Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 188117 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Benediktus Kaisar Devin Tito Rolatisama
"Krisis global yang tidak dapat dihindari membuat integrasi pasar menjadi perhatian menarik, terlebih dalam berinvestasi ke pasar keuangan hingga komoditas minyak dan batu bara. ASEAN-5 merupakan suatu kawasan yang memiliki ketergantungan tinggi pada komoditas utama. Penelitian mengenai integrasi pasar ini di kawasan ASEAN-5 masih sangat terbatas. Padahal, hal ini penting untuk menjaga kinerja portofolio investasi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan dinamis hingga penularan volatilitas antara harga komoditas serta mata uang kawasan ini dengan memperhatikan krisis yang terjadi. Menggunakan data pengembalian harian, metode DCC-GARCH-Connectedness digunakan untuk mengetahui hubungan dinamis serta penularan volatilitas antara kedua aset dengan beberapa pembagian periode. COVID-19 memperlemah integrasi antara minyak dan batu bara dengan nilai tukar. Namun, perang Rusia-Ukraina memperkuat integrasi antara minyak dan batu bara dengan nilai tukar. Secara lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa minyak berperan sebagai pengirim volatilitas, sedangkan batu bara berperan sebagai penerima volatilitas. Investor yang memiliki toleransi risiko rendah dapat berinvestasi pada minyak dan Ringgit untuk meningkatkan diversifikasi portofolio mereka. Selain itu, perusahaan perlu mengurangi ketergantungannya terhadap penggunaan batu bara karena risiko yang lebih besar pada fluktuasi nilai tukar. Pemerintah, melalui bank sentral, dapat melakukan pemantauan terkait harga komoditas, khususnya minyak, karena perannya yang memengaruhi stabilitas nilai tukar.

The unavoidable global crisis set the market integration as an interesting attention, moreover on investing to financial market as well as oil and coal commodity. ASEAN-5 is a region that has a high dependency on main commodities. The research on financial market integration in ASEAN-5 region is still very limited, despite the importance of keeping the strong performance of investment portfolios. Utilizing the data on daily return, this research analyzes the dynamic relationship and volatility spillover between the two assets and some periodical divisions using the DCC-GARCH-Connectedness method. COVID-19 is found to weaken the integration between oil and coal with exchange rate. However, the Russian-Ukraine war managed to strengthen the integration between oil and coal with exchange rate. Additionally, this research found that oil plays a part as the volatility transmitter, while coal acts as the volatility receiver. Investorsmay invest on oil and Ringgit to increase their portfolio diversification. Other than that, companies need to decrease their dependency on coal utilization due to bigger risk on exchange rate fluctuation. Central bank can monitor commodity prices, particularly oil, due to its role in influencing exchange rate stability. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Intan Purbasari
"Penelitian ini membahas mengenai spillover volatilitas antara pasar ekuitas negara anggota ASEAN-5 dengan pasar ekuitas Amerika Serikat dan Jepang, pada periode 1 Januari 2004 sampai dengan 31 Desember 2014. Seluruhperiode penelitian dibagai kedalam tiga periode, yaitu : pra krisis, krisis dan pasca krisis. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah bivariate GARCH (1,1) - full BEKK. Hasil empiris pada penelitian ini, yaitu Pertama, Spillover volatilitas memiliki sifat dan besaran yang berbeda beda tergantung pada periode pra krisis, krisis dan pasca krisis. Kedua, ditemukan bukti bahwa pada periode pra krisis tidak ditemukan adanya spillover volatilitas diantara pasar saham ASEAN-5, namun hasil yang berbeda ditunjukan pada periode krisis dan pasca krisis, pada periode tersebut spillover volatilitas terjadi diantara pasar ASEAN-5, namun pada saat krisis magnitude nya lebih besar dibandingkan pasca krisis. Spillover volatilitas yang terjadi diantara negara ASEAN-5 bersifat satu arah (unidirectional). Ketiga, Ditemukan adanya bukti spillover volatilitas dari pasar Amerika dan Jepang menuju pasar ASEAN-5. Pada saat periode pra krisis, pasar Jepang memberikan pengaruh spillover volatilitas lebih besar dibandingkan pasar Amerika. Sedangkan pada saat krisis dan pasca krisis, pasar Amerika memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan pasar Jepang. Keempat, Hubungan antara pasar Amerika Serikat dan Jepang dengan pasar ASEAN-5 menjadi lebih kompleks pada saat setelah krisis.

