Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 150053 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tarisa Ilma Humaira
"Tuntutan akademik seringkali membuat mahasiswa mengalami stres. Diyakini bahwa salah satu dampak dari stres akademik adalah GERD, sementara strategi koping merupakan cara mahasiswa mengatasi stres tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh stres akademik terhadap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dengan strategi koping sebagai moderator pada mahasiswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner. Partisipan yang terkumpul mencapai 202, namun yang dapat diolah hanya 183 partisipan. Data dianalisis dengan PROCESS Hayes. Hasil penelitian (p = 0.004) menunjukkan bahwa emotion-focused coping memoderasi pengaruh stres akademik terhadap GERD. Sementara itu, kedua jenis strategi koping lainnya tidak menunjukkan interaksi yang signifikan. Penelitian ini memberikan kontribusi untuk memahami penggunaan strategi koping yang efektif untuk meregulasi stres akademik, sehingga juga memperlemah pengaruhnya terhadap GERD. Saran untuk penelitian lanjutan adalah penggunaan teknik sampling yang lebih terkontrol, sehingga partisipan bisa lebih representatif.

Academic demands often cause students to experience stress. It is believed that one of the impacts of academic stress is GERD, while coping strategies are the way students deal with that stress. This study aims to analyze the effect of academic stress on Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) with coping strategies as a moderator among students. The method used is a quantitative approach with data collection techniques through questionnaires. The collected participants reached 202, but only 183 participants could be processed. The data were analyzed using PROCESS Hayes. The results of the study (p = 0.004) showed that emotion-focused coping moderates the effect of academic stress on GERD. Meanwhile, the other two types of coping strategies did not show significant interactions. This study contributes to understanding the effective use of coping strategies to regulate academic stress, thereby weakening its impact on GERD. Suggestions for further research include using more controlled sampling techniques so that participants can be more representative."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Felicia Kusuma
"Lingkungan perkuliahan yang memiliki berbagai tuntutan berdampak terhadap kualitas tidur mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademis. Berbagai negara telah merekam prevalensi kualitas tidur yang buruk pada mahasiswa di seluruh dunia. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa stres akademik memiliki dampak negatif terhadap kualitas tidur. Tidak hanya kualitas tidur, jalur pencernaan dapat terdampak oleh stress akademik. Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) ditemukan dapat memperburuk kualitas tidur. Selain itu, GERD dapat terdampak oleh stres sehingga gejala memburuk. Ditambah lagi, prevalensi GERD di Indonesia kian meningkat dari 14% hingga 24% dalam rentang waktu 3 tahun. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk melihat peran GERD sebagai mediator antara stres akademik dan kualitas tidur. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan teknik analisis mediasi PROCESS Model 4. Jumlah partisipan keseluruhan adalah 201 mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia (75,62% perempuan) dengan rentang usia 18-25 tahun. Ketiga variabel diukur menggunakan Perceived Academic Stress Scale (stres akademik), Pittsburgh Sleep Quality Index (kualitas tidur), dan GERD Questionnaire (GERD). Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa stress akademik memprediksi kualitas tidur secara signifikan tanpa perantara GERD sebagai mediator (β = 0,033, SE = 0,033, CI [LLCI = -0,0011 – ULCI = 0,0116]). Maka, dibutuhkan variabel lain sebagai mediator terhadap hubungan stres akademik terhadap kualitas tidur.

