Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 41043 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ferdinand Andreas Chandra
"Latar Belakang: COVID-19 menyebabkan penyakit kritis dan kematian dengan manifestasi utama sindrom pernafasan akut. Prediktor kematian pada kasus COVID-19, seperti IL-6 berperan dalam mengatur respon imun dan inflamasi. Pada kasus berat, peningkatan IL-6 dapat menyebabkan sepsis dan kegagalan multi-organ. CRP juga berkontribusi signifikan terhadap peradangan. Keparahan derajat COVID-19 dipengaruhi oleh komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe II, dan hipertensi. Tocilizumab, penghambat reseptor IL-6 merupakan terapi baru untuk pasien COVID-19 berat dan kritis. Penelitian ini menilai mortalitas pasien COVID-19 berat yang diberikan dan tidak diberikan terapi tocilizumab setelah dikontrol oleh variabel perancu. Tujuan: Menganalisis pengaruh terapi tocilizumab terhadap kematian pada pasien COVID-19 berat. Metode: Desain penelitian kohort retrospektif, menggunakan data rekam medis pasien COVID-19 di ICU RSCM selama dua tahun. Data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil: Total 80 subjek, 52 pasien meninggal dan 28 pasien hidup. Mayoritas pasien memiliki CRP tinggi, IL-6 meningkat, serta tidak memiliki komorbid hipertensi, diabetes mellitus tipe II, dan penyakit kardiovaskular. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pemberian terapi tocilizumab dan kematian, serta tidak terdapat perancu dalam penelitian ini. Kesimpulan: Pemberian terapi tocilizumab tidak memperbaiki kejadian mortalitas pada pasien COVID-19 berat.

Background: COVID-19 causes critical illness and death with the main manifestation of acute respiratory syndrome. Predictors of death in COVID-19 cases, such as IL-6, play a role in regulating the immune response and inflammation. In severe cases, increased IL-6 can cause sepsis and multi-organ failure. CRP also contributes significantly to inflammation. The severity of COVID-19 is influenced by comorbidities such as cardiovascular disease, type II diabetes mellitus, and hypertension. Tocilizumab, an IL-6 receptor inhibitor, is a new therapy for severe and critical COVID-19 patients. This study assessed the mortality of severe COVID-19 patients who were and were not given tocilizumab therapy after controlling for confounding variables. Objective: To analyze the effect of tocilizumab therapy on mortality in severe COVID-19 patients. Methods: Retrospective cohort study design, using medical record data of COVID-19 patients in the ICU RSCM for two years. Data were analyzed using SPSS. Results: A total of 80 subjects, 52 patients died and 28 patients survived. The majority of patients had high CRP, increased IL-6, and did not have comorbid hypertension, type II diabetes mellitus, and cardiovascular disease. Statistical analysis showed no significant association between tocilizumab therapy and mortality, and there were no confounders in this study. Conclusion: Administration of tocilizumab therapy does not reducing mortality rates in severe COVID-19 patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Levana
"Latar belakang: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus SARS-CoV-2 dengan gejala ringan hingga berat seperti komplikasi paru dan kematian. Derajat keparahan penyakit merupakan salah satu faktor yang dapat memperberat kondisi pasien yang direncanakan operasi. Karakteristik klinis serta komplikasi pascaoperasi pasien dengan COVID-19 cukup banyak diteliti di negara lain. Namun Indonesia belum memiliki data terkait yang dapat dijadikan panduan dalam menjalani tindakan pembedahan pada pasien dengan COVID-19.
Metode: Penelitian ini merupakan kohort retrospektif dengan pengambilan data sekunder pasien COVID-19 yang menjalani pembedahan di RSCM dan RSUI dari Maret 2020 sampai September 2021. Hasil luaran yang dinilai adalah komplikasi paru dan mortalitas.
