang menggunakan data sumur, data seismik, dan data laboratorium. Seam FA memiliki ketebalan sebesar 8.60 m dan memiliki volume sebesar 86,012 m³. Kemudian, perhitungan estimasi kapasitas simpan gas karbondioksida pada Seam FA dilakukan menggunakan pendekatan pemodelan statik dan perhitungan volumetrik yang menggunakan data tersebut. Hasil dari perhitungan tersebut menunjukkan kisaran nilai Gas in Place (GIP) untuk Seam FA sebesar 1,712.72 – 2,902.42 BCF atau setara dengan 90.90 – 154.06 juta ton CO₂. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan dapat menyelesaikan permasalahan yang telah dirumuskan.

The ‘ZARA’ Field is one of the areas with coal potential located in the southern part of the Central Palembang Sub-basin, South Sumatra Basin. The ‘ZARA’ Field covers an area of 768.60 km². This study aims to identify the characteristics and storage capacity potential of the FA Coal Seam, which is part of the Muara Enim Formation. Proximate analysis indicates that the coal rank of Seam FA is classified as low rank with a sub-bituminous C type. The geological study and static reservoir modeling were conducted using well data, seismic data, and laboratory data. Seam FA has a thickness of 8.60 m and a volume of 86,012 m³. Furthermore, the estimation of carbon dioxide gas storage capacity in Seam FA was carried out using a static modeling approach and volumetric calculations based on these data. The results of the calculations show that the Gas in Place (GIP) values for Seam FA range from 1,712.72 to 2,902.42 BCF, equivalent to 90.90 to 154.06 million tons of CO₂. Based on these findings, it can be concluded that the applied method has successfully addressed the formulated research problem."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Daffa Bryant Putraprasetyo
"The safe transportation of carbon dioxide (CO2) through pipelines is vital for carbon capture and storage (CCS) to reduce greenhouse gas emissions. This study models CO2 dispersion and conducts a safety analysis for onshore pipeline leaks in Indonesia, focusing on gaseous and supercritical CO2, which a release depends on factors such as the size of the leak, release pressure, and environmental conditions. Key findings reveal that supercritical CO2 leaks exhibit greater dispersion due to higher momentum and expansion, with full-bore ruptures affecting areas over 2,000 meters. Leak proximity to the pipeline inlet increases mass release, while stability classes and wind speeds significantly influence dispersion. Integral models provide realistic hazard predictions, contrasting Gaussian models' conservatism. Even minor leaks can exceed hazardous CO2 levels (5000 ppm) over hundreds of meters, emphasizing the urgency of robust mitigation strategies to address thermal, mechanical, and toxic risks.

Pengangkutan karbon dioksida (CO2) yang aman melalui jaringan pipa sangat penting untuk penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Studi ini memodelkan dispersi CO2 dan melakukan analisis keamanan untuk kebocoran pipa darat di Indonesia, dengan fokus pada CO2 gas dan superkritis, yang pelepasannya bergantung pada faktor-faktor seperti ukuran kebocoran, tekanan pelepasan, dan kondisi lingkungan. Temuan utama mengungkapkan bahwa kebocoran CO2 superkritis menunjukkan dispersi yang lebih besar karena momentum dan ekspansi yang lebih tinggi, dengan pecahnya lubang penuh yang mempengaruhi area lebih dari 2.000 meter. Kedekatan kebocoran dengan saluran masuk pipa meningkatkan pelepasan massa, sementara kelas stabilitas dan kecepatan angin secara signifikan memengaruhi dispersi. Model integral memberikan prediksi bahaya yang realistis, kontras dengan konservatisme model Gaussian. Bahkan kebocoran kecil dapat melebihi tingkat CO2 yang berbahaya (5000 ppm) selama ratusan meter, yang menekankan urgensi strategi mitigasi yang kuat untuk mengatasi risiko termal, mekanis, dan toksik."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Daffa Bryant Putraprasetyo
"The safe transportation of carbon dioxide (CO2) through pipelines is vital for carbon capture and storage (CCS) to reduce greenhouse gas emissions. This study models CO2 dispersion and conducts a safety analysis for onshore pipeline leaks in Indonesia, focusing on gaseous and supercritical CO2, which a release depends on factors such as the size of the leak, release pressure, and environmental conditions. Key findings reveal that supercritical CO2 leaks exhibit greater dispersion due to higher momentum and expansion, with full-bore ruptures affecting areas over 2,000 meters. Leak proximity to the pipeline inlet increases mass release, while stability classes and wind speeds significantly influence dispersion. Integral models provide realistic hazard predictions, contrasting Gaussian models' conservatism. Even minor leaks can exceed hazardous CO2 levels (5000 ppm) over hundreds of meters, emphasizing the urgency of robust mitigation strategies to address thermal, mechanical, and toxic risks.