The student environment, with its various demands, impacts sleep quality as an effort to deal with academic demands. Various countries have recorded the prevalence of poor sleep quality among students worldwide. Several studies have found that academic stress negatively affects sleep quality. Not only does it impact sleep quality, but the digestive tract can also be affected by academic stress. Gastroesophageal reflux disease (GERD) has been found to worsen sleep quality. Moreover, GERD can be exacerbated by stress, making its symptoms worse. Additionally, the prevalence of GERD in Indonesia has increased from 14% to 24% over a span of 3 years. Thus, this research aims to examine the role of GERD as a mediator between academic stress and sleep quality. This research uses a quantitative research type with the mediation analysis technique PROCESS Model 4. The total number of participants is 201 university students in Indonesia (75,62% women) with an age range of 18-25 years. The three variables were measured using the Perceived Academic Stress Scale (academic stress), the Pittsburgh Sleep Quality Index (sleep quality), and the GERD Questionnaire (GERD). The mediation analysis results show that academic stress significantly predicted sleep quality without GERD as a mediator (β = 0,033, SE = 0,033, CI [LLCI = -0,0011 – ULCI = 0,0116]). Therefore, another mediator variable is needed in the relationship between academic stress and quality of sleep."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Chandra Widjanantie
"Penyakit refluks gastroesofagus (GERD) merupakan kondisi kronik yang terjadi akibat asam lambung naik ke esofagus. COVID-19 dapat memperburuk gejala GERD dan berdampak pada fungsi pernapasan. Latihan diafragma mampu memperbaiki gejala GERD, namun efektivitasnya pada orang dewasa dengan GERD pasca COVID-19 belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas latihan diafragma modifikasi terhadap gejala GERD, tekanan inspirasi maksimal (TIM), ekskursi diafragma, dan fungsi paru. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal pada bulan September 2022 sampai April 2023 di Rumah Sakit Persahabatan. Dari data rekam medis terdapat 364 pasien yang mengalami gejala gastrointestinal persisten. Dari data pasien tersebut, 302 pasien mengalami gejala sebelum COVID-19 dan 62 pasien setelah COVID19. Sebanyak 55 pasien memenuhi kriteria inklusi dan lolos kriteria eksklusi. Selanjutnya dialokasikan secara random pada kelompok uji (n = 25) dan kontrol (n = 25), dan 5 pasien menjalani penelitian pendahuluan. Latihan diafragma selama empat minggu terdiri atas latihan diafragma modifikasi atau latihan diafragma standar. Evaluasi dilakukan 30 hari setelah latihan pertama. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, kelompok uji menunjukkan peningkatan bermakna pada tekanan inspirasi maksimal (TIM; 42,68 cmH2O ± 16,46 vs. 55,40 cmH2O ± 20,33 dan 74,80 cmH2O ± 20,33 vs. 68,68 cmH2O ± 21,25), ekskursi diafragma kanan (4,75 cm ± 0,98 vs. 4,97 cm ± 0,93 dan 6,84 cm ± 0,92 vs. 5,57 cm ± 0,95), dan ekskursi diafragma kiri (4,42 cm ± 0,86 vs. 4,70 cm ± 0,85 dan 6,48 cm ± 0,78 vs. 5,33 cm ± 0,90). Selain itu, baik kelompok uji sebelum-dan-sesudah maupun kelompok kontrol mengalami penurunan bermakna pada skor GERDQ (10,44 ± 2,00 vs. 1,84 ± 2,17 dan 8,64 ± 0,57 vs. 3,32 ± 1,49), dengan nilai p < 0,001. Latihan diafragma meningkatkan nilai kapasitas vital paksa (KVP), tidak meningkatkan nilai volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) maupun rasio antara volume ekspirasi paksa detik pertama dan kapasitas vital paksa (VEP1/KVP), tidak bermakna secara statistik (p > 0,05). Latihan diafragma modifikasi pada orang dewasa setelah COVID-19 dengan GERD meningkatkan TIM dan ekskursi diafragma, serta mengurangi gejala refluks gastroesofageal yang terlihat dari perbaikan skor GERDQ.

