Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 191388 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Zidan Avecena Yahya
"Penerbitan sertifikat digital oleh perguruan tinggi merupakan bagian penting dari administrasi akademik, karena berfungsi mengesahkan pencapaian mahasiswa. Namun, proses ini seringkali rentan terhadap manipulasi dan pemalsuan. Studi ini mengembangkan aplikasi web untuk penerbitan ijazah digital dalam bentuk Non-Fungible Token (NFT) di atas blockchain Ethereum. Dengan memanfaatkan sifat desentralisasi, kriptografi, dan pencatatan transaksi yang immutable dari blockchain, sistem ini memastikan ijazah tidak dapat dipalsukan dan mudah diverifikasi secara publik. Pengujian performa dilakukan untuk mengevaluasi efisiensi fungsi minting NFT pada jaringan lokal menggunakan framework Hardhat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa untuk 100 transaksi penerbitan NFT, sistem mampu mencapai throughput sebesar 69,66 transaksi per detik (TPS) dengan latency sebesar 0,0144 detik per transaksi. Selain itu, total execution time untuk seluruh transaksi hanya 1,435 detik. Dari sisi efisiensi penggunaan gas, ditemukan bahwa transaksi pertama mengonsumsi gas sebesar 446.505 satuan, sementara transaksi selanjutnya hanya sebesar 415.105 gas, sesuai dengan karakteristik cold storage access pada EIP-2929. Dengan demikian, sistem ini menunjukkan performa tinggi untuk penerbitan ijazah digital dalam jumlah besar, meskipun pengujian pada lingkungan lokal belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi pada jaringan publik Ethereum yang sebenarnya.

The issuance of digital certificates by universities is an essential part of academic administration, serving to validate student’s achievement. However, the process is often vulnerable to manipulation and forgery. This study develops a web-based application for issuing digital diplomas in the form of Non-Fungible Tokens (NFT) on the Ethereum Blockchain. By leveraging the decentralized, cryptographically secure, and immutable nature of blockchain, the system ensures that diplomas cannot be forged and can be easily verified by the public. Performance testing was conducted through 100 NFT minting transactions on a local network. The results showed a throughput of 69.66 transactions per second (TPS), an average latency of 0.0144 seconds, and a total execution time of 1.435 seconds. Gas usage stabilized from 446,505 units on the first transaction to 415,105 units in subsequent ones. These findings indicate that the system performs efficiently for large-scale issuance of digital certificates, although the local testing environment may not fully reflect real-world conditions on the public Ethereum network. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Malik Ardiansyah
"

Saat ini, listrik merupakan sumber daya yang sangat penting untuk semua orang dalam menunjang aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan. Masyarakat dimudahkan dengan banyaknya metode pembayaran tagihan listrik yang bisa mereka pilih. Pada skripsi ini dilakukan penggunaan teknologi Blockchain dalam sistem pembayaran tagihan listrik. Teknologi Blockchain adalah teknologi yang memungkinkan transaksi dilakukan secara terdesentralisasi, transparan, dan aman. Dalam skripsi ini dijelaskan secara sederhana tentang teknologi Blockchain serta bagaimana teknologi ini dapat diterapkan dalam sistem pembayaran tagihan listrik di indonesia dengan membuat sebuah situs web yang dapat digunakan oleh pengguna untuk melakukan pembayaran tagihan listrik elektronik berbasis Blockchain dengan Ethereum sebagai jaringan blockchain yang digunakan. Dari 3 pilihan gas fee yang diujikan sebanyak 10x percobaan, pilihan “aggressive” adalah pilihan yang tepat apabila pengguna ingin proses transaksi yang cepat (4.5s), pilihan “market” cocok untuk pengguna yang baru pertama kali mencoba dan ingin mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh metamask (9.4s). Pilihan “low” adalah pilihan yang paling nyaman para pengguna yang mengutamakan fungsi dan tidak mementingkan kecepatan transaksi (18.8s).


