Ditemukan 98342 dokumen yang sesuai dengan query
Carey, Peter
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2024
809.933 522 CAR p
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Carey, Peter
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2024
809.933 522 CAR p
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Ailah Dahlia
"Dikukuhkannya sistem keluarga tradisional Ie sebagai standar keluarga nasional dalam Meiji Minpo di zaman Meiji telah membuat keadaan perempuan Jepang lebih buruk lagi dari sebelumnya Akan tetapi di tengah tengah bangsa yang sangat patriarkat tersebut komunitas geisha justru muncul dengan sistem matriarkat yang dijalankan dengan ketatnya Skripsi ini membahas mengenai keunikan sistem matriarkat dalam komunitas geisha Kyoto serta ldquo penolakan rdquo nya terhadap dominasi kaum lelaki di zaman Meiji Penelitian ini merupakan kajian pustaka dengan metode deskriptif analisis Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dijalankannya sistem matriarkat dalam komunitas geisha tersebut telah membebaskan mereka dari berbagai subordinasi seperti yang telah diterima perempuan pada umumnya.
During the Meiji period, the condition of women in Japan deteriorated as a result of Ie, the Japanese traditional family system, which was further legitimized by Meiji Civil Code. The geisha community, however, created a stringently matriarchy system in the midst of a patriarchy nation. This study focuses on the uniqueness of the matriarchy system established by the geisha community of Kyoto, and its “rejection” of Meiji Period male dominance. The research conducted was primarily a literature study, using techniques of descriptive analysis, and the result show that the matriarchy system of Kyoto geisha community was able to sustain itself by means of several sub-ordinations received by women in general."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S47064
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Chandra Linsa Hikmawati
"
ABSTRAKPenelitian ini membahas mengenai pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa dalam Tragedi Mei 1998 di Jakarta. Beberapa studi yang membahas kekerasan terhadap masyarakat Tionghoa dalam Tragedi Mei 1998 di Jakarta sedikit yang menaruh perhatian pada kekerasan terhadap perempuan Tionghoa (misalnya Purdey 2013; Siegel 1998; dan Tadié 2009). Beberapa penulis yang mencoba memberikan perhatian seperti Heryanto (2000) dan Wichelen (2000) masih melihat masalah itu dari satu aspek bahasan seperti kekerasan negara dan gender. Dengan menggunakan metode kualitatif yaitu dengan pemeriksaan dokumen yang relevan dan studi literatur, penelitian ini berargumen bahwa pemerkosaan terhadap perempuan Tionghoa merupakan peristiwa yang kompleks dan perlu dilihat dengan penjelasan yang lebih dalam. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan peristiwa tersebut dengan konsep opresi atau kekerasan berlapis dengan menggunakan konsep kekerasan struktural, interseksionalitas, ideologi gender negara, dan pemerkosaan massal. Opresi berlapis terhadap masyarakat Tionghoa melihat bahwa posisi mereka yang kuat secara ekonomi namun lemah secara sosial-politik telah membangun akar sentimen masyarakat pribumi terhadap masyarakat Tionghoa. Situasi tersebut semakin rumit dengan adanya ideologi gender negara serta budaya patriarki masyarakat dalam memandang perempuan (konstruksi sosial keperempuanan sebagai simbol kehormatan dan objektifikasi dari tubuh perempuan)."
Jakarta: Departemen Ilmu Politik FISIP UI, 2017
320 JURPOL 2:2 (2017)
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Carey, P.B.R.
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2017
305.4 CAR p
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Retno Sekarningrum
"Sebagai penghubung antara pelabuhan utama, seperti Malaka, Singapura, Ternate, dan Makassar, Gorontalo memainkan peran penting dalam jaringan pelayaran dan perdagangan di wilayah utara Sulawesi. Kondisi ini diperkuat oleh ketersediaan beragam komoditas, terutama emas dan budak. Dua komoditas penting ini telah diekspor, terutama oleh para pedagang Bugis dan Mandar, ke pasar internasional sejak abad XVI. Sayangnya, kajian mengenai perkembangan pelabuhan Gorontalo masih kurang mendapat perhatian dari para sejarawan yang hanya berfokus pada peranan pelabuhan-pelabuhan besar. Tulisan ini melihat arah perkembangan pelabuhan Gorontalo dalam mengekspor emas dan budak pada abad XVIII hingga abad XIX. Dengan menerapkan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi, tulisan ini memperlihatkan bahwa perkembangan pelabuhan Gorontalo dalam mengekspor emas dan budak mengalami dinamikanya sendiri. Dinamika itu tercermin dari hilangnya akses para pedagang Bugis dan Mandar terhadap perdagangan komoditas emas dan budak di Gorontalo sejak monopoli perdagangan VOC pada abad XVII. Monopoli perdagangan VOC atas komoditas tersebut berujung pada ketidakamanan aktivitas pelayaran-perdagangan di sekitar Gorontalo akibat maraknya perompakan oleh bajak laut dan penyelundupan.