Gastroesophageal reflux disease (GERD) is a common chronic condition characterized by stomach acid reflux into the esophagus. COVID-19 may worsen GERD symptoms and impact respiratory function. Diaphragmatic training has demonstrated potential effectiveness in managing GERD symptoms, but its effectiveness in adults with GERD after COVID-19 is unknown. This study aimed to examine the effectiveness of modified diaphragmatic training (MDT) on GERD symptoms, maximum inspiratory pressure (MIP), diaphragmatic excursion, and lung function in this population. This single-blinded randomized control trial was conducted from September 2022 to April 2023 at Persahabatan Hospital. The research team evaluated the medical records of 364 patients presenting persistent gastrointestinal symptoms; among these potential participants, 302 reported symptoms before COVID-19 infection, while 62 developed symptoms after being infected with COVID-19. After applying the study's inclusion and exclusion criteria, a total of 55 patients were selected and randomly assigned to either the intervention group (n = 25) or the control group (n = 25), and 5 patients were enrolled in the preliminary research. The intervention phase consisted of four weeks of diaphragmatic training, wherein participants received either modified diaphragmatic training (MDT) or standard diaphragmatic training. Following the training period, a follow-up assessment was conducted 30 days from the initiation of the intervention. In comparison to the control group, the intervention group demonstrated significant improvements in maximum inspiratory pressure (MIP; 42,68 cmH2O ± 16,46 vs. 55,40 cmH2O ± 20,33 and 74,80 cmH2O ± 20,33 vs. 68,68 cmH2O ± 21,25), right diaphragmatic excursion (RDE; 4,75 cm ± 0,98 vs. 4,97 cm ± 0,93 and 6,84 cm ± 0,92 vs. 5,57 cm ± 0,95), and left diaphragmatic excursion (LDE; 4,42 cm ± 0,86 vs. 4,70 cm ± 0,85 and 6,48 cm ± 0,78 vs. 5,33 cm ± 0,90). Additionally, both the pre–post-intervention group and the control group exhibited significant reductions in GERDQ scores (10.44 ± 2.00 vs. 1.84 ± 2.17 and 8.64 ± 0.57 vs. 3.32 ± 1.49, respectively), with a p-value < 0.001. Diaphragmatic training resulted in increased forced vital capacity (FVC), forced expiratory volume in the first second (FEV1) and the ratio of forced expiratory volume in the first second to forced vital capacity (FEV1/FVC), these differences were not statistically significant in both groups (p > 0,05). MDT in adults post-COVID-19 with GERD enhanced MIP and diaphragmatic excursion, along with a reduction in symptoms of GERD as evidenced by improvements in GERDQ scores."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anak Agung Arie Widyastuti
"LATAR BELAKANG: Kualitas hidup telah menjadi salah satu komponen utama dalam penanganan Gastroesophageal Reflux Disease GERD . Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesahihan eksternal kuesioner GERD-QOL berbahasa Indonesia.METODE:. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan subyek penelitiannya adalah pasien yang mengalami gejala GERD dan berusia 18 tahun atau lebih yang berobat ke Rumah Sakit Umum Kecamatan RSUK Tebet. Total skor GERD-Q minimal adalah 8. Pasien kemudian diminta mengisi kuesioner GERD-QOL berbahasa Indonesia dan kuesioner SF-36. Kuesioner Short Form SF-36 digunakan sebagai baku emas kuesioner penilaian kualitas hidup. Uji kesahihan dilakukan dengan menggunakan kesahihan eksternal. Uji statistik yang digunakan adalah koefisien korelasi Spearman.HASIL: Penelitian ini melibatkan 91 subyek.Korelasi domain physical functioning : 0,488; role physical : 0,590; bodily pain : 0,474; general health : 0,482; vitality : 0,549; social functioning : 0,700; role emotional : 0,555; mental health : 0,373. Kuesioner GERD-QOL berbahasa Indonesia memiliki kesahihan eksternal yang baik ketika dilakukan korelasi dengan domain pada kuesioner SF-36 koefisien korelasi : 0,373-0,700, P

Quality of life has become major concern in the management of Gastroesophageal Reflux Disease GERD . The aim of this study was to determine the external validity of the Indonesian Version of Gastroesophageal Reflux Disease Quality of Life GERD QOL questionnaire. METHODS This cross sectional study consisted of subjects who developed symptoms of GERD and aged 18 years or more. The subjects were recruited from district public hospital in Tebet. Total score for GERD Q was at least 8. These patients were invited to complete the Indonesian version of GERD QOL and validated Indonesian Short Form 36 SF 36 . External validity was then evaluated using Spearman rsquo s correlation coefficient.RESULT A total of 91 subjects completed the questionnaires. The coeeficient correlation of domain physical functioning 0,488 role physical 0,590 bodily pain 0,474 general health 0,482 vitality 0,549 social functioning 0,700 role emotional 0,555 mental health 0,373. The Indonesian version of GERD QOL questionnaire was externally valid compared to domain of SF 36 questionnaire correlation coefficient 0.373 0.700, P"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"Latar belakang: Untuk menilai kegunaan dari kuesioner Gastro-esophageal Reflux Disease (GERD) pada diagnosis GERD, untuk memvalidasi kuesioner GERD yang ditulis dalam bahasa Indonesia, dan untuk mengevaluasi reabilitas dari kuesioner GERD yang ditujukan untuk pasien GERD yang berbahasa Indonesia (Studi Virginia).
