Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 87788 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arifah MsRobin Emhas
"Penelitian ini bertujuan menjelaskan konstruksi sosial perawatan lansia pedesaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Kajian terdahulu menjelaskan bahwa lansia di pedesaan sering kali mengalami isolasi sosial, namun belum secara eksplisit membahas peran keluarga dan masyarakat dalam mengatasi hal ini, Penelitian ini memberikan gambaran keterlibatan kelurga maupun masyarakat untuk andil berperan dalam memberikan dukungan fisik, sosial untuk lansia. Hasil temuan penelitian ini terkait dengan pemaknaan lansia praktik perawatan lansia. Akibat kurangnya dukungan emosional dan sosial, lansia yang tinggal sendirian mungkin mengalami penurunan kualitas hidup yang signifikan. Namun dari beberapa penelitian terdahulu belum menggambarkan mengenai pemaknaan lansia yang berkaitan dengan praktik perawatan lansia di pedesaan. Hasil penelitian ini menunjukkan masyarakat khusus di desa Ngadilngakung memaknai bahwa lansia mengalami penurunan fisik, psikologis, dan sosial sehingga perlu diadakan perawatan yang berfokus pada kebutuhan fisik dan dukungan sosial.

This study aims to explain the social construction of rural elderly care using a qualitative approach and case study method. Previous studies have explained that elderly people in rural areas often experience social isolation, but have not explicitly discussed the role of families and communities in overcoming this. This study provides an overview of the involvement of families and communities in providing physical and social support for the elderly. The findings of this study are related to the elderly's understanding of elderly care practices. Due to a lack of emotional and social support, elderly people who live alone may experience a significant decline in their quality of life. However, previous studies have not described the elderly's understanding of elderly care practices in rural areas. The results of this study indicate that the community in the village of Ngadilngakung perceives that the elderly experience physical, psychological, and social decline, necessitating care that focuses on physical needs and social support.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hani Martina Suminar
"ABSTRAK
Kesepian merupakan masalah psikis yang sering terjadi pada lansia sebagai akibat dari berbagai perubahan akibat proses penuaan. Masalah ini merupakan salah satu faktor penentu kualitas tidur pada lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kesepian dengan kualitas tidur pada lansia di Kelurahan Abadijaya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan cluster sampling pada 107 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen Skala Kesepian UCLA untuk mengukur kesepian dan Indeks Kualitas Tidur Pisttsburgh untuk mengukur kualitas tidur. Hasil penelitian ini berdasarkan hasil analisis chi-square didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kesepian dengan kualitas tidur lansia di Desa Abadijaya (p value = 0,295; α = 0,05). Perawat komunitas perlu menjaga tingkat kesepian yang rendah pada lansia dengan meningkatkan kegiatan sosial lansia seperti posyandu lansia.
ABSTRACT
Loneliness is a psychological problem that often occurs in the elderly as a result of various changes due to the aging process. This problem is one of the determinants of sleep quality in the elderly. The purpose of this study was to determine the relationship between loneliness and sleep quality in the elderly in Abadijaya Village. This research method used a cross sectional approach with cluster sampling on 107 respondents. Data collection used the UCLA Loneliness Scale instrument to measure loneliness and the Pisttsburgh Sleep Quality Index to measure sleep quality. The results of this study based on the results of the chi-square analysis found that there was no significant relationship between loneliness and sleep quality in the elderly in Abadijaya Village (p value = 0.295; α = 0.05). Community nurses need to maintain a low level of loneliness in the elderly by increasing social activities for the elderly such as posyandu for the elderly."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tantri Melinda
"Kesepian merupakan perasaan yang umum terjadi pada lansia yang tinggal di suatu institusi. Kesepian adalah perasaan yang bersifat subjektif. Tujuan dari literatur review ini yaitu untuk mengetahui kesepian yang terjadi pada lansia yang tinggal di institusi perawatan lansia. Literature review ini dicari dengan menggunakan 4 database (Scholar, Ebsco, ProQuest, Science Direct). Penelusuran literatur dilakukan pada bulan Juni-Juli 2020. Metode PRISMA digunakan dalam literature review ini untuk menilai judul, abstrak, full-text, juga metodologi. Terdapat 10 studi dari literatur yang ditemukan yang sesuai dengan kriteria inklusi. Studi dilakukan diberbagai negara. Sampel pada penelitian ini minimal 11 dan maksimal 250. Lansia yang tinggal di Panti merasa kesepian. Kesepian digambarkan sebagai perasaan sedih, sendiri, bosan, tidak menyenangkan. Faktor yang mempengaruhi kesepian terdiri dari usia, jenis kelamin, tempat tinggal, status pernikahan, kontak sosial, keterlibatan sosial, kepuasan hidup, status pekerjaan, penyakit atau gangguan fungsional, serta dukungan sosial.

