Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 108037 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rifqi Fauzi
"PLTBm merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan kelistrikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Dalam hal ini feedstock yang digunakan adalah sekam padi. Sejalan dengan pengembangan syngas sekam padi sebagai bahan bakar alternatif, maka dalam penelitian ini difokuskan untuk mengevaluasi unjuk kerja dan mendapatkan pemanfaatan syngas yang ideal dan optimal untuk mesin spark ignition. Syngas berasal dari proses gasifikasi downdraft gasifier dengan bahan bakar sekam padi. Dilakukan pengujian dengan memberikan putaran konstan 1500 rpm pada generator listrik dengan mengevaluasi perbandingan antara penggunaan bahan bakar bensin beroktan 98 dan bahan bakar syngas. Pembebanan dimulai dari 1 kW sampai dengan 4 kW dengan interval 1 kW. Metode pemasukan syngas dengan T junction yang diletakan sebelum intake manifold untuk mencampur udara dan syngas. Pengukuran dilakukan terhadap laju massa alir udara, laju massa alir bensin, dan laju massa alir syngas. Temperatur kerja mesin, dan mengukur tegangan serta arus yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa unjuk kerja mesin spark ignition mengalami perubahan efisiensi termal serta SFC yang lumayan besar antara bahan bakar bensin dengan bahan bakar syngas. Sedangkan,, untuk daya efektif, torsi dan juga BMEP tidak mengalami perubahan yang signifikan. Serta juga menghasilkan AFR untuk bahan bakar bensin cukup kaya bahan bakar sedangkan untuk bahan bakar syngas sudah mendekati 1:1 dengan udara luar.

PLTBm is an alternative to provide electricity Front, Outermost, and Disadvantaged areas. In this case, the feedstock used was rice husk. In line with the development of rice husk syngas as an alternative fuel, this research is focused on evaluating the performance and obtaining the ideal and optimal use of syngas for spark ignition engines. Syngas comes from the downdraft gasifier gasification process with rice husk as fuel. Tested by providing a constant rotation of 1500 rpm on an electric generator by evaluating the comparison between the use of 98 octane gasoline and syngas fuel. Loading starts from 1 kW up to 4 kW with 1 kW intervals. Syngas intake method with a T junction placed before the intake manifold to mix air and syngas. Measurements were made on the mass flow rate of air, the mass flow rate of gasoline, and the mass flow rate of syngas, and then measure engine temperature, the voltage and the current generated. The results showed that the performance of the spark ignition engine change in thermal efficiency and a fairly large SFC between gasoline fuel and syngas fuel. However, the effective power, torque and also BMEP did not experience significant changes. Morever, produces AFR for gasoline fuel is quite rich in fuel while for syngas fuel it is close to 1:1 with outside air."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Briano Ajiseno
"Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat konsumsi bahan bakar minyak BBM tertinggi di dunia. Dengan semakin tingginya permintaan BBM di dalam negeri, Indonesia harus mengimpor minyak, baik dalam bentuk minyak mentah maupun dalam bentuk produk kilang atau BBM seperti minyak solar atau ADO Automotive Diesel Oil, premium atau bensin, minyak bakar atau FO Fuel Oil, dan minyak tanah. Oleh sebab itu Indonesia perlu mencari sumber energi lain selain minyak bumi, penggunaan sumber energi lain selain minyak diharapkan mampu untuk mereduksi konsumsi energi fosil dan juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca serta pencemaran udara yang disebabkan tingginya kadar timbal di udara yang tidak baik bagi kesehatan manusia karena bersifat racun.
Salah satu alternatif energi nonfosil yang mulai diperkenalkan di Indonesia untuk kendaraan bermotor adalah bioethanol. Bahan-bahan seperti nira, tebu, jagung, singkong, umbi dan bahan lainya dapat dengan mudah ditanam untuk diolah menjadi alkohol. Rendahnya biaya produksi bioethanol karena sumber bahan bakunya merupakan limbah pertanian yang tidak bernilai ekonomis dan berasal dari hasil pertanian budidaya yang dapat diambil dengan mudah. proses produksinya juga relatif sederhana dan murah.