Nowadays, electricity is a very important resource for everyone to support their daily activities. People are facilitated by the various methods to pay electricity bills that are available for them. In this research, Blockchain technology is used in the electricity bill payment system. Blockchain technology is a technology that allows transactions to be carried out in a decentralized, transparent, and secure manner. This research explained about Blockchain technology and how this technology can be applied in the electricity bill payment system in Indonesia by creating a website that can be used by users to pay their electricity bills with Ethereum as the blockchain network. Of the three gas fee options tested, “aggressive” option is the right choice if users want a fast transaction process (4.5s), “market” option is suitable for first-time users and wants to follow the standards set by metamask (9.4s). The “low” option is the most comfortable choice for users who prioritize function and are less concerned with transaction speed (18.8s)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuda Chandra Wiguna
"Perkembangan dunia digital telah membuat beberapa aspek kehidupan secara teknis berubah, dari beberapa metode konvensional menjadi modern. Modernisasi pada era digital ini tentu memudahkan pekerjaan yang dahulunya membutuhkan sumberdaya manusia yang terbilang masif menjadi tereduksi karena adanya teknologi. Hadirnya teknologi blockchain dapat menjadi solusi ditengah minimnya keamanan data akan peretesan dan manipulasi data. Ethereum sebagai platform yang berbasis blockchain dan tingginya keamanan data melalui algoritma hasing mencoba menyelesaikan hal-hal yang menjadi perhatian belakangan ini. Kemudian algoritma hashing ini diterapkan ke beberapa pemodelan seperti website bebbasis data yang bertujuan untuk meningkatan integeritas database agar tidak mudah disusupi dan dimanipulasi. Algoritma Ethereum Keccak-256 akan diuji dengan mencoba beberapa jenis parameter agar mendapatkan variabel yang optimal untuk diimplementasikan dalam proyek voting elektronik agar lebih baik dalam kredibilitas dan integritas.
Hasil dari variasi percobaan kedua bahwa difficulty yang ideal ialah 10.000.000 dibandingkan dengan dua variasi lainnya. Namun, difficulty ini belum lah sepenuhnya dikatakan ideal jika menggunakan nilai difficulty lainnya. Dengan menggunakan variasi difficulty, maka blok dapat diverifikasi selama 440,872ms untuk difficulty 100.000, 20,188ms untuk difficulty 1.000.000, dan 0,222ms untuk difficulty. 10.000.000.Pada difficulty 100.000, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan algoritma hash merupakan variasi yang paling lama dengan rata-rata waktu hash per blok 80,291ms untuk 1 satu thread process, 240,457ms untuk 2 dua thread process, dan 440,872ms untuk 4 empat thread process.

The development of the digital world has made some aspects of life technically change, from some conventional methods to being modern. Modernization in this digital era would facilitate the work that formerly require human resources that are somewhat massive to be reduced due to the technology. The presence of blockchain technology can be a solution amid the lack of data securities will hacking and data manipulation. Ethereum as a blockchain based platform and high security securities through a hasing algorithm trying to solve things of concern lately. Then the hashing algorithm is applied to some modeling such as website based data that aims to increase the integrity of the database so as not to be easily infiltrated and manipulated. The Ethereum Algorithm Keckak 256 will be tested by attempting several types of parameters to obtain the optimal variable to be implemented in electronic voting projects to make better credibility and integrity.