Pengangkutan karbon dioksida (CO2) yang aman melalui jaringan pipa sangat penting untuk penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Studi ini memodelkan dispersi CO2 dan melakukan analisis keamanan untuk kebocoran pipa darat di Indonesia, dengan fokus pada CO2 gas dan superkritis, yang pelepasannya bergantung pada faktor-faktor seperti ukuran kebocoran, tekanan pelepasan, dan kondisi lingkungan. Temuan utama mengungkapkan bahwa kebocoran CO2 superkritis menunjukkan dispersi yang lebih besar karena momentum dan ekspansi yang lebih tinggi, dengan pecahnya lubang penuh yang mempengaruhi area lebih dari 2.000 meter. Kedekatan kebocoran dengan saluran masuk pipa meningkatkan pelepasan massa, sementara kelas stabilitas dan kecepatan angin secara signifikan memengaruhi dispersi. Model integral memberikan prediksi bahaya yang realistis, kontras dengan konservatisme model Gaussian. Bahkan kebocoran kecil dapat melebihi tingkat CO2 yang berbahaya (5000 ppm) selama ratusan meter, yang menekankan urgensi strategi mitigasi yang kuat untuk mengatasi risiko termal, mekanis, dan toksik."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitanggang, Melati Naopat
"Kandungan gas CO2 dalam bahan bakar gas dapat menurunkan kualitas pembakaran. Sebagai contoh yaitu biogas yang umumnya mengandung 25-45% gas CO2, sehingga diperlukan proses pemurnian agar dicapai spesifikasi konsentrasi CO2 dibawah 5%. Pada penelitian ini, proses pemisahan CO2 dilakukan melalui metode absorpsi kimia dengan variasi jenis absorben (NaOH, Ca(OH)2, MEA, dan K2CO3) dan konsentrasi absorben dan menggunakan teknik jet bubble pada tekanan atmosferik. Proses absorpsi penelitian ini dapat menurunkan konsentrasi CO2 30–31,7%mol menjadi 3,6–8,5%mol, dengan efisiensi absorpsi CO2 tertinggi (88,67%) dicapai oleh absorben MEA. Semakin besar konsentrasi absorben maka semakin rendah konsentrasi CO2 yang dicapai dalam waktu absorpsi yang sama (70 menit), walaupun perbedaannya tidak signifikan karena konsentrasi absorben yang besar dibandingkan konsentrasi CO2. Perhitungan konstanta laju reaksi, ordo reaksi, dan faktor frekuensi tumbukan juga dilakukan. Absorben dengan konstanta laju reaksi (k) dari tertinggi hingga terendah bertutut-turut yaitu MEA (1,115-1,856), Ca(OH)2 (0,126- 0.510), NaOH (0.014-0.037), dan K2CO3 (0.0017- 0.0034). Faktor frekuensi tumbukan (k0) yang diperoleh 3,63×105–1.48×107.