Berdsasarkan penelitian sebelumnya yang membahas mekanisme pencampuran antara bioetanol hydrous dengan bensin melalui mekanisme fuel mixer ke ruang bakar dengan perbandingan terkontrol melalui bukaan gate valve. Permasalahan dari penggunan bioetanol hydrous sebagai bahan bakar ini yaitu pemanfaatannya masih jarang digunakan, sehingga pengaruhnya terhadap mesin belum banyak diperlihatkan. Oleh karena itu, penulis dalam skripsi ini menciptakan mekanisme pencampuran bensin dengan bioetanol hidrat 96 untuk dilakukan analisis emisi dengan mekanisme fuel injection dan juga perbandingan emisi setelah campuran bahan bakar diberi zat aditif.

Indonesia is one of the countries with the highest level of fuel consumption BBM in the world. With the increasing demand for fuel in the country, Indonesia must import oil, either in the form of crude oil or in the form of refinery or fuel products such as diesel oil or ADO Automotive Diesel Oil , premium or gasoline, fuel oil or FO Fuel Oil And kerosene. Therefore, Indonesia needs to look for other sources of energy other than petroleum, the use of other energy sources other than oil is expected to be able to reduce fossil energy consumption and also can reduce greenhouse gas emissions and air pollution caused by high levels of lead in the air that is not good for human health Because it is toxic.
One of the nonfossil energy alternatives introduced in Indonesia for motor vehicles is bioethanol. Ingredients such as nira, sugar cane, corn, cassava, tubers and other ingredients can be easily planted to be processed into alcohol. The low cost of bio ethanol production because the source of raw materials is agricultural waste that is not economical and derived from the cultivation of farming that can be taken easily. The production process is also relatively simple and cheap.
Based on previous research that discussed the mechanism of mixing between bioethanol hydrous and gasoline through fuel mixer mechanism to combustion chamber with controlled ratio through gate valve opening. The problem of the use of bioethanol hydrous as fuel is the utilization is still rarely used, so the effect on the machine has not been shown. Therefore, the authors in this thesis created a gasoline blending mechanism with 96 bioethanol hydrate for an emission analysis by fuel injection mechanism and also the emission ratio after the fuel mixture was added with the additive.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S68200
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adam Hafizh Anshary
"Biomassa merupakan salah satu sumber energi alternatif yang melimpah di Indonesia. Unuk memanfaatkannya, diperlukan proses Gasifikasi dimana proses tersebut menghasilkan Syngas, yang dimasukkan kedalam engine untuk menggerakkan generator dan akhirnya dapat menjadi energi listirk. Akan tetapi, produk dari gasifikasi tidak sepenuhnya syngas, melainkan terdapat partikulat lain yang perlu dihilangkan, salah satunya adalah tar. Dengan adanya tar, maka proses gasifikasi akan terhambat karena pemampatan dan pengotoran pada komponen hilir, sehingga diperlukan perawatan serta pembersihan rumit. Salah satu metode yang digunakan dalam mengurangi tar dalam syngas adalah dengan metode kondensasi menggunakan kondensor. Data yang diambil berdasarkan variabel laju blower hisap yaitu 63,6 L/m, 64,96 L/m, 71,94 L/m, serta 79,06 L/m. Hasil dari penelitian ini menunjukkan efisiensi pengurangan tar semakin tinggi saat menurunnya laju blower hisap. Efisiensi pengurangan tar terbesar mencapai nilai 85,64 % pada laju aliran blower hisap 63,6 L/m. Pengurangan tar pada syngas juga dipengauhi dengan adanya pressure drop yang meningkat pada kondenser. Semakin besar pressure drop, semakin tidak efektif kerja kondensor. Terbukti dengan nilai pressure drop terbesar ada laju aliran blower hisap yang tertinggi yaitu 79,06 L/m dengan nilai pressure drop 0,407 kPa.