As a hub between major ports such as Malacca, Singapore, Ternate, and Makassar, Gorontalo plays a crucial role in the shipping and trade networks of the northern region of Sulawesi. This condition was strengthened by the availability of numerous commodities, especially gold, and enslaved people. These two essential commodities had been exported, mainly by Bugis and Mandar traders, to the international market since the 16th century. Studies on the development of the Gorontalo port have received less attention from historians who only focused on the role of large ports. This paper focuses on the development of Gorontalo port in exporting gold and enslaved people in the 18th to 19th centuries. By implementing the historical method, which comprises heuristics, criticism, interpretation, and historiography, this paper points out that the development had its dynamics. Bugis and Mandar traders reflected this dynamic when they lost access to trade in gold and the enslaved people in Gorontalo since the VOC trade monopoly in the seventeenth century. The monopoly led to the vulnerability of shipping-trade activities around Gorontalo to rampant piracy by pirates and smuggling."
Kalimantan Barat : Balai Pelestarian Nilai Budaya , 2023
900 HAN 6:2 (2023)
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Ajeng Agrita Dwikasih Wardani
"
ABSTRAKTesis ini membahas tentang reproduksi patriarki yang dilakukan oleh perempuan etnis jawa yang tinggal di wilayah cibubur II RT 012/RW 010, Jakarta Timur. penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. hasil penelitian menyimpulkan bahwa suatu budaya rupanya seperti pisau bermata dua, nilai budaya bila ia mendominiasi perempuan maka ia menjadi kebudayaan yang menindas perempuan. namun sebaliknya, apabila nilai budaya bukanlah sebagai alat untuk dominasi, maka budaya akan menjadi kebudayaan yang membebaskan perempuan. budaya jawapun demikian, seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa nilai-nilai budaya yang terkandung dalam budaya jawa sarat akan nilai yang sangat mengagungkan laki-laki. nilai-nilai inilah yang masig dipegang teguh oleh perempuan pendatang dari jawa yang tinggal di wilayah cibubur II RT 012/RW 010, Jakarta Timur dimana mayoritas dari mereka meyakini bahwa konsep koncowingking merupakan kodrat bagi seorang perempuan. implikasi dari hal tersebut adalah keenggenan perempuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
ABSTRACTThis thesis discusses the reproduction of patriarchy by javanese women who live in the Cibubur II RT 012/RW 010, east Jakarta. this research is a qualitative descriptive design. the research conclude that a culture seems like a double-edged sword when he dominated the culture value of women so he became a culture that oppreses women. on the contrary, if the value of the culture as a tool for domination is not the culture will become culture that liberates women. javanese culture is so, as we have seen previously that the culture value embody in javanese culture full of highly exalts man. this values are still firmly held by women migrants from java who live in the cibubur II RT 012/RW 010, East Jakarta where a majority of them believe that the concept konco wingking is a natural for women. the implication of that is the reluctance of women to continue their education to a higher level"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
T33613
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Kristi Muji Khasiati
"Karya sastra merupakan representasi kenyataan sosial yang di dalamnya mengandung nilai-nilai kehidupan. Salah satu nilai yang penting adalah terkait dengan tipe ideal perempuan. Karya sastra yang dijadikan objek penelitian adalah transliterasi yang dilakukan oleh Wiwin Indiarti dan Anasrullah. Masalah yang dibahas adalah bagaimana citra perempuan ideal Jawa Timur digambarkan dalam teks Sri Tanjung Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengangkat kembali nilai-nilai perempuan yang ideal di Jawa Timur untuk dijadikan pedoman hidup perempuan Jawa. Hasil temuan penelitian ini adalah citra perempuan dalam teks Sri Tanjung Banyuwangi terbagi menjadi dua bagian, yaitu citra fisik (berupa berwajah cantik, melangkah dengan pelan, berpakaian indah dan tertata rapi) dan citra non-fisik (berupa sikap hormat, ikhlas, setia, berbakti kepada suami, nrima dan sumarah, jujur, bener, dan temen). Citra fisik dan citra non-fisik tersebut kemudian dikaitkan dengan unen-unen atau ungkapan dalam budaya Jawa yang menggambarkan karakter atau kepribadian perempuan ideal Jawa Timur.