Hasil: Total 458 pasien COVID-19 menjalani pembedahan di RSCM dan RSUI, dengan operasi elektif 62% dan emergensi 38%. Angka kejadian komplikasi paru pascaoperasi sebesar 21,8% dan mortalitas 30 hari pascaoperasi sebesar 26%. Karakteristik klinis pasien yang mengalami komplikasi paru dan mortalitas yaitu berjenis kelamin laki-laki, berusia >65 tahun, memiliki jumlah komorbid dua atau lebih, gejala klinis awal batuk, sesak dan demam, nilai NLR ≥5,9 yang dikategorikan derajat berat COVID-19, gambaran CXR konsolidasi atau opasitas, serta menggunakan ventilasi mekanik praoperasi. Pasien dengan Early Warning Score (EWS) >10 memiliki risiko 2,98 kali lebih besar untuk terjadinya komplikasi paru. Sedangkan risiko terjadinya mortalitas dapat meningkat 31,8 kali pada pasien yang memiliki ASA 3-5 dan 6,91 kali pada penggunaan ventilasi mekanik praoperasi.
Simpulan: Pasien COVID-19 yang menjalani pembedahan memiliki risiko terjadinya komplikasi paru dan mortalitas pascaoperasi. Kejadian komplikasi paru memberat pada pasien dengan EWS >10, dan pada mortalitas memberat pada pasien dengan ASA 3-5 serta menggunakan ventilasi mekanik praoperasi. Faktor lain yang turut berperan diantaranya usia, jumlah komorbid, jenis operasi dan penggunaan topangan intraoperasi.

Background: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a disease caused by SARS-CoV-2 infection with mild to severe symptoms such as pulmonary complications and death. The severity of disease is one of the factors that can aggravate the condition of patient who is planned for surgery. The clinical characteristics and postoperative complications of COVID-19 patients have been extensively studied in other countries. However, Indonesia does not yet have relevant data that can be used as a guide for COVID-19 patients in undergoing surgery.
Methods: This study is a retrospective cohort with secondary data collection of COVID-19 patients undergoing surgery at RSCM and RSUI from March 2020 to September 2021. The primary outcomes were pulmonary complications and mortality.
Results: A total of 458 COVID-19 patients underwent surgery at RSCM and RSUI, with 62% elective surgery and 38% emergency. The incidence of postoperative pulmonary complication was 21,8% and 30-day mortality was 26%. Clinical characteristics of patients with pulmonary complications and mortality were male, aged >65 years, had two or more comorbidities, initial symptoms of cough, dyspnea and fever, NLR value ≥5,9 which was categorized as severe COVID-19, consolidated CXR or opacity, and used preoperative mechanical ventilation. Patients with Early Warning Score (EWS) >10 had risk for pulmonary complications about 2,98 times. While, the risk of mortality can increase 31,8 times in patients with ASA 3-5 and 6,91 times in the use of preoperative mechanical ventilation.
Conclusions: COVID-19 patients undergoing surgery are at risk for pulmonary complications and mortality. The incidence of pulmonary complications was severe in patients with EWS >10, and mortality was severe in patients with ASA 3-5 and using preoperative mechanical ventilation. Other factors that play a role include age, number of comorbidities, type of surgery and use of intraoperative support.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dhevinia Yustikarani
"Latar Belakang: Geriatri merupakan populasi dengan risiko tinggi untuk terjadinya luka bakar, hal ini dikarenakan sudah menurunnya fungsi koordinasi dan kecepatan dalam merespons bahaya. Luka bakar yang terjadi pada geriatri dapat menyebabkan menurunnya kekuatan fisik, terjadi gangguan imunitas, dan terjadinya sarkopenia saat dalam perawatan. Hipermetabolisme dan hiperkatabolisme akibat meningkatnya proses inflamasi memerlukan pemberian dukungan nutrisi yang adekuat agar dapat mencegah terjadinya sarkopenia dan meningkatnya mortalitas.