Biomass is one of the abundant alternative energy sources in Indonesia. In obtaining this energy, a gasification process is needed where the process produces Syngas. The syngas can be fed into an Internal Combustion engine to drive a generator which can eventually become electrical energy. However, the product of gasification is not completely syngas, but there are other particulates that need to be removed, one of which is tar. With the presence of tar, the gasification process will be hampered due to blockage and contamination of downstream components, in which extensive maintenance and cleaning will be required. One of the methods used to reduce tar in syngas is through condensation using a Condenser. The data taken is based on the variable rate of the suction blower, from 63.6 L/m, 64,.96 L/m, 71.94 L/m and 79,.06 L/m. The result of this study indicates that the efficiency of tar reduction is higher when the blower suction rate is 63.6 L/m with a tar reduction efficiency of 85.64%. Tar reduction in syngas is also effected by pressure drop increase in the condenser. It is proven by the largest pressure drop value (0.407 kPa) occured during the highest suction blower flow rate (79.06 L/m)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Askar Adika Agama
"Proyeksi kebutuhan energi untuk sector transportasi di Indonesia sampai pada tahun 2025 mencapai 30% dari total energi nasional dan Sebagian besar, asal energi tersebut dari energi fosil. Untuk mengurangi ketergantungan energi fosil tersebut, maka pemerintah Indonesia membuat target penggunaan bioethanol sebagai campuran bahan bakar sebesar 20% pada tahun 2025. Selain itu penggunaan methanol juga sudah banyak diteliti dan memberikan dampak positif. Salah satunya adalah pembuatan methanol dari methana yang berasal dari proses carboncapture. Disisi lain, percampuran gasoline dengan alcohol satu macam memberikan efek COV (Coefficient of Variation) meningkat, sehingga ada kemungkinan penambahan ethanol dalam bahan bakar campuran gasoline-ethanol memberikan dampak pengurangan nilai COV, terutama pada kondisi Lean Combustion, sehingga penelitian ini ingin mengetahui efek penggunaan Gasoline Ethanol Methanol (GEM) dengan variasi campuran bahan bakar dengan udara, ditinjau dari Power, Torsi, SFC, Emisi, Serta COV. Hasilnya, nilai power dan torsi tertinggi berada di variasi λ= 1,1 pada semua GEM, selain itu, SFC terendah diperoleh pada titik E10M10 di putaran mesin 6000 RPM, dilihat dari Emisi menjadi lebih baik saat λ nilainya semakin meningkat, serta nilai COV menjadi Turun dengan penambahan methanol.

The projected energy demand for the transportation sector in Indonesia until 2025 reaches 30% of the total national energy and most of this energy comes from fossil energy. To reduce dependence on fossil energy, the Indonesian government has made a target of using bioethanol as a fuel mixture by 20% by 2025. In addition, the use of methanol has also been widely studied and has had a positive impact. One of them is the manufacture of methanol from methane which comes from the carbon capture process. On the other hand, mixing gasoline with one type of alcohol has an increased COV (Coefficient of Variation) effect, so there is a possibility that the addition of ethanol in a gasoline-ethanol fuel mixture will reduce the COV value, especially in Lean Combustion conditions, so this study wants to know the effect of using Gasoline Ethanol Methanol (GEM) with variations in the mixture of fuel and air, in terms of Power, Torque, SFC, Emissions, and COV. As a result, the highest power and torque values are at a variation of λ = 1.1 for all GEMs, in addition, the lowest SFC is obtained at point E10M10 at 6000 RPM engine speed, seen from Emissions that get better when λ increase, and COV values decrease with the addition of methanol."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naufal Azmi
"Pada abad ke-21 ini, tantangan utama yang dihadapi dunia adalah bagaimana mengelola konsumsi energi secara berkelanjutan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan sumber daya alam. Kebutuhan energi Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk Indonesia. Bahan bakar minyak telah menjadi tulang punggung utama dalam pemenuhan kebutuhan energi global selama puluhan tahun. Berdasarkan Energi Outlook Indonesia yang dikeluarkan oleh BPPT pada tahun 2022, Konsumsi BBM di sektor transportasi pangsanya mencapai 73,5% pada tahun 2012 dan terus meningkat menjadi 90,3% pada tahun 2021. Oleh karena itu, inisiatif pengembangan bahan bakar alternatif harus mulai dilakukan yang nantinya dapat digunakan oleh masyarakat. Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional menyatakan bahwa bioetanol yang diproyeksikan sebagai substitusi dari bensin (gasoline) ditargetkan pada tahun 2025 hingga seterusnya ditargetkan sebesar 20%. Akan tetapi penambahan kandungan etanol dalam bahan bakar memiliki kekurangan dimana sifat dari bahan bakar tersebut akan menjadi lebih korosif dari sebelumnya. Sifat korosif ini dapat menyebabkan kerusakan pada bagian mesin yang mengalami kontak langsung dengan bahan bakar tersebut. Maka dari itu perlu adanya penambahan zat aditif sebagai inhibitor sifat korosi dari bahan bakar campuran etanol. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan mesin Honda Supra 125 FI dan dihubungkan dengan dynamometer serta alat gas analyzer untuk menganalisis hasil tenaga dan emisi yang dihasilkan oleh mesin. Sebagai variasi untuk mendapatkan data yang lebih banyak dan melihat pengaruh dari campuran aditif dalam bahan bakar, penelitian ini akan menggunakan variasi konsentrasi aditif dan dua tipe aditif yaitu

Tert-Butylamine dan Lemongrass Oil. In the 21st century, the main challenge faced by the world is how to manage energy consumption sustainability without compromising environmental sustainability and natural resources. Indonesia's energy demand increases year by year in line with the country's economic growth and population increase. Oil fuel has been the backbone of fulfilling global energy needs for decades. According to the 2022 Indonesia Energy Outlook issued by BPPT, fuel consumption in the transportation sector reached a share of 73.5% in 2012 and continued to increase to 90.3% in 2021. Therefore, initiatives to develop alternative fuels must be started, which can later be used by the public. The government, through Presidential Regulation No. 22 of 2017 concerning the General Plan for National Energy, states that bioethanol, projected as a substitute for gasoline, is targeted to reach 20% by 2025 onwards. However, the addition of ethanol content in fuel has a disadvantage in that the fuel becomes more corrosive than before. This corrosive property can cause damage to parts of the engine that come into direct contact with the fuel. Therefore, it is necessary to add additives as inhibitors of the corrosive properties of ethanol-blended fuels. This research was conducted using a Honda Supra 125 FI engine connected to a dynamometer and a gas analyzer to analyze the power and emissions produced by the engine. To obtain more data and observe the influence of additive mixtures in the fuel, this research will use variations in additive concentrations and two types of additives, namely Tert-Butylamine and Lemongrass Oil."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Weathers, Tom
Reston, VA: Reston Publishing, , 1983
621.434 WEA f
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Chandra Ricardo Marulitua
"Saat ini ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap bahan bakar fosil sangat tinggi dan nilainya selalu meningkat setiap waktunya. Padahal kebutuhan tersebut tidak mampu dipenuhi oleh kapasitas kilang pengolah minyak bumi yang saat ini ada di Indonesia. Akibatnya pemerintah Indonesia harus melakukan impor bahan baku dan produk bahan bakar. Selain itu beberapa pihak telah memprediksi bahwa jumlah cadangan minyak bumi global semakin mendekati masa akhir. Adapun dampak buruk penggunaan bahan bakar fosil terhadap lingkungan semakin memicu manusia untuk berupaya mencari alternatif dari bahan bakar fosil. Bioethanol (C2H5OH) merupakan salah satu potensi bahan bakar alternatif yang bisa didapatkan dari tanaman pati melalui proses biokimia. Mengingat Indonesia adalah negara dengan tanah yang subur, maka sumber bahan baku ini relatif mudah didapat, dan bersifat terbarukan. Bioethanol dapat digunakan dalam bentuk campuran dengan bahan bakar fosil, namun ada kecenderungan pencampuran bioethanol dengan bensin menghasilkan campuran yang tidak sepenuhnya homogen. Maka dari itu diperlukan suatu aditif yang dapat meningkatkan homogenitas campuran. Sehingga pada penelitian ini dilakukan uji penggunaan bahan bakar campuran bensin – bioethanol yang ditambahi aditif oksigenat, pada mesin spark ignition (SI). Kemudian dilakukan analisis terhadap kinerja mesin, emisi gas pembakaran, dan coefficient of variation (COV) di ruang bakar. Aditif yang digunakan yaitu cyclohexanol dan cyclooctanol dengan volume yang divariasikan. Pencampuran bioethanol dapat memperbaiki emisi gas buang, serta COV. Lalu ketika ditambahi aditif, didapat perbaikan pada specific fuel consumption (SFC) dengan emisi dan COV yang semakin membaik.