Loneliness is a feeling that is common in the elderly who live in nursing homes, feelings that are subjective. The purpose of this review literature is to find out the loneliness that occurs in the elderly who live in the nursing homes. This literature review was searched four online databases (Scholar, Ebsco, ProQuest, Science Direct). Literature search was conducted in June-July 2020. The PRISMA method guided review, title, abstract, full-text, and methodology. There are 10 studies from the literature found which met inclusion criteria. Studies conducted in various countries. The sample in this study is a minimum of 11 and a maxium of 227. Elderly describes loneliness as feeling sad, alone, bored, not a lot of fun. Factors affecting loneliness include age, sex, residence, marital status, social contact, social involvement, life satisfaction, work status, illness or functional impairment, and social support.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Rosanty
"ABSTRAK
Lansia merupakan populasi rentan yang berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan salah satunya adalah hipertensi. Sebagian besar komplikasi dan kematian karena hipertensi disebabkan karena kurangnya manajemen perawatan diri. Beberapa faktor yang mempengaruhi manajemen perawatan diri adalah efikasi diri dan motivasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi pengaruh coaching berkelompok manajemen perawatan diri terhadap efikasi dan motivasi pada lansia dengan hipertensi. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimen semu quasi experiment dengan menggunakan quasi experiment pre test and post test design with control grup. Melalui tehnik cluster random sampling diperoleh 80 lansia yang dibagi dalam kelompok intervensi dan kelompok non intervensi di Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa. Data dianalisis dengan paired t test dan pooled t test. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada pengaruh yang bermakna terhadap efikasi diri dan motivasi responden setelah diberikan coaching berkelompok manajemen perawatan diri pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok non-intervensi dengan hasil p = 0,001 p < 0,05 . Berdasarkan hasil penelitian tersebut, efikasi diri dan motivasi dapat ditingkatkan dengan cara coaching berkelompok sehingga dapat digunakan sebagai salah satu pilihan intervensi dalam upaya promotif dan preventif yang dapat dilakukan perawat dalam merubah perilaku lansia dengan hipertensi sesuai dengan teori Health Promotion Model HPM .Kata kunci: coaching berkelompok; efikasi diri; hipertensi; lansia; motivasi

ABSTRACT
Elderly is a vulnerable population so that the risk of having health problems one of them is hypertension. Most of the complications and deaths due to hypertension are due to the lack of self care management. Some of the factors that affect the management of self care are self efficacy and motivation. The objective of this study was to identify the effect of coaching on self management group on efficacy and motivation in elderly with hypertension. The research method used is a quasi experiment design using quasi experiment pre test and post test design with control group. Through cluster random sampling technique, 80 elderly were divided into groups of intervention and non intervention group in Sumbawa District, Sumbawa Regency. Data were analyzed by paired t test and pooled t test. The results stated that there was a significant effect on self efficacy and respondent motivation after coaching grouped in self care group in intervention group compared with non intervention group with p 0,001 p "
2018
T50931
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sul Suprapti
"Perawatan yang dilakukan pada lansia yaitu untuk memelihara kesehatan lansia dengan memperhatikan makanan yang dikonsumsi, menemani dan membantu lansia melakukan aktifitasnya dan merawat kebersihan diri dengan memelihara kebersihan dan kesehatan secara optimal yang memerlukan dukungan dan perhatian dari keluarga. Tujuan penelitian ini ingin mendapatkan gambaran tentang sejauh mana persepsi keluarga tentang perawatan pada Iansia dan tanggapan keluarga tentang perawatan lansia di panti. Penelitian ini menggunakan disain deskriptif sederhana, sample yang digunakan 53 orang, Cara penentuan sample dengan cara acak, instrument yang digunakan berupa kuesioner yang terdiri dari 28 pertanyaan, data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan rumus tendensi sentral, distribusi frekuensi, dan strandar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,5% responden berpersepsi negative tentang perawatan lansia dan sisanya (-41,5%) berpersepsi positif."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2007
TA5596
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yeni Mahwati
"ABSTRAK
Indonesia mengalami penuaan penduduk yang sangat cepat. Diperkirakan populasi
penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 28,8 juta (11,3%) pada tahun 2020
dan mencapai 100 juta (28,68%) pada tahun 2050. Perhatian mengenai bagaimana
penuaan sukses dan determinanya menjadi sebuah isu penting yang harus
dieksplorasi sebagai dukungan informasi bagi penentu kebijakan dalam
merancang kebijakan dan intervensi efektif untuk meningkatkan kualitas hidup
lansia di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi aspek
multidimensional penuaan sukses dan memperoleh model prediksi penuaan sukses
pada lansia di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif menggunakan data
IFLS (Indonesian Family Life Survey) dengan mengikuti individu selama tujuh
tahun yaitu pada titik waktu pengukuran survei IFLS 2000 dan IFLS 2007. Jumlah
sampel penelitian ini adalah 2.344 lansia (≥ 53 tahun). Model pengukuran penuaan
sukses diuji dan dianalisis menggunakan comfirmatory factor analysis (CFA).
