Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 137492 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Alu Salsabillah Aprillianti
"Dalam tradisi filsafat rasionalis, rasio atau akal menempati posisi tertinggi, sedangkan hasrat direduksi menjadi pelengkap yang tunduk pada otoritas rasio sehingga manusia menjadi identitas bentukan sosial yang opaque (kaku) dan fasis. Sejarah yang bertumpu pada rasio menyebabkan alienasi dan dan mengorbankan fakultas penting lainnya dalam diri manusia, yaitu hasrat. Deleuze dan Guattari, sebagai filsuf pasca-Nietzsche ingin mengembalikan hasrat ke tatanan diskursus, dengan menjadikannya mesin yang produktif dan kreatif. Melalui pemikiran yang radikal, keduanya menawarkan kehidupan yang “abnormal” dari kaca kenormalan sosial yang saat itu didominasi oleh kapitalisme lanjut.  Artikel ini menggunakan metode deskriptif-analisis dan pendekatan kualitatif untuk menganalisis revolusi hasrat yang diwujudkan melalui agen skizofrenia pada sosok Mimi Peri. Data dikumpulkan melalui kajian literatur berupa gambar, tulisan, dan video untuk menyusun bukti kolektif yang menunjukkan Mimi Peri sebagai agen skizofrenia. Artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam gerakan revolusi hasrat umat manusia, khususnya untuk mengolok-olok sistem kapitalisme.

In the tradition of rationalist philosophy, reason occupies the highest position, while desire is reduced to a complement subordinate to the authority of reason, making humans into opaque (rigid) and fascist social constructs. History, which relies on reason, leads to alienation and sacrifices another important faculty within humans, which is desire. Deleuze and Guattari, as post-Nietzschean philosophers, aim to restore desire to the order of discourse by making it a productive and creative machine. Through radical thinking, they offer a life that is "abnormal" from the perspective of social norms, which were dominated by advanced capitalism at the time. This article uses descriptive-analytical methods and a qualitative approach to analyze the revolution of desire manifested through the schizophrenic agent in the figure of Mimi Peri. Data is collected through literature review in the form of images, writings, and videos to compile collective evidence showing Mimi Peri as a schizophrenic agent. This article is expected to make a significant contribution to the revolution of human desire, particularly to mock the capitalist system."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Agustinus Hartono
Yogyakarta: Jalasutra, 2007
150.195 AGU s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Bell, Jeffrey A
Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd, 2016
100 BEL d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Bell, Jefrey A.
"Summary:
Deleuze and Guattari consider themselves to be doing philosophy. In What is Philosophy?, Deleuze and Guattari set out to answer precisely that question. Jeffrey A. Bell explores their answer, that it is the 'art of forming, inventing and fabricating concepts'. In so doing, he draws out the issues at play in their other writings."
Edinburgh: Edinburgh University Press, 2016
100 BEL d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
New York : Bloomsbury Academic, 2014
370.1 DEL
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
London: Routledge, 2001
200 DEL (2)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Rajchman, John
Cambridge, UK: MIT Press, 2000
194 RAJ d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
I 899.232 Z 38 m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Al Kahfi
"ABSTRAK
Pada 1992, sebuah konvensi yang diikuti hampir seluruh negara di dunia menetapkan
sebuah kesepakatan dalam penanggulangan isu pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu
penanggulangan terhadap isu ekologis ini adalah dengan memperdagangkan karbon antar negara.
Namun dalam memahami ekologi seseorang harus menyadari adanya lapisan-lapisan dalam
pemahaman ekologi. Ekologi hadir sebagai salah satu perantara antara manusia dan alamnya, salah
satu media yang mempertemukan pemikiran manusia dan alam di sekitarnya, yang memberikan
manusia ruang untuk memahami alam tidak hanya dalam tahap fisik namun juga mental
sebagaimana diutarakan Felix Guattari dalam konsep Tiga Ekologi. Pemahaman ini menyiratkan
bahwa alam dan manusia muncul sebagai satu sinergitas yang bersifat rizomatik. Perkembangan
peradaban dan kemajuan teknologi hendaknya diikuti oleh perkembangan pemahaman ekologis agar
tetap mampu mewadahi manusia melihat alam sebagaimana adanya. Ini dimaksudkan agar tidak
terjadi pemahaman ekologi yang berbasis pada kepentingan tertentu. Setiap kepentingan yang
disematkan pada pemahaman ekologis berdampak pada sinergitas antara manusia dan alam serta
mengakar dan memudarkan konsepsi ekologis yang membutuhkan cara pandang baru dari sudut
yang dan menghadirkan skizoanalitik sebagai salah satu metode dalam melihat ekologi.

ABSTRACT
In 1992, a convention than attended by the entire world was held intended to solve the
problems of climate change and global warming issue. One of the consensus mention of the
allowance of the carbon trading between countries. However, in understanding ecology, one have to
be aware of the layers inside the idea of ecology. Ecology appears as one of the medium between
human and nature, a media that connecting human mind and its environment, and also giving human
its space to understanding nature not only in physical state but also mentally as Felix Guattari quoted
as mental ecology in his Three Ecology conception. The conception implies that human and nature
appears as one synergy as rhizome was. The development of civilization and advancement of
technology should have been followed by the dynamism of the ecology and its ability to conform
such expansion. This issue becomes important or ecology become manipulated for some interest.
Every interest pinned in ecology conception impacting the synergy between human and nature,
giving it a bias definition and shallow meaning. Ecology needs a new or deconstructed perspectives
and seeing from another angle like schizo-analytic method could offer."
2015
S62947
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aprillia Ramadhina
"ABSTRAK
Penulisan ini berupaya menjelaskan hasrat perempuan dalam lukisan IGAK Murniasih
melalui perspektif Luce Irigaray. Bagi Irigaray, perempuan seharusnya mempunyai bahasa
mereka sendiri dan menggunakannya. Bahasa dalam artian di sini dimaknai sebagai sesuatu
yang plural, yakni bahasa yang terkandung dalam lukisan. Lukisan dapat menjadi sebuah ajang
pengeluaran ide mengenai realitas, sarana bagi seniman perempuan, untuk ?berbicara? dan
membahasakan bahasanya sendiri, di samping hasil dari sebuah proses kreatif. Terdapat kaitan
antara pembahasaan terhadap tubuh perempuan dengan wacana berbicara ?sebagai? perempuan
dalam konteks pelukis perempuan. Lukisan sebagai pelepasan hasrat mampu merepresentasikan
realitas ketertekanan perempuan dan memotret relasi seksualitas antara laki-laki dan perempuan.
Rezim bahasa patriarki telah mereduksi kapasitas perempuan untuk mampu berbicara. Di sinilah
diperlukan usaha yang lebih dari perempuan untuk mampu membahasakan bahasanya sendiri,
salah satunya dengan melukis.

Abstract
This writing tries to explain about woman?s desire in IGAK Murniasih?s painting trough the
Luce Irigaray?s perspective. According to Irigaray, woman should have their own language and
use it. Language in this term is interpreted as something plural, which is the language that in
painting. Painting could become an instrument to improve the idea of the reality, medium for
woman artist, to ?speaking?, create and invent their own language, beside product from creative
process. There is a relation between language that come from women body with discourse of
speaking ?as? woman. Painting as redemption of desire represent the repression woman reality
and show the sexual relation between man and woman. Language rezime of patriarchy has been
reduce woman?s capacity for speaking. Then it needs the more effort from woman to create and
invent her own language, and one of this way is to painting.
"
2011
S42432
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>