The dependency of Indonesian citizens to fossil fuel is very high and the amount were continuously increasing every time. At the same time, the capacity of oil refinery within the nation was being unable to cover the needs. As the result, the government of Indonesia have to do an import for some part of petroleum raw materials and also fuel products. Moreover, several parties had predicted that the recent global petroleum reserve were not far from its end limit of depletion. Also the environmental impact of combustion gas resulted from burning fossil fuel has further convincing people to find an alternative for fossil fuel. Bioethanol (C2H5OH) is one of potential fuel alternative which can be obtained through biochemistry process of starch plant. Considering that Indonesia is a country which has a fertile land, finding the source would not be a big problem. Bioethanol may be used in mixture form with fossil fuel, but there is a problem with homogeneity of the mixture. So that it requires an additive in which was able to increase the homogeneity of the mixture. As a result, in this research the examination were done by mixing the gasoline – bioethanol with oxygenated additives and use it as a fuel on unmodified spark ignition (SI) engine. Then going through the process of analysis for engine performances, exhaust gas emissions, and coefficient of variations (COV). The additive used is cyclohexanol and cyclooctanol in which the volume was variated. It is an evident that the use of gasoline – bioethanol mixture resulted in better exhaust emission and COV. Then the addition of additives gives a further good effect to specific fuel consumptions (SFC), exhaust emission, and COV."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marcellino Lorenzo
"Gasifikasi biomassa adalah proses konversi biomassa menjadi bahan bakar gas yang mempan bakar (CO, CH4, dan H2). Bahan baku untuk proses gasifikasi dapat berupa limbah biomassa, yaitu sekam padi, tempurung kelapa, potongan kayu, maupun limbah pertanian lainnya. Pada proses konversi secara termokimia, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi akan dibakar. Dalam proses pembakaran biomassa sebagai bahan bakar, rantai hidrokarbon pada biomassa yang dipilih akan terurai. Produk yang dihasilkan dari proses gasifikasi adalah gas mempan bakar yang disebut syngas (gas sintesis). Gas mudah bakar (gas combustible) yang dapat dimanfaatkan hanyalah CO, H2, dan CH4. Selama proses gasifikasi akan terbentuk daerah proses yang dinamakan menurut distribusi suhu dalam reaktor gasifier. Daerah-daerah itu, yaitu: Drying, Pyrolysis, Reduksi, dan Combustion. Selama pirolisis, kelembaban menguap pertama kali (100°C), kemudian hemiselulosa terdekomposisi (200-260°C), lalu selulosa (240-340°C), dan diikuti oleh lignin (280-500°C). Produk cair hasil pirolisis yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas ringan (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang. Tar dapat didefinisikan sebagai campuran hidrokarbon terkondensasi. Konsentrasi tar dalam sistem harus dibatasi dan terdapat beberapa cara untuk pengurangan tar. Kondensasi tar dipilih menjadi salah satu cara termudah dan termurah untuk mengurangi sebagian besar kandungan tar pada syngas. Untuk ini dibutuhkan kondensor untuk mengkondensasi tar. Saat tar mencapai dew point maka tar akan berubah fase dari gas menjadi cair. Tar yang mencair akan terpisah dari aliran syngas. Terdapat kandungan tar pada syngas yang diizinkan untuk masuk kedalam motor bakar yaitu 0,01-0,1 g/Nm3. Pada penelitian Mobile Biomass Gasifier sebelumnya, digunakan kondensor berjenis shell and tube dan memiliki efisiensi 75%-85%. Purwarupa tahap 3 ini memilih kondensor berjenis double pipe heat exchanger untuk mengurangi ukuran dengan efisiensi yang lebih tinggi.

