Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 178900 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhamad Rizky Rizqita
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dynamic return spillover antara aset cryptocurrency dan pasar saham ASEAN-5 dengan menggunakan pendekatan Time-Varying Parameter Vector Autoregression (TVP-VAR). Data yang digunakan berupa data harian selama periode 2018 hingga 2023, yang mencakup masa krisis global seperti COVID-19 dan konflik Rusia–Ukraina. Analisis mencakup tiga aset crypto utama, yaitu Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Binance Coin (BNB), serta lima indeks saham dari negara anggota ASEAN-5, yaitu Singapura (STI), Indonesia (JCI), Malaysia (KLCI), Filipina (PSEI), dan Thailand (SETI), dengan data bersumber dari CoinGecko dan Thomson Reuters Datastream. Hasil penelitian menunjukkan adanya return spillover yang bersifat dinamis antara aset crypto dan pasar saham ASEAN-5, dengan intensitas yang meningkat selama periode krisis. Temuan ini mencerminkan keterkaitan yang semakin erat antara aset digital dan pasar keuangan konvensional dalam menghadapi ketidakpastian global. Selain itu, ditemukan bahwa peran aset crypto terhadap pasar saham bersifat tidak konsisten secara keseluruhan, tetapi menunjukkan pola yang relatif stabil sebagai net transmitter terhadap indeks JCI sepanjang periode observasi, serta terhadap indeks KLCI dan PSEI selama konflik Rusia–Ukraina. Sementara itu, terhadap indeks STI dan SETI, peran aset crypto cenderung berfluktuasi antara sebagai net transmitter dan net receiver. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa dynamic return spillover antara aset crypto dan pasar saham dapat menjadi landasan dalam membangun sistem peringatan dini terhadap transmisi risiko lintas pasar di tengah dinamika pasar global.

This study aims to analyze the dynamic return spillover between cryptocurrency assets and the ASEAN-5 stock markets using the Time-Varying Parameter Vector Autoregression (TVP-VAR) approach. The data employed consist of daily observations from 2018 to 2023, encompassing periods of global crises such as the COVID-19 pandemic and the Russia–Ukraine conflict. The analysis includes three major crypto assets, namely Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), and Binance Coin (BNB), as well as five stock market indices from ASEAN-5 countries, specifically Singapore (STI), Indonesia (JCI), Malaysia (KLCI), the Philippines (PSEI), and Thailand (SETI), with data obtained from CoinGecko and Thomson Reuters Datastream. The results reveal the presence of dynamic return spillovers between crypto assets and the ASEAN-5 stock markets, with intensifying spillover effects during crisis periods. These findings reflect the growing interconnectedness between digital assets and conventional financial markets amid global uncertainties. Furthermore, the role of crypto assets in relation to stock markets is found to be generally inconsistent, yet relatively stable as net transmitters toward the JCI index throughout the observation period, and toward the KLCI and PSEI indices during the Russia–Ukraine conflict. In contrast, the role of crypto assets fluctuates between being net transmitters and net receivers for the STI and SETI indices. This study implies that the dynamic return spillover between crypto assets and stock markets may serve as a basis for developing early warning systems for cross-market risk transmission amid global market dynamics."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sihombing, Dastin Hanes
"Penelitian ini fokus pada evaluasi peran lima aset yaitu Bitcoin, Ethereum, USDT, emas, dan perak sebagai instrumen safe haven dalam menghadapi volatilitas return pada sepuluh indeks saham global selama dua periode krisis besar yakni pandemi COVID-19 dan konflik Rusia-Ukraina. Metode analisis yang digunakan mengombinasikan model GJR-GARCH untuk menangani karakteristik volatilitas asimetris dan respons terhadap shock negatif pasar, serta model dummy quantile guna mengkaji performa aset pada saat pasar mengalami tekanan ekstrem. Hasil analisis mengungkap bahwa USDT sebagai stablecoin menunjukkan kemampuan sebagai safe haven dengan peran protektif yang lemah namun konsisten di hampir semua indeks selama masa krisis. Sebaliknya, Bitcoin dan Ethereum menunjukkan korelasi positif signifikan terhadap indeks saham yang mengindikasikan sifat pro-siklikal dan kurang cocok sebagai aset pelindung nilai. Meskipun emas dan perak selama ini dikenal sebagai safe haven tradisional, tetapi kenyataannya tidak memperlihatkan peran pelindung nilai yang konsisten, khususnya saat diuji dengan model dummy quantile pada periode pasar ekstrem. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas suatu aset sebagai safe haven sangat dipengaruhi oleh jenis krisis, karakteristik spesifik aset, dan kondisi pasar yang menjadi konteksnya. Implikasi praktis dari penelitian ini penting untuk strategi diversifikasi dan manajemen risiko portofolio, terutama dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang kian meningkat.