Metode: Studi ini menggunakan survei yang bersifat prospektif pada 40 pasien yang terdiagnosis GERD berdasarkan pemeriksaan endoskopi di 3 kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, dan Surabaya) dari 15 Januari sampai dengan 15 Mei 2009. Pasien diminta untuk melengkapi kuesioner GERD dan dinilai validitas dan reliabilitas dari kuesioner tersebut.
Hasil: Persentase responden yang melaporkan gejala selama 4-7 hari adalah sebagai berikut: 67.5% mengalami rasa seperti terbakar di bagian belakang tulang dada (heartburn); 65.0% merasa isi lambung (cairan atau makanan) naik ke arah kerongkongan atau mulut (regurgitasi); 70% merasa nyeri pada bagian tengah perut atas; 57.5% mengalami rasa mual; 62.5% mengalami kesulitan tidur yang dikarenakan heartburn dan / atau regurgitasi; dan 62.5% meminum obat tambahan untuk heartburn dan / atau regurgitasi selain dari apa yang telah dianjurkan woleh dokter. Nilai alpha Cronbach adalah 0.834, yang menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan dalam kuesioner GERD yang berbahasa Indonesia adalah valid dan reliabel untuk pasien GERD Indonesia.
Kesimpulan: Studi ini mencapai tujuan utamanya dan menunjukkan bahwa kuesioner GERD memiliki validitas dan reliabilitas yang baik untuk digunakan pada pasien GERD yang berbahasa Indonesia. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian DIAMOND, yang menunjukkan bahwa kuesioner GERD dapat digunakan untuk mendiagnosis GERD pada gejala awal yang dilaporkan. (Med J Indones 2011; 20:125-30).

Abstract
Background: The aims of this study were to test the usefulness of the Gastro-esophageal Refl ux Disease Questionnaire (GERDQ) in the diagnosis of GERD, to validate the GERDQ written in Indonesian language, and to evaluate the reliability of the GERDQ for use in Indonesian-speaking GERD patients (Virginia study).
Methods: This was a prospective survey of 40 patients diagnosed with GERD, based on an endoscopic examination, in 3 cities in Indonesia (Jakarta, Bandung, and Surabaya) from 15 January to 15 May 2009. Patients were asked to complete the GERDQ, and the validity and reliability of the questionnaire were assessed.
Results: The percentages of respondents who reported symptoms lasting 4â??7 days were as follows: 68% had a burning sensation behind the breastbone (heartburn); 65% had stomach content (fl uid) move upwards to the throat or mouth (regurgitation); 70% had a pain in the centre of the upper abdomen; 58% had nausea; 63% had diffi culty sleeping because of the heartburn and/or regurgitation; and 63% took additional medication for heartburn and/or regurgitation. Cronbachâ??s alpha was 0.83, indicating that all of the questions in the Indonesian-language GERDQ are valid and reliable for Indonesian GERD patients.
Conclusions: This study achieved the primary objectives and showed that the GERDQ is valid and reliable for use with Indonesian-speaking GERD patients. The results were consistent with those of the DIAMOND study, which showed that the GERDQ can be used to diagnose GERD on the basis of the reported symptoms. (Med J Indones 2011; 20:125-30)"
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2011
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Radhiyatam Mardhiyah
"Latar belakang: Pada saat puasa Ramadhan, terjadi penurunan rerata pH lambung dan memendeknya selisih waktu antara makan terakhir dan jam tidur sehingga memperberat keluhan Penyakit Refluks Gastroesofageal (Gastro-esophageal Reflux Disease, disingkat GERD). Sementara itu juga terjadi keteraturan jadwal makan, dan perubahan dalam kebiasaan merokok dan alkohol. Meski demikian, belum diketahui dengan pasti keluhan penyakit GERD selama berpuasa Ramadhan.