Analisis regresi logistik ganda digunakan untuk memperoleh model prediksi
penuaan sukses.
Penelitian ini menghasilkan konsep model penuaan sukses multidimensional yang
memiliki kriteria kecocokan model yang baik serta validitas dan reliabilitas yang
cukup baik dengan kontribusi masing-masing yaitu keberfungsian mental (78%),
keterlibatan aktif (64%), keberfungsian fisik (62%), spiritualitas (2,7%) dan bebas
dari penyakit (0,1%). Hasil model prediksi penuaan sukses terdiri dari tujuh
variabel meliputi faktor individu (usia, jenis kelamin, pendidikan, aktivitas fisik
dan waist circumference) dan faktor lingkungan (tingkat pengeluaran nabati dan
partisipasi program dana sehat). Kelompok usia 60-69 tahun memiliki peluang
sukses 2,211 (95% CI=1,077-4,539), kelompok usia 53-59 tahun sebesar 3,568
(95%CI=1,765-7,216). Lansia laki-laki memiliki peluang 1,595 (95%CI=1,133-
2,247), lansia dengan pendidikan rendah memiliki peluang 2,805 (95%CI=1,776-
4,429), pendidikan menengah/tinggi 4,128 (95%CI=2,272-7,500). Lansia dengan
aktivitas fisik sedang memiliki peluang sukses 4,258 (95%CI=2,352-7,709),
aktivitas ringan 3,964 (95%CI=2,228-7,052) dan aktivitas berat 3,675
(95%CI=2,054-6,576). Lansia dengan Waist Circumference tidak berisiko
memiliki peluang sukses 1,688 (95%CI=1,092-2,610). Lansia dengan tingkat
pengeluaran nabati tinggi memiliki peluang sukses 1,384 (95%CI=1,010-1,898),
lansia yang berpastisipasi dalam program dana sehat berpeluang sukses 1,779
(95%CI=1,181-2,680). Implikasi hasil penelitian terhadap kebijakan berupa tiga
pilar utama yang menentukan penuaan sukses yaitu partisipasi, kesehatan dan
jaminan sosial. Selain ketiga pilar tersebut, gender juga merupakan determinana
penting penuaan sukses. Oleh karena itu kesetaraan gender perlu dipertimbangkan
dalam setiap pilar kebijakan

ABSTRACT
Indonesia experienced rapid population aging. It is estimated that the elderly
population in Indonesia will reach 28.8 million (11.3%) in 2020 and 100 million
(28.68%) in 2050. Caution regarding how successful aging and its determinant
become an important issue that should be explored as support information for
policy makers in designing effective policies and interventions to improve the
quality of life of the elderly in Indonesia. The objective of this study was to
explore the multidimensional aspects of successful aging and obtain predictive
models successful aging in the elderly in Indonesia.
This study used a retrospective cohort study design using the data IFLS
(Indonesian Family Life Survey) by following people for seven years, namely at
the point of measurement time survey IFLS IFLS 2000 and 2007. The amount of
the sample is 2,344 elderly (≥ 53 years). Successful aging measurement model
was tested and analyzed using Comfirmatory Factor Analysis (CFA). Multiple
logistic regression analysis is used to derive predictive model of successful aging.