A literary work is a representation of social reality which contains values of life. One of the important values is related to the ideal type of woman. The literary work that became the object of research is the transliteration carried out by Wiwin Indiarti and Anasrullah. The issue is how the image of the ideal East Javanese woman is described in the text of Sri Tanjung Banyuwangi. This research uses a descriptive-qualitative approach. The purpose of this research is to raise back the values of ideal women ini East Java to serve as guidelines for the lives of Javanese women. The result of this research is that the image of women in the text of Sri Tanjung Banyuwangi is divided into two parts, namely the physical image (with beautiful appearance, walking slowly, dressed beautifully and orderly) and the non-physical image (with respect, sincerity, loyalty, obedience and devotion to the husband, nrima and sumarah, honest, bener, and temen). These physical images and non-physical images are then associated with unen-unen or expressions in Javanese culture that show the character or personality of the ideal East Javanese woman."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Branca, Patricia
London: Croom Helm, 1978
301.41 BRA w
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Aufa Auly Nona Bunga Evelyn Bias Iswara
"Potret perempuan dalam memerdekakan hak-haknya di lingkungan kerja merupakan hal yang esensial untuk dikaji. Fenomena tersebut secara eksplisit dipaparkan Woro Januarti dalam Novel Di Balik Dinding Penampungan. Penelitian ini berisi gambaran perjuangan buruh migran perempuan yang selalu dimarginalkan secara sosial, ekonomi, dan budaya, menjadi objek seksual, serta mendapatkan perlakuan kasar oleh atasan mereka. Novel tersebut dipilih sebagai korpus penelitian karena memiliki kekhususan penggambaran cerita yang ditunjukkan tokoh utama dengan menggunakan budaya Jawa sebagai alat untuk memperjuangkan hak dan harga diri perempuan migran. Dalam hal ini, keharusan buruh migran perempuan untuk memotong rambutnya seperti laki-laki dan hilangnya kemaskulinan tokoh laki-laki yang memiliki otoritas kuasa sebagai wujud resistensi perempuan. Dengan demikian, perempuan memiliki peluang untuk memperoleh kekuasaan dengan memasuki wilayah laki-laki di ranah pekerjaan dengan menerima legitimasi fungsi domestik. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan struktural yang memfokuskan pada penokohan dengan metode close reading. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan di ranah pekerjaan dapat disebabkan beberapa faktor, seperti latar belakang pendidikan, keterampilan, dan kecantikan sehingga menyebabkan hadirnya pemerkosaan, penghinaan, marginalisasi, dan kekerasan fisik yang tidak manusiawi. Hasil yang ditemukan diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dalam memahami posisi perempuan untuk memerdekakan haknya sebagai subjek perubahan.
The portrait of women in liberating their rights in the work environment is an essential thing to study. This phenomenon is explicitly described by Woro Januarti in the Novel Behind the Walls of Shelters. This research contains an overview of the struggles of female migrant workers who are always marginalized socially, economically, and culturally, become sexual objects, and receive harsh treatment by their superiors. The novel was chosen as the research corpus because it has the specificity of depicting the story shown by the main character by using Javanese culture as a tool to fight for the rights and dignity of migrant women. In this case, the necessity of female migrant workers to cut their hair like men and the loss of masculinity of some male figures who have power as a form of women’s resistance. Thus, women have the opportunity to gain power by entering the realm of men in the realm of work by accepting the legitimacy of the domestic function. The approach used is a structural approach that focuses on characterizations using the close reading method. The results of the study show that discrimination against women in the field of work can be caused by several factors, such as educational background, skills, and beauty, causing rape, humiliation, marginalization, and inhumane physical violence. It is hoped that the results found will be useful for readers in understanding the position of women to liberate their rights as subjects of change."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library