Tujuan: Mengetahui pengaruh puasa Ramadhan terhadap keluhan GERD.
Metode: Penelitian ini merupakan studi longitudinal yang mengevaluasi keluhan GERD pada pasien yang menjalani puasa Ramadhan. Penelitian dilakukan selama bulan Juli (Ramadhan) sampai bulan Oktober (tiga bulan setelah Ramadhan) 2015. Subjek penelitian yang didapatkan melalui metode consecutive sampling ini dikelompokkan menjadi kelompok berpuasa Ramadhan (n=66) dan kelompok tidak berpuasa Ramadhan (n=64). Evaluasi dilakukan antara kedua kelompok tesebut, dan antara bulan Ramadhan dengan di luar bulan Ramadhan pada kelompok berpuasa, dengan menggunakan kuesioner GERD (GERD-Q) yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Hasil: Pada kelompok yang berpuasa Ramadhan, terdapat perbedaan median nilai GERD-Q yang bermakna secara statistik (nilai p < 0,01) antara bulan Ramadhan dengan nilai median 0, dan di luar bulan Ramadhan dengan nilai median yang meningkat menjadi 4. Sementara itu, bila dilakukan analisis untuk membandingkan median nilai GERD-Q antara kelompok yang berpuasa Ramadhan dan tidak, juga didapatkan perbedaan yang bermakna (nilai p < 0,01).
Simpulan: Pada subjek yang menjalani puasa Ramadhan, keluhan GERD dirasakan lebih ringan saat menjalani puasa Ramadhan dibandingkan di luar bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, keluhan GERD lebih ringan dirasakan oleh subjek yang menjalani puasa Ramadhan dibandingkan subjek yang tidak menjalani puasa Ramadhan.

Background: During Ramadan fasting, increasing gastric acid levels as a result of prolong fasting can precipitate symptoms of Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Meanwhile, lifestyle changes during Ramadan (such as smoking cessation) can relieve its symptoms. To the best of our knowledge, this is the first study to evaluate effect of Ramadan fasting on GERD.
Objective: The purpose of this study was to determine the effect of Ramadan fasting on GERD symptoms.
Method: This is a longitudinal study done in July (Ramadan) to October (three months after Ramadan) 2015. Using consecutive sampling method, a total of 130 GERD patients participated in this study. Patients were divided into two groups: patients who underwent Ramadan fasting (n=66), and patients who didn?t undergo fasting (n=64). The evaluation was done using Indonesian version of GERD questionnaire (GERD-Q) between the two groups, and between Ramadan month and non-Ramadan month of Ramadan fasting group.
Results: In Ramadan fasting group, there was a statistically significant difference (p < 0.01) in median of GERD-Q during Ramadan month and non-Ramadan month (median GERD-Q 0 and 4 respectively). Statistically significant difference (p < 0.01) was also found between Ramadan fasting group and non-fasting group.
Conclusion: In Ramadan fasting group, GERD symptoms were lighter during fasting month (Ramadan). During Ramadan month, GERD symptoms were also lighter in Ramadan fasting group than in non-fasting group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Apriandini
"Penyakit Refluks Gastroesofagus atau akrab disebut dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan penyakit tidak menular yang sedang mengalami peningkatan prevalensi di negara-negara Asia. Tidak hanya masyarakat umum, mahasiswa juga rentan terhadap kejadian GERD. Faktor-faktor yang turut meningkatkan prevalensi GERD antara lain usia, jenis kelamin, tingkat stress, kualitas tidur, gaya hidup, dan pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian GERD pada mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat pada Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian GERD, penelitian ini akan menggunakan kuesioner GERD-Questionnaire (GERDQ), Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan Kuesioner Gaya Hidup. Hasil analisis univariat, diketahui proporsi mahasiswa yang memiliki GERD yaitu 16%. Analisis bivariat menunjukkan hasil terdapat hubungan antara status pekerjaan kategori tenaga kesehatan (nilai p = 0.020), kondisi penyerta gastritis/dispepsia (nilai p = 0.000), dan tingkat stres kategori tinggi (nilai p = 0.015) dengan kejadian GERD pada mahasiswa. Lalu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik sosiodemografi selain status pekerjaan, kondisi penyerta selain gastritis/dispepsia, dan gaya hidup selain tingkat stres.