This study focuses on evaluating the role of five assets, Bitcoin, Ethereum, USDT, gold, and silver as safe haven instruments in managing return volatility across ten global stock indices during two major crisis periods: the COVID-19 pandemic and the Russia-Ukraine conflict. The analytical methods employed combine the GJR-GARCH model to address asymmetric volatility characteristics and market negative shock responses, alongside a dummy quantile model to assess asset performance during periods of extreme market stress. The analysis reveals that USDT, as a stablecoin, demonstrates the capacity to act as a safe haven with a weak but consistent protective role across almost all indices during the crisis periods. Conversely, Bitcoin and Ethereum exhibit significant positive correlations with stock indices, indicating a pro-cyclical nature and a lesser suitability as protective assets. Although gold and silver are traditionally considered safe havens, the results show that they do not consistently perform this role, especially when tested with the dummy quantile model during extreme market conditions. These findings underscore that the effectiveness of an asset as a safe haven is highly influenced by the type of crisis, the asset’s specific characteristics, and the contextual market conditions. The practical implications of this research are significant for diversification strategies and portfolio risk management, particularly in the face of increasing uncertainty in global financial markets."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusrina Budinur Widaad
"Tesis ini mempelajari hubungan antara imbal hasil, ketertarikan investor, dan sentimen investor pada tiga cryptocurrency terbesar, yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Ripple. Penelitian ini menggunakan media sosial (Stockwits) sebagai proxy untuk sentimen investor dan Google Trends sebagai proxy untuk ketertarikan investor. Untuk metodologi, digunakan kausalitas Granger, VAR, dan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kausalitas dua arah antara imbal hasil dan ketertarikan investor pada ketiga cryptocurrency, sementara kausalitas ini tidak ditemukan dalam sentimen investor. Selain itu, lagged dan contemporaneous dari ketertarikan investor mempengaruhi imbal hasil cryptocurrency secara positif . Hasil ini mendukung "price pressure hypothesis" atau "attention theory". Selain itu, walaupun lagged dari sentimen investor tidak dapat memprediksi imbal hasil cryptocurrency, sentimen investor berpengaruh terhadap contemporaneous imbal hasil cryptocurrency.

This thesis explores the relationship between return, investor attention, and investor sentiment in the three largest cryptocurrencies: Bitcoin, Ethereum, and Ripple. This study uses social media (Stockwits) to measure investor sentiment and Google Trends to measure investor attention. For the methodology, this study uses Granger causality, VAR, and linear regression. The results show that there is a bi-directional causality between return and investor attention in all three cryptocurrencies, while there is no causality in investor sentiment. Furthermore, the lagged and contemporaneous investor attention positively influence cryptocurrency return. This result supports the price pressure hypothesis or attention theory. In addition, while the lagged investor sentiment cannot predict cryptocurrency return, investor sentiment can influence contemporaneous cryptocurrency return.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2019
T52158
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nafisah Hanum
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika spillover atau limpahan volatilitas antara aset di pasar saham, pasar valuta asing, dan pasar komoditas di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand) selama periode 2018-2023. Dengan semakin terintegrasinya pasar keuangan global, penelitian ini mencoba memahami bagaimana shock di satu aset pasar dapat mempengaruhi aset pasar lainnya dalam kawasan ASEAN-5. Penelitian ini menggunakan model Vector Autoregression (VAR) untuk menganalisis hubungan antar aset-aset pasar, serta metode Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) untuk mengevaluasi dampak dan kontribusi antar variable. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pasar modal, STI merupakan main transmitter sedangkan PSEi merupakan main receiver. Di sisi pasar valuta asing, Rupiah merupakan main transmitter dan Baht adalah main receiver. Pada pasar komoditas, sektor Energi merupakan main transmitter dan Logam Industri merupakan main receiver. Temuan ini penting bagi investor yang mencari diversifikasi portofolio, serta bagi regulator yang bertujuan menjaga stabilitas keuangan. Investor perlu memperhatikan dinamika lintas pasar ini untuk mengelola risiko dan memaksimalkan return portofolio mereka. Regulator juga dapat menggunakan informasi ini untuk memantau risiko yang dapat muncul akibat interaksi pasar-pasar tersebut.