This study examines volatility spillover between ASEAN-5 countries? equity market with USA and Japanese markets in the period January 1, 2004 through December 31, 2004. The whole time-period is divided into three periods as related to the world financial and economic crisis of 2008-2009, namely : precrisis, crisis and post-crisis. Bivariate GARCH (1,1) ? FULL BEKK model is employed to simultaneously estimate the conditional variance between seven different indexes. The following are the results of empirical research : The first, volatility spillover has a different nature and magnitude depending on the period of the pre crisis, crisis and post-crisis. Second, there is evidence that in the pre-crisis period, there are no volatility spillover among the ASEAN-5 stock markets, but the different results shown in the crisis and post-crisis period, during this period of volatility spillover occurs between the ASEAN-5 markets, but in times of crisis magnitude is larger than the post-crisis. Internal volatility spillover occurs among ASEAN-5 is one-way (unidirectional).Third, there is evidence of volatility spillover from the U.S. and Japan to the ASEAN-5 markets. At the time of pre-crisis period, the Japanese market volatility spillover effect is greater than the American market. While in times of crisis and post-crisis, the U.S. market gives greater influence than the Japanese market. Fourth, the external and internal relationship in the ASEAN-5 markets become more complex during the post-crisis.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2014
T42561
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Della Pidanti N.
"ABSTRAK
Penelitian ini meneliti hubungan nilai tukar mata uang domestik terhadap Dollar Amerika Serikat dan harga saham di negara ASEAN-5 pada periode 2000-2018. Korelasi diantara kedua variabel diukur menggunakan Dynamic Conditional Correlation GARCH sementara hubungan kausalitas nilai tukar mata uang dan harga saham diukur menggunakan uji kausalitas Granger. Selanjutnya arah dari hubungan kedua variabel juga diteliti untuk menentukan hubungan antara kedua variabel sesuai dengan teori flow-oriented atau rsquo;stock-oriented. Ditemukan bahwa di semua negara ASEAN-5 terdapat korelasi antara nilai tukar mata uang domestik terhadap Dollar Amerika Serikat dan harga saham. Indonesia, Filipina dan Singapura pada selama masa penelitian memiliki korelasi positif, sementara pada Malaysia dan Thailand kedua variabel secara umum memiliki korelasi positif walaupun terkadang terdapat korelasi negatif selama masa penelitiannya. Selanjutnya ditemukan bahwa di Indonesia pergerakan nilai tukar mata uang riil menyebabkan pergerakan harga saham riil sesuai teori flow-oriented sementara di Thailand hubungan yang terjadi adalah kebalikannya sesuai teori rsquo;stock-oriented. Pada Filipina dan Malaysia, walaupun terdapat korelasi di kedua variabel, tidak ditemukan hubungan kausalitas diantara variabel yang diteliti. Sementara itu pada Singapura ditemukan bahwa hubungan yang ada nilai tukar mata uang riil dan harga saham riil adalah hubungan bivariat. Namun, pada era unconventional monetary policy, ditemukan bahwa masing-masing negara memiliki hubungan kausal yang berbeda. Indonesia memiliki hubungan kausalitas bivariat, sementara hubungan di negara Malaysia dan Filipina sesuai dengan teori flow-oriented. Untuk negara Singapura dan Thailand ditemukan bahwa di kedua negara tersebut tidak terdapat hubungan kausalitas antara variabel.