Gastroesophageal Reflux Disease or commonly known as Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a non-communicable disease that is experiencing increasing prevalence in Asian countries. Not only the general public, students are also vulnerable to GERD incidents. Factors that increase the prevalence of GERD include age, gender, stress level, sleep quality, lifestyle and diet. This study aims to determine the factors that influence the incidence of GERD in undergraduate students at the Faculty of Public Health in 2023. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. To determine the factors that influence the incidence of GERD, this research will use the GERD-Questionnaire (GERDQ), Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and Lifestyle Questionnaire. The results of univariate analysis showed that the proportion of students who had GERD was 16%. Bivariate analysis showed that there was a relationship between work status in the health worker category (p value = 0.020), gastritis/dyspepsia accompanying conditions (p value = 0.000), and high category stress level (p value = 0.015) with the incidence of GERD in students. Then, there was no significant relationship between sociodemographic characteristics other than employment status, comorbid conditions other than gastritis/dyspepsia, and lifestyle other than stress level."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Artanti
"ABSTRAK
Latar belakang: Penyakit refluks gastroesofagus PRGE pada remaja sulit didiagnosis, karena gejala klinis tidak spesifik dan menyebabkan penurunan kualitas hidup. Gastroesofageal reflux disease questionnaire GERD-Q dan pediatric gastroesophageal symptom and quality of life questionnaire PGSQ telah divalidasi dan dikembangkan untuk mengidentifikasi PRGE dan kualitas hidup. Penggunaan GERD-Q dan PGSQ pada populasi remaja sebagian besar tidak diketahui.Tujuan: Untuk memperoleh prevalens dugaan PRGE pada remaja menggunakan GERD-Q dan penilaian kualitas hidup pada remaja yang memiliki GERD-Q positif skor ge; 7 dengan menggunakan PGSQ.Metode: Remaja usia 12-18 tahun di evaluasi menggunakan kuesioner GERD-Q. Remaja yang memiliki skor GERD-Q positif dievaluasi kualitas hidupnya menggunakan PGSQ. Analisis mengenai faktor risiko dugaan PRGE juga dilakukan.Hasil: Pada 520 subjek, rasio laki-laki dan perempuan 1:1,3 dan usia median 13 tahun. Prevalens dugaan PRGE pada remaja menggunakan kuesioner GERD-Q adalah 32,9 . Mengkonsumsi minuman soda memiliki risiko 1,7 kali mengalami dugaan PRGE Interval kepercayaan 95 1,3-2,2, ABSTRACT
Background Gastroesophageal reflux disease in adolescent is difficult to diagnose due to nonspecific symptom and often lead to poor quality of life. Gastroesophageal reflux disease questionnaire GERD Q and pediatric gastroesophageal symptom and quality of life questionnaire PGSQ are validated questionnaire that was developed to help identify GERD patients and their quality of life respectively. The application of GERD Q and PGSQ in adolescent population is largely unknown.Aim To obtain suspected GERD prevalence in adolescent using GERD Q and quality of life score assessment in adolescent with GERD Q positive.Methods Adolescent age 12 18 years were evaluated using indonesian version of GERD Q. Adolescents with GERD Q positive were then evaluated their quality of life using Indonesian version of PGSQ. Suspected risk factors of having GERD, which would influence GERD Q result, were also analyzed.Result In 520 subjects, the male to female ratio was 1 1,3 and the median age was 13 years range 12 18 years . Prevalence of GERD in adolescent using GERD Q was 32,9 . Routine soda consumption was 1,7 times more likely to have GERD CI 95 1.3 2.2, p"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58964
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rezky Aulia Nurleili
"Latar belakang: Laporan mengenai hubungan obesitas dan GERD semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan meningkatnya pemahaman mengenai mekanisme GERD, diketahui terdapat peran sitokin proinflamasi dan adipositokin yang banyak terdapat di jaringan lemak viseral. Pada beberapa populasi di dunia, ketebalan lemak viseral diketahui berhubungan dengan meningkatnya insiden esofagitis erosif.