This study aims to analyze the dynamics of volatility spillovers between assets in the stock market, foreign exchange market, and commodity market in ASEAN-5 countries (Indonesia, Singapore, Malaysia, Philippines, and Thailand) over the period 2018-2023. With the increasing integration of global financial markets, this study attempts to understand how a shock in one asset market can affect other asset markets in the ASEAN-5 region. This study uses the Vector Autoregression (VAR) model to analyze the relationship between market assets, as well as the Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) method to evaluate the impact and contribution between variables.The results show that in the capital market, STI is the main transmitter while PSEi is the main receiver. On the foreign exchange market side, Rupiah is the main transmitter and Baht is the main receiver. In the commodity market, the Energy sector is the main transmitter while Industrial Metals being the main receiver. These findings are important for investors seeking portfolio diversification, as well as for regulators aiming to maintain financial stability. Investors need to pay attention to these cross-market dynamics to manage risk and maximize their portfolio returns. Regulators can also use this information to monitor risks that could arise from the interaction of these markets.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Limbong, Nengsih Irma Mahda Dia Boru
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji interdependensi pasar saham ASEAN-5 terhadap pasar saham Amerika Serikat, Hong Kong dan Jepang pada periode sebelum, saat dan setelah krisis keuangan global. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Dynamic Conditional Correlation (DCC) GARCH untuk melihat korelasi antar pasar saham. Secara umum hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif pasar saham Jepang, Hong Kong dan Amerika Serikat terhadap pasar saham ASEAN-5. Dengan menggunakan analisis Granger Causality ditemukan dalam jangka panjang terdapat volatility spillover pasar saham Amerika Serikat, Jepang dan Hong Kong terhadap pasar saham ASEAN-5 serta dalam jangka pendek ditemukan adanya contagion effect antar pasar saham. Krisis keuangan global yang terjadi pada 2008 mempengaruhi tingkat pengembalian dan pasar saham saling terkait.

ABSTRACT
This paper investigate the interdependence between United States, Japan, Hong Kong and ASEAN-5 stock market and covering the period including pre-, during and post global financial crisis. Dynamic Conditional Correlation (DCC) GARCH is used to estimate dynamic correlation between stock market. Generally, it is found evidence advanced countries have positive correlation to ASEAN-5 stock markets. Using Granger causality this study finds in the long-run stock volatility spillover from Japan, Hong Kong and United States into ASEAN-5 stock markets, and short-run contagion effect between the stock markets. Moreover, during financial crisis stock market become more interrelated.