ABSTRACT
This study examines the relationship of real exchange rate of domestic currency to US Dollar and real stock price in ASEAN 5 countries for the period 2000 2018. Correlations between the two variables were measured using the Dynamic Conditional Correlation GARCH while causality between real exchange rate and real stock prices is measured using the Granger causality test. Moreover, the direction of the relationship of the two variables is also examined to determine the relationship between the two variables in accordance with flow oriented rsquo model or stock oriented model. There is evidence of correlation between the exchange rate of the domestic currency against the US Dollar and the stock price in all ASEAN 5 countries. Indonesia, Philippines and Singapore shows positive correlation, while in Malaysia and Thailand both variables generally shows positive correlation although sometimes there are negative correlation during the study period. Furthermore, it is found that in Indonesia the real exchange rate movements cause the real stock price movement in accordance with rsquo flow oriented rsquo model while in Thailand the relationship is reversed consistent with stock oriented model. In the Philippines and Malaysia, although there is correlation in both of variable, there is no evidence of causal relationship. Meanwhile, in Singapore, the study found there is bidirectional causality between real exchange rate and real stock price. However, in the unconventional monetary policy era, each country shows a different type of causal relationship. Indonesia has bivariate causal relationship, while the relationship in Malaysia and Filipina is in accordance with rsquo flow oriented rsquo model. As for Singapura and Thailand, it is found that both of the countries have no causal relationship in the unconventional monetary policy era."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Feny Yurastika
"Penelitian ini berupaya untuk melihat spillover volatilitas return antara pasar saham dan pasar obligasi pemerintah di negara ASEAN-5, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand dengan menggunakan data return harian saham dan obligasi pemerintah periode 3 Januari 2006 sampai 28 Februari 2020. Estimasi menggunakan BEKK-GARCH (1,1,1) menemukan bahwa fenomena spillover volatilitas di negara ASEAN-5 beragam. Tidak terdapat indikasi spillover volatilitas di negara Singapura dan Malaysia. Sedangkan di Filipina dan Thailand terdapat indikasi spillover volatilitas satu arah (unidirectional spillover) dari pasar saham ke pasar obligasi pemerintah. Sementara itu, spillover volatilitas dua arah (bi-directional spillover) yaitu dari pasar saham ke pasar obligasi pemerintah dan dari pasar obligasi pemerintah ke pasar saham terjadi di Indonesia. Hasil estimasi spillover volatilitas return di pasar saham dan obligasi pemerintah negara ASEAN-5 terkait oleh kondisi kedalaman pasar keuangan di negara tersebut. Negara dengan pasar keuangan yang dalam cenderung lebih dapat menyerap guncangan yang terjadi sehingga guncangan di satu pasar tidak menimbulkan spillover ke pasar lainnya.

This thesis analyses the volatility spillover between stock and government bond return in ASEAN-5 countries, namely Indonesia, Malaysia, the Philippine, Singapore, and Thailand using stock and government bond daily return data between 3 January 2006 and 28 February 2020. Estimation using BEKK-GARCH (1,1,1) found that volatility spillover in ASEAN-5 countries are varied. There is no spillover volatility indication in Singapore and Malaysia. Meanwhile, we found unidirectional volatility spillover from the stock market to the government bond market in the Philippine and Thailand. Bi-directional volatility spillover, from the stock market to the bond market and from the bond market to the stock market happened in Indonesia. The various result of ASEAN-5 countries presumably caused by the different levels of financial and institutional depth among the countries. Countries with the deep financial markets could absorb the shocks that occur so that it not spilled and affecting other markets."
Depok: Fakultas Eknonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Insan Surya Wiguna Suparta
"Studi ini bertujuan untuk mengetahui korelasi dinamis dan volatility spillover di antara nilai tukar di negara-negara ASEAN-5, minyak bumi, emas, dan batu bara pada periode krisis global, yaitu pandemi COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina dengan mengestimasi model DCC-GARCH (Engle, 2002) dan DY spillover index (Diebold dan Yilmaz, 2012). Kedua model tersebut diestimasi dengan menggunakan data return harian dari 4 Januari 2017 sampai dengan 29 Februari 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa portofolio investasi yang meliputi valuta asing, futures minyak bumi, futures emas, dan futures batu bara tepat untuk digunakan oleh investor di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tetapi kurang tepat untuk investor di Singapura dan Thailand. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan risiko di antara valuta asing, minyak bumi, emas, dan batu bara dibandingkan pandemi COVID-19. Penelitian ini diharapkan dapat membantu investor dan manajer portofolio dalam proses pembuatan portofolio investasi yang optimal dan strategi lindung nilai yang efektif dengan menggunakan valuta asing, minyak bumi, emas, dan batu bara.