The result of experimental variation that the ideal difficulty is 10,000,000 compared to the other two variations. However, this difficulty is not yet fully said to be ideal if using other difficulty values. By using variations of difficulty, the blocks can be verified for 440.872ms for 100,000 difficulty, 20.188ms for 1,000,000 difficulty, and 0.222ms for difficulty. 10.000.000. On difficulty 100,000, the time required to complete the hash algorithm is the longest variation with the average hash time per block 80,291ms for 1 one thread process, 240,457ms for 2 two thread process, and 440,872 ms for 4 four thread process.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Apriani
"Teknologi blockhchain menyediakan komunikasi yang aman, privasi data, ketahanan dan transparansi. Dari ketiga generasi blockchain, generasi blokchain 2.0 lebih dikenal dengan platform Ethereum dan Hyperledger lebih banyak digunakan. Komponen utama pada blokchain adalah kriptografi. Algoritma kriptografi yang diimplementasikan untuk tanda tangan digital pada platform blockchain adalah algorima Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA). Sedangkan untuk algoritma fungsi hash pada Ethereum adalah KECCAK-256. Celah kerawanan pada blockchain terkait dengan fungsi hash adalah hacking hash function. KECCAK-256 dianggap cukup kuat dengan komputasi yang sekarang. Namun dengan adanya komputer kuantum, maka akan meningkatkan resiko peretasan pada fungsi hash. Lightweight cryptography adalah cabang baru kriptografi yang dirancang untuk mengatasi kompleksitas matematik, daya pemprosesan yang tinggi dan ruang memori yang besar terkait kriptografi primitive. Lightweight cryptography khusus fungsi hash telah disahkan berdasarkan standar internasional ISO/IEC 29192-5. Iso/IEC 29192-5 menetapkan tiga algoritma fungsi hash. Implementasi lightweight cryptography berbasis konstruksi sponge adalah PHOTON dan SPONGENT. Mengingat pentingnya fungsi hash dalam teknologi blockhain dan terdapat celah kerawanan dan daya komputasi yang mempengaruhi performa platform blockchain, maka pada penelitian ini akan direkomendasikan algoritma hash SPONGENT-256 dan PHOTON-256 untuk diimplementasikan pada sistem blockchain berbasis Ethereum. Implementasi algoritma hash SPONGENT-256 dan PHOTON-256 untuk diimplementasikan pada sistem blockchain berbasis Ethereum menghasilkan output berupa address, kunci publik dan wallet. Hasil test terhadap Algoritma SPONGENT-256 menghasilkan waktu yang singkat untuk dieksekusi rata-rata waktu real 0,0328 s, waktu user 0,0208 s dan waktu sys 0,0118 s. Hal ini akan memberikan hasil yang signifikan jika diimplementasikan pada sistem blockchain berbasis Ethereum dengan banyak node dan data yang akan dihasilkan. Namun algoritma SPONGENT-256 membutuhkan banyak memori untuk melakukan pemprosesan dengan rata-rata sebesar 75%. Sedangkan algoritma KECCAK-256 menggunakan memori lebih sedikit dibandingkan dengan algoritma PHOTON-256 dan algoritma SPONGENT-256 dengan rata-rata penggunaan memori sebesar 55%. Berdasarkan hasil implementasi algoritma hash SPONGENT-256 pada blokchain berbasis Ethereum dan analisis terhadap hasil maka dapat disimpulkan bahwa algoritma SPONGENT-256 dapat digunakan sebagai alternatif algoritma fungsi hash untuk sistem blokchain berbasis Ethereum.