The content of CO2 in gas fuel can reduce the quality of combustion. For example, biogas which generally contains 25-45% CO2, so a purification process is needed to achieve a specification of CO2 concentration below 5%. In this study, the CO2 separation process was carried out using a chemical absorption method with various types of absorbents (NaOH, Ca(OH)2, MEA, and K2CO3) and absorbent concentrations and using the jet bubble technique at atmospheric pressure. The absorption process in this study can reduce the CO2 concentration from 30–31.7% mol to 3.6–8.5% mol, with the highest CO2 absorption efficiency (88.67%) achieved by the MEA absorbent. The greater the absorbent concentration, the lower the CO2 concentration achieved in the same absorption time (70 minutes), although the difference is not significant because the absorbent concentration is large compared to the CO2 concentration. Calculations of reaction rate constants, reaction orders, and collision frequency factors were also carried out. The absorbents with reaction rate constants (k) from highest to lowest, consecutively are MEA (1.115-1.856), Ca(OH)2 (0.126- 0.510), NaOH (0.014-0.037), and K2CO3 (0.0017- 0.0034). The collision frequency factor (k0) obtained is 3.63×105–1.48×107."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Aulia Hasri
"Sleipner merupakan lapangan minyak dan gas pertama yang melakukan penginjeksian karbon dioksida untuk Carbon Capture and Storage (CCS). Penginjeksian ini pertama kali dilakukan pada tahun 1996. Penulis telah melakukan seismic monitoring dengan metode inversi model-based terhadap data tahun 1994 yang merupakan tahun sebelum injeksi karbon dioksida, serta tahun setelah injeksi karbon dioksida, yaitu tahun 2001 dan 2010. Hasil inversi pada tahun 1994, 2001, dan 2010 menunjukkan rentang impedansi akustik yang konsisten untuk shale, sedangkan bright spot menunjukkan adanya CO2 yang menyebabkan terjadinya penurunan nilai impedansi karena pengurangan kepadatan dan peningkatan kecepatan gelombang pada reservoir. Tidak ada kebocoran CO2 yang terdeteksi, dikarenakan keberadaan lapisan seal yang baik. Penginjeksian CO2 menyebabkan penurunan horizon Base Utsira sehingga membentuk seperti sinklin. Variasi impedansi akustik dipengaruhi oleh densitas CO2 yang lebih rendah daripada reservoir di zona saline aquifer. Temuan ini menggarisbawahi efektivitas CCS dan pentingnya teknik pemantauan yang kuat.

Sleipner is the first oil and gas field to perform carbon dioxide injection for Carbon Capture and Storage (CCS). This injection was first carried out in 1996. The author conducted seismic monitoring using the model-based inversion method for data from year 1994, which is the year before carbon dioxide injection, as well as in the years after carbon dioxide injection, namely 2001 and 2010. The inversion results for data from year 1994, 2001, and 2010 show a consistent range of acoustic impedance for shale, while bright spots indicate the presence of CO2, which causes a decrease in impedance values and density and increased wave velocity in the reservoir. No CO2 leakage was detected, due to the presence of a good seal layer. CO2 injection caused a decline in the Base Utsira horizon, forming a syncline-like. Variations in acoustic impedance are influenced by the lower density of CO2 compared to the reservoir in the saline aquifer zone. These findings underline the effectiveness of CCS and the importance of robust monitoring techniques."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silangit, Yemima Elsaria
"Upaya untuk mencapai peningkatan maksimal 1,5 derajat Celsius pada tahun 2030 hingga 2050 dalam Paris Agreement mengakibatkan meningkatnya upaya dalam menurunkan emisi CO2 di atmosfir. Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan emisi CO2secara mandiri sebanyak 32% berdasarkan penetapan Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC). Salah satu upaya penurunan emisi karbon yang dapat dilakukan adalah dengan metode Carbon Capture and Storage. Tujuan utama studi ini adalah untuk mendapatkan kelayakan teknis dan kelayakan ekonomi untuk sistem transportasi CO2 di lapangan minyak dan gas yang telah mengalami penurunan (depleted reservoir) di daerah Jawa Tengah. Tujuan ini dicapai melalui perancangan sistem transportasi CO2 dengan skenario point-to-point yang melibatkan fasilitas pipa existing, pemilihan spesifikasi peralatan tambahan, perhitungan investasi, serta perhitungan kelayakan keekonomian dari sistem. Perangkat yang digunakan dalam studi ini adalah perangkat lunak Aspen Hysys. Diperoleh