This study aims to investigate the dynamic correlation and volatility spillover among exchange rates in ASEAN-5 countries, crude oil, gold, and coal during the global crisis periods, specifically the COVID-19 pandemic and the Russia-Ukraine war, by estimating the DCC-GARCH (Engle, 2002) and DY spillover index (Diebold and Yilmaz, 2012). Both models are estimated using daily return data from January 4, 2017, to February 29, 2024. The findings indicate that an investment portfolio comprising foreign exchange, oil futures, gold futures, and coal futures is suitable for investors in Indonesia, Malaysia, and the Philippines, but less suitable for investors in Singapore and Thailand. Additionally, the study reveals that the Russia-Ukraine war has a greater impact on increasing risks among foreign exchange, oil, gold, and coal compared to the COVID-19 pandemic. This research is expected to help investors and portfolio managers in developing optimal investment portfolios and effective hedging strategies using foreign exchange, crude oil, gold, and coal."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rizqi Putra
"Penelitian ini menganalisis return dan volatility spillover pada green stocks negara ASEAN-5 dengan green cryptocurrencies menggunakan TVP-VAR connectedness framework. Variabel green stocks negara ASEAN-5 yang digunakan adalah SRI KEHATI, FTSE4Good Bursa Malaysia Index, iEdge Singapore Low Carbon Index, dan SET ESG, sementara variabel green cryptocurrencies yang digunakan adalah Cardano, Stellar-Lumens, Ripple, Nano, dan IOTA. Penelitian ini juga menguji efektivitas hedging yang terdapat pada green stocks dan green cryptocurrencies, baik itu cross-asset hedging maupun intra-asset hedging. Pengujian efektivitas hedging menggunakan metode hedge ratio dan hedging effectiveness. Penelitian ini menggunakan data harga harian yang diubah menjadi data return harian dan data volatility. Periode penelitian tahun 2019-2024, mencakup beberapa periode krisis seperti COVID-19 dan konflik geopolitik perang Rusia Ukraina. Hasil penelitian menunjukkan adanya return dan volatility spillover yang signifikan antara green stocks negara ASEAN-5 dan green cryptocurrencies. Return dan volatility spillover ini mengalami penguatan pada periode krisis COVID-19 dan konflik geopolitik perang Rusia Ukraina yang ditandai dengan penguatan return dan volatility connectedness antar aset. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya potensi intra-asset hedging pada green cryptocurrencies, menunjukkan kemampuan green cryptocurrencies sebagai instrumen hedging. Temuan pada penelitian ini dapat menjadi landasan untuk penelitian lebih lanjut mengenai green asset class, menjadi pertimbangan green investor dalam memilih aset investasi, serta menjadi pandangan dan masukan untuk pembuat kebijakan dalam mendorong pertumbuhan green economy.

This study explores the dynamic return and volatility spillovers between green stocks in ASEAN-5 countries and green cryptocurrencies using the Time-Varying Parameter Vector Autoregressive (TVP-VAR) connectedness framework. The green stock indices selected for this analysis include SRI KEHATI, FTSE4Good Bursa Malaysia Index, iEdge Singapore Low Carbon Index, and SET ESG, while the green cryptocurrencies examined are Cardano, Stellar Lumens, Ripple, Nano, and IOTA. This research also evaluates the effectiveness of hedging strategies within and across asset classes, using the hedge ratio approach and the hedging effectiveness measure. Daily price data were converted into daily return and realized volatility data covering the period from 2019 to 2024. This time frame captures the impact of major crisis periods, including the COVID-19 pandemic and the Russia–Ukraine geopolitical conflict. The empirical findings indicate the presence of significant return and volatility spillovers between green stocks and green cryptocurrencies, with a marked increase in connectedness during the identified crisis periods. Furthermore, the analysis reveals the existence of intra-asset hedging potential among green cryptocurrencies, emphasizing their role as cost-efficient risk diversification tools. These findings contribute to the growing body of literature on green finance and sustainable investing, offering insights for academic researchers, green-focused investors, and policymakers."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Frinanda Ilham Putra
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terjadi transmisi volatilitas antar bursa saham ASEAN-5 dan apakah comovement yang terjadi antara bursa- bursa tersebut selama periode pandemi Covid-19 terjadi akibat contagion atau interdependence. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah bivariate BEKK GARCH untuk menentukan pola transmisi volatilitas dan Adjusted Correlation Coefficient untuk mengetes contagion. Menggunakan data sekunder return saham pada periode 1 Januari 2015-31 Desember 2020, didapatkan hasil bahwa terjadi contagion antar kelima bursa yang ditunjukkan oleh kenaikan korelasi yang signifikan antara periode sebelum dan selama pandemi. Kemudian terdapat transmisi bidirectional volatilitas saham antar kelima bursa, kecuali untuk pasangan SETI-JKSE. Hasil ini mengimplikasikan bahwa kelima bursa saling memengaruhi satu sama lain. Investor serta regulator disarankan untuk lebih berfokus pada strategi investasi dan kebijakan jangka pendek untuk mengurangi dampak negatif dari pandemi terhadap portfolio dan bursa masing-masing negara.