Blockchain technology provides secure communication, data privacy, resilience and transparency. From the third generation of blockchain, blockchain generation 2.0 is better known as the Ethereum platform and Hyperledger is more widely used. The main component of the blockchain is cryptography. The cryptographic algorithm implemented for digital signatures on the blockchain platform is the Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA). As for the hash function algorithm on Ethereum is KECCAK-256. The vulnerability in blockchain related to hash functions is hash function hacking. KECCAK-256 is considered quite powerful with current computing. However, the presence of a quantum computer increases the risk of hacking the hash function. Light cryptography is a new branch of cryptography designed to overcome the mathematical complexity, high processing power and large memory space associated with primitive cryptography. Hash function-specific lightweight cryptography has been certified according to the international standard ISO/IEC 29192-5. ISO/IEC 29192-5 defines three hash function algorithms. The implementation of lightweight cryptography based on sponge construction is PHOTON and SPONGENT. Given the importance of hash functions in blockchain technology and the vulnerability and computational power gaps that affect the performance of the blockchain platform, this research will recommend SPONGENT-256 and PHOTON-256 hash algorithms to be implemented on Ethereum-based blockchain systems. The implementation of the SPONGENT-256 and PHOTON-256 hash algorithms to be implemented on an Ethereum-based blockchain system produces output in the form of addresses, public keys and wallets. The test results of the SPONGENT-256 Algorithm produce a short time to execute with an average real time of 0.0328 seconds, user time 0.0208 seconds and system time 0.0118 seconds. This will give significant results if implemented on an Ethereum based blockchain system with many nodes and data to be generated. However, the SPONGENT-256 algorithm requires a lot of memory for processing with an average of 75%. While the KECCAK-256 algorithm uses less memory than the PHOTON-256 algorithm and the SPONGENT-256 algorithm with an average memory usage of 55%. Based on the implementation of the SPONGENT-256 hash algorithm on the Ethereum-based blockchain and analysis of the results, it can be said that the SPONGENT-256 algorithm can be used as an alternative hash function algorithm for Ethereum-based blockchain systems. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naufal Ikhsan
"Pembangkit listrik virtual merupakan pengembangan sistem transaksi energi listrik secara terdesentralisasi. Penelitian ini membahas perancangan dan implementasi sistem transaksi energi listrik dengan pemodelan konsep pembangkit listrik virtual yang diterapkan menggunakan smart contract berbasis blockchain Ethereum. Sistem transaksi energi terdiri dari smart contract, decentralized application berbasis website dan kWh meter. Hasil penelitian didapatkan bahwa sistem transaksi berhasil berjalan dengan skenario produksi memenuhi konsumsi, produksi tidak memenuhi konsumsi tetapi sistem tidak presisi dengan skenario produksi melebihi konsumsi. Nilai posisi transaksi dipengaruhi harga Gas dan data transaksi. Besar biaya Ether untuk transaksi dipengaruhi harga Gas dan data transaksi. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pemanggilan data blockchain dipengaruhi jumlah data pada tipe data integer dan string.

Virtual power plant is a decentralized development of electrical energy transaction systems. This study discusses the design and implementation of electrical energy transaction systems by modeling the concept of virtual power plants that are implemented using Ethereum blockchain-based smart contracts. The energy transaction system consists of a smart contract, decentralized application websitebased and kWh meter. The results showed that the transaction system was successful with the production scenario meeting consumption, production did not meet consumption, but the system was not precise with the production scenario exceeding consumption. Transaction position value is influenced by Gas price and transaction data. The Ether fee for the transaction is influenced by Gas prices and transaction data. The time needed to call blockchain data is influenced by the amount of data in the integer and string data types."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ananda Rizky Duto Pamungkas
"Pada penelitian ini dilakukan penerapan tingkat keamanan lebih dengan penggunaan sistem penyimpanan data peer-to-peer berbasis Inter-Planetary File System (IPFS) pada blockchain ethereum. IPFS digunakan sebagai media penyimpanan data gambar yang kemudian akan menghasilkan IPFS hash atau content identifier (CID). CID akan digunakan untuk mengakses data gambar pada IPFS yang dapat dilakukan dengan bantuan gateway IPFS. CID ini akan dikirimkan pada blockchain menggunakan smart contract. Hasil dari penelitian membuktikan bahwa penggunaan IPFS sebagai keamanan tambahan pada sistem blockchain dapat dilakukan. Ukuran file yang dikirimkan menggunakan IPFS akan mempengaruhi waktu yang dibutuhkan IPFS untuk mengirimkan file tersebut. Semakin besar ukuran file yang dikirimkan, maka akan semakin banyak waktu yang dibutuhkan. Untuk selisih ukuran file sebesar 1MB terjadi kenaikan waktu akses sekitar 5%. Jarak gateway IPFS yang digunakan juga akan mempengaruhi waktu akses terhadap file. Semakin jauh jarak gateway IPFS dengan pengakses, maka semakin banyak waktu yang dibutuhkan. Untuk selisih jarak gateway IPFS sebesar 1.000 km terjadi penurunan waktu akses sekitar 5%. Jarak gateway IPFS dengan pengakses juga mempengaruhi keberhasilan dalam mengakses data. Pada gateway dengan jarak terjauh, yaitu Amerika Serikat terjadi kegagalan akses sebesar 24%.