This research resulted in the concept of multidimensional models of successful
aging that has good validity and reliability. Each contribution were mental
functioning (78%), active involvement (64%), physical functioning (62%),
spirituality (2.7%) and free of the disease (0.1%). Successful aging prediction
models resulting from this study consisted of seven variables include individual
factors (age, gender, education, physical activity and waist circumference) and
environmental factors (level of expenditure vegetable and healthy fund program
participation). Age group 60-69 years had a chance of success 2.211 (95% CI =
1.077 to 4.539), age group 53-59 years amounted to 3.568 (95% CI = 1.765 to
7.216). Elderly men had chances 1.595 (95% CI = 1.133 to 2.247), elderly people
with low education had a chance 2.805 (95% CI = 1.776 to 4.429), secondary
education / high 4.128 (95% CI = 2.272 to 7.500). Elderly with moderate physical
activity had a chance of success 4.258 (95% CI = 2.352 to 7.709), light activities
3.964 (95% CI = 2.228 to 7.052) and strenuous activities 3,675 (95% CI = 2.054
to 6.576). Elderly with no risk of waist circumference had a chance of success
1.688 (95% CI = 1.092 to 2.610). Elderly with a high level of expenditure
vegetable has a chance of success 1.384 (95% CI = 1.010 to 1.898), elderly who
participates in the healthy fund program likely to succeed 1.779 (95% CI = 1.181
to 2.680). Implications of the results of research on policy in the form of the three
main pillars that determine successful aging, namely participation, health and
social security. In addition to the three pillars, gender is also an important
determinana successful aging. Therefore, gender equality need to be considered in
any policy pillars"
2016
D2664
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lia Juniarni
"ABSTRAK
Pernikahan suatu kebutuhan semua individu baik pria maupun wanita
dewasa, pernikahan termasuk rangkaian hirarki kebutuhan dasar, kemampuan
lansia yang tidak menikah dalam menemukan makna hidup sangat dibutuhkan
Tujuan penelitian mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang makna hidup
lansia tidak menikah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
desain fenomenologi, jumlah partisipan sebanyak tujuh orang, tempat penelitian
panti wreda di Kota Bandung. Hasil penelitian menemukan dua puluh satu
kategori dan enam tema yaitu memaknai sebuah pernikahan, alasan tidak
menikah, perhatian keluarga tentang pernikahan, konsekuensi psikologis tidak
menikah, menerima tidak menikah sebagai ketetapan Tuhan dan hikmah positif
tidak menikah. Penelitian ini direkomendasikan bagi peneliti selanjutnya untuk
melakukan penelitian sejenis dikomunitas.
ABSTRACT
Being married is a need for adult women and man. Marriage is a part of
human needs hierarchy. The ability of unmarried elderly in finding the meaning of
life is needed. The purpose of this study was to have a depth understanding of the
meaning of life for unmarried elderly. This study used the qualitative research
method with fenomenological approach, number of participants as many as seven
people, place of this study in Nursing Home Bandung City. The finding of this
research revealed twenty one categorics and six main themes. The themes were
meaning of a marriage, the reasons of unmarried, family concern about marriage,
psychological consequences of being unmarried, accepting of not being married
as the GOD?s wish and a positive meaning for not being married. This research
was recommended for further research to conduct similar research the community."
2013
T35392
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahma Adhalia
"Penurunan degeneratif yang terjadi pada lansia baik fisiologis maupun patologis dapat memunculkan berbagai masalah kesehatan salah satunya yaitu nyeri sendi. Nyeri sendi yang dialami oleh lansia dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan terganggunya mobilitas atau aktivitas sehari- hari lansia. Karya ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis asuhan keperawatan pada Kakek B (68 tahun) dengan masalah nyeri pada sendi melalui penerapan kompres hangat dan dzikir. Hasil pemberian asuhan keperawatan selama dua minggu dengan jumlah penerapan kompres hangat dan dzikir sebanyak enam kali dengan durasi 10 – 15 menit tiap intervensi, menunjukkan adanya penurunan skala nyeri yang diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dari skala enam ke skala dua. Intervensi kompres hangat disarankan untuk dapat diterapkan minimal satu kali sehari pada lansia dengan masalah nyeri sendi serta dapat dikombinasikan dengan terapi dzikir.

Degenerative disease that occurs in the elderly both physiologically and pathologically can lead to various health problems, one of which is joint pain. Joint pain experienced by the elderly can cause discomfort and disruption of mobility or the elderly's daily activities. This scientific work aims to analyze nursing care for Mr B (68 years) with pain problems in joints through the application of warm compresses and dzikir. The results of providing nursing care for two weeks with six times intervention of warm compresses and dzikir with each duration 10 – 15 minutes, showed a decrease in the pain scale measured using the Numeric Rating Scale (NRS) from a scale of six to a scale of two. The warm compress intervention is recommended to be applied at least once a day in the elderly with joint pain problems and can be combined with dzikir therapy."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Asriyati Amanah Fahmi
"ABSTRAK
Petugas pendamping perawatan lansia di panti sosial yaitu perawat dan pramusosial. Situasi, kondisi dan lingkungan yang dihadapi dalam merawat lansia dapat menjadi penyebab stres sampai dengan kelelahan petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres kerja dengan kelelahan pada petugas pendamping perawatan lansia. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini melibatkan 55 petugas pendamping perawatan lansia dari dua Panti Sosial Tresna Wreda di Jakarta. Pengumpulan data menggunakan kuesioner modifikasi dari Fatigue Assessment Scale FAS dan Work Stress Scale WSS untuk petugas perawatan lansia. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan bermakna dengan pola positif r= 0.439, p= 0.001 . Disimpulkan bahwa tingkat kelelahan akan meningkat seiring dengan tingkat stres kerja. Untuk mengurangi tingkat stres dan kelelahan, kepala panti sosial dapat menetapkan jadwal rotasi tempat kerja dan membuat program pelatihan merawat lansia.