This study aims to see whether there is a volatility transmission between the ASEAN-5 stock exchanges and whether the comovement that occurs between these exchanges during the Covid-19 pandemic period occurs due to contagion or interdependence. The method used in this study is the bivariate BEKK GARCH to determine the pattern of volatility transmission and the adjusted correlation coefficient to test the contagion. Using secondary stock return data for the period 1 January 2015-31 December 2020, it was found that there was contagion between the five exchanges as indicated by a significant increase in correlation between the period before and during the pandemic. Then there is also a bidirectional transmission of stock volatility between the exchanges, except for the SETI-JKSE pair. These results imply that the five exchanges influence each other. Investors and regulators suggested to focus more on short-term investment strategies and policy to reduce the negative impact of the pandemic to portfolio and each country's exchanges."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rifki Adiyat
"Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji pengaruh informasi wabah COVID-19 terhadap pergerakan nilai tukar dan volatilitas nilai tukar mata uang negara ASEAN-5. Informasi wabah ditunjukkan dengan data jumlah kasus infeksi dan kasus kematian akibat COVID-19. Periode penelitian dimulai pada kasus pertama yang terjadi di masing-masing negara ASEAN-5 hingga 31 Desember 2020 dengan menggunakan metode penelitian GARCH. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa informasi wabah COVID-19 signifikan berpengaruh terhadap volatilitas nilai tukar tetapi tidak berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar negara ASEAN-5 dalam satu hari waktu prediksi. Sedangkan dalam lima hari waktu prediksi, wabah COVID-19 tidak signifikan berpengaruh terhadap pergerakan dan volatilitas nilai tukar negara ASEAN-5.

This study was conducted with the aim of testing the effect of information on the COVID-19 outbreak on exchange rate movements and the volatility of the ASEAN-5 countries' currency exchange rates. Information on the outbreak is indicated by data on the number of cases of infection and cases of death due to COVID-19. The research period begins with the first case that occurred in each ASEAN-5 country until December 31, 2020 using the GARCH research method. The results of the study indicate that information on the COVID-19 outbreak has a significant effect on exchange rate volatility but has no effect on exchange rate movements in ASEAN-5 countries in one day of prediction. Meanwhile, within five days of prediction, the COVID-19 outbreak did not significantly affect the movement and volatility of the ASEAN-5 countries' exchange rates."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Widodo
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan ASEAN-5 membentuk integrasi moneter berdasarkan dua pendekatan dalam teori Optimum Currency Area OCA : indeks OCA dan endogenitas kriteria OCA. Hasil indeks OCA menunjukkan ASEAN secara keseluruhan baru memenuhi dua dari empat kriteria OCA yang digunakan. Singapura, Malaysia, dan Thailand dinilai layak membentuk integrasi moneter, sedangkan Indonesia menjadi yang paling tidak layak. Untuk hasil endogenitas kriteria OCA didapati bahwa peningkatan intensitas perdagangan, integrasi keuangan, dan kesamaan sektor produksi akan meningkatkan kesimetrisan guncangan moneter di ASEAN-5, tetapi tidak untuk guncangan penawaran dan guncangan permintaan. Dengan demikian, ASEAN-5 dinilai masih belum layak membentuk integrasi moneter.