hasil bahwa emisi CO2 dengan laju alir sebesar 2.100.298  ton/tahun layak secara teknis untuk ditransportasikan melalui pipa existingTransmisi X, dari PLTGU A ke depleted reservoir B di daerah Jawa Tengah, dengan spesifikasi Outer Diameter (OD) sebesar 14 in, panjang pipa 207 km, wall thickness minimum 11,9 mm, serta rating 900. CO2 ditransportasikan dalam fasa superkritikal dengan tekanan masuk pipa sebesar 135 bar, sehingga dibutuhkan penambahan peralatan untuk mengondisikan CO2 yang terdiri dari 5 kompresor, 1 pompa CO2 , 1 pompa air, 5 intercooler, dan 6 separator. Total Capital Investment yang dibutuhkan untuk proyek ini adalah sebesar $247 juta USD. Untuk menghitung kelayakan ekonomi proyek, digunakan skenario perhitungan berdasarkan pendapatan menggunakan harga karbon ETS Indonesia, ETS Australia, ETS UK, dan ETS Eropa. Diperoleh bahwa proyek layak secara ekonomi dengan skenario harga karbon ETS Eropa sebesar $61,3 USD/ton CO2 dengan parameter kelayakan ekonomi NPV sebesar $309 juta USD, IRR 21,19%, dan payback period selama 3,65 tahun.

The efforts to limit the global temperature increase to 1.5 degrees Celsius between 2030 and 2050 under the Paris Agreement have spurred heightened initiatives to reduce CO2 emissions worldwide. As part of this effort, the Indonesian government aims for a 32% reduction in CO2 emissions independently, based on the Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC). One effective method to achieve this reduction is through Carbon Capture and Storage (CCS). The primary objective of this study is to assess the technical and economic feasibility of a CO2 transportation system in depleted oil and gas fields in Central Java. This objective is pursued by designing a point-to-point CO2 transportation system that utilizes existing pipeline facilities, selecting specifications for additional equipment, calculating investment costs, and evaluating the system's economic feasibility using Aspen Hysys software. The study's findings indicate that it is technically feasible to transport CO2 emissions at a flow rate of 2,100,298 tons per year through the existing Transmisi X pipeline. This pipeline, stretching 207 km from PLTGU A to the depleted reservoir B in Central Java, has an outer diameter (OD) of 14 inches, a minimum wall thickness of 11.9 mm, and a rating of 900. Additional equipment is required to transport CO2 in a supercritical phase with a pipeline inlet pressure of 135 bar, including 5 compressors, 1 CO2 pump, 1 water pump, 5 intercoolers, and 6 separators. The total capital investment for this project is estimated at USD 247 million. Various carbon price scenarios were evaluated to determine the project's economic feasibility, including those from ETS Indonesia, ETS Australia, ETS UK, and ETS Europe. The analysis revealed that the project is economically viable under the ETS Europe carbon price scenario of USD 61.3 per ton of CO2, yielding an NPV of USD 309 million, an IRR of 21.19%, and a payback period of 3.65 years."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rifqi
"Gas CO2 merupakan penyebab utama terjadinya pemanasan global. Gas CO2 dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap. Dalam rangka mengurangi emisi gas CO2, Indonesia menandatangani Paris Agreement untuk mencegah terjadinya perubahan iklim. Di samping itu, Indonesia memiliki target untuk meningkatkan produksi minyak menjadi 1 juta barel per hari pada tahun 2030. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis risiko investasi proyek carbon capture untuk pemanfaatan enhanced oil recovery (EOR) di lapangan minyak wilayah Sumatera Selatan. Teknologi carbon capture yang digunakan adalah proses absorpsi menggunakan pelarut monoethanolamine (MEA). Hasil yang didapatkan dari penelitian adalah levelized cost carbon capture sebesar $32,25/ton CO2, levelized cost carbon compression sebesar $8,01/ton CO2, levelized cost carbon transport sebesar $39,51/ton CO2, dan levelized cost carbon injection & storage sebesar $5,64/ton CO2. Nilai parameter kelayakan investasi proyek yang didapatkan adalah net present value (NPV) sebesar $3.490.642.472,36, internal rate of return (IRR) sebesar 22,81%, profitability index (PI) sebesar 1,06, dan payback period (PBP) sebesar 7 tahun. Dengan derajat keyakinan 85% pada simulasi Monte Carlo, hasil distribusi keempat nilai parameter kelayakan investasi masih masuk dalam kriteria aman yang menandakan proyek layak untuk dijalankan. Aspek yang paling berpengaruh terhadap hasil parameter investasi adalah harga minyak, harga pipa, dan discount rate.