In this study, a higher level of security was implemented by using an Inter-Planetary File System (IPFS) based peer-to-peer data storage system on the ethereum blockchain. IPFS is used as an image data storage medium which will then generate an IPFS hash or content identifier (CID). CID will be used to access image data on IPFS which can be done with the help of IPFS gateway. This CID will be sent on the blockchain using a smart contract. The results of the study prove that the use of IPFS as additional security on the blockchain system can be done. The size of a file sent using IPFS will affect the time it takes IPFS to send the file. The larger the file size that is sent, the more time it will take. For the difference in file size of 1MB there is an increase in access time of about 5%. The distance of the IPFS gateway used will also affect the access time to files. The farther the IPFS gateway is from the accessor, the more time it will take. For the difference in IPFS gateway distance of 1,000 km, there is a decrease in access time of about 5%. The distance between the IPFS gateway and the accessor also affects the success in accessing data. At the gateway with the farthest distance, namely the United States, there was an access failure of 24%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ian Joseph
"Penelitian ini membahas mengenai bagaimana teknologi blockchain dapat diterapkan pada sistem rekam medis elektronik menggunakan Ethereum. Tujuan dari penggunaan teknologi blockchain pada sistem rekam medis elektronik adalah untuk menjaga integritas data rekam medis supaya tidak berubah. Blockchain dapat digunakan untuk menyimpan metadata dan hasil enkripsi dari rekam medis yang tersimpan di dalam database, dengan demikian rekam medis akan memiliki segel yang dapat digunakan untuk verifikasi keaslian data. Proses pada penelitian ini terdiri atas perancangan sistem rekam medis pada blockchain serta pengujian performa hardware yang digunakan untuk menjalankan blockchain. Pada tahap pengujian akan dilakukan analisa pengaruh jumlah load transaksi terhadap performa Hardware blockchain. Melalui hasil analisa, jumlah load transaksi pada satu waktu memberikan pengaruh terhadap performa CPU dan durasi elapse time untuk setiap transaksi. Jumlah load transaksi tidak memberikan pengaruh secara langsung terhadap performa RAM dan Disk I/O, dikarenakan terdapat faktor eksternal yang memberikan pengaruh lebih besar terhadap kedua komponen tersebut dibandingkan jumlah load transaksi.

This research discusses how blockchain technology can be applied to electronic medical record systems using Ethereum. The purpose of blockchain implementation into an electronic medical record system is to keep the data integrity from data changes that are not permitted. Blockchain can be used to store the metadata and encryption result of a medical record that is stored in a database; thus, the medical record will have a seal that can be used to verify its authenticity. This research consists of designing a medical record system based on blockchain and evaluating system performance to run the blockchain. During the testing phase, the effect of the number of load transactions will be analyzed with the performance of the blockchain system. Through the results of the analysis, the number of transaction loads at one time influences CPU performance and the duration of the elapsed time for each transaction. The transaction load amount does not directly affect RAM and Disk I/O performance, because several external factors have a more significant influence on both components than the number of transaction loads."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anak Agung Ngurah Agung Suryadipta Wardhana
"Penelitian ini berusaha melihat konstruksi makna demokratisasi industri seni digital melalui praktik seni NFT (Non-Fungible Token) oleh para anggota Komunitas NFT Indonesia. Teknologi blockchain secara umum mengusung konsep desentral yang berupaya untuk mendisrupsi berbagai industri termasuk seni digital. Dalam konsepsi Trevor J. Pinch dan Wiebe E. Bijker, pengembangan teknologi merupakan hasil konstruksi sosial dari proses interpretasi fleksibel oleh kelompok sosial relevan. Kemudian aktivitas dalam Komunitas NFT Indonesia terkait praktik seni NFT melalui konsepsi Henry Jenkins dilihat sebagai budaya partisipatori yang turut membentuk konstruksi sosial teknologi blockchain sebagai demokratisasi industri seni digital. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dan metode netnografi dengan melibatkan lima narasumber anggota Komunitas NFT Indonesia. Makna blockchain sebagai demokratisasi industri seni digital terlihat pada penafsiran narasumber terhadap praktik seni NFT seperti kendali kuat seniman atas penandaan keaslian, pengembangan loyalitas penggemar, penentuan harga awal dan kontinuitas finansial dari royalti. Anggota komunitas daring tersebut mengonstruksi makna blockchain sebagai demokratisasi industri seni digital melalui aktivitas komunikasi yang terjadi dalam praktik seni NFT.