Biomass gasification is the process of converting biomass into combustible gas fuels (CO, CH4, and H2). The raw materials for the gasification process can be in the form of biomass waste, namely rice husks, coconut shells, wood chips, and other agricultural wastes. In the thermochemical conversion process, the use of biomass as an energy source will be burned. In the process of burning biomass as fuel, the chain of termination of the selected biomass will be unraveled. The product resulting from the gasification process is a combustible gas called syngas (synthesis gas). Combustible gas that can be used only CO, H2, and CH4. During the gasification process a process will be formed which starts according to the temperature distribution in the gasifier reactor. These areas are: Drying, Pyrolysis, Reduction, and Combustion. During pyrolysis, evaporate decomposed first (100°C), then hemicellulose is decomposed (200-260°C), then cellulose (240-340°C), and followed by lignin (280-500°C). The liquid product resulting from the evaporation of pyrolysis contains tar and PAHs (polyaromatic hydrocarbons). Pyrolysis products generally consist of three types, namely light gases (H2, CO, CO2, H2O, and CH4), tar, and charcoal. Tar can be defined as a condensed mixture. The concentration of tar in the system must be limited and there are several ways to reduce tar. Tar condensation was chosen to be one of the easiest and cheapest ways to reduce most of the tar content in syngas. This requires a condenser to condense the tar. When the tar reaches the dew point, the tar will change phase from gas to liquid. The melted tar will separate from the syngas flow. There is a tar content in the syngas that is allowed to enter the combustion engine, which is 0.01-0.1 g/Nm3. In the previous Mobile Biomass Gasifier research, a shell and tube type condenser was used and has an efficiency of 75%-85%. This stage 3 prototype chose a double pipe heat exchanger condenser to reduce size with higher efficiency."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Adim Majid
"Indonesia dikenal dengan salah satu sebutannya adalah negara agraris yang artinya Sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian. Indonesia menghasilkan kurang lebih 146,7 juta ton limbah biomassa setiap tahunnya, sebanyak kurang lebih 16 juta ton adalah sampah biomassa sekam padi (PTSEIK, 2017). Gasifikasi biomassa adalah proses konversi biomassa menjadi bahan bakar gas yang mempan bakar (CO, CH4, dan H2). Bahan baku untuk proses gasifikasi dapat berupa limbah biomassa, yaitu sekam padi, tempurung kelapa, potongan kayu, maupun limbah pertanian lainnya. Dalam proses pembakaran biomassa sebagai bahan bakar, rantai hidrokarbon pada biomassa yang dipilih akan terurai. Produk yang dihasilkan dari proses gasifikasi adalah gas mempan bakar yang disebut syngas (gas sintesis). Gas mudah bakar (gas combustible) yang dapat dimanfaatkan hanyalah CO, H2, dan CH4. Selama proses gasifikasi akan terbentuk daerah proses yang dinamakan menurut distribusi suhu dalam reaktor gasifier. Daerah-daerah itu, yaitu: Drying, Pyrolysis, Reduksi, dan Combustion. Selama pirolisis, kelembaban menguap pertama kali (100°C), kemudian hemiselulosa terdekomposisi (200-260°C), lalu selulosa (240-340°C), dan diikuti oleh lignin (280-500°C). Produk cair hasil pirolisis yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas ringan (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang. Tar dapat didefinisikan sebagai campuran hidrokarbon terkondensasi. Konsentrasi tar dalam sistem harus dibatasi dan terdapat beberapa cara untuk pengurangan tar. Mengurangi tar yang terkandung pada syngas dapat dilakukan dengan cara filtrasi menggunakan bahan adsorben. Partikel tar menempel pada adsorben yang menghasilkan aliran syngas yang diharapkan bebas dari tar. Terdapat kandungan tar pada syngas yang diizinkan untuk masuk kedalam motor bakar yaitu 0,01-0,1 g/Nm3. Pada gasifier purwarupa 3 ini memilih MANN paper filter sebagai adsorben yang digunakan untuk mengurangi konsentrasi tar pada syngas dengan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan efisiensi adsorben sekam dan filter minyak.