Tujuan: Mengetahui profil ketebalan lemak viseral pasien GERD di RSCM.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada 56 subyek GERD. Subyek direkrut secara konsekutif pada bulan April hingga Oktober 2018 di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Pemilihan subyek GERD berdasarkan Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaires(GERDQ) dan pengukuran tebal lemak viseral menggunakan ultrasonografi. Erosi esofagus ditegakkan berdasarkan hasil endoskopi saluran cerna bagian atas. Analisis bivariat digunakan untuk menentukan perbedaan ketebalan lemak viseral antara grup esofagitis dan non-esofagitis.
Hasil: Lebih dari separuh subyek penelitian ini menderita erosive reflux disease(ERD) (55,4%), didominasi oleh pasien dengan esofagitis kelas A berdasarkan klasifikasi Los Angeles sebanyak 64,5%. Rerata ketebalan lemak viseral grup NERD sedikit lebih rendah daripada grup ERD (47,9 mm untuk NERD dan 49,0 mm utk ERD). Terdapat kecenderungan peningkatan rerata ketebalan lemak viseral seiring dengan peningkatan derajat esofagitis (47,6 mm untuk esofagitis derajat A, 50,0 mm untuk esofagitis derajat B, dan 53,5 mm untuk esofagitis derajat C).
Kesimpulan: Subjek ERD lebih banyak daripada NERD pada populasi GERD di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Rerata ketebalan lemak viseral subjek NERD lebih rendah daripada ERD. Terdapat kecenderungan peningkatan rerata ketebalan lemak viseral seiring dengan peningkatan derajat esofagitis.

Background: Reports about thecorrelation between obesity and GERD had been increasedin the past few years. Along with the increasing understanding of GERD, there are roles of proinflammatory cytokines and adipocytokines which are mostly contained in abdominal fat tissue. In several populations, visceral fat thicknessis associated with the increased incidence of erosive esophagitis.
Objective: To determine visceral fat thickness profile in GERD population in Cipto Mangunkusumo National General Hospital.
Methods: A cross-sectional study of 56 adult patients with GERD symptoms was conducted. The subjects were recruited consecutively between April and Oktober 2018 at Cipto Mangunkusumo National Hospital in Jakarta. Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaires (GERDQ) were used to select research subjects and Ultrasonography examination was used to determine visceral fat thickness. Esophageal erosions were diagnosed using upper gastrointestinal endoscopy. Bivariate analysis was used to determine visceral fat thickness difference between esophagitis and non-esophagitis group.
Results: More than half of this research subject were patients who suffer erosive reflux disease(55,4%), which dominated by patient with esophagitis class A, regarding to Los Angeles (LA) classifications, there were 64,5% of all ERD patients. The mean visceral fat thickness in erosive reflux disease (ERD) group slightly higher than in non-erosive reflux disease (NERD) group (49,0 mm vs 47,9 mm respectively). There is an increasing trend in mean visceral fat thickness as the esophageal erosion progresses (47.6 mm for grade A, 50.0 mm for grade B, and 53,5 for grade C).
Conclusion: ERD is more common than NERD in Cipto Mangunkusumo General Hospital's GERD population. The mean visceral fat thickness in ERD group is higher than in NERD group. There is an increasing trend in mean visceral fat thickness as the esophageal erosion progresses.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hardianto Setiawan
"Latar Belakang: Pemeriksaan impedans intraluminal multikanal dan pemantauan pH (MII-pH) baru diperkenalkan untuk mengevaluasi karakteristik refluksat pada pasien gastroesophageal reflux disease (GERD). Penggunaan MII-pH untuk prediksi hasil terapi empiris proton-pump inhibitor (PPI) belum dievaluasi.
Tujuan: Mengevaluasi pola refluksat menggunakan MII-pH untuk memprediksi respons terapi empiris dengan PPI pasien GERD.