Metode: Empat pasien geriatri dengan cedera luka bakar yang disebabkan oleh api. Pasien pertama dan kedua berada pada rentang usia 60-74 tahun dan pasien ketiga dan keempat berada dalam rentang usia (75-84 tahun).Kebutuhan energi dihitung berdasarkan formula Xie dan Harris Benedict dengan target pemberian energi awal adalah 25-30 kkal dan target protein sebesar 1,2-2 g per kg BB. Penatalaksanaan terapi nutrisi selanjutnya disesuaikan dengan kondisi klinis dan toleransi pasien. Dilakukan pemantauan hemodinamik terutama imbang cairan dan diuresis.
Hasil: Dua pasien meninggal selama masa perawatan karena syok sepsis dan dua orang lainnya dapat pulang ke rumah dengan mengalami perbaikan kapasitas fungsional.
Kesimpulan: Terapi medik gizi dapat memperbaiki keluaran klinis dan kapasitas fungsional pada pasien geriatri dengan cedera luka bakar.

Latar Belakang: Geriatric is a population with a high risk for burns, due to the limitation of their mobility, coordination and to act rapidly when in danger. Burns in the geriatrics decreased physical strength, impaired immunity, and the occurrence of sarcopenia during treatment. Hypermetabolism and hypercatabolism require an adequate nutritional support to prevent sarcopenia and mortality.
Method: We reported four geriatric patients with burn injuries caused by fire. The age ranging from 60-84 years old. Energy requirements were calculated based on the Xie and Harris-Benedict formulation with the energy begins at 25-30 kcal per kg body weight and administered protein 1.2-2 g per kg body weight. We administered early nutritional therapy after hemodynamic was stable. Nutritional therapy management then was adjusted according to clinical condition and tolerance. Hemodynamic monitoring, especially fluid balance and diuresis, was carried out during hospital care.
Results: Two of four patients were died during the treatment due to septic shock and the rest of them were able to discharge fom hospital with functional capacity and clinical improvement.
Conclusion: Early medical nutrition therapy can improve clinical outcome and functional capacity in geriatric patients with burns injuries."
Depok: Universitas Indonesia, 2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Elviza Rahmadona
"Salah satu komorbid yang paling banyak menyertai pasien Covid-19 di Indonesia adalah Hipertensi dengan proporsi kasus 52,1% dan proporsi kematian sebanyak 19,2% dan menjadi komorbid paling tinggi pada pasien Covid-19 di Indonesia. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan hipertensi dengan kematian pasien Covid-19 pada April 2020 – Juli 2021 berdasarkan data rekam medik pasien rawat inap di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Desain studi pada penelitian ini adalah studi kasus kontrol dimana kasus adalah pasien Covid-19 yang meninggal dan kontrol adalah pasien Covid-19 yang tidak meninggal berdasarkan data rekam medik melalui aplikasi SIMRS. Sampel pada penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi yaitu 93 pasien pada kelompok kasus dan 200 pada kelompok kontrol yang telah dilakukan uji pemeriksaan PCR terlebih dahulu. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Dari hasil analisis diperoleh hubungan antara hipertensi dengan kematian Covid-19 namun memiliki risiko protektif dengan OR adjusted = 0,0661 (95% CI = 0,026 – 0,171, p value = <0,0001) setelah dikontrol variabel umur, jenis kelamin, diabetes, PPOK, CVD. Hasil penelitian ini masih memiliki kelemahan berupa misklasifikasi non diferensial dan keterbatasan data yang tersedia pada data rekam medik melalui aplikasi SIMRS
.....One of the most comorbidities to Covid-19 patient in Indonesia is hypertension, which is 52,1% in confirmed cases and 19,2% in mortality cases and be ranked first of comorbidities in Covid-19 patient. This tudy aims to determine association hypertension to Covid-19 patient death for April 2020 – July 2021 based on medical record data of inpatient at RSUD Arifin Achmad – Riau Province. This is a case control study, which is cases were the death patient and controls were non-dead patient based on medical record data through SIMRS app. This study analyze 93 cases and 200 controls include in inclusion criteria which has been tested PCR. The data was analyzes use chi-square test and logistic regression. Based on the result, that was found association between hypertension to mortality of covid-19 but have protective risk to patient in adjusted OR = 0,0661 (95% CI = 0,026 – 0,171, p value <0,0001) after controlled by age, sex, diabetes, COPD and CVD. This study result have limitation yet that is misclassification non differential and available data in medical recor patient through SIMRS app"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dienda Siti Rufaedah