"
2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rizqi Putra
"Penelitian ini menganalisis return dan volatility spillover pada green stocks negara ASEAN-5 dengan green cryptocurrencies menggunakan TVP-VAR connectedness framework. Variabel green stocks negara ASEAN-5 yang digunakan adalah SRI KEHATI, FTSE4Good Bursa Malaysia Index, iEdge Singapore Low Carbon Index, dan SET ESG, sementara variabel green cryptocurrencies yang digunakan adalah Cardano, Stellar-Lumens, Ripple, Nano, dan IOTA. Penelitian ini juga menguji efektivitas hedging yang terdapat pada green stocks dan green cryptocurrencies, baik itu cross-asset hedging maupun intra-asset hedging. Pengujian efektivitas hedging menggunakan metode hedge ratio dan hedging effectiveness. Penelitian ini menggunakan data harga harian yang diubah menjadi data return harian dan data volatility. Periode penelitian tahun 2019-2024, mencakup beberapa periode krisis seperti COVID-19 dan konflik geopolitik perang Rusia Ukraina. Hasil penelitian menunjukkan adanya return dan volatility spillover yang signifikan antara green stocks negara ASEAN-5 dan green cryptocurrencies. Return dan volatility spillover ini mengalami penguatan pada periode krisis COVID-19 dan konflik geopolitik perang Rusia Ukraina yang ditandai dengan penguatan return dan volatility connectedness antar aset. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya potensi intra-asset hedging pada green cryptocurrencies, menunjukkan kemampuan green cryptocurrencies sebagai instrumen hedging. Temuan pada penelitian ini dapat menjadi landasan untuk penelitian lebih lanjut mengenai green asset class, menjadi pertimbangan green investor dalam memilih aset investasi, serta menjadi pandangan dan masukan untuk pembuat kebijakan dalam mendorong pertumbuhan green economy.

This study explores the dynamic return and volatility spillovers between green stocks in ASEAN-5 countries and green cryptocurrencies using the Time-Varying Parameter Vector Autoregressive (TVP-VAR) connectedness framework. The green stock indices selected for this analysis include SRI KEHATI, FTSE4Good Bursa Malaysia Index, iEdge Singapore Low Carbon Index, and SET ESG, while the green cryptocurrencies examined are Cardano, Stellar Lumens, Ripple, Nano, and IOTA. This research also evaluates the effectiveness of hedging strategies within and across asset classes, using the hedge ratio approach and the hedging effectiveness measure. Daily price data were converted into daily return and realized volatility data covering the period from 2019 to 2024. This time frame captures the impact of major crisis periods, including the COVID-19 pandemic and the Russia–Ukraine geopolitical conflict. The empirical findings indicate the presence of significant return and volatility spillovers between green stocks and green cryptocurrencies, with a marked increase in connectedness during the identified crisis periods. Furthermore, the analysis reveals the existence of intra-asset hedging potential among green cryptocurrencies, emphasizing their role as cost-efficient risk diversification tools. These findings contribute to the growing body of literature on green finance and sustainable investing, offering insights for academic researchers, green-focused investors, and policymakers."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Feny Yurastika
"Penelitian ini berupaya untuk melihat spillover volatilitas return antara pasar saham dan pasar obligasi pemerintah di negara ASEAN-5, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand dengan menggunakan data return harian saham dan obligasi pemerintah periode 3 Januari 2006 sampai 28 Februari 2020. Estimasi menggunakan BEKK-GARCH (1,1,1) menemukan bahwa fenomena spillover volatilitas di negara ASEAN-5 beragam. Tidak terdapat indikasi spillover volatilitas di negara Singapura dan Malaysia. Sedangkan di Filipina dan Thailand terdapat indikasi spillover volatilitas satu arah (unidirectional spillover) dari pasar saham ke pasar obligasi pemerintah. Sementara itu, spillover volatilitas dua arah (bi-directional spillover) yaitu dari pasar saham ke pasar obligasi pemerintah dan dari pasar obligasi pemerintah ke pasar saham terjadi di Indonesia. Hasil estimasi spillover volatilitas return di pasar saham dan obligasi pemerintah negara ASEAN-5 terkait oleh kondisi kedalaman pasar keuangan di negara tersebut. Negara dengan pasar keuangan yang dalam cenderung lebih dapat menyerap guncangan yang terjadi sehingga guncangan di satu pasar tidak menimbulkan spillover ke pasar lainnya.