CO2 gas is the cause of global warming. CO2 gas is produced from coal-fired power plants. In order to reduce CO2 gas emissions, Indonesia signed the Paris Agreement to prevent climate change. Meanwhile, Indonesia has a target to increase oil production to 1 million barrels per day by 2030. Therefore, this study analyzes the investment risk of carbon capture projects for enhanced oil recovery (EOR) utilization in oil fields in the South Sumatra region. The carbon capture technology used is an absorption process using monoethanolamine (MEA) solvent. The results obtained are levelized cost carbon capture by $32.25/ton CO2, levelized cost carbon compression by $8.01/ton CO2, levelized cost carbon transport by $39.51/ton CO2, and levelized cost carbon injection & storage by $5.64/ton CO2. The project investment parameter obtained are net present value (NPV) of $3,490,642,472.36, internal rate of return (IRR) of 22.81%, profitability index (PI) of 1.06, and payback period (PBP) of 7 years. With a degree of confidence at 85% in the Monte Carlo simulation, the results of the fourth investment parameter are still categorized as acceptable, indicating that the project is feasible to run. The most impactful aspects of the results are oil price, pipeline price, and discount rate."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mario Ernst Belseran
"Isu perubahan iklim menjadi perhatian dunia dimana salah satunya peningkatan suhu udara akibat dari emisi gas rumah kaca. Perubahan iklim ini diakibatkan oleh gas-gas dalam atmosfer salah satunya yaitu CO2. DKI Jakarta sebagai ibukota memiliki jumlah penduduk yang padat dengan berbagai macam penggunaan lahan yang ada. Penggunaan lahan yang di dominasi oleh permukiman mengakibatkan berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berfungsi untuk menyerap CO2 di atmosfer. Intepretasi citra SPOT-7 digunakan untuk mengetahui tingkat kehijauan vegetasi pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan menggunakan indeks vegetasi NDVI, EVI, GNDVI dan OSAVI.
Pengukuran diameter dan tinggi pohon juga dilakukan untuk mendapatkan nilai biomassa yang akan dijadikan nilai serapan CO2. Nilai serapan CO2 yang tersebar di DKI Jakarta diklasifikasikan menjadi tiga kelas yaitu tinggi, sedang dan rendah. Pola sebaran dari nilai serapan CO2 pada RTH di DKI Jakarta di dominasi pada kelas sedang dengan pola persebaran berada di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Pola sebaran Ruang Terbuka Hijau (RTH) di DKI Jakarta tersebar secara acak dan lebih mendominasi di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

The issue of climate change become world attention where one of them increase in air temperature due to greenhouse gas emissions. This climate change is caused by gases in the atmosphere, one of which is CO2. DKI Jakarta as the capital has a dense population with a variety of existing land use. Land use that is dominated by settlements resulting in fewer green space, which functions to absorb atmospheric CO2. Image interpretation SPOT-7 is used to determine the level of greenness of vegetation on a green space using the vegetation index NDVI, EVI, GNDVI and OSAVI.