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah terhadap imbal hasil saham. Dengan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) antara 1 Januari hingga 31 Desember 2020, penelitian ini mengkaji dampak Covid-19 dengan menggunakan jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 harian, kebijakan pemerintah, serta variabel-variabel ekonomi dan keuangan terhadap return saham. Negara sampel dibagi menjadi negara-negara yang dianggap berhasil menangani pandemi yang ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut setelah mengeluarkan beberapa kebijakan pemerintah, seperti Vietnam dan China, serta kurang berhasil seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Penelitian ini juga meneliti dampak kebijakan pemerintah seperti kebijakan lockdown dan kebijakan moneter/stimulus ekonomi terhadap return saham di negara-negara tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan total kasus positif Covid-19 berpengaruh negatif terhadap return saham di Vietnam, China, Indonesia, dan Malaysia sedangkan pertumbuhan total kasus positif Covid-19 berpengaruh positif terhadap return saham di Filipina. Sementara itu, perubahan nilai tukar domestik terhadap Dolar AS dapat menurunkan return saham di semua negara sampel. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai kapitalisasi pasar dan rasio price-to-book value berpengaruh positif terhadap return saham. Selain itu, investment freedom memiliki pengaruh yang berbeda di masing-masing negara. Sementara itu, kebijakan lockdown dan kebijakan moneter/stimulus ekonomi pada umumnya berpengaruh positif terhadap return saham. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar bereaksi positif terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

This study aims to determine how the impact of the Covid-19 pandemic and government policies on stock returns. Using the Ordinary Least Squares (OLS) method between 1 January – 31 December 2020, this study examines the impact of Covid-19 using daily Covid-19 confirmed cases, government policies, and other macroeconomic and financial indicators on stock returns. The sample countries are divided into successful countries in dealing with the Covid-19 pandemic as indicated by their economic growth after launching some government policies, such as Vietnam and China, and less successful, such as Indonesia, Malaysia, and the Philippines. This study also examines the impact of government policies such as the lockdown policy and the monetary policy/economic stimulus on stock returns in those countries. The findings indicate that Covid-19 confirmed cases have a negative effect on stock returns in Vietnam, China, Indonesia, and Malaysia, while the Covid-19 confirmed cases have a positive effect on stock returns in the Philippines. Meanwhile, changes in the domestic currencies decrease stock returns across all countries. This study also finds that market capitalization and the price-to-book value ratio positively associated with stock returns. Furthermore, investment freedom has different effects in each country. Meanwhile, the lockdown policy and the monetary policy/economic stimulus generally positively affected stock returns. This result indicates that the market has reacted positively to the government’s policies in handling the Covid-19 pandemic."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Trianti Kartikasari Kusuma
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan salah satu standar pelayanan farmasi klinik yang diatur dalam Permenkes 72 tahun 2016. Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Pada Maret 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kebayoran Lama sebagai rumah sakit milik pemerintah provinsi DKI Jakarta ditunjuk menjadi Rumah Sakit (RS) rujukan full Covid-19. Obat yang digunakan sebagai terapi Covid-19 merupakan obat potensial yang belum diuji klinis untuk menyembuhkan Covid-19 maka RSUD Kebayoran Lama sebagai rumah sakit rujukan full Covid-19 perlu melakukan kegiatan PTO pada pasien. Penelitian ini bertujuan melakukan analisa hasil PTO dan mengidentifikasi masalah terkait obat pada pasien Covid-19.
Metode yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan melihat data yang didapat dari form Pemantauan Terapi Obat (PTO). Berdasarkan data yang diperoleh, dibuat analisis PTO untuk tiap pasien.