Indonesia is known by one of its names is an agrarian country, which means that most of the population works in agriculture. Indonesia produces approximately 146.7 million tons of biomass waste annually, of which approximately 16 million tons is rice husk biomass waste (PTSEIK, 2017). Biomass gasification is the process of converting biomass into fuel gas that is capable of burning (CO, CH4, and H2). The raw materials for the gasification process can be in the form of biomass waste, namely rice husks, coconut shells, wood chips, and other agricultural wastes. In the process of burning biomass as fuel, the hydrocarbon chains in the selected biomass will be decomposed. The product resulting from the gasification process is a combustible gas called syngas (synthesis gas). Combustible gases that can be utilized are only CO, H2, and CH4. During the gasification process, a process area will be formed which is named according to the temperature distribution in the gasifier reactor. These areas are: Drying, Pyrolysis, Reduction, and Combustion. During pyrolysis, moisture evaporates first (100°C), then hemicellulose is decomposed (200-260°C), then cellulose (240-340°C), followed by lignin (280-500°C). The liquid product of pyrolysis that evaporates contains tar and PAH (polyaromatic hydrocarbon). Pyrolysis products generally consist of three types, namely light gases (H2, CO, CO2, H2O, and CH4), tar, and charcoal. Tar can be defined as a mixture of condensed hydrocarbons. The concentration of tar in the system must be limited and there are several ways to reduce tar. Reducing tar contained in syngas can be done by filtration using an adsorbent material. Tar particles adhere to the adsorbent resulting in a syngas flow which is expected to be free of tar. There is a tar content in the syngas that is allowed to enter the combustion engine, which is 0.01-0.1 g/Nm3. In this prototype gasifier 3, the MANN paper filter was chosen as the adsorbent used to reduce the tar concentration in the syngas with a higher efficiency than the efficiency of the husk adsorbent and oil filter."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizatar Fario Shehriar
"Potensi limbah biomassa di Indonesia mencapai 35,6 GW dengan padi sebesar 19,41 GW. Sekam padi merupakan salah satu sumber energi terbarukan dari biomassa yang potensialnya paling besar karena Luas Lahan Baku Sawah (LBS) mencapai 7.463.948 hektare dengan produktivitas 5,7-6,1 ton/ha. Dengan menggunakan sistem gasifikasi, limbah sekam padi dapat memanfaatkan energi yang tersimpan di dalamnya. Sistem dari Mobile Biomass Gasifier Purwarupa 3 (P3) merupakan gasifier yang dapat berjalan secara kontinu dengan kapasitas reaktor 25 kg/jam. Dengan melakukan eksperimen, didapatkan nilai feeding rate yang ideal, char removal rate, profil temperatur dan mass balance saat menjalankan eksperimen dengan perlakuan sama setiap variasi. Didapatkan komposisi syngas untuk setiap variasi vibrating grate 10%, 12%, dan 14%. Komposisi syngas terbaik didapatkan pada vibrating grate sebesar 10% (24 RPM), feeding rate 6,82 kg/jam, suhu zona oksidasi (T3) rata-rata sebesar 544°C dan ER 0,28. Didapatkan komposisi syngas (%Volume) CO, CH4, H2, dan CO2 secara beurutan sebesar 14,08%; 2,09%; 3,74%; dan 1,75%, serta nilai LHV sebesar 2,93 MJ/Nm3 . Didapatkan Cold Gas Efficiency sebesar 44,17%. Pulau Nusa Tenggara Timur didasarkan pada rasio elektrifikasi terendah se-Indonesia dapat dijadikan sasaran untuk Mobile Biomass Gasifier Purwarupa 3. Diharapkan untuk penelitian-penelitian selanjutnya dapat mengembangkan alat gasifier untuk bahan bakar limbah biomassa selain dari sekam padi agar potensi biomassa dapat dimaksimalkan.

The potential biomass waste in Indonesia reaches 35.6 GW, with rice husk accounting for 19.41 GW. Rice husk is one of the most significant potential renewable energy sources from biomass due to the extensive paddy field area of 7,463,948 hectares with a productivity of 5.7-6.1 tons/ha. By utilizing gasification technology, rice husk waste can harness the energy stored within it. The Mobile Biomass Gasifier Prototype 3 (P3) system is a gasifier capable of continuous operation with a reactor capacity of 25 kg/hour. Through experiments, the ideal feeding rate, char removal rate, temperature profile, and mass balance were determined under the same treatment for each variation. The composition of syngas was obtained for each vibrating grate variation of 10%, 12%, and 14%. The best syngas composition was achieved with a vibrating grate of 10% (24 RPM), feeding rate of 6.82 kg/hour, average oxidation zone temperature (T3) of 544°C, and an equivalence ratio (ER) of 0.28. The syngas composition (% volume) was found to be 14.08% CO, 2.09% CH4, 3.74% H2, and 1.75% CO2, with a lower heating value (LHV) of 2.93 MJ/Nm3. The Cold Gas Efficiency obtained was 44.17%. The East Nusa Tenggara Island, based on the lowest electrification ratio in Indonesia, can be targeted for the Mobile Biomass Gasifier Prototype 3. Further research is expected to develop gasifier devices for biomass waste fuels other than rice husk to maximize the potential of biomass.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>