Measuring the diameter and height of trees were also performed to obtain the value of biomass that will be used as the CO2 absorption value. The CO2 absorption value that spread in Jakarta are classified into three classes: high, medium and low. The distribution pattern of CO2 absorption value at green space in Jakarta dominance in the medium class with the distribution pattern is located in South Jakarta, East Jakarta, North Jakarta and West Jakarta. The distribution pattern of green space in Jakarta scattered randomly and more dominate in East Jakarta and South Jakarta.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S65145
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sinaga, Timothy Keanu Putra
"Bioenergi dengan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (BECCS) merupakan teknologi net-negatif yang mampu menghasilkan energi terbarukan sekaligus menyerap emisi CO2. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi energi, intensitas emisi CO2-ek, biaya pokok produksi listrik (LCOE), dan biaya penghindaran karbon dari sistem BECCS berbasis biohidrogen dan biometana yang dihasilkan melalui proses digesti anaerobik dua tahap terhadap POME (Palm Oil Mill Effluent). Dilakukan simulasi sistem dua reaktor CSTR menggunakan Aspen Plus, dimana reaktor pertama menghasilkan H2 dan reaktor kedua menghasilkan CH4. Aspen HYSYS digunakan untuk simulasi gas sweetening hingga penangkapan CO2. Aliran gas dimurnikan melalui proses Thiopaq menggunakan kolom absorpsi NaOH dan bioreaktor regenerasi. Gas bersih kemudian dibakar dalam gas engine, menghasilkan listrik 2,2 MWh dan flue gas yang ditangkap menggunakan larutan MDEA. Gas CO2 selanjutnya dikompresi dan didehidrasi menggunakan TEG, lalu diinjeksikan ke reservoir geologis di Central Sumatra Basin, tepatnya di sumur injeksi Kab. Kampar, Riau. Pendekatan lingkungan dilakukan menggunakan metode life cycle assessment (LCA) dengan batasan sistem cradle to grave, sedangkan pendekatan ekonomi menggunakan metode LCOE. Hasil menunjukkan efisiensi energi sistem sebesar 23,98%, intensitas emisi sebesar −25,67 kg CO₂ek/MWh, LCOE sebesar USD 151,40/MWh, dan biaya penghindaran karbon sebesar USD 71,69/ton CO2.

Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS) is a net-negative technology capable of generating renewable energy while simultaneously capturing CO₂ emissions. This study aims to evaluate the energy efficiency, CO₂-equivalent emission intensity, levelized cost of electricity (LCOE), and cost of avoided carbon from a BECCS system based on biohydrogen and biomethane produced through a two-stage anaerobic digestion process of Palm Oil Mill Effluent (POME). A two-reactor CSTR system was simulated using Aspen Plus, where the first reactor produces H₂ and the second reactor produces CH₄. Aspen HYSYS was used to simulate the gas sweetening process through to CO₂ capture. The gas stream was purified using the Thiopaq process, which consists of a NaOH absorption column and a bioreactor for solvent regeneration. The cleaned gas was then combusted in a gas engine, generating 2.2 MWh of electricity and flue gas, which was captured using an MDEA solution. The captured CO₂ was subsequently compressed and dehydrated using TEG before being injected into a geological reservoir in the Central Sumatra Basin, specifically into an injection well located in Kampar Regency, Riau. The environmental assessment was conducted using a cradle-to-grave life cycle assessment (LCA), while the economic assessment used the LCOE approach. The results showed an overall energy efficiency of 23,98%, a net CO₂-equivalent emission of −25,67 kg CO₂eq/MWh, an LCOE of USD 151,40/MWh, and a carbon avoidance cost of USD 71,69/ton CO₂."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Julianto