Dari 26 pasien Covid-19, terdapat 5 pasien yang dilakukan analisis SOAP berdasarkan form PTO masing-masing pasien. Ditemukan 1 kasus pemilihan obat yang kurang tepat, 3 kasus mengalami pemberian dosis diatas batas normal, 4 kasus yang mengalami interaksi obat dan 2 kasus yang mengalami pemberian obat tanpa indikasi.

Drug Therapy Monitoring (PTO) is obe of the clinical pharmacy service regulated in Permenkes 72 of 2016. Covid-19 is an infectious disease caused by infection of Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). In March 2020, WHO declared Covid-19 a pandemic. The Kebayoran Lama Regional General Hospital (RSUD) as a hospital belonging to the DKI Jakarta government was appointed to be a full Covid-19 hospital. The drug used for Covid-19 therapy is a potential drug that has not been clinically tested to cure Covid-19, so RSUD Kebayoran Lama as a full Covid-19 referral hospital needs to carry out PTO activities on patients. This study aims to analyze PTO results and identify drug-related problems in Covid-19 patients.
The method used is a qualitative method by looking at the data obtained from the PTO form. Based on the data, a PTO analysis was made for each patient.
Of the 26 Covid-19 patients, there were 5 patients who underwent SOAP analysis based on the PTO form of each patient. There was 1 case of inappropriate drug selection, 3 cases experiencing dosages above the normal limit, 4 cases experiencing drug interactions and 2 cases experiencing drug administration without indications.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hadiki Habib
"Mortalitas pasien pneumonia di rumah sakit meningkat pada saat pandemi COVID-19. Perlu diidentifikasi faktor-faktor risikonya dari determinan biologi, gaya hidup, lingkungan dan pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan disain campuran studi kuantitatif kohort retrospektif dan studi kualitatif sequential explanatory. Sampling studi kuantitatif diambil secara acak sederhana dari rekam medis Mei 2020-Desember 2021 di RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Studi kualitatif berupa wawancara mendalam bersama enam orang informan. Terdapat 1945 subjek pneumonia dengan insiden kematian 34,1%. Determinan yang berhubungan dengan peningkatan risiko kematian adalah pneumonia berat (HR 1,8;IK95% 1,38-2,43), skor CCI ≥2 (HR 1,5;IK95% 1,16-2,08). komplikasi ≥2 (HR 5,9; 95%IK 2,9-11,9), intubasi (HR 1,6;IK95% 1,27-2,05) dan lama tunggu di IGD ≥8 jam (HR1,4;IK95% 1,12-1,63), tren kematian rawat inap meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Risiko kematian lebih rendah pada subjek dengan infeksi utama selain paru (HR 0,4;IK95% 0,35-0,51), subjek yang mendapat perawatan intensif (HR 0,3;IK95% 0,25-0,41), terapi antikoagulan (HR 0,3;IK95% 0,27-0,44) dan terapi steroid pada pneumonia non-COVID-19 kondisi berat (0,7;IK95% 0,5-0,9). Ketangguhan rumah sakit terjaga dengan adanya kebijakan zonasi, penerapan prinsip mitigasi risiko, dan modulasi layanan. Beban finansial berkurang melalui donasi atau hibah. Kerentanan rumah sakit antara lain kerapuhan infrastruktur, kecepatan kembali ke layanan reguler lebih lambat, rasa takut tenaga kesehatan, dan triase pra-rumah sakit belum berjalan.
Determinan biologi, lingkungan dan pelayanan kesehatan berhubungan dengan sintas rawat inap pasien pneumonia pada masa pandemi COVID-19. Ketahanan rumah sakit perlu dinilai dengan melihat dampak pandemi terhadap kematian pneumonia COVID-19 maupun pneumonia non-COVID-19.