ABSTRACT
This study aims to analyze the feasibility of ASEAN 5 in forming monetary integration based on two Optimum Currency Area OCA theory applications OCA index and endogeneity of OCA criteria. OCA index result shows that ASEAN 5 as a whole only complies two of four OCA criteria being used. Singapore, Malaysia, and Thailand are proper in forming monetary integration, whereas Indonesia has become the most improper one. From endogeneity of OCA criteria, it is found that the increasing of trade intensity, financial integration, and similarity of production sector will promote the symmetry of monetary shocks in ASEAN 5, but not for supply shocks and demand shocks. Thereby, ASEAN 5 is assessed not feasible enough in forming monetary integration."
2017
S69792
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Rizky Rizqita
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dynamic return spillover antara aset cryptocurrency dan pasar saham ASEAN-5 dengan menggunakan pendekatan Time-Varying Parameter Vector Autoregression (TVP-VAR). Data yang digunakan berupa data harian selama periode 2018 hingga 2023, yang mencakup masa krisis global seperti COVID-19 dan konflik Rusia–Ukraina. Analisis mencakup tiga aset crypto utama, yaitu Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Binance Coin (BNB), serta lima indeks saham dari negara anggota ASEAN-5, yaitu Singapura (STI), Indonesia (JCI), Malaysia (KLCI), Filipina (PSEI), dan Thailand (SETI), dengan data bersumber dari CoinGecko dan Thomson Reuters Datastream. Hasil penelitian menunjukkan adanya return spillover yang bersifat dinamis antara aset crypto dan pasar saham ASEAN-5, dengan intensitas yang meningkat selama periode krisis. Temuan ini mencerminkan keterkaitan yang semakin erat antara aset digital dan pasar keuangan konvensional dalam menghadapi ketidakpastian global. Selain itu, ditemukan bahwa peran aset crypto terhadap pasar saham bersifat tidak konsisten secara keseluruhan, tetapi menunjukkan pola yang relatif stabil sebagai net transmitter terhadap indeks JCI sepanjang periode observasi, serta terhadap indeks KLCI dan PSEI selama konflik Rusia–Ukraina. Sementara itu, terhadap indeks STI dan SETI, peran aset crypto cenderung berfluktuasi antara sebagai net transmitter dan net receiver. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa dynamic return spillover antara aset crypto dan pasar saham dapat menjadi landasan dalam membangun sistem peringatan dini terhadap transmisi risiko lintas pasar di tengah dinamika pasar global.

This study aims to analyze the dynamic return spillover between cryptocurrency assets and the ASEAN-5 stock markets using the Time-Varying Parameter Vector Autoregression (TVP-VAR) approach. The data employed consist of daily observations from 2018 to 2023, encompassing periods of global crises such as the COVID-19 pandemic and the Russia–Ukraine conflict. The analysis includes three major crypto assets, namely Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), and Binance Coin (BNB), as well as five stock market indices from ASEAN-5 countries, specifically Singapore (STI), Indonesia (JCI), Malaysia (KLCI), the Philippines (PSEI), and Thailand (SETI), with data obtained from CoinGecko and Thomson Reuters Datastream. The results reveal the presence of dynamic return spillovers between crypto assets and the ASEAN-5 stock markets, with intensifying spillover effects during crisis periods. These findings reflect the growing interconnectedness between digital assets and conventional financial markets amid global uncertainties. Furthermore, the role of crypto assets in relation to stock markets is found to be generally inconsistent, yet relatively stable as net transmitters toward the JCI index throughout the observation period, and toward the KLCI and PSEI indices during the Russia–Ukraine conflict. In contrast, the role of crypto assets fluctuates between being net transmitters and net receivers for the STI and SETI indices. This study implies that the dynamic return spillover between crypto assets and stock markets may serve as a basis for developing early warning systems for cross-market risk transmission amid global market dynamics."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>