This thesis analyses the volatility spillover between stock and government bond return in ASEAN-5 countries, namely Indonesia, Malaysia, the Philippine, Singapore, and Thailand using stock and government bond daily return data between 3 January 2006 and 28 February 2020. Estimation using BEKK-GARCH (1,1,1) found that volatility spillover in ASEAN-5 countries are varied. There is no spillover volatility indication in Singapore and Malaysia. Meanwhile, we found unidirectional volatility spillover from the stock market to the government bond market in the Philippine and Thailand. Bi-directional volatility spillover, from the stock market to the bond market and from the bond market to the stock market happened in Indonesia. The various result of ASEAN-5 countries presumably caused by the different levels of financial and institutional depth among the countries. Countries with the deep financial markets could absorb the shocks that occur so that it not spilled and affecting other markets."
Depok: Fakultas Eknonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anggi Emirah Rahmadina
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika return spillover antar sepuluh saham perbankan yang terdaftar dalam indeks IDX-Pefindo Prime Bank di Indonesia. Studi ini menerapkan model Time-Varying Parameter Vector Autoregressive (TVP- VAR) menggunakan data harian dari tahun 2018 hingga 2023 untuk menangkap perubahan return spillover antar saham secara dinamis. Berdasarkan indeks spillover yang dihasilkan, dibangun Minimum Connectedness Portfolio (MCoP) dan dibandingkan dengan pendekatan portofolio tradisional, yaitu Minimum Variance Portfolio (MVP) dan Minimum Correlation Portfolio (MCP), dengan mengukur kinerja melalui Sharpe Ratio dan Hedge Effectiveness Score. Hasil penelitian mengungkapkan adanya return spillover yang signifikan antar saham perbankan dengan peningkatan return spillover seiring dengan pandemi COVID-19. Bank BBNI, BMRI, BBRI, dan BBTN berperan sebagai net transmitter return spillover, sedangkan bank-bank lain seperti BBCA, BNLI, BNGA, PNBN, BDMN, dan BRIS lebih dominan sebagai net receiver. Selain itu, strategi MCoP menunjukkan efektivitas pengurangan risiko yang lebih baik dibandingkan MVP dan MCP. Peningkatan return spillover selama pandemi COVID-19 menegaskan pentingnya penerapan strategi portofolio yang adaptif untuk mengelola risiko di sektor saham perbankan Indonesia.

This study aims to analyze the dynamics of return spillover among ten banking stocks listed in the IDX-Pefindo Prime Bank index in Indonesia. The study employs a Time- Varying Parameter Vector Autoregressive (TVP-VAR) model using daily data from 2018 to 2023 to capture the dynamic changes in return spillover among stocks. Based on the resulting spillover indices, a Minimum Connectedness Portfolio (MCoP) is constructed and compared with traditional portfolio approaches, namely Minimum Variance Portfolio (MVP) and Minimum Correlation Portfolio (MCP), by assessing performance through the Sharpe Ratio and Hedge Effectiveness Score. The findings reveal significant return spillovers among banking stocks with an increase in return spillover coinciding with the COVID-19 pandemic. Banks such as BBNI, BMRI, BBRI, and BBTN act as net transmitters of return spillover, while other banks including BBCA, BNLI, BNGA, PNBN, BDMN, and BRIS predominantly serve as net receivers. Furthermore, the MCoP strategy demonstrates superior risk reduction effectiveness compared to MVP and MCP. The increase in return spillover during the COVID-19 pandemic underscores the importance of implementing adaptive portfolio strategies to manage risks in Indonesia’s banking stock sector."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syta Kurnia Putri
"Kondisi sosial ekonomi merupakan faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan yang akan dicapai oleh seorang individu. Pendidikan sebagai salah satu dimensi dalam status sosial ekonomi diketahui berhubungan erat dengan kesehatan baik secara langsung meningkatkan kesadaran akan kesehatan maupun tidak langsung akses pada pekerjaan yang lebih aman dan penghasilan yang lebih tinggi. Namun tingkat kesehatan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku individu itu sendiri melainkan dipengaruhi oleh lingkungan dan konteks sosial dimana individu tersebut tinggal salah satunya pasangan dalam ikatan pernikahan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tingkat pendidikan pasangan terhadap status kesehatan suami maupun istri dalam rumah tangga. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional Susenas Tahun 2017. Hasil analisis dengan metode ordered logit model menunjukkan bahwa pendidikan pasangan memengaruhi status kesehatan baik suami maupun istri dalam rumah tangga. Menikah dengan pasangan yang berpendidikan tinggi akan meningkatkan peluang seseorang untuk memiliki status kesehatan yang lebih baik dibandingkan menikah dengan pasangan yang berpendidikan rendah. Selanjutnya, kondisi kesehatan terbaik akan dicapai oleh suami maupun istri ketika keduanya berpendidikan tinggi, sementara educational homogamy pada pendidikan rendah akan menurunkan self-rated health keduanya. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan pentingnya educational spillover dalam memengaruhi status kesehatan pasangan dalam rumah tangga.