In-hospital mortality of pneumonia increased during the COVID-19 pandemic. It is necessary to identify risk factors from biological determinants, lifestyle, environment and health services. This research uses a mixed design of a retrospective cohort quantitative study and a sequential explanatory qualitative study. Quantitative subjects were selected using simple random sampling based on medical records May 2020-December 2021 at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. In-depth interviews with six informants were performed. There were 1945 pneumonia subjects with a mortality incidence of 34,1%. Determinants associated with an increased mortality risk were severe pneumonia (HR 1,8; 95% CI 1,38-2,43), CCI score ≥2 (HR 1,5; 95% CI 1,16-2,08). complications ≥2 (HR 5,9; 95% CI 2,9-11,9), intubation (HR 1,6; 95% CI 1,27-2,05) and waiting time in the ER ≥8 hours (HR1,4 ;95% CI 1,12-1,63), the trend of inpatient mortality increases with increasing age. The risk of death was lower in subjects with primary infections other than lung (HR 0,4; 95% CI 0,35-0,51), subjects receiving intensive care (HR 0,3; 95% CI 0,25-0,41), anticoagulant therapy (HR 0,3; 95% CI 0,27-0,44) and steroid therapy in severe non-COVID-19 pneumonia (0,7; 95% CI 0,5-0,9). Hospital resilience is maintained by having zoning policies, implementing risk mitigation principles, and modulating services. Financial burden is reduced through donations or grants. Hospital vulnerabilities include infrastructure fragility, slower return to regular services, fear of health workers, and pre-hospital triage not yet in place. Biological, environmental and health service determinants are related to the survival rate of pneumonia patients during the COVID-19 pandemic. Hospital resilience needs to be assessed by looking at the impact of the pandemic on mortality from COVID-19 pneumonia and non-COVID-19 pneumonia."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitria Agustanti
"Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan pandemi dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. COVID-19 dapat mencetuskan badai sitokin, suatu reaksi hiperinflamasi yang menyebabkan acute respiratory distress syndrome dan kegagalan multiorgan. Zink dipertimbangkan sebagai terapi supportif pada COVID-19 karena memiliki potensi sebagai immunomodulator, antivirus serta antiinflamasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kadar zink pada saat masuk perawatan dengan manifestasi derajat penyakit COVID-19 serta luaran buruk COVID-19. Derajat penyakit
ditentukan berdasarkan manifestasi klinis sesuai kriteria WHO saat masuk perawatan sedangkan luaran buruk bila subjek pernah dirawat di ruang intensif, menggunakan ventilator selama perawatan atau meninggal. Pada penelitian ini didapatkan total 87 kasus yang terbagi menjadi kelompok derajat tidak berat sebanyak 74 kasus dan kelompok derajat berat sebanyak 13 kasus. Berdasarkan luaran didapatkan kelompok luaran buruk sebanyak 22 kasus dan luaran baik 65 kasus. Rerata kadar zink lebih rendah pada
kelompok derajat berat dan kelompok luaran buruk. Ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik pada rerata kadar zink dengan luaran COVID-19 sedangkan dengan derajat penyakit cenderung bermakna secara statistik. Kadar zink terhadap luaran buruk
COVID-19 memiliki luas Area Under the Curve (AUC) 81,6%, dengan nilai titik potong kadar zink 56,05 ug/dL yang memiliki sensitivitas 77,3% dan spesifitas 73,8%. Pasien dengan kadar zink ≤56,05 ug/dL berisiko 8,79 kali lebih tinggi mengalami luaran buruk COVID-19 dibandingkan pasien dengan kadar zink >56,05 ug/dL setelah diadjust dengan usia, komorbid penyakit jantung, dan diabetes mellitus. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang cukup untuk memperkuat hasil penelitian ini.