This research attempts to look at the construction of the meaning of democratization of the digital art industry through NFT (Non-Fungible Token) art practices by members of the Indonesian NFT Community. Blockchain technology in general carries a decentralized concept that seeks to disrupt various industries including digital arts. In the conception of Trevor J. Pinch and Wiebe E. Bijker, technological development is the result of social construction from a process of flexible interpretation by relevant social groups. Hence the activities within the Indonesian NFT Community related to the practice of NFT art through the conception of Henry Jenkins are seen as a participatory culture that also shaped the social construction of blockchain technology as a democratization of the digital art industry. This study uses the constructivism paradigm and the netnographic method involving five informants from the Indonesian NFT Community. The meaning of blockchain as a democratization of the digital art industry is seen in the interviewees’ interpretation of NFT art practices such as artist’s strong control over marking of authenticity, developing fan loyalty, initial pricing and financial continuity of royalties. Members of the online community construct the meaning of blockchain as a democratization of the digital art industry through communication activities that occur in NFT art practices."
Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fathia Rizkiayu Safira
"Penelitian ini bertujuan menggali interaksi antar entitas di dalam ekosistem komersialisasi NFT art dan konstruksi nilai simbolis dalam NFT art. Studi-studi sebelumnya yang berfokus pada komersialisasi di dalam pasar blockchain melihat bagaimana peran sistem blockchain dan tokenisasi NFT memengaruhi proses komersialisasi. Namun demikian, kedua kelompok studi tersebut belum menjelaskan ikatan antar entitas di dalam maupun di luar sistem blockchain yang dapat mempengaruhi ekosistem komersialisasi NFT art dan menjelaskan konstruksi nilai simbolis NFT art. Peneliti berargumen bahwa interaksi antar entitas dalam proses komersialisasi NFT art lebih daripada interaksi antar aktor di dalam pasar NFT dan sistem blockchain. Studi ini menggunakan Actor Network Theory (ANT) melalui tahapan Translasi untuk mengidentifikasi terbentuknya jaringan. Studi ini juga menggunakan tipologi nilai simbolis untuk melihat konstruksi nilai simbolis yang terbentuk dalam pasar NFT terhadap NFT art. Studi kualitatif ini menggunakan metode Social Network Analysis (SNA) dengan teknik pengumpulan data in-depth interview dan observasi digital sebagai triangulasi metode terhadap informan yaitu NFT artist. Studi ini menemukan bahwa interaksi di dalam ekosistem ini mencakup aktor manusia dan non-manusia yang bergerak ke arah tujuan yang sama baik di dalam maupun luar jaringan blockchain. Nilai simbolis NFT art ditentukan oleh interaksi antara artist, collector, media sosial, dan pasar, dengan fokus pada kelangkaan, eksklusivitas, dan prestise sosial. Dalam studi ini, komunitas menjadi aktor yang berperan sebagai representasi jaringan komersialisasi NFT art.