Socioeconomic conditions are important factors that determine the level of health achieved by an individual. Education as one dimension in socioeconomic status is known to be closely related to health both directly raising awareness of health and indirectly access to safer jobs and higher incomes. But the level of one's health is not only affected by the individual's own behavior but also influenced by the environment and social context where individual lived, one of them is marriage partner. Using data from Indonesia Social and Economic Survey SUSENAS 2017, this study aim to examine the influence of couple's education attainment on partner's health status in the household. Applying ordered logit model, the result show that spouse's education affects health status of both husband and wife in the household. Married to a highly educated partner will increase a person's chances of having a better health status than married to a low educated partner. Furthermore, the best health condition will be achieved by husband and wife when both are highly educated, while educational homogamy in lower education will reduce couple rsquo s self rated health. Overall, the result indicate the importance of educational spillover in affecting partner's health status in the household."
Depok: Universitas Indonesia, 2018
T50581
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Insan Surya Wiguna Suparta
"Studi ini bertujuan untuk mengetahui korelasi dinamis dan volatility spillover di antara nilai tukar di negara-negara ASEAN-5, minyak bumi, emas, dan batu bara pada periode krisis global, yaitu pandemi COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina dengan mengestimasi model DCC-GARCH (Engle, 2002) dan DY spillover index (Diebold dan Yilmaz, 2012). Kedua model tersebut diestimasi dengan menggunakan data return harian dari 4 Januari 2017 sampai dengan 29 Februari 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa portofolio investasi yang meliputi valuta asing, futures minyak bumi, futures emas, dan futures batu bara tepat untuk digunakan oleh investor di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tetapi kurang tepat untuk investor di Singapura dan Thailand. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan risiko di antara valuta asing, minyak bumi, emas, dan batu bara dibandingkan pandemi COVID-19. Penelitian ini diharapkan dapat membantu investor dan manajer portofolio dalam proses pembuatan portofolio investasi yang optimal dan strategi lindung nilai yang efektif dengan menggunakan valuta asing, minyak bumi, emas, dan batu bara.

This study aims to investigate the dynamic correlation and volatility spillover among exchange rates in ASEAN-5 countries, crude oil, gold, and coal during the global crisis periods, specifically the COVID-19 pandemic and the Russia-Ukraine war, by estimating the DCC-GARCH (Engle, 2002) and DY spillover index (Diebold and Yilmaz, 2012). Both models are estimated using daily return data from January 4, 2017, to February 29, 2024. The findings indicate that an investment portfolio comprising foreign exchange, oil futures, gold futures, and coal futures is suitable for investors in Indonesia, Malaysia, and the Philippines, but less suitable for investors in Singapore and Thailand. Additionally, the study reveals that the Russia-Ukraine war has a greater impact on increasing risks among foreign exchange, oil, gold, and coal compared to the COVID-19 pandemic. This research is expected to help investors and portfolio managers in developing optimal investment portfolios and effective hedging strategies using foreign exchange, crude oil, gold, and coal."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>