Metode: Penelitianini merupakan studi prospektif dengan desain before-and-after treatment. Pasien direkrut dari Poliklinik Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo antara Desember 2015 dan Februari 2016. Diagnosis GERD ditegakkan menggunakan kuesioner GERD (GerdQ). Endoskopi saluran cerna atas dilakukan untuk membedakan erosive (ERD) dannon-erosive reflux disease (NERD). Semua pasien menjalani pemeriksaan MII-pH evaluasi yang terdiri dari bentuk refluksat (cair, gas atau campuran); jenis refluksat (asam atau non-asam); dan persentase acid exposure time (AET). Kemudian pasien mendapat terapi PPI oral, dua kali sehari selama 14 hari. Respons terapi dievaluasi dengan GerdQ. Prediktor respons terapi dianalisis menggunakan analisis multivariat.
Hasil: Sejumlah 75 pasien dilibatkan dalam studi; 39 (52%) di antaranya adalah perempuan. Rerata usia adalah 40,4+10,20 tahun. Rerata skor GerdQ awal adalah 14 dan turun sampai 8 setelah terapi PPI empiris (p<0,001; uji t berpasangan). Sebanyak 41 (54,7%) pasien responsif terhadap terapi PPI. Respons terapi berhubungan dengan jenis GERD (OR: 3,763; IK95%: 1,381-10,253; p=0,008);jenis refluksat (OR: 10,636; IK95%: 2,179-51,926; p=0,001);dan AET (OR: 5,357; IK95%: 1,974-14,541; p=0,001). Analisis multivariat mendapatkan dua prediktor independen terhadap terapi PPI, yaitu jenis refluksat (ORadj:6,273; IK95%: 1,207-32,609; p=0,029) dan AET (ORadj: 3,363; IK95%: 1,134-9,974; p=0,029).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan respons terapi empiris PPI dimana ERD lebih responsif dari NERD, refluks asam lebih responsif dari non asam dan AET tinggi lebih responsif dari pada AET normal. Keberhasilan terapi empiris PPI dapat diprediksi dari jenis refluksat dan nilai AET.

Background: Combinedmulti-channel intraluminal impedance and pH monitoring (MII-pH) has been recently introduced to characterize patients with gastroesophageal reflux disease (GERD). The use of MII-pH to predict initial treatment response with proton-pump inhibitor (PPI) has not been evaluated.
Objective: To evaluate refluxate patterns using MII-pH to predict initial treatment response using PPI for GERD patients.
Method: This was a prospective study using before-and-after treatment design. Patients were enrolled in the Gastroenterology Polyclinic, Department of Internal Medicine, Cipto Mangunkusumo Hospital between December 2015 and February 2016. Diagnosis of GERD was established using GERD questionnaires (GerdQ).Upper endoscopy was done to distinguish erosive (ERD) and non-erosive reflux disease (NERD). All patients underwent MII-pH evaluation consisting of physical characteristics of the refluxate (liquid, gas or mixed); type of refluxate (acid or non-acid); and percent acid exposure time (AET). Then patients were given oral PPI treatment, twice a day, for 14 days. Treatment response was evaluated using GerdQ. Predictor of treatment response was analyzed using multivariate analysis.
Results: A total of 75 patients was enrolled; 39 (52%) of them were women. Mean age was 40.4+10.20 years. Initial mean GerdQ score was 14 and reduced to 8 after empirical PPI therapy (p<0.001; paired t test).Forty-one (54.7%) patients responded to PPI therapy.Treatment response was associated with type of GERD (OR: 3.763; 95%CI: 1.381-10.253; p=0,008;) type of refluxate (OR: 10.636; 95%CI: 2.179-51.926; p=0.001); and AET (OR: 5.357; 95%CI: 1.974-14.541; p=0.001). Multivariat analyses found two independent predictors of treatment response to PPI therapy, i.e. the type of refluxate(ORadj:6.273; 95%CI: 1.207-32.609; p=0.029) and AET (ORadj: 3.363; 95%CI: 1.134-9.974; p=0.029).
Conclusion: There are differences in response to empiric PPI therapy where ERD is more responsive than NERD, acid reflux is more responsive than non- acid and high AET is more responsive than a normal AET . PPI empirical therapy success can be predicted from the type and value refluksat AET.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>