This study aims to explore the interactions among entities within the commercialization ecosystem of NFT art and the construction of symbolic value in NFT art. Previous studies focusing on commercialization in the blockchain market have examined how the blockchain system and NFT tokenization influence commercialization processes. However, these studies have not addressed the connections between entities both within and outside the blockchain system that can impact the commercialization ecosystem of NFT art and explain the construction of its symbolic value. This study argues that interactions among entities in the commercialization process of NFT art extend beyond interactions among actors within the NFT market and blockchain system. The study using Actor-Network Theory (ANT) through the stages of Translation to identify the formation of networks. Additionally, it is also using a typology of symbolic value to examine the construction of symbolic value within the NFT market for NFT art. This qualitative study using Social Network Analysis (SNA) methodology with data collection techniques including in-depth interviews and digital observation as a triangulation involving NFT artists as informants. The study finds that interactions within this ecosystem involve both human and non-human actors moving towards common goals both within and outside the blockchain network. The symbolic value of NFT art is determined by interactions among artists, collectors, social media, and the market, with a focus on scarcity, exclusivity, and social prestige. In this study, the community emerges as an actor representing the commercialization network of NFT art."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jovi Handono Hutama
"Masyarakat membutuhkan teknologi digital untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari. Salah satu dampak dari teknologi digital adalah pengurusan dokumen fisik yang berubah menjadi dokumen digital. Pada ranah logistik tidak terlepas dari dokumen yang memuat informasi atas kepemilikan barang. Angkutan peti kemas memiliki banyak sekali dokumen fisik dalam proses pengirimannya. Dokumen fisik ini dapat menjadi target kejahatan seperti contohnya dipalsukan, disalin, atau dirusak. Biaya pengurusan administrasinya juga dapat dikatakan mahal karena banyak pihak terlibat. Dokumen penting yang dapat menjadi target kejahatan yaitu Bill of Lading. Oleh karena itu, penulis ingin membuat sebuah sistem yang dapat mengatasi masalah-masalah tersebut. Pada tugas akhir ini penulis mencoba untuk membuat sebuah sistem berbasis blockchain untuk pengurusan administrasi, khususnya pada dokumen Bill of Lading. Rancangan sistem terdiri dari front-end, back-end, dan blockchain. Blockchain dibuat menggunakan Ethereum dengan framework Geth dan bertipe permissioned blockchain. Penyimpanan data dan proses bisnis dilakukan pada smart contract yang ditanam ke dalam blockchain. Setiap node akan tersinkronisasi dengan node lain melalui mekanisme konsensus proof-of-authority, sehingga data yang dimiliki akan selalu sama. Sistem dievaluasi dengan menguji sifat dasar blockchain, yaitu decentralized, immutable, dan verifiable. Walaupun sistem masih terdapat beberapa kekurangan, hasil pengujian tugas akhir ini menunjukkan bahwa sistem berbasis Ethereum ini dapat menjadi alternatif untuk sistem yang masih tradisional.

People need digital technology to make their daily work easier. One of the impacts of digital technology is the processing of physical documents that turn into digital documents. In the realm of logistics, it cannot be separated from documents containing information on ownership of goods. Container transportation has a lot of physical documents in the shipping process. These physical documents can be the target of crimes such as being forged, copied, or tampered with. Administration costs can also be said to be expensive because many parties are involved. Bill of Lading is an important document that can be a target for crime. Therefore, the author wants to create a system that can overcome these problems. In this research, the author tries to create an blockchain-based system for administrative management, especially in the Bill of Lading document. The system design consists of front-end, back-end, and blockchain. The blockchain is created using Ethereum network with the Geth framework and is a permissioned blockchain. Data storage and business processes are carried out on smart contracts embedded into the blockchain. Each node will be synchronized with other nodes through a proof-of-authority consensus mechanism, so the data held will always be the same. The system is evaluated by testing the basic properties of the blockchain, namely decentralized, immutable, and verifiable. Although the system still has some shortcomings, the results of this final project show that this Ethereum-based system can be an alternative to traditional systems."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>