ABSTRACT
Elderly care attendants are nurse and pramusosial aka nursing assistants . Situation, condition and environment from caring for the elderly can be a cause of stress until fatigue in care attendants. This study aims to determine the correlation between level of work stress and fatigue in an elderly care attendants. The design of this study was cross sectional with purposive sampling. This study involved 55 care attendants from two Social House Tresna Wreda in Jakarta. The data collection used a modification questionnaire from Fatigue Assessment Scale FAS and Work Stress Scale WSS for elderly care attendants. Pearson rsquo s correlation test results showed significant relationship with positive pattern r 0.439, p 0.001 . It was concluded that the level of fatigue will increase with the level of work stress. To reduce the level of stress and fatigue in care attendants, the head of social house can establish a workplace rotation schedule and create a training program for caring the elderly."
2017
S69777
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tunjung Artha Trahtama Puri
"Indonesia telah bergerak menuju masyarakat menua, upaya telah dilakukan untuk menciptakan masyarakat Menua Aktif, di mana lansia tetap dalam kondisi sehat, mandiri, dan produktif. Penelitian ini meneliti kondisi keuangan lansia, salah satu persyaratan yang paling penting untuk mencapai masyarakat Menua Aktif. Kondisi keuangan digambarkan dengan menggunakan empat pengukuran: apakah lansia bekerja atau tidak, jumlah jam kerja, pendapatan lansia, dan apakah lansia miskin atau tidak. Penelitian ini menggunakan analisis regresi logit untuk meneliti faktor-faktor penentu bekerja atau tidak, dan apakah miskin atau tidak. Menggunakan analisis OLS untuk menemukan faktor-faktor penentu jumlah jam kerja dan pendapatan. Semua analisis statistik menggunakan individu, rumah tangga dan variabel spasial. Beberapa temuan bahwa variabel individu dan rumah tangga (umur, jenis kelamin, tempat tinggal, hubungan dengan kepala rumah tangga, pengaturan tempat tinggal, status perkawinan, pendidikan, baca tulis, keluhan kesehatan, Raskin, dan asuransi kesehatan) secara signifikan mempengaruhi keputusan untuk bekerja, jumlah jam kerja, pendapatan, dan apakah menjadi miskin atau tidak. Rawat inap memiliki efek yang signifikan pada pekerjaan dan pendapatan saja. Kredit usaha dan jaminan sosial hanya secara signifikan mempengaruhi keputusan untuk bekerja, jumlah jam kerja dan pendapatan. Variabel spasial (mengukur dengan PDB, upah minimum, persen orang miskin) secara signifikan mempengaruhi keputusan untuk bekerja, jumlah jam kerja, pendapatan, dan apakah miskin atau tidak.

As Indonesia has been moving toward an ageing society, efforts have been made to create an Active Ageing society, where the elderly are and remain healthy, independent, and productive. This study is examining the elderly?s financial condition, one of the most important requirements to achieve an Active Ageing society. It uses four measurements of the financial condition: whether or not the elderly works, the number of working hours, the income of the elderly, and whether or not the elderly is poor. The study uses a logit regression analysis for examining the determinants of working or not, and whether the elderly is poor. It uses an OLS analysis for finding the determinants of number of hours working and income. All statistical analyses employ individual, household and spatial variables. Some of the findings are that individual and household variables (age, sex, place of residence, relationship to head of household, marital status, living arrangement, education, literacy, health complaints, Raskin, and health insurance) significantly influence decision to work, the number of working hours, incomes, and whether being poor or not. Hospitalization has a significant effect on work and income only. Business credit and social security only significantly influence decision to work, the number of working hours and incomes. Spatial variables (measure with GDP, the minimum wage, percent of poor people) significantly influence decision to work, the number of working hours, income, and whether poor or not.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
T46016
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>