"Paris Agreement merupakan perjanjian mengenai mitigasi emisi gas CO2. Tujuan perjanjian ini dibentuk untuk menahan laju peningkatan temperatur global. Hal ini juga didukung mengenai volume emisi CO2 akibat pembakaran bahan bakar fosil yang mencapai 56% dari total semua emisi global. Carbon Capture and Storage (CCS) adalah salah satu solusi di bidang teknologi mitigasi yang membahas pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis konduktivitas listrik pada sampel batuan tersaturasi CO2 yang didapatkan dari perhitungan Digital Rock Physics. Metode Digital Rock Physics adalah suatu metode berbasis digital yang memanfaatkan citra batuan digital untuk mengidentifikasi sifat fisis batuan dan visualisasi struktur mikro batuan secara lebih efektif dan efisien. Dengan memanfaat metode digital rock physics menggunakan sampel batuan pasir dan karbonat, dapat menunjukkan antara korelasi konduktivitas listrik terhadap batuan tersaturasi CO2 dengan konsentrasi 2 mg / L, 6.5 mg/L, dan 10 mg/L tiap saturasi CO2 mulai dari 0% hingga 100%. Hasil analisis menunjukkan nilai konduktivitas listrik sangat baik pada batuan pasir dengan rentang 1.38 μS/cm - 2.80 μS/cm dan batuan karbonat dengan rentang 18.38 μS/cm - 20.47 μS/cm. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai konduktivitas listrik berbanding lurus dengan saturasi CO2. Hasil penelitian juga menunjukkan nilai porositas sangat baik pada batuan pasir dengan rentang 19.51% - 26.92% dan batuan karbonat 12.88% - 14.41%. Porositas juga mempengaruhi nilai konduktivitas listrik terhadap batuan tersaturasi CO2. Semakin besar nilai porositas, maka konduktivitas listrik akan semakin rendah. Konsentrasi CO2 juga mempengaruhi konduktivitas listrik, dimana semakin tinggi konsentrasi CO2 maka semakin besar nilai kondukstivitas listrik yang didapat. Hubungan antara konduktivitas listrik batuan dengan konsentrasi CO2 sangat kuat dengan koefisien korelasi diatas 0,9 untuk semua sampel. Berdasarkan hasil ini dapat digunakan sebagai salah satu parameter aplikasi Carbon Capture Storage (CCS) untuk mengetahui saturasi CO2 yang berada di dalam reservoir berdasarkan konduktivitas listrik batuan dengan catatan sebelumnya reservoir yang digunakan tidak ada fluida yang terisi dan tidak ada kompaksi tanah.

The Paris Agreement is an agreement on the mitigation of CO2 gas emissions. The purpose of this agreement was formed to restrain the rate of increase in global temperature. This is also supported by the volume of CO2 emissions due to the burning of fossil fuels, which account for 56% of all global emissions. Carbon Capture and Storage (CCS) is one of the solutions in the field of mitigation technology that addresses global warming. This study aims to identify and analyze the electrical conductivity of CO2 saturated rock samples obtained from Digital Rock Physics calculations. Digital Rock Physics method is a digital based method that utilizes digital rock images to identify rock physical properties and visualize rock microstructure more effectively and efficiently. By utilizing the digital rock physics method using sand and carbonate rock samples, it can show the correlation of electrical conductivity to CO2 saturated rocks with concentrations of 2 mg/L, 6.5 mg/L, and 10 mg/L per CO2 saturation ranging from 0% to 100%. The results of the analysis show that the electrical conductivity is very good in sandstone with a range of 1.38 μS/cm - 2.80 μS/cm and carbonate rocks with a range of 18.38 μS/cm - 20.47 μS/cm. The results of this study indicate the value of electrical conductivity is directly proportional to CO2 saturation. The results also showed very good porosity values in sandstone with a range of 19.51% - 26.92% and carbonate rock 12.88% - 14.41%. Porosity also affects the value of the electrical conductivity of CO2 saturated rocks. The greater the porosity value, the lower the electrical conductivity. The concentration of CO2 also affects the electrical conductivity, where the higher the concentration of CO2, the greater the value of the electrical conductivity obtained. The relationship between the electrical conductivity of rocks with CO2 concentration is very strong with a correlation coefficient above 0.9 for all samples. Based on these results, it can be used as one of the parameters for the application of Carbon Capture Storage (CCS) to determine the CO2 saturation in the reservoir based on the electrical conductivity of the rock with the previous record that the reservoir used was not filled with fluid and no soil compaction."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>