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a pandemic with high morbidity and mortality. COVID-19 can trigger a cytokine storm, a hyperinflammatory reaction that causes acute respiratory distress syndrome and multiorgan failure. Zinc was considered as a supportive therapy for COVID-19 because it has potential as an immunomodulator, antiviral and anti-inflammatory. This study aims to analyze the association between zinc level at the time of admission on disease severity and poor outcome of COVID-19. Disease severity was determined based on clinical manifestations according to WHO criteria on admission, while poor outcome was defined as a history of intensive care unit stay, intubated during treatment or deceased. There were 87 subjects consist of 74 cases of non-severe group and 13 cases of severe group. As for the outcome, there were 22 cases of poor outcome and 65 cases of good outcome. The mean of zinc level was lower in severe and poor
outcome group. There was a significant association between zinc level and poor outcome, while disease severity tended to be statistically significant. An Area Under the Curve (AUC) of zinc level and COVID-19 poor outcome was 81,6%, with a cut point of 56,05
ug/dL, sensitivity and specificity was 77.3% and 73.8%. Patients whose zinc level ≤56.05ug/dL had a 8.79-fold higher risk of poor outcome compared to patients whose zinc level > 56.05 ug/dL after age, heart disease, and diabetes mellitus adjustment. Further studies a sufficient number of sample are needed to support this study.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dinda Dwi Kartika
"Corona virus disease atau Covid-19 adalah sebuah penyakit jenis baru yg menyebar hingga ke berbagai negara di dunia sejak awal 2020, termasuk Indonesia yang hingga saat ini angka kematiannya mencapai 130 ribu jiwa. Penyakit ini menyerang sistem pernafasan manusia yang ditandai dengan adanya desaturasi oskigen yang terjadi secara cepat. Pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat cenderung memiliki keluhan sesak dengan ditandai adanya penurunan satursi dan peningkatn laju pernapasan. Desaturasi oksigen yang terjadi pada pasien covid dapat meningkatkan mortlitas Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan tanda-tanda vital pada pasien covid-19 saat pertama datang ke IGD. Hasil yg didapatkan dari laporan kasus ini, masalah utama pada pasien ialah sebanyak 55% pasien menunjukkan saturasi oksigen < 90% saat pertama kali datang ke IGD. Dan sebanyak 95% pasien memiliki laju pernapasan > 30 menit. Pada frekuensi nadi dan tekanan darah, nilai median masih berada pada rentang normal. Setelah pemberian suplementasi oksigen perbedaan tampak pada nilai saturasi oksigen yang menunjukkan perbaikan dan perbaikan laju pernapasan. Namun, sebanyak 3 pasien (6%) masih menunjukkan nilai saturasi < 90%. Berdasarkan hasil tersebut masalah utama pasien covid-19 ialah masalah oksigenasi, dan tidak semua pasien berespon terhadap pembeian suplementasi oksigen. Hal ini menunjukkan pentingnya pemantuan tanda-tanda vital pada pasien covid-19 untuk melihat efektivitas terapi dan deteksi dini perburukan

Corona virus disease or Covid-19 is a new type of disease that has spread to many countries in the world since early 2020, including Indonesia, where until now the death rate has reached 130 thousand people. Covid-19 affects the human respiratory which is characterized by decrease in oxygen saturation rapidly. Patients who come to the Emergency Department tend to have complaints of shortness of breath with decreasing in saturation and increasing in respiratory rate. Oxygen desaturation that occurs in covid-19 patients can increase mortality. This case report aims to describe the vital signs of COVID-19 patients when they first come to the Emergency room. The results obtained from this case report, the main problem in patients is that as many as 55% of patients showed oxygen saturation <90% when they first came to the ER. And as many as 95% of patients have a respiratory rate > 30 minutes. In pulse rate and blood pressure, the median value is still in the normal range. After administering oxygen supplementation the difference was seen in the improvement of oxygen saturation and respiratory rate. But, there are 3 patients (6%) showed oxygen saturation below 90%. It shows that not all patients respond to oxygen supplementation. Based on these results, most of the COVID-19 patients experienced oxygen desaturation. This shows the importance of monitoring vital signs in COVID-19 patients to see the effectiveness of therapy and early detection of worsening."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Irene Purnamawati
"Latar Belakang: Sepsis merupakan masalah kesehatan global dan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Rasio neutrofil-limfosit merupakan pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan di fasilitas terbatas dan tidak memerlukan biaya besar, tetapi belum ada studi yang meneliti perannya dalam memprediksi mortalitas 28 hari pada pasien sepsis, menggunakan kriteria sepsis-3 yang lebih spesifik.
Tujuan: Mengetahui peran rasio neutrofil-limfosit dalam memprediksi mortalitas 28 hari pada pasien sepsis.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif terhadap pasien sepsis yang dirawat di RSCM pada tahun 2017. Data diambil dari rekam medis pada bulan Maret-Mei 2018. Nilai rasio neutrofil-limfosit yang optimal didapatkan menggunakan kurva ROC. Subjek kemudian dibagi menjadi dua kelompok yang di bawah dan di atas titik potong. Kedua kelompok kemudian dianalisis menggunakan analisis kesintasan dengan program SPSS.
Hasil: Dari 326 subjek, terdapat 12 subjek loss to follow-up. Rerata usia sampel 56,4 + 14,9 tahun, dengan fokus infeksi terbanyak di saluran napas (59,8%), dan penyakit komorbid terbanyak adalah keganasan padat (29,1%). Nilai titik potong rasio neutrofil-limfosit yang optimal adalah 13,3 (AUC 0,650, p < 0,05, sensitivitas 63%, spesifisitas 63%). Pada analisis bivariat menggunakan cox regression didapatkan kelompok dengan nilai rasio neutrofil-limfosit> 13,3 memiliki crude HR sebesar 1,84 (IK 95% 1,39-2,43) dibandingkan dengan kelompok yang nilai rasio neutrofil-limfosit < 13,3. Setelah menyingkirkan kemungkinan faktor perancu, didapatkan adjusted HR untuk kelompok dengan nilai rasio neutrofil-limfosit tinggi adalah 1,60 (IK 95% 1,21-2,12).
Simpulan: Nilai rasio neutrofil-limfosit memiliki akurasi lemah dalam memprediksi mortalitas 28 hari pasien sepsis dengan nilai titik potong optimal 13,33. Kelompok dengan nilai rasio neutrofil-limfosit > 13,3 memiliki risiko mortalitas 28 hari yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok nilai rasio neutrofil-limfosit < 13,3.

Background: Sepsis is a global health problem with high morbidity and mortality. Neutrophil to lymphocyte ratio is a simple test which can be done in limited facility, but there is no study conducted to know its potential in predicting 28-day-mortality in septic patients, using the more specific sepsis-3 criteria.
Objectives: To investigate neutrophil to lymphocyte ratio as a predictor of 28-day-mortality in septic patients.
Methods: A retrospective cohort study was conducted using medical records in Cipto Mangunkusumo Hospital for septic patients who were admitted in 2017. Neutrophil to lymphocyte ratio cut off was determined using ROC curve, then subjects were divided into two groups according to its neutrophil to lymphocyte ratio value. The groups were analyzed using survival analysis with SPSS.
Result: From 326 subjects, 12 subjects were loss to follow-up. Age mean was 56.4 + 14.9 years. Lung infection (59.8%) was the most frequent source of infections and solid tumor (29.1%) was the most frequent comorbidities. The optimal cut off value for neutrophil to lymphocyte ratio was 13.3 (AUC 0.650, p < 0.05, sensitivity 63%, specificity 63%). Bivariate analysis using cox regression showed that group with neutrophil to lymphocyte ratio > 13.3 had greater risk for 28-day-mortality than group with neutrophil to lymphocyte ratio < 13.3 with crude HR 1.84 (95% CI 1.39-2.43). After adjustment for possible confounding, adjusted HR for group with higher neutrophil to lymphocyte ratio was 1.60 (95% CI 1.21-2.12).
Conclusion: Neutrophil to lymphocyte ratio had poor accuracy in predicting 28-day-mortality in septic patients with 13.3 as the optimal cut off value. Group with neutrophil to lymphocyte ratio > 13.3 had greater significant risk for mortality in 28 days than group with neutrophil to lymphocyte ratio < 